Anda di halaman 1dari 18

PEMAHAMAN DASAR METODE PENELITIAN STUDI KASUS DAN

PENERAPAN METODE PENELITIAN STUDI KASUS

Disusun Oleh :

Fajar Satria 44116010030

Tommy Andriyan 44116010161

Radityo Darubroto 44116010183

Dosen :

DR.Syaifuddin M.Si

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS MERCU BUNANA

JAKARTA

2018
DAFTAR ISI

BAB 1 ................................................................................................................................. 4

1.1 Latar Belakang .............................................................................................................. 4

1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................... 4

1.3 Tujuan Makalah ............................................................................................................ 5

BAB 2 ................................................................................................................................. 6

2.1 Pengertian Studi Kasus ................................................................................................. 6

2.2 Ciri Khas Studi Kasus ................................................................................................... 7

2.3 Karakteristik Studi Kasus .............................................................................................. 7

2.4 Jenis – Jenis Studi Kasus............................................................................................... 11

2.5 Langkah-Langkah Penelitian Studi Kasus .................................................................... 11

2.6 Kelebihan dan Kelemahan Studi Kasus ........................................................................ 13

2.6.1 Kelebihan studi kasus.......................................................................................... 13

2.6.2 Kekurangan studi kasus....................................................................................... 13

2.7 Membuat Studi Kasus Dapat Diteladani ....................................................................... 13

2.7.1 Studi Kasus Harus Signifikan ................................................................................ 14

2.7.2 Studi Kasus Harus Lengkap .................................................................................. 14

2.7.3 Studi Kasus Harus Mempertimbangkan Perspektif Alternatif ............................. 15

2.7.4 Studi Kasus Harus Menampilkan Bukti yang Memadai ...................................... 15

2.7.5 Studi Kasus Harus Ditulis dengan Cara yang Menarik......................................... 16

2
BAB 3 ................................................................................................................................. 17

3.1 Kesimpulan ................................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 18

3
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penelitian kualitatif merupakan salah satu metode penelitian yang bersifat


deskriptif dan cenderung mencari sebuah makna dari data yang didapatkan dari hasil
sebuah penelitian. Metode ini biasanya digunakan seseorang ketika akan meneliti
terkait dengan masalah sosial dan budaya. Menurut Sugiyono (2014) mengatakan
bahwa metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik
karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang masih alamiah (natural setting).

Studi kasus merupakan salah satu jenis pendekatan kualitatif yang menelaah
sebuah “kasus” tertentu dalam konteks atau setting kehidupan nyata kontemporer.
Studi kasus lebih berfokus pada kasus tertentu, peneliti didorong untuk mencari suatu
kasus yang kemudian dianalisis terkait dengan mitos atau yang terjadi di lokasi
penelitian. Pertanyaan riset yang bisa diajukan adalah bagaimana respon masyarakat
atau responden dan informan setempat. Untuk menjawabnya, peneliti dituntut untuk
melakukan analisis.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian dari studi kasus?


2. Apa saja ciri utama dari studi kasus?
3. Apa saja karakteristik studi kasus?
4. Apa saja jenis – jenis dari studi kasus?
5. Bagaimana langkah – langkah penelitian studi kasus?
6. Apa kelebihan dan kekurangan studi kasus
7. Memahami Cara Membuat Studi Kasus Dapat Diteladani

4
1.3 Tujuan Makalah

1. Untuk mengetahui definisi studi kasus


2. Untuk mengetahui ciri khas studi kasus
3. Untuk mengetahui karakteristik studi kasus
4. Untuk mengetahui jenis – jenis studi kasus
5. Untuk mengetahui langkah – langkah penelitian studi kasus
6. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan studi kasus
7. Untuk mengetahui cara agar studi kasus dapat diteladani

5
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Studi Kasus

Berawal dari tujuan etnografi yang hanya memahami bagaimana kebudayaan


tersebut berjalan tanpa mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang kasus
tunggal atau mengeksplorasi isu dan permasalahan dengan menggunakan kasus
tersebut sebagai ilustrasi yang spesifik. Maka dari itu riset studi kasus mencakup
studi tentang suatu kasus dalam kehidupan nyata, dalam konteks atau setting
kontemporer (Yin, 2009).

