Anda di halaman 1dari 11

[Type the abstract of the document here.

The abstract is typically a short summary of the contents of


the document. Type the abstract of the document here. The abstract is typically a short summary of the
contents of the document.]
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………………..1

BAB1 PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG ………………………………………………………………………………… 2

BAB 2 ISI

SEJARAH (DEFINISI) …………………………………………………………………………….. 4

TATA BANGUNAN ……………………………………………………….……………………… 4

KOMPLEKS PERCANDIAN UTAMA …………………………………..…………………… 5

CANDI INDUK …………………………………………………………………..…………………. 5

BAB 3 PENUTUP

KESIMPULAN …………………………………………………………………….………………. 9

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………. 10

1
BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Gejala Pariwisata telah ada semenjak adanya perjalanan manusia dari suatu

tempat ke tempat yang lain. Selain itu tinggal secara tidak menetap. Semenjak itu

pula ada kebutuhan-kebutuhan manusia yang harus dipenuhi selama perjalanan.

Dengan meningkatnya peradapan manusia, dorongan untuk melakukan perjalanan

semakin kuat, kebutuhan yang harus dipenuhi semakin komplek dan pada saat ini

melakukan perjalanan wisata telah merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi.

Manfaat dan peranan pariwisata bagi suatu wilayah, Negara maupun internasional

telah banyak diakui, sehingga pariwisata telah menjadi salah satu bidang yang sangat

penting disamping bidang-bidang lainnya, seperti bidang pertanian, pertambangan,

industri, politik dan sosial budaya (Nyoman S Pendit, 1994:20).

Bagi Indonesia, pariwisata merupakan peluang yag tidak dapat dilepaskan

begitu saja untuk dikembangkan menjadi sebuah industri. Alasan utamanya karena

Indonesia memiliki sumber daya dan modal yang cukup besar di dalam membangun

dan mengembangkan industri kepariwisataan. Sumber daya dan modal

kepariwisataan adalah berupa keadaan flora, fauna, peninggalan sejarah serta seni dan

budaya yang terdapat di seluruh Indonesia. Sistem kekeluargaan, cara berpakaian,

bahasa, seni dan kerajinan yang beraneka ragam dari berbagai suku dan daerah

merupakan kekayaan dan jati diri bangsa yang membedakan dari bangsa lain di dunia,

sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Alasan lainnya karena

pariwisata dapat memberikan sumbangan devisa bagi Negara. Selain itu masih ada

beberapa alasan lain seperti penyediaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha

2
sehingga pariwisata menjadi sebuah industri yang sangat menguntungkan dan

mempunyai proyek yang sangat cerah bagi pembangunan nasional di Indonesia

(Damaryati, 1995:20).

Pemerintah telah mengeluarkan sejumlah paket wisata untuk mendukung

tumbuh kembangnya kegiatan pariwisata. Kegiatan itu meliputi promosi, kawasan

wisata, produk wisata dan sumber daya manusia. Semua itu berkat kerja keras

pemerintah maupun dukungan masyarakat, walaupun di Indonesia sudah banyak

objek wisata yang belum dikenal dan diketahui oleh wisatawan, objek itu mempunyai

potensi yang bagus di masa mendatang.

Kebudayaan sebagai hasil cipta manusia dapat bersifat material, seperti,

rumah, kendaraan, alat-alat kesenian dan sebagainya atau dapat pula bersifat

inmaterial yang mencakup kepercayaan, norma-norma, dalil-dalil yang mengatur

perilaku manusia (Koentjaraningrat, 1983:34).

3
BAB 2 ISI

SEJARAH (DEFINISI)

Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten
Sleman, Yogyakarta. Candi ini berada lereng barat sebuah bukit yang masih merupakan bagian
perbukitan Batur Agung, kira-kira sekitar 4 kilometer arah tenggara Candi Ratu Boko. Dimana
pada bagian bawah lereng tersebut terdapat wisata tebing Breksi Jogja yang merupakan bekas
pertambangan batu alam. Posisinya berada pada lereng bukit dengan ketinggian rata-rata 425
meter di atas permukaan laut[2]. Candi ini dinamakan "Ijo" karena berada di atas bukit yang
disebut Gumuk Ijo. Kompleks percandian membuka ke arah barat dengan panorama indah,
berupa persawahan dan bentang alam, seperti Bandara Adisucipto dan pantai Parangtritis.

