Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
segenap kekuatan dan kesanggupan, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini.
Dalam tugas ini, penyusun menyampaikan rasa terima kasih kepada Ibu Dr. Armiati,
M.Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Matematika yang telah
memperkenankan kami menyelesaikan tugas ini tepat waktu.
Tak ada karya manusia yang benar-benar sempurna, demikian pula dengan tugas ini.
Saran dan kritik yang membangun begitu kami harapkan untuk menjadikan tugas ini tidak
hanya sekedar ide yang berujung pada sebuah gagasan tertulis, namun menjadi sebuah
kreativitas dan ungkapan nyata yang bermanfaat.

Padang, 25 November 2016

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ----------------------------------------------------------------------------------------------------- 1

DAFTAR ISI ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 2

BAB I. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 3

PENDAHULUAN ---------------------------------------------------------------------------------------------------------- 3

A. Latar Belakang ----------------------------------------------------------------------------------------------------- 3

B. Rumusan Masalah ------------------------------------------------------------------------------------------------- 4

C. Tujuan Masalah ---------------------------------------------------------------------------------------------------- 5

BAB II.------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 6

PEMBAHASAN------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 6

PEMECAHAN MASALAH ---------------------------------------------------------------------------------------------- 6

A. Definisi Masalah Matematis ------------------------------------------------------------------------------------ 6

B. Hakikat Pemecahan Masalah ----------------------------------------------------------------------------------- 7

C. Langkah-Langkah Pemecahan Masalah Matematika ----------------------------------------------------- 9

D. Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah --------------------------------------------------------------- 10

E. Mengukur Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis ----------------------------------------------- 11

F. Kemampuan Awal Matematika ------------------------------------------------------------------------------- 12

G. Pemahaman Konsep --------------------------------------------------------------------------------------------- 12

H. Pengembangan Instrumen Pemahaman Konsep----------------------------------------------------------- 15

BAB III. ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 17

PENUTUP ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 17

A. Kesimpulan -------------------------------------------------------------------------------------------------------- 17

DAFTAR PUSTAKA ----------------------------------------------------------------------------------------------------- 18

ii
BAB I.
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kemampuan pemecahan masalah matematis adalah suatu keterampilan pada diri


peserta didik agar mampu menggunakan kegiatan matematik untuk memecahkan masalah
dalam matematika, masalah dalam ilmu lain dan masalah dalam kehidupan sehari-hari
(Soedjadi, 1994:36). Kemampuan pemecahan masalah amatlah penting dalam matematika,
bukan saja bagi mereka yang di kemudian hari akan mendalami atau mempelajari
matematika, melainkan juga bagi mereka yang akan menerapkannya dalam bidang studi lain
dan dalam kehidupan sehari-hari (Russefffendi, 2006: 341).
Salah satu tujuan mata pelajaran matematika di tingkat Sekolah Menengah Pertama
(SMP) dalam Standar Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah agar peserta
didik memiliki kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami
masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang
diperoleh. Dilihat dari tujuan tersebut pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum
matematika yang cukup penting dalam proses pembelajaran matematika.
Matematika adalah pelajaran yang penting, karena matematika berkaitan erat dengan
kehidupan manusia. Niss (Hadi, 2005: 3) menyatakan salah satu alasan utama diberikannya
matematika kepada siswa-siswa di sekolah adalah untuk memberikan kepada individu
pengetahuan yang dapat membantu mereka mengatasi berbagai hal dalam kehidupan, seperti
pendidikan atau pekerjaan, kehidupan pribadi, kehidupan sosial dan kehidupan sebagai warga
negara. Namun, pentingnya pendidikan matematika tidak sejalan dengan kualitas pendidikan
terjadi di sekolah. Marpaung (2004) menyatakan kualitas pendidikan matematika Indonesia
dalam skala nasional masih kurang memuaskan. Hal ini terlihat pada rendahnya kualitas
kemampuan matematis siswa yang tercermin dari hasil survey Internasional The Trend
Internasional Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Programme for International
Student Assesment (PISA) pada tahun 2011, Indonesia hanya menduduki urutan ke-38 dengan
skor 386 dari 42 negara (Driana, 2012). Mencermati hasil tersebut, sudah sepatutnya para
pendidik memiliki kemampuan untuk memilih metode yang tepat dalam pembelajaran
matematika, sehingga siswa dapat berperan lebih aktif selama proses pembelajaran serta
dapat memahami konsep yang sedang dipelajari.

