Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

“MENGATASI KESULITAN SISWA DALAM MEMAHAMI KONSEP BANGUN RUANG SISI DATAR”

KELOMPOK 3
KELOMPOK 3

JUNAEDI

SRY WAHYUNI

171050701009

171060701015

ANDI ROSTINA SYAM

171050701004

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2017

i

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang karena anugerah dari-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Mengatasi atau meminimalkan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal geometri bangun ruang sisi datar” ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita ajaran agama islam yang sempurna dan menjadi anugerah serta rahmat bagi seluruh alam semesta.

Kami sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah ini, dan kami sangat berharap makalah ini dapat menambah wawasan serta pengetahuan kita. Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan. Oleh sebab itu kami berharap adanya kritik,usulan dan saran demi perbaikan makalah ini mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Makassar, November 2017

ii

Kelompok 3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………

i

DAFTAR ISI ………………………………………………….………………………

ii

I. PENDAHULUAN ……………………………………………………………….

1

II. PERMASALAHAN …………………………………………………………

3

A. Masalah ………………………………………………………………………

3

B. Batasan Masalah ……………………………………………………………….

3

III. PEMBAHASAN

A. Kesulitan-Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Permasalahan Bangun

Ruang sisi Datar…………………………………………………………………

5

B. Upaya dalam Meminimalkan Kesulitan-Kesulitan siswa

1. Mengatasi kesulitan siswa dalam penguasaan konsep kubus dan balok …….

6

2. Mengatasi kesulitan siswa dalam menemukan rumus luas permukaan kubus dan balok

10

a) Pengertian Discovery Learning …………………………………………

8

b) Langkah langkah model pembelajaran Discovery Learning ……….

c) Penerapan Discovery Learning dalam menemukan rumus volume balok……………………………………………………………….

3. Mengatasi kesulitan siswa menggunakan rumus ………………………….

IV.KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan …………………………………………………………………….

B. Saran ……………………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………… LAMPIRAN (CONTOH LKS )

iii

8

10

12

12

14

I.

PENDAHULUAN

NRC (National Research Council, 1989:1) dari Amerika Serikat, menyatakan bahwa:

“Mathematics is the key to opportunity.” Yang berarti bahwa Matematika adalah kunci dalam membuka kesempatan atau peluang kesuksesan. Bagi seorang siswa, keberhasilan mempelajari matematika akan membuka pintu karir yang cemerlang. Bagi seorang warganegara, matematika akan menunjang pengambilan keputusan yang tepat. Bagi suatu negara, matematika akan menyiapkan warganya untuk bersaing dan berkompetisi di bidang ekonomi dan teknologi. Memahami apa yang dimaksudkan oleh NRC tersebut, membuat pemikiran kita tentang pentingnya matematika tidak terelakkan lagi. Betapa tidak, matematika ada dan dibutuhkan dimana saja. Sehingga mengingat pentingnya matematika,diharapkan siswa mampu memahami matematika dan pengaplikasiannya.

Lampiran Permendiknas tahun 2006 nomor 22 menjelaskan bahwa matematika bertujuan agar siswa memiliki kemampuan memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah (Kemendiknas, 2006a). Hal ini menunjukkan bahwa dalam mempelajari matematika, siswa tidak lepas dari pemahaman konsep, dengan memahami konsep, siswa akan mampu menyelesaikan soal-soal mulai dari yang sederhana yang masih menggunakan hafalan atau rumus sampai pada soal yang tidak lagi bisa dipecahkan dengan hafalan rumus semata, tetapi dengan mengaitkan antar konsep yang satu dengan konsep lainnya, serta menerapkan konsep tersebut dalam pemecahan masalah. Ruang lingkup materi yang dipelajari siswa dalam mengembangkan kemampuan tersebut antara lain 1) Bilangan; 2) Aljabar; 3) Geometri dan Pengukuran; dan 4) Statistika dan Peluang (Kemendiknas, 2006a).

Geometri merupakan salah satu aspek dalam mata pelajaran matematika yang penting untuk dipelajari pada semua jenjang satuan pendidikan. Van de Walle menyatakan bahwa geometri merupakan bagian dari kurikulum di hampir setiap negara.Hal tersebut menandakan bahwa geometri menempati posisi khusus dalam kurikulum mata pelajaran matematika. Lebih lanjut, Van de Walle menyatakan bahwa geometri digunakan oleh banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga hal tersebut menuntut siswa untuk memahami konsep-konsep geometri.

