Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN GEOHIDROLOGI

PENGUKURAN INVERS AUGER HOLE, FLOWNETS DAN INFILTRASI


DESA DALISODO KECAMATAN WAGIR KABUPATEN MALANG

Dosen Pengampu:
Ferryati Masitoh, S.Si, M.Si

Disusun Oleh:
Ahmad Wildan H. (160722614671) Depri Prasetyo (160722614648)
Ahmad Zaini T. S. (160722614625) Deva Satria P. (160722614655)
Aisyatur Rizki L. (160722614614) Fadel Mahardika (160722614608)
Aqila Kusuma W. (160722614674) Fariz Ichsan K. (160722614641)
Baqiyatur Rojana (160722614649) M. Dede Setiawan (150722602470)
M. Sony basori A. (150722600818)

Offering/Tahun : G/2016
Asisten Praktikum : Retno Hamanti Wilujeng

JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2018
I. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu menerapkan pengujian akuifer untuk mendapatkan
nilai Konduktifitas Hidrolik Akuifer dan laju infiltrasi;
2. Mahasiswa mampu memahami konsep infiltrasi dan invers auger hole
pada kegiatan lapangan di Desa Dalisodo;
3. Mahasiswa mampu melakukan pemetaan karakteristik airtanah di
bentuk lahan vulkan (flownet dan mataair);
4. Mahasiswa mampu melakukan pemetaan untuk mengetahui potensi air
tanah;

II. KAJIAN PUSTAKA


A. Infiltrasi
Infiltrasi adalah masuknya air dari permuaaan ke dalam tanah.
Apabila tanah yang kering terkena hujan,kandungan lengas tanah di
permukaan meningkatmencapai kapasitas lapangan. Kemudian air tanah
akan bergerak ke lapisan yang paling dalam. Air juga bergerak ke semua
arah. Di atas kapasitas lapangan perkolasi bergerak lambat melailui pori-
pori berukuran 10-50 µm dan pengatusa terjadi dengan cepat melaui
pori-pori berukuran >50 µm (Sutanto,2005).
Pengelolaan tanaman di lahan kering umumnya terkendala oleh
ketersediaan air. sebab ketersediaan air di lahan tersebut hanya berasal
dari hujan. Ketersediaan air di lahan kering umumnya dipengaruhi oleh
curah hujan dan kemampuan tanah menahan air. Peluang untuk
meningkatkan produksi tanaman pada penanian tadah hujan ditekankan
bagaimana memaksimalkan produksi per unit air. Terdapat naungan
antara kebutuhan air tanaman dan hasil (Arsyad dan Rustiadi, 2012).
Faktor- faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi adalah tekstur
tanah, kerapatan massa (bulk density), permeabilitas, kadar air tanah dan
vegetasi. Semakin rendah nilai kerapatan massa (bulk density) tanah,
semakin besar volume pori tanah, dan semakin remah tanahnya maka
laju infiltrasi akan semakin besar. Bila ditinjau dari sudut vegetasi maka
semakin besar penetrasi akar, semakin besar daya serap akar, semakin
tinggi akumulasi bahan organik tanah maka laju infiltrasi akan semakin
besar (Asdak,1995).
Beberapa faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi laju
infiltrasi adalah tinggi genangan air di atas permukaan tanah dan tebal
lapisan tanah yang jenuh, kadar air atau lengas tanah, pemadatan tanah
oleh curah hujan, penyumbatan pori tanah mikro oleh partikel tanah
halus seperti bahan endapan dari partikel liat, pemadatan tanah oleh
manusia dan hewan akibat traffic line oleh alat olah, struktur tanah,
kondisi perakaran tumbuhan baik akar aktif maupun akar mati (bahan
organik), proporsi udara yang terdapat dalam tanah, topografi atau
kemiringan lahan, intensitas hujan, kekasaran permukaan tanah, kualitas
air yang akan terinfiltrasi serta suhu udara tanah dan udara sekitar
(Kodoatie dan Roestam, 2005).
Sifat bagian lapisan suatu profil tanah juga menentukan
kecepatan masuknya air ke dalam tanah. Ketika air hujan jatuh di atas
permukaan tanah, maka proses infiltrasi tergantung pada kondisi
biofisik permukaan tanah, sebagian atau seluruh air hujan tersebut akan
mengalir masuk ke dalam tanah melalui pori- pori permukaan tanah.
Proses mengalirnya air hujan ke dalam tanah disebabkan oleh tarikan
gaya gravitasi dan gaya kapiler tanah. Oleh karena itu, infiltrasi
juga biasanya disebut sebagai aliran air yang masuk ke dalam tanah
sebagai akibat gaya kapiler dan gravitasi. Laju air infiltrasi yang
dipengaruhi oleh gaya gravitasi dibatasi oleh besarnya diameter pori-
pori tanah. Tanah dengan pori-pori jenuh air mempunyai kapasitas lebih
kecil dibandingkan dengan tanah dalam keadaan kering (Hanafiah,
2005).
B. Invers Augerhole
Konduktivitas hidrolik atau yang biasa disebut
sebagai permeabilitas tanah menurut Klute dan Dirksen (1986) adalah
sifat fisika tanah atau ukuran yang dapat menggambarkan kemampuan
tanah dalam meloloskan air. Lebih lanjut Dariah et al. (2006)
mengemukakan bahwa pemreabilitas tanah merupakan pergerakan air
di dalam tanah merupakan hal yang penting untuk di ketahui dalam
kaitannya dengan bidang pertanian. Beberapa hal yang penting dalam
pergerakan air di dalam tanah diantaranya pergerakan air ke zona
perakaran, keluarnya air yang berlebihan (excess water) atau disebut
juga drainase, aliran permukaan (run off), dan evaporasi sangat
dipengaruhi oleh kemampuan tanah dalam meloloskan air. Tingkat
kemampuan tanah untuk meloloskan air sangat dipengaruhi oleh kadar
air tanah. Oleh sebab itu permeabilitas tanah tanah dibedakan menjadi
dua yaitu permeabilitas tanah dalam keadaan jenuh, dan tidak jenuh.
Permeabilitas tanah dalam keadaan jenuh biasa disebut sebagai
konduktivitas hidrolik (Dariah et al., 2006).
Jumlah air yang dapat diloloskan pada satu lapisan tanah (flux)
sangat ditentukan oleh permeabilitas tanah. Tanah dengan permeabilitas
tanah tinggi maka akan mudah disusupi oleh air, sehingga tanah semakin
mudah terdrainase sehingga akan cepat kering. Bahan-bahan yang
terlarut di dalam tanah akan mudah untuk bergerak bersama
dengan pergerakan air yang ada di dalam tanah. Permeabilitas tanah
dapat dipengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah. Pada tanah yang
didominasi oleh tekstur pasiran akan mempunyai permeabilitas tanah
yang tinggi, sedangkan pada tanah yang mempunyai tekstur lempung
maka akan mempunyai permeabilitas tanah yang kecil, namun apabila
tanah bertekstur lempung mempunyai agregasi butir tunggal yang
mantap maka akan mempunyai permeabilitas tanah yang tinggi (Agus
dan Suganda, 2006).
Penentuan nilai konduktivitas hidrolik dapat
menggunakan berbagai metode. Namun dalam hal ini yaitu metode
inverse augger hole. Metode auger hole adalah metode yang paling
banyak digunakan dalam penentuan konduktivitas hidrolik tanah jenuh.
Suatu lubang didalam penampang tanah dibuat dengan bor tanah sampai
melampaui kedalaman permukaan air tanah. Air yang ada di dalam
lubang pemboran dikuras menggunakan suatu pompa, kemudian lubang
akan terisi kembali oleh air tanah. Pada keadaan seimbang
(equilibrium), permukaan air tanah di dalam lubang akan sama dengan
permukaan air tanah (water table). Kecepatan naiknya permukaan air di
dalam lubang digunakan sebagai dasar untuk menghitung konduktivitas
hidrolik tanah (Agus dan Suganda, 2006).
Prinsip dari metode invers Auger hole adalah kebalikan dari
metode Auger hole, yaitu dengan meresapkan air ke dalam lubang bor.
Penurunan muka air dalam lubang kemudian dicatat per satuan waktu.
Untuk mencari nilai K, rumus yang dipakai adalah:

Keterangan :
r : Jari-jari lubang bor.
Tan α : Kemiringan plot nilai t1 dan peresapan pada kertas semilog.
C. Mata Air dan Flownet
Mata air merupakan salah satu sumberdaya air yang bersal dari
airtanah. Mataair adalah konsentrasi aliran airtanah yang tersingkap dan
tampak dipermukaan bumi sebagai arus aliran air (Todd, 1980). Besar
kecilnya debit setiap mataair tidak sama, ada mataair dengan debit
berfluktuasi relatife kecil antara musim kemarau dengan musim
penghujan dan terdapat mataair yang memilki debit dengan fluktuasi
yang snagat besar. Mataair disetiap tempat berlainan dan tergantung
pada kondisi akuifer didaerah tangkapannya, keadaan curah hujan,
topografi, karasteristik hidrologi permukaan tanah dan struktur geologi
(Tolman,1937).
Jenis mata air dibedakan menjadi berikut:
a. Mataair Depresi (depression springs), terbentuk apabila muka
airtanah terpotong oleh permukaan tanah.
b. Mataair kontak (contac springs), terbentuk apabila lapisan lolos air
yang menyimpan air terletak di atas lapisan kedap air, dan muka
airtanah terpotong oleh lapisan tanah.
c. Mataair asrtesis (artesian springs), apabila terjadi tekanan air pada
akuifer dari akuifer tertekan atau singkapan batuan melalui celah
didasar lapisan kedap air.
d. Mataair rekahan (tabular or fracture springs) , yaitu mataair yang
muncul karena adanya saluran dalam batuan yang kedap air yang
berhubungan dengan air tanah. (Sudarmadji 2013)
Tabel 2. Klasifikasi besar debit mata air
No Kelas m/detik I/detik Ml/detik
1 I >10 >10000 > 10000000

