Anda di halaman 1dari 16

Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik

Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

A.PREDIKSI LAJU ANGKUTAN


SEDIMEN DI SALURAN INDUK
GEGESIK

1. Pendahuluan
Sedimentasi adalah proses pengendapan material yang terangkut oleh aliran dari bagian hulu. Proses
sedimentasi meliputi proses erosi, angkutan, pengendapan, dan pemadatan sedimen. Pada dasarnya ketika
air mengalir di dalam saluran (natural maupun artifisial), ia akan berusaha untuk menggerus permukaan
dasar saluran. Lumpur/butiran halus, butiran kasar, bahkan bebatuan yang lebih besar bisa terlepas dari dari
dasar maupun dinding saluran. Partikel yang telah lepas ini terbawa oleh arus ke hilir. Fenomena inilah
yang disebut Angkutan Sedimen.
Fenomena angkutan sedimen menyebabkan gerusan dan pengendapan dalam skala besar di saluran irigasi,
di mana akan meningkatkan upaya pemeliharaannya. Desain yang buruk menjadikan saluran cepat tertutup
oleh endapan sedimen, lama-lama tidak bisa dioperasikan lagi, menyebabkan kerugian ekonomi dan
keuangan masyarakat maupun pemerintah. Oleh karena itu saluran irigasi seharusnya sistem saluran
didesain dengan baik, dan saluran pembawa tidak boleh mengangkut muatan sedimen melebihi ketentuan
yang menjadi persyaratan.
Sedimen di dalam saluran merupakan beban yang harus ditanggung oleh aliran air irigasi, oleh karenanya
disebut beban sedimen.
Di dalam aliran sedimen bisa bergerak baik sebagai muatan dasar (bed load), atau sebagai muatan melayang
(suspended load). Bed load adalah sedimen yang bergerak di sepanjang permukaan dasar saluran kadang
kadang melompat dari dasar saluran. Sedangkan sedimen melayang selalu melayang-layang dalam larutan
karena digerakkan oleh turbelensi air yang mengalir.

1
Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik
Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

Sedimen terutama sedimen melayang yang berasal dari intake bendung Rentang di sungai Cimanuk akan
dan bisa mengendap di saluran induk. Hal ini akan menimbulkan permasalahan OP, dan berkurangnya
kapasitas saluran induk.
Menganalisa laju angkutan sedimen dan menghitung volume sedimen yang masuk ke dalam saluran irigasi
merupakan salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk memperkirakan sejauh mana kinerja maupun
sistem OP saluran induk yang ekonomis bisa bisa dipertahankan tanpa menimbulkan permasalahan.

2. Kondisi Saluran Induk Pasca Peningkatan


Kegiatan peningkatan saluran induk D.I. Gegesik adalah inisiatif pemerintah pusat cq Direktorat Jenderal
SDA, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui SNVT Jaringan Pemanfaatan Air
Cimanuk-Cisanggarung, Pejabat Pembuat Komitmen Irigasi dan Rawa III didanai oleh APBN pusat.
Deskripsi proyek singkat adalah sebagai berikut. Focus kegiatan proyek adalah moernisasi jaringan irigasi
D.I. Rentang, saluran induk Gegesik seluas ± 20.000 hektare dengan kegiatan utama peningkatan saluran
induk Gegesik dan bangunan pengatur, dan modernisasi sistem pengoperasian pintu air berbasis hidro-
mekanikal.
Dengan selesainya pembangunan waduk Jatigede saluran induk Gegesik mendapat tambahan alokasi
debit menjadi 27 m3/detik. Untuk mengakomodasi tambahan alokasi debit tersebut saluran induk Gegesik
telah mengalami peningkatan kapasitas dengan cara melakukan normalisasi dan peningkatan saluran dan
pemasangan (di beberapa tempat) parapet dari konstruksi beton. Untuk melaksanakan kegiatan OP pintu
di saluran induk di beberapa tempat di sepanjang saluran induk bangunan pengatur telah direhabilitasi dan
ditingkatkan dengan pemasangan pintu-pintu air yang degerakkan dengan sistem hidro-mekanis maupun
manual.
Kondisi sistem saluran induk dan bangunan pendukung setelah kegiatan proyek modernisasi jaringan
irigasi saluran induk Gegesik secara ringkas digambarkan seperti table berikut di bawah ini.