Selanjutnya dari apa yang diaparkan diatas, kemampuan memahami konsep dalam matematika serta menerapkan konsep geometri dalam memecahkan masalah haruslah dimiliki

1

oleh siswa. Namun faktanya siswa kesulitan dalam mempelajari dan memecahkan permasalahan geometri. Hal ini ditunjukkan dari beberapa hasil peneltian. Hasil penelitian Pradika dan Murwaningtyas menyatakan bahwa siswa melakukan kesalahan-kesalahan dalam menyelesaikan soal yang berhubungan dengan bangun ruang sisi datar. Hal tersebut menandakan siswa masih kesulitan dalam materi bangun ruang sisi datar (Muwaningtyas, 2012). Hasil penelitian lain juga menyatakan hal yang sama, penelitian Sukmara [8] yang dilakukan pada salah satu kelas VIII di SMPN 1 Sukarame Tasikmalaya menyatakan siswa yang tuntas pada materi bangun ruang sisi datar yaitu 54,3 % pada kompetensi dasar 5.1, 5.2, dan 17,1 % pada kompetensi dasar 5.3 (Sukmara, 2011).

Dari apa yang dipaparkan diatas, matematika berperan penting dalam kehidupan manusia serta pentingnya menyelesaikan dan menerapkan konsep geomteri dalam kehidupan sehari-hari sementara pada kenyataannya siswa masih saja mengalami kesulitan dalam meningkatkan kemampuan matematikanya khususnya pada permasalahan geometri. Hal ini tentu menjadi permasalahan dalam pembelajaran matematika. Oleh karena itu, kami berusaha mengungkap kesulitan-kesulitan siswa dalam memahami konsep geometri khususnya bangun ruang sisi datar dan upaya dalam mengatasi kesulitan siswa tersebut.

2

II.

PERMASALAHAN

A. Masalah Mengingat konsep geometri dan pengaplikasian konsepnya sangatlah penting dalam pemecahan masalah, tentu hal ini tidak boleh luput dari perhatian kita. Sehingga permasalahan yang kami angkat adalah kesulitan yang menyebabkan kurangnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan permasalahan geometri dan upaya dalam mengatasi kesulitan kesulitan tersebut khususnya pada materi bangun ruang sisi datar. Sehingga permasalahan yang utama adalah kesulitan-kesulitan apa saja yang dialami siswa dalam memahami konseop geometri bangun ruang sisi datar dan bagaimana meminimalkan kesulitan siswa tersebut .Tias dan Wutsqa (Tias, 2015) memandang bahwa kesulitan belajar matematika adalah wujud ketidakmampuan siswa dalam memecahkan suatu permasalahan.

Studi mengenai kesulitan siswa oleh Ririn Deviani ( Deviani, 2017) mengungkapkan bahwa kesulitan siswa dapat diukur melalui beberapa indikator. Selain itu, studi Mutia (2017) menjelaskan beberapa kesulitan siswa dalam memecahkan masalah bangun ruang sisi datar setelah memperhatikan kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam memecahkan masalah bangun ruang sisi datar. Berdasarkan studi ini, kami menyimpulkan kesulitan-kesulitan siswa dalam mempelajari bangun ruang sisi datar.

1. Kesulitan dalam menguasai konsep kubus dan balok

2. Kesulitan menemukan rumus

3. Kesulitan menerapkan rumus

Dengan mengungkap kesulitan-kesulitan siswa guru mampu mengidentifikasi kesulitan siswa dan memikirkan solusi dari setiap kesulitan yang dialami siswa. Hal inilah menjadi tolak ukur dalam menyelesaikan permasalahan ini.

B. Batasan Masalah Agar pembahasan mengenai permasalahan geometri ini lebih jelas dan tidak ambigu, maka kami menuliskan batasan masalah sebagai berikut 1. Kesulitan siswa yang dimaksud adalah kesulitan dalam mempelajari matematika. Kesulitan belajar matematika sendiri adalah wujud ketidakmampuan siswa dalam memecahkan suatu permasalahan.