2 II 1-10 1000-10000 1000000 -


10000000

3 III 0,1-1 100-1000 100000-1000000

4 IV 0,01-1 10-100 10000-100000

5 V 0,001-0,1 1-10 1000-10000

6 VI 0,0001-0,001 0,1-1 100-1000

7 VII 0,00001-0,0001 0,01-0,1 10-100

8 VIII <0,00001 0,001-0,01/ <10

Sumber: Meinzer dalam Todd 1980


Flownets
Garis aliran adalah suatu garis sepanjang mana butir-butir akan
bergerak dari bagian hulu ke bagian hilir sungai melalui media tanah
yang tembus air (permeable). Garis ekipotensial adalah suatu garis
sepanjang mana tinggi potensial di semua titik pada garis tersebut adalah
sama. Kombinasi dari beberapa garis aliran dan garis ekipotensial
dinamakan jejaring aliran (flow net). Seperti telah disebutkan
sebelumnya bahwa jejaring aliran dibuat untuk menghitung aliran air
tanah (Wirasasti.1997).
Flownets penting untuk diketahui, untuk melihat dan
menganalisis arah pergerakan airtanah. Dengan mengetahui arah
pergerakan airtanah, maka dapat diketahui area penampang akuifer dari
pergerakan airtanah tersebut. Area penampang akuifer ini merupakan
salah satu parameter yang dibutuhkan dalam perhitungan prediksi
potensi cadangan airtanah menggunakan persamaan Darcy. Dalam
kehidupan sehari – hari flownets dapat digunakan untuk memprediksi
arah pencemaran airtanah, menentukan debit dan volum (potensi)
airtanah di daerah tertentu, mengetahui daerah tangkapan (recharge)
dan daerah pemanfaatan (discharge), serta mengetahui perubahan pola
aliran /anomali karena penurapan airtanah.
Penggambaran flownets ini dilakukan dengan menarik panah
tegak lurus dengan kontur elevasi muka air tanah. Secara alami, aliran
air tanah akan memotong tegak lurus (90°) kontur air tanah pada kondisi
akuifer yang homogen dan isotropis karena pengaruh potensial gravitasi
dan mempunyai arah aliran dari elevasi muka air tanah (hydraulic head)
tinggi menuju elevasi muka air tanah yang lebih rendah.
D. Potensi Air Tanah
Airtanah adalah air yang berada dibawah permukaan tanah pada
zona jenuh air, dengan tekanan hidrostatis sama atau lebih besar
daripada tekanan udara. Sumber utama airtanah adalah air hujan yang
meresap kedalam tanah mengikuti suatu proses yang disebut daur
hidrologi. Dalam daur hidrologi, sebagian air hujan yang meresap
kedalam tanah bergerak terus ke bawah menuju mintakat jenuh
kemudian menjadi airtanah (Purnama 2010). Air bawah tanah
(underground water dan sub terranean water) adalah istilah lain yang
digunakan untuk air yang berada pada zona jenuh, namun istilah yang
lazim digunakan adalah air tanah (Johnson, 1972 dalam Kodoatie 2012).
Pada kedalaman tertentu, pori-pori tanah maupun batuan
menjadi jenuh (saturated) oleh air. Zona jenuh yang paling atas disebut
dengan muka air tanah (water table). Air yang tersimpan pada zona
jenuh disebut dengan air tanah, yang kemudian bergerak sebagai aliran
air tanah melalui batuan dan lapisan-lapisan tanah yang ada di bumi
sampai air tersebut keluar sebagai mata air, atau rembesan masuk ke
kolam, danau, sungai dan laut (Fetter, 1994 dalam Kodoatie 2012).
Air tanah bergerak dari daerah yang memiliki muka air tanah
lebih tinggi menuju muka air tanah yang lebih rendah serta mengalir
tegak lurus dengan kontur air tanah. Gerakan air tanah dapat dilihat
berdasarkan jaring aliran (flownet) yang terbentuk dari garis aliran dan
garis equipotensial. Garis aliran adalah garis yang menunjukkan arah
aliran air tanah, sedangkan garis equipotensial adalah garis yang
menunjukkan ketinggian kontur air tanah (Setyawan Purnama, 2010:
52). Beberapa faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya potensi air
tanah di suatu wilayah adalah besar kecilnya curah hujan, banyak
sedikitnya vegetasi, kemiringan lereng dan derajat porositas serta
permeabilitas batuan (Setyawan Purnama, 2010: 21)

III. METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
a. Infiltrasi
 Alat Tulis  MS. Excel
 Ember/Galon  Laptop
 Gelas Ukur  Kertas A4
 Penggaris  Air
 Stopwatch
b. Invers Augerhole
 Alat Tulis  Tali
 Ember/Galon  Stop Watch
 Gelas Ukur  MS. Excel
 Penggaris  Laptop
 Bor Tanah  Kertas A4
 Pelampung  Air
c. Flonets dan Mata Air
 ArcGIS  MS. Excel
3.2 Langkah Kerja
a. Infiltrasi
- Pengukuran Lapangan Menggunakan Double Ring Infiltrometer

1. Tempatkan Double Ring Infiltrometer pada bidang yang stabil


dan relative datar.
2. Benamkan alat ke dalam tanah hingga sedalam 3-10 cm dalam
kondisi datar.
3. Pasang mistar /penggaris ukur di bagian silinder dalam.
4. Masukkan air ke dalam silinder dalam dan luar, serta segera
lakukan pengukuran.
5. Silinder luar harus dijaga kestabilan volumenya dengan
menambahkan air jika terjadi pengurangan volume.
6. Tulis data lapangan yang berupa t(menit), V1 (ml)/volume
silinder kecil, V2 (ml) /volume silinder kecil pada penambahan
air
- Pengukuran Lapangan Menggunakan Turf-Tec International digital

1. Siapkan alat Turf-Tec International digital


2. Tempatkan double ring pada area yang akan di uji. Semprotan
silica dapat di aplikasikan pada bagian tepi bawah double ring
untuk memudahkan dan membersihkan alat
3. Tekan pegangan alat dengan pelan pada tanah untuk
memasukkan ring instrument pada alat. Hindari cara
memasukkan alat dengan menekan ke arah kanan/kiri
4. Isi kedua ring (outter dan inner ring) dengan air bersih hingga
terjadi luapan. Cara termudah untuk mengisi adalah dengan cara
mengisi inner ring terlebih dahulu kemudian membiarkanya
meluap hingga mengisi cuter ring
5. Ketika pointer mencapai permulaan skala, tekan “START” pada
timer (15 menit) sesegera mungkin.
6. Pada saat air merembes masuk ke dalam tanah , bola plastic akan
mengukur air tanah dalam tabung dalam satuan inch dan
menerakanya pada skala yang telah terhubung dengan timer
7. Dalam waktu 15 menit, timer akan berbunyi, kemudian matikan
alat dengan menekan tombol “STOP”
8. Cek posisi pointer pada skala , dan catat angkanya dalam dalam
satuan inch. Kalikan angka tersebut dengan 4 untuk
memberikan data infiltrasi dalam 1 jam, serta catat informasi ini
dalam daftar pencatatan.
9. Setelah selesai menggunakan , cabut alat dengan memutar
pegangan alat.
10. Alat di bersihkan dengan menggunakan air, dikeringkan lalu
disemprot dengan silicon (jika ada).
b. Invers Augerhole

1. Buatlah lubang sedalam 10 cm ,dengan jari – jari lubang


menyesuaikan dengan bor tanah yang ada, kemudian ukur jari –
jari lubang yang sudah di buat
2. Untuk memperkuat dinding lubang bor bagian atas dengan
potongan pipa setinggi + 10 cm dengan jari – jari 4cm.
3. Masukkan pelampung yang telah dilengkapi dengan meteran
pencatat penurunan muka airtanah hingga mencapai dasar lubang.
4. Masukkan air ke dalam hingga kedalaman 10 cm dari mulut
lubang, Serta upayakan agar tidak ada air yang tertumpah di
sekitar lubang.
5. Siapkan lembar kerja yang berisikan data ; t(detik) , h’t1 (cm), ht1
(cm) dan ht1+r/2(cm)
6. Nilai ht1 diperoleh dari panjang screen bor (D) dikurangi
peresapan, sehingga ht1 = D-h’t1 dengan mencatat perubahan
peresapan setiap 5 detik.
7. Plot-kan nilai ht1+r/2 di kertas semilog sebagai sumbu log, dan t1
ke skala linier;
8. Tarik garis lurus dari hasil plotting sampai memotong sumbu x
(log)
9. Cari nilai tan α dengan cara mencari nilai sembarang pada garis
sehingga tan α = (nilaiy/nilaix)/waktu total uji bor
10. Masukkan nilai- nilai tersebut jika r sudah di ketahui dalam rumus
K
11. Ulangi langkah 1-10 dengan mencatat perubahan waktu pada poin
keenam untuk setiap perubahan h’t1 (per 2 cm perubahan/
peresapan)
c. Flonets dan Mata Air
1. Melakukan plotting lokasi mata air/sumur dan mengukur debit
mataair dengan rumus Q = v/t
2. Tabulasi data plotting di Microsoft excel kemudian simpan data
ke format text (.txt)
3. Masukkan data xyz ke Arcgis
4. Melakukan Interpolasi data dengan Spatial Analyst Tools
>Interpolation >IDW
5. Buat kontur dengan menggunakan Spatial Analyst Tools Surface
Contour
6. Layot menjadi peta
DIAGRAM ALIR
a. Infiltrasi
 Pengukuran Lapangan Menggunakan Double Ring Infiltrometer

Tempatkan Double Ring Infiltrometer pada bidang yang stabil dan relative
datar.

Benamkan alat ke dalam tanah hingga sedalam 3-10 cm dalam kondisi datar.

Pasang mistar /penggaris ukur di bagian silinder dalam.

Masukkan air ke dalam silinder dalam dan luar, serta segera lakukan
pengukuran.

Silinder luar harus dijaga kestabilan volumenya dengan menambahkan air


jika terjadi pengurangan volume.

Tulis data lapangan yang berupa ; t(menit), V1 (ml) /volume silinder kecil,
V2 (ml) /volume silinder kecil pada penambahan air.

 Pengukuran Lapangan Menggunakan Turf-Tec International digital.


Siapkan alat Turf-Tec International digital

Tempatkan double ring pada area yang akan di uji. Semprotan silica dapat di
aplikasikan pada bagian tepi bawah double ring untuk memudahkan dan
membersihkan alat.

Tekan pegangan alat dengan pelan pada tanah untuk memasukkan ring
instrument pada alat. Hindari cara memasukkan alat dengan menekan ke
arah kanan/kiri

Isi kedua ring (outter dan inner ring) dengan air bersih hingga terjadi luapan.
Cara termudah untuk mengisi adalah dengan cara mengisi inner ring terlebih
dahulu kemudian membiarkanya meluap hingga mengisi cuter ring

Ketika pointer mencapai permulaan skala, tekan “START” pada timer (15
menit) sesegera mungkin.
Pada saat air merembes masuk ke dalam tanah , bola plastic akan mengukur
air tanah dalam tabung dalam satuan inch dan menerakanya pada skala yang
telah terhubung dengan timer

Dalam waktu 15 menit, timer akan berbunyi, kemudian matikan alat dengan
menekan tombol “STOP”

Cek posisi pointer pada skala , dan catat angkanya dalam dalam satuan inch.
Kalikan angka tersebut dengan 4 untuk memberikan data infiltrasi dalam 1
jam ,serta catat informasi ini dalam daftar pencatatan.

Setelah selesai menggunakan , cabut alat dengan memutar pegangan alat.