Studi kasus bukan merupakan metodologi, melainkan pilihan atas sesuatu


yang hendak dipelajari (kasus dalam sistem terbatas, yang dibatasi waktu dan tempat)
yang lain menganggapnya sebagai strategi penelitian, metodologi, atau strategi riset
komprehensif.

Penelitian studi kasus adalah pendekatan kualitatif yang penelitinya


mengeksplorasi kehidupan nyata, sistem terbatas kontemporer (kasus) atau beragam
sistem terbatas (berbagai kasus), melalui pengumpulan data yang detail dan
mendalam yang melibatkan beragam sumber informasi atau sumber informasi
majemuk (pengamatan, wawancara, bahan audiovisual, dan dokumen laporan) dan
melaporkan deskripsi kasus dan tema kasus.

Adapun kegunaan dari studi kasus adalah untuk memahami individu,


kelompok, lembaga, latar tertentu secara mendalam.

6
2.2 Ciri Khas Studi Kasus

1. Dimulai dengan mengidentifikasi satu kasus yang spesifik dengan dibatasi


oleh tempat dan waktunya
2. Tujuan studi kasus kualitatif sebagai pengilustrasian kasus yang unik yang
perlu diperinci dan dideskripsikan, disebut kasus instrinsik
3. Ciri utama dari studi kasus kualitatif adalah memperlihatkan pemahaman
mendalam tentang kasus tersebut. Untuk menyempurnakannya, peneliti
mengumpulkan beragam bentuk data kualitatif seperti wawancara,
pengamatan, dokumen, hingga bahan audiovisual. Satu data saja tidak cukup
untuk mengembangkan pemahaman ini.
4. Riset studi kasus melibatkan deskripsi tentang kasus tersebut yang berlaku
baik untuk studi kasus intrinsic maupun instrumental.
5. Tema atau masalah dapat diorganisasikan menjadi kronologi oleh peneliti,
menganalisis keseluruhan kasus untuk mengetahui berbagai persamaan dan
perbedaan di antara kasus tersebut, atau menyajikannya dalam suatu model
teoretis.
6. Diakhiri denga kesimpulan yang dibentuk peneliti tentang makna keseluruhan
yang diperoleh dari kasus tersebut.

2.3 Karakteristik Studi Kasus

Berdasarkan pendapat Yin (2003a, 2009); VanWynsberghe dan Khan (2007); dan
Creswell (2003. 2007) secara lebih terperinci, karakteristik penelitian studi kasus
dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Menempatkan obyek penelitian sebagai kasus


Seperti telah dijelaskan di dalam pengertian penelitian studi kasus di depan,
keunikan penelitian studi kasus adalah pada adanya cara pandang terhadap obyek
penelitiannya sebagai ’kasus’. Bahkan, secara khusus, Stake (2005) menyatakan

7
bahwa penelitian studi kasus bukanlah suatu pilihan metoda penelitian, tetapi
bagaimana memilih kasus sebagai obyek atau target penelitian. Pernyataan ini
menekankan bahwa peneliti studi kasus harus memahami bagaimana
menempatkan obyek atau target penelitiannya sebagai kasus di dalam
penelitiannya.

Kasus itu sendiri adalah sesuatu yang dipandang sebagai suatu sistem kesatuan
yang menyeluruh, tetapi terbatasi oleh kerangka konteks tertentu (Creswell,
2007). Sebuah kasus adalah isu atau masalah yang harus dipelajari, yang akan
mengungkapkan pemahaman mendalam tentang kasus tersebut, sebagai suatu
kesatuan sistem yang dibatasi, yang melibatkan pemahaman sebuah peristiwa,
aktivitas, proses, atau satu atau lebih individu. Melalui penelitian studi kasus,
kasus yang diteliti dapat dijelaskan secara terperinci dan komprehensif,
menyangkut tidak hanya penjelasan tentang karakteristiknya, tetapi juga
bagaimana dan mengapa karakteristik dari kasus tersebut dapat terbentuk.