3

2. Konsep geometri yang kami maksud adalah ide abstrak dalam pembelajaran geometri.

3. Kesulitan siswa ditinjau dari pemahaman konsep dan penerapannya.

4. Geometri kami khususkan pada pokok pembelajaran bangun ruang sisi datar.

4

III.

PEMBAHASAN

A. Kesulitan-kesulitan siswa dalam menyelesaikan permasalahan bangun ruang sisi

datar.

1. Kesulitan dalam memahami konsep Kesulitan ini meliputi kesulitan menyebutkan dan menunjukkan unsur-unsur kubus dan balok yang terdiri dari titik sudut, rusuk, bidang sisi, diagonal bidang, diagonal ruang, dan bidang diagonal pada gambar. Hal ini dapat dicermati bahwa kesulitan ini terjadi karena pengertian yang diterima tidak terkait dengan

pemahaman fakta yang dimiliki. Pengertian yang dibangun dengan cara menghafal dari buku atau sewaktu pelajaran. Selain itu, terdapat juga kesulitan membedakan konsep sisi pada bangun datar dan bidang sisi pada bangun ruang. Siswa masih keliru dalam menggunakannya. Siswa menggunakan istilah “sisi” pada kubus bukan “bidang sisi”. Hal ini disebabkan karena siswa masih menyamakan konsep sisi pada bangun datar dengan bangun ruang. Kemudian, kesulitan selanjutnya adalah kesulitan mendefinisikan kubus dan balok. Menurut Sumardyono (2004), konsep adalah idea abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengkategorikan sekumpulan objek, apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. Konsep dapat dipelajari lewat definisi atau observasi langsung. Siswa telah dianggap memahami konsep bila ia dapat memisahkan contoh konsep dari yang bukan contoh konsep.

2. Kesulitan menemukan rumus Adapun kesulitan menemukan rumus meliputi kesulitan menemukan rumus luas permukaan kubus dan balok. Siswa terbiasa menggunakan rumus “siap pakai” untuk penyelesaian soal. Begitu juga dalam menemukan rumus luas permukaan balok, siswa tidak dapat menemukan rumus luas permukaan balok berdasarkan jaring-jaring balok yang telah diketahui. Padahal sebuah rumus luas permukaan kubus atau balok dapat dipahami melalui sebuah jaring-jaring tersebut.

3. Kesulitan dalam menggunakan rumus Adapun kesulitan penggunaan rumus meliputi kesulitan penggunaan rumus luas permukaan kubus dan balok. Saat menghitung luas permukaan kubus dan balok. Dalam penyelesaian soal yang melibatkan rumus dan perhitungan, siswa belum dapat membedakan rumus volume balok dan luas permukaan balok.

5

B. Upaya dalam meminimalkan kesulitan-kesulitan siswa

1. Mengatasi kesulitan siswa dalam penguasaan konsep kubus dan balok

a) Menggunakan alat peraga atau media sederhana. Alat peraga yang digunakan misalnya kerangka kubus dan balok, sementara media sederhana misalnya benda-benda nyata yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari yang berbentuk kubus dan balok seperti kotak pepsodent, kotak teh, atau kotak lainnya yang berbentuk kubus atau balok. Dengan media sederhana ini guru menyebutkan dan menunjukkan unsur-unsur kubus dan balok pada kotak-kotak tersebut dan selanjutnya siswa mengamati secara langsung unsur-unsur yang dimaksud. Dengan demikian upaya tersebut dapat menghubungkan konsep yang dimiliki siswa melalui fakta yang ada. Namun, penggunaan alat peraga ini tidak bisa selamanya membuat siswa memiliki ingatan yang lama dalam mempelajari dan memahami konsep kubus dan balok.

