Anda di halaman 1dari 11

LINGUISTIK FUNGSIONAL SISTEMIK:FUNGSI PENURUNAN NOMINA

BESERTA ELEMEN-ELEMEN DAN DISTRIBUSI PENYUSUNNYA DALAM


CERPEN LA RUNDUMA KARYA WA ODE WULAN RATNA

RENDY PRIBADI
Institut Teknologi Budi Utomo

PENDAHULUAN

Bahasa Indonesia mempunyai proses pembentukan kata yang terikat oleh beberapa proses yang
terdiri dari morfem bebas dan morfem terikat. Bentuk kata seperti

lekasan :lekasan

: lekas- an

Selama ini, bahasa indonesia mengedepankan ketiga elemen tersebut sebagai elemen
utama pembentuk kalimat. Kalimat merupakan bentukan dari beberapa klausa yang terdiri dari
frase, kata, nomina, verba, preposisi, adverbia, dan adjektiva (Chaer, 2007, Alwi 2003). Dengan
kata lain elemen elemen diatas merupakan satuan elemen pembentuk sebuah kalimat.
Bentuk seperti sufiks -an adalah sebuah satuan dalam sintaksis yang disebut morfem
terikat. morfem adalah satuan terkecil dalam kajian sintaksis yang tidak mempunyai makna.
Bentuk afiks -an tidak mempunyai makna karena harus terikat atau digabung dengan unsure lain
seperti kata lekas. Kata lekas dalam hal ini disebut Morfem bebas yakni morfem yang dapat
berdiri sendiri. Hal ini dikaji dalam cabang ilmu bahasa yang mempelajari morfem dan
kombinasinya disebut morfologi (Kridalaksana, 2004:42). Proses pembentukan kata dalam
struktur kalimat yang menggabungkan morfem bebas dan morfem terikat sehingga membentuk
makna yang berbeda dari tiap kata.

KAJIAN TEORI

Morfologi mempelajari pembentukan kata menjadi makna yang berbeda mencakup verba
dan nomina. Dari segi morfologisnya verba terdiri dari dua macam, yakni (1) Verba Transitif dan

1
(2) Verba tak transitif. Lalu dari segi morfologisnya pula, nomina terdiri dari dua macam, yakni
(1) nomina yang berbentuk kata dasar dan (2) nomina turunan. Penurunan ini dilakukan dengan
(a) afiksasi, (b) perulangan, atau (c) pemajemukan (Alwi,dkk, 1998: 217). Skematis bentuk
nomina bahasa Indonesia:

Dasar

Nomina

afiks
perulangan

turunan pemajemukan

Nomina Dasar

Nomina dasar adalah nomina yang terdiri atas satu morfem. Berikut adalah beberapa
contoh nomina dasar yang dibagi menjadi nomina dasar umum dan nomina dasar khusus.

a. Nomina Dasar Umum


Kipas bulan
Bangku laptop

b. Nomina Dasar Khusus


Kakak karet
Rendy Farida
Muka Bandung

Konsep nomina dasar tidak mempunyai konsep khusus, nomina ini hanya mengacu pada
suatu penjelasan umum. Dalam kata kipas memiliki cirri semantis mengacu kepada makna
benda, tetapi alat/ benda ini mempunyai makna melakukan perbuatan, seperti dengan kipas.

2
Pada bangku, dibulan, dengan laptop. Penambahan adverbia dan partikel ini merupakan bentuk
tambahan pada bentuk nomina dasar umum.
Lalu pada nomina dasar khusus mempuyai fungsi makna yang spesifik dalam maknanya.
1. Kakak adalah nomina yang mengacu pada hubungan kekerabatan;
2. Rendy adalah nomina yang mengacu pada nama seseorang.
3. Bandung adalah nomina yang mengacu pada nama kota.

Nomina Turunan
Nomina dapat diturunkan melalui afiksasi, perulangan, atau pemajemukan. (Alwi, dkk,
1998: 220). Afiksasi nomina adalah suatu proses pembentukan nomina dengan menambahkan
afiks tertentu pada kata dasar (hal. 220). Satu hal yang perlu diperhatikan dalam penurunan
nomina dengan afiksasi adalah bahwa nomina tersebut memiliki sumber penurunan dan sumber
ini belum tentu berupa kata dasar. Nomina turunan seperti kekecilan. Kata kekecilan tidak
dibentuk dari nomina kecil tetapi dari kata verba mengecilkan.