Tabel 1 Hasil Pelaksanaan MJI S.I. Gegesik

2
Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik
Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

No Kegiatan yang telah dilakukan Volume Keterangan


m1 bh
1 Normalisasi saluran induk 2700
2 Pemasangan parapet 17000
3 Pemasangan turap beton (CCSP) 1500
4 Rehab bangunan bagi 3
5 Rehab bangunan bagi sadap 8 Dari total 9 bangunan
6 Rehab bangunan sadap 25
7 Rehab bangunan penguras 3
8 Pemasangan aktuator 5
9 Penggantian jembatan 8 Dari total 35 bangunan

3. Sumber Sedimen
Erosi adalah proses pengangkutan butiran tanah, sedimen dan fragmen batuan (hasil pelapukan) oleh air.
Sedimentasi terjadi ketika material tererosi yang terangkut oleh air mengendap dari kolom air menuju dasar
saluran setelah kecepatan aliran air mengalami perlambatan. Sedimen yang membentuk dan mengendalikan
permukaan dasar sungai, termasuk juga dasar saluran, tebing dan bantaran banjir telah terbawa dari daerah
aliran sungai yang lebih tinggi kemudian oleh aliran diendapkan di daerah yang lebih rendah. Perubahan
laju sedimentasi dapat terjadi bila terjadi perubahan kondisi lingkungan fisik di daerah aliran sungai terkait,
(Kumala Dewi, 2013). Aktivitas sedimentasi di daerah endapan alluvial di kabupaten Indramayu,
Majalengka , dan Cirebon berasal dari sungai Cimanuk ini.
Sungai Cimanuk merupakan gabungan dari anak-anak sungai yang lebih kecil, yaitu Sungai Cilutung,
Cipelas dan Cikeruh. Jika ditelusuri lebih lanjut, hulu S. Cimanuk berada disekitar Kabupaten Garut
bernama S. Cukeruh, hulu S. Cipelas berada di Kabupaten Sumedang,tepatnya di kaki Gunungapi
Tampomas; sedangkan hulu S. Cilutung berada di Kabupaten Kuningan, berasal dari kaki gunungapi
Ciremai (peta rupabumi, skala 1 : 50.000). Ketiga anak S. Cimanuk mengalir pada daerah-daerah endapan
volkanik muda berumur Kuarter (Ratman dan Gafoer, 1998). Dari sistem sungai Cimanuk inilah sedimen
berasal. Kadar lumpur air S. Cimanuk tergolong tinggi yaitu rata-rata 2.850 mg/liter, sementara kadar
maksimum adalah 8.840 mg/liter, karena memiliki kadar lumpur yang cukup tinggi maka pertumbuhan
daratan baru (akreasi) di kawasan muara S. Cimanuk berlangsung dengan kecepatan kurang lebih 200
meter/tahun (Hehanussa drr., 1980).