b) Pembelajaran menggunakan media berbasis komputer seperti penggunaan aplikasi power point yang dapat ditemukan di semua Microsoft Office komputer, sehingga tidak sulit menemukannya. Power point dapat digunakan karena memiliki shapes dan animation yang dapat digunakan untuk memberikan bentuk geometri secara visual. Namun, terkadang menggunakan power point juga masih dirasa kesulitan oleh guru, karena perlu keterampilan guru dalam membuatnya. Selanjutnya, dapat menggunakan Microsoft Word 2007 yang dilengkapi dengan SmartArt Graphic. Menurut Marsigit (2010), keterampilan membuat bangun-bangun geometri yang lebih kompleks, seperti bangun- bangun geometri dimensi 3 dapat menggunakan fasilitas Microsoft Word 2007

yang dikembangkan dari keterampilan membuat bangun datar. Dengan menggunakan Microsoft Word 2007 siswa dapat melakukan investigasi atau penyelidikan konsep-konsep geometri dan melakukan kegiatan problem solving atau pemecahan masalah matematika. Dengan demikian, Microsoft Word 2007 yang dilengkapi dengan SmartArt Graphic dapat dicoba untuk digunakan oleh guru dalam pembelajaran geometri. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan penggunaan software pembelajaran geometri yang telah dikembangkan saat seperti Cabri Geometry (Cabri I dan Cabri II), The Geometer’s Sketchpad (GSP), Geometry Expert, Logo, Geogebra, dan Wingeom. Adapun Himmawati (2010) mengemukakan dalam penelitiannya bahwa program Cabri dapat

6

digunakan untuk mempermudah memahami konstruksi geometri dan teorema- teorema dalam geometri. Selain itu, dalam pembelajaran menggunakan The Geometer’s Sketchpad (GSP), Choi- Koh (2000) dan Olkun, Sinoplu, dan Deryakulu (2005) mengemukakan bahwa GSP dapat membantu menciptakan suatu situasi yang potensial di dalam kelas untuk membangun atau mengembangkan kemampuan berfikir dalam belajar geometri yang berujung pada pemahaman siswa terhadap konsep-konsep geometri yang abstrak. Mengatasi kesulitan dalam membedakan konsep sisi pada bangun datar dan bidang sisi pada bangun ruang, guru dapat mengingatkan kembali siswa pada materi persegi dan persegi panjang terlebih dahulu yaitu dengan menjelaskan bahwa persegi dan persegi panjang itu merupakan bangun datar yang hanya memiliki sisi- sisi panjang dan lebar. Sedangkan kubus dan balok merupakan bangun ruang yang terbentuk dari bangun-bangun datar tersebut. Dengan menghubungkan pemahaman konsep geometri yang didapatkan pada materi sebelumnya dengan kubus dan balok yang dipelajari sekarang, diharapkan siswa dapat memahami konsep kubus dan balok nantinya. Mengatasi kesulitan siswa dalam mendefinisikan kubus dan balok dapat dilakukan dengan membuat siswa memahami unsur-unsurnya terlebih dahulu, kemudian membimbing siswa untuk dapat mengungkapkan pengertian kubus dan balok secara tertulis dengan kata-katanya sendiri berdasarkan konsep yang dimilikinya.

2. Mengatasi kesulitan siswa dalam menemukan rumus luas permukaan kubus dan balok dapat dilakukan dengan menerapkan metode penemuan terbimbing (Discovery Learning). Menurut Sagala (2010), dalam penemuan terbimbing, siswa lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan permasalahan dengan bimbingan guru. Diharapkan dengan model ini, siswa yang menemukan rumus mampu memahami dan meneraokan rumus tanpa dibebani dengan hafalan. Berikut adalah penerapan model penemuan terbimbing dalam menemukan luas permukaan kubus dan balok, namun sebelumnya perlu dijelaskan model discovery learning seperti apa.

7

a) Pengertian discovery Learning Discovery learning adalah proses mental dimana peserta didik mengasimilasikan sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya: mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Model pembelajaran discovery learning adalah model mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam pembelajaran discovery learning kegiatan atau pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip- prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Dalam menemukan konsep peserta didik melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan, dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip (Zainab, 2014)

b) Langkah-langkah model discovery learning

a) Langkah Persiapan 1) Menentukan tujuan pembelajaran. 2) Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya). 3) Memilih materi pelajaran. 4) Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi).

5) Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh- contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa. 6) Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik. 7) Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa

b) Langkah Pelaksanaan Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan) Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang

8

menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah) Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah). Data collection (Pengumpulan Data) Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis, dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Data Processing (Pengolahan Data) Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu. Verification (Pembuktian) Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar

9

akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi) Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip- prinsip yang mendasari generalisasi

c) Penerapan dalam menemukan rumus volume kubus Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)

1. Guru menyajikan gambar kubus melalui tayangan power point (contoh- contoh kubus dan menunjukkan apa yang dimaksud volume kubus) atau secara langsung dengan menggunakan alat peraga (mainan rubik atau kubus transparan)

2. Guru mengarahkan siswa untuk memahami volume kubus dengan menjaukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa

3. Guru menagrahkan siswa memahami kubus satan dengan menunjukkan rubik dan kubus transparan.

4. Guru membagi siswa di kelas secara berkelompok

Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah)

1. Guru memberikan waktu bagi siswa untuk memikirkan sejenak permasalahan yang diberikan guru.

2. Guru membagi lembar kerja siswa kepada setiap kelompok.

3. Guru membimbing setiap kelompok membuat hipotesis dari pertanyaan- pertanyaan yang diajukan guru.

4. Guru menilai apakah hipotesis setiap kelompok relevan dengan permasalahan yang diberikan

5. Guru membimbing siswa memprioritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan.

Data collection (Pengumpulan Data)

1. Guru memberikan alat peraga kubus dan rubik pada setiap kelompok

10

2.

Siswa merancang langkah-langkah percobaan sesuai arahan LKS.

3. Guru mengevaluasi langkah-langkah yang ditentukan siswa sudah benar atau tidak.

Data Processing (Pengolahan Data)

1. Siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam LKS (Tabel)

2. Siswa diarahkan oleh Guru memahami setiap pertanyaan yang mengarahkan siswa dalam menemukan volume kubus.

3. Guru membimbing siswa

Verification ( Pembuktian )

1. Siswa berdiskusi dengan teman mengenai rumus volume kubus berdasarkan langkah-langkah yang telah diselesaikan dalam LKS

2. Siswa memperoleh rumus volume kubus

Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)

1. Setiap siswa mempesentasikan jawabannya

2. Guru memberikan kesimpulan

3. Guru merefleksi pembelajaran

contoh LKS (Lampiran)

3. Mengatasi kesulitan siswa menggunakan rumus dapat diupayakan dengan memperbanyak mengerjakan latihan soal yang bervariasi baik yang bersifat kontekstual maupun non kontekstual. Hal ini bertujuan untuk memperkaya konsep siswa dan terbiasa dengan penyelesaian soal yang melibatkan penggunaan rumus luas permukaan kubus dan balok. Selain itu, juga perlu diberikan soal yang menggunakan rumus volume kubus dan balok, untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa sehingga dapat membedakan rumus luas permukaan dan volume.

11

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini, adalah:

1. Kesulitan

belajar

matematika

adalah

memecahkan suatu permasalahan.

wujud

ketidakmampuan

siswa

dalam

2. Kesulitan-kesulitan siswa dalam mempelajari bangun ruang sisi datar yaitu kesulitan

dalam menguasai konsep kubus dan balok, kesulitan menemukan rumus dan kesulitan

menerapkan rumus.

3. Untuk membantu mengatasi kesulitan siswa dalam mempelajari geometri khususnya pada menemukan luas permukaan kubus dan balok diperlukan suatu model pembelajaran. Salah satu model yang telah dipercaya adalah model penemuan terbimbing (Discovery Learning). Langkah- langkah model pembelajaran penemuan terbimbing ( discovery learning ) yaitu persiapan dan pelaksanaan. Pada langkah pelaksanaan ini meliputi Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan, Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah), Data collection (Pengumpulan Data), Data Processing (Pengolahan Data), Verification (Pembuktian), dan Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi).

B. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan, adalah sebagai berikut.

1. Karena model pembelajaran penemuan terbimbing (discovery learning) hanya dapat

dipakai untuk materi tertentu, maka seorang guru atau seorang calon guru disarankan

agar mampu memilih dan memilah materi mana yang tepat dan cocok yang dapat

diterapkan dalam proses belajar agar tidak menyita waktunya juga tidak hanya

melibatkan beberapa siswa saja karena model pembelajaran ini melibatkan keaktifan

seluruh

siswa

dalam

hal

ini

kami

12

menyarankan

untuk

menggunakan

model

pembelajaran penemuan terbimbing pada materi geometri ruang khususnya untuk

2.

menemukan luas permukaan kubus dan balok.