Pada dasarnya ada tiga prefiks dan satu sufiks yang dipakai untuk menurunkan nomina,
yaitu prefiks ke-, per (dengan alomorf pel-, dan pe-), peng (dengan alomorf pem-, pen-, peny-,
pe-, peng-, dan penge,-, serta sufiks –an. Karena prefiks dan sufiks dapat bergabung, seluruhnya
ada tujuh macam afiksasi dalam penurunan nomina seperti afiks ke-, per-, peng-, -an, peng-an,
per-an, ke-an. Ke tujuh afiks ini mempunyai turunan dalam menjadikan kata kerja menjadi
nomina.( Alwi,dkk, 1998: 222).

Perulangan Nomina
Perulangan atau reduplikasi adalah proses penurunan kata dengan perulangan, baik secara
utuh maupun secara sebagian (Awi, dkk, 238). Proses ini menjadikan bentuk nomina sebagai
reduplikasi yang memvariasikan segala bentuknya menjadi beragam tetapi mempunyai makna
yang utuh, hanya menandai bentuk tunggal dan kemiripan. Dalam diagram akan dijelaskan
sebagai berikut:

keanekaan

3
Ketatunggalan Sejenis
kekolektifan

Makna Reduplikasi Berbagai jenis

Rupa
Kemiripan
Cara
Ketaktunggalan juga dibagi menjadi dua cabang yakni, keanekaan dan kekolektifan.
Keanekaan mengandung arti bahwa kata nomina mengandung banyak ragam ketika digabung
dengan kata yang bersinonim yakni kata yang searti, serta penggabungan bentuk tunggal dan
jamak. Seperti:
Ilmu pengetahuan
Tua keladi

Kekolektifan adalah penyatuan dari nomina yang tunggal menjadi bentuk plural yang
sejenis, berbegai, dan mirip. Seperti dedaunan, pepohonan, sesajian (kumpulan sejenis), tumbuh-
tumbuhan-kacang-kacangan (berbagai jenis), dan kuda-kuda, lari-lari, kakak-kakak (mirip).
Dalam nomina juga adabentuk tambahan dari proses pengulangan laki-laki menjadi lelaki,
tangga-tangga menjadi tetangga.(Alwi, dkk, 240).
Terakhir adalah proses pemajemukan. Nomina menjadi bentuk pemajemukan yang dapat
ditelusuri asal-usul katanya. Seperti kakak adik merupakan bentuk majemuk dari nomina yang
dapat ditelusuri asal-usulnya bahwa. Sebaliknya dalam nomina idiom kata-kata yang dihasilkan
tidak bisa dicari asal-usulnya dan cenderung menghasilkan bentuk baru dalam pemaknaannya
seperti panjang tangan karena makna ini tidak ada hubungan kausal antara panjang dan tangan.
Nomina majemuk dibagi menjadi bentuk morfologis dan hubungan komponennya (Alwi, dkk,
241). Berdasarkan bentuk morfologis, nomina majemuk terdiri atas, nomina majemuk bertingkat
dasar dan (2) nomina majemuk berafiks,
Nomina majemuk dasar adalah nomina yang unsur dasarnya terdiri dari kata dasar.
Seperti, fakir miskin, bangku sekolah. Kemudian pada nomina majemuk berafiks adalah nomina
yang salah satu atau kedua penyusunnya mempunyai afiks. Seperti, sekolah kejuruan. Jadi
Afiksasi merupakan salah satu cabang dari penurunan nomina yang mempelajari proses

4
pembentukan kata dengan memberikan suatu imbuhan. Afiksasi nomina, contohnya adalah suatu
proses pembentukan nomina dengan menambahkan afiks tertentu pada kata dasar.