2. Memandang kasus sebagai fenomena yang bersifat kontemporer


Bersifat kontemporer, berarti kasus tersebut sedang atau telah selesai terjadi,
tetapi masih memiliki dampak yang dapat dirasakan pada saat penelitian
dilaksanakan, atau yang dapat menunjukkan perbedaan dengan fenomena yang
biasa terjadi. Dengan kata lain, sebagai bounded system (sistem yang dibatasi),
penelitian studi kasus dibatasi dan hanya difokuskan pada hal-hal yang berada
dalam batas tersebut. Pembatasan dapat berupa waktu maupun ruang yang terkait
dengan kasus tersebut.

3. Dilakukan pada kondisi kehidupan sebenarnya


Seperti halnya pendekatan penelitian kualitatif pada umumnya, pelaksanaan
penelitian studi kasus menggunakan pendekatan penelitian naturalistik. Dengan
kata lain, penelitian studi kasus menggunakan salah satu karakteristik pendekatan
penelitian kualitatif, yaitu meneliti obyek pada kondisi yang terkait dengan

8
kontekstualnya. Dengan kata lain, penelitian studi kasus meneliti kehidupan
nyata, yang dipandang sebagai kasus. Kehidupan nyata itu sendiri adalah suatu
kondisi kehidupan yang terdapat pada lingkungan hidup manusia baik sebagai
individu maupun anggota kelompok yang sebenarnya.

Sebagai penelitian dengan obyek kehidupan nyata, penelitian studi kasus


mengkaji semua hal yang terdapat disekeliling obyek yang diteliti, baik yang
terkait langsung, tidak langsung maupun sama sakali tidak terkait dengan obyek
yang diteliti. Penelitian studi kasus berupaya mengungkapkan dan menjelaskan
segala sesuatu yang berkaitan dengan obyek yang ditelitinya pada kondisi yang
sebenarnya, baik kebaikannya, keburukannya, keberhasilannya, maupun
kegagalannya secara apa adanya. Sifat yang demikian menyebabkan munculnya
pandangan bahwa penelitian studi kasus sangat tepat untuk menjelaskan suatu
kondisi alamiah yang kompleks.

4. Menggunakan berbagai sumber data


Seperti halnya strategi dan metoda penelitian kualitatif yang lain, penelitian studi
kasus menggunakan berbagai sumber data. Seperti telah dijelaskan di dalam
bagian karakteristik penelitian kualitatif di depan, pengggunaan berbagai sumber
data dimaksudkan untuk mendapatkan data yang terperinci dan komprehensif
yang menyangkut obyek yang diteliti. Disamping itu, hal tersebut juga
dimaksudkan untuk mencapai validitas dan realibilitas penelitian. Dengan adanya
berbagai sumber data tersebut, peneliti dapat meyakinkan kebenaran dan
keakuratan data yang diperolehnya dengan mengecek saling-silangkan antar data
yang diperoleh.

Adapun bentuk-bentuk data tersebut dapat berupa catatan hasil wawancara,


pengamatan lapangan, pengamatan artefak dan dokumen. Catatan wawancara
merupakan hasil yang diperoleh dari proses wawancara, baik berupa wawancara
mendalam terhadap satu orang informan maupun terhadap kelompok orang dalam

9
suatu diskusi. Sedangkan catatan lapangan dan artefak merupakan hasil dari
pengamatan atau obervasi lapangan. Catatan dokumen merupakan hasil
pengumpulan berbagai dokumen yang berupa berbagai bentuk data sekunder,
seperti buku laporan, dokumentasi foto dan video.

5. Menggunakan teori sebagai acuan penelitian


Karakteristik penelitian studi kasus yang relatif berbeda dibandingkan dengan
strategi atau metoda penelitian studi kasus yang lain adalah penggunaan teori
sebagai acuan penelitian. Berdasarkan pemikiran induktif yang bermaksud untuk
membangun pengetahuan-pengetahuan baru yang orisinil, penelitian kualitatif
selalu dikonotasikan sebagai penelitian yang menolak penggunaan teori sebagai
acuan penelitian. Penggunaan teori sebagai acuan dianggap dapat mengurangi
orisinalitas temuan dari penelitian kualitatif.

