Anda di halaman 1dari 12

CRITICAL JOURNAL REVIEW

“Ketahanan Nasional”

OLEH :

1. Lindu Simanullang
2. Rizki Maulidah
3. Sari Devi Aruan

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2017

KATA PENGANTAR
Dengan menngucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kehadirat-Nya, dapat
menyelesaikan tugas Critcal Journal Review sebagai salah satu tuntutan KKNI.

Tugas ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan tugas ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah
ini.

Terlepas dari semua itu, menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki tugas ini.

Akhir kata kami berharap semoga tugas Critical Journal Review ini dapat
memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Medan, Oktober 2017

Penulis

BAB I

IDENTITAS JURNAL
Jurnal 1

1. Judul Artikel : PENGEMBANGAN WAWASAN NUSANTARA MENUJU KETAHANAN


NASIONAL
2. Penulis Artikel : Armaidy Armawi
3. Nama Jurnal : Jurnal Ketahanan Nasional
4. Penerbit : Fakultas Filsafat UGM
5. Tempat Terbit :-
6. Tahun Terbit : 2009
7. Vol., No. : Vol.XIV No.3
8. ISSN :-

Jurnal 2

1. Judul Artikel : Pemantapan Ketahanan Nasional NKRI Melalui Pemdekatan


Kebahasaan
2. Penulis Artikel : Tri Sullistyaningtyas
3. Nama Jurnal. : Jurnal Sosioteknologi
4. Penerbit : Ilmu Kemanusiaan FSRD-ITB
5. Tempat Terbit : Bandung
6. Tahun Terbit. : 2007
7. Vol: No : 13 : 1
8. ISSN. :-
BAB II

HASIL REVIEW

2.1 Kajian Inti Sari Bab Pendahuluan

Banyak negara di dunia yang telah mencapai kemerde- kaan ratusan tahun, tetapi tidak
pernah menjadi negara industri bahkan tetap menyandang predikat sebagai negara berkembang.
Sebaliknya ada negara-negara yang merdeka dalam usia sangat muda tetapi perkembangannya
sangat pesat, dan termasuk negara industri. Pendidikan bagi suatu bangsa tidak dapat dipandang
sepele, sebab melalui pendi- dikan akan terbentuk elemen kehidupan bangsa yang memi- liki nilai
ketahanan. Sebaliknya, kelemahan bidang pendidikan dapat menyebabkan bangsa tersebut menjadi
miskin dan sulit untuk maju.

Kondisi ini makin berat ketika berbagai negara di dunia mengalami krisis moneter dan
ekonomi, kemudian menim- bulkan krisis kepercayaan baik di dalam maupun luar negeri terhadap
pemerintah. Negara bangsa (nation state) yang memiliki pluralitas sangat tinggi seperti Indonesia
tengah ditantang untuk menghadapi persoalan disintegrasi bangsa. Apabila bangsa dan negara tidak
memiliki pemahaman akan wawasan nasional (national outlook), nilai ketahanan nasional yang
mampu untuk menghadapi dan mengatasi dinamika global tersebut, maka dampaknya sangat besar
terhadap upaya menciptakan integrasi nasional.

Dinamika Lingkungan Strategis

Kemajuan yang pesat di bidang teknologi informasi telah memungkinkan bangsa-bangsa didunia
lebih mudah bersentuhan dengan dunia luar. Perubahan mendasar yang bergerak dari persoalan
moneter yang telah menimbulkan krisis ekonomi di berbagai negara terma- suk Indonesia, kemudian
menimbulkan krisis kepercayaan kepada pemerintah yang terjadi di dalam maupun luar negeri, telah
menimbulkan persoalan ber- bangsa dan bernegara yang makin berat. Keadaan tersebut .telah
membawa dampak yang tidak kecil terhadap mobilitas gerakan regionalisme dan juga makna
nasionalisme bagi bang- sa-bangsa di dunia. Di satu pi- hak mobilitas tersebut menjadi pemicu
gerakan regionalisme dan menipisnya makna serta cakupan nasionalisme yang pada akhirnya dapat
meng- ganggu atau mengancam integrasi nasional. Kasus yang menimpa Ethiopia, Somalia, Irak,
Libanon, Sri Langka. Bekas negara Yugoslavia dan Uni SoViet serta Ouebec di Kanada merupakan
contoh ketidak- mampuan bangsa dan negara bersangkutan dalam menangani berbagai perbedaan
yang ada dalam masyarakatnya, sehingga telah menimbulkan berbagai ge- jolak dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara yang