Anda di halaman 1dari 3

Good Governance

A. Pengertian dan latar belakang good governance

1) Pengertian umum
Pengertian Good Governance adalah Istilah Good Governance berasal dari induk bahasa
Eropa, Latin, yaitu Gubernare yang diserap oleh bahasa inggris menjadi govern, yang berarti
steer ( menyetir, mengendalikan), direct ( mengarahkan), atau rule (memerintah).
Penggunaan utama istilah ini dalam bahasa inggris adalah to rule with authority, atau
memerintah dengan kewenangan.

United Nation Development Program (UNDP) mendefenisikan governance sebagai


“penggunaan wewenang ekonomi, politik dan administrasi guna mengelola urusan-urusan
negara pada semua tingkat. Tata pemerintahan mencakup seluruh mekanisme, proses dan
lembaga-lembaga dimana warga dan kelompok-kelompok masyarakat mengutarakan
kepentingan mereka, menggunakan hak hukum, mematuhi kewajiban dan menjembatani
perbedaan-perbedaan diantara mereka” (Sedarmayanti, 2004).

Menurut Bintoro Tjokroamidjojo good governance adalah suatu bentuk manajemen


pembangunan, yang juga disebut administrasi pembangunan, yang menempatkan peran
pemerintah sentral yang menjadi agent of change dari suatu masyarakat
berkembang/developing di dalam negara berkembang.

2) Latar belakang
Governance pada dasarnya pertama kali digunakan adalah di dunia usaha atau korporat.
Manajemen professional yang diperkenalkan pasca perang dunia II dengan prinsip dasar
“memisahkan kepemilikan dengan kepengelolaan” benar-benar menjadikan setiap korporat
menjadi usaha-usaha yang besar, sehat dan menguntungkan.

Lahirnya wacana Good Governance di Indonesia berakar dari penyimpangan-


penyimpangan yang terjadi pada praktik pemerintahan, seperti Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme (KKN). Penyelenggaraan urusan publik yang bersifat sentralistis, non-partisipatif
serta tidak akomodatif terhadap kepentingan publik, telah menumbuhkan rasa tidak
percaya dan bahkan antipati kepada rezim pemerintahan yang ada. Masyarakat tidak puas
dengan kinerja pemerintah yng selama ini dipercaya sebagai penyelenggara urusan publik.
Beragam kekecewaan terhadap penyelenggaraan pemerintahan tersebut pada akhirnya
melahirkan tuntutan untuk mengembalikan fungsi-fungsi pemerintahan yang ideal. Good
Governance tampil sebagai upaya untuk memuaskan dahaga publik atas kinerja birokrasi
yang sesungguhnya(Ndraha, 2003).
B. Prinsip dan konsepsi good governance

1) Prinsip good governance


Berdasarkan definisi tersebut, UNDP mengemukakan 9 karekteristik prinsip-prinsip Good
Governance yang saling mengait sebagai berikut:
1) Partcipation (Setiap warga Negara mempunyai suara dalam formulasi keputusan)
2) Rule of law (Kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu)
3) Tranparency (informasi secara langsung dapat diterima oleh yang membutuhkan)
4) Responsiveness (Lembaga dan proses kelembagaan harus melayani dengan tanggap)
5) Consensus orientation (Perantara kepentingan berbeda untuk memperoleh pilihan
terbaik bagi kepentingan yang lebih luas)
6) Kesetaraan dan Keadilan (Semua warga Negara, mempunyai kesempatan untuk
meningkatkan atau menjaga kesejahteraan mereka)
7) Effectiveness and efficiency (Lembaga dan proses kelembagaan menghasilkan
sesuatu sesuai dengan yang digariskan dan menggunakan sumber daya sebaik mungkin)
8) Accountability (Para pembuat keputusan bertanggung jawab kepada publik)
9) Strategic vision (Para pemimpin dan public harus mempunyai perspektif good
governance dan pengembangan manusia yang luas dan jauh ke depan)

2) Konsepsi good governance


Berikutnya secara konseptual pengertian kata baik (good) dalam istilah kepemerintahan
yang baik (good governance) mengandung dua pemahaman, yaitu :

a) nilai yang menjunjung tinggi keinginan/kehendak raktat, dan nili-nilai yang


dapat meningkatkan kemampuan raktyat dalam pencapaian tujuan (nasional)
kemandirian, pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial.
b) aspek fungsional dari pemerintah yang efektif dan efisien dalam pelaksanaan
tugasnya untuk mencapai tujuan tersebut (Sedarmayanti, 2004).

Terdapat unsur-unsur dalam kepemerintahan yang dapat dikelompokan menjadi 3


kategori, yaitu:

a) Negara/Pemerintahan: konsepsi pemerintahan pada dasarnya adalah


kegiatan kenegaraan, tetapi lebih jauh dari itu melibatkan pula sektor swasta
dan kelembagaan masyarakat madani
b) Sektor Swasta: pelaku sector swasta mencakup perusahaan swasta yang aktif
dalam interaksi dalam system pasar
c) Masyarakat Madani: kelompok masyarakat dalam konteks kenegaraan pada
dasarnya berada diantara atau di tengah-tengah antara pemerintah dan
perseorangan, yang mencakup baik perseorangan maupun kelompok
masyarakat yang beribteraksi secara sosial, politik, ekonomi

C. Penerapan prinsip good governance pada sektor publik

Dalam Sistem Admnistrasi Indonesia penerapan good governance seperti dalam


pengertian yang dikembangkan oleh UNDP. Berdasarkan Dokumen Kebijakan UNDP
dalam “Tata Pemerintahan Menunjang Pembangunan Manusia Berkelanjutan”,
disebutkan: Tata pemerintahan adalah penggunaan wewenang ekonomi, politik dan
administrasi guna mengelola urusan-urusan negara pada semua tingkat. Tata
pemerintahan mencakup seluruh mekanisme, proses dan lembaga-lembaga di mana
warga dan kelompok-kelompok masyarakat mengutarakan kepentingan mereka,
menggunakan hak hukum.
Good Governance diIndonesia sendiri mulai benar – benar dirintis dan diterapkan
sejak meletusnya era Reformasi yang dimana pada era tersebut telah terjadi
perombakan sistem pemerintahan yang menuntut proses demokrasi yang bersih
sehingga Good Governance merupakan salah satu alat Reformasi yang mutlak
diterapkan dalam pemerintahan baru. Akan tetapi, jika dilihat dari perkembangan
Reformasi yang sudah berjalan selama 12 tahun ini, penerapan Good Governance
diIndonesia belum dapat dikatakan berhasil sepenuhnya sesuai dengan cita – cita
Reformasi sebelumnya. Masih banyak ditemukan kecurangan dan kebocoran dalam
pengelolaan anggaran dan akuntansi yang merupakan dua produk utama Good
Governance.

D. Good governance corporate


E. Good governance dalam otonomi daerah