3
Kemampuan pemahaman ini merupakan hal yang sangat fundamental. Dengan
memahami konsep siswa dapat mencapai pengetahuan prosedural matematis. Menurut
Purwanto (1994: 44), pemahaman adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa
mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Kemampuan
memahami konsep juga dapat diartikan sebagai kemampuan menangkap pengertian-
pengertian seperti mampu mengungkapkan suatu materi yang disajikan dalam bentuk lain
yang dapat dipahami, mampu memberikan interpretasi, dan mampu mengklasifikasikannya.
Memahami konsep matematika menjadi syarat untuk dapat menguasai matematika.
Pada setiap pembelajaran, selalu diawali dengan pengenalan konsep agar siswa memiliki
bekal dasar yang baik untuk mencapai kemampuan dasar yang lain seperti penalaran,
komunikasi, koneksi, dan pemecahan masalah. Jika pemahaman konsepnya baik, siswa tidak
sekedar mengetahui atau mengingat sejumlah konsep yang dipelajari, tetapi mampu
mengungkapkan kembali dalam bentuk lain yang mudah dimengerti. Siswa juga dapat
memberikan interpretasi data dan mampu mengaplikasikan konsep yang sesuai dengan
struktur kognitif yang dimilikinya.
Dewasa ini banyak persoalan yang dihadapi oleh guru matematika maupun oleh siswa
dalam proses pembelajaran matematika. Masalah yang dimaksud antara lain siswa tidak
memahami konsep matematika karena materi pelajaran yang dirasakan siswa terlalu abstrak
dan kurang menarik. Hal ini sangat wajar terjadi karena metode penyampaian materi hanya
terpusat pada guru sementara siswa cenderung pasif, di sisi lain siswa juga tidak diberi
kesempatan berkreasi untuk menemukan sendiri kemampuan pemahaman konsep
matematisnya. Siswa menjadi takut untuk mengemukakan idenya dan merasa enggan untuk
mengajukan pertanyaan, meskipun guru sering meminta siswa untuk bertanya jika ada hal-hal
yang belum jelas atau kurang dimengerti.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan
masalah yang diangkat pada makalah ini adalah :
1. Apa yang dimaksud dari masalah matematis?
2. Apa yang dimaksud dari pemecahan masalah?
3. Apa saja langkah-langkah pemecahan masalah itu?
4. Bagaimana mengukur kemampuan pemecahan masalah matematis?
5. Apa yang dimaksud pemahaman konsep?

4
6. Apa saja indikator pemahaman konsep?
7. Bagaimana pengembangan instrumen pemahaman konsep?

C. Tujuan Masalah

Tujuan yang akan dicapai dari penyusunan makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah dalam matematika.


2. Untuk mengetahui langkah-langkah apa saja dalam pemecahan masalah.
3. Untuk mengetahui bagaimana cara mengukur pemecahan masalah matematis
4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud pemahaman konsep.
5. Untuk mengetahui indikator dari pemahaman konsep.
6. Untuk mengetahui bagaimana pengembangan instrumen pemahaman konsep
itu.

5
BAB II.
PEMBAHASAN

PEMECAHAN MASALAH

A. Definisi Masalah Matematis

Dalam belajar matematika pada dasarnya seseorang tidak terlepas dari masalah karena
berhasil atau tidaknya seseorang dalam matematika ditandai adanya kemampuan dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Bell (1978: 157) menyatakan bahwa pertanyaan
merupakan masalah bagi seseorang bila ia menyadari keberadaaan situasi itu, mengakui
bahwa situasi itu memerlukan tindakan dan tidak dengan segera dapat menemukan
pemecahan atau penyelesaian situasi tersebut. Menurut Dindyal (2005: 70), suatu situasi
disebut masalah jika terdapat beberapa kendala pada kemampuan pemecah masalah. Adanya
kendala tersebut menyebabkan seorang pemecah masalah tidak dapat mememecahkan suatu
masalah secara langsung.
Russeffendi (2006:326) mengemukakan bahwa sesuatu persoalan merupakan masalah
bagi seseorang, pertama bila persoalan itu tidak dikenalnya atau dengan kata lain orang
tersebut belum memiliki prosedur atau algoritma tertentu untuk menyelesaikannya. Kedua,
siswa harus mampu menyelesaikannya, baik kesiapan mental maupun kesiapan pengetahuan
untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut. Ketiga, sesuatu itu merupakan pemecahan
masalah baginya, bila ia ada niat menyelesaikannya. Seringkali dalam menghadapi masalah,
siswa tidak dapat dengan segera memperoleh pemecahannya. Tugas guru adalah membantu
siswa untuk memahami makna kata-kata atau istilah dalam masalah tersebut, memotivasi
mereka untuk senantiasa berusaha menyelesaikannya dan menggunakan pengalaman yang
ada dalam memecahkan masalah, sehingga siswa tidak mudah putus asa ketika menghadapi
suatu masalah.
Krulik dan Rudnik (dalam Dindyal, 2005: 70) menggambarkan suatu masalah sebagai
suatu situasi yang memerlukan pemecahan dan seseorang tidak memiliki alat atau alur yang
nyata untuk memperoleh pemecahan. Sejalan dengan pendapat tersebut Hudojo (1988: 172)
menyatakan bahwa di dalam matematika suatu soal atau pertanyaan akan merupakan masalah
apabila tidak terdapat aturan atau hukum tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk
menemukan jawaban tersebut.

