Anda di halaman 1dari 14

ACARA VI

LAPORAN PRAKTIKUM HIDROMETEOROLOGI


EVAPORASI

Dosen Pengampu:
Ferryati Masitoh, S.Si, M.Si

Disusun Oleh:

Nama : Fariz Ichsan Kurniawan


NIM : 160722614641
Off/Thn : G/2016
Asisten : Unsila Tamiya Artaman

JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2018
I. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu menghitung data hasil pengukuran evaporasi
menggunakan Metode Water Balance, Panci Evaporasi, Aerodinamik.
2. Mahasiswa mampu menganalisis hasil pengukuran evaporasi
Mengguakan beberapa metode.

II. DASAR TEORI


Evaporasi merupakan proses penguapan air yang berasal dari
permukaan bentangan air atau dari bahan padat yang mengandung air
(Lakitan, 1994). Sedangkan menurut Manan dan Suhardianto (1999),
evaporasi (penguapan) adalah perubahan air menjadi uap air. Air yang ada
di bumi bila terjadi proses evaporasi akan hilang ke atmosfer menjadi uap
air. Evaporasi dapat terjadi dari permukaan air bebas seperti bejana berisi
air, kolam, waduk, sungai ataupun laut. Proses evaporasi dapat terjadi pada
benda yang mengandung air, lahan yang gundul atau pasir yang basah. Pada
lahan yang basah, evaporasi mengakibatkan tanah menjadi kering dan dapat
memengaruhi tanaman yang berada di tanah itu. Mengetahui banyaknya air
yang dievaporasi dari tanah adalah penting dalam usaha mencegah tanaman
mengalami kekeringan dengan mengembalikan sejumlah air yang hilang
karena evaporasi.
Faktor meteorologi yang memengaruhi evaporasi adalah radiasi
matahari, suhu udara, kelembaban udara dan angin. Tempat-tempat dengan
radiasi matahari tinggi mengakibatkan evaporasi tinggi karena evaporasi
memerlukan energi. Umumnya radiasi matahari tinggi diikuti suhu udara
tinggi dan kelembaban udara rendah. Kedua hal ini dapat memacu
terjadinya evaporasi. Angin yang kencang membuat kelembaban udara
rendah, hal inipun memacu evaporasi (Manan dan Suhardianto, 1999).
Selain masukan energi, laju evaporasi juga dipengaruhi oleh kelembaban
udara di atasnya. Laju evaporasi akan semakin terpacu jika udara diatasnya
kering (kelembaban rendah), sebaliknya akan terhambat jika kelembaban
udaranya tinggi (Lakitan, 1994).
Besar kecilnya evaporasi dipengaruhi oleh faktor-faktor suhu air,
suhu udara, kelembaban tanah, kecepatan angin, tekanan udara dan sinar
matahari. Suhu air, suhu udara dan sinar matahari berbanding lurus dengan
besarnya evaporasi. Sementara kelembaban tanah, kecepatan angin dan
tekanan udara berbanding terbalik dengan besarnya evaporasi. Perhitungan
besarnya evaporasi dinyatakan dalam satuan mm/hari (Dumairy, 1992).
Untuk mengukur besarnya kecilnya evaporasi dapat menggunakan beberapa
metode diantaranya:
a. Metode Kesetimbangan Air (Water Balance)
Rincian air yang masuk (inflow) dan yang keluar (outflow) ke dan
dari siklus hidrologi untuk satu wilayah selama periode tertentu
dinyatakan dalam kesetimbangan air (water balance). Dalam studi water
balance ini, tahapan pertama adalah mengindentifikasi komponen-
komponen berdasarkan proses siklus hidrologi. Asumsi yang digunakan
oleh F.J.Mock (Mock,1973) adalah semua air dapat mengisi tanah
dengan penggunaan utama untuk memenuhi kebutuhan evapotranspirasi,
Rumus Water Balance:
I = O ± ΔS
Keterangan:
I = Masukan (Inflow)
O = Keluaran (Outfow)
ΔS = Perubahan tampungan
Jika diterapkan pada waduk, maka:
E = P + Q – O – I – ΔS