4. Prediksi Angkutan Sedimen Melayang di Saluran Induk


4.1 Acuan Teori

3
Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik
Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

Angkutan sedimen di sungai yang bergerak oleh aliran air, sangat erat berhubungan dengan erosi tanah
permukaan karena hujan. Air yang meresap ke tanah dapat mengakibatkan longsoran tanah yang
kemudian masuk ke sungai mempunyai andil yang sangat besar pada jumlah angkutan sedimen di dalam
saluran. Muatan melayang tidak berpengaruh pada alterasi dasar saluran tetapi di tempat tempat tertentu
dapat mengendap dan menimbulkan pendangkalan saluran yang menyebabkan timbulnya berbagai
masalah.
Pengukuran angkutan sedimen melayang dilakukan untuk menentukan konsentrasi sedimen, ukuran
butiran sedimen dan produksi sedimen melayang (Soewarno, 1991).
Konsentrasi sedimen dapat dinyatakan dalam berbagai cara umumnya yang sering digunakan adalah
dalam parts per million (ppm), atau dalam bentuk volumetrik (mg/liter).
Ukuran butir sedimen biasanya dinyatakan dalam satuan mm, data ini merupakan parameter penting
dalam penyelidikan masalah sedimen. Perbedaan ukuran butir dapat menunjukkan perbedaan cara
pengangukutan dan sumbernya. Produksi sedimen dapat dinyatakan dalam satuan berat atau satuan
volume, untuk satuan berat perbandingannya adalah satuan luas, misal dinyatakan dalam ton/km2 atau
kg/ha, untuk satuan volume perbandingannya adalah satuan waktu, misal m3 /tahun, atau Ton/tahun.

4.2 Konsentrasi Sedimen Terlarut


Pengukuran konsentrasi sedimen dapat dilakukan dengan cara konvensional, yaitu melakukan pengukuran
konsentrasi sedimen pada suatu vertikal, dengan mengambil sampel sedimen. Dalam mengambil sampel
sedimen digunakan beberapa metode antara lain metode titik, metode integrasi kedalaman dan metode
pengukuran konsentrasi di tempat (In Situ). Karena keterbatasan waktu dan biaya pengambilan sampel di
lapangan tidak dilakukan. Sebagai gantinya digunakan data penelitian terdahulu (lihat pembahasan pada
paragraph 6.3 di atas), jadi konsentrasi sedimen yang dipakai sebagai dasar hitungan adalah 2850
mg/liter.

4.3 Perhitungan Muatan Sedimen Melayang


Untuk menghitung debit sedimen melayang digunakan metode pengukuran sesaat, yaitu pada periode
waktu tertentu. Debit muatan sedimen melayang dapat didefinisikan sebagai hasil perkalian konsentrasi
dan debitnya yang dapat dirumuskan sebagai berikut (Soewarno, 1991).
Qsm = k × CS × Qw
Qsm = Debit sedimen melayang (ton/tahun)
k = faktor koreksi satuan
CS = Konsentrasi sedimen melayang (mg/l)
Qw = Debit aliran (m3/det)

4
Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik
Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

Dengan asumsi bahwa konsentasi sedimen merata pada seluruh bagian penampang sungai, maka debit
sedimen dapat dihitung sebagai hasil perkalian antara konsentrasi dan debit aliran yang dirumuskan,
sebagai berikut (Asdak, Chay, 2004)
Qsm = 0,0864 × CS × Qw
Qsm = Debit sedimen melayang (ton/tahun)
CS = Konsentrasi sedimen melayang (mg/l)
Qw = Debit aliran (m3/det)
Kadar konsentrasi CS dapat diperoleh dengan persamaan : CS = (1000/V)  (a  b)  1000
dengan CS = konsentrasi sedimen beban melayang (mg/liter),
V = Volume sampel sedimen (ml),
b = berat cawan berisi endapan sedimen (gr) dan
a = berat cawan kosong (gr)
Penentuan konsentrasi sedimen melayang (CS). Sampel sedimen melayang selalu dianalisa di labortorium
secara langsung. Sesudah diendapkan selama 1-2 hari, konsentrasi sedimen ditentukan dengan
menimbang kandungan sedimen yang telah dikeringkan dan membagi dengan volume sampel sedimen +
airnya. Konsentrasi sedimen selalu dinyatakan dalam satuan, berikut;
a. mg/l, atau g/l atau g/m3 , kg/m3 , atau
b. parts per million, atau
c. dinyatakan dalam %.

