Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum

Konservasi Sumberdaya Lahan

PLOT EROSI

Disusun Oleh :

Nama : Yustika Anggraeni Burhan


Nim : G111 16 056
Kelas : Konservasi Sumberdaya Lahan
Asisten : Nurul Azizah Zahraeni

DEPARTEMEN ILMU TANAH


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Erosi merupakan proses penghanyutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan
air dan angin, baik yang berlangsung secara alamiah ataupun sebagai akibat
tindakan/ perbuatan manusia (Kartasapoetra dkk, 1985). Erosi oleh air
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu curah hujan, topografi, kepekaan tanah
terhadap erosi, vegetasi dan sistem pengelolaan tanah yang diterapkan. Dari
kelima faktor tersebut, curah hujan merupakan faktor yang aktif melakukan
penghancuran dan penghanyutan tanah.
Curah hujan dalam suatu waktu mungkin tidak menyebabkan erosi jika
intensitasnya rendah, demikian pula apabila hujan dengan intensitas tinggi dalam
waktu yang sangat singkat. Hujan akan menimbulkan erosi jika intensitasnya
cukup tinggi dan dalam waktu yang relatif lama (Purwowidodo, 1986).
Pengalaman menunjukkan bahwa suatu kejadian hujan lebat yang jatuh pada
lahan tertutup tanaman, walaupun hanya rumput misalnya, menghasilkan
limpasan yang jernih. Kemudian jika kita mengadakan pengamatan di tempat lain
(tanahnya terbuka), kejadian hujan yang lebih kecilpun telah menyebabkan aliran
yang keruh. Dari kenyataan itu dapat disimpulkan bahwa adanya tanaman dapat
menekan laju aliran permukaan dan erosi yang disebabkan oleh curah hujan.
Adanya tanaman akan menyebabkan air hujan yang jatuh tidak langsung memukul
massa tanah, tetapi terlebih dulu ditangkap oleh tajuk daun tanaman.
Penurunan volume dan kecepatan aliran permukaan yang terjadi sebagai
akibat adanya tanaman di atas tanah berfungsi sebagai penghalang aliran. Adanya
2 tanaman penutup tanah yang rapat merupakan penghambat aliran, sebagai
akibatnya waktu infiltrasi meningkat dan tentu saja kecepatan aliran berkurang.
Kejadian ini sangat mengurangi daya rusak aliran permukaan. Disamping
pengaruh langsung, tanaman juga dapat memperkecil laju erosi secara tidak
langsung. Dalam hal ini melalui pengaruhnya terhadap sifat tanah. Adanya
tanaman akan memperbesar ketahanan massa tanah terhadap hancuran air hujan
dan limpasan aliran permukaan, dan di pihak lain memperbesar kapasitas infiltrasi
tanah sehingga dapat memperkecil aliran permukaan.
Jadi, untuk mengantisipasi adanya kerusakan lahan yang lebih parah akibat
aliran permukaan dan erosi, maka lahan yang memiliki produktifitas rendah (tanah
terdegradasi) dan memiliki kandungan bahan organik rendah serta kemiringan
yang landai (15 %) perlu diupayakan penanganan secara preventif, salah satunya
adalah pengadaan tanaman penutup tanah yang sedikit banyak dapat melindungi
energi air hujan yang dapat merusak tanah.
Erosi akan mengakibatkan lapisan atas tanah yang sebagian besar
mengandung unsur hara dan bahan organik hilang sehingga berdampak pada
penurunan kualitas tanah (degradasi tanah). Apabila lahan misalnya mempunyai
produktifitas rendah dan memiliki kandungan bahan organik rendah serta
memiliki kemiringan yang landai (15%) maka lahan tersebut sangat rentan
terhadap terjadinya aliran permukaan dan erosi, walaupun ada banyak faktor yang
dapat mempengaruhi terjadinya aliran permukaan dan erosi. Oleh sebab itu perlu
dilakukan penanganan secara tepat yang salah satunya adalah penanaman tanaman
penutup tanah, agar lahan tidak bertambah rusak. Berdasarkan kenyataan itu maka
peneliti memandang perlu mengkaji tentang sistem penanaman yang cocok untuk
dapat diterapkan, yaitu dengan sistem penanaman monokultur dan tumpangsari.
Berdasarkan uraian diatas, maka dilakukanlah praktikum plot erosi ini yang
bertujuan agar kita dapat mengetahui besarnya erosi yang terjadi pada lahan
bervegetasi, serta mengetahui cara perhitungan erosi.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum ini adalah agar kita mengetahui proses terjadinya erosi dan
faktor yang dapat mempengaruhi erosi dengan meggunakan metode plot yang
sederhana.
Adapun kegunaan dari praktikum plot erosi ini diharapkan mampu
memberikan pemahaman kepada praktikan tentang cara menghitung besarnya
erosi pada suatu lahan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Erosi
Erosi adalah suatu peristiwa hilang atau terkikisnya tanah atau bagian tanah dari
suatu tempat yang terangkut ke tempat lain, baik disebabkan oleh pergerakan air
ataupun angin. Didaerah beriklim basah seperti daerah Indonesia, erosi yang
disebabkan oleh air sangat penting bila dibandingkan dengan erosi yang
disebabkan oleh angin (Sutapa, 2010).
Erosi tanah merupakan masalah besar untuk pertanian yang berkelanjutan.
pada lahan-lahan yang curam seperti di Asia Tenggara, erosi dapat menyebabkan
penurunan produksi yang disebabkan tanah kehilangan kapasitas menahan air
yang tersedia dan unsur hara. Erosi tanah dapat menyebabkan perbedaan yaitu
tanah pada lereng bawah lebih subur dari pada tanah di lereng atas dan perbedaan
hasilnya sangat besar (Sutapa, 2010).
Erosi dapat juga disebut pengikisan atau kelongsoran, tetapi sesungguhnya
erosi merupakan penghanyutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan air dan
angin, baik yang berlangsung secara alamiah maupun sebagai akibat tindakan atau
