Anda di halaman 1dari 43

MAKALAH MKU AGAMA ISLAM

HAM DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM

Oleh :
Verayati (Nim:171610101039) FKG
Adellia C. P. (Nim:171610101105) FKG
Miladatus Syafiyah (Nim:171610101108) FKG
Clarissa Astiasari. (Nim:171610101116) FKG

UNIVERSITAS JEMBER
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Islam
mengajarkan syari’at dan aturan-aturan yang menjadi perilaku setiap umat muslim yang
beragama. Islam tidak hanya mengandung syari’at dan aturan tentang Islam, tapi juga
memberikan hak kepada setiap umat muslim. Ada beberapa hal yang harus diberikan
penjelasan, yaitu mengenai hukum islam, fungsi hukum islam, kontribusi umat islam, serta
hak asasi manusia setiap umat islam.Menurut Baharudin Lopa, Hak asasi manusia (HAM)
adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta (hak-hak yang
bersifat kodrat). Oleh karena itu, tidak ada kekuasaan apapun yang dapat mencabutnya.
Meskipun demikian, bukan berarti manusia dengan hak-haknya dapat berbuat semaunya,
sebab apabila seseorang melakukan sesuatu yang dapat dikatagorikan memperkosa atau
merampas hak asasi orang lain, harus mempertangung jawabkan perbuatannya. Hak asasi
manusia (HAM) menurut Islam itu sendiri harus merujuk pada ajaran Allah dan apa yang
diperbuat Nabi Muhammad SAW, jauh sebelum lahirnya piagam-piagam Hak Asasi Manusia
di Barat. Piagam Madinah yang dibuat oleh Nabi saw pada tahun 622 M. Merupakan
konstitusi yang menjunjung hak asasi manusia. Bahkan menurut sosiolog Amerika Robert N.
Bellah, konstitusi itu terlalu sangat modern. Konstitusi yang berisi 47 pasal itu secara tegas
melarang adanya diskriminasi dan penindasan serta memberi kebebasan dalam melaksanakan
agamanya masing-masing.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana kontribusi umat islam dalam perumusan dan penegakan hukum di
Indonesia ?
b. Bagaimana fungsi hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat ?
c. Bagaimana hukum HAM dalam Islam ?
d. Bagaimana demokrasi di dalam Islam ?

1.3 Tujuan
a. Mengenal lebih dalam hubungan hokum di Indonesia yang berkaitan dengan syariat
Islam.
b. Mengetahui fungsi hukum Islam di dalam kehidupan bermasyarakat
c. Mengetaui bagaimana hukum HAM dalam Islam
d. Mengetahui bagaimana demokrasi di dalam Islam

..
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kontribusi Umat Islam Dalam Perumusan Dan Penegakan Hukum Di


Indonesia.

Sistem hukum yang mewarnai hukum nasional kita di Indonesia selama ini dasarnya
terbentuk atau dipengaruhi oleh tiga pilar subsistem hukum yaitu sistem hukum barat, hukum
adat dan sistem hukum Islam, yang masing-masing menjadi sub-sistem hukum dalam sistem
hukum Indonesia. Sistem Hukum Barat merupakan warisan penjajah kolonial Belanda yang
selama 350 tahun menjajah Indonesia. Penjajahan tersebut sangat berpengaruh padasistem
hukum nasional kita. Sistem Hukum Adat bersendikan atas dasar-dasar alam pikiran bangsa
Indonesia, dan untuk dapat sadar akan sistem hukum adat orang harus menyelami dasar-dasar
alam pikiran yang hidup di dalam masyarakat Indonesia.Hukum Islam, yang merupakan
sistem hukum yang bersumber pada kitab suci AIquran dan yang dijelaskan oleh Nabi
Muhammad dengan hadis/sunnah-Nya serta dikonkretkan oleh para mujtahid dengan
ijtihadnya.
Adapun kontribusi umat islam dalam perumusan dan penegakan hukum di Indonesia
antara lain :

a. Undang – Undang Dasar 1945

Meskipun sudah ada tiga usulan tentang dasar negara, namun sampai 1 Juni 1945
sidang BPUPKI belum berhasil mencapai kata sepakat tentang dasar negara. Maka
diputuskan untuk membentuk panitia khusus yang diserahi tugas untuk membahas dan
merumuskan kembali usulan dari anggota, baik lisan maupun tertulis dari hasil sidang
pertama. Panitia khusus ini yang dikenal dengan Panitia 9 atau panitia kecil yang terdiri dari:
1. Ir. Soekarno (ketua)
2. Drs. Moh. Hatta (wakil ketua)
3. KH. Wachid Hasyim (anggota)
4. Abdoel Kahar Muzakar (anggota)
5. A.A. Maramis (anggota)
6. Abikoesno Tjokrosoeyoso (anggota)
7. H. Agus Salim (anggota)
8. Mr. Achmad Soebardjo (anggota)
9. Mr. Muhammad Yamin (anggota).

Pada tanggal 22 Juni 1945, Panitia Sembilan mengadakan pertemuan. Hasil dari
pertemuan tersebut, direkomondasikan Rumusan Dasar Negara yang dikenal dengan Piagam
Jakarta (Jakarta Charter) yang berisi:

1) Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-


pemeluknya.
2) Kemanusiaan yang adil dan beradab
3) Persatuan Indonesia
4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalan permusyawaratan
perwakilan
5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Tugas panitia kecil adalah menyempurnakan dan menyusun kembali rancangan UUD
yang telah disepakati. Selain panitia kecil di atas, adapula panitia Penghalus bahasa yang
anggotanya terdiri dari Prof. Dr. Mr. Soepomo, Prof. Dr. P.A.A. Hoesein Djayadiningrat.
Tanggal 13 Juli 1945 panitia perancang UUD yang diketuai Ir. Soekarno mengadakan
sidang untuk membahas hasil kerja panitia kecil perancang UUD.
Pada tanggal 14 Juli 1945 dalam rapat pleno BPUPKI menerima laporan panitia
perancang UUD yang dibacakan Ir. Soekarno. Dalam laporan tersebut tiga masalah pokok
yaitu:
a. pernyataan Indonesia merdeka
b. pembukaan UUD
c. batang tubuh UUD

Konsep pernyataan Indonesia merdeka disusun dengan mengambil tiga alenia pertama
piagam Jakarta. Sedangkan konsep Undang-Undang Dasar hampir seluruhnya diambil dari
alinea keempat piagam Jakarta.
Hasil kerja panitia perancang UUD yang dilaporkan akhirnya diterima oleh BPUPKI.
Kejadian ini merupakan momentum yang sangat penting karena disinilah masa depan bangsa
dan negara dibentuk.
Pada tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI atau Dokurtsu Junbi Cosakai dibubarkan oleh
Jepang karena dianggap terlalu cepat mewujudkan kehendak Indonesia merdeka dan mereka
menolak adanya keterlibatan pemimpin pendudukan Jepang dalam persiapan kemerdekaan
Indonesia.
Pada tanggal itu pula dibentuk PPKI atau Dokuritsu Junbi Inkai, dengan anggota
berjumlah 21 orang terdiri dari 12 orang dari Jawa, 3 orang dari Sumatra, 2 orang dari
Sulawesi, 1 orang dari Kalimantan, 1 orang dari Nusa Tenggara, 1 orang dari Maluku, 1
orang dari Tionghoa.
Setelah dihilangkannya anak kalimat "dengan kewajiban menjalankan syariah Islam
bagi pemeluk-pemeluknya" maka naskah Piagam Jakarta menjadi naskah Pembukaan UUD
1945 yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (PPKI). Pengesahan UUD 1945 dikukuhkan oleh Komite Nasional Indonesia Pusat
(KNIP) yang bersidang pada tanggal 29 Agustus 1945.

b. Undang - Undang Perkawinan

Perkawinan dalam bahasa Arab disebut dengan ‫ النكاح‬yang bermakna ‫ الوطء‬dan al-
Dammu wa al-Tadakhul. Terkadang juga disebut dengan al-Dammu wa al Jam’u, atau ‘ibarat
‘aii al-wath’ wa al-‘aqd yang bermakna bersetubuh, berkumpul dan akad. Beranjak dari
makna etimologis inilah para ulama fikih mendefinisikan perkawinan dalam konteks
hubungan biologis.
Untuk lebih jelasnya beberapa definisi akan diuraikan di bawah ini seperti yang
dijelaskan oleh Wahbah al-Zuhaily sebagai berikut:“Akad yang membolehkan terjadinya al-
istimta’ (persetubuhan) dengan seorang wanita, atau melakukan wathi’ dan berkumpul
selama wanita tersebut bukan wanita yang diharamkan baik dengan sebab keturunan atau
sepersusuan”.
Definisi lain yang diberikan Wahbah al-Zuhaily adalah:“Akad yang telah ditetapkan
oleh syari’ agar seorang laki-laki dapat mengambil manfaat untuk
melakukan istimta’ dengan seorang wanita atau sebaliknya”.Menurut Hanafiah, “Nikah
adalah akad yang memberi faedah untuk melakukan mut’ah secara sengaja” artinya kehalalan
seorang laki-laki untuk beristimta’ dengan seorang wanita selama. tidak ada. faktor yang
menghalangi sahnya pernikahan tersebut secara syar’i.
Menurut Hanabilah, “Nikah adalah akad yang menggunakan lafaz inkah yang
bermakna tajwiz dengan maksud mengambil manfaat untuk bersenang-senang”.Selanjutnya
al-Malibari mendefinisikan perkawinan sebagai akad yang mengandung
kebolehan (ibahat) melakukan persetubuhan yang menggunakan kata nikah
atau tazwij.Muhammad Abu Zahrah di dalam kitabnya al-Ahwal al-
Syakhsiyyah, mendefinisikan nikah sebagai akad yang menimbulkan akibat hukum berupa
halalnya melakukan persetubuhan antara laki-laki dengan perempuan, saling tolong-
menolong serta menimbulkan hak dan kewajiban di antara. keduanya.
Di dalam UU Perkawinan No.1 Tahun 1974 pasal 1, pengertian pernikahan adalah
“Ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan
tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa”.Menurut Kompilasi Hukum Islam yaitu di Pasal 2 dinyatakan bahwa,
“Perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat
atau miitsaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan
ibadah”.

Prinsip-prinsip perkawinan
Menurut M. Yahya Harahap asas-asas yang dipandang prinsip di dalam UU
Perkawinan adalah sebagai berikut:
1) Menampung segala kenyataan-kenyataan yang hidup dalam masyarakat bangsa
Indonesia pada saat sekarang ini.
2) Sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman
3) Memuat tujuan dari pernikahan yaitu: membentuk keluarga yang kekal
4) Kesadaran akan hokum agama dan keyakinan masing-masing.
5) Menganut asas monogami tetapi masih terbuka untuk melakukan poligami
6) Perkawinan dilaksanakan oleh orang yang matang jiwa dan raganya
7) Persamaan hedudukan antara suami dan istri dalam rumah tanggan maupun dalam
pergaulan di masyarakat.

