Anda di halaman 1dari 8

Penyakit tunas coklat pada

kelapa sawit

Oleh:

Aprialdi Kusuma Siregar (11782101616)

Dosen Pengampuh:

YUSMAR MAHMUD, S.P, M.Si

JURUSAN AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM

PEKANBARU

2018
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang telah memberikan
kemampuan, kekuatan, serta keberkahan baik waktu, tenaga, maupun pikiran kepada Penulis
sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Penyakit tunas coklat pada kelapa
sawit” tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan
akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Oleh karena itu,
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak Yusmar Mahmud,
S.P, M.si selaku dosen Dasar-dasar perlindungan tanaman atas bimbingan, pengarahan, dan
kemudahan yang telah diberikan kepada Penulis dalam pengerjaan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada penulisan makalah ini.
Maka dari itu, saran dan kritik yang membangun sangat Penulis harapkan dari pembaca
sekalian. Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang
membacanya.

Pekanbaru, 08 Juni 2018

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu jenis
tanaman perkebunan yang menduduki posisi penting dalam sektor pertanian umumnya,
dan sektor perkebunan khususnya. Hal ini disebabkan karena dari sekian banyak tananam
yang menghasilkan minyak atau lemak, kelapa sawit yang menghasilkan nilai ekonomi
terbesar per hektarnya di dunia (Khaswarina, 2001).
Tanaman kelapa sawit merupakan sumber penghasil minyak nabati yang digunakan
secara luas dalam berbagai industri. Risza (1994) menjelaskan bahwa disamping
digunakan sebagai bahan industry pangan, minyak kelapa sawit dapat digunakan sebagai
bahan baku industry non pangan.
Sejalan dengan perluasan daerah, produksi juga meningkat dengan laju 9,4% per
tahun. Pada awal 2001-2004 luas areal kelapa sawit dan produksi masing-masing tumbuh
dengan laju 3,97% dan 7,25% per tahun, sedangkan ekspor meningkat 13,05% per tahun.
Tahun 2010 produksi crude palm oil (CPO) diperkirakan akan meningkat antara 5-6%
sedangkan untuk periode 2010-2020, pertumbuhan produksi diperkirakan berkisar antara
2-4% (Harahap, 2011).
Salah satu penyebab rendahnya mutu sawit tersebut adalah karena terserang
penyakit, Penyakit sering menimbulkan kerugian yang cukup berarti pada tanaman sawit.
Setiap tahun kerugian yang ditimbulkan bisa mencapai jutaan rupiah setiap hektar
tanaman sawit. Penyebab penyakit yang sering dijumpai pada tanaman sawit adalah
jamur. Sedangkan bakteri atau virus jarang dijumpai dan tidak menimbulkan kerusakan
yang berarti (Setyamidjaya, 2006).
Tanaman kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan primadona Indonesia. Di
tengah krisis global yang melanda dunia saat ini, industri sawit tetap bertahan dan
memberi sumbangan besar terhadap perekonomian negara. Selain mampu menciptakan
kesempatan kerja yang luas, industri sawit menjadi salah satu sumber devisa terbesar
bagi Indonesia. Data dari Direktorat Jendral Perkebunan (2008) menunjukkan bahwa
terjadi peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia, dari 4 713 435 ha
pada tahun 2001 menjadi 7.363.847 ha pada tahun 2008 dan luas areal perkebunan
kelapa sawit ini terus mengalami peningkatan. Peningkatan luas areal tersebut juga
diimbangi dengan peningkatan produktifitas. Produktivitas kelapa sawit adalah 1.78
ton/ha pada tahun 2001 dan meningkat menjadi 2.17 ton/ha pada tahun 2005. Hal ini
merupakan kecenderungan yang positif dan harus dipertahankan. Untuk
mempertahankan produktifitas tanaman tetap tinggi diperlukan pemeliharaan yang tepat
dan salah satu unsur pemeliharaan Tanaman Menghasilkan (TM) adalah pengendalian
hama dan penyakit.
Produktivitas kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh teknik budidaya yang
diterapkan. Pemeliharaan tanaman merupakan salah satu kegiatan budidaya yang sangat
penting dan menentukan masa produktif tanaman. Salah satu aspek pemeliharaan
tanaman yang perlu diperhatikan dalam kegiatan budidaya kelapa sawit adalah
pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian hama dan penyakit yang baik dapat
meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman.

B. Rumusan Masalah
a. Apa itu penyakit Tunas Coklat pada kelapa sawit ?
b. Bagaimana gejala dari penyakit tunas coklat tersebut ?
c. Bagaimana daur hidup dari Patogen pembawa penyakit tersebut
d. Bagaimana cara pengendaliannya ?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah Dasar-dasar perlindungan tanaman dan juga sebagai sarana bacaan dalam
pengendalian penyakit yang mengganggu pada tanaman kelapa sawit serta mengetahui
cara dan solusi untuk mengendalikan penyakit pada tanaman kelapa sawit.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Penyakit tunas coklat pada tanaman kelapa sawit


Penyakit Tunas Coklat merupakan infeksi pada radikula dan plumula yang
sedang berkembang berupa biktik coklat kehitaman. Penyakit ini merupakan salah satu
penyakit yang menyerang tanaman kelapa sawit pada masa pembibitan bersama dengan
penyakit Schizophyllum Commune. Penyakit ini disebabkan karena kadar air biji yang
kurang dari 17%, Permukaan kulit biji banyak serabut, dan ruang pengecambahan
kurang bersih dan lembab sehingga mengundang jamur-jamur patogen untuk
menginfeksi bibit-bibit kelapa sawit tersebut. Penyakit tunas coklat pada tanaman
kelapa sawit ini disebabkan oleh infeksi dari jamur patogen Aspergilus spp., Penicillum
spp., Mucor spp., Fusarium spp., dan Marasmius spp.