Alat di bersihkan dengan menggunakan air, dikeringkan lalu disemprot


dengan silicon (jika ada).

b. Invers Auger Hole


Buat lubang 10 cm, dengan r menyesuaikan bor , lalu ukur nilai r lubang

perkuat dinding lubang atas dengan potongan pipa setinggi + 10 cm


dengan jari – jari 4cm

Masukkan pelampung dengan meteran pencatat penurunan muka airtanah


hingga mencapai dasar lubang.

Masukkan air ke lubang sedalam 10 cm dari mulut lubang, dengaan catatan


tidak ada air yang tertumpah di sekitar lubang.

Siapkan lembar kerja yang berisikan data ; t(detik) , h’t1 (cm), ht1 (cm) dan
ht1+r/2(cm) ;

Nilai ht1 dari panjang screen bor (D) dikurangi peresapan, ht 1 = D –h’t1 ;
dengan mencatat perubahan peresapan setiap 5 detik.

Plot-kan nilai ht1+r/2 di kertas semilog sebagai sumbu log, dan t1 ke skala
linier;
Tarik garis lurus dari hasil plotting sampai memotong sumbu x (log)

Cari nilai tan α dengan cara mencari nilai sembarang pada garis sehingga tan
α = (nilaiy/nilaix)/waktu total uji bor ;

Masukkan nilai- nilai tersebut jika r dudah di ketahui dalam rumus K;

Ulangi langkah 1-10 dengan mencatat perubahan waktu pada poin keenam
untuk setiap perubahan h’t1 (per 2 cm perubahan/ peresapan)

c. Flownets dan mataair


Melakukan plotting lokasi mata air/sumur dan mengukur debit dengan
rumus Q= v/t

Tabulasi data plotting di Microsoft excel kemudian simpan data ke format


text (.txt)

Masukkan data xyz ke Arcgis

Melakukan Interpolasi data dengan Spatial Analyst Tools >Interpolation


>IDW

Buat kontur dengan menggunakan Spatial Analyst Tools Surface Contour

Layot menjadi peta


IV. HASIL
a. Infiltrasi
1. Penggunaan lahan Perkebunan
- Data Infiltrasi dilapangan (terlampir)
- Tabel perhitungan Fukur (terlampir)
- Tabel Perhitungan Fduga (terlampir)
- Tabel Perhitungan (Fukur-Fduga)2 (terlampir)
- Grafik Fukur (terlampir)
- Grafik Fduga (terlampir)
- Grafik Perbandingan Fukur dan Fduga (terlampir)
2. Penggunaan lahan Permukiman
- Data Infiltrasi dilapangan (terlampir)
- Tabel perhitungan Fukur (terlampir)
- Tabel Perhitungan Fduga (terlampir)
- Tabel Perhitungan (Fukur-Fduga)2 (terlampir)
- Grafik Fukur (terlampir)
- Grafik Fduga (terlampir)
- Grafik Perbandingan Fukur dan Fduga (terlampir)
3. Penggunaan lahan Hutan
- Data Infiltrasi dilapangan (terlampir)
- Tabel perhitungan Fukur (terlampir)
- Tabel Perhitungan Fduga (terlampir)
- Tabel Perhitungan (Fukur-Fduga)2 (terlampir)
- Grafik Fukur (terlampir)
- Grafik Fduga (terlampir)
- Grafik Perbandingan Fukur dan Fduga (terlampir)

b. Invers Auger Hole


1. Kurva Invers Auger Hole Titik 1 (terlampir)
2. Kurva Invers Auger Hole Titik 2 (terlampir)
3. Kurva perbandingan Invers Auger Hole antara pengukuran 2 cm dan 5
detik pada titik 1 (terlampir)
4. Kurva perbandingan Invers Auger Hole antara pengukuran 2 cm dan 5
detik pada titik 2 (terlampir)
5. Perhitungan K (Konduktivitas Hidrolik)
c. Flownets dan mataair
1. Peta jaring aliran airtanah (terlampir)
2. Perhitungan debit (terlampir)