Dalam perspektif lain, Musdah Mulia menjelaskan prinsip=prinsip perkawinan


menurut ayat-ayat al-Quran, yaitu:
1) Prinsip kebebasan memilih jodoh
2) Prinsip mawaddah wa rahmah
3) Prinsip saling melengkapi dan melindungi
4) Prinsip mu’asarah bi al-ma’ruf

Orang yang berhak melakukan perkawinan


Orang-orang yang diperbolehkan melakukan pernikahan itu baik di dalam UU
Perkawinan no.1 tahun 1974 maupun KHI, ketentuannya sama yaitu bagi calon mempelai
laki-laki berusia 19 tahun dan bagi calon mempelai perempuan berusia 16 tahun

Pasal 7 UU Perkawinan no.1 tahun 1974


(1) Perkawinan hanya diizinkan bila piha pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun
dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun.

Pasal 15 KHI
(1) Untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga, perkawinan hanya boleh dilakukan
calon mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan dalam pasal 7 Undang-undang
No.1 tahun 1974 yakni calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon isteri
sekurang-kurangnya berumur 16 tahun
(2) Bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapati izin
sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat (2),(3),(4) dan (5) UU No.1 Tahun 1974.

Syarat-syarat perkawinan
Perkawinan merupakan salah satu ibadah dan memiliki syarat-syarat sebagaimana
ibadah lainnya. Syarat-syarat tersebut tersirat dalam UU Perkawinan dan KHI yang
dirumuskan sebagai berikut:
1) Syarat-syarat calon mempelai pria adalah:
a) Beragama islam
b) Laki-laki
c) Jelas orangnya
d) Dapat memberikan persetujuan
e) Tidak terdapat halangan perkawinan
2) Syarat-syarat calon mempelai wanita adalah:
a) Beragama islam
b) Perempuan
c) Jelas orangnya
d) Dapat memberikan persetujuan
e) Tidak terdapat halangan perkawinan
E. Perkawinan yang dilarang

Di dalam UU Perkawinan no.1 tahun1974 Pasal 8 disebutkan beberapa pernikahan


yang dilarang, diantaranya:
Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah atau ke
atas;berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara,antara
seorang dengan seorang saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara
neneknya;berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu/bapak
tiri;berhubungan susuan, anak susuan, saudara dan bibi/paman susuan;berhubungan saudara
dengan isteri atau sebagai bibi atau kemenakan dari isteri, dalam hal seorang suami beristeri
lebih dari seorang;yang mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau praturan lain yang
berlaku dilarang kawin.

Sedangkan dalam KHI pasal Pasal 39 perkawinan itu dilarang apabila disebabkan oleh
beberapa faktor dibawah ini:
(1) Karena pertalian nasab :
Dengan seorang wanita yangmelahirkan atau yang menurunkannya atau
keturunannya;dengan seorang wanita keturunan ayah atau ibu;dengan seorang wanita saudara
yang melahirkannya
(2) Karena pertalian kerabat semenda :
Dengan seorang wanita yang melahirkan isterinya atau bekas isterinya;dengan
seorang wanita bekas isteri orang yang
menurunkannya;dengan seorang wanita keturunan isteri atau bekas isterinya, kecuali pu
tusnya hubungan perkawinan dengan bekas isterinya itu qobla al dukhul;dengan seorang
wanita bekas isteri keturunannya.
(3) Karena pertalian sesusuan :
Dengan wanita yang menyusui dan seterusnya menurut garis lurus ke atas;dengan
seorang wanita sesusuan dan seterusnya menurut garis lurus ke bawah;dengan seorang wanita
saudara sesusuan, dan kemanakan sesusuan ke bawah;dengan seorang wanita bibi sesusuan
dan nenek bibi sesusuan ke atas;dengan anak yang disusui oleh isterinya dan keturunannya.

Sedangkan di dalam KHI perkawinan yang dilarang itu adalah sebagai berikut:
Pasal 39
Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita
disebabkan :
(1) Karena pertalian nasab :
a. dengan seorang wanita yangmelahirkan atau yang menurunkannya atau
keturunannya;
b. dengan seorang wanita keturunan ayah atau ibu;
c. dengan seorang wanita saudara yang melahirkannya
(2) Karena pertalian kerabat semenda:
a. dengan seorang wanita yang melahirkan isterinya atau bekas isterinya;
b. dengan seorang wanita bekas isteri orang yang menurunkannya;
c. dengan seorang wanita keturunan isteri atau bekas isterinya, kecuali putusnya
hubungan perkawinan dengan bekas isterinya itu qobla al dukhul;
d. dengan seorang wanita bekas isteri keturunannya.
(3) Karena pertalian sesusuan :
a. dengan wanita yang menyusui dan seterusnya menurut garis lurus ke atas;
b. dengan seorang wanita sesusuan dan seterusnya menurut garis lurus ke bawah;
c. dengan seorang wanita saudara sesusuan, dan kemanakan sesusuan ke bawah;
d. dengan seorang wanita bibi sesusuan dan nenek bibi sesusuan ke atas;
e. dengan anak yang disusui oleh isterinya dan keturunannya.

Pasal 40
Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria denagn seorang wanita
karena keadaan tertentu:
a. karena wanita yang bersangkutan masih terikat satu perkawinan dengan pria lain;
b. seorang wanita yang masih berada dalam masa iddah dengan pria lain;
c. seorang wanita yang tidak beragama islam.

Pasal 41
(1) Seorang pria dilarang memadu isterinya dengan seoarang wanita yang mem
punyai hubungan pertalian nasab atau sesusuan dengan isterinya;
a. saudara kandung, seayah atau seibu atau keturunannya;
b. wanita dengan bibinya atau kemenakannya.
(2) Larangan tersebut pada ayat (1) tetap berlaku meskipun isteri-
isterinya telah ditalak raj`i, tetapi masih dalam masa iddah.
Pasal 42
Seorang pria dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang wanita apabila
pria tersebut sedang mempunyai 4 (empat) orang isteri yang keempat-empatnya masih
terikat tali perkawinan atau
masih dalam iddah talak raj`i ataupun salah seorang diantara mereka masih terikat tali
perkawinan sedang yang lainnya dalam masa iddah talak raj`i.

Pasal 43
(1) Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria :
a. dengan seorang wanita bekas isterinya yang ditalak tiga kali;
b. dengan seorang wanita bekas isterinya yang dili`an.
(2) Larangan tersebut pada ayat (1) huruf a. gugur, kalau bekas isteri
tadi telah kawin dengan pria lain, kemudian perkawinan tersebut putus ba`da dukhul dan
telah habis masa iddahnya.

Pasal 44
Seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria
yang tidak beragama Islam.

c. Pengadilan Agama

Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan


menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama
Islam, dibidang : Perkawinan, Waris, Wasiat, Hibah Wakaf, Zakat, Infaq, Shadaqah,
Ekonomi Syariah; memberikan keterangan, pertimbangan dan nasehat hukum Islam
kepada instansi pemerintah di daerah hukumnya apabila diminta dan memberikan itsbat
kesaksian rukyat hilal serta penentuan arah kiblat dan waktu sholat serta tugas dan
kewenangan lain yang diberikan oleh atau berdasarkan Undang-undang (Pasal 49 dan 52
UU No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan
Agama).
RUANG LINGKUP KEWENANGAN
A. Perkawinan

1. Izin beristri lebih dari seorang

2. Izin melangsungkan perkawinan bagi orang yang belum berusia 21


tahun dalam hal orang tua wali atau keluarga dalam garis lurus ada
perbedaan pendapat

3. Dispensasi Kawin

4. Pencegahan perkawinan

5. Penolakan perkawinan oleh PPN

6. Pembatalan perkawinan

7. Gugatan kelalauan atas kewajiban suami dan isteri

8. Perceraian karena talak

9. Gugatan perceraian

10. Penyelesaian harta bersama

11. Penguasaan anak-anak

12. Ibu dapat memikul biaya pemeliharaan dan pendidikan anak bilamana
bapak yang seharusnya bertanggung jawab tidak mematuhinya

13. Penentuan kewajiban memberi biaya penghidupan oleh suami kepada


bekas isteri atau penentuan suatu kewajiban bagi bekas isteri

14. Putusan tentang sah tidaknya seorang anak

15. Putusan tentang pencabutan kekuasaan orang tua

16. Pencabutan kekuasaan wali

17. Penunjukan orang lain sebagai wali oleh pengadilan dalam hal
kekuasaan seorang wali dicabut

18. Penunjukan wali dalam hal seorang anak yang belum cukup umur
(18) tahun) yang ditinggal kedua orang tuanya

19. Pembebanan kewajiban ganti kerugian atas harta benda anak yang ada
di bawah kekuasaannya

20. Penetapan asal-usul dan penetapan pengangkatan anak berdasarkan


hukum islam

21. Putusan tenang hal penolakan pemberian keterangan untuk melakukan


perkawinan campuran

22. Pernyataan tentang sahnya perkawinan yang terjadi sebelum UU No.


1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan dijalankan menurut peraturan
yang lain