Dataran tempat kompleks utama candi memiliki luas sekitar 0,8 hektare, namun kuat
dugaan bahwa kompleks percandian Ijo jauh lebih luas, dan menjorok ke barat dan utara. Dugaan
itu didasarkan pada kenyataan bahwa ketika lereng bukit Candi Ijo di sebelah timur dan sebelah
utara ditambang oleh penduduk, banyak ditemukan artefak yang mempunyai kaitan dengan
candi.

Tata bangunan

Kompleks percandian Ijo dibangun pada punggungan bukit yang disebut Gumuk/Bukit Ijo.
Nama ini telah disebut dalam prasasti Poh berangka tahun 906 Masehi berbahasa Jawa Kuno,
dalam penggalan " ... anak wanua i wuang hijo ..." (anak desa, orang Ijo)[2]. Secara keseluruhan,
kompleks candi merupakan teras-teras berundak, dengan bagian terbawah di sisi barat dan
bagian tertinggi berada pada sisi timur, mengikuti kontur bukit. Kompleks percandian utama
berada pada ujung timur. Di bagian barat terdapat reruntuhan bangunan candi yang masih dalam
proses ekskavasi dan belum dipugar[1]. Setelah disela oleh kebun kecil, terdapat teras yang lebih
tinggi dengan cukup banyak reruntuhan yang diperkirakan berasal dari sekumpulan candi-candi
pemujaan kecil (candi perwara). Salah satu candi ini telah dipugar pada tahun 2013.

4
Kompleks percandian utama

Kompleks percandian utama terletak di bagian timur menempati teras tertinggi. Di bagian
ini ada candi induk (satu telah dipugar), candi pengapit, dan candi perwara. Candi induk yang
sudah selesai dipugar menghadap ke barat. Di hadapannya berjajar tiga candi yang lebih yang
lebih kecil ukurannya yang diduga dibangun untuk memuja Trimurti: Brahma, Wisnu, dan
Syiwa. Ketiga candi perwara ini menghadap ke arah candi utama, yaitu menghadap ke timur.
Tiga candi kecil ini memiliki ruangan di dalamnya dan terdapat jendela kerawangan berbentuk
belah ketupat di dindingnya. Atap candi perwara ini terdiri atas tiga tingkatan yang dimahkotai
barisan ratna. Candi perwara yang berada di tengah melindungi arca lembu Nandini, kendaraan
Dewa Syiwa.

Candi induk

Bangunan candi induk berdiri di atas kaki candi yang berdenah dasar persegi empat. Pintu
masuk ke ruang dalam tubuh candi terletak di pertengahan dinding sisi barat, diapit dua buah
jendela palsu, yakni relung gawang jendela tetapi tidak tembus berlubang pada ruangan di dalam.
Pada dinding sisi utara, timur, dan selatan masing-masing terdapat tiga relung yang dihiasi
ukiran kala makara. Relung yang tengah lebih tinggi dari dua relung yang mengapitnya. Relung-
relung ini kini kosong, diduga mungkin dulu pada relung-relung ini pernah terpasang arca.

Untuk mencapai pintu yang terletak sekitar 120 cm dari permukaan tanah dibuat tangga yang
dilengkapi dengan pipi tangga berbentuk sepasang makara, makhluk mitos berbentuk bertubuh
ikan dan berbelalai seperti gajah. Kepala makara menjulur ke bawah dengan mulut menganga. Di
atas ambang pintu terdapat hiasan kepala Kala bersusun. Pada bagian pintu masuk terdapat
ukiran kala makara, berupa mulut raksasa kala yang tersambung makara. Pola kala-makara ini
lazim ditemukan dalam ragam hias candi-candi Jawa Tengah. Sebagaimana yang terdapat di
candi-candi lain di Jawa Tengah dan Yogyakarta, kedua kepala Kala tersebut tidak dilengkapi
dengan rahang bawah. Di atas ambang kedua jendela palsu juga dihiasi dengan pahatan kepala
Kala bersusun.

Di dalam mulut masing-masing makara terdapat relief burung bayan kecil. Jendela-jendela palsu
ada bagian luar dinding utara, timur dan selatan, yaitu tiga buah pada masing-masing sisi.
Ambang jendela juga dibingkai dengan hiasan sepasang makara dan kepala kala seperti yang
terdapat di jendela palsu yang mengapit pintu.

Dalam tubuh candi induk ini terdapat sebuah ruangan. Di tengah dinding bagian dalam sisi utara,
timur dan selatan masing-masing terdapat sebuah relung. Setiap relung diapit oleh pahatan pada
dinding yang menggambarkan sepasang apsara yang terkesan terbang menuju ke arah relung.
Tepat di tengah ruangan terdapat lingga dan yoni yang disangga oleh figur ular sendok.