V. PEMBAHASAN
a. Infiltrasi
Kebun, Hutan Dan Permukiman
Pada praktikum kali ini mahasiswa melakukan pengukuran laju
infiltrasi. Seperti yang dijelaskan sebelumnya pada dasar teori, infiltrasi ini
erat kaitannya dengan kemampuan tanah menyerap air. Dalam pengukuran
laju infiltrasi ini, digunakan alat double ring dan infiltrometer. Diameter
double ring dalam 15 cm dan juga tinggi ring 37,5 cm dimana tinggi tersebut
merupakan sisa dari 10 cm ring yang sudah ditancapkan ke dalam tanah.
Awalnya, permukaan tanah dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran ataupun
sampah yang ada di permukaan tanah, selain itu vegetasi seperti penutup
rumput yang ada pada permukaan tanah juga dibersihkan. Hal ini dikarena,
laju infiltrasi adalah mengukur kecepatan air yang terserap ke dalam tanah,
sehingga permukaan tanah harus benar-benar steril agar data yang didapatkan
dari hasil pengukuran lapangan maksimal.
Langkah selanjutnya, ring diletakkan di atas permukaan tanah dan
ditanamkan dengan cara dipalu atau dipukul dengan kayu balok. Ring harus
masuk ke dalam tanah dengan merata kira-kira 10 cm, hal ini agar ring yang
ditanamkankan tidak merusak profil ataupun struktur tanah. Oleh karena itu,
ring harus dipalu merata, sehingga masuk ke dalam tanah dengan merata atau
tegak lurus, saat ring sudah tertanam ke dalam tanah, barulah diukur tinggi
ring yang tersisa di atas permukaan tanah hal ini bertujuan untk mendapatkan
volume air total dari ring. Pada ring bagian dalam dietakkan penggaris atau
mistar untuk mengukur laju infiltrasi. Didalam tanah air mengalir dalam arah
lateral, sebagai aliran antara (interflow) menuju mata air, danau dan sungai;
atau secara vertikal atau yang dikenal dengan perkolasi (percolation) menuju
air tanah. Gerak air di dalam tanah melalui pori – pori tanah dipengaruhi oleh
gaya gravitasi dan gaya kapiler.
Gaya gravitasi menyebabkan aliran air selalu menuju ketempat yang
lebih rendah, sedangkan gaya kapiler menyebabkan pergerakan air bergerak
kesegala arah. Air kapiler selalu selalu bergerak dari tempat daerah basah
menuju daerah yang lebih kering. Tanah kering mempunyai gaya kapiler lebih
besar daripada tanah basah. Gaya tersebut berkurang dengan bertambahnya
kelembaban tanah. Selain itu, gaya kapiler bekerja lebih kuat pada tanah
dengan butiran halus seperti lempung daripada tanah berbutir kasar pasir.
Apabila tanah kering, air terinfiltrasi melalui permukaan tanah karena
pengaruh gaya gravitasi dan gaya kapiler pada permukaan tanah. Setelah tanah
menjadi basah gerak kapiler berkurang karena berkurangnya gaya kapiler. Hal
ini menurunkan laju infiltrasi, sementara aliran kapiler pada lapis permukaan
berkurang, aliran karena pengaruh gravitasi berlanjut mengisi pori pori
permukaan tanah. Dengan terisinya pori – pori tanah, laju infiltrasi berkurang
secara berangsur – angsur sampai dicapai kondisi konstan; dimana laju
infiltrasi sama dengan laju perkolasi melalui tanah.
Berdasarkan hasil pengukuran infiltrasi menggunakan double ring
dilokasi penggunaan lahan kebun, diperoleh nilai dengan melihat
perbandingan antara(f ukur dan f duga), pada pengukuran f ukur berasal dari
pengukuran dilapangan dari nilai bagi antara nilai turun dibagi dengan waktu
penurunan sehingga hasil diperoleh lebih fluktuatif, sedangkan pada f duga
berasal dari rumus metode horton (f= fc+(f0-fc).e-k.t). Diketahui pada menit
kedua f ukur memiliki laju infiltrasi 0,7000 cm/menit dan f duga 0,7000
cm/menit, waktu pengukuran pada saat konstan untuk f ukur 0,001 cm/menit
dan f duga 0,0007 cm/menit pada saat menit ke 137. Apabila dilihat pada kurva
infiltrasi antara f ukur dan f duga terlihat berbeda, pada f ukur terlihat mulai
konstan memasuki menit ke 130 dan f duga mengalami konstan pada saat
memasuki menit ke 11. Kurva dari nilai f ukur cenderung lebih fluktuatif laju
penurunan infiltasinya, misalnya pada menit kedua 0,7000cm/menit dan
dimenit ke 3 nilai laju infiltrasinya 0,167 cm/menit, sedangkan pada f duga
penurunan pada menit kedua 0,7000 dan menit ketiga 0,2134 cm/menit.
Apabila dimasukkan kedalam klasifikasi infiltrasi tanah nilai 0,7000 cm/menit
atau 437,5 mm/jam masuk dalam klasifikasi sangat cepat (lee,1990).
Pengukuran di hutan diperoleh perbandingan nilai antara(f ukur dan
f duga), pada menit kedua f ukur memiliki laju infiltrasi pada 1,650 cm/menit
dan f duga 2,004 cm/menit, waktu pengukuran pada saat konstan untuk f ukur
dan f duga pada menit 147. Apabila dilihat pada kurva infiltrasi antara f ukur
dan f duga terlihat berbeda, pada f ukur terlihat mulai konstan memasuki menit
ke 140 dan f duga mengalami konstan pada saat memasuki menit ke 16. Pada
pengukuran menit kedua misalnya f ukur sebesar 1,650 cm/menit atau 1031,25
mm/jam masuk dalam kategori sangat cepat (lee,1990). Pengukuran di
Permukiman diperoleh perbandingan nilai antara(f ukur dan f duga), pada
menit kedua f ukur memiliki laju infiltrasi pada 0,750 cm/menit dan f duga
0,750 cm/menit, waktu pengukuran pada konstan untuk f ukur dan f duga pada
menit 115. pada saat mulai konstan f ukur dan duga 113 dan menit ke 23.
Pada pengukuran menit kedua misalnya f ukur sebesar 0,750 cm/menit atau
468,75 mm/jam masuk dalam kategori sangat cepat (lee,1990).
Secara umum dari ketiga pengukuran infiltrasi melalui penggambaran
kurva di penggunaan lahan kebun, hutan dan permukiman masuk dalam
klasifikasi sangat cepat pada pengukuran menit kedua. Apabila dilihat dari
nilai konstan, pengggunaan lahan yang memiliki nilai konstan terlama pada
penggunaan lahan hutan kedua kebun dan yang paling cepat adalah
penggunaan lahan permukiman. Kurva kapasitas infiltrasi merupakan
hubungan antara kapasitas infiltrasi dengan waktu yang terjadi. Kapasitas
infiltrasi secara umum akan tinggi pada awal terjadi nya ,akan tetapi semakin
lama kapasitas nya maka akan mencapai penurunan hingga mencapai titik
konstan. Besarnya penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu:
Kelembapan tanah, Kompaksi,Penumpukan bahan liatan, Tekstur tanah dan
Struktur tanah. Asumsi diatas didukung oleh Metode Horton mengakui bahwa
kapasitas infiltrasi berkurang seiring dengan bertambahnya waktu hingga
mendekati nilai yang konstant. Ia menyatakan pandangannya bahwa
penurunan kapasitas infiltrasi lebih dikontrol oleh faktor yang beroperasi di
permukaan tanah dibanding dengan proses aliran di dalam tanah. Faktor yang
berperan untuk pengurangan laju infiltrasi seperti penutupan retakan tanah
oleh koloid tanah dan pembentukan kerak tanah, penghancuran struktur
permukaan lahan dan pengangkutan partikel halus dipermukaan tanah oleh
tetesan air hujan. Dilihat dari waktu konstan infiltrasi pada penggunaan lahan
permukiman memiliki nilai konstan/jenuh tergolong cepat hal ini dipengaruhi
oleh pemukiman terletak pada bagian lalu lintas orang atau kendaraan,
permeabilitas tanah berkurang karena struktur butir-butir tanah dan ruang-
ruang yang berbentuk pipa yang halus telah dirusaknya dan mengakibatkan
tanah tersebut menjadi padat, sehingga laju infiltrasi/ perkolasi pada daerah
tersebut sangat rendah. Contohnya kebun rumput tempat memelihara banyak
hewan, lapangan permainan dan jalan tanah. Pemampatan oleh injakan orang
atau binatang dan lalu lintas kendaraan sangat menurunkan laju infiltrasi/
perkolasi.
Pada penggunaan lahan hutan yang memiliki waktu konstan tergolong
lama, hal ini dikarenakan pada lokasi ini karakteristik tanah cenderung porous,
tekstur tanah lempung berpasir hal ini dibuktikan pada metode sidik cepat
tanah menggunakan jari telunjuk dan ibu jari, dimana tanah saat ditetesi air
tidak melengket, dipengaruhi oleh Linkungan tumbuh tumbuhan yang padat,
misalnya seperti rumput atau hutan cenderung untuk meningkatrkan resapan
air hujan. Ini disebabkan oleh akar yang padat menembus kedalam hutan,
lapisan sampah organic dari daun-daun atau akar-akar dan sisa-sisa tanaman
yang membusuk membentuk permukaan empuk, binatang-binatang dan
serangga-serangga pembuat liang membuka jalan kedalam tanah, lindungan
tumbuh-tumbuhan mengambil air dari dalam tanah sehingga memberikan
ruang bagi proses infiltrasi/ perkolasi berikutnya.
Dalam mengukur infiltrasi menggunakan infiltrometer turf tech
diperoleh hasil infiltrasi pada penggunaan lahan kebun 32,8 cm/menit, hutan
29,6 cm/menit dan permukiman 20,8 cm/menit. pengukuran infiltrasi
menggunakan infiltrometer menggunakan waktu 15 menit dari masing-masing
penggunaan lahan. Waktu 15 menit, terlalu singkat untuk mengukur keadaan
infiltrasi tanah, seperti yang dilakukan denga menggunakan infiltrometer hal
ini memiliki kekurangan dimana praktikan tidak tahu kapan infiltrasi tersebut
terhenti yaitu dengan konstannya air yang ada pada ring. Berbeda dengan
menggunakan double ring waktu yang digunakan tidak terikat yaitu sampai air
yang ada di dalam ring enar-benar konstan baru pengukuran dihentikan.
Pengaplikasian infiltrasi dalam kehidupan sehari hari berguna untuk Vegetasi
dan lapisan serasah melindungi permukaan tanah dari pukulan langsung
tetesan air hujan yang dapat menghancurkan agregat tanah, sehingga terjadi
pemadatan tanah. Hancuran partikel tanah dapat menyebabkan penyumbatan
pori tanah makro sehingga menghambat infiltrasi air tanah, akibatnya
limpasan permukaan akan meningkat. Peran lapisan serasah dalam melindungi
permukaan tanah sangat dipengaruhi oleh ketahanannya terhadap pelapukan.
Serasah berkualitas tinggi (mengandung hara, terutama N tinggi) akan mudah
melapuk sehingga fungsi penutup permukaan tanah tidak bertahan lama
(Asikin, 2006).
Vegetasi pada permukaan tanah itu pada umumnya dapat mencegah
atau mengurangi berlangsungnya erosi, akan tetapi karena tanaman itu
berjenis-jenis maka pengaruh dan hasilnyapun berbeda-beda pula. Rumput-
rumputan atau tanaman rimbun yang tumbuh rapat mempunyai kemampuan
mencegah berlangsungnya erosi yang lebih besar dibanding dengan tanaman-
tanaman yang tumbuh jarang serta tidak berdaun lebat (Sutedjo dan
Kartasapoetra, 1991). Kerapatan pohon akan mempengaruhi hambatan
terhadap air hujan dalam luas yang lebih besar, sehingga populasi tanaman
yang jarang akan menimbulkan erosi yang lebih besar. Populasi yang jarang
ini terutama disebabkan oleh penebangan yang liar, pembakaran dan
pengusahaan tanah garapan lainnya (Sarief, 1985). Selain itu kegunaan dari
infiltrasi ini adalah untuk mementukan jenis tanaman apa yang cocok ditanam
disuatu jenis tanah sesuai dengan kebutuhan kadar air suatu tanaman tersebut,
apabila salah dalam mengidentifikasi tanah dengan kadar air maka sangat
berisiko untuk menanam di areal tersebut. Disamping itu infiltrasi juga
mempunyai fungsi untuk menentukan seberapa besarkah suatu jenis tanah
dapat menyerah air kedalam tanah jika tanah tersebut dapat menyerap air
kedalam tanah dengan maksimal maka tanah tersebut dapat dikategorikan baik
dilihat dari sudut pandang laju infiltrasi.
b. Invers Auger Hole
Penentuan terkait besarnya nilai K dalam hal ini konduktivitas
hidraulik dapat diketahui dengan melakukan pengukuran secara langsung
dilapangan maupun pengolahan data yang telah ada melalui penelitian
sebelumnya. Besarnya nilai K yang ada pada suatu daerah/lokasi pengujian
dapat menggambarkan secara general bagaiamana kondisi atau ketersediaan
air khususnya air tanah pada suatu lokasi. Salah satu metode yang digunakan
untuk mengetahui besarnya laju konduktivitas hydraulik pada suatu lokasi
pengujian yakni Invers Auger Hole. Berdasarkan pada hasil pengujian
langsung yang dilakukan dilapangan terkait pengujian besarnya nilai
Konduktivitas Hydraulik dapat diketahui bahwa nilai K dari masing-masing
pengukuran, yakni (2 cm) dan (per 5 detik) seharusnya memiliki perbedaan
yang tidak terlalu signifikan. Pada pengukuran tiap 2 cm nilai Konduktivitas
Hydrauliknya sebesar 9 m/hari sedangkan untuk pengukuran tiap 5 detik, nilai
Konduktivitas Hydrauliknya sebesar 12 m/hari.
Perbedaan nilai tersebut, dikarenakan pada kedua titik pengeboran
saat dilakukan dilapangan dipengaruhi oleh kondisi tanah, terutama pada
kedalaman (±>20 – 30 cm) yang berbeda pada kedua titik tersebut. Perubahan
sifat fisik tanah akan terjadi jika terjadi perubahan kadar air didalam tanah
akibat proses pembasahan dan pengeringan dimana proses ini se-ring terjadi
pada daerah tropis. Perubahan-perubahan sifat fisik seperti: porositas, angka
pori, kepadatankering, berat volume akan mempengaruhi suction (tegangan
air pori negatif) dan konduktivitas hidrolik (Asmaranto, et al 2012) .Pada titik
pengeboran pertama (penurunan 2 cm), waktu yang dibutuhkan untuk
melakukan pengeboran lebih lama dibandingkan pada titik kedua. Lu and
Likos (2004) menerangkan bahwa konduktivitas hidrolik tanah merupakan
fungsi dari variabel-variabel seperti: struktur pori (angka pori dan poro-sitas),
sifat-sifat fluida pori (kepadatan dan keken-talan), dan sejumlah fluida pori
didalam sistem tanah(kadar air dan derajat kejenuhan).
Kondisi tanah pada titik pertama terutama pada kedalaman (±>20 – 30
cm) strkturnya tanahnya cenderung Blocky, sedangkan pada titik pengeboran
kedua (tiap 5 detik) cenderung agak granuler. Sruktur tanah sendiri
menggambarkan susunan keruangan partikel partikel tanah yang bergabung
dengan yang lain membentuk suatu agregat atau gumpalan. Boodt (1978)
menyatakan bahwa struktur tanah akan berpengaruh terhadap gerakan air,
gerakan udara, suhu tanah dan hanbatan mekanik perkecambahan biji serta
penetrasi. Soegiman (1982), bahwa tanah yang lepas dan bergumpal akan
mempunyai berat persatuan volume (Bulk Density) rendah dan kerapatan
massa yang terjadi ditentukan oleh butir-butir tanah padat. Hal tersebut
tentunya berpengaruh pada laju konduktivitas-nya. Makain padat suatu tanah
makin tinggi bulk Density, yang berarti makin sulut meneruskan air atau
ditembus akar tanaman. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pada titik
pengeboran pertama niali K nya lebih lambat dibanding titik pengeboran
kedua. Selain itu, apabila kita melihat waktu laju penurunan konstan air, maka
titik pertama lebih cepat konstan dibandingkan dengan titik pengeboran kedua,
dimana pada titik pertama membutuhkan waktu 933 detik sedangkan pada titik
kedua 1285 detik.
Berdasarkan pada table klasifikasi hantaran hidrolik jenuh tanah,
dapat diperoleh bahwa tingkat laju konduktivitas tanah tergolong kategori
sangat cepat untuk penurunan 5 detik (50,8 cm/jam) sama halnya dengan
penurunan tiap 2 cm yang tergolong kedalam kelas sangat cepat (37,39
cm/jam). Meskipun nilai K dari kedua pengukuran tersebut berbeda, namun
masih termasuk dalam kelas laju hantaran hidrolik yang sama yakni sangat
cepat. Sehingga, hal tersebut dapat diasumsikan bahwa kedua pengukuran
tersebut masih memiliki kesesuaian satu dengan yang lain. Faktor yang
lainnya ialah Viskositas. Viskositas akan berkaitan dengan karakteristik air
nya. Viskositas tinggi menandakan bahwa air tersebut semakin kental. Air
tersebut cenderung akan lebih lambat saat bergerak pada lapisan tanah.
(Munawaroh, 2010). Namun, dalam proses pengukuran saat dilapangan,
variabel ini diabaikan karena tidak berpengaruh terhadap hasil pengukuran
secara signifikan.
Titik 2 terdapat di daerah hulu desa Dalisodo, tepatnya di koordinat
49s 667626 mT, 9117378mU. Berdasarkan perhitungan nilai Konduktivitass
Hidrolik, dapat diketahui bahwa pada titik ini memiliki nilai konduktivitas
sebesar 37,61856 m/hari pada pengukuran penurunan tiap 5 detik dan
memiliki nilai konduktivitas sebesar 14,6909376 m/hari pada pengukuran
penurunan tiap 2 cm.