B. Waris

1. Penentuan orang-orang yang menjadi ahli waris

2. Penentuan harta peninggalan

3. Penentuan bagian masing-masing ahli waris

4. Pelaksanaan pembagian harta peninggalan

C. Ekonomi Syar'ah

1. Bank Syari'ah

2. Lembaga keuangan mikro syariah

3. Asuransi syari'ah

4. Reasuransi syari'ah

5. Reksa dana syari'ah

6. Obligasi syariah dan surat berharga

7. Sekuritas syari'ah

8. Pembayaran syari'ah

9. Pengadaan syari'ah

10. Dana pensiunan lembaha keuangan syari'ah, dan

11. Bisnis syari'ah


2.2 Fungsi Hukum Islam dalam Kehidupan Bermasyarakat

Manusia hidup hidup di dunia berdampingan dengan sesama makhluk hidup lainnya
membentuk suatu peradaban yang biasa disebut sebagai lingkungan masyarakat. Lingkungan
tersebut merupakan tempat dimana seseorang harus menghargai dan menghormati hak dan
kewajiban orang lain agar tercipta suatu peradaban yang aman, damai dan tentram. Untuk
mewujudkannya dibentuklah suatu peraturan yang tertulis maupun tidak tertulis yang
mengikat dan wajib dipatuhi serta ditaati oleh masyarakat yang disebut hukum. Hukum dapat
mengatur pola perilaku masyarakat dalam kegiatan sehari-hari agar tidak menimbulkan
kerugian bagi orang lain.
Dalam Islam, posisi hukum sangat dijunjung tinggi keberadaanya dalam mengatur
perilaku kehidupan bermasyarakat. Fungsi hukum adalah sebagai media pengatur interaksi
sosial. Di dalamnya terdapat petunjuk mengenai pola perilaku yang seharusnya dilakukan
dengan harapan agar segala sesuatunya berjalan tertib dan teratur. Dengan adanya hukum,
masyarakat dapat terlindungi, aman dan nyaman (Didiek, 2015). Hukum Islam adalah hukum
yang ditetapkan oleh Allah melalui wahyu-Nya yang kini terdapat dalam Al qur’an dan
dijelaskan oleh Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya melalui Sunnah beliau yang kini
terhimpun dengan baik dalam kitab-kitab hadis. Tujuannya yaitu berupaya mencegah
kerusakan pada manusia dan mendatangkan kemaslahatan bagi mereka untuk mencapai
kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak, dengan jalan mengambil segala yang
manfaat dan mencegah atau menolak yang madarat. Abu Ishaq al Shatibi merumuskan lima
tujuan hukum Islam, yaitu memelihara (1) agama, (2) jiwa, (3) akal, (4) keturunan, dan (5)
harta yang disebut “maqashid al khamsah”. Kelima tujuan ini kemudian disepakati oleh para
ahli hukum Islam.
Kepatuhan kepada hukum Islam merupakan tolok ukur keimanan seseorang. Hukum
Islam bersifat ijabi dan salbi, artinya hukum Islam itu memerintahkan. mendorong, dan
menganjurkan melakukan perbuatan makruf serta melarang perbuatan munkar dan segala
macam kemudaratan. Hukum Islam tidak hanya berisi perintah dan larangan, tetapi juga
berisi ajaran-ajaran untuk membentuk pribadi-pribadi muslim sejati, berahlak mulia , berhati
suci, berjiwa tinggi (tidak kerdil) serta mempunyai kesadaran akan segala tanggung jawab.
Dengan begitu, dalam kehidupan bermasyarakat hukum Islam sebenaranya memilki fungsi
yang cukup banyak, namun dalam pembahasan ini hanya akan dikemukakan peranan
utamanya saja, yaitu sebagai berikut.

A. Fungsi Ibadah
Fungsi paling utama hukum islam dalam kehidupan bermasyarakat yakni untuk
beribadah kepada Allah SWT. Dalam fungsi ini, hukum islam menata pembinaan hubungan
manusia dengan Penciptanya yang kepada Dia manusia harus mengabdi dalam
melaksanakan perintah agama. Dengan berbagai ragam ibadah yang disyariatkan, manusia
ditumbuh kembangkan kesadaran moral sekaligus kesadaran sosialnya (Nunung, 2001).
Maka dari itu, penting untuk melaksanakan segala perintah agama untuk beribadah kepada
Allah SWT. karena akan membawa kemaslahatan bagi manusia salah satunya dengan
menjalankan sholat 5 waktu dan sholat sunnah yang dianjurkan lainnya. Hal tersebut semata-
mata sebagai suatu bentuk rasa terima kasih karena telah diizinkan untuk dapat hidup di bumi
dengan berbagai kenikmatan yang telah Allah sediakan untuk manusia serta wujud
pengabdian kepadanya.

B. Fungsi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar


Merupakan fungsi hukum islam yang mengandung perintah dan larangan yang harus
dijalankan oleh setiap manusia dalam rangka untuk mencapai kemaslahatan (kebaikan) dan
menjauhi kemadlaratan (keburukuan) di dunia dan akhirat. Hukum Islam sebagai hukum
yang ditunjukkan untuk mengatur hidup dan kehidupan umat manusia, jelas dalam praktik
akan selalu bersentuhan dengan masyarakat. Penetapan hukum tidak pernah mengubah atau
memberikan toleransi dalam hal proses pengharamannya. Misalnya, dalam hal pengharaman
hukum riba dan khamar (minuman keras) (Nunung, 2001). Pengharaman hukum ini tidak
secara langsung diterapkan dan dipaksakan untuk dipatuhi di lingkungan masyarakat
mengingat kebiasaan tersebut sudah lama dilakukan oleh mereka jauh sebelum Nabi
Muhammad SAW.diutus ke bumi untuk memperbaiki akhlak manusia.
Proses penetapan hukum umumnya dilakukan secara bertahap agar tujuan dari hukum
tersebut dapat tercapai yakni hukum tersebut dipatuhi dan dilaksanakan dengan kesadaran
penuh sehingga dapat dikatakan bahwa hukum juga berfungsi sebagai pengendali sosial
(kontrol sosial). Hukum juga memperhatikan kondisi masyarakat agar hukum tidak
dilecehkan dan tali kendali sosial terlepas. Dari fungsi amar ma'ruf nahi munkar ini akan
tercapai tujuan hukum Islam yaitu mendatangkan (menciptakan) kemashlahatan dan
menghindarkan kemudaratan di dunia dan akhirat contohnya riba dan khamr yang tidak
hanya mengancam pelakunya tetapi juga lingkungan sekitarnya.

C. Fungsi Zawajir
Dalam fungsi zawajir ini hukum Islam berperan sebagai sarana pemaksa yang
melindungi warga masyarakat dari segala bentuk ancaman serta perbuatan yang
membahayakan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka ditetapkannya sanksi yang akan
diterima seseorang ketika melakukan tindakan yang melanggar hukum Islam. Fungsi ini
terlihat dalam pengharaman membunuh dan berzina, yang disertai dengan ancaman hukum
atau sanksi hukum. Qishash, Diyat, ditetapkan untuk tindak pidana terhadap jiwa/ badan,
hudud untuk tindak pidana tertentu (pencurian , perzinaan, qadhaf, hirabah, dan riddah), dan
ta‟zir untuk tindak pidana selain kedua macam tindak pidana tersebut (Nunung, 2001).

D. Fungsi Tanzim wa islah al-Ummah


Fungsi hukum Islam keempat adalah sebagai sarana untuk mengatur memperlancar
proses interaksi sosial sehingga dapat terwujud masyarakat yang harmonis, aman dan
sejahtera. Fungsi hukum ini terlihat pada penentuan hukum pada masalah perkawinan dan
kewarisan. Pada masalah ini, hukum islam cukup membahas secara mendetail dan terperinci
misalnya saja larangan perkawinan dikarenakan beda agama. Masalah lain yaitu masalah
muamalah. Dalam masalah ini, hukum islam hanya menetapkan aturan pokok dan nilai
dasarnya saja. Perinciannya diserahkan kepada para ahli dan pihak-pihak yang berkompeten
pada bidang masing-masing dengan tetap memperhatikan dan berpegang teguh pada aturan
pokok dan nilai dasar tersebut (Nunung, 2001).
Dari keempat fungsi tersebut dapat dikatakan bahwa semua elemen dan tindak tanduk
perilaku manusia dalam menjalankan kehidupan di bumi segalanya diatur di dalam hukum
Islam. Berbagai bidang kehidupan semuanya ada di dalam hukum islam diantaranya bidang
ekonomi, politik, sosial, budaya dan agama. Dengan adanya hukum islam di kehidupan
bermasyarakat diharapkan terbentuknya peradaban manusia yang jauh lebih baik, harmonis,
aman, damai dan dapat menjunjung tinggi rasa persaudaraan antar sesama.

2.3 Hak Asasi Manusia Menurut Islam


a. Sekilas Pandang Mengenai Islam
Kata Islam berasal dari bahasa arab , dari kata aslama, yuslimu islaman yang berarti
menyerah patuh (DR Zainuddin Nainggolan, 2000;9). Menurut Nurcholish Madjid yang
dikutip dari buku Junaidi Idrus (2004;87) Islam itu adalah sikap pasrah kehadirat Tuhan.
Kepasrahan merupakan karakteristik pokok semua agama yang benar. Inilah world viewAl-
Qur’an, bahwa semua agama yang benar adalah Al-Islam, yakni sikap berserah diri kehadirat
Tuhan. Dan bagi orang yang pasrah kepada Tuhan adalah muslim.
Menurut Masdar F. Mas’udi (1993;29) klaim kepasrahan dalam pengertian Islam
termaktub dalam tiga tataran. Pertama, Islam sebagai aqidah, yaitu sebagai komitmen nurani
untuk pasrah kepada Tuhan. Kedua, Islam sebagai syari’ah, yakni ajaran mengenai
bagaimana kepasrahan itu dipahami. Ketika, Islam sebagai akhlak, yakni suatu wujud
perilaku manusia yang pasrah, baik dalam dimensi diri personalnya maupun dalam dimensi
sosial kolektifnya. Berangkat dari pengertian diatas Islam adalah agama yang mengajarkan
seseorang untuk menyerah pasrah kepada aturan Allah (Sunnatullah) baik tertulis maupun
tidak tertulis. Dan orang yang menyerah pasrah kepada Tuhan dan hukum-Nya disebut
seorang muslim.
Dalam Islam itu terdapat dua kelompok sumber ajaran Islam. Kelompok pertama
disebut ajaran dasar (qat’I al-dalalah), yaitu Al-Qur’an dan Hadist sebagai dua pilar utama
ajaran Islam. Al-Qur’an mengandung 6236 ayat dan dari ayat-ayat itu, menurut para ulama
hanya 500 ayat yang mengandung ajaran mengenai dunia dan akhirat selebihnya merupakan
bagian terbesar mengandung penjelasan tentang para nabi, rasul, kitab dan ajaran moral
maupun sejarah ummat terdahulu. Kelompok kedua disebut ajaran bukan dasar (zhanni al-
dalalah), yaitu ajaran yang merupakan produk ulama yang melakukan ijtihad dan muatan
ajarannya bersifat relative, nisbi, bisa berubah dan tidak harus dipandang suci, sakaral
ataupun mengikat (Junaidi Idrus, 2004;95-96).

b. Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)


Secara etimolgi hak merupakan unsur normative yang berfungsi sebagai pedoman
prilaku , melindumgi kebebasan, kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia
dalam menjadi harkat dan martabatnya. Sedangkan asasi berarti yang bersifat paling
mendasar yang dimiliki manusia sebagai fitrah, sehingga tak satupun makhluk
mengintervensinya apalagi mencabutnya.
Secara istilah HAM dapat dirumuskan dengan beberapa pendapat yang salah satu
diantaranya:

 HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia, sesuai dengan kodratnya
(Kaelan: 2002).
 Menurut pendapat Jan Materson (dari komisi HAM PBB), dalam Teaching Human
Rights, United Nations sebagaimana dikutip Baharuddin Lopa menegaskan bahwa
HAM adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia, yang tanpanya manusia
mustahil dapat hidup sebagai manusia
 John Locke menyatakan bahwa HAM adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh
Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati.
 Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan
bahwa “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan
keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara,
hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan
martabat manusia.