6
Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa suatu pertanyaan
merupakan suatu masalah bagi siswa jika ia tidak dapat dengan segera menjawab pertanyaan
tersebut atau dengan kata lain siswa tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan
menggunakan prosedur rutin yang telah diketahuinya.
Sebuah pertanyaan dapat merupakan masalah bagi seseorang akan tetapi belum tentu
menjadi masalah untuk orang lain, demikian pula sebuah pertanyaan tidak selamanya menjadi
masalah bagi seseorang, artinya sebuah pertanyaan mungkin saja menjadi masalah pada
waktu tertentu, tetapi bukan masalah pada waktu yang lain. Ini menunjukkan bahwa masalah
bersifat subyektif bergantung pada waktu dan kemampuan seseorang. Sebagai contoh seorang
siswa SMP menemukan kesulitan saat ia disuruh menghitung tinggi sebuah segitiga, jika
diketahui panjang alas dan sudut alasnya. Namun setelah ia mempelajari perbandingan fungsi
trigonometri, ia dapat secara langsung menghitungnya sehingga pertanyaan tersebut bukan
lagi menjadi masalah baginya.

B. Hakikat Pemecahan Masalah

Terdapat banyak interpretasi tentang pemecahan masalah dalam matematika. Pendapat


Polya (1985) banyak dirujuk pemerhati matematika. Polya mengartikan pemecahan masalah
sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan
yang tidak begitu segera dapat dicapai. Sujono (1988) melukiskan masalah matematika
sebagai tantangan bila pemecahannya memerlukan kreativitas, pengertian dan pemikiran
yang asli atau imajinasi. Berdasarkan penjelasan tersebut, sesuatu yang merupakan masalah
bagi seseorang, mungkin tidak merupakan masalah bagi orang lain atau merupakan hal yang
rutin saja.
Ruseffendi (1991b) mengemukakan bahwa suatu soal merupakan soal pemecahan
masalah bagi seseorang bila ia memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk
menyelesaikannya, tetapi pada saat ia memperoleh soal itu ia belum tahu cara
menyelesaikannya. Dalam kesempatan lain, Ruseffendi (1991a) juga mengemukakan bahwa
suatu persoalan itu merupakan masalah bagi seseorang jika: pertama, persoalan itu tidak
dikenalnya. Kedua, siswa harus mampu menyelesaikannya, baik kesiapan mentalnya maupun
pengetahuan siapnya; terlepas daripada apakah akhirnya ia sampai atau tidak kepada
jawabannya. Ketiga, sesuatu itu merupakan pemecahan masalah baginya, bila ia ada niat
untuk menyelesaikannya.