4.4 Hasil Perhitungan


Akumulasi sedimen melayang (endapan lumpur) di saluran induk diperkirakan berdasar rumus yang telah
diterangkan dalam paragraph sebelumnya dengan anggapan sebagai berikut:
D50 ≤ 0.05 mm (Hjulstrom, 1956), atau D50 ≤ 0.062 mm (UNEP/WHO, 1996)
Material sedimen melayang diklasifikasikan sebagai partikel bersifat kohesif.
Konsentrasi sedimen melayang dianggap sama sepanjang arah vertical kedalaman saluran (Jamie
Bartram, 1996)
Muatan sedimen melayang berasal dari debit pintu intake bendung Rentang (bangunan intake kanan)
Konsentrasi sedimen melayang ditentukan berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan di sungai
Cimanuk = 2850 mg/liter.
Perhitungan volume sedimen akan dilakukan pada segmen-segmen yang saluran induk dibatasi oleh
bangunan-bangunan tertentu dengan mempertimbangkan perbedaan debit aliran masing-masing segmen
tersebut
Penjelasan hasil perhitungan (Tabel 2) adalah sebagai berikut ini.

5
Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik
Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

Debit aliran adalah debit pada masing-masing segmen saluran induk.


Volume sedimen (kolom 11) dihitung berdasarkan rumus, adalah hasil perkalian (kolom 9) dengan
(kolom 10).
Volume sedimen per m lari saluran per tahun tertera pada (kolom 13).
Periode ulang pengangkatan sedimen secara teoritis ditulis pada (kolom 14), didapat dari (kolom 13)
dibagi (kolom 7).
Periode ulang pemeliharaan rata-rata adalah 61 tahun.

6
Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik
Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

Tabel 2 Hasil Hitungan


No Ruas Sal Induk Jarak Dimensi saluran Debit aliran Konsentrasi Volume sedimen Periode
sedimen ulang
(m1) b(m) d(m) m A(m2) V(m3) Qw (m3/det) Qs (mg/l) Qsm (Ton/tahun) m3/Tahun m3/m/Tahun (Tahun)
1 BSd1 - BGs4 5,650.90 12.50 3.05 2 56.73 320,575.557 27.091 2,850 6,663.167 2,514.40 0.44 127
2 BGs4 - BGs5 2,518.40 12.50 3.03 2 56.19 141,502.771 24.007 2,850 5,904.642 2,228.17 0.88 64
3 BGs5 - BGs8b 3,139.60 11.30 2.86 2 48.56 152,470.122 22.644 2,850 5,569.405 2,101.66 0.67 73
4 BGs8b - BGs9 566.50 11.30 2.85 2 48.54 27,498.381 22.293 2,850 5,483.075 2,069.08 3.65 13
5 BGs9 - BGs10a 53.50 11.30 2.75 2 46.24 2,474.087 15.749 2,850 3,873.545 1,461.72 27.32 2
6 BGs10a - BGs10 887.30 11.30 2.75 2 46.24 41,032.841 15.749 2,850 3,873.545 1,461.72 1.65 28
7 BGs10 - BGs11 1,633.10 11.30 2.41 2 38.79 63,342.067 14.799 2,850 3,639.888 1,373.54 0.84 46
8 BGs11 - BGs12 1,132.30 5.50 2.05 2 19.68 22,283.664 5.651 2,850 1,389.892 524.49 0.46 42
9 BGs12 - BGs13.1g 1,975.70 5.50 2.06 2 19.82 39,152.842 5.589 2,850 1,374.642 518.73 0.26 75
10 BGs13.1g - BGs17 2,239.10 6.00 2.03 2 20.37 45,600.060 5.589 2,850 1,374.642 518.73 0.23 88
11 BGs17 - BGs20 2,520.40 3.50 1.81 2 12.92 32,562.152 4.429 2,850 1,089.335 411.07 0.16 79
12 BGs20 - BGs21 1,630.90 4.00 1.66 2 12.16 19,834.748 3.442 2,850 846.577 319.46 0.20 62
13 BGs21 - BGs24 2,903.52 2.20 1.60 2 8.64 25,086.413 3.089 2,850 759.755 286.70 0.10 88
Ratarata = 61