Keterangan:
P = Curah hujan per tahun (mm/th)
Q = Aliran masuk
O = Keluaran (Outfow)
I = Infiltrasi
ΔS = Perubahan tampungan
b. Metode Panci Evaporasi
Menurut World Meterological Organitation (WMO) standar
panci yang umum digunakan adalah panci evaporasi kelas A dengan
ukuran diameter 122 cm dan kedalaman 25 cm. Evaporasi panci (Eo)
adalah evaporasi rata-rata (mm/hari) dari panci kelas A yang diletakkan
pada daerah berumput atau pada tanah terbuka. Nilai evaporasi panci
dihitung dengan mengamati perubahan tinggi muka air pada panci
tersebut, sedangkan nilai koefisien panci (kpan) didapat dari FAO 56
dengan menduganya melalui daerah penempatan panci, kelembaban
udara dan kecepatan angin (Allen, et al., 1998).
ETo = Eo x kpan
Keterangan:
Eto = Evapotranspirasi potensial atau standar
Eo = Evaporasi dari panci
Kpan = Koefisien panci
c. Metode Aerodinamik
Metode aerodinamik mempertimbangkan faktor-faktor yang
mempengaruhi perpindahan uap dari permukaan air. Faktor tersebut
adalah vertical gradient of humidity dan turbulansi aliran udara.
Persamaan matematik untuk evaporasi dihubungkan dengan kecepatan
angin (U) diatas tubuh air dan perbedaan tekanan uap dan udara (ew-ea).
Rumus Metode Aerodinamik:
E0 = 0,35 (0,5 + 0,54 U2 (ew – e2)

Keterangan:

E0 = Evaporasi muka air bebas selama satu periode pengamatan


(mm/hari)
U2 = Kecepatan Angin pada ketinggian 2 m (m/detik)
ew = Tekanan uap jenuh di udara (milibar)
e2 = Tekanan uap sesungguhnya di udara pada ketinggian z (milibar)
 Persamaan Rohwer
E = 0,484 (1 + 0,6 U2) (ew – ea)
Keterangan:
E = Evaporasi (mm/hari)
U2 = kec. Angin rata-rata dalam sehari (m/detik)
ew = tekanan uap jenuh dengan temperature sama dengan temperature
air (milibar)
ea = tekanan uap air di udara (milibar)
 Persamaan Orstom
E = 0,358 (1 + 0,588 U2) (ew – ea)
Keterangan:
E = Evaporasi (mm/hari)
U2 = kec. Angin rata-rata dalam sehari (m/detik)
ew = tekanan uap jenuh dengan temperature sama dengan temperature
air (milibar)
ea = tekanan uap air di udara (milibar)
 Persamaan Danau Hefner
E = (0,00201 x U2) (ew – ea)
Keterangan:
E = Evaporasi (mm/hari)
U2 = kec. Angin rata-rata dalam sehari (m/detik)
ew = tekanan uap jenuh dengan temperature sama dengan temperature
air (milibar)
ea = tekanan uap air di udara (milibar)
III. ALAT DAN BAHAN
Alat :
1. Pensil
2. Penggaris
3. Kalkulator Sains

Bahan :
1. Kertas HVS
2. Data Teknik Waduk PB. Soedirman
3. Data panic evaporasi (mm/hari)
4. Data evaporasi Aerodinamik, Rohwer, Orstom, Danau Hefner

IV. LANGKAH KERJA


a. Metode Waterbalance
1. Menyiapkan Data Teknik Waduk PB. Soedirman Tahun 1988 dan
2010
2. Melakukan identifikasi besarnya curah hujan (P), aliran
masuk/inflow (Q), keluaran/outflow (Q), perubahan tampungan
(ΔS), dan Infiltasi (I)
3. Menghitung nilai perkiraan evaporasi waduk dengan persamaan:
E = P + Q – O – I – ΔS