c. Flownets dan mata air


Flownets ialah suatu peta atau konstruksi yang berisikan peta kontur
airtanah (equipotential line) dan peta aliran airtanah (stream
lines). Pembuatan flownets memerlukan bebrerapa data seperti data tinggi
muka airtanah, data elevasi sumur, dan koordinat titik-titik pengukuran yang
teridentifikasi pada suatu wilayah. Peta jaring aliran muka airtanah (flownets)
dapat menentukan daerah yang termasuk re-charge area atau daerah
tangkapan airtanah, discharge area atau daerah pemanfaatan airtanah,
serta arah aliran air tanahnya.
Recharge area adalah daerah yang menyediakan sarana utama untuk
pengisian air tanah, recharge area alami yang baik adalah daerah dimana air
permukaan mampu meresap menjadi air tanah. Berdasarkan flownets yang
telah dibuat dapat diketahui bahwa daerah tangkapan airtanah (re-charge) di
Desa Dalisoso Kecamatan Wagir berada dibagian barat pada kontur 1110
mdpal. Daerah yang memiliki topografi datar dapat berfungsi sebagai
(discharge area) atau daerah pemanfaatan airtanah. Hal ini dikarenakan pada
daerah dengan topografi datar memiliki perkembangan yang pesat sehingga
frekuensi pengambilan air tanah relatif besar. Berdasarkan flownets dapat
diketahui daerah yang termasuk dalam (discharge area) berada dibagian timur
pada kontur 640 mdpal.
Arah aliran muka air tanah dapat menentukan pula arah pencemaran
air tanah pada suatu daerah. Berdasarkan arah aliran air tanah, dapat diketahui
bahwa arah aliran air tanah di Desa Dalisodo Kecamatan Wagir mengalir dari
barat menuju ke arah timur. Hal ini menunjukkan bahwa apabila terjadi
pencemaran air yang berasal dari hulu atau rembesan selama proses
transportnya, maka arah pencemaran tersebut akan mengikuti arah aliran air,
yaitu menuju ke arah timur.
Flownets juga berfungsi untuk mengetahui kemiringan muka air tanah
( hydraulic gradient). Berdasarkan peta Flownets Desa Dalisodo yang telah
dibuat dapat diketahui bahwa pada bagian barat, memiliki kemiringan muka
air tanah yang curam, sedangkan semakin ke arah timur muka air tanahnya
memiliki kemiringan yang cukup landai. Hal ini dikarenakan semakin rapat
kontur air tanah (flownet) maka hydraulic gradient semakin besar, dan
begitupun sebaliknya. Berdasarkan kemiringan muka air tanah juga dapat
diketahui pula pendugaan kedalaman muka air tanahnya dan konduktivitas
hidrauliknya. Semakin miring lereng permukaan air tanah, maka muka air
tanah akan semakin dalam dan memiliki aliran yang semakin cepat.
VI. KESIMPULAN

Dalam mendapatkan besaran nilai K yang terdapat pada suatu


daerah/lokasi penelitian dapat menggambarkan secara general bagaimana kondisi
atau ketersediaan air khususnya pada air tanah yang terletak disuatu lokasi.
Metode yang digunakan untuk mengetahui besarnya laju konduktivitas hydraulic
pada suatu lokasi penelitian yaitu dengan menggunakan metode Invers Auger
Hole. Pada hasil pengamatan yang telah dilakukan didapatkan nilai Konduktivitas
Hidraulik pada titik 1 dengan masing-masing pengukuran memiliki perbedaan.
Seperti pada pengukuran tiap 2 cm nilai Konduktivas Hydrauliknya sebesar
9m/hari sedangkan untuk pengukuran tiap 5 detik, di dapatkan nilai Konduktivitas
Hidrauliknya sebesar 12m/hari. Pada titik ke 2 didapatkan nilai Konduktivitas
Hidrauliknya pada penurunan tiap 5 detik sebesar 37,61 m/hari sedangkan untuk
pengukuran pada penurunan tiap 2 cm sebesar 14,69 m/hari. Pada titik ke 1 waktu
laju penurunan konstan air pada titik pertama membutuhkan waktu 933 detik
sednagkan pada titik kedua dibutuhkan waktu 1285 detik. Meskipun nilai K dari
dua titik pengukuran tersebut berbeda, tetapi masih termasuk dalam kelas laju
hantaran hidrolik yang sama yaitu snagat cepat.

Berdasarkan penggukuran infiltrasi menggunakan double ring pada menit


ke 2 nilai infiltrasi pada lokasi pengamatan yang berada di hutan memiliki nilai
infiltrasi tertinggi sebesar 1031,25 mm/jam dibandingkan dengan penggunaan
lahan perkebunan dan permukiman. Hal tersebut dikarenakan tekstur tanah yang
cenderung porus serta memilki tekstur tanah lempung berpasir dan serta adanya
factor lingkungan tumbuh tumbuhan yang padat.

Pada flownets yang telah dibuat dapat diketahui bahwa terdapat derah
tangkapan airtanah ( re-charge) di Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir berada
dibagian barat pada kontur 1110 mdpal. Berdasarkan flownets dapat diketahui
daerah yang termasuk dalam (discharge area) berada pada bagian timur terdapat
pada kontur 640 mdpal. Flownets yang telah dibuat berfungsi untuk mengetahui
kemiringan muka air tanah (hydarulic gradient). Berdasarkan dari peta Flownets
Desa Dalisodo yang telah dibuat dapat diketahui bahwa pada bagian barat,
memiliki kemiringan yang cukup landai. Hal ini dikarenakan semakin rapat kontur
air tanah (flownets) maka hydraulic gradient semakin besar dan begitu sebaliknya.