Hak Asasi Manusia adalah hak-hak dasar atau hak-hak pokok yang di miliki oleh
setiap umat manusia sejak lahir sebagai Anugrah Tuhan YME kepada hambanya, yaitu umat
manusia tanpa terkecuali.
Hak asasi manusia melekat pada diri manusia sejak lahir, karena itu muncul gagasan
tentang hak asasi manusia dan pengakuan atas-Nya sehingga dalam proses ini lahir beberapa
naskah. Yang antara lain:

Magna Carta (Piagam Agung, 15 Juni 1215 )


Magna Carta di inggris memuat hal-hal sebagai berikut:

1) Seorang tidak boleh dipenjarakan (dihukum)dengan tidak ada vonis yang sah menurut
hukum.
2) Suatu pajak (cukai) tidak boleh dinaikkan dengan tanpa persetujuan sebuah dewan yang di
dalamnya duduk kaum bangsawan, kaum pendeta, dan rakyat jelata.

Habeas Courpus Act Petition of Right


Suatu dokumen yang lahir karena tuntutan rakyat yan duduk di House of Commons
(parlemen) kepada raja Charles III.

Bill of Right (UU Hak, Inggris 1689)


Undang-undang yang di terima parlemen inggris setelah mengadakan revolusi tidak berdarah
kepada raja James II (peristiwa kemenangan atas raja), yang isisnya tentang hak-hak dan
kebenaran warga Negara.

Declaration of Independence (Pernyataan Kemerdekaan USA, 4 Juli 1776)


Tututan adanya hak bagi setiap orang untuk hidup merdeka.

Revolusi Perancis, 5 Agustus 1789


Bahwa manusia di lahirkan sama dalam keadaan merdeka dan memiliki hak-hak yang sama.
Terknal dengan symbol liberte = kemerdekaan, egalite = persamaan, dan fraternite
=persaudaraan.

The Four Freedom (Empat Kebebasan USA 1941)


Frankin D. Roosevelt (Amerika Serikat) merumuskan tentang

1) Freedom of speech and expression (kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat);


2) Freedom of worship (kebebasan beribadat);
3) Freedom from want (kemelaratan);
4) Freedom from fear (kebebasan dari rasa takut).

Universal Declaration of Human Right (10 Desember 1948)


Universal Declaration of Human Right (pernyataan sedunia tentang Hak Asasi Manusia).
Pernyataan ini berisi, antara lain hak kebebasan politik, hak social, hak beristirahat dan
liburan, hak akan tingkat penghidupan yang cukup bagi penjagaan kesehatanm keselamtan
diri sendiri dan keluarga, serta hak asasi Pendidikan

Hak-hak asasi manusia dapat dibagi atau dibedakan menjadi:


1. Hak-hak asasi pribadi atau Personal Right yang meliputi kebebasan menyatakan pendapat,
kebebasan memeluk agama, dan kebebasan bergerak.

2. Hak-hak asasi ekonomi atau Property Right, yaitu hak untuk memiliki sesuatu, membeli
dan menjualnya serta memanfaatkannya.

3. Hak-hak asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hokum dan pemerintahan
atau yang biasa disebut Right of Legal Equality.

4. Hak-hak asasi politik atau Political Right, yaitu hak untuk ikut serta dalam pemerintahan,
hak pilih (memilih dan dipilih dalam pemilihan umum), dan mendirikan partai politik.

5. Hak-hak asasi social dan kebudayan atau Social and Cultur Right, misalntya hak untuk
memilih Pendidikan dan mengembangkan kebudayaan.

6. Hak-hak asasi untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan atau
Prosedural Right, misalnya pengaturan dalam hal penangkapan, penggeledahan dan
peradilan.

c. Sejarah tentang Hak Asasi Manusia (HAM)


Tonggak berlakunya HAM internasional ialah pada Deklarasi Universal Hak Asasi
Manusia (DUHAM) pada 10 Desember 1948 di Paris, Prancis. Disini tonggak deklarasi
universal mengenai hak asasi manusia yang mengakui hak setiap orang diseluruh dunia.
Deklarasi ini ditanda tangani oleh 48 negara dari 58 negara anggota PBB dan disetujui oleh
majelis umum PBB. Perumusan penghormatan dan pengakuan norma-norma HAM yang
bersifat universal, nondiskriminasi, dan imparsial telah berlangsung dalam sebuah proses
yang sangat panjang.
Sejarah awal hak asasi manusia di barat berkembang sejak tahun 1215 yaitu dalam
Magna Charta yang berisi aturan mengenai tindakan dan kebijakan negara supaya tidak
berjalan sewenang-wenang. Isi dari Magna Charta ialah bermaksud untuk mengurangi
kekuasan penguasa. Usaha untuk diadakannya Magna Charta ini dimulai dari perjuangan tuan
tanah dan gereja untuk membatasi kekuasaan raja dan para anggota keluarga. Pada periode
awal ini hubungan antara isi dasar HAM adalah mengenai (hubungan) antara anggota
masyarakat yang berada dibawah kekuasaan yang diatur kebendaanya.
Sekelompok tuan tanah dan ksatria menggalang kekuatan dan mereka berhasil
mendesak raja untuk tidak lagi memberlakukan tindakan penahan, penghukuman dan
perampasan benda benda secara sewenag-wenang. Raja Jhon terpaksa menyetujui tuntutan ini
dengan memberikan cap pengesahan yang berlangsung pada juni 1215 di Runnymede, sebuah
padang rumput di pinggir sungai Thames. Isi dari Magna Charta ini ada tiga. Pertama, raja
dilarang menarik pajak sewenang wenang. Kedua, pejabat pemerintah dilarang mengambil
jagung dengan tanpa membayar. Dan yang ketiga, tidak seorang pun dapat dipenjara tanpa
saksi yang jelas. Pengesahan ini menjadi dokumen tertulis yang pertama tentang hak-hak tuan
tanah, gereja, ksatria dan orang merdeka atau orang sipil yang belum menikmati kebebasan.
Berlanjut setelah keberhasilan tuan tanah, bangsawan dan orang merdeka untuk
memperjuangkan hak-hak mereka di hadapan raja membangkitkan kesadaran diberbagai
kalangan masyarakat terhadap pentingnya hak-hak untuk dihormati dan dilindungi. Pada
1628, kaum bangsawan menuntut hak-hak mereka kepada raja. Mereka mencetuskan Petition
Of Right. Yang menuntut sebuah negara yang konstitusional, termasuk didalamnya fungsi
parlemen dan fungsi pengadilan. Jhon locke (1632-1704) bersama lord Ashley merumuskan
tuntutan bagi toleransi beragama. Selain itu, juga menyatakan bahwa semua orang diciptakan
sama dan memiliki hak-hak alamiah yang tidak data dicabut seperti hak untuk hidup,
kemerdekaan hak milik dan hak untuk meraih kebahagiaan.
Salah satu karya Locke yang terkenal ialah second treaties on civil government yang
berisi mengenai negara atau pemerintah harus berfungsi untuk melindungi hak milik pribadi.
Pemerintah dibentuk guna menjamin kehidupan, harta benda dan kesejahteraan rakyat.
Gagasan locke ini sesuai dengan perkembangan didalam masyarakat inggris yang mulai
berubah dari nehgara kerajaan yang absolut menuju kerajaan yang konstitusional.
Pada 1653 instrument of government berhasil didesakkan. Pembatasan kekuasaan raja
semakin dikukuhkan dengan lahirnya Habeas Corpus Act pada Mei 1679. Lonceng
kebebasan terus berdentang dan pada 16 desember 1689 Bill Of Rights lahir. Mereka tidak
hanya berhasil membebaskan diri dari kesewenangan raja. Dan mereka juga berhasil
membentuk parlemen yang mempunyai kewenangan untuk mengontrol kekuasaan raja. Itulah
sekilas sejarah awal dari HAM yang berkembang di barat khususnya yang berkembang
diwilayah Inggris.
Ada tiga prinsip utama dalam pandangan normatif hak asasi manusia, yaitu berlaku
secara universal, bersifat non-diskriminasi dan imparsial. Prinsip keuniversalan ini
dimaksudkan agar gagasan dan norma-norma HAM telah diakui dan diharapkan dapat
diberlakukan secara universal atau internasional. Prinsip ini didasarkan atas keyakinan bahwa
umat manusia berada dimana-mana,disetiap bagian dunia baik di pusat-pusat kota maupun di
pelosok pelosok bumi yang terpencil. Berdasar hal itu ham tidak bisa didasarkan secara
partikular yang hanya diakui kedaerahahan dan diakui secara lokal.
Prinsip kedua dalam norma HAM adalah sifatnya yang non-diskriminasi. Prinsip ini
bersumber dari pandangan bahwa semua manusia setara (all human being are equal).
Pandangan ini dipetik dari salah satu semboyan Revolusi Prancis, yakni persamaan (egalite).
Setiap orang harus diperlakukan setara. Seseorang tidak boleh dibeda-bedakan antara satu
dengan yang lainnya. Akan tetapi latar belakang kebudayaan sosial dan tradisi setiap manusia
diwilayahnya berbeda-beda. Hal ini tidak bisa dipandang sebagai suatu hal yang negatif,
melainkan harus dipandang sebagai kekayaan umat manusia. Karena manusia berasal dari
keanekaragaman warna kulit seperti kulit putih,hitam, kuning dan lainnya. Keanekaragam
kebangsaan dan suku bangsa atau etnisitas. Kenekaragaman agama juga merupakan sesuatu
hal yang mendapat tempat dalam sifat non-diskriminasi ini. Pembatasan sesorang dalam
beragama merupakan sebuah pelanggaran HAM.
Prinsip ketiga ialah imparsialitas. Maksud dari prinsip ini penyelesaian sengketa tidak
memihak pada suatu pihak atau golongan tertentu dalam masyarakat. Umat manusia
mempunyai beragam latar belakang sosial aupun latar belakang kultur yang berbeda antara
satu dengan yang lain hal ini meupakan sebuah keniscayaan. Prinsip imparsial ini
dimaksudkan agar hukum tidak memihak pada suatu golongan. Prinsip ini juga dimaksudkan
agar pengadilan sebuah kasus diselesaikan secara adil atau tidak memihak pada salah satu
pihak. Pemihakan hanyalah pada norma-norma HAM itu sendiri.
Terdapat dua garis besar pembagian hak asasi manusia yaitu Hak Negatif dan Hak
Positif. Pembagian hak-hak ini berhubungan dengan dengan ukuran keterlibatan negara
dalam pemenuhan hak asasi manusia. Pembagian ini tidak berdasarkan baik atau buruk dalam
hak yang terkandung di dalamnya.
Mengenai Hak Negatif adalah hak meminimalkan peran campur tangan negara, maka
semakin terpenuhi pula hak-hak sipil dan politik. Sebaliknya, bila negara terlalu banyak
melakukan campur tangan, maka semakin terhambat pula pelaksanaan hak-hak sipil politik
warganya. Peminimalisiran peran negara dalam pemenuhan hak-hak sipil dan politik karena
hak-hak yang berkaitan dengan sipil dan politik adalah hak yang berkaitan dengan kebebasan.
Karena sebagian besar kandungan hak-hak sipil politik adalah hak-hak atas kebebasan (rights
to liberty).
Hak yang terkandung dalam hak sipil dan politik ada dua puluh dua hak antara lain:

1. Hak atas kehidupan, karena hidup seseorang harus dilindungi.


2. Hak untuk tidak disiksa dan diperlakukan secara keji, karena setiap orang berhak untuk
memperoleh perlakuan secara manusiawi dan tidak merendahkan martabat.