Dalam pendekatan linguistik fungsional sistemik (LFS), ada tiga unsur yang
membangun sebuah klausa; proses, partisipan, dan lingkup situasi (Wachidah,2010: 202). Jika di
komparasikan dengan teori bahasa indonesia seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, maka
pemahaman klausa mencakup pemahaman terhadap ketiga unsur tersebut, yaitu kelas kata verba
yang merepresentasikan proses, kelas kata nomina yang merepresentasikan partisipan, serta kelas
kata adverbia atau frasa preposisional yang merepresentasikan lingkup situasi.
Nomina dalam lingkup partisipan yang berkaitan dengan suatu keadaan yang nyata dari
suatu teks tanpa ditutupi atau diketahui secara tidak terstruktur. Seperti yang dinyatakan oleh
Halliday (1994: xxix-x) merekomendasikan 21 butir relevansi aplikasi LFS. Selain itu, LFS juga
mempunyai pandangan holistik pada bahasa, yakni pandangan bahasa yang mempertimbangkan
bahasa sebagai semiotic sosial. bahasa adalah alat untuk menetapkan dan mempertahankan
hubungan sosial (Teich, 1992:2 dan Eggins, 2004: 3-4).
Dalam Linguistik Fungsional Sistemik, memandang bahasa sebagai suatu struktur yang
dapat dianalisis ke dalam unit-unit bahasa yang lebih kecil. Perspektif linguistik linguistik
fungsional sistemik, bahasa adalah system arti dan system lain (yakni system bentuk dan
ekspresi) untuk merealisasikan arti tersebut (Saragih, 2002:1). Kajian ini berdasarkan dua konsep
yang ada dalam LFS itu sendiri, yaitu (1) bahasa merupakan fenomena sosial yang wujud
sebagai semiotic sosial dan (2) bahasa merupakan teks yang berkonstrual (saling menentukan
dan merujuk) dengan konteks sosial.
Kajian Morfologi mempunyai bentukan yang hampir sama dengan sintaksis. Hal ini
menjadi kajian yang melihat proses pembentukan kata dengan menghubungkannya dengan
srruktur gramatikal dari suatu kalimat bahkan klausa yang membentuk diskursus. Morfologi
yang dikaji dalam penelitian ini adalah proses pembentukan makna secara gramatikal yang
disusun berdasarkan LFS. Yakni berdasar pada nomina sebagai paritisipan dalam sebuah klausa
yang berdasarkan penurunan nomina secara: (1) afiksasi, (2) perulangan, dan (3) pemajemukan.
Dari ketiga penurunan nomina, diketahui ada perbedaan gramatikal dalam setiap penggunaannya.
Penelitian ini menemukan penurunan nomina yang berupa afiks, perulangan, dan pemajemukan
kata mempunyai makna gramatikal yang berbeda dalam kontek skalimatnya. Berdasarkan LFS,
perbedaan dalam perbedaan gramatikal didasarkan pada teks yang nyata tentang suatu wacana

5
yang didasarkan pada suatu prinsip model yang digunakan dalam mengungkapkan setiap jenis
partisipan. Ada perbedaan yang dalam pengertian gramatikal dari sufiks- an dari pengertian
secara struktur yang di tulis dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. sufiks- an adalah
hasil dari yang atau seperti anjuran (hasil menganjurkan atau sesuatu yang dianjurkan) (Alwi,
dkk) namun dalam kata serabutan memiliki makna tersendiri.

Serabut+ -an = serabutan

Ia bekerja sebagai buruh serabutan

Makna serabutan dalam konteks ini bukan berarti hasil serabut atau sesuatu yang
diserabutkan tetapi ‘yang bekerja serabut’. Kata nomina serabutan diturunkan dari verba
berserabut yang memiliki serabut bukan dari kata serabut. Makna gramatikal ini menunjkkan
makna gramatikal yang tidak bisa dikatakan sejenis tanpa mengetahui konteks kalimat yang
sesungguhnya.
Hasil temuan menunjukkan 50 klausa dari teks cerpen La Runduma menemukan 18
penurunan nomina yang dibagi menjadi 10 data penurunan berdasarkan afiksasi dan 8 data
berdasarkan reduplikasi dan tidak terindikasi adanya penurunan berdasarkan pemajemukan.
Dalam cerpen La Runduma yang diambil dari kumpulan cerpen Cari Aku Di Canti karya Wa
Ode Wulan Ratna situasi dan struktur penulisan menjadi hal yang utama dalam segi pemaknaan
secara gramatikal secara Linguistk Fungsional Sistemik yang melihat makna kalimat secara utuh.
Dari semua penjelasan diatas, maka dapat diajukan beberapa pertanyaan, yaitu apa saja
elemen/unsur yang membentuk penurunan nomina? Bagaimana distribusi posisi elemen tersebut
sehingga membentuk penurunan nomina.