Alat alat bantu mengajar atau alat peraga dalam model pembelajaran penemuan

terbimbing haruslah di usahakan disediakan oleh guru atau calon guru, tujuannya untuk

memberikan siwa pengalaman langsung.

13

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Van De Walle, J.A. (2008). Matematika Sekolah Dasar dan Menengah. Jakarta: Erlangga.

Tias, A.A.W dan Wutsqa, D.U. (2015). Analisis Kesulitan Siswa SMA dalam Pemecahan Masalah Matematika Kelas XII IPA di Kota Yogyakarta. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, Vol. 2 No 1, Mei 2015, Print ISSN: 2356-2684, Online ISSN: 2477-

1503.

Hendriana, H dan Soemarmo, U. (2014). Penilaian Pembelajaran Matematika. Bandung: PT. Refika Aditama.

Zainab, Siti (2014) Peningkatan Keterampilan Menghitung Volume Kubus Dan Balok Melalui Model Pembelajaran Discovery Learning Pada Peserta Didik Kelas Vi Mi. Al Hikmah Tambaksari Surabaya.

Sagala, S. (2010). Konsep dan makna pembelajaran. Bandung: Alfabeta

Sumardyono. (2004). Karakteristik matematika dan implikasinya terhadap pembelajaran matematika. Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru Matematika

Marsigit. (2010). Memanfaatkan Microsoft Word 2007 sebagai media pembelajaran geometri

Diakses

di

SMP.

dihttp://staffnew.uny.ac.id/upload/131268114/penelitian/Memanfaatkan+Microsoft+

Word+untuk+P

mbelajaran+Matematika+di+SMP_Marsigit.Seminar+Media+Matematika.pdf

Choi-koh, S. (2000). The activities based on Van Hiele model using computer as a tool. Journal of the Korea Society of Mathematics Education Series D: Research in

di

Mathematics

Education,

4

(2),

63-67.

Diakses

14

Contoh LKS yang digunakan dalam penerapan model Discovery Learning dalam menemukan rumus volume kubus

Nama : Beri Nis : Hey teman-teman aku punya sebuah kotak kecil. Si Beruang yang
Nama :
Beri
Nis
:
Hey teman-teman
aku punya sebuah kotak
kecil. Si Beruang yang membuatkannya
untukku. Dia mengatakan ukurannya cukup
cocok untuk aku genggam.
Tapi aku ingin menyimpannya dalam sebuah
kotak besar dan menyusunnya dengan rapi.
Berapa banyakkah kubus yang bisa kusimpan
dalam box hingga box tersebut penuh?
15

Bantulah Masha untuk mengetahui berapa banyak kotak kecil yang bisa disusun secara rapi dalam kotak besar sehingga kotak tersebut penuh dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut !!

1. Perhatikan kotak satuan yang dipegang Masha, coba tuliskan apa yang dimaksud kotak satuan (kotak kecil) ?

2. Lengkapilah titik-titik di bawah ini !

Gambar Banyaknya Banyaknya Banyaknya Banyak kubus kubus kubus kubus satuan sisi satuan sisi satuan sisi
Gambar
Banyaknya
Banyaknya
Banyaknya
Banyak
kubus
kubus
kubus
kubus
satuan sisi
satuan sisi
satuan sisi
satuan
panjang
lebar
tinggi
yang
tersusun
2
1
……
2
….
2
8

16

…… 2 … … … 3 … … 3 … … 12 …… …… …
……
2
3
3
12
……
……
12
3
27
p
l
t
…………

17

3.

3. Banyaknya kotak Masha (kubus satuan) dalam kotak besar jika terisi penuh = …… x ……

Banyaknya kotak Masha (kubus satuan) dalam kotak besar jika terisi penuh

= …… x …… x …….

4. Jika ,

banyaknya kubus satuan pada sisi Panjang adalah P

banyaknya kubus satuan pada sisi lebar adalah l

banyaknya kubus satuan pada tinggi adalah t

banyaknya kubus satuan seluruhnya adalah V sebagai volume

Maka, V = …… x …… x …….

18

5.

Apa yang dimaksud volume?

6. Sebutkan rumus volume kubus !

Presentasikan hasil diskusi kalian di depan kelas !

19