Anda di halaman 1dari 4

A.

Peraturan yang Berlaku pada Lokasi


Lokasi tapak berada pada kawasan eks Galian C Kabupaten Klungkung.
Adapun peraturan atau regulasi yang dijadikan dalam perancangan Pusat
Kebudayaan adalah:
1. Peraturan Bupati Kabupaten Klungkung Nomor 2 Tahun 2011 membahas
tentang Rencanan Rinci Tata Ruang Wilayah Strategis Eks Pertambangan
Bahan Galian Golongan C yang berpengaruh pada
2. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 5 Tahun 2005 membahas tentang
Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung yang berpengaruh pada
arsitektur bangunan gedung harus dapat menampilkan gaya arsitektur
tradisional Bali yang selaras dengan lingkungan setempat.
3. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009 membahas tentang
Rencanan Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali, dengan syarat-syarat sebagai
berikut:
 Pembatasan koefisien dasar bangunan setinggi-tingginya 40%
 Pembatasan ketinggian bangunan, setinggi-tingginya 8 meter
dan/atau bangunan berlantai dua.
4. Peraturan Daerah Kabupaten Klungkung Nomor 1 Tahun 2013 membahas
tentang Rencanan Tata Ruang Wilayah Kabupaten Klungkung Tahun
2013-2033, dengan syarat-syarat sebagai berikut:
a. Penetapan sempadan pantai minimal sejauh 100 meter dari titik
pasang air laut tertinggi
b. Fungsi bangunan yang diperbolehkan disepanjang kawasan pantai
adalah yang tidak menimbulkan dapak negatif seperti objek wisata,
rekreasi, olahraga dsb.
c. Penetapan sempadan sungai minimal 3 meter untuk sungai
bertanggul.
d. Persyaratan minimal untuk kawasan sempadan sungai yaitu
penyediaan telajakan minimal 10%, penyediaan ruang terbuka
publik minimal 3 meter, dan penataan atau normalisasi alur sungai
dan penguatan tebing dalam upaya mengantisipasi bencana.
e. Ruang terbuka hijau minimal 50%
f. Pengembangan kawasan pariwisata harus tetap memperhatikan
kelestarian fungsi lindung, ekosistem kawasan pesisir dan
peruntukan pertanian serta dapat saling menunjang dengan
permukiman penduduk.
g. penyediaan prasarana dan sarana paling rendah meliputi:
 fasilitas dan infrastruktur pendukung kegiatan pariwisata;
 akomodasi wisata intensif di KEP;
 tempat parkir untuk fasilitas penunjang pariwisata,
perdagangan dan jasa, dan fasilitas umum lainnya; dan
 prasarana dan sarana pejalan kaki, angkutan umum,
kegiatan sektor informal, dan ruang dan jalur evakuasi
bencana.