METODE PENELITIAN

Pengumpulan Data

Sumber data yang dijadikan bahan untuk dianalisis oleh peneliti adalah; cerpen La
Runduma yang diperoleh dari kumpulan cerpen Cari Aku di Canti karangan Wa Ode Wulan Dari
sumber data cerpen La Runduma yang berisi 50 klausa ditemukan 8 penurunan nomina yang

6
terdiri dari 10 nomina turunan afiks, 8 nomina turunan perulangan, dan tidak ditemukan nomina
pemajemukan.
Tabel 1. Sumber data
No Sumber Judul teks Jumlah klausa Penurunan
Nomina
1 Cerpen La Runduma 50 14

Analisis Data

Untuk menganalisis data, pertama peneliti menganalisis jumlah klausa yang ada pada
keseluruhan sumber data, setelah diteliti, terdapat 50 klausa dari 1 teks. Data yang dianalisis
adalah penurunan nomina yang terdiri dari afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan. Untuk
mengidentifikasi penurunan nomina beserta elemen nya digunakan sebuah tabel analisis untuk
mengkategorikan elemen pembentuk frasa nomina: kolom tersebut terbagi 4 ; kolom pertama;
kata dasar, kolom kedua; penurunan nomina, kolom ketiga kata nomina, kolom ke empat; makna
gramatikal menerangkan penurunan nomina berdasarkan SFL.

Dibawah ini adalah contoh analisis morfologi penurunan nomina:

Tabel II. Analisis penurunan nomina

No. Kt. Penurunan nomina Kata nomina Makna


Dasar Afiks Perulangan Pemajemukan gramatikal
1. Laki La+… lelaki ‘Kemiripan rupa’
2. serabut -an Serabutan ‘Yang bekerja’
3. Pilih -an Pilihan ‘Hasil memilih’

7
No
PARAGR verba Nomina Penurunan Nomina
Klausa
AF

4. Selat -an Selatan ‘Yang menuju’


5. Pingit -an Pingitan ‘hasil pingit’
6. Terang Pen-an Penerangan ‘Hasil penerangan’
7. Kebun Per-an Perkebunan ‘Tempat berkebun’
8. sunyi Ke-an Kesunyian Keadaan sunyi
9. Ngeri ke-an Kengerian Keadaan ngeri
10. tengkar Per-an Pertengkaran Hal/perbuatan
tengkar
11. Doa Doa-doa Doa-doa Keanekaan
12. Macam Macam- Macam- Keanekaan
macam macam
13. Hari Hari-hari Hari-hari plural
14. Kata Kata-kata Kata-kata Keanekaan
15. Bunyi Bunyi- Bunyi-bunyi Keanekaan
bunyi
16. Kanak Kanak- Kanak-kanak Kemiripan rupa
kanak

8
perulan pemajem
afiksasi
gan ukan
1 KL N3: Lelaki itu
Ayahku. Namanya
Maulidun. Sudah hampir Lelaki,
dua puluh tahun ia Ayahku,
Menjadi pilihan lelaki
menjadi pawang penabuh Maulidu
gendang pilihan setiap kali n
pada acara posuo.