7
Lebih spesifik, Sumarmo (1994) mengartikan pemecahan masalah sebagai kegiatan
menyelesaikan soal cerita, menyelesaikan soal yang tidak rutin, mengaplikasikan matematika
dalam kehidupan sehari-hari atau keadaan lain, dan membuktikan atau menciptakan atau
menguji konjektur. Berdasarkan pengertian yang dikemukakan Sumarmo tersebut, dalam
pemecahan masalah matematika tampak adanya kegiatan pengembangan daya matematika
(mathematical power) terhadap mahasiswa.
Pemecahan masalah merupakan salah satu tipe keterampilan intelektual yang menurut
Gagné, dkk (1992) lebih tinggi derajatnya dan lebih kompleks dari tipe keterampilan
intelektual lainnya. Gagné, dkk (1992) berpendapat bahwa dalam menyelesaikan pemecahan
masalah diperlukan aturan kompleks atau aturan tingkat tinggi dan aturan tingkat tinggi dapat
dicapai setelah menguasai aturan dan konsep terdefinisi. Demikian pula aturan dan konsep
terdefinisi dapat dikuasai jika ditunjang oleh pemahaman konsep konkrit. Setelah itu untuk
memahami konsep konkrit diperlukan keterampilan dalam memperbedakan.
Mengacu pada pendapat-pendapat di atas, pemecahan masalah dapat dilihat dari
berbagai pengertian. Upaya mencari jalan keluar yang dilakukan dalam mencapai tujuan
pemecahan masalah. Juga memerlukan kesiapan, kreativitas, pengetahuan dan kemampuan
serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu pemecahan masalah
merupakan persoalan-persoalan yang belum dikenal; serta mengandung pengertian sebagai
proses berpikir tinggi dan penting dalam pembelajaran matematika.
Pemecahan masalah merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh
mahasiswa. Bahkan tercermin dalam konsep kurikulum berbasis kompetensi. Tuntutan akan
kemampuan pemecahan masalah dipertegas secara eksplisit dalam kurikulum tersebut
yaitu, sebagai kompetensi dasar yang harus dikembangkan dan diintegrasikan pada sejumlah
materi yang sesuai.
Pentingnya kemampuan penyelesaian masalah oleh mahasiswa dalam matematika
ditegaskan juga oleh Branca (1980) berikut ini.
1. Kemampuan menyelesaikan masalah merupakan tujuan umum pengajaran
matematika.
2. Penyelesaian masalah yang meliputi metode, prosedur dan strategi merupakan
proses inti dan utama dalam kurikulum matematika .
3. Penyelesaian masalah merupakan kemampuan dasar dalam belajar
matematika.
Pandangan bahwa kemampuan menyelesaikan masalah merupakan tujuan umum
pengajaran matematika, mengandung pengertian bahwa matematika dapat membantu dalam

8
memecahkan persoalan baik dalam pelajaran lain maupun dalam kehidupan sehari-hari. Oleh
karenanya, kemampuan pemecahan masalah ini menjadi tujuan umum pembelajaran
matematika.
Walaupun kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan yang tidak mudah
dicapai, akan tetapi oleh karena kepentingan dan kegunaannya maka kemampuan pemecahan
masalah ini hendaknya diajarkan kepada mahasiswa pada semua tingkatan. Berkaitan dengan
hal ini, Ruseffendi (1991b) mengemukakan beberapa alasan soal-soal tipe pemecahan
masalah diberikan kepada mahasiswa adalah sebagai berikut:
1. dapat menimbulkan keingintahuan dan adanya motivasi, menumbuhkan sifat
kreatif;
2. di samping memiliki pengetahuan dan keterampilan (berhitung dan lain-lain),
disyaratkan adanya kemampuan untuk terampil membaca dan membuat
pernyataan yang benar;
3. dapat menimbulkan jawaban yang asli, baru, khas, dan beraneka ragam, serta
dapat menambah pengetahuan baru;
4. dapat meningkatkan aplikasi dari ilmu pengetahuan yang sudah diperolehnya;
5. mengajak peserta didik memiliki prosedur pemecahan masalah, mampu
membuat analisis dan sintesis, dan dituntut untuk membuat evaluasi terhadap
hasil pemecahannya;
6. merupakan kegiatan yang penting bagi peserta didik yang melibatkan bukan
saja satu bidang studi tetapi mungkin bidang atau pelajaran lain.

C. Langkah-Langkah Pemecahan Masalah Matematika

Cara memecahkan masalah dikemukakan oleh beberapa ahli, di antaranya Dewey dan
Polya. Dewey (dalam Rothstein dan Pamela, 1990) memberikan lima langkah utama dalam
memecahkan masalah (1) mengenali/ menyajikan masalah: tidak diperlukan strategi
pemecahan masalah jika bukan merupakan masalah; (2) mendefinisikan masalah: strategi
pemecahan masalah menekankan pentingnya definisi masalah guna menentukan banyaknya
kemungkinan penyelesaian; (3) mengembangkan beberapa hipotesis: hipotesis adalah
alternatif penyelesaian dari pemecahan masalah; (4) menguji beberapa hipotesis:
mengevaluasi kelemahan dan kelebihan hipotesis; (5) memilih hipotesis yang terbaik.
Sebagaimana Dewey, Polya (1985) pun menguraikan proses yang dapat dilakukan pada
setiap langkah pemecahan masalah. Proses tersebut terangkum dalam empat langkah