perbuatan manusia. Sehubungan dengan ini dikenal erosi normal atau geological
erosion dan erosi dipercepat atau accelerated erosion (Sutapa, 2010).
Erosi normal tidak menimbulkan musibah yang hebat bagi kehidupan
manusia dengan banyaknya tanah yang terbentuk di tempat yang lebih rendah.
Erosi dipercepat yaitu proses terjadinya erosi yang dipercepat akibat tindakan atau
perbuatan manusia yang negatif ataupun telah melakukan kesalahan dalam
pengelolaan tanah dalam pelaksanaan pertanian, dalam hal ini manusia membantu
mempercepat terjadinya erosi. Erosi yang dipercepat sering menimbulkan banyak
malapetaka karena lingkungan telah mengalami kerusakan yang merugikan seperti
banjir, kekeringan ataupun turunnya produktivitas tanah. Hal ini disebabkan
karena bagian tanah yang hanyut atau terpindahkan jauh lebih besar dibandingkan
dengan pembentukan tanah. Penipisan tanah ini akan berlangsung terus jika tidak
segera dilakukan penanggulangan, sehingga selanjutnya tinggal lapisan tanah
bagian bawah (sub soil) yang tersisa (Sutapa, 2010).
Dampak erosi tidak hanya dirasakan oleh lapisan tanah bagian atas saja, tetapi
juga dirasakan oleh tanah pada lapisan bagian bawah lereng yang menjadi tempat-
tempat pengendapan bahan yang terangkut. Akibat lebih lanjut dari erosi adalah
turunnya produktivitas dari tanah, hasil tanaman yang menjadi makin rendah,
sehingga meningkatkan kebutuhan akan pupuk untuk memelihara dan
mempertahankan kesuburan tanah dan bahkan berakibat tanah tidak dapat dikelola
dan penurunan kualitas air (Sutapa, 2010).
Proses Terjadinya Erosi
Menurut Foster dan Meyer, 1952 dalam Sutapa (2010) bahwa erosi terjadi
melalui beberapa proses yaitu detachment atau disebut dengan pelepasan partikel-
partikel tanah, transportation atau penghanyutan partikel-partikel tanah dan
deposition atau pengendapan partikel-partikel tanah yang telah terhanyutkan.
Detachment terjadi sebagai akibat timpahan-timpahan titik-titk hujan yang
menimpa permukaan tanah (Sutapa, 2010).
Hal serupa juga dikemukakan oleh Utomo (1989) dalam Sutapa (2010) bahwa
proses erosi bermula dari terjadinya penghancuran agregat-agregat tanah sebagai
akibat pukulan air hujan yang mempunyai energi lebih besar daripada daya tahan
tanah. Hancuran tanah tanah tersebut akan menyumbat pori tanah sehingga akan
menurunkan kapasitas infiltrasi air dalam tanah dan mengakibatkan air mengalir
di permukaan tanah yang disebut sebagai limpasan permukaan. Limpasan
permukaan ini mempunyai energi untuk mengikis dan mengangkut
partikelpartikel tanah yang telah dihancurkan. Selanjutnya jika tenaga limpasan
permukaan tidak mampu lagi mengangkut bahan hancuran tersebut maka bahan
tersebut akan diendapkan. Dengan demikian ada tiga proses yang bekerja secara
berurutan dalam proses erosi, yaitu diawali dengan penghancuran agregat,
pengangkutan dan diakhiri dengan pengendapan (Sutapa, 2010).
2.2 Plot Erosi
Model penduga erosi USLE (universal soil loss equation) merupakan model
empiris yang dikembangkan di Pusat Data Aliran Permukaan dan Erosi Nasional,
Dinas Penelitian Pertanian, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA)
bekerja sama dengan Universitas Purdue pada tahun 1954. Model tersebut
dikembangkan berdasarkan hasil penelitian erosi pada petak kecil (Wischmeier
plot) dalam jangka panjang yang dikumpulkan dari 49 lokasi penelitian.
Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dibuat model penduga erosi
dengan menggunakan data curah hujan, tanah, topografi dan pengelolaan lahan.
Dalam penghitungan bahaya erosi sangat dipengaruhi oleh faktor curah hujan,
panjang lereng, kemiringan lereng, tanah, serta penutupan lahan berikut tindakan
pengelolaannya. Faktor utama penyebab erosi yaitu curah hujan dan adanya aliran
permukaan. Dengan faktor-faktor tersebut, maka besar erosi dapat ditentukan
dengan rumus USLE yang dikembangkan Berdasarkan hasil pembandingan
besaran erosi hasil pengukuran pada petak erosi standar (Wischmeier plot) dan
erosi hasil pendugaan diketahui bahwa model USLE memberikan dugaan yang
lebih tinggi untuk tanah dengan laju erosi rendah, dan erosi dugaan yang lebih
rendah untuk tanah dengan laju erosi tinggi. Disamping itu, model USLE tidak
menggambarkan proses-proses penting dalam proses hidrologi (A’yunin, 2008).
Pada sisi yang menghadap keluar, dibuat lubang yang letaknya horizontal.
Lubang yang telah dilengkapi dengan corong, dari corong tersebut air yang
meluap disalurkan melalui pipa karet atau plastik ke dalam drum penampung,
sehingga jumlah air yang meluap dapatdihitung. Kemudian drum tersebut di
lengkapi dengan penutup. Selanjutnya bak penampung ditanamkan di ujung
bawah pada setiap petak dengan bagian atas setinggi permukaan tanah. Dari
jumlah aliran permukaan dan tanah tererosi dari plot diukur dari jumlah aliran
permukaan dan sedimen yang tertampung oleh kedua drum tersebut. Jumlah
sedimen diukur dengan cara mengambil contoh air dari kedua drum tersebut.
Contoh air disaring dan sedimen tersaring dikeringkan dalam oven dengan suhu
60oC. Contoh dari sedimen yang di oven tersebut diukur beratnya tiap jam sampai
berat kertas saring dan sedimen tetap. Dan sedimen yag dikering ovenkan tersebut
selanjutnya dilakukan penimbangan (Arsyad, S., 2010).
BAB III
METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu


Praktikum Plot Erosi dilakukan di lahan bervegetasi samping lapangan voly,
Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin Makassar, pada hari Sabtu, 31 Maret
2018 pukul 16.00 WITA sampai selesai. Dan pengamatan dilakukan selama 30
hari mulai hari Senin, 2 April 2018 – Rabu 2 Mei 2018 pada pukul 17.00 WITA.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum plot erosi antara lain gergaji,
cangkul, palu, paku, papan kayu ukuran 100 cm × 20 cm, trash bag, pipa,
kompas, gelas ukur, kertas saring, meteran, alat tulis kantor dan ember (wadah
penampung) dan batu.
3.3 Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada praktikum plot erosi adalah sebagai berikut :
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Menentukan lahan yang akan digunakan sebagai tempat pembuatan plot
erosi
3. Menentukan kemiringan lahan dengan menggunakan kompas.
4. Memasang papan 1 m × 1 m dengan bentuk persegi pada luasan yang telah
ditentukan dan mengaitkan papan yang satu dengan lainnya menggunakan
paku dan palu.
5. Melubangi salah satu papan kayu (papan dibagian paling bawah) sebagai
tempat memasang pipa untuk keluarnya air.
6. Membuat lubang pada tanah, tepat dibawah posisi terpasangnya pipa untuk
meletakkan wadah penampung.
7. Memasang ember (wadah penampung).
8. Membuat parit di pinggiran luar papan kayu
9. Menutup setiap sudut/pinggiran papan kayu dan wadah penampungan air
dengan menggunakan trash bag
10. Melakukan pengamatan setiap 24 jam sekali.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1 Prediksi erosi dan erosi dapat ditoleransi pada plot
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, diperoleh hasil sebagai berikut.