5
Makhluk yang berasal dari mitos Hindu ini melambangkan penyangga bumi. Penyatuan lingga
dan yoni melambangkan kesatuan antara Syiwa dan Parwati shaktinya.

Atap candi bertingkat-tingkat tiga undakan, terbentuk dari susunan segi empat yang makin ke
atas makin mengecil. Di setiap sisi terdapat deretan tiga ratna di masing-masing tingkat. Sebuah
ratna berukuran lebih besar terdapat di puncak atap. Sepanjang batas antara atap dan dinding
tubuh candi dihiasi dengan deretan pahatan dengan pola berselang-seling antara sulur-suluran
dan gana (makhluk kerdil). Sepanjang tepi atap dihiasi dengan deretan antefiks dengan bingkai
sulur-suluran. Dalam masing-masing bingkai terdapat arca setengah badan yang menggambarkan
dewa dalam berbagai posisi tangan.

Candi Hindu ini berada pada ketinggian 410 mdpl, sekaligus menjadikannya sebagai candi
tertinggi di Yogyakarta. Berdiri di kompleks seluas 0,8 hektare, Candi Ijo terdiri dari 17 struktur
bangunan yang terbagi menjadi 11 teras berundak.

© Disediakan oleh Kumparan Panorama di Candi Ijo

Teras pertama merupakan teras berundak yang membujur dari barat ke timur. Sementara teras
teratas berupa pagar keliling, dengan delapan buah lingga patok, serta empat bangunan candi
yang terdiri dari tiga candi perwara.

6
Pada candi utama terdapat sebuah bilik yang di dalamnya ada Lingga Yoni, yang merupakan
lambang Dewa Siwa dan bersatu dengan Dewi Parwati. Sedangkan di dalam tiga candi perwara
Lainnya pengunjung bisa melihat arca candi yang kabarnya merupakan kendaraan Dewa Siwa
dan meja batu atau padmasana.

© Disediakan oleh Kumparan Langit Senja di Candi Ijo

Sementara itu, bagian atap candi dibuat bertingkat-tingkat, terbentuk dari susunan segi empat
yang makin ke atas, semakin mengecil.

Jika menengok pada bagian barat kompleks, tepatnya di kaki bukit, ada reruntuhan sejumlah
candi yang masih dalam proses penggalian dan pemugaran.

7
© Disediakan oleh Kumparan Candi Ijo di Sleman, Yogyakarta

Selain memiliki nilai sejarah, pengunjung yang datang akan dimanjakan dengan suguhan
pemandangan yang menakjubkan. Wisatawan akan disapa dengan hamparan persawahan,
Gunung Merapi, dan langit yang dihiasi pesawat take-off dari Bandara Adi Sucipto.

Candi Ijo juga menjadi salah satu tempat favorit untuk menikmati sunset atau sunsrise. Lanskap
kota Yogyakarta dengan langit jingga akan membuat decak kagum para pengunjung.

8
BAB 3 PENUTUP

Kesimpulan
Candi Ijo adalah kompleks percandian yangb berteras-teras dan semamkin me ninggi pada sisi
timar dengan bagian pusat candi. Pola candi semacam ini berbeda dengan pola–pola candi yang
ada di dataran prambanan. Kebanyakan kompleks percandian memusat ke tengah misalnya
candi Prambanan atau juga candi Sewu. Hal ini didasri oleh konsep penataan ruang yang
bersifat kosmis dengan pusat berupa puncak gunung maru sebagai tempat tinggal para Dewa.

Candi ini merupakan kompleks 17 buah bangunan yang berada pada sebelas teras berundak.
Pada bagian pintu masuk terdapat ukiran kala makara, berupa mulut raksasa (kala) yang
berbadan naga (makara), seperti yang nampak pada pintu masuk Candi Borobudur. Dalam
kompleks candi ini terdapat tiga candi perwara yang menunjukkan penghormatan masyarakat
Hindu kepada Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Syiwa.

9
DAFTAR PUSTAKA

https://www.msn.com/id-id/travel/ideperjalanan/berkenalan-dengan-candi-ijo-candi-
tertinggi-di-yogyakarta/ar-

https://wisatasejarah.wordpress.com/2010/07/14/sejarah-candi-ijo/

http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-yogyakarta-candi_ijo

10