9
berikut: (1) memahami masalah (understanding the problem), (2) merencanakan
penyelesaian (devising a plan), (3) melaksanakan rencana (carrying out the plan), (4)
memeriksa proses dan hasil (looking back).
Pada langkah merencanakan penyelesaian, diajukan pertanyaan di antaranya seperti:
Pernah adakah soal seperti ini yang serupa sebelumnya diselesaikan? Dapatkah pengalaman
yang lama digunakan dalam masalah yang sekarang?
Pada langkah melaksanakan rencana diajukan pertanyaan. “Periksalah bahwa tiap
langkah sudah benar. Bagaimana membuktikan bahwa langkah yang dipilih sudah benar?”
Dalam langkah memeriksa hasil dan proses, diajukan pertanyaan. “Dapatkah diperiksa
sanggahannya? Dapatkah jawaban itu dicari dengan cara lain?”
Langkah-langkah penuntun yang dikemukakan Polya tersebut, dikenal dengan strategi
heuristik. Strategi yang dikemukakan Polya ini banyak dijadikan acuan oleh banyak orang
dalam penyelesaian masalah matematika. Berangkat dari pemikiran yang dikemukakan oleh
ahli tersebut, maka untuk menyelesaikan masalah diperlukan kemampuan pemahaman
konsep sebagai prasyarat dan kemampuan melakukan hubungan antar konsep, dan kesiapan
secara mental. Pada sisi lain, berdasarkan pengamatan Soleh (1998), salah satu sebab peserta
didik tidak berhasil dalam belajar matematika selama ini adalah peserta didik belum sampai
pada pemahaman relasi (relation understanding), yang dapat menjelaskan hubungan antar
konsep. Hal itu memberikan gambaran kepada kita adanya tantangan yang tidak kecil dalam
mengajarkan pemecahan masalah matematika.

D. Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah

Beberapa indikator kemampuan pemecahan masalah matematika menurut NCTM


(1989: 209) adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, yang ditanyakan, dan kecukupan
unsur yang diperlukan;
2. Merumuskan masalah matematik atau menyusun model matematik;
3. Menerapkan strategi untuk menyelesaikan berbagai masalah (sejenis dan
masalah baru) dalam atau di luar matematika;
4. Menjelaskan atau menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan asal;
5. Menggunakan matematika secara bermakna.
Menurut Sumarmo (dalam Isrok’atun, 2006) menyatakan bahwa indikator kemampuan
pemecahan masalah adalah sebagai berikut :

10
1. Mengidentifikasikan kecukupan data untuk pemecahan masalah;
2. Membuat model matematik dari suatu situasi atau masalah sehari-hari dan
menyelesaikannya;
3. Memilih dan menerapkan strategi untuk menyelesaikan masalah matematika
atau di luar matematika;
4. Menjelaskan atau menginterpretasi hasil sesuai permasalahan asal serta
memeriksa kebenaran hasill atau jawaban;
5. Menerapkan matematika secara bermakna.

E. Mengukur Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis

Tes kemampuan pemecahan masalah matematis menuntut siswa untuk memahami


masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan penyelesaian dan mengecek
kembali yang meliputi pembuktian jawaban itu benar dan menyimpulkan hasil jawaban.
Penilaian untuk setiap butir soal tes pemecahan masalah mengacu pada indikator. Penilaian
untuk setiap butir soal tes kemampuan pemecahan masalah matematis mengacu pada
penilaian atau penskoran holistik yaitu sebagai berikut ini.

Tabel. Rubrik Penskoran Kemampuan Pemecahan Masalah


Menerapkan strategi
Mengidentifikasi unsur Menjelaskan dan
No untuk menyelesaikan
unsur yang diketahui menginterpretasikan hasil
masalah

0 Tidak ada identifikasi Tidak ada strategi Tidak ada penjelasan dan
unsur penyelesaian masalah interpretasi.
1 Identifikasi unsur ada Strategi penyelesaian Penjelasan dan interpretasi
namun salah masalah ada namun salah ada namun salah
2 Identifikasi unsur kurang Strategi penyelesaian Penjelasan dan interpretasi
lengkap masalah kurang lengkap ada namun salah kurang
lengkap
3 Identifikasi unsur benar Strategi penyelesaian Penjelasan dan interpretasi
kurang lengkap masalah benar namun kurang lengkap
kurang lengkap
4 Identifikasi unsur lengkap Strategi penyelesaian Penjelasan dan interpreatsi
dan benar masalah lengkap dan benar. lengkap dan benar