b. Metode Panci Penguapan


1. Menyiapkan data evaporasi panci tanggal 1 – 10 Bulan Januari –
Desember Tahun 1998
2. Menentukan koefisien (C) panci berdasarkan data yang telah tersedia
3. Menghitung nilai evaporasi berdasarkan data evaporasi panci dan
koefisien (C) panci yang telah ditentukan sebelumnya dengan rumus:
E0 = (C panci) (evaporasi panci)
c. Metode Aerodinamik
1. Menyiapkan data kecepatan angin (km/jam), kelembaban (%), dan
suhu (oC) bulan Januari Tahun 2004
2. Menghitung U2 (kec. Angin pada ketinggian 2 m) dengan melakukan
konversi data angin bulan Januari Tahun 2004 dari km/jam ke
m/detik
3. Menentukan besarnya tekanan uap sesungguhnya di udara pada
ketinggian z (ez) dan tekanan uap jenuh di udara (ew) dengan
temperature sesuai dengan temperature airnya
4. Menghitung besarnya evaporasi dengan persamaan metode
Aerodinamik:
E0 = 0,35 (0,5 + 0,54 U2 (ew – e2)
5. Menghitung besarnya evaporasi menggunakan persamaan Rohwer:
E = 0,484 (1 + 0,6 U2) (ew – ea)
6. Menghitung besarnya evaporasi menggunakan persamaan Orstom:
E = 0,358 (1 + 0,588 U2) (ew – ea)
7. Menghitung besarnya evaporasi menggunakan persamaan Danau
Hefner:
E = (0,00201 x U2) (ew – ea)
DIAGRAM ALIR

Data Teknik Waduk PB. Data Evaporasi panic Data Evaporasi panic
Soedirman Tahun 1988 (mm/hari) Tahun 1998 (mm/hari) Tahun 1998
dan 2010

Metode Kesetimbangan Metode Panci Evaporasi Metode Aerodinamik


Air

Identifikasi besarnya Identifikasi besarnya Menghitung kec. Angin


curah hujan (P) evaporasi panci (m/detik) (U2)

Identifikasi besarnya Identifikasi besarnya Menghitung tekanan uap


inflow (Q) koefisien (C) panci sesungguhnya (e2)

Identifikasi besarnya Menghitung nilai Menghitung kec. Angin


outflow (Q) evaporasi: (m/detik) (U2)
E0 = (C panci) (evaporasi
panci)
Identifikasi besarnya Menghitung evaporasi
perubahan tampungan metode Aerodinamik:
E0 = 0,35 (0,5 + 0,54 U2
(ew – e2)
Identifikasi besarnya
Infiltasi (I)
Menghitung evaporasi
Rohwer:
E = 0,484 (1 + 0,6 U2)
Menghitung nilai (ew – ea)
evaporasi waduk:
E = P + Q – O – I – ΔS
Menghitung evaporasi
Orstom:
E = 0,358 (1 + 0,588
U2) (ew – ea)

Analisis hasil perhitungan evaporasi

Menyusun Laporan
V. HASIL
1. Perhitungan nilai rata-rata evaporasi tahunan berdasarkan data yang
telah tersedia

2. Perhitungan Evaporasi Metode Panci Evaporasi

3. Perhitungan evaporasi Metode Aerodinamik (Persamaan Rohwer,


Orstom, dan Danau Hefner)
4. Perhitungan nilai evaporasi metode Kesetimbangan Air
Diketahui:
P = 3500 mm/tahun O = 4,366 m3/detik
Q = 95 m3 I = 0%
Lwaduk = 8 km2 (8.000.000 m2)
∆S = V efektif desain – V efektif aktual
= 32.000.000 – 20.500.000
= 11.500.000 m3
Ditanya: E ?
Jawab: Q – O = 95 – 4,366

= 90,634 m3/detik x (31536000)

= 2.858.233.842 m3/tahun

Tebal Aliran =

= 357, 28 m (357.280 mm)

Penurunan Muka Aliran =

= 1,4375 m (1437,5 mm)

E = P + Q – O – I - ∆S

= 3500+357280-0-1437,5

= 359342,5 mm/tahun (359,34 m/tahun)