3. Hak untuk tidak diperbudak dan dipekerjakan secara paksa.


4. Hak atas kebebasan dan keselamatan pribadi.
5. Hak setiap orang yang ditahan untuk diperlakukan secara manusiawi.

6. Hak setiap orang untuk tidak dipenjara akibat tidak mampu memenuhi kewajiban kontrak.
Ketidakmampuan sesorang dalam memenuhi suatu perjanjian kontrak, tidak boleh dipenjara.
Hanya boleh melalui hukum perdata hanya melalui penyitaan.

7. Hak atas kebebasan bergerak dan memilih tempat tinggal.


8. Hak setiap warga asing.
9. Hak atas pengadilan yang berwenang, independen dan tidak memihak.
10. Hak atas perlindungan dari kesewenangan hukum pidana.
11. Hak atas perlakuan yang sama didepan hukum.
12. Hak atas urusan pribadi.
13. Hak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama.
14. Hak berpendapat dan berekspresi.
15. Hak atas kebeasan berkumpul.
16. Hak atas kebebasan berserikat.
17. Hak untuk menikah dan membentuk keluarga.
18. Hak anak atas perlindungan bagi perkembangannya.
19. Hak untuk berpartisipasi dalam politik.
20. Hak atas kedudukan dan perlindungan yang sama didepan hukum.
21. Hak bagi golongan minoritas.
22. Larangan propaganda perang dan diskriminasi.

Selain hak hak sipil dan politik diatas hak asasi manusia juga mencakup hak dalam
bidang ekonomi, sosial dan budaya. Hak ini termasuk dalam pembagan hak positif yang
mengusahakan peran negara secara maksimal dalam pemenuhannya. Adanya hak ini dalam
HAM universal adalah buah dari perdebatan blok sosialis eropa timur dengan blok liberal.
Karena blok sosialis lebih berpegangan pada ekonomi sebagai dasar masyarakat. Kebijakan
negara sosialis lebih menitikberatkan pada pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya
seperti pendidikan gratis. Sedangkan masyarakat blok liberal lebih menekankan manusia
sebagai individu yang bebas. Namun, akhirnya usulan dari blok sosialis diterima. Sehingga
HAM universal menganjurkan melindungi dan memnuhi hak-hak ekonomi, sosial dan budaya
setiap warganya.

Pengakuan dan perlindungan universal atau jaminan normatif atas terpenuhinya hak-
hak ekonomi, sosial dan budaya tercantum dalam Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi,
Sosial dan Budaya (international covenant on economic, social and culture rights). Ada
sepuluh hak yang diakui dalam kovenan tersebut. Hak-hak tersebut dapat diuraikan sebaagai
berikut.

1. Hak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial dan budaya.


2. Hak atas pekerjaan.
3. Hak atas upah yang layak, kondisi kerja yang aman dan sehat, peluang karir dan liburan.
4. Hak berserikat dan mogok kerja bagi buruh.
5. Hak atas jaminan sosial.
6. Hak atas perlindungan keluarga termasuk ibu dan anak.
7. Hak atas standar hidup yang layak, yakni sandang, pangan dan perumahan.
8. Hak atas kesehatandan lingkungan yang sehat.
9. Hak atas pendidikan.
10. Hak untuk berpartisipasi dalam kebudayaan.

Itulah sekilas gambaran singkat mengenai HAM internasional. Dari mulai sejarah
awal Magna Charta sampai ke isi dari HAM internasional yang dibagi atas dua pokok garis
besar yaitu hak positif dan hak negatif. Kedua hak itu didasarkan atas partisipasi negara
dalam pemenuhannya.

d. Adakah HAM dalam Islam?


Pertanyaan adakah HAM dalam Islam harus dirunut secara sejarah dialektika HAM
dalam Islam. Menurut Anas Urbaningrum hak asasi manusia atau lebih dikenal manusia
modern sebagai HAM, telah lebih dahulu diwacanakan oleh Islam sejak empat belas abad
silam. Hal ini memberi kepastian bahwa pandangan Islam yang khas tentang HAM
sebenarnya telah hadir sebelum deklarasi universal HAM PBB pada 18 Shafar 1369 Hijriyah
atau bertepatan dengan 10 Desember 1948 Masehi (Anas, 2004;91). Secara internasional
umat Islam yang terlembagakan dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 5 Agustus
1990 mengeluarkan deklarasi tentang HAM dari perspektif Islam. Deklarasi yang juga
dikenal sebagai “Deklarasi Kairo” mengandung prinsip dan ketentuan tentang HAM
berdasarkan syari’ah (Azra).
HAM dalam Islam telah dibicarakan sejak empat belas tahun yang lalu (Anas
Urbaningrum, 2004;91). Ini dibuktikan oleh adanya Piagam Madinah (mitsaq Al-Madinah)
yang terjadi pada saat Nabi Muhammad berhijrah ke kota Madinah. Dalam Dokumen
Madinah atau Piagam Madinah itu berisi antara lain pengakuan dan penegasan bahwa semua
kelompok di kota Nabi itu, baik umat yahudi, umat nasrani maupun umat Islam sendiri,
adalah merupakan satu bangsa (Idris, 2004;102). Dari pengakuan terhadap semua pihak untuk
bekerja sama sebagai satu bangsa, didalam piagam itu terdapat pengakuan mengenai HAM
bagi masing-masing pihak yang bersepakat dalam piagam itu. Secara langsung dapat kita
lihat bahwa dalam piagam madinah itu HAM sudah mendapatkan pengkuan oleh Islam
Memang, terdapat prinsip-prinsip HAM yang universal; sama dengan adanya
perspektif Islam universal tentang HAM (huqul al-insan), yang dalam banyak hal kompatibel
dengan Deklarasi Universal HAM (DUHAM). Tetapi juga harus diakui, terdapat upaya-
upaya di kalangan sarjana Muslim dan negara Islam di Timur Tengah untuk lebih
mengkontekstualisasikan DUHAM dengan interpretasi tertentu dalam Islam dan bahkan
dengan lingkungan sosial dan budaya masyarakat-masyarakat Muslim tertentu pula.

d. Konsep HAM dalam Islam


Terdapat perbedaan mendasar antara konsep HAM dalam Islam dan HAM dalam
konsep Barat sebagaimana yang diterima oleh dunia Internasional. HAM dalam Islam
didasarkan pada aktivitas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Sementara dunia
Barat percaya bahwa pola tingkah laku hanya ditentukan oleh hukum-hukum negara atau
sejumlah otoritas yang mencukupi untuk tercapainya aturan-aturan pblik yang aman dan
perdamaian universal. Perbedaan lain yang mendasar juga terlihat dari cara memandang
HAM itu sendiri. Di Barat perhatian kepada individu-individu dari pandangan yang bersifat
anthroposentris, di mana manusia merupakan ukuran terhadap gejala sesuatu. Sedangkan
dalam Islam, menganut pandangan yang bersifat theosentris, yaitu Tuhan Yang Maha Tinggi
dan manusia hanya untuk mengabdi kepada-Nya.
Berdasarkan pandangan yang bersiifat anthroposentris tersebut maka nilai-nilai utama
dari kebudayan Barat seperti demokrasi, institusi sosial dan kesejahteraan ekonomi sebagai
perangkat yang mendukung tegaknya HAM itu berorientasi kepada penghargaan terhadap
manusia. Berbeda keadaannya pada dunia Islam yang bersifat theosentris, larangan dan
perintah lebih didasarkan atas ajaran Islam yang bersumber dari al-Quran dan Hadis. Al-
Quran menjadi transformasi dari kualitas kesadaran manusia. Manusia diperintahkan untuk
hidup dan bekerja dengan kesadaran penuh bahwa ia harus menunjukkan kepatuhannya
kepada kehendak Allah. Oleh karena itu mengakui hak-hak natar manusia adalah sebuah
kewajiban dalam rangka kepatuhan kepada-Nya.
Dalam perspektif Barat manusia ditempakan dalam suatu setting di mana hubungannya
dengan Tuhan sama sekali tidak disebut. Hak asasi manusia dinilai hanya sebagai perolehan
alamiah sejak kelahiran. Sementara HAM dalam perspektif Islam dianggap dan diyakini
sebagai anugerah dari Tuhan dan oleh karenanya setiap individu akan merasa bertanggung
jawab kepada Tuhan. Dengan demikian, penegakan HAM dalam Islam tidak hanya
didasarkan kepada aturan-aturan yang bersifat legal-formal saja tetapi juga kepada hukum-
hukum moral dan akhlaqul karimah.

Untuk mencegah kemungkinan terjadinya pelanggaran HAM di dalam masyarakat,


Islam mempunyai ajaran yang disebut amar ma’ruf nahi munkar . Islam mengajarkan tiga
tahapan dalam menjalankan ajaran tersebut: (1) melalui tangan (kekuasaan), (2) melalui lisan
(nasihat), (3) melalui gerak hati nurani, yaitu membenci kemungkaran sambil mendoakan
agar pelakunya sadar. Sehingga untuk mengatasi mengatasi terjadinya pelanggaran HAM,
Islam tidak hanya melakukan tindakan represif teatapi lebih menekankan tindakan preventif.
Sebab, tindakan represif cenderung berpijak hanya pada hukum legal-formal yang
mengandalkan bukti-bukti yang bersifat material semata. Sedangkan tindakan preventif tidak
memerlukan adanya bukti secara hukum.

Perbedaan antara HAM Barat dan Islam

No. HAM Universal Declaration of Human HAM menurut Islam


Rights

Bersumber pada pemikiran filosofi Bersumber pada ajaran al-Quran dan


1. semata. Sunnah Nabi Muhammad.

2. Bersifat antrophosentris. Bersifat Theosentris.

Lebih mementingkan hak daripada


3. kewajiban. Keseimbangan antara hak dan kewajiban.