11
Skor Maksimal Skor Maksimal Skor Maksimal

4 4 4

Sumber: Modifikasi dari Fauzan (2011)

PEMAHAMAN KONSEP

F. Kemampuan Awal Matematika

Kemampuan awal matematika merupakan kemampuan yang dapat menjadi dasar untuk
menerima pengetahuan baru. Kemampuan awal matematika merupakan pondasi dan dasar
pijakan untuk pembentukan konsep baru dalam pembelajaran. Suatu proses pembelajaran
dapat dikatakan bermakna jika seorang mahasiswa telah dapat mengaitkan konsep-konsep
yang ada dalam benaknya dengan baik. Dari proses pertalian itu, ditemukanlah suatu
pengetahuan baru yang dapat digunakan dalam kehidupannya.

Ausubel (dalam Depdiknas: 2006) menyatakan bahwa pengetahuan yang sudah dimiliki
mahasiswa akan sangat menentukan bermakna tidaknya suatu proses pembelajaran. Itulah
sebabnya para dosen harus mengecek, memperbaiki dan menyempurnakan pengetahuan para
mahasiswa sebelum membahas materi baru.
Dari keterangan tersebut, dapat diketahui bahwa kemampuan awal matematika
merupakan salah satu faktor yang menentukan sukses atau gagalnya siswa belajar.
Pemahaman materi yang menjadi dasar kemampuan awal dalam pemahaman konsep pada
materi berikutnya yang berhubungan. Siswa diarahkan belajar melalui suatu proses yang
berangsur-angsur secara bertahap dari konsep yang sederhana hingga ke pengertian yang
lebih kompleks. Sampai akhirnya siswa tersebut mengerti, memahami, menguasai dan
mampu mengaplikasikannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.

G. Pemahaman Konsep

Paham berarti mampu menjelaskan sesuatu yang dipahami meskipun itu disajikan
dalam bentuk yang berbeda. Purwanto (1994: 44) menyatakan bahwa pemahaman adalah
tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami arti atau konsep, situasi
serta fakta yang diketahuinya. Sedangkan Ernawati (2003: 8) mengemukakan bahwa yang
dimaksud dengan pemahaman adalah kemampuan menangkap pengertian-pengertian seperti
mampu mengungkapkan suatu materi yang disajikan dalam bentuk lain yang dapat dipahami,

12
mampu memberikan interpretasi dan mampu mengklasifikasikannya sehingga dapat diambil
kesimpulan bahwa pemahaman adalah kemampuan memahami suatu pola serta
mengintepretasikannya dan menggunakannya dalam bentuk lain.

Pengertian konsep menurut Ruseffendi (1998: 157) adalah suatu ide abstrak yang
memungkinkan kita untuk mengklasifikasikan atau mengelompokkan objek atau kejadian itu
merupakan contoh dan bukan contoh dari ide tersebut. Menurut Gagne dalam Suherman, dkk.
(2003: 33), dalam belajar matematika ada dua objek yang dapat diperoleh siswa, yaitu objek
langsung dan objek tak langsung. Objek tak langsung yaitu kemampuan menyelidiki,
memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap matematika, dan mengetahui
bagaimana semestinya belajar. Sedangkan objek langsung berupa fakta, keterampilan, konsep
dan aturan. Jadi, berdasarkan uraian di atas, konsep merupakan ide atau gagasan yang
diperoleh oleh siswa.
Konsep matematika menurut Bell (1978: 108) dapat diartikan sebagai suatu ide abstrak
tentang suatu objek atau kejadian yang dibentuk dengan memandang sifat- 16 sifat yang sama
dari sekumpulan objek, sehingga seseorang dapat mengelompokkan atau mengklasifikasikan
objek atau kejadian sekaligus menerangkan apakah objek tersebut merupakan contoh atau
bukan contoh dari pengertian tersebut. Sebuah konsep matematika dapat dipelajari melalui
mendengarkan, melihat, menangani, dan berdiskusi.
Memahami suatu konsep pembelajaran akan memudahkan siswa untuk menyelesaikan
masalah meskipun bentuk masalah diubah. Hal ini sejalan dengan Hamalik (2002: 164) yang
menjelaskan bahwa konsep dapat berguna dalam suatu pembelajaran, yaitu untuk mengurangi
kerumitan, membantu siswa mengidentifikasi obyek-obyek yang ada, membantu mempelajari
sesuatu yang lebih luas dan lebih maju, dan mengarahkan siswa kepada kegiatan
instrumental.
Pembelajaran dengan pemahaman konsep sering menjadi bahan kajian yang sangat luas
dan mendalam dalam penelitian pendidikan. Dahar (1988:95) menyatakan bahwa belajar
konsep merupakan hasil utama pendidikan. Kemampuan memahami konsep menjadi
landasan untuk berpikir dan menyelesaikan masalah atau persoalan. Konsep-konsep itu akan
melahirkan teorema atau rumus. Agar konsep-konsep atau teorema-teorema dapat
diaplikasikan ke situasi yang lain, perlu adanya keterampilan menggunakan konsep-konsep
atau teorema-teorema tersebut.

