Anda di halaman 1dari 9

PENGANTAR HUKUM BISNIS

KASUS PT. ABDI PAMUNGKAS (PT. AP)

Ruang EII1

NAMA : NIM
1. Dwiki Vernanda Krisnayana Putra 1607532022
2. Gede Wahya Dhiyatmika 1607532025

JURUSAN AKUNTANSI
PROGRAM STUDI NON REGULAR
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR BALI
2018
STUDI KASUS

KRONOLOGI KASUS PT. ABDI PAMUNGKAS (PT. AP)

Pada awalnya PT. Abdi Pamungkas (PT AP) dibuka dan disewakan untuk pertokoan, pihak
pengelola merasa kesulitan untuk memasarkannya. Salah satu cara untuk memasarkannya adalah
secara persuasif mengajak para pedagang meramaikan komplek pertokoan dipusat kota Palembang
itu. Salah seorang diantara pedagang yang menerima ajakan PT Abdi Pamungkas adalah Azis
Ismail yang tinggal di Manggarai, Jakarta. Azis memanfaatkan ruangan seluas 794,31 M2 Lantai
III itu untuk menjual baju muslim dengan nama toko Baroqah. Enam bulan berlalu Azis
menempati ruangan itu, pengelola PT AP mengajak Azis membuat “Perjanjian Sewa Menyewa”
dihadapan Notaris.kedua belah pihak bersepakat mengenai penggunaan ruangan, harga sewa,
service charge, sanksi dan segala hal yang bersangkutan dengan sewa menyewa ruangan. Azis
bersedia membayar semua kewajibannya pada PT AP, tiap bulan terhitung sejak Juni 1998 – 30
Mei 2008 paling lambat pembayaran disetorkan tanggal 15 dan denda 2 0 / 0 0 (dua permil) perhari
untuk kelambatan pembayaran.

Kesepakatan antara pengelola PT AP dengan Azis dilakukan dalam Akte Notaris Stefanus
Sindhuntha No. 40 Tanggal 8/8/1998. Tetapi perjanjian antara keduanya agaknya hanya tinggal
perjanjian. Kewajiban Azis ternyata tidak pernah dipenuhi, Azis menganggap kesepakatan itu
sekedar formalitas sehingga tagihan demi tagihan pengelola AP tidak pernah dipedulikannya.
Bahkan menurutnya, Akte No.40 tersebut tidak berlaku karena pihak AP telah membatalkan
“Gentlement agreement” dan kesempatan yang diberikan untuk menunda pembayaran. Hanya
sewa ruangan, menurut Azis akan dibicarakan kembali diakhir tahun 2001. Namun pengelola AP
berpendapat sebaliknya. Akte No.40 tetap berlaku dan harga sewa ruangan tetap seperti yang
tercantum pada Akta tersebut. Hingga 10 Maret 2001, Azis seharusnya membayar US$311.048,50
dan Rp. 12.406.279,44 kepada PT AP. Meski kian hari jumlah uang yang harus dibayarkan untu
ruangan yang ditempatinya terus bertambah,Azis tetap berkeras untuk tidak membayarnya.
Pengelola AP yang mengajak Azis meramaikan pertokoan itu. Akihirnya pihak pengelola AP
menutup Toko Baroqah secara paksa. Selain itu, pengelola AP menggugat Azis ke Pengadilan
Negeri Palembang.
PENGERTIAN HUKUM PERIKATAN

Hukum Perikatan

Hukum perikatan adalah suatu hubungan hukum dalam lapangan harta kekayaanantara dua
orang atau lebih di mana pihak yang satu berhak atas sesuatu dan pihak lain berkewajiban atas
sesuatu. Hubungan hukum dalam harta kekayaan ini merupakan suatu akibathukum, akibat hukum
dari suatu perjanjian atau peristiwa hukum lain yang menimbulkan perikatan.

Di dalam hukum perikatan setiap orang dapat mengadakan perikatan yang bersumber pada
perjanjian, perjanjian apapun dan bagaimanapun, baik itu yang diatur dengan undang-undang atau
tidak,inilah yang disebut dengan kebebasan berkontrak, dengan syarat kebebasan berkontrak
harushalal, dan tidak melanggar hukum, sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-undang.

Di dalam perikatan ada perikatan untuk berbuat sesuatu dan untuk tidak berbuat
sesuatu.Yang dimaksud dengan perikatan untuk berbuat sesuatu adalah melakukan perbuatan
yangsifatnya positif, halal, tidak melanggar undang-undang dan sesuai dengan perjanjian.
Sedangkan perikatan untuk tidak berbuat sesuatu yaitu untuk tidak melakukan perbuatan tertentu
yang telahdisepakati dalam perjanjian.