VI. PEMBAHASAN
Pengukuran evaporasi pada praktikum hidrometeorologi ini
dilakukan dengan menggunakan 3 metode, yaitu Metode Kesetimbangan
Air (Water Balance), Metode Panci Evaporasi, dan Metode Aerodinamik.
Pada Metode Aerodinamik terdapat 4 persamaan, yaitu persamaan Metode
Aerodinamik, persamaan Rohwer, persamaan Orstom, dan Persamaan
Danau Hefner.
Metode Kesetimbangan Air (Water Balance) digunakan untuk
menghitung evaporasi di Waduk PB. Soedirman. Data yang tersedia adalah
data Teknik Waduk PB. Soedirman Tahun 1988 dan 2010. Metode ini
merupakan rincian air yang masuk (inflow) dan yang keluar (outflow) ke dan
dari siklus hidrologi untuk satu wilayah selama periode tertentu. Faktor
yang mempengaruhi perhitungan evaporasi metode Water Balance adalah
curah hujan (P) dalam mm/tahun, Inflow (Q), Outflow (O), Infiltrasi (I), dan
Perubahan daya tampung (ΔS). Berdasarkan hasil perhitungan evaporasi
metode Water Balance menunjukkan bahwa nilai evaporasi sebesar 359,3
m/tahun. Nilai evaporasi ini cukup tinggi, karena air yang masuk jauh lebih
besar daripada air yang keluar. Pada Waduk PB. Soedirman ini, air yang
masuk dari curah hujan (P) sebesar 3500 mm/tahun dan air masuk selain
dari hujan (inflow) sebesar 95 m3/detik. Sedangkan air yang keluar berupa
infiltrasi yang telah ditetapkan sebesar 0% dan air keluar (outflow) sebesar
4,366 m3/detik. Sehingga nilai Inflow (Q) - Outflow (O) adalah 95 - 4,366 =
357.280 mm.
Metode Kesetimbangan Air (Water Balance) mempertimbangkan
luas permukaan melalui perubahan daya tampung (ΔS) dimana nilainya
masih jauh lebih kecil dari nilai masukan air (inflow). Artinya, pengukuran
evaporasi metode ini secara garis besar diasumsikan bahwa semakin besar
evaporasi maka semakin besar pula volume curah hujan yang akan turun
nantinya. Air yang masuk ini merupakan hasil dari adanya evaporasi dari
hasil perhitungan tersebut. Hal tersebut merupakan bentuk dari siklus
hidrologi. Meskipun konsepnya sederhana, dalam prakteknya penentuan dan
perhitungan water balance cukup rumit. Karena prosesnya tergantung pada
banyak faktor dan saling terkait serta mempengaruhi satu sama lain.
Metode kedua adalah Metode Panci Evaporasi. Data yang digunakan
adalah data evaporasi yang telah diketahui pada Tahun 1998 Bulan Januari –
Desember Tanggal 1 – 10. Karena evaporasi sudah diketahui, maka metode
ini berfungsi untuk mendapatkan nilai evaporasi sebenarnya dengan
memperhitungkan koefisien panci. Pada data ini nilai koefisien panci adalah
0.68. Hasil praktikum menunjukkan bahwa nilai evaporasi paling tinggi
sebesar 3,502 mm/hari yaitu pada tanggal 6 Bulan Juli. Dapat diasumsikan
dengan alasan bahwa Bulan Juli merupakan musim kemarau, maka radiasi
matahari tinggi, suhu tinggi, dan kelembaban rendah. Dengan demikian nilai
evaporasi tinggi pada Bulan Juli tinggi. Sedangkan nilai evaporasi paling
rendah adalah pada tanggal 7 Maret, yaitu sebesar 0,034 mm/hari. Faktor
yang menyebabkan kecilnya nilai evaporasi ini adalah radiasi matahari
rendah, suhu rendah, dan kelembaban tinggi. Sehingga, nilai evaporasi
rendah.
Metode terakhir adalah Metode Aerodinamik. Data yang digunakan
adala kecepatan angin, kelembaban, dan suhu Bulan Januari Tahun 2004.
Berdasarkan hasil praktikum menggunakan metode Aerodinamik dengan 4
persamaan, yaitu persamaan Metode Aerodinamik, Rohwer, Orstom, dan
Danau Hefner menunjukkan bahwa nilai evaporasi paling tinggi adalah pada
tanggal 13 Januari dan terendah pada tanggal 24 Januari tetapi besarnya
nilai evaporasi berbeda. Pada persamaan Metode Aerodinamik, nilai
evaporasi tanggal 13 Januari sebesar 5,61 mm/hari, persamaan Rohwer
sebesar 11,074 mm/hari, persamaan Orstom sebesar 8,109 mm/hari, dan
persamaan Danau Hefner sebesar 0,0383 mm/hari. Hal ini disebabkan
karena pada tanggal 13, kecepatan angin tinggi (6 km/jam), kelembaban
cukup rendah (68%), dan suhu cukup tinggi (26oC). Ketika kecepatan angin
tinggi, suhu cukup tinggi, dan kelembaban cukup rendah maka evaporasi
tinggi.
Nilai evaporasi paling rendah adalah perhitungan menggunakan 4
persamaan, yaitu persamaan Metode Aerodinamik, Rohwer, Orstom, dan
Danau Hefner adalah adalah pada tanggal 24 Januari tetapi besarnya nilai
evaporasi berbeda. Metode Aerodinamik, nilai evaporasi tanggal 24 Januari
sebesar 1,80 mm/hari, persamaan Rohwer sebesar 4,143 mm/hari,
persamaan Orstom sebesar 3,0488 mm/hari, dan persamaan Danau Hefner
sebesar 0,0072 mm/hari. Hal ini disebabkan karena faktor berikut:
kecepatan angin rendah (2km/jam); kelembaban tinggi (83%), sedangkan
suhu tidak cukup berpengaruh. Maka, nilai evaporasinya kecil. Perhitungan
Metode Aerodinamik dengan 4 persamaan, yaitu persamaan Metode
Aerodinamik, Rohwer, Orstom, dan Danau Hefner memiliki cara
perhitungan hampir sama, yang membedakan hanya angka konstanta tiap
persamaan. Masing-masing metode semakin akurat dan baik digunakan jika
sesuai dengan karakteristik data dan menyesuaikan tujuan pengukuran
evaporasi.