7
Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik
Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

5. Penyesuaian Rencana OP Saluran Induk


Dari hasil perhitungan dapat diindikasikan bahwa ada 3 segmen saluran induk yang akan mengalami
kondisi kritis dan perlu perhatian khusus yaitu segmen:
 BGs8b – BGs9
 BGs9 – BGs10a
 BGs10a - BGs10
Untuk mengantisipasi kemacetan dan masalah penyumbatan aluran di daerah ini disarankan pelaksanaan
OP sebagai berikut:
 Pada segmen 4 (BGs8b – BGs9) panjang ruas saluran cukup pendek (hanya 566.50m) saja. Perlambatan
arus dan efek backwater bangunan BGs9 mempunyai pengaruh sangat merugikan karena ruas ini akan
cepat sekali mengalami sediementasi. Oleh karena itu pengangkatan lumpur harus rutin dilakukan dan
tepat waktu termasuk pemeliharaan sifon di sebelah hulunya. Pada waktu musim hujan dan debit besar
penggelontoran sedimen dapat dilakukan dengan membuka bangunan pembilas dan membuang
endapan sedimen dalam saluran menuju ke sungai Wangan ayam.
 Pada segmen 5 (BGs9 – BGs10a) aliran akan mengalami penurunan kecepatan karena adanya bangunan
sifon dan bangunan pengatur di hulunya, selain itu ruas saluran sangat pendek (hanya 53,50m), ruas ini
akan sangat cepat sekali mengalami pendangkalan. Oleh karena itu pengoperasian bangunan pembilas
membuang endapan lumpur langsung ke sungai Ciwaringin pada musim hujan harus dilaksannakan
secara teratur untuk mencegah akselerasi pengendapan lumpur.
 Ruas 6 (BGs10a – BGs10) juga pendek (887.30m) akan sangat cepat sekali mengami degradasi akibat
melambatnya arus. Jadi pemeliharaan ruas saluran ini perlu diprioritaskan dan tak boleh diabaikan.

Referensi:
1. Atika Kumala Dewi, 2013. Proses Sedimentasi di Muara Sungai Cimanuk
2. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PUPR. KP Irigasi 06
3. Jurnal Geologi Kelautan, Desember 2007. Bandung. Proses Pertumbuhan Delta Pantai Timur
Indramayu
4. Suwarno, Pengantar Hidrologi Terapan, Bandung 1991

8
Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik
Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

TINJAUAN RINGKAS
KEBERADAAN SADAP
TANPA IZIN

1. Pendahuluan
Penyadapan tanpa izin (pencurian air) dan konflik adalah hal yang lumrah terjadi di hamparan daerah
irigasi. Penyadapan illegal air irigasi saluran induk Gegesik akan dibahas melalui berbagai kemungkinan
(parameter) yang melatarbelakanginya antara lain: kebutuhan petani akan air, kesempatan untuk
melakukan, tingkat kesadaran petani, dan kecenderungan petani untuk melakukan pencurian air.
Sebenarnya keberadaan sadap liar tidak dibenarkan karena bertentangan dengan peraturan dan ketentuan
yang berlaku. PP No. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi, pasal 60, ayat 4 menyatakan bahwa: “ Untuk keperluan
pengamanan jaringan irigasi, dilarang mengubah dan/atau membongkar bangunan irigasi serta bangunan
lain yang ada, mendirikan bangunan lain di dalam, di atas, atau yang melintasi saluran irigasi, kecuali atas
izin Pemerintah, pemerintah provinsi, atau pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya”.
Keberadaan sadap/pompa liar di sepanjang saluran induk jelas bertentangan karena telah mengubah
ketentuan pendistribusian dan pemberian air yang berlaku. Selain itu, secara yuridis perbuatan ini dapat
diartikan sebagai suatu perbuatan atau tingkah laku yang bertentangan dengan undang-undang
Berdasarkan pantauan di sepanjang saluran induk Gegesik ditemukan banyak pompa liar, bobokan ilegal
pada tanggul saluran irigasi terutama di tanggul kanan. Sejumlah mesin pompa air pun terpasang digunakan
menyedot air dari saluran irigasi untuk dialirkan ke D.I. Ciwaringin yang seharusnya diperuntukkan bagi
daerah oncoran sebelah kiri saluran induk.