B. Kriteria Desain Tapak

Aspek Kriteria
Entrance  Jalan akses utama yaitu pada jalan Bypass Ida Bagus Mantra yang terletak
/Akses dan dibagian Utara tapak.
Sirkulasi  Entrance mudah dikenali sebagai titik awal penjelajahan kawasan Pusat
Kebudayaan
 Entrance bagi pengunjung dan pengelola dapat dibedakan sehingga tidak
terdapat sirkulasi yang membingungkan bagi wisatawan
 Entrance pengunjung menjadi suatu yang menarik dengan dekorasi dan
tampilan yang eyecatching akan tetapi tidak menganggu sirkulasi
 Entrance pengelola dan servis terletak sedikit tersembunyi namun tetap mudah
untuk diakses.
 Penggunaan signage yang menarik untuk menarik perhatian wisatawan
 Peletakkan entrance bagi pengunjung dapat diletakkan pada sisi tapak sebelah
timur laut yang dilalui oleh wisatawan
 Entrance akan dilengkapi rambu, signage yang menarik dan lampu sebagai
penunjuk jalan dan agar mudah dikenali.
BUA  Sisa dari luas tapak akan dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau, area
taman serta jalan untuk sirkulasi dalam rancangan.
 BUA tidak dipenuhi namun memungkinkan untuk adanya
pengembangan fungsi bangunan
 Tersedianya tata hijau yang bebas dari bangunan, area tersebut cukup
dan layak sesuai peraturan daerah setempat dan dikelola dengan konsep
penataan lansekap yang berbasis waterfront.
Pematangan  Mempertahankan kontur yang memiliki nilai positif yang dilakukan
Tapak dengan penyelesaian desain.
 Memanfaatkan kubangan air yang terdapat pada tapak sebagai taman air
 Pembuatan jalur-jalur drainase untuk menghalau air dari sisi atas tapak
 Pemilihan pondasi menggunakan jenis pondasi yang dapat menyokong
bangunan pada kondisi tanah berpasir
 Pengolahan tanah bertransis seperti pemerataan tanah dapat dengan cut
and fill namun yang tetap tidak menyebabkan perbedaan yang mencolok
dengan keadaan sebelumnya
Zonning  Konsep zonasi yang digunakan dalam pembagian tapak kawasan adalah Konsep
Tri Mandala yang merupakan salah satu konsep zonasi Arsitektur Bali,
menjelaskan tiga pendaerahan yang sesuai dengan fungsi dan nilainya masing-
masing. Ketiga zona tersebut adalah Nista Mandala, Madya Mandala, dan
Utama Mandala.
 Zona dibagi menjadi zona privat, publik, dan semi privat yang mengikuti dan
menyesuaikan dengan zonasi Tri Mandala.
 Perbedaan zona tersebut dibedakan sesuai kebutuhannya, namun tidak terpisah
dan dapat beriringan satu dengan yang lain
 Penempatan zona publik pada sisi timur dan selatan tapak karena lebih banyak
dan mudah diakses wisatawan
 Penempatan zona privat dapat pada sisi utara tapak yang tidak mudah diakses
oleh wisatawan

Ruang luar  Karena berada pada kawasan DTW (Daya Tarik Wisata), elemen artwork dapat
dan menggunakan bentuk-bentuk yang selaras dengan tema dengan filosofi mitologi
Lansekap pencarian Tirta Amerta.
 Penyediaan desain hardscape menggunakan material yang tahan dengan
wilayah perairan serta dilengkapi dengan akses bagi pengguna difabel.
 Desain hardscape memaksimalkan penggunaan material lokal yang mudah
didapatkan disekitar site.
 Pemanfaatan vegetasi eksisting pada bantaran sungai perlu dilakukan guna
mengurangi perubahan keadaan ekosistem dan sebagai barrier.
 Tatanan softscape adalah tamanan yang dapat memberikan keindahan yang
alami dan harmoni dengan lingkungan sekitar, penggunaan jenis softscape yang
dapat tumbuh dengan baik pada daerah berair, seperti tumbuhan pesisir pantai
atau bantaran sungai.
 Untuk mencegah terjadi banjir dari aliran utama tukad Unda pada musim hujan,
perlu dibuat pekerasan atau tanggul di bantaran sungai.
Keamanan  Penempatan pos jaga keamanan pada beberapa titik dalam kawasan.
 Peningkatan dan memperketat sistem keamanan pada bangunan yang
menyimpan artefak bersejarah dan karya seni.
 Pengamanan pada souvenir shop harus mampu memberikan pengunjung rasa
aman selama berbelanja, sehingga suasana terasa nyaman
 Peningkatan sistem keamanan dengan menggunakan pemantauan CCTV yang
dipasang pada area rawan tindak kriminal.
 CCTV tersebar pada area yang tersembunyi, sulit dilihat dan dijangkau
 Penyediaan jalur dan rambu evakuasi untuk penanggulangan ketika terjadi
bencana.
Mekanikal  Ruang ME menjadi tempat sumber energi bangunan
Elektrikal  Penempatan ruang ME tidak berada pada area yang dapat membahayakan
orang-orang awam, dengan sistem keamanan yang cukup baik dan tidak
mengganggu aktivitas diluar
 Penempatan jalur elektrikal tidak mencolok sehingga tidak menggangu
pandangan
 Pemasangan papan peringatan pada pintu masuk ruang ME sehingga
mengurangi kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.