4. Lebih bersifat individualistik. Kepentingan sosial diperhatikan.

Manusia dilihat sebagai makhluk yang


dititipi hak-hak dasar oleh Tuhan, dan oleh
Manusia dilihat sebagai pemilik karena itu mereka wajib mensyukuri dan
5. sepenuhnya hak-hak dasar. memeliharanya.

e. Bentuk HAM dalam Islam


Islam sebagai agama universal membuka wacana signifikan bagi HAM. tema-tema
HAM dalam Islam, sesungguhnya merupakan tema yang senantiasa muncul, terutama jika
dikaitkan dengan sejarah panjang penegakan agama Islam. Menurut Syekh Syaukat Hussain
yang diambil dari bukunya Anas Urbaningrum, HAM dikategotrikan dalam dua klasifikasi.
Pertama, HAM yang didasarkan oleh Islam bagi seseorang sebagai manusia. Dan kedua,
HAM yang diserahkan kepada seseorang atau kelompok tertentu yang berbeda. Contohnya
seperti hak-hak khusus bagi non-muslim, kaum wanita, buruh, anak-anak dan sebagainya,
merupakan kategori yang kedua ini (Anas, 2004;92).
Berdasarkan temuan diatas akan kita coba mencari kesamaan atau kompatibilitas
antara HAM yang terkandung dalam Islam. Akan kita coba membagi hak asasi manusia
secara klasifikasi hak negatif dan hak positif. Dalam hal ini hak negatif yang dimaksud
adalah hak yang memberian kebebasan kepada setiap individu dalam pemenuhannya.
Yang pertama adalah hak negatif yaitu memberikan kebebasan kepada menusia dalam
pemenuhannya. Bebrapa yang dapat kita ambil sebagai contoh yaitu:
1. Hak atas hidup, dan menghargai hidup manusia. Islam menegaskan bahwa pembunuhan
terhadap seorang manusia ibarat membunuh seluruh umat manusia. Hak ini terkandung dalam
surah Al-Maidah ayat 63 yang berbunyi :

“Oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani israil, bahwa: barang siapa yang
membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan
karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia
seluruhnya. Dan barang siapa yang memlihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah
dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada
mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keternagan-keterangan yang jelas, kemudian
banyak diantar amereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat
kerusakan dimuka bumi.” (QS 5;63)

2. Hak untuk mendapat perlindungan dari hukuman yang sewenarg wenang. yaitu dalam surat
Al An’am : 164 dan surat Fathir 18 yang masing masing berbunyi :

“Katakanlah: “Apakah aku mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah tuhan bagi segala
sesuatu. Dan tidaklah sesorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada
dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian
kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu
perselisihkan”. (QS 6;164)

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika sesorang yang berat
dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan
untuknya sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya
yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya
(sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa
yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri.
Dan kepada Allah-lah kembali(mu).”

(QS 35;18)

3. Hak atas keamanan dan kemerdekaan pribadi terdapat dalam surat An Nisa ayat 58 dan
surat Al-Hujurat : 6 yang berbunyi seperti ini:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya
kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-
baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(QS 4;58)

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang yang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada
suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas
perbuatanmu itu.” (QS 49;6)

4. Hak atas kebebasan beragama memilih keyakinan berdasar hati nurani. Yang bisa kita lihat
secara tersirat dalam surat Al Baqarah ayat 256 dan surat Al Ankabut ayat 46 yang berbunyi:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang
benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada yang thagut dan
beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat
kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 2;256)

“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik,
kecuali dengan orang-orang zhalim di antara mereka, dan katakanlah: “kami telah beriman
kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan
kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.” (QS 29;46)

5. Hak atas persamaan hak didepan hukum secara tersirat terdapat dalam surat An-Nisa ayat 1
dan 135 dan Al Hujurat ayat13:

“Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciotakan dari diri yang
satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah
memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada
Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan
(peliharalah)hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi
kamu”. (QS 4;1)
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan,
menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum
kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tau kemaslahatannya. Maka
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika
kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah
adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

(QS 4;135)

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjdaikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah
orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Mengenal.”

(QS 49;13)

6. Dalam hal kebebasan berserikat Islam juga memberikan dalam surat Ali Imran ayat 104-
105 yang berbunyi:

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang yang
beruntung.”

(QS 3;104)

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah
datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat
siksa yang berat.” (QS 3;105)

7. Dalam memberikan suatu protes terhadap pemerintahan yang zhalim dan bersifattiran.
Islam memberikan hak untuk memprotes pemerintahan yang zhalim, secara tersirat dapat
diambil dari surat An-Nisa ayat 148, surat Al Maidah 78-79, surat Al A’raf ayat 165, Surat
Ali Imran ayat 110 yang masing masing berbunyi:
“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh
orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 4;148)

“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa Putera
Maryam. Yang demikian itu. Disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (QS
5;78)

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan yang munkar yang mereka perbuat.
Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS 5;79)

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan
orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang
yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.”

(QS 7;165)

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab
Beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; diantara mereka yang ada yang beriman, dan
kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS 3;110)

8. Dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya seperti bentuk hak positif dalam hak ekonomi
sosial dan Islam pun mengandung secara tersirat mengenai hak ini.

Hak mendapatkan kebutuhan dasar hidup manusia secara tersirat terdapat dalam surat Al
Baqarah ayat 29, surat Ad-Dzariyat ayat 19, surat Al Jumu’ah ayat 10, yang berbunyi:

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada dimuka bumi untuk kamu dan Dia
berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui
segala sesuatu.” (QS 2;29)

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin
yang tidak mendapat bagian.”
(QS 51;19)

“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah
karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS 62;10)

9. Dalam hak mendapatkan pendidikan Islam juga memiliki pengaturan secara tersirat dalam
surat Yunus ayat 101, surat Al-Alaq ayat 1-5, surat Al Mujadilah ayat 11 dan surat Az-Zumar
ayat 9 yang masing-masing berbunyi berbunyi:

“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa’at tanda
kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak
beriman.”

(QS 10;101)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “berlapang-lapanglah dalam


majlis”, maka lapangkanlah. Niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan:berdirilah kamu, maka berdirilah kamu, niscaya Allah akan meninggikan orang
orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 58;11)

“(apakah kamu hai orang yang musyrik) ataukah orang-orang yang beribadat di waktu-waktu
malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhrat dan mengharapkan
rahmat Tuhannya? Katakanlah: “adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-
orang yang tidak mengetahui?”. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran.”

f. Contoh-contoh pelanggaran HAM


a. Terjadinya penganiayaan pada praja STPDN oleh seniornya dengan dalih pembinaan yang
menyebabkan meninggalnya Klip Muntu pada tahun 2003.

b. Dosen yang malas masuk kelas atau malas memberikan penjelasan pada suatu mata kuliah
kepada mahasiswa merupakan pelanggaran HAM ringan kepada setiap mahasiswa.
c. Para pedagang yang berjualan di trotoar merupakan pelanggaran HAM terhadap para
pejalan kaki, sehingga menyebabkan para pejalan kaki berjalan di pinggir jalan sehingga
sangat rentan terjadi kecelakaan.

d. Para pedagang tradisioanal yang berdagang di pinggir jalan merupakan pelanggaran HAM
ringan terhadap pengguna jalan sehingga para pengguna jalan tidak bisa menikmati arus
kendaraan yang tertib dan lancar.

e. Orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anaknya masuk pada suatu jurusan tertentu
dalam kuliahnya merupakan pelanggaran HAM terhadap anak, sehingga seorang anak tidak
bisa memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

2.5 Demokrasi dalam Islam

Herodotus memperkenalkan istilah demokrasi sekitar 3000 tahun yang lalu di Mesir
Kuno, dan kemudian dikembangkan oleh para pemikir Yunani Kuno pada masa klasik.
Secara etimologi, kata demokrasi berasal dari kata Demos (rakyat) dan Kratos
(kekuasaan/pemerintahan), yang berasal dari bahasa Yunani. Dalam sejarah, istilah
demokrasi telah dikenal sejak abad ke-5 SM, yang merupakan respon terhadap pengalaman
buruk sistem monarki dan kediktatoran di negaranegara kota Athena (Yunani Kuno). Ketika
itu demokrasi dipraktikkan sebagai sistem dimana seluruh warga negara membentuk lembaga
legislatif. Dalam perkembangannya, ide-ide demokrasi berkembang dengan ide-ide dan
lembaga dalam tradisi pencerahan yang dimulai pada abad ke-16. Pertama dirintis oleh
Niccolo Machiavelli (1469-1527) dengan ide-ide sekulerisme, kemudian ide Negara Kontrak
oleh Thomas Hobbes (1588-1679), gagasan tentang konstitusi negara liberalisme, serta
pemisahan kekuasaan legislatif, eksekutif dan lembaga federal oleh John Locke (1632-1704),
yang disempurnakan oleh Baron de Montesquieu (1689-1755), ide-ide tentang kedaulatan
rakyat dan kontrak sosial yang diperkenalkan oleh Jean Jacques Rousseau (1712-1778). Ide-
ide tersebut merupakan respon terhadap monarki absolut akhir abad pertengahan dalam
sejarah Eropa, yang menggantikan kekuasaan gereja yang teokrasi. Ide-ide demokrasi saat ini
muncul sejak revolusi Amerika pada tahun 1776 dan revolusi Perancis tahun 1789.
Pada abad ke-19 dan ke-20 pusat institusi demokrasi berkembang melalui perwakilan di
parlemen dengan pemilihan yang bebas, dan di berbagai negara demokrasi diibaratkan
kebebasan berbicara, kebebasan pers dan supremasi hukum. Abraham Lincoln
mendefinisikan demokrasi sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Sedangkan menurut Elliott demokrasi adalah sebuah masyarakat atau kelompok dimana
masyarakat benar-benar memerintah diri mereka sendiri, dimana semua partisipasi diatur
dalam membuat keputusan yang mempengaruhi mereka semua. Oleh karena itu, esensi
demokrasi adalah partisipasi dalam suatu kelompok pemerintahan oleh anggota kelompok
tersebut.

Dalam sebagian literatur tentang demokrasi menegaskan bahwa konsep dan praktik
demokrasi sesungguhnya tidak tunggal. Unsur-unsur dasar atau ”family resemblances”
demokrasi itu dipengaruhi, dibentuk, dan diperkaya oleh kultur dan struktur sosiologis dan
budaya masyarakat setempat. Dalam setiap negara manapun, nilai-nilai demokrasi akan
berkembang sesuai dengan bengunan sosialbudaya masyarakatnya. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa bentuk, tingkat dan kualitas demokrasi di Amerika Serikat berbeda dengan
konsep dan praktik demokrasi yang berkembang di Asia Timur (seperti Jepang) atau Eropa
Barat (seperti Swedia, Itali dan sebagainya).