9
Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik
Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

2. Latar Belakang dan Penyebab


Menginvestigasi berbagai penyebab baik faktor teknis maupun sosiologis yang melatar-belakangi
fenomena penyadapan illegal ini dapat membantu untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap
permasalahan yang dihadapi di lapangan.
D.I. Ciwaringin yang terletak di sebelah kanan saluran induk Gegesik secara topografis memang terletak
lebih tinggi sehingga tidak mungkin mengalirkan air secara gravitasi ke daerah ini. Di samping itu areal ini
merupakan ujung terjauh (lower end) jika dilihat dari letak sumber air yang mengairinya. Kondisi hulu hilir
yang tidak menguntungkan ini oleh pemilik sawah (yang sawahnya berada di daerah hilir) sering sekali
dianggap sebagai penyebab ketidak-adilan dalam pemberian air irigasi. Petani Penggarap merasa tidak
mendapatkan perlindungan dan jaminan terhadap kepastian mendapatkan air dari pemerintah padahal di
sebelahnya (D.I. S.I. Gegesik) petani memperoleh air berlimpah. Kemampuan petugas juga terbatas untuk
melakukan pengawasan terhadap penggunaan air dan jaringan irigasi yang luas seperti di daerah ini. Masih
banyak faktor lain lagi yang juga terkait selengkapnya seperti uraian berikut ini antara lain:
- Pencurian air umumnya terjadi di daerah yang letaknya lebih tinggi,
- Peningkatan permintaan dan pemanfaatan air terutama di musim kemarau menyebabkan petani harus
berjuang keras untuk memperoleh air pada akhirnya menimbulkan praktek pengambilan air di luar
skema/sistem,
- Petani merasa tidak mendapatkan perlindungan dan jaminan terhadap kepastian mendapatkan air dari
pemerintah padahal di sebelahnya (D.I. S.I. Gegesik) air berlimpah,
- Penggunaan air oleh petani masih belum efisien (petani cenderung boros dalam menggunakan air),
- Kecenderungan sosial lainnya yang juga perlu dipertimbangkan adalah adanya oknum ataupun
kelompok (dengan tujuan memperoleh keuntungan) yang memfasilitasi penyadapan air tanpa izin.

3. Identifikasi di Lapangan
Berkaitan dengan keberadaan pompa illegal di lapngan telah dilakukan inventarisasi di lapangan di
sepanjang saluran induk Gegesik. Dalam melaksanakan inventarisasi diusahakan untuk memperoleh
informasi yang akurat terhadap parameter sebagai berikut seperti: i) lokasi pompa liar, ii) diameter pipa
PVC yang digunakan untuk menyedot air, dan iii) perkiraan kapasitas penyedotan air.
Informasi tentang lokasi diperlukan sehubungan dengan elevasi areal bidang sawah (aspek topografis).
Parameter ini menjelaskan batasan areal mana yang perlu mendapat alokasi dan dimasukkan dalam skema
jaringan. Sedangkan variable debit pemompaan dapat (secara spesifik) memberi petunjuk berapa nilai
ekivalen kehilangan air untuk jaringan D.I. saluran induk Gegesik. Dari angka angka yang tertera dalam
skema jaringan irigasi Gegesik didapat debit maksimum pemberian air saluran tersier sebesar 0,17 m3/detik