A Total TSL
.........................................................ton/ha/tahun.....................................................

26,4 0,27

4.2 Pembahasan
Pengukuran plot erosi pada kemiringan dilakukan dengan terlebih da\uyhfdyy
hulu mengukur kemingan lereng. Pada percobaan ini keadaan lahan cukup
miring, vegetasi yang cukup banyak, untuk menahan tigkat erosi yang terjadi.
Sesuai dengan pengamatan yang telah dilakukan tingkat erosi yang terjadi di
daerah pengamatan dapat dikategorikan sedang.
Sesuai hasil yang telah diperoleh selama pengamatan 30 hari, hujan yang
turun hanya terjadi sebanyak sembilan hari saja, Dimana curah hujan tertinggi
terdapat pada pengamatan hari ke 15 yakni 1,764 mm yang berkorelasi dengan
berat tanah kering oven yakni sebesar 58,40 gr/m2 yang juga merupakan nilai
tertinggi dari keseluruhan berat tanah kering oven yang dimana kondisi cuaca
yang terlihat pada saat itu ialah mendung. Adapun total dari kehilangan tanah (A)
yang didapatkan yaitu sebesar 26,4 ton/ha/tahun. Nilai kehilangan tanah tersebut
dapat dikatakan cukup besar atau melebihi dari nilai TSL atau nilai erosi yang
dapat ditoleransi yaitu sebesar 0,27 ton/ha/tahun saja.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya erosi yang berlebihan
tersebut ialah yang pertama dari intensitas hujan yang terjadi selama pengamatan.
Intensitas hujan merupakan faktor yang memiliki pengaruh paling besar terhadap
besarnya erosi. Intensitas hujan adalah nilai perbandingan banyaknya curah hujan
persatuan waktu yang biasanya dinyatakan dalam mm/jam atau cm/jam. Jumlah
hujan rata-rata tahunan yang tinggi tidak akan menyebabkan erosi yang berat
apabila hujan tersebut terjadi merata, sedikit demi sedikit (intensitas hujan
rendah), sepanjang tahun. Sebaliknya curah hujan rata-rata tahunan yang rendah
mungkin dapat menyebabkan erosi berat bila hujan tersebut jatuh sangat derat
(intensitas hujan tinggi) meskipun sekali-sekali.
Faktor kedua yang memungkinkan terjadinya erosi yang berlebihan
disebabkan oleh panjang lereng dan kemiringan lereng tersebut dimana pada plot
kelompok kami setelah melihat kriteria nilai harkat kemiringan lereng termasuk
dalam kelas miring yang dimana besaran/presentase nya 16 - 25 % dengan harkat
yaitu 3. Faktor lain yang menyebabkan terjadinya erosi ialah ada atau tidaknya
vegetasi. Sebenarnya pada lahan plot pengamatan kami terdapat vegetasi penutup
lahan cover crop yaitu rumput namun, vegetasi tersebut jumlahnya tidak terlalu
banyak dan keberadannya tidak merata menutupi tanah. Maka dari itu hal
tersebutlah yang menjadi salah satu faktor pendukung tingginya erosi yang terjadi
di plot kami. Hal ini juga didukung oleh pendapat Edriani (2014) yang
menyatakan bahwa Erosi akan meningkat apabila lereng semakin curam atau
semakin panjang. Apabila lereng semakin curam maka kecepatan aliran
meningkat sehingga kekuatan mengangkut meningkat pula. Lereng yang semakin
panjang menyebabkan volume air yang mengalir menjadi semakin besar dan juga
didukung oleh pendapat Tarigan (2011) yang menyatakan bahwa ada beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya erosi diantaranya penutup lahan
(vegetasi), dimana apabila terdapat vegetasi maka erosi yang terjadi tidak terlalu
besar, begitupun sebaliknya.
Berdasarkan pengamatan pada lahan praktikum diketahui bahwa pada lahan
tersebut telah terjadi erosi yang melebihi nilai erosi yang dapat di toleransi maka
dari itu perlu diadakan teknik konservasi untuk mengendalikan volume dan
kecepatan aliran permukaan. Karena kemiringan lahan cukup curam maka teknik
konservasi yang dapat ditawarkan ialah metode penutupan lahan atau vegetasi
karena mampu memperlambat aliran permukaan dan memiliki kapasitas
penyimpanan air yang lebih besar sehingga memiliki infiltrasi yang besar pula.
Jika dibandingkan dengan yang tanpa vegetasi air akan cepat megalir sehingga
tidak sempat untuk terinfiltasi. Tehnik konservasi dengan metode mekanik dapat
dilakukan dengan pembuatan bedengan, biopori, dan sebagainya. Teknik tersebut
dapat menekan kecepatan aliran permukaan dan mengurangi limpasan atau aliran
permukaan sehingga toleransi kehilangan tanah dapat diminimalisir.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan
bahwa:
1. Erosi tanah merupakan suatu proses berpindahnya, hilangnya sebagian atau
seluruh tanah dari lapisan permukaan.
2. Plot erosi adalah daerah tangkapan hujan alami (cathment area) yang
dijadikan sebagai satuan pengukuran aliran permukaan dan erosi.
3. Dari pengamatan yang dilakukan terdapat beberapa hal yang mempengaruhi
besarnya erosi yaitu panjang dan kemiringan lereng dimana kemiringan
lerengnya diperkirakan mencapai 20-25 %.
4. Tehnik konservasi yang dapat dilakukan yaitu dengan metode vegetatif atau
dengan penutupan lahan. Dan tehnik mekanik seperti pembuatan guludan,
biopori dan lain sebagainya.
5. Faktor yang mempengaruhi besarnya erosi yakni curah hujan, kepekaan
tanah terhadap erosi, pengaruh lereng, vegetasi dan manusia.
1.2 Saran
Sebaiknya pada praktikum selanjutnya, praktikan dapat lebih berpartisipasi
dalam kegiatan praktikum. Selain itu praktikan diharapkan datang tepat waktu
pada saat pelaksanaan praktikum guna memperlancar jalannya praktikum.
LAMPIRAN