Pada penelitian studi kasus, teori digunakan baik untuk menentukan arah,
konteks, maupun posisi hasil penelitian. Kajian teori dapat dilakukan di bagian
depan, tengah dan belakang proses penelitian. Pada bagian depan, teori digunakan
untuk membangun arahan dan pedoman di dalam menjalankan kegiatan
penelitian. Secara khusus, pada bagian ini, teori dapat dipergunakan untuk
membangun hipotesis, seperti halnya yang dilakukan pada paradigma deduktif
atau positivistik (VanWynsberghe dan Khan, 2007; Eckstein, 2002; Lincoln dan
Guba, 2000). Pada bagian tengah, teori dipergunakan untuk menentukan posisi
temuan-temuan penelitian terhadap teori yang ada dan telah berkembang
(Creswell, 2003, 2007). Sedangkan pada bagian belakang, teori dipergunakan
untuk menentukan posisi hasil keseluruhan penelitian terhadap teori yang ada dan
telah berkembang (Creswell, 2003, 2007).

Melalui pemanfaatan teori tersebut, peneliti studi kasus dapat membangun teori
yang langsung terkait dengan kondisi kasus yang ditelitinya. Kesimpulan

10
konseptual dan teoritis yang dibangun melalui penelitian studi kasus dapat lebih
bersifat alamiah, karena sifat dari kasus yang alamiah seperti apa adanya tersebut.

2.4 Jenis – Jenis Studi Kasus

Terdapat 3 (tiga) macam tipe studi kasus, yaitu :

1. Studi kasus intrinsik (intrinsic case study), apabila kasus yang dipelajari
secara mendalam mengandung hal-hal yang menarik untuk dipelajari berasal
dari kasus itu sendiri, atau dapat dikatakan mengandung minat intrinsik
(intrinsic interest).
2. Studi kasus intrumental (intrumental case study), apabila kasus yang
dipelajari secara mendalam karena hasilnya akan dipergunakan untuk
memperbaiki atau menyempurnakan teori yang telah ada atau untuk
menyusun teori baru. Hal ini dapat dikatakan studi kasus instrumental, minat
untuk mempelajarinya berada di luar kasusnya atau minat eksternal (external
interest).
3. Studi kasus kolektif (collective case study), apabila kasus yang dipelajari
secara mendalam merupakan beberapa (kelompok) kasus, walaupun masing-
masing kasus individual dalam kelompok itu dipelajari, dengan maksud untuk
mendapatkan karakteristik umum, karena setiap kasus mempunyai ciri
tersendiri yang bervariasi.

2.5 Langkah-Langkah Penelitian Studi Kasus

1. Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara


bertujuan (purposive) dan bukan secara rambang. Kasus dapat dipilih oleh
peneliti dengan menjadikan objek orang, lingkungan, program, proses, dan
masvarakat atau unit sosial. Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus

11
haruslah masuk akal, sehingga dapat diselesaikan dengan batas waktu dan
sumbersumber yang tersedia
2. Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalarn pengumpulan data, tetapi
yang lebih dipakai dalarn penelitian kasus adalah observasi, wawancara, dan
analisis dokumentasi. Peneliti sebagai instrurnen penelitian, dapat
menyesuaikan cara pengumpulan data dengan masalah dan lingkungan
penelitian, serta dapat mengumpulkan data yang berbeda secara serentak.
3. Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai mengagregasi,
mengorganisasi, dan mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang dapat
dikelola. Agregasi merupakan proses mengabstraksi hal-hal khusus menjadi
hal-hal umum guna menemukan pola umum data. Data dapat diorganisasi
secara kronologis, kategori atau dimasukkan ke dalam tipologi. Analisis data
dilakukan sejak peneliti di lapangan, sewaktu pengumpulan data dan setelah
semua data terkumpul atau setelah selesai dan lapangan.
4. Perbaikan (refinement): meskipun semua data telah terkumpul, dalam
pendekatan studi kasus hendaknya dilakukan penvempurnaan atau penguatan
(reinforcement) data baru terhadap kategori yang telah ditemukan.
Pengumpulan data baru mengharuskan peneliti untuk kembali ke lapangan
dan barangkali harus membuat kategori baru, data baru tidak bisa
dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah ada.
5. Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif, rnudah
dibaca, dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas,
sehingga rnernudahkan pembaca untuk mernahami seluruh informasi penting.
Laporan diharapkan dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus
kehiclupan seseorang atau kelompik