Dalam sejarah permulaan demokrasi di Yunani sampai revolusi inggris, amerika dan
prancis dan dari abad ke-19 sampai akhir abad ke-20, demokrasi berkembang dalam berbagai
bentuk yang berindikasi bahwa konsep demokrasi berubah dan berkembang mengikuti
perkembangan sosial, politik dan ekonomi. Fakta ini memperlihatkan bahwa tidak ada
definisi pasti dari model demokrasi. Sebagaimana W. B. Gallie menyebut demokrasi sebagai
“Essensially Contested Concept”. Jadi di bagian dunia manapun, para pemikir dan
masyarakat umum secara aktif terlibat dalam upaya menciptakan struktur demokrasi yang
lebih efektif. Hal ini juga berlaku di dunia muslim di belahan dunia manapun. Para pemikir
muslim sampai saat ini berusaha untuk mendefinisikan, menafsirkan dan membangun
demokrasi dengan konsep-konsep Islam seperti konsep khilafah, syura, Ijma’, ijtihad, baiat,
dan lainnya.

A. Konsep Demokrasi dalam Islam

Kenyataan bahwa Islam mengajarkan etika politik yang bersesuaian dengan prinsip-
prinsip demokrasi, dapat dikatakan bahwa kurangnya pengalaman demokratis sebagian besar
negara Islam tidak ada hubungannya dengan dimensi “interior” ajaran Islam. Secara teologis,
barangkali dapat diisyaratkan bahwa kegagalan politik yang demokratis antara lain
disebabkan oleh adanya pandangan yang legalistik dan formalistik dalam melihat hubungan
antara Islam dan politik. Karenanya, adalah pendekatan substansialistik terhadap ajaran Islam
diharapkan dapat mendorong terciptanya sebuah sintesa yang memungkinkan antara Islam
dan Demokrasi. Dalam penjelasan mengenai demokrasi dalam kerangka konseptual Islam,
Esposito mengatakan bahwa kesesuaian demokrasi dengan Islam dapat dikembangkan
melalui beberapa aspek khusus dari ranah sosial dan politik. Seperti banyak konsep dalam
tradisi politik barat, istilah-istilah ini tidak selalu dikaitkan dengan pranata demokrasi dan
mempunyai banyak konteks dalam wacana Muslim dewasa ini. Demokrasi Islam dianggap
sebagai sistem yang mengukuhkan konsep-konsep islami yang sudah lama berakar, yaitu
konsep syura, Ijma’, Maslahah, dan ijtihad.

Hubungan antara Islam dan demokrasi seperti berikut:

1. Syura dalam Konsep Demokrasi

Istilah musyawarah berasal dari kata ‫ مشاورة‬.Ia adalah masdar dari kata kerja syawara-
yusyawiru, yang berakar kata syin, waw, dan ra, dengan pola fa’ala. Pendapat senada
mengemukakan bahwa musyawarah pada mulanya bermakna “mengeluarkan madu dari
sarang lebah”. Makna ini kemudian berkembang sehingga mencakup segala sesuatu yang
dapat diambil atau dikeluarkan dari yang lain (termasuk pendapat). Musyawarah juga dapat
berarti mengatakan atau mengajukan sesuatu. Karenanya, kata musyawarah pada dasarnya
hanya digunakan untuk hal-hal yang baik, sejalan dengan makna dasarnya. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, musyawarah diartikan sebagai: pembahasan bersama dengan
maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah bersama. Selain itu dipakai juga kata
musyawarah yang berarti berunding dan berembuk. Secara historis, konsep syura dalam
sejarah Islam telah ada jika menunjuk pertemuan di Bani Sa’idah segera setelah Nabi
Muhammad wafat. Menurut Fazlur Rahman kejadian itu sebagai pelaksanaan prinsip syura
yang pertama. Kejadian ini kemudian diikuti dengan pidato pelantikan Abu Bakar sebagai
khalifah pertama. Dalam pidatonya pelantikannya itu, secara kategoris ia menyatakan bahwa
dirinya telah menerima mandat dari rakyat yang memintanya melaksanakan al-Quran dan
Sunnah. Abu Bakar juga menyatakan bahwa ia melaksanakan ketentuan al-Quran dan
Sunnah, ia perlu didukung terus. Tetapi bilamana ia melakukan pelanggaran berat maka ia
harus diturunkan. Konsep syura dan demokrasi Fazlur Rahman juga berpendapat bahwa
institusi semacam syura telah ada pada masyarakat Arabia pra-Islam. Waktu itu, para pemuka
suku atau kota menjalankan urusan bersama melalui permusyawaratan. Institusi inilah yang
kemudian didemokrasitasi oleh al-Quran, yang menggunakan istilah syura. Perubahan dasar
yang dilakukan al-Quran adalah mengubah syura dari sebuah institusi suku menjadi institusi
komunitas, karena ia menggantikan hubungan darah dengan hubungan iman.

Menurut Syafii Maarif, pada dasarnya syura merupakan gagasan politik utama dalam al-
Quran. Jika konsep syura ditransformasikan dalam kehidupan modern sekarang, maka
menurut Syafii sistem politik demokrasi adalah lebih dekat dengan cita-cita politik Qurani,
sekalipun ia tidak terlalu identik dengan praktek demokrasi barat. Begitu halnya dengan
Mohammad Iqbal yang menganggap demokrasi sebagai cita-cita politik Islam, kritik Iqbal
terhadap demokrasi bukanlah dari aspek normatifnya, akan tetapi dalam praktek
pelaksanaannya. Kohesi antara Islam dan demokrasi terletak pada prinsip persamaan
(equality), yang di dalam Islam dimanifestasikan oleh tauhid sebagai satu gagasan kerja (a
working idea) dalam kehidupan sosio-politik umat Islam.

Perlunya musyawarah merupakan konsekuensi politik prinsip kekhalifahan manusia.


“perwakilan rakyat dalam sebuah negara Islam tercermin terutama dalam doktrin
musyawarah (syura). Karena semua muslim yang dewasa dan berakal sehat, baik pria
maupun wanita adalah khalifah (agen) Tuhan, mereka mendelegasikan kekuasaan mereka
kepada penguasa dan pendapat mereka harus diperhatikan dalam menangani permasalahan
negara”. Ayatullah Baqir Al-Sadr menegaskan bahwa musyawarah adalah hak rakyat. “rakyat
sebagai khalifah Allah berhak mengurus persoalan mereka sendiri aas dasar prinsip
musyawarah” dan ini termasuk “pembentukan majlis yang para anggotanya adalah wakil-
wakil rakyat yang sesungguhnya. Dengan demikian syura menjadi unsur operasional yang
menentukan dalam hubungan antara Islam dan demokrasi.

Secara umum konsep syura sangat sesuai dengan demokrasi karena menempatkan semua
masyarakat dalam satu tempat yang sama. Di Indonesia, demokrasi yang dibangun
berdasarkan konsep syura dimana setiap pemimpin dipilih oleh rakyatnya. Tentang apakah
sistem pemilihan tersebut secara langsung oleh pemerintah maupun melalui perwakilan di
dewan perwakilan rakyat sebenarnya adalah hal yang sama. Selama rakyat atau wakilnya
mempunyai keinginan yang sama hal tersebut bukanlah masalah.

Namun akan berbeda ketika wakil rakyat yang telah dipilih tersebut tidak
menggambarkan apa yang menjadi keinginan rakyat yang diwakilinya. Oleh karena itu,
seorang wakil rakyat harus benar-benar mewakili setiap kebutuhan rakyat yang harus
diperjuangkan. Jika wakil rakyat hanya mewakili golongannya tentu sudah menyalahi dari
konsep demokrasi itu sendiri.

Piagam Madinah merupakan konstitusi demokrasi Islam pertama dalam sejarah


pemerintahan konstitusional. Para intelektual muslim sepakat bahwa prinsip syura adalah
sumber etika demokrasi Islam. Mereka menyamakan konsep syura dengan konsep demokrasi
modern.

2. Ijma’ dalam Konsep Demokrasi

Secara etimelogi Ijma’ mengandung arti kesepakatan atau konsensus. Ijma’ juga dapat
diartikan sebagai al Azmu ‘alassyai’ atau ketetapan hati untuk melakukan sesuatu. Ijma’
secara terminolgi didefinisikan oleh beberapa ahli diantaranya: menurut Al Ghazali Ijma’
adalah kesepakatan umat Muhammad Saw secara khusus atas suatu urusan agama; definisi ini
mengindikasikan bahwa Ijma’ tidak dilakukan pada masa Rasulullah Saw, sebab keberadaan

Rasulullah sebagai syar’i tidak memerlukan Ijma’. Sedangkan menurut Al Amidi: Ijma’
adalah kesepakatan ahlul halli wal ‘aqdi atau para ahli yang berkompoten mengurusi umat
dari umat Nabi Muhammad pada suatu masa atau hukum suatu kasus.

Ijma’ atau konsensus telah lama diterima sebagai konsep pengesahan resmi dalam hukum
Islam, terutama di kalangan kaum Muslim Sunni. Namun, hampir sepanjang sejarah Islam
pada konsensus sebagai salah satu sumber hukum Islam cenderung dibatasi pada konsensus
para cendekiawan, sedangkan konsensus rakyat kebanyakan mempunyai makna kurang
begitu penting dalam kehidupan umat Islam. Namun dalam pemikiran modern, potensi
fleksibilitas yang terkandung dalam konsep konsensus akhirnya mendapat saluran yang lebih
besar.

Dalam pengertian lebih luas, konsensus dan musyawarah sering dipandang sebagai
landasan yang efektif bagi demokrasi Islam modern. Konsep konsensus memberikan dasar
bagi penerimaan sistem yang mengakui suara mayoritas. Beberapa cendekiawan kontemporer
menyatakan bahwa dalam sejarah Islam karena tiedak ada rumusan yang pasti mengenai
struktur negara dalam al-Quran, legitimasi negara bergantung pada sejauh mana organisasi
dan kekuasaan negara mencerminkan kehendak umat. Sebab seperti yang pernah ditekankan
oleh para ahli hukum klasik, legitimasi pranata-pranata negara tidak berasal dari sumber-
sumber tekstual, tetapi didasarkan pada prinsip Ijma’. Atas dasar inilah konsensus dapat
menjadi legitimasi sekaligus prosedur dalam suatu demokrasi Islam.
3. Maslahah dalam Konsep Demokrasi

Secara etimologis, arti al-Maslahah dapat berarti kebaikan, kebermanfaatan, kepantasan,


kelayakan, keselarasan, kepatutan. Kata alMaslahah adakalanya dilawankan dengan kata al-
mafsadah dan adakalanya dilawankan dengan kata al-madarrah, yang mengandung arti:
kerusakan. Secara terminologis, Maslahah telah diberi muatan makna oleh beberapa ulama
usûl al-fiqh. Al-Gazâli (w.505 H), misalnya, mengatakan bahwa makna genuine dari
Maslahah adalah menarik/mewujudkan kemanfaatan atau menyingkirkan/menghindari
kemudaratan (jalb al-manfa‘ah atau daf‘ al-madarrah). Menurut al-Gazâli, yang dimaksud
Maslahah, dalam arti terminologis-syar‟i, adalah memelihara dan mewujudkan tujuan hukum
Islam (Syariah) yang berupa memelihara agama, jiwa, akal budi, keturunan, dan harta
kekayaan. Ditegaskan oleh al-Gazâli bahwa setiap sesuatu yang dapat menjamin dan
melindungi eksistensi salah satu dari kelima hal tersebut dikualifikasi sebagai Maslahah;
sebaliknya, setiap sesuatu yang dapat mengganggu dan merusak salah satu dari kelima hal
tersebut dinilai sebagai al-mafsadah; maka, mencegah dan menghilangkan sesuatu yang dapat
mengganggu dan merusak salah satu dari kelima hal tersebut dikualifikasi sebagai Maslahah.