13
Jadi, dapat kita simpulkan bahwa pemahaman konsep adalah kemampuan menafsirkan
konsep-konsep, memperkirakan, mengerti dan memahami sesuatu setelah sesuatu itu
dipelajari serta mampu menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari itu.
Langkah-langkah dalam menanamkan suatu konsep berdasarkan penggabungan
beberapa teori belajar Bruner menurut Hudoyo (2003:123) antara lain teori konstruksi, teori
notasi, teori kekontrasan dan variasi serta teori konektivitas adalah sebagai berikut ini :
1. Pengajar memberikan pengalaman belajar berupa contoh-contoh yang
berhubungan dengan suatu konsep matematika dari berbagai bentuk yang
sesuai dengan struktur kognitif peserta didik.
2. Peserta didik diberikan dua atau tiga contoh lagi dengan bentuk pertanyaan.
3. Peserta didik diminta memberikan contoh-contoh sendiri tentang suatu konsep
sehingga dapat diketahui apakah peserta didik sudah mengetahui dan
memahami konsep tersebut.
4. Peserta didik mencoba mendefinisikan konsep tersebut dengan bahasanya
sendiri.
5. Peserta didik diberikan lagi contoh mengenai konsep dan bukan konsep.
6. Peserta didik diberikan drill untuk memperkuat konsep tersebut.
Konsep-konsep merupakan pilar-pilar pembangun untuk berpikir yang lebih tinggi.
Dengan mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam bahan yang sedang dibicarakan,
mahasiswa akan memahami materi yang harus dikuasainya itu, ini menunjukkan bahwa
materi yang mempunyai pola atau struktur tertentu akan lebih mudah dipahami dan
diingatnya (Erman dkk., 2003:43).
Menurut Depdiknas (Fadjar, 2009:13), indikator kemampuan pemahaman konsep
sebagai berikut:
1. Menyatakan ulang sebuah konsep;
2. Mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan
konsepnya);
3. Memberi contoh dan non contoh dari konsep;
4. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis;
5. Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari konsep;
6. Menggunakan prosedur atau operasi tertentu;
7. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah.

14
H. Pengembangan Instrumen Pemahaman Konsep

Instrumen soal-soal tes pemahaman konsep ditulis berdasarkan kisi-kisi butir soal yang
telah disusun terlebih dahulu dengan indikator, kompetensi dasar, dan materi. Untuk
mendapatkan instrumen tes yang benar–benar valid atau dapat diandalkan dalam
mengungkapkan data penelitian, maka instrumen tes tersebut disusun dengan langkah–
langkah sebagi berikut ini :

1. Membuat kisi–kisi soal yang di dalamnya menguraikan indikator pemahaman


konsep matematis.
2. Berdasarkan kisi–kisi tersebut selanjutnya adalah menyusun butir-butir soal.
3. Setelah butir–butir soal dibuat, kemudian dilakukan validasi oleh pakar
(expert) dengan maksud untuk mengetahui tingkat kebaikan isi, konstruk, dan
redaksi sesuai dengan aspek yang diungkap.
4. Melakukan uji coba pada responden untuk mengetahui keberadaan instrumen
secara empirik, yaitu untuk mengetahui validitas butir, indeks kesukaran, daya
pembeda soal dan reliabilitas soal tersebut.
Kriteria penilaian untuk setiap butir soal tes pemahaman konsep mengacu pada
indikator. Kriteria penilaian untuk setiap butir soal tes pemahaman konsep menggunkan
rubrik holistik. Menurut Fauzan (2011) rubrik holistik adalah pedoman untuk menilai
berdasarkan kesan keseluruhan atau kombinasi semua kriteria.