12
2.6 Kelebihan dan Kelemahan Studi Kasus

Dalam melakukan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus, terdapat
kelebihan dan kekurangan pada metode penelitian studi kasus yang diantaranya :

2.6.1 Kelebihan Studi Kasus

1. Studi kasus mampu mengungkap hal-hal yang spesifik, unik dan hal-hal yang
amat mendetail yang tidak dapat diungkap oleh studi yang lain. Studi kasus
mampu mengungkap makna di balik fenomena dalam kondisi apa adanya atau
natural.
2. Studi kasus tidak sekedar memberi laporan faktual, tetapi juga memberi
nuansa, suasana kebatinan dan pikiran-pikiran yang berkembang dalam kasus
yang menjadi bahan studi yang tidak dapat ditangkap oleh penelitian
kuantitatif yang sangat ketat.

2.6.2 Kelemahan Studi Kasus

Dari kacamata penelitian kuantitatif, studi kasus dipersoalkan dari segi validitas,
reliabilitas dan generalisasi. Namun studi kasus yang sifatnya unik dan kualitatif tidak
dapat diukur dengan parameter yang digunakan dalam penelitian kuantitatif, yang
bertujuan untuk mencari generalisasi.

2.7 Yang Membuat Studi Kasus Dapat Diteladani

Dalam penelitian studi kasus salah satu tugas yang paling menantang adalah
menentukan suatu studi kasus yang patut diteladani. Meskipun tak ada bukti langsung
yang cukup tersedia, beberapa pemikiran menampilkan suatu cara yang bisa dipakai
kesimpulan.

13
Studi kasus yang bagus melampaui prosedur metodologis yang telah diteliti.
Terdapat lima karakteristik umum dari suatu studi kasus yang patut diteladani
dideskripsikan berikut ini ;

2.7.1 Studi Kasus Harus Signifikan

Karekteristik umum yang pertama ini mungkin berada diluar target. Jika seorang
peneliti mempunyai akses “situs” hanya sedikit, atau jika sumber-sumbernya sangat
terbatas, studi kasus yang dihasilkan mungkin hanya terbatas pada topik yang
bersignifikansi sedang. Situasi ini tidak akan membawa ke studi kasus yang patut
diteladani. Namun demikian bila terdapat pilihan studi kasus yang diharapkan
mungkin masih bisa dicapai dimana :

 Kasus individualnya merupakan suatu minat yang langka atau minat


publik secara umum.
 Isu – isu yang ditekankan penting secara nasional baik dalam
terminologi-terminologi teoretis maupun praktis

2.7.2 Studi Kasus Harus Lengkap

Karekter ini sangat sulit dijelaskan secara opersional. Namun demikian, perasaan
lengkap dalam pengerjaan studi kasus sama pentingnya dengan penetapan rangkaian
lengkap pada eksperimentasi laboratorium. Kesemuanya merupakan masalah
penetapan batas upaya tetapi, pedoman untuk itu hanya sedikit sekali.

Untuk studi kasus, kelengkapan dapat dikarekteristikan pada sedikitnya tiga cara.

1. Kasus yang lengkap adalah kasus di mana batas-batas kasusnya yaitu


perbedaan antara fenomena yang akan diteliti dan dikonteksnya diberikan
perhatian yang eksplisit.

14
2. Mencakup pengumpulan bukti. Studi kasus yang lengkap harus
menunjukkan secara meyankinkan bahwa peniliti mempertaruhkan upaya
yang melelahkan dalam pengumpulan bukti yang relavan, seperti catatan-
catatan kaki apendiks dan semacamnya.
3. Mempermasalahkan ketiadaan kondisi buatan tertentu. Studi kasus tidak
akan lengkap jika studi kasus tersebut berakhir hanya karena sumber-
sumbernya jenuh. Peneliti kehabisan waktu, atau karena dia menemukan
kendala non penelitian lainnya.

2.7.3 Studi Kasus Harus Mempertimbangkan Perspektif Alternatif

Untuk studi kasus ekplanatoris, satu pendekatan yang berharga adalah


pentimbangan proposisi tandingan dan analisis bukti dari sudut tandingan tetapi
dalam pengerjaan studi kasus eksploratoris ataupun deksriptif pemeriksaan bukti dari
perspektif yang berbeda tersebut akan meningkatakan kesempatan-kesempatan studi
kasus untuk bisa diteladani.