Dalam konsep demokrasi, Maslahah menjadi bagian yang penting ketika dihadapkan
dengan kebebasan individu dan persamaan HAM. Konsep Maslahah memberikan penilaian
yang lebih obyektif tentang bagaimana kepentingan umum didahulukan daripada kepentingan
pribadi. Perwujudan Maslahah dan mafsadah dalam pelbagai situasi dan kondisi memerlukan
standar yang jelas dan berterusan untuik digunakan oleh para mujtahid. Apabila mafsadah
dan Maslahah tidak mampu dipertemukan maka hendaklah dilakukan pentarjihan di antara
kedua posisi dengan dipilih salah satu dari dua posisi yang lebih dominan. Bahkan ketika
terjadi kontradiksi antara Maslahah dengan Maslahah, mafsadah dengan mafsadah dalam
kategori yang sama seperti daruriyah, hajiyyah dan tahsiniyah.

Akan tetapi, terdapat kemungkinan muncul pihak-pihak yang menyalahgunakan


dalil/metode Maslahah memang tidak bisa dipungkiri. Mereka menggunakan Maslahah
sebagai dalil/metode untuk menetapkan hukum tanpa mengindahkan batasan-batasan dan
kaedah-kaedah yang baku. Hal ini mengakibatkan terjadinya kesalahan/kekacauan dalam
menetapkan hukum Islam, dan pada gilirannya melahirkan keresahan di kalangan
masyarakat. Dalam konteks ini, kehadiran institusi ijtihâd jamâ‘iy (ijtihad kolektif) seperti
MUI, Bahtsul Masa‟il NU, Majelis Tarjih Muhammadiyah, dan Dewan Hisbah Persis,
menjadi urgen dalam mengeliminasi kemungkinan penyalahgunaan dalil/metode Maslahah
oleh aktivitas ijtihâd fardiy sehingga konsepsi dan aplikasi Maslahah dalam proses ijtihad
tersebut terhindar dari salah paham dan salah kaprah. Meskipun demikian, ini tidak berarti
menutup rapat rapat pintu ijtihâd fardî.

Maslahah merupakan konsep bahwa kepentingan publik harus diutamakan dari


kepentingan individu. Dalam hal ini, penggusuran dalam rangka normalisasi sungai (seperti
yang dilakukan di Jakarta, Indonesia) yang dilakukan oleh pemerintah sudah selayaknya
diterima oleh masyarakat bahkan tanpa disediakan tempat untuk pindah, masyarakat wajib
mematuhinya. Pemerintah hanya perlu mengganti biaya ganti rugi dari masyarakat tersebut
tanpa harus membelinya, dan masyarakat harusnya juga memahami bahwa untuk kepentingan
umum, pengorbanan yang dilakukan akan mendapatkan pahala dari Allah SWT.

4. Ijtihad dalam Konsep Demokrasi

Konsep operasional yang terakhir adalah ijtihad, atau pelaksanaan penilaian yang ilmiah
dan mandiri. Bagi banyak pemikir muslim, upaya ini merupakan langkah kunci menuju
penerapan perintah Tuhan di suatu tempat atau waktu.

Ijtihad diterapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang tidak tercakup oleh Al-Qur'an dan
Sunnah, tidak dengan taqlid, atau dengan analogi langsung (qiyas). Ijtihad dianggap, oleh
banyak pemikir Muslim, sebagai kunci untuk pelaksanaan kehendak Allah dalam waktu dan
tempat tertentu. 24 Hampir semua reformis dan intelektual Muslim abad 20 menunjukkan
antusiasme dalam konsep Ijtihad kontemporer, Muhmmad Iqbal, Khurshid Ahmad, Taha
Jabir al 'Alwani dan Altaf Gauhar menjadi beberapa dari mereka. 25

Bentuk demokrasi menurut Fazlur Rahman dapat berbeda-beda menurut kondisi yang ada
dalam suatu masyarakat. Untuk dapat memilih suatu bentuk demokrasi yang sesuai dengan
keadaan suatu masyarakat Islam tertentu, peranan ijtihad menjadi sangat menentukan.

Pemimpin Islam Pakistan, Khurshid Ahmad, memparkan hal ini dengan jelas. “Tuhan
hanya mewahyukan prinsip-prinsip utama dan memberi manusia kebebasan untuk
menerapkan prinsip-prinsip tersebut dengan arah yang sesuai dengan semangat dan keadaan
zamannya. Melalui ijtihad itulah masyarakat dari setiap zaman berusaha menerapkan dan
menjalankan petunjuk Ilahi guna mengatasi masalah-masalah zamannya.

Ijtihad selalu menjadi konsep yang kontroversial mengingat bahaya penyalahgunaannya.


Adalah mungkin bahwa tindakan kaum muslim itu akan didukung oleh kaum sekular dan
Muslim abangan, yang akan membuka lebar-labar pintu ijtihad dan menafsirkan ijtihad
sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan untuk membenarkan akibat-akibatnya tanpa
peduli apakah aturan itu didasarkan atas kriteria fiqh atau tidak. Namun makna penting ijtihad
ditekankan oleh Iqba yang berharap bahwa ijtihad yang benar akan memungkinkan

“para ilmuwan sosial muslim untuk menelaah fenomena sosial dengan kerangka dan
paradigma epistemologi Islam dan selanjutnya memulai proses pembangungn kembali
peradaban Islam atas dasar pemahaman terhadap ilmu-ilmu sosial itu. Dekonstruksi yang
disambung dengan rekonstruksi inilah yang dibutuhkan umat Islam jika ingin menjadi
penengah bagi bangsa-bangsa lain sebagaimana tersurat dalam alQuran”.

Ijtihad saat ini menjadi tren pemikiran dari cendekiawan-cendekiawan muslim


kontemporer. Mati surinya ijtihad selama beberapa abad silam memang membuat dunia Islam
menjadi jalan ditempat. Ijtihad memberikan jalan alternatif dari perbagai permasalahan dalam
dunia modern saat ini.

BAB III
PENUTUPAN

3.1 Simpulan
Kontribusi Umat Islam Dalam Perumusan Dan Penegakan Hukum Di Indonesia
dapat kita lihat dengan contoh : UUD 1945, UU Pernikahan, dan Pengadilan Agama.
Merupakan contoh kecil dari peraturan yang sangat berkaitan dengan agama islam dan sesuai
dengan ketentuannya yang berlaku di Indonesia.
Islam mematahkan bahwa dalam Islam telah dibicarakan sejak empat belas tahun
yang lalu (Anas Urbaningrum, 2004;91). Fakta ini mematahkan bahwa Islam tidak memiliki
konsep tentang pengakuan HAM. Ini dibuktikan oleh adanya piagam madinah (mitsaq Al-
Madinah) yang terjadi pada saat Nabi Muhammad berhijrah ke kota Madinah. Dalam
dokumen madinah atau piagam madinah itu berisi antara lain pengakuan dan penegasan
bahwa semua kelompok di kota Nabi itu, baik umat yahudi, umat nasrani maupun umat Islam
sendiri, adalah merupakan satu bangsa (Idris, 2004;102). Dalam dokumen itu dapat
disimpulkan bahwa HAM sudah pernah ditegakkan oleh Islam.
Islam dan demokrasi pada hakikatnya merupakan hal yang sesuai (compatible). Islam
mengatur segala permasalahan manusia mulai dari ibadah, akhlak sampai muamalah.
Pertanyaan Islam sesuai dengan Demokrasi sebenarnya merupakan pertanyaan yang kurang
sesuai, pertanyaan yang sebenarnya adalah bagaimana muslim memahami Islam yang sesuai
dengan demokrasi. Karena Islam dapat digunakan dalam segala bentuk pemerintahan mulai
dari demokrasi maupun kediktaroran, republikanisme maupun monarki.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an
Wahbah al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Juz VII (Damsyiq; Dar al-Fikr, 1989),
hlm. 29.
Abdurrahman al-Jaziri, Kitab ‘ala Madzhib al-Arba’ah, Juz IV (t.tp. Dar Ihya al-Turas al-
Arabi, 1986), hlm.3.
Muhammad Syata’ Al-Dimyati, I’anat al-Thalibin, Juz III (t.tp. Dar Ihya al-Kutub al-
‘Arabiyah, tt), him. 256.
Muhammad Abu Zahrah, al-Ahwal al-Syakhsiyyah, (Qahirah: Dar al-Fikr al-Arabi, 1957),
hlm. 19.
Kata miitsaqan ghalidzhani ini berasal dari firman Allah SWT yaitu surat an-Nisa’ ayat 21.
Yahya Harahap, Hukum Perkawinan Nasional, (Medan: Zahir Trading, 1975
Prof. Dr. H. Zainuddin Ali, M.A, Hkum perdata islam di Indonesia, (Sinar Grafika,
2006), hlm.12-1.
Rusli Karsiana, Kisi-Kisi Terbaru Soal-Soal CPNS,Pustaka Widyatama, Yogyakarta, 2013,
hlm. 20-22.
Thaha, Idris (2004). Demokrasi Religius: Pemikiran Politik Nurcholish Madjid dan M.
Amien Rais. Jakarta: Penerbit Teraju.
Radjab, Suryadi (2002). Dasar-Dasar Hak Asasi Manusia. Jakarta: PBHI.
Saifullah. 2011. “Islam dan Demokrasi: Respon Umat Islam Indonesia terhadap Demokrasi”,
Al-Fikr Volume 15 Nomor 3 Tahun 2011.
Idrus, Junaidi (2004). Rekonstruksi Pemikiran Nurcholish Madjid Membangun Visi dan Misi
Baru Islam Indonesia. Jogjakarta: LOGUNG PUSTAKA.
Pramudya, Willy, Cak Munir (2004). Engkau Tak Pernah Pergi. Jakarta: GagasMedia.
Nainggolan, Zainuddin S (2000). Inilah Islam, Jakarta: DEA.
Urbaningrum, Anas (2004). Islamo - Demokrasi Pemikiran Nurcholish Madjid. Jakarta:
Penerbit Republika.
Wirdyaningsih, Nunung. 2001. Hukum Islam dan Pelaksanaannya di Indonesia, No.4.
Mawardi, Didiek R. 2015. Fungsi Hukum dalam Kehidupan Bermasyarakat. Jilid 44 No. 3.
STIH Muhammadiyah Kotabumi Lampung.