VII. KESIMPULAN
1. Nilai rata-rata evaporasi tahunan di Waduk PB. Soedirman adalah
sebesar 359,3 m/tahun. Pengukuran evaporasi metode ini diketahui
bahwa semakin besar evaporasi maka semakin besar pula volume curah
hujan yang akan turun nantinya (hasil dari adanya evaporasi) sebagai
bentuk dari siklus hidrologi. Metode ini kurang efektif karena caranya
tidak mudah dan membutuhkan proses yang lebih banyak
2. Nilai evaporasi menggunakan metode panci evaporasi paling tinggi
sebesar 3,502 mm/hari. Sedangkan paling rendah sebesar 0,034.
Perhitungan metode Panci Evaporasi sangat mudah dan tidak rumit.
3. Nilai evaporasi Metode Aerodinamik 24 Januari sebesar 1,80 mm/hari,
persamaan Rohwer sebesar 4,143 mm/hari, persamaan Orstom sebesar
3,0488 mm/hari, dan persamaan Danau Hefner sebesar 0,0072 mm/hari.
4. Masing-masing metode semakin akurat dan baik digunakan jika sesuai
dengan karakteristik data dan menyesuaikan tujuan pengukuran
evaporasi.
VIII. DAFTAR PUSTAKA

Benyamin Lakitan. 1994. Dasar-Dasar Klimatologi. Jakarta: Raja


Grafindo Persada.
Dumairy, 1992. Ekonomika Sumberdaya Air. BPFE, Yogyakarta.
Effendi, Manan dan Anang Suhardianto. 1999. Klimatologi Pertanian.
Jakarta: Universitas Terbuka.
Masitoh, Ferryati. 2018. Modul Praktikum Hidrometeorologi. Universitas
Negeri Malang.
Mock, F.J. 1973. Land Capability Appraisal Indonesia. Water Avaibility
Appraisal. Report Prepaired for the Land Capability Appraisal
Project. BogorIndonesia.