6 KL N 6: La Runduma
bukanlah lelaki rupawan. La,
Ia ramah meski pekerja Rundum
serabutan - serabutan lelaki
a, lelaki,
pekerja

Tabel III: contoh analisis

Dalam contoh analisis diatas, dapat dilihat bahwa elemen pembentuk penurunan nomina
bisa terdiridari tiga cara, yaitu, afiksasi, perulangan, dan pemajemukan. Pada tabel III proses
perulangan/reduplikasi pada kata dasar laki-laki mengalami perulangan menjadi lelaki setelah
ditambah awalan la- menjadi lelaki, kata ini mempunyai makna gramatikal ‘kemiripan rupa’.
Lalu pada tabel III proses afiksasi terjadi pada kata serabutan. Kata ini mengalami penurunan
nomina setelah mengalami proses afiksasi penambahan sufiks –an. Kata dasar yang terdiri dari
serabut yang merupakan kategori nomina diturunkan menjadi verba berserabut kemudian
diturunkan menjadi serabutan yang bermakna gramatikal ‘yang bekerja di ’. Jika kita
menganalisis dari dari segi fungsi nya, maka dapat diketahui bahwa serabutan mempunyai
fungsi sebagai adverbia walaupun sebenarnya ia merepresentasikan persona/partisipan. ‘yang
bekera di..’ karena serabut merepresentasikan nomina maka hal ini cukup jelas bahwa makna
gramatikal yang ada pada kalimat ini mengacu kepada subjek yang ada pada kalimat yaitu a
Runduma.

HASIL PENELITIAN

9
Setelah proses pengumpulan dan analisis data dengan menggunakan metode dan proses
yang telah dijelaskan sebelumnya penelitian ini menghasilkan jawaban atas dua pertanyaan yang
diajukan pada pendahuluan yaitu 1). Elemen apa saja yang membentuk/membangun struktur
morfologi penurunan nomina ? 2). Apa fungsi elemen- elemen dan Bagaimana Distribusi posisi
elemen tersebut morfologi penurunan nomina?

1. Elemen Pembentuk Penurunan Nomina


I. Lelaki itu Ayahku. Namanya Maulidun. Sudah hampir dua puluh tahun ia menjadi pawang
penabuh gendang pilihan setiap kali pada acara Posuo.

Kalimat diatas terdapat satu contoh pembentukan penurunan nomina yaitu kata pilihan
berasal dari turunan verba memilihkan lalu diturunkan menjadi nomina pilihan yang berarti
‘hasil memilih’.

memilihkan pilihan
Pilih

Mempermilihkan

2. Fungsi Elemen dan Distribusi Elemen Pada Penurunan Nomina

II. La Runduma bukanlah lelaki rupawan. Ia ramah meski pekerja serabutan.

Sedangkan pada kalimat kedua terdapat kata serabutan yang merupakan nomina
diturunkan dari verba berserabut. Nomina serabutan bermakna ‘yang bekerja secara/ atau di..’
dalam makna gramatikal. Hal ini berbeda bahwa sufiks-an bermakna ‘hasil’ dalam Alwi, sufiks-
an dalam konteks kalimat ini merujuk kepada profesi dari subjek (partisipan). Elemen-elemen
dalam kata pilihan dan serabutan mempunyai elemen pembentuk nomina dan adverbial.

Kesimpulan

10
Klausa merupakan data terpenting dalam proses analisis morfologi penurunan nomina.
Penurunan nomina yang ditemukan dalam teks cerpen La Runduma menunjukkan bahwa proses
pembentukan kata tidak semua memiliki struktur yang sama melainkan memiliki elemen, posisi
dan distribusi yang berbeda tergantung dari konteks kalimat yang ada dan merujuk kepada fungsi
apa (partisipan, proses, dan lingkup situasi), karena berbeda elemen dan distribusi, makna dan
fungsinya pun berbeda. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa:

1. Sufiks –an tidak berfungsi sebagai nomina semata dan bermakna gramatikal ‘hasil’,
sufiks-an dalam teks ini ada yang berfungsi sebagai adverbial seperti sufiks-an pada
kata serabutan.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 1998.

Chaer, Abdul, Linguistik Umum. Jakarta : Rinneka Cipta. 2007.

Eggin, S. An Introduction to Systemic Functional Linguistics. London: Continuum. 2004

Kridalaksanana, Harimurti. Kelas kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia. 2007.

Wachidah, Siti. Tipe Proses dalam berbagai teks dalam koran serta pengungkapannya dengan
kelas kata verba Bahasa Indonesia, Jurnal Ilmiah Masyarakat Linguistik Indonesia,
Agustus. 2010.

11