Dasar Hukum Perikatan

Secara khusus badan usaha Perseroan Terbatas diatur dalam Undang-Undang No. 40
Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), yang secara efektif berlaku sejak tanggal 16
Agustus 2007. Sebelum UUPT 2007, berlaku UUPT No. 1 Th 1995 yang diberlakukan sejak 7
Maret 1996 (satu tahun setelah diundangkan) sampai dengan 15 Agustus 2007, UUPT tahun 1995
tersebut sebagai pengganti ketentuan tentang perseroan terbatas yang diatur dalam KUHD Pasal
36 sampai dengan Pasal 56, dan segala perubahannya(terakhir dengan UU No. 4 Tahun 1971 yang
mengubah sistem hak suara para pemegang saham yang diatur dalam Pasal 54 KUHD dan
Ordonansi Perseroan Indonesia atas saham -Ordonantie op de Indonesische Maatschappij op
Aandeelen (IMA)- diundangkan dalam Staatsblad 1939 No. 569 jo 717.
Pengertian perseroan terbatas
Berdasarkan Pasal 1 UUPT No. 40/2007 pengertian Perseroan Terbatas (Perseroan) adalah badan
hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan
usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang
ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.

PT merupakan perusahaan yang oleh undang-undang dinyatakan sebagai perusahaan yang


berbadan hukum. Dengan status yang demikian itu, PT menjadi subyek hukum yang menjadi
pendukung hak dan kewajiban, sebagai badan hukum. Hal ini berarti PT dapat melakukan
perbuatan-perbuatan hukum seperti seorang manusia dan dapat pula mempunyai kekayaan atau
utang (ia bertindak dengan perantaraan pengurusnya).

Unsur- unsur perseroan terbatas


Berdasarkan pengertian tersebut maka untuk dapat disebut sebagai perusahaan PT menurut
UUPT harus memenuhi unsur-unsur:
1. Berbentuk badan hukum, yg merupakan persekutuan modal;
2. Didirikan atas dasar perjanjian;
3. Melakukan kegiatan usaha;
4. Modalnya terbagi saham-saham;
5. Memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam UUPT serta perat

Untuk mendirikan suatu perseroan harus memenuhi persyaratan material antara lain:
1. perjanjian antara dua orang atau lebih;
2. dibuat dengan akta autentik
3. modal dasar perseroan
4. pengambilan saham saat perseroan didirikan
Sumber-sumber hukum perikatan yang ada di Indonesia adalah perjanjian dan undang-
undang, dan sumber dari undang-undang dapat dibagi lagi menjadi undang-undang melulu dan
undang-undang dan perbuatan manusia. Sumber undang-undang dan perbuatan manusia dibagi
lagi menjadi perbuatan yang menurut hukum dan perbuatan yang melawan hukum.

Dasar hukum perikatan berdasarkan KUHPerdata terdapat tiga sumber adalah sebagai berikut :

 Perikatan yang timbul dari persetujuan ( perjanjian )

 Perikatan yang timbul dari undang-undang

 Perikatan terjadi bukan perjanjian, tetapi terjadi karena perbuatan melanggar hukum (
onrechtmatige daad ) dan perwakilan sukarela ( zaakwaarneming )

Sumber perikatan berdasarkan undang-undang :

 Perikatan ( Pasal 1233 KUH Perdata ) : Perikatan, lahir karena suatu persetujuan atau
karena undang-undang. Perikatan ditujukan untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat
sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu.

 Persetujuan ( Pasal 1313 KUH Perdata ) : Suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dimana
satu orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau lebih.

 Undang-undang ( Pasal 1352 KUH Perdata ) : Perikatan yang lahir karena undang-undang
timbul dari undang-undang atau dari undang-undang sebagai akibat perbuatan orang.
ANALISIS KASUS PERIKATAN PT. ABDI PAMUNGKAS BERDASARKAN
KUHPERDATA

Hukum perikatan diatur dalam Buku III Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang terdiri
dari 18 bab, 631 pasal dimulai dari pasal 1233 KUH Perdata dan masing-masing bab dibagi dalam
beberapa bagian.Istilah hukum perikatan merupakan terjemahan dari kata Verbintenissenrecht
(Belanda) yaitu keseluruhan peraturan hukum yang mengatur hubungan hukum antara subjek
hukum yang satu dengan subjek hukum yang lain dalam bidang harta kekayaan, dimana subjek
hukum yang satu berhak atas suatu prestasi. Prestasi tersebut menurut KUHPerdata, sebagaimana
yang tercantum dalam Bab 1 Pasal 1234 dapat berupa menyerahkan suatu barang,melakukan suatu
perbuatan dan tidak melakukan suatu perbuatan.