VII. DAFTAR RUJUKA


LAMPIRAN

Infiltrasi

Data mentah infiltrasi lapangan


Pemukiman 23 176.625 37 1 6535.13 180 0.0435
tinggi V. 24 176.625 37 0.9 6535.13 160 0.0375
tingg v.
L. Alas penur Penam 25 176.625 37 1 6535.13 180 0.0400
t i Awal f
(cm²) unan bahan 26 176.625 37 1 6535.13 180 0.0385
(cm) (cm³)
(cm) (cm³)
27 176.625 37 1.1 6535.13 200 0.0407
1 176.625 37 2.5 6535.13 450 2.5000
28 176.625 37 1 6535.13 180 0.0357
2 176.625 37 1.5 6535.13 260 0.7500
29 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0276
3 176.625 37 1.5 6535.13 260 0.5000
30 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0267
4 176.625 37 1.6 6535.13 280 0.4000
31 176.625 37 0.7 6535.13 120 0.0226
5 176.625 37 1.4 6535.13 240 0.2800
32 176.625 37 0.6 6535.13 100 0.0188
6 176.625 37 1.4 6535.13 240 0.2333
33 176.625 37 0.7 6535.13 120 0.0212
7 176.625 37 1.2 6535.13 220 0.1714
34 176.625 37 1 6535.13 180 0.0294
8 176.625 37 1.2 6535.13 220 0.1500
35 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0229
9 176.625 37 1.1 6535.13 200 0.1222
36 176.625 37 1 6535.13 180 0.0278
10 176.625 37 0.9 6535.13 160 0.0900
37 176.625 37 0.9 6535.13 160 0.0243
11 176.625 37 1 6535.13 180 0.0909
38 176.625 37 1 6535.13 180 0.0263
12 176.625 37 1.1 6535.13 200 0.0917
39 176.625 37 1.3 6535.13 240 0.0333
13 176.625 37 0.6 6535.13 100 0.0462
40 176.625 37 1 6535.13 180 0.0250
14 176.625 37 1 6535.13 180 0.0714
41 176.625 37 0.5 6535.13 80 0.0122
15 176.625 37 1.2 6535.13 220 0.0800
42 176.625 37 1 6535.13 180 0.0238
16 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0500
43 176.625 37 1.3 6535.13 240 0.0302
17 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0471
44 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0182
18 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0444
45 176.625 37 0.6 6535.13 100 0.0133
19 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0421
46 176.625 37 0.7 6535.13 120 0.0152
20 176.625 37 0.7 6535.13 120 0.0350
47 176.625 37 0.6 6535.13 100 0.0128
21 176.625 37 1.2 6535.13 220 0.0571
48 176.625 37 0.9 6535.13 160 0.0188
22 176.625 37 1 6535.13 180 0.0455
49 176.625 37 0.6 6535.13 100 0.0122
50 176.625 37 0.9 6535.13 160 0.0180 77 176.625 37 0.5 6535.13 80 0.0065
51 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0157 78 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0103
52 176.625 37 0.7 6535.13 120 0.0135 79 176.625 37 0.6 6535.13 100 0.0076
53 176.625 37 0.7 6535.13 120 0.0132 80 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0100
54 176.625 37 0.7 6535.13 120 0.0130 81 176.625 37 0.7 6535.13 120 0.0086
55 176.625 37 0.9 6535.13 160 0.0164 82 176.625 37 1 6535.13 180 0.0122
56 176.625 37 1.2 6535.13 220 0.0214 83 176.625 37 0.6 6535.13 100 0.0072
57 176.625 37 1.3 6535.13 240 0.0228 84 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0095
58 176.625 37 1 6535.13 180 0.0172 85 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0094
59 176.625 37 1.1 6535.13 200 0.0186 86 176.625 37 1 6535.13 180 0.0116
60 176.625 37 1 6535.13 180 0.0167 87 176.625 37 0.7 6535.13 120 0.0080
61 176.625 37 0.9 6535.13 160 0.0148 88 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0091
62 176.625 37 1.3 6535.13 240 0.0210 89 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0090
63 176.625 37 1.1 6535.13 200 0.0175 90 176.625 37 0.5 6535.13 80 0.0056
64 176.625 37 1.4 6535.13 260 0.0219 91 176.625 37 0.6 6535.13 100 0.0066
65 176.625 37 1.1 6535.13 200 0.0169 92 176.625 37 0.8 6535.13 140 0.0087
66 176.625 37 1.1 6535.13 200 0.0167 93 176.625 37 0.5 6535.13 80 0.0054
67 176.625 37 1.4 6535.13 260 0.0209 94 176.625 37 0.4 6535.13 60 0.0043
68 176.625 37 1.1 6535.13 200 0.0162 95 176.625 37 0.5 6535.13 80 0.0053
69 176.625 37 1.3 6535.13 240 0.0188 96 176.625 37 0.5 6535.13 80 0.0052
70 176.625 37 1.4 6535.13 260 0.0200 97 176.625 37 0.3 6535.13 50 0.0031
71 176.625 37 1.4 6535.13 260 0.0197 98 176.625 37 0.4 6535.13 60 0.0041
72 176.625 37 1.4 6535.13 260 0.0194 99 176.625 37 0.6 6535.13 100 0.0061
73 176.625 37 1.4 6535.13 260 0.0192 100 176.625 37 0.4 6535.13 60 0.0040
74 176.625 37 1.3 6535.13 240 0.0176 101 176.625 37 0.5 6535.13 80 0.0050
75 176.625 37 1.4 6535.13 260 0.0187 102 176.625 37 0.5 6535.13 80 0.0049
76 176.625 37 0.7 6535.13 120 0.0092 103 176.625 37 0.5 6535.13 80 0.0049
104 176.625 37 0.3 6535.13 50 0.0029
105 176.625 37 0.5 6535.13 80 0.0048
106 176.625 37 0.5 6535.13 80 0.0047
107 176.625 37 0.4 6535.13 60 0.0037
108 176.625 37 0.5 6535.13 80 0.0046
109 176.625 37 0.3 6535.13 50 0.0028
110 176.625 37 0.3 6535.13 50 0.0027
111 176.625 37 0.2 6535.13 30 0.0018
112 176.625 37 0.3 6535.13 50 0.0027
113 176.625 37 0.1 6535.13 20 0.0009
114 176.625 37 0.2 6535.13 30 0.0018
115 176.625 37 0.1 6535.13 20 0.0009
Hutan 24 176.625 36.5 2.5 6446.8125 480 0.1042
tinggi V. 25 176.625 36.5 2.5 6446.8125 480 0.1000
L. Alas tinggi v. Awal
t penurunan Penambahan f 26 176.625 36.5 2.6 6446.8125 490 0.1000
(cm²) (cm) (cm³)
(cm) (cm³)
27 176.625 36.5 2.4 6446.8125 440 0.0889
1 176.625 36.5 3.5 6446.8125 630 3.5000
28 176.625 36.5 2.2 6446.8125 420 0.0786
2 176.625 36.5 3.3 6446.8125 600 1.6500
29 176.625 36.5 1.9 6446.8125 360 0.0655
3 176.625 36.5 3 6446.8125 540 1.0000
30 176.625 36.5 2.5 6446.8125 480 0.0833
4 176.625 36.5 2.6 6446.8125 490 0.6500
31 176.625 36.5 2.6 6446.8125 490 0.0839
5 176.625 36.5 3.1 6446.8125 560 0.6200
32 176.625 36.5 2.5 6446.8125 480 0.0781
6 176.625 36.5 3 6446.8125 540 0.5000
33 176.625 36.5 2.4 6446.8125 460 0.0727
7 176.625 36.5 3.1 6446.8125 560 0.4429
34 176.625 36.5 2.3 6446.8125 440 0.0676
8 176.625 36.5 2.7 6446.8125 500 0.3375
35 176.625 36.5 2.4 6446.8125 460 0.0686
9 176.625 36.5 3.2 6446.8125 580 0.3556
36 176.625 36.5 2.1 6446.8125 400 0.0583
10 176.625 36.5 3.3 6446.8125 600 0.3300
37 176.625 36.5 2.3 6446.8125 440 0.0622
11 176.625 36.5 3.3 6446.8125 600 0.3000
38 176.625 36.5 2.3 6446.8125 440 0.0605
12 176.625 36.5 3.1 6446.8125 560 0.2583
39 176.625 36.5 2.3 6446.8125 440 0.0590
13 176.625 36.5 2.7 6446.8125 500 0.2077
40 176.625 36.5 2.3 6446.8125 440 0.0575
14 176.625 36.5 2.6 6446.8125 490 0.1857
41 176.625 36.5 2.2 6446.8125 420 0.0537
15 176.625 36.5 2.5 6446.8125 480 0.1667
42 176.625 36.5 2.2 6446.8125 420 0.0524
16 176.625 36.5 2.6 6446.8125 490 0.1625
43 176.625 36.5 2.2 6446.8125 420 0.0512
17 176.625 36.5 2.6 6446.8125 490 0.1529
44 176.625 36.5 2.2 6446.8125 420 0.0500
18 176.625 36.5 2.5 6446.8125 480 0.1389
45 176.625 36.5 2.1 6446.8125 400 0.0467
19 176.625 36.5 2.4 6446.8125 460 0.1263
46 176.625 36.5 1.9 6446.8125 360 0.0413
20 176.625 36.5 2.7 6446.8125 500 0.1350
47 176.625 36.5 2 6446.8125 380 0.0426
21 176.625 36.5 2.6 6446.8125 490 0.1238
48 176.625 36.5 2.2 6446.8125 420 0.0458
22 176.625 36.5 2.7 6446.8125 500 0.1227
49 176.625 36.5 2.6 6446.8125 490 0.0531
23 176.625 36.5 2.6 6446.8125 490 0.1130
50 176.625 36.5 1.9 6446.8125 360 0.0380
51 176.625 36.5 1.7 6446.8125 320 0.0333 78 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0192
52 176.625 36.5 1.7 6446.8125 320 0.0327 79 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0190
53 176.625 36.5 2 6446.8125 380 0.0377 80 176.625 36.5 1.2 6446.8125 220 0.0150
54 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0278 81 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0185
55 176.625 36.5 2.2 6446.8125 420 0.0400 82 176.625 36.5 1.2 6446.8125 220 0.0146
56 176.625 36.5 2 6446.8125 380 0.0357 83 176.625 36.5 1.4 6446.8125 260 0.0169
57 176.625 36.5 2 6446.8125 380 0.0351 84 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0179
58 176.625 36.5 1.9 6446.8125 360 0.0328 85 176.625 36.5 1.6 6446.8125 300 0.0188
59 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0254 86 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0174
60 176.625 36.5 1.4 6446.8125 260 0.0233 87 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0172
61 176.625 36.5 1.4 6446.8125 260 0.0230 88 176.625 36.5 1.7 6446.8125 320 0.0193
62 176.625 36.5 1.7 6446.8125 320 0.0274 89 176.625 36.5 1.4 6446.8125 260 0.0157
63 176.625 36.5 1.7 6446.8125 320 0.0270 90 176.625 36.5 1.6 6446.8125 300 0.0178
64 176.625 36.5 1.4 6446.8125 260 0.0219 91 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0165
65 176.625 36.5 1.7 6446.8125 320 0.0262 92 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0163
66 176.625 36.5 1.8 6446.8125 340 0.0273 93 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0161
67 176.625 36.5 1.6 6446.8125 300 0.0239 94 176.625 36.5 1.6 6446.8125 300 0.0170
68 176.625 36.5 1.4 6446.8125 260 0.0206 95 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0158
69 176.625 36.5 1.1 6446.8125 200 0.0159 96 176.625 36.5 1.2 6446.8125 220 0.0125
70 176.625 36.5 1.2 6446.8125 220 0.0171 97 176.625 36.5 1.3 6446.8125 240 0.0134
71 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0211 98 176.625 36.5 1.2 6446.8125 220 0.0122
72 176.625 36.5 1.1 6446.8125 200 0.0153 99 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0152
73 176.625 36.5 1 6446.8125 180 0.0137 100 176.625 36.5 1.4 6446.8125 260 0.0140
74 176.625 36.5 1.2 6446.8125 220 0.0162 101 176.625 36.5 1.3 6446.8125 240 0.0129
75 176.625 36.5 1.1 6446.8125 200 0.0147 102 176.625 36.5 1.4 6446.8125 260 0.0137
76 176.625 36.5 1.4 6446.8125 260 0.0184 103 176.625 36.5 1.4 6446.8125 260 0.0136
77 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0195 104 176.625 36.5 1.2 6446.8125 220 0.0115
105 176.625 36.5 1.5 6446.8125 280 0.0143 132 176.625 36.5 0.5 6446.8125 80 0.0038
106 176.625 36.5 1.4 6446.8125 260 0.0132 133 176.625 36.5 0.3 6446.8125 50 0.0023
107 176.625 36.5 1.2 6446.8125 220 0.0112 134 176.625 36.5 0.4 6446.8125 60 0.0030
108 176.625 36.5 0.9 6446.8125 160 0.0083 135 176.625 36.5 0.4 6446.8125 60 0.0030
109 176.625 36.5 0.7 6446.8125 120 0.0064 136 176.625 36.5 0.4 6446.8125 60 0.0029
110 176.625 36.5 0.6 6446.8125 100 0.0055 137 176.625 36.5 0.2 6446.8125 30 0.0015
111 176.625 36.5 0.6 6446.8125 100 0.0054 138 176.625 36.5 0.2 6446.8125 30 0.0014
112 176.625 36.5 0.5 6446.8125 80 0.0045 139 176.625 36.5 0.3 6446.8125 50 0.0022
113 176.625 36.5 0.6 6446.8125 100 0.0053 140 176.625 36.5 0.2 6446.8125 30 0.0014
114 176.625 36.5 0.6 6446.8125 100 0.0053 141 176.625 36.5 0.2 6446.8125 30 0.0014
115 176.625 36.5 0.4 6446.8125 60 0.0035 142 176.625 36.5 0.1 6446.8125 20 0.0007
116 176.625 36.5 0.4 6446.8125 60 0.0034 143 176.625 36.5 0.2 6446.8125 30 0.0014
117 176.625 36.5 0.3 6446.8125 50 0.0026 144 176.625 36.5 0.1 6446.8125 20 0.0007
118 176.625 36.5 0.4 6446.8125 60 0.0034 145 176.625 36.5 0.1 6446.8125 20 0.0007
119 176.625 36.5 0.5 6446.8125 80 0.0042 146 176.625 36.5 0.1 6446.8125 20 0.0007
120 176.625 36.5 0.5 6446.8125 80 0.0042 147 176.625 36.5 0.1 6446.8125 20 0.0007
121 176.625 36.5 0.5 6446.8125 80 0.0041
122 176.625 36.5 0.3 6446.8125 50 0.0025
123 176.625 36.5 0.5 6446.8125 80 0.0041
124 176.625 36.5 0.4 6446.8125 60 0.0032
125 176.625 36.5 0.4 6446.8125 60 0.0032
126 176.625 36.5 0.4 6446.8125 60 0.0032
127 176.625 36.5 0.4 6446.8125 60 0.0031
128 176.625 36.5 0.3 6446.8125 50 0.0023
129 176.625 36.5 0.4 6446.8125 60 0.0031
130 176.625 36.5 0.4 6446.8125 60 0.0031
131 176.625 36.5 0.3 6446.8125 50 0.0023
Kebun 25 176.625 36.8 1 6499.8 180 0.0400
tinggi v. V. 26 176.625 36.8 1.1 6499.8 200 0.0423
t L. Alas tinggi
penurunan Awal Penambahan f
(mnt) (cm²) (cm) 27 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0259
(cm) (cm³) (cm³)
28 176.625 36.8 1 6499.8 180 0.0357
1 176.625 36.8 2.3 6499.8 440 2.3000
29 176.625 36.8 0.8 6499.8 140 0.0276
2 176.625 36.8 1.4 6499.8 280 0.7000
30 176.625 36.8 0.9 6499.8 160 0.0300
3 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.1667
31 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0226
4 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.1500
32 176.625 36.8 0.8 6499.8 140 0.0250
5 176.625 36.8 1.5 6499.8 300 0.3000
33 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0182
6 176.625 36.8 1 6499.8 180 0.1667
34 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0206
7 176.625 36.8 0.9 6499.8 160 0.1286
35 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0200
8 176.625 36.8 1.4 6499.8 280 0.1750
36 176.625 36.8 0.8 6499.8 140 0.0222
9 176.625 36.8 1.2 6499.8 220 0.1333
37 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0135
10 176.625 36.8 1.3 6499.8 260 0.1300
38 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0184
11 176.625 36.8 1.1 6499.8 200 0.1000
39 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0154
12 176.625 36.8 1.3 6499.8 260 0.1083
40 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0175
13 176.625 36.8 1.2 6499.8 220 0.0923
41 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0171
14 176.625 36.8 1.2 6499.8 220 0.0857
42 176.625 36.8 1 6499.8 180 0.0238
15 176.625 36.8 0.8 6499.8 140 0.0533
43 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0116
16 176.625 36.8 1.2 6499.8 220 0.0750
44 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0136
17 176.625 36.8 0.9 6499.8 160 0.0529
45 176.625 36.8 0.4 6499.8 60 0.0089
18 176.625 36.8 1.1 6499.8 200 0.0611
46 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0130
19 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0368
47 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0106
20 176.625 36.8 1.1 6499.8 200 0.0550
48 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0104
21 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0286
49 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0122
22 176.625 36.8 0.9 6499.8 160 0.0409
50 176.625 36.8 0.8 6499.8 140 0.0160
23 176.625 36.8 0.9 6499.8 160 0.0391
51 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0098
24 176.625 36.8 1.1 6499.8 200 0.0458
52 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0135 79 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0076
53 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0113 80 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0088
54 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0093 81 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0074
55 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0091 82 176.625 36.8 1.1 6499.8 200 0.0134
56 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0089 83 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0072
57 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0123 84 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0060
58 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0086 85 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0071
59 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0102 86 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0081
60 176.625 36.8 0.8 6499.8 140 0.0133 87 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0069
61 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0082 88 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0068
62 176.625 36.8 0.8 6499.8 140 0.0129 89 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0079
63 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0095 90 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0056
64 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0094 91 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0066
65 176.625 36.8 0.8 6499.8 140 0.0123 92 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0054
66 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0106 93 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0054
67 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0104 94 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0064
68 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0074 95 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0063
69 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0087 96 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0052
70 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0071 97 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0052
71 176.625 36.8 0.7 6499.8 120 0.0099 98 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0061
72 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0069 99 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0051
73 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0068 100 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0050
74 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0068 101 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0050
75 176.625 36.8 0.6 6499.8 100 0.0080 102 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0049
76 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0066 103 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0049
77 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0065 104 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0048
78 176.625 36.8 0.5 6499.8 80 0.0064 105 176.625 36.8 0.4 6499.8 60 0.0038
106 176.625 36.8 0.4 6499.8 60 0.0038 133 176.625 36.8 0.1 6499.8 20 0.0008
107 176.625 36.8 0.3 6499.8 50 0.0028 134 176.625 36.8 0.2 6499.8 30 0.0015
108 176.625 36.8 0.3 6499.8 50 0.0028 135 176.625 36.8 0.1 6499.8 20 0.0007
109 176.625 36.8 0.3 6499.8 50 0.0028 136 176.625 36.8 0.1 6499.8 20 0.0007
110 176.625 36.8 0.4 6499.8 60 0.0036 137 176.625 36.8 0.1 6499.8 20 0.0007
111 176.625 36.8 0.2 6499.8 20 0.0018
112 176.625 36.8 0.2 6499.8 20 0.0018
113 176.625 36.8 0.2 6499.8 20 0.0018
114 176.625 36.8 0.3 6499.8 50 0.0026
115 176.625 36.8 0.2 6499.8 20 0.0017
116 176.625 36.8 0.3 6499.8 50 0.0026
117 176.625 36.8 0.3 6499.8 50 0.0026
118 176.625 36.8 0.2 6499.8 30 0.0017
119 176.625 36.8 0.3 6499.8 50 0.0025
120 176.625 36.8 0.3 6499.8 50 0.0025
121 176.625 36.8 0.3 6499.8 50 0.0025
122 176.625 36.8 0.2 6499.8 30 0.0016
123 176.625 36.8 0.3 6499.8 50 0.0024
124 176.625 36.8 0.1 6499.8 20 0.0008
125 176.625 36.8 0.2 6499.8 30 0.0016
126 176.625 36.8 0.2 6499.8 30 0.0016
127 176.625 36.8 0.3 6499.8 50 0.0024
128 176.625 36.8 0.2 6499.8 30 0.0016
129 176.625 36.8 0.4 6499.8 60 0.0031
130 176.625 36.8 0.3 6499.8 50 0.0023
131 176.625 36.8 0.1 6499.8 20 0.0008
132 176.625 36.8 0.2 6499.8 30 0.0015
Hasil rekapitulasi infiltrasi f ukur dan f duga pada tiap penggunaan lahan
PEMUKIMAN
T f Ukur f Duga T f Ukur f Duga T f Ukur f Duga
(menit) (menit) (menit)
2 0.7500 1.1070 40 0.0250 0.0009 78 0.0103 0.0009
3 0.5000 0.4929 41 0.0122 0.0009 79 0.0076 0.0009
4 0.4000 0.2198 42 0.0238 0.0009 80 0.0100 0.0009
5 0.2800 0.0982 43 0.0302 0.0009 81 0.0086 0.0009
6 0.2333 0.0442 44 0.0182 0.0009 82 0.0122 0.0009
7 0.1714 0.0201 45 0.0133 0.0009 83 0.0072 0.0009
8 0.1500 0.0094 46 0.0152 0.0009 84 0.0095 0.0009
9 0.1222 0.0047 47 0.0128 0.0009 85 0.0094 0.0009
10 0.0900 0.0026 48 0.0188 0.0009 86 0.0116 0.0009
11 0.0909 0.0016 49 0.0122 0.0009 87 0.0080 0.0009
12 0.0917 0.0012 50 0.0180 0.0009 88 0.0091 0.0009
13 0.0462 0.0010 51 0.0157 0.0009 89 0.0090 0.0009
14 0.0714 0.0009 52 0.0135 0.0009 90 0.0056 0.0009
15 0.0800 0.0009 53 0.0132 0.0009 91 0.0066 0.0009
16 0.0500 0.0009 54 0.0130 0.0009 92 0.0087 0.0009
17 0.0471 0.0009 55 0.0164 0.0009 93 0.0054 0.0009
18 0.0444 0.0009 56 0.0214 0.0009 94 0.0043 0.0009
19 0.0421 0.0009 57 0.0228 0.0009 95 0.0053 0.0009
20 0.0350 0.0009 58 0.0172 0.0009 96 0.0052 0.0009
21 0.0571 0.0009 59 0.0186 0.0009 97 0.0031 0.0009
22 0.0455 0.0009 60 0.0167 0.0009 98 0.0041 0.0009
23 0.0435 0.0009 61 0.0148 0.0009 99 0.0061 0.0009
24 0.0375 0.0009 62 0.0210 0.0009 100 0.0040 0.0009
25 0.0400 0.0009 63 0.0175 0.0009 101 0.0050 0.0009
26 0.0385 0.0009 64 0.0219 0.0009 102 0.0049 0.0009
27 0.0407 0.0009 65 0.0169 0.0009 103 0.0049 0.0009
28 0.0357 0.0009 66 0.0167 0.0009 104 0.0029 0.0009
29 0.0276 0.0009 67 0.0209 0.0009 105 0.0048 0.0009
30 0.0267 0.0009 68 0.0162 0.0009 106 0.0047 0.0009
31 0.0226 0.0009 69 0.0188 0.0009 107 0.0037 0.0009
32 0.0188 0.0009 70 0.0200 0.0009 108 0.0046 0.0009
33 0.0212 0.0009 71 0.0197 0.0009 109 0.0028 0.0009
34 0.0294 0.0009 72 0.0194 0.0009 110 0.0027 0.0009
35 0.0229 0.0009 73 0.0192 0.0009 111 0.0018 0.0009
36 0.0278 0.0009 74 0.0176 0.0009 112 0.0027 0.0009
37 0.0243 0.0009 75 0.0187 0.0009 113 0.0009 0.0009
38 0.0263 0.0009 76 0.0092 0.0009 114 0.0018 0.0009
39 0.0333 0.0009 77 0.0065 0.0009 115 0.0009 0.0009
HUTAN
t (menit) f Ukur f Duga t (menit) f Ukur f Duga t (menit) f Ukur f Duga
2 1.650 2.0038 51 0.033 0.0007 100 0.014 0.0007
3 1.000 1.1449 52 0.033 0.0007 101 0.013 0.0007
4 0.650 0.6543 53 0.038 0.0007 102 0.014 0.0007
5 0.620 0.3740 54 0.028 0.0007 103 0.014 0.0007
6 0.500 0.2139 55 0.040 0.0007 104 0.012 0.0007
7 0.443 0.1225 56 0.036 0.0007 105 0.014 0.0007
8 0.338 0.0703 57 0.035 0.0007 106 0.013 0.0007
9 0.356 0.0404 58 0.033 0.0007 107 0.011 0.0007
10 0.330 0.0234 59 0.025 0.0007 108 0.008 0.0007
11 0.300 0.0136 60 0.023 0.0007 109 0.006 0.0007
12 0.258 0.0081 61 0.023 0.0007 110 0.005 0.0007
13 0.208 0.0049 62 0.027 0.0007 111 0.005 0.0007
14 0.186 0.0031 63 0.027 0.0007 112 0.004 0.0007
15 0.167 0.0021 64 0.022 0.0007 113 0.005 0.0007
16 0.163 0.0015 65 0.026 0.0007 114 0.005 0.0007
17 0.153 0.0011 66 0.027 0.0007 115 0.003 0.0007
18 0.139 0.0009 67 0.024 0.0007 116 0.003 0.0007
19 0.126 0.0008 68 0.021 0.0007 117 0.003 0.0007
20 0.135 0.0008 69 0.016 0.0007 118 0.003 0.0007
21 0.124 0.0007 70 0.017 0.0007 119 0.004 0.0007
22 0.123 0.0007 71 0.021 0.0007 120 0.004 0.0007
23 0.113 0.0007 72 0.015 0.0007 121 0.004 0.0007
24 0.104 0.0007 73 0.014 0.0007 122 0.002 0.0007
25 0.100 0.0007 74 0.016 0.0007 123 0.004 0.0007
26 0.100 0.0007 75 0.015 0.0007 124 0.003 0.0007
27 0.089 0.0007 76 0.018 0.0007 125 0.003 0.0007
28 0.079 0.0007 77 0.019 0.0007 126 0.003 0.0007
29 0.066 0.0007 78 0.019 0.0007 127 0.003 0.0007
30 0.083 0.0007 79 0.019 0.0007 128 0.002 0.0007
31 0.084 0.0007 80 0.015 0.0007 129 0.003 0.0007
32 0.078 0.0007 81 0.019 0.0007 130 0.003 0.0007
33 0.073 0.0007 82 0.015 0.0007 131 0.002 0.0007
34 0.068 0.0007 83 0.017 0.0007 132 0.004 0.0007
35 0.069 0.0007 84 0.018 0.0007 133 0.002 0.0007
36 0.058 0.0007 85 0.019 0.0007 134 0.003 0.0007
37 0.062 0.0007 86 0.017 0.0007 135 0.003 0.0007
38 0.061 0.0007 87 0.017 0.0007 136 0.003 0.0007
39 0.059 0.0007 88 0.019 0.0007 137 0.001 0.0007
40 0.058 0.0007 89 0.016 0.0007 138 0.001 0.0007
41 0.054 0.0007 90 0.018 0.0007 139 0.002 0.0007
42 0.052 0.0007 91 0.016 0.0007 140 0.001 0.0007
43 0.051 0.0007 92 0.016 0.0007 141 0.001 0.0007
44 0.050 0.0007 93 0.016 0.0007 142 0.001 0.0007
45 0.047 0.0007 94 0.017 0.0007 143 0.001 0.0007
46 0.041 0.0007 95 0.016 0.0007 144 0.001 0.0007
47 0.043 0.0007 96 0.013 0.0007 145 0.001 0.0007
48 0.046 0.0007 97 0.013 0.0007 146 0.001 0.0007
49 0.053 0.0007 98 0.012 0.0007 147 0.001 0.0007
50 0.038 0.0007 99 0.015 0.0007