10
Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik
Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

untuk areal tersier seluas 155 ha. Jadi nilai ekivalen kehilangan air jaringan irigasi S.I. Gegesik yang
diakibatkan oleh diversi jatah pemberian air ke areal di luar skema adalah (0,252/0,17) x 155 ha = 230 ha.
Jadi akibat beroperasinya 1 unit pompa liar saja D.I. Gegesik sudah kehilangan air ekivalen 230 ha.
Hasil penelusuran lapangan dan perkiraan debit pengembilan dengan pompa liar selengkapnya dapat dilihat
pada Tabel 7.2

Tabel 7.1 Analisis keberadaan sadap liar S.I. Gegesik


No Kondisi D.I. Gegesik D.I. Ciwaringin
1 Hidro -Topografi
- Elevasi sawah Ideal Lebih tinggi
- Posisi hulu-hilir Hulu Hulu
- Ketersediaan air musim kemarau Tidak terpengaruh Rentan/terpengaruh
2 Kesempatan dan motif
- Kebutuhan akan air Terpenuhi Tidak terpenuhi
- Motif mempertahankan hidup N/A Nyata
- Fasilitasi dan akses N/A Ada oknum/kelompok
yang menyediakan fasi
litas untuk menyadap
air secara ilegal
3 Tingkat kesadaran petani
- Terhadap aturan/hukum N/A Lemah (bervariasi)
- Terhadap dampak yang ditimbulkan N/A Lemah (bervariasi)
4 Kecenderungan petani
- Kesediaan membayar untuk mem N/A Ada persetujuan/tran
peroleh air saksional
- Lemahnya penerapan sanksi N/A Belum ada kepastian
hukum

Tabel 7.2 Hasil penelusuran keberadaan pompa illegal sepanjang S.I. Gegesik
No. Ruas Kode Lokasi Diameter Perkiraan Penyebab
Desa Kecamatan Kabupaten pipa (Inci) debit (m3/det)
1 GS.26 - GS.27 PL-1 Bondan Sukagumiwang Indramayu 8 0.095 Elevasi sawah lebih tinggi
2 GS.42 - GS.43 PL-2 Luwung kencana Susukan Cirebon 12 0.252 Elevasi sawah lebih tinggi
3 GS.51 - GS.52 PL-3 Luwung kencana Susukan Cirebon 12 0.252 Elevasi sawah lebih tinggi
4 GS.65 - GS.66 PL-4 Susukan Susukan Cirebon 12 0.252 Elevasi sawah lebih tinggi
5 GS.67 - GS.68 PL-5 Susukan Susukan Cirebon 12 0.252 Elevasi sawah lebih tinggi
6 GS.70 - GS.71 PL-6 Susukan Susukan Cirebon 12 0.252 Elevasi sawah lebih tinggi
7 GS.71 - GS.72 PL-7 Susukan Susukan Cirebon 12 0.252 Elevasi sawah lebih tinggi
8 GS.86 - GS.87 PL-8 Susukan Susukan Cirebon 12 0.252 Elevasi sawah lebih tinggi
9 GS.86 - GS.87 PL-9 Geyongan Arjawinangun 8 0.095 Air tidak sampai ke
sawah paling ujung

11
Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik
Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

Penjelasan lebih lanjut mengenai tata-cara dan prosedur perkiraan debit pompa illegal adalah sebagai
berikut (lihat Tabel 7.3 dan Tabel 7.4)1.
Parameter utama yang menentukan debit pompa adalah kecepatan, dan kehilangan tinggi tekanan akibat
gesekan. Kecepatan dan gesekan tergantung dari jenis dan diameter pipa yang digunakan. Dari Tabel 7.3
dan Tabel 7.4 untuk pipa PVC dengan berbagai diameter debit dapat ditentukan.
Untuk pipa PVC diameter 8 inci (ambil harga maksimum dalam table) di dapat debit pompa sebesar 1500
gpm atau 0,095 m3/det. Dengan metode yang sama untuk diameter pipa PVC 12 inci didapat debit pompa
sebesar 4000 gpm atau 0,252 m3/det.