Pelanggaran Hukum yang terjadi didalam kasus Perikatan PT Abdi pamungkas dengan
pedagang yang benama bapak Aziz Ismail dalam perjanjian sewa-menyewa yang dibuat tersebut
adalah:

Dilihat dari kronologis kejadianya Azis memanfaatkan ruangan seluas 794,31 M2 Lantai
III itu untuk menjual baju muslim dengan nama toko Baroqah. Enam bulan berlalu Azis
menempati ruangan itu, pengelola AP mengajak Azis membuat “Perjanjian Sewa Menyewa”
dihadapan Notaris. kedua belah pihak bersepakat mengenai penggunaan ruangan, harga sewa,
service charge, sanksi dan segala hal yang bersangkutan dengan sewa menyewa ruangan. Azis
bersedia membayar semua kewajibannya pada PT AP, tiap bulan terhitung sejak Juni 1998 – 30
Mei 2008 paling lambat pembayaran disetorkan tanggal 15 dan denda 2 0 / 0 0 (dua permil) perhari
untuk kelambatan pembayaran. Kesepakatan antara pengelola PT AP dengan Azis dilakukan
dalam Akte Notaris Stefanus Sindhuntha No. 40 Tanggal 8/8/1998. Tetapi perjanjian antara
keduanya agaknya hanya tinggal perjanjian.

Kewajiban Azis ternyata tidak pernah dipenuhi, Azis menganggap kesepakatan itu sekedar
formalitas sehingga tagihan demi tagihan pengelola AP tidak pernah dipedulikannya. Bahkan
menurutnya, Akte No.40 tersebut tidak berlaku karena pihak AP telah membatalkan “Gentlement
agreement” dan kesempatan yang diberikan untuk menunda pembayaran. Hanya sewa ruangan,
menurut Azis akan dibicarakan kembali diakhir tahun 2001. Namun pengelola AP berpendapat
sebaliknya. Akte No.40 tetap berlaku dan harga sewa ruangan tetap seperti yang tercantum pada
Akta tersebut.Hingga 10 Maret 2001, Azis seharusnya membayar US$311.048,50 dan Rp.
12.406.279,44 kepada PT AP.

Pasal- Pasal dalam Hukum Perdata yang dilanggar didalam Kasus tersebut adalah:

1. Pasal 1238

Si berutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis
itu telah dinyatakan lalai,atau demi perikatanya sendiri, ialah jika ini menetapkan,bahwa si
berutang harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.

2. Pasal 1239

Tiap-tiap perikatan untuk membuat sesuatu atau untuk tidak berbuat sesuatu apabila si
berutang tidak memenuhi kewajibanya mendapatkan penyelesaianya dalam kewajiban
memberikan penggantian biaya rugi dan bunga.

3. Pasal 1243

Penggantian biaya,rugi dan bunga karena tak terpenuhinya suatu perikatan,barulah mulai
di wajibkan,apabila si berutang,setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya,telah
melalaikanya,atau jika suatu yang harus diberikan atau dibuatnya,hanya dapat diberikan
atau dibuat dalam tenggang waktu yang etlah dilampaukannya.

4. Pasal 1244

Jika ada alasan untuk itu,siberutang harus di hukum mengganti biaya,rugi dan bunga
apabila ia tak dapat membuktikan,bahwa hal tidak atau tidak pada waktu yang tepat
dilaksanakannya perikatan itu,disebabkan suatu hal yang tak terduga,pun tak dapat
dipertanggung jawabkan padanya, kesemuanya itupun itikad buruk tidaklah ada pada
pihaknya.

5. Pasal 1268

Suatu ketetapan waktu tidak dapat menangguhkan perikatan melainkan hanya


menangguhkan pelaksanaannya.
KESIMPULAN :

Hukum perikatan adalah suatu hubungan hukum dalam lapangan harta kekayaanantara dua
orang atau lebih di mana pihak yang satu berhak atas sesuatu dan pihak lain berkewajiban atas
sesuatu. Di dalam hukum perikatan setiap orang dapat mengadakan perikatan yang bersumber pada
perjanjian, perjanjian apapun dan bagaimanapun, baik itu yang diatur dengan undang-undang atau
tidak,inilah yang disebut dengan kebebasan berkontrak, dengan syarat kebebasan berkontrak
harushalal, dan tidak melanggar hukum, sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-
undang.berdasarkan hasil analisis kasus diatas dapat disimpulkan bahwa pelanggaran dalam kasus
“perjanjian sewa-menyewa” yang dilakukan oleh bapak Azis Ismailberupa pelanggaran perjanjian
tentang penunggakan tagihan-tagihan sewa ruangan yang wajib memberikan ganti rugi sesuai
dengan perikatan yg dibuat

SARAN:

1. Sebaiknya apabila salah satu dari pihak yang melakukan perikatan (perjanjian) tidak
memenuhi kewajibanya perikatan tersebut harus dibatalkan

2. Pihak yg dirugikan berhak untuk mendapatkan ganti rugi

3. Apabila perikatan tersebut sudah lama dibuat sebaiknya diperbaharui dengan membuat
perjanjian baru yang disetujui oleh kedua belah pihak agar tidak terjadi persengketaan atau
perselisihan

DAFTAR PUSTAKA

1. http://hasmitaoktiani.wordpress.com/2013/05/06/contoh-kasus-hukum-perikatan-a-
kronologis-kasuspada-permulaan-pt/

2. http://handayanitutik.wordpress.com/2011/05/23/analisis-hukum-perdata-tentang-
perikatan/

3. Bakti, Adytia. 2001. Kompilasi Hukum Perikatan. Bandung: Citra.