2.7.4 Studi Kasus Harus Menampilkan Bukti yang Memadai

Studi kasus yang patut diteladani adalah yang secara bijaksana dan efektif
menyajikan bukti yang paling mendukung agar pembaca dapat memperoleh catata

Selektivitas ini tidaklah berarti bahwa bukti harus dinyatakan secara menyimpang
– misalnya, dengan hanya memasukkan bukti yang mendukung konklusi peneliti.
Sebaliknya bukti tersebut harus disajikan secara netral dengan data yang mendukung
ataupun yang menantang. Selektivitas bukti yang paling penting adalah tidak
memberantakan dengan informasi mendukung yang sekunder. Selektivitas semacam
ini menuntut banyak disiplin dari peneliti, yang biasanya ingin menyajikan
keseluruhan dasar bukti mereka dengan harapan bahwa volume atau bobot yang
ringan akan menggoncangkan keyakinan pembaca.

15
Tujuan lainnya ialah menyajikan bukti yang mencukupi untuk mencapai
kemantapan pembaca bahwa peniliti “mengetahui” bidangnya. Akhirnya, penampilan
bukti yang memadai harus diikuti oleh beberapa indikasi yang diperhatikan peneliti
tentang validitas bukti yang bersangkutan.

2.7.5 Studi Kasus Harus Ditulis dengan Cara yang Menarik

Satu karekteristik menyeluruh yang terakhir berkenaan dengan penulisan laporan


studi kasus. Terlepas dari cara yang digunakan (laporan tertulis, menyajian lisan, atau
bentuk lainnya), laporan tersebut harus menarik.

Untuk laporan tertulis, ini berarti gaya penulisan yang jelas, tetapi terus menerus
merangsang pembaca untuk melanjutkan bacaannya. Tulisan baik ialah tulisan yang
“memikat mata” jika anda membaca tulisan semacam itu maka anda tidak akan ingin
meninggalkannya, tetapi akan terus membaca paragraf demi paragraf, halaman demi
halaman hingga lelah.

Kemenarikkan, tawaran dan bujukkan ini merupakan karakteristik yang berbeda


dari studi kasus. Untuk menghasilkan studi kasus semacam ini peneliti di tuntut
antusias terhadap penelitian tersebut dan ingin mengkomunikasikan hasilnya secara
luas. Dalam kenyataannya peneliti yang baik bahkan berfikpir bahwa studi kasus
berisi konklusi-konklusi yang tuntas. Antusias ini harus menyebar ke keseluruhan
penelitiannya dan bahkan mengarah kestudi kasus yang patut dicontoh.

BAB 3

PENUTUP

16
3.1 Kesimpulan

Penetitian studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar
atau satu orang, subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa
tertentu yang diteliti secara mendalam. Studi kasus ini memiliki beberapa cirri-ciri
atau karakteristik, yaitu diantaranya (1) menempatkan obyek penelitian sebagai kasus,
(2) memandang kasus sebagai fenomena yang bersifat kontemporer, (3) dilakukan
pada kondisi kehidupan sebenarnya, (4) menggunakan berbagai sumber data, (5)
menggunakan teori sebagai acuan penelitian.

Terdapat tiga jenis studi kasus, yaitu studi kasus intrinsik, studi kasus intrumental,
dan studi kasus kolektif. Dalam penelitian studi kasus ini, ada beberapa langkah yang
harus kita lakukan agar proses penelitian ini dapat terlaksana atau menjadi penelitian
yang baik. Langkah – langkah penelitian studi kasus yaitu pemilihan kasus –
pengumpulan data – analisis data – perbaikan – penulisan laporan

DAFTAR PUSTAKA

17
Creswell, John. 2015. Penelitian Kualitatif dan Desain Riset. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar

Yin, Robert. 2015. Studi Kasus Desain dan Mode. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Mulyana, Dedi. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya

http://waskitamandiribk.wordpress.com/2010/06/29/pedoman-penelitian-
kualitatif-studi-kasus/

18