Tabel. Rubrik Penskoran Pemahaman Konsep

Menyajikan Mengaplikasikan
Mengklasifikasikan Menggunakan
konsep ke bentuk konsep atau
No obyek menurut prosedur atau
representasi algoritma pemecahan
sifat-sifat tertentu operasi tertentu
matematis masalah

0 Tidak ada Tidak ada Tidak ada prosedur Tidak ada algoritma
pengklasifikasian penyajian konsep operasi pemecahan masalah
obyek
1 Ada Penyajian konsep Prosedur operasi Algoritma pemecahan
pengklasifikasian ada namun salah namun salah masalah ada namun
obyek namun salah salah
2 Pengklasifikasian Penyajian konsep Prosedur operasi Algoritma pemecahan
obyek kurang kurang lengkap kurang lengkap masalah kurang
lengkap lengkap

15
3 Pengklasifikasian Penyajian konsep Prosedur operasi
Algoritma pemecahan
obyek benar kurang benar namun benar namun masalah benar kurang
lengkap kurang lengkap kurang lengkap lengkap
4 Pengklasifikasian Penyajian konsep Prosedur operasi
Algoritma pemecahan
obyek lengkap dan lengkap dan benar. lengkap dan benar
masalah lengkap dan
benar benar.
Skor Maksimal Skor Maksimal Skor Maksimal Skor Maksimal

4 4 4 4

Sumber: Modifikasi dari Fauzan (2011)

16
BAB III.
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kemampuan pemecahan masalah diperlukan untuk melatih siswa agar terbiasa


menghadapi berbagai permasalahan dalam kehidupannya yang semakin kompleks, bukan
hanya pada masalah matematika itu sendiri tetapi juga masalah-masalah dalam bidang studi
lain dan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kemampuan seseorang untuk
memecahkan masalah perlu terus dilatih sehingga seseorang itu mampu menyelesaikan
berbagai permasalahan yang dihadapinya.

17
DAFTAR PUSTAKA

Branca, N.A. 1980. Problem Solving as A Goal, Proccess and Basic Skill. Dalam Krulik &
RE. Reys (ed). Problem Solving in School Mathematic. Virginia: NCTM Inc.
Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Jakarta: Depdiknas.
Fauzan, Ahmad. 2011. Modul 1 Evaluasi Pembelajaran Matematika: Pemecahan Masalah
Matematika. Evaluasimatematika.net: UNP.
Gagne, R.M. 1992. The Condition of Learning and Theory of Instruction. New York:
Rinehart and Winston.
Isrok’atun. 2006. Pembelajaran Matematika dengan Strategi Kooperatif Tipe STAD Siswa
SMP Negeri di Bandung melalui Pendekatan Pengajuan Masalah. Bandung: Tesis
SPs UPI. Tidak diterbitkan.
NCTM. 1989. Curriculum and Evaluation Standars for School Mathematics. Reston, VA:
NCTM.
Polya, G. 1985. How to Solve it: A New Aspect of Mathematic Method (2nd ed. ). Princenton,
New Jersey: Princenton University Press.
Rothstein & Pamela. 1990. Educational Psychology. New York: Mc. Graw Hill Inc.
Ruseffendi, ET. 1991a. Pengantar Matematika Modern dan Masa Kini untuk Guru dan
PGSD D2 Seri Kedua. Bandung: Tarsito.
Ruseffendi, ET. 1991b. Pengantar Matematika Modern dan Masa Kini untuk Guru dan
PGSD D2 Seri Kelima. Bandung: Tarsito.
Soleh, Muhammad. 1998. Pokok-Pokok Pengajaran Matematika di Sekolah. Jakarta: Pusat
Perbukuan, Depdikbud.
Sujono (1988). Pengajaran Matematika untuk Sekolah Menengah. Jakarta: Proyek
Pengembangan LPTK, Depdikbud
Sumarmo, U, Dedy, E dan Rahmat (1994). Suatu Alternatif Pengajaran untuk Meningkatkan
Pemecahan Masalah Matematika pada Guru dan Siswa SMA. Laporan Hasil
Penelitian FPMIPA IKIP Bandung

18
19