KEBUN
t (menit) f Ukur f Duga t (menit) f Ukur f Duga t (menit) f Ukur f Duga
2 0.700 0.7000 48 0.010 0.0007 94 0.006 0.0007
3 0.167 0.2134 49 0.012 0.0007 95 0.006 0.0007
4 0.150 0.0654 50 0.016 0.0007 96 0.005 0.0007
5 0.300 0.0204 51 0.010 0.0007 97 0.005 0.0007
6 0.167 0.0067 52 0.013 0.0007 98 0.006 0.0007
7 0.129 0.0025 53 0.011 0.0007 99 0.005 0.0007
8 0.175 0.0013 54 0.009 0.0007 100 0.005 0.0007
9 0.133 0.0009 55 0.009 0.0007 101 0.005 0.0007
10 0.130 0.0008 56 0.009 0.0007 102 0.005 0.0007
11 0.100 0.0007 57 0.012 0.0007 103 0.005 0.0007
12 0.108 0.0007 58 0.009 0.0007 104 0.005 0.0007
13 0.092 0.0007 59 0.010 0.0007 105 0.004 0.0007
14 0.086 0.0007 60 0.013 0.0007 106 0.004 0.0007
15 0.053 0.0007 61 0.008 0.0007 107 0.003 0.0007
16 0.075 0.0007 62 0.013 0.0007 108 0.003 0.0007
17 0.053 0.0007 63 0.010 0.0007 109 0.003 0.0007
18 0.061 0.0007 64 0.009 0.0007 110 0.004 0.0007
19 0.037 0.0007 65 0.012 0.0007 111 0.002 0.0007
20 0.055 0.0007 66 0.011 0.0007 112 0.002 0.0007
21 0.029 0.0007 67 0.010 0.0007 113 0.002 0.0007
22 0.041 0.0007 68 0.007 0.0007 114 0.003 0.0007
23 0.039 0.0007 69 0.009 0.0007 115 0.002 0.0007
24 0.046 0.0007 70 0.007 0.0007 116 0.003 0.0007
25 0.040 0.0007 71 0.010 0.0007 117 0.003 0.0007
26 0.042 0.0007 72 0.007 0.0007 118 0.002 0.0007
27 0.026 0.0007 73 0.007 0.0007 119 0.003 0.0007
28 0.036 0.0007 74 0.007 0.0007 120 0.003 0.0007
29 0.028 0.0007 75 0.008 0.0007 121 0.002 0.0007
30 0.030 0.0007 76 0.007 0.0007 122 0.002 0.0007
31 0.023 0.0007 77 0.006 0.0007 123 0.002 0.0007
32 0.025 0.0007 78 0.006 0.0007 124 0.001 0.0007
33 0.018 0.0007 79 0.008 0.0007 125 0.002 0.0007
34 0.021 0.0007 80 0.009 0.0007 126 0.002 0.0007
35 0.020 0.0007 81 0.007 0.0007 127 0.002 0.0007
36 0.022 0.0007 82 0.013 0.0007 128 0.002 0.0007
37 0.014 0.0007 83 0.007 0.0007 129 0.003 0.0007
38 0.018 0.0007 84 0.006 0.0007 130 0.002 0.0007
39 0.015 0.0007 85 0.007 0.0007 131 0.001 0.0007
40 0.018 0.0007 86 0.008 0.0007 132 0.002 0.0007
41 0.017 0.0007 87 0.007 0.0007 133 0.001 0.0007
42 0.024 0.0007 88 0.007 0.0007 134 0.001 0.0007
43 0.012 0.0007 89 0.008 0.0007 135 0.001 0.0007
44 0.014 0.0007 90 0.006 0.0007 136 0.001 0.0007
45 0.009 0.0007 91 0.007 0.0007 137 0.001 0.0007
46 0.013 0.0007 92 0.005 0.0007
47 0.011 0.0007 93 0.005 0.0007
Hasil kurvas infiltrasi
Penggunaan lahan pemukiman