4. Tindakan yang Perlu


Alternatif solusi (penyelesaian masalah) yang diusulkan sebaiknya didasarkan pada konsep yang mengacu
kepada symbol- symbol keadilan, manfaat, dan tidak mengganggu dan merusak sistem yang sudah ada
seperti disebutkan berikut ini.
Dalam jangka pendek perlu dilakukan investigasi yang lebih komprehensif terhadap keberadaan
pengambilan liar ini.
- Perlu dilakukan kaji ulang terhadap sistem alokasi air (debit saluran induk) dengan memperhitungkan
variabel kehilangan air (akibat tindakan illegal),
- Dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan petani akan air perlu ditetapkan kapan air boleh
didiversikan ke daerah irigasi di luar sistem, dan berapa debit maksimum yang masih bisa ditoleransi,
- Untuk mengakomodasi berbagai sektor kepentingan,dalam jangka panjang perlu dilakukan studi
komprehensif melibatkan berbagai bidang keahlian dan keilmuan,
- Pemangku kebijakan terutama pihak pemerintah cq dinas-dinas terkait serta masyarakat petani, termasuk
juga pihak-pihak lain yang juga terkait dengan keberadaan sadap liar perlu bertemu untuk
menyampaikan aspirasinya secara bebas,
- Setelah tahapan-tahapan di atas dilalui baru bisa dibuat peraturan dan regulasi yang mengatur semua
kepentingan masyarakat petani pemakai air baik yang ada di dalam sistem maupun yang berbatasan
(periphery).

1
Dikutip dari www.EngineeringToolBox.com

12
Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik
Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

Lampiran Inklusif
Tabel 7.3 Debit maksimum pompa untuk pipa diameter 8 inci2

Tabel 7.4 Debit maksimum pompa untuk pipa diameter 12 inci3

2
Dikutip dari www.EngineeringToolBox.com
3
Ibid

13
Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik
Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

Foto Pompa Ilegal per 15 Oktober 2018

PL-1 PL-2
Ruas: GS26 – GS27 Ruas: GS42 – GS43
Lokasi: Desa Bondan Lokasi: Desa Luwung kencana
Perkiraan Q: 0,095 m3/det Perkiraan Q: 0,252 m3/det

PL-3 PL-4
Ruas: GS51 – GS52 Ruas: GS65 – GS66
Lokasi: Desa Luwung kencana Lokasi: Desa Susukan
Perkiraan Q: 0,252 m3/det Perkiraan Q: 0,252 m3/det

PL-5 PL-6
Ruas: GS67 – GS68 Ruas: GS70 – GS71
Lokasi: Desa Susukan Lokasi: Desa Susukan
Perkiraan Q: 0,252 m3/det Perkiraan Q: 0,252 m3/det

14
Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik
Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

PL 7 PL 8
Ruas: GS71 – GS72 Ruas: GS86 – GS87
Lokasi: Desa Susukan Lokasi: Desa Susukan
Perkiraan Q: 0,252 m3/det Perkiraan Q: 0,252 m3/det
Gambar 7.1 Foto-foto hasil investigasi pompa liar di lapangan

PL 94
Ruas: GS269 – GS270
Lokasi: Desa Geyongan
Perkiraan Q: 0,095 m3/det

4
Pompa diinstal pada bangunan bagi sadap BGs.11

15
Supervisi Konstruksi Modernisasi Jaringan Monograf Gegesik
Irigasi D.I. Rentang (S.I. Gegesik)

16