Lampiran 1. Perhitungan A Total dan TSL


Hasil Perhitungan
a. Bulk Density
Berat Ring Sample = 97,7 gram
Berat Tanah sesudah di oven +Ring sample = 358,6 gram
Tinggi Ring sample = 4,9 cm
Diameter Ring Sample = 7,5 cm
Berat tanah kering oven
BD =
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑇𝑎𝑛𝑎ℎ
(358,6−97,7) 260,9
= =
14,06 𝑥 3,14 𝑥 4,9 216,36

BD = 1,20 gr/cm2
b. Nilai T
Kedalaman ekuivalen tanah Alfisol = 0,9 mm
Umur Guna Lahan di Indonesia = 400 tahun
𝑘𝑒𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚𝑎𝑛 𝑒𝑘𝑢𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛
T = 𝑢𝑚𝑢𝑟 𝑔𝑢𝑛𝑎 𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛
0,9
= 400 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 = 0,00225 mm/tahun

c. TSL
TSL = T x BD x 10
= 0,00225 x 1,20 x 10
TSL = 0,027 ton/ha/tahun
d. A Total
Diketahui :
1 gr = 10-6 ton 1 m2
1 m2 = 10-4 ha
1 tahun = 365 hari
Toal Berat Tanah Kering Oven/Luas Penampang/Bulan
= 32,2+1+0,6+43,4+58,4+1,6+0,2+38,2+46,6
= 222,2 gr/m2/bulan
222,2 𝑔𝑟𝑎𝑚
= = 222,2 gr/m2/bln
1 𝑚2
222,2 𝑔𝑟𝑎𝑚 1010−6
= = = 2,2 ton/ha/bulan = 26,4 ton/ha/tahun
1 𝑚2 10−4
DAFTAR PUSTAKA

A’yunin, Q. 2008. Prediksi Tingkat Bahaya Erosi dengan Metode Usle Di Lereng
Timur Gunung Sindoro. Skripsi. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Arsyad S. 2010. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: Institut Pertanian Bogor Press.
Edriani A.F. 2014. Analisis Tingkat Erosi Dan Kekritisan Lahan Menggunakan
Sistem Informasi Geografis Di Sub Das Bengkulu Hilir Das Air
Bengkulu. Universitas Bengkulu.
Sutapa I.W. 2010. Analisis Potensi Erosi Pada Daerah Aliran Sungai (Das) Di
Sulawesi Tengah. Jurnal SMARTek, Vol. 8 No. 3.
Tarigan dan Mardianto 2013. Pengaruh Erosivitas dan Topografi Terhadap
Kehilangan Tanah pada Erosi Alur di Daerah Aliran Sungai Secang
Desa Hargotirto Kecamatan Kokap Kabupaten Kulonprogo.