Laju Infiltrasi f Ukur permukiman


0.8000

0.7000

0.6000

0.5000

0.4000

0.3000

0.2000

0.1000

0.0000
0 20 40 60 80 100 120 140

Laju Infiltrasi f Duga permukiman


1.2

0.8

0.6

0.4

0.2

0
0 20 40 60 80 100 120 140
0.0000
0.2000
0.4000
0.6000
0.8000
1.0000
1.2000

1
3
5
7
9
11
13
15
17
19
21
23
25
27
29
31
33
35
37
39
41
43
45
47
49
51
53
55
57
59
61
63
65
67
69
71
73
75
77
79
81
83
85
87
89
91
93
95
97
99
101
103
105
107
109
111
113
Penggunaan lahan hutan

Laju Infiltrasi F Ukur Hutan


1.800

1.600

1.400
Laju Infiltrasi (cm/menit)

1.200

1.000

0.800

0.600

0.400

0.200

0.000
0 50 100 150 200
Waktu (menit)

Laju Infiltrasi F Ukur Hutan

Laju Infiltrasi F Duga Hutan


2.500

2.000
Laju Infiltrasi (cm/menit)

1.500

1.000

0.500

0.000
0 20 40 60 80 100 120 140 160
Waktu (menit)

Laju Infiltrasi F Duga Hutan


Perbandingan Laju Infiltrasi (F) Ukur dan (F) duga Hutan
2.500

2.000
Laju Infiltrasi (cm/menit)

1.500

1.000

0.500

0.000

113
116
101
104
107
110

119
122
125
128
131
134
137
140
143
146
2
5
8

35
11
14
17
20
23
26
29
32

38
41
44
47
50
53
56
59
62
65
68
71
74
77
80
83
86
89
92
95
98
Waktu (menit)

Laju Infiltrasi f Ukur Laju Infiltrasi f Duga


Penggunaan lahan kebun

Laju Infiltrasi F Ukur Kebun


0.800

0.700
Laju Infiltrasi (cm/menit)

0.600

0.500

0.400

0.300 Laju Infiltrasi F Ukur Kebun

0.200

0.100

0.000
0 50 100 150
Waktu (menit)

Laju Infiltrasi F Duga Kebun


0.8000

0.7000
Laju Infiltrasi (cm/menit)

0.6000

0.5000

0.4000

0.3000 Laju Infiltrasi F Duga Kebun

0.2000

0.1000

0.0000
0 50 100 150
Waktu (menit)
Perbandingan Laju Infiltrasi f Ukur dan f Duga Kebun
0.800

0.700

0.600
Laju Infiltrasi (cm/menit)

0.500

0.400

0.300

0.200

0.100

0.000

130
133
100
103
106
109
112
115
118
121
124
127

136
1
4
7

55
10
13
16
19
22
25
28
31
34
37
40
43
46
49
52

58
61
64
67
70
73
76
79
82
85
88
91
94
97
Waktu (menit)

Laju Infiltrasi f Ukur Laju Infiltrasi f Duga


Hasil infiltrometer

 Perhitungan Infiltrometer di Kebun


- Waktu 15 menit
- Penurunan 82 mm = 8,2 cm

Infiltrasi = (hasil penurunan)x 4

= (8,2)x 4

= 32,8 cm/menit

 Perhitungan Infiltrometer di Hutan


- Waktu 15 menit
- Penurunan 74 mm = 7,4 cm

Infiltrasi = (hasil penurunan)x 4

= (7,4)x 4

= 29,6 cm/menit

 Perhitungan Infiltrometer di Permukiman


- Waktu 15 menit
- Penurunan 52 mm = 5,2 cm

Infiltrasi = (hasil penurunan)x 4

= (5,2)x 4

= 20,8 cm/menit
Invers Augerhole

1. Kurva Invers Auger Hole Titik 1 (49s 667073mT 9117436mU)

Penurunan 2 cm
1000

800

600

400

200

0
1 10 100 1000
-200

Sumber: survey lapangan

Penurunan Tiap 5 detik


1500

1000

500

0
1 10 100

-500

-1000

Sumber: survey lapangan


2. Kurva Invers Auger Hole Titik 2 (49s 667626 mT, 9117378mU)
Grafik invers augerhole penurunan tiap 5 detik

500

400

300

200

100

0
128 256
-100

-200

Sumber: survey lapangan

Grafik invers augerhole penurunan tiap 2 cm

400
350
300
250
200
150
100
50
0
64 128
-50

Sumber: survey lapangan


1. Perhitungan K (Konduktivitas Hidrolik)

Tabel Perhitungan Nilai K titik 1


Penurunan Tiap 2 cm
1,15.r.tan a tan a r
k
0,010386936 0,001505353 6
0,01038 cm/detik
0,000103869 1,15741E-05
8,974312656 m/hari
9 m/hari

Penurunan Tiap 5 detik


K (cm/detik) Tan a r
0,014112089 0,00204523 6
0,000141121 1,15741E-05 6
12,19284476 m/hari
12 m/hari

Tabel Perhitungan Nilai K titik 2


Penurunan Tiap 2 cm
K (cm/detik) Tan a r
0, 017034 0,002469 6
14,69 m/hari

Penurunan Tiap 5 detik


K (cm/detik) Tan a r
0,04354 0,00631 6
37,62 m/hari
Flownets