B. Gejala dari penyakit tanaman tunas coklat


a. Terdapat bintik coklat pada radikula dan plumula
b. Pada lesio terlihat miselium cendawan dan Spora
c. Embrio di dalam biji nekrosis dan mati
d. Menyebar melalui spora dan konidia
e. Cendawan penghancur lemak

C. Daur Hidup Patogen penyakit tunas coklat


a. Aspergilus spp.
Hidup sebagai saproba pada bermacam-macam benda organik , seperti pada
roti, daging yang sudah diolah, kacang-kacangan. Koloninya berwarna abu-ab ,
hitam, kuning , atau coklat. Memiliki sterigma primer dan sekunder karena
phialidesnya bercabang dua kali. Habitatnya pada tempat yang lembab, kurang
cahaya matahari. Berperan dalam pembuatan kecap dan minuman beralkohol.
Secara aseksual dengan konidia. Hifa penghasil konidiofor. Konidiofor
mrnopang konidia. Konidia dilepaskan oleh konidiofor. Jika jatuh di lingkungan
yang cocok, konidia berkecambah menghasilkan hifa yang kemudian membentuk
mselium. Kemudian membentk konidiofor dan menghasilkan konidia.
Secara seksual, dua hifa yang berlainan jenis, yaitu hifa (+) dan hifa (-) saling
berdekatan. Kemudian nukleusnya diploid, yang kemudian melakukan pembelahan
meiosis. Kemudian pembelahan mitosis. Askus didesak oleh askospora hingga
pecah dan nantinya bila lingkungannya cocok, maka askospora akan berkecambah
menghasilkan hifa dan membentuk miselium.

b. Penicillum
Penicillium sp. adalah genus fungi dari ordo Hypomycetes, filum Askomycota.
Penicillium sp. memiliki ciri hifa bersepta dan membentuk badan spora yang
disebut konidium. Konidium berbeda dengan sporangim, karena tidak memiliki
selubung pelindung seperti sporangium. Tangkai konidium disebut konidiofor, dan
spora yang dihasilkannya disebut konidia. Konidium ini memiliki cabang-cabang
yang disebut phialides sehingga tampak membentuk gerumbul. Lapisan dari
phialides yang merupakan tempat pembentukan dan pematangan spora disebut
sterigma. Beberapa jenis Penicillium sp. yang terkenal antara lain P. notatum yang
digunakan sebagai produsen antibiotik dan P. camembertii yang digunakan untuk
membuat keju biru (Purves dan Sadava, 2003).

c. Mucor spp.
Mucor adalah genus fungi yang berasal dari ordo Mucorales yang merupakan
fungi tipikal saprotrop pada tanah dan serasah tumbuhan. Hifa vegetatifnya
bercabang-cabang, bersifat coenositik dan tidak bersepta. Mucor berkembangbiak
secara aseksual dengan membentuk sporangium yang ditunjang oleh batang yang
disebur sporangiofor. Ciri khas pada Mucor adalah memiliki sporangium yang
berkolom-kolom atau kolumela (Singleton dan Sainsbury, 2006).

D. Pengendalian
a. Mengurangi kadar air dengan pemanasan biji
b. Meningkatkan kebersihan ruang perkecambahan dan permukaan biji
c. Merendam biji dengan Mankozeb 0,2% selama 15 menit
d. Memusnakan biji sakit dan biji dalam satu wadah
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyakit tunas coklat ini adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur karena
kurangnya pemeliharaan kebersihan tempat penyimpanan perkecambahan dan
permukaan bijinya. Dan juga dapat juga disebabkan oleh kurangnya pengudaraan dan
penyinaran matahari sehingga menjadi lembab dan menyebabkan bibit kelapa sawit
menjadi rentan terhadap serangan Jamur Patogen penyebab tunas coklat tersebut.
Pembersihan tempat pembibitan merupakan suatu langkah awal dalam melindungi
tanaman yang dibudidayakan agar terhidar dari segala macam bentuk penyakit yang
disebabkan oleh Patogen berbahaya.

B. Saran
Perlu dilakukannya perhatian dan pendekatan pada faktor-faktor pendukung lain
untuk membuat bibit kelapa sawit tidak terlalu rentan terkena serangan jamur patogen.
DAFTAR PUSTAKA

Yuza Defitri.2015.Identifikasi Patogen penyebab penyakit tanaman sawit (Elaes guineensis


Jacq.) Di desan Betam Kecamatan Jambi Luar Kota.Jurnal Ilmiah.Vol.15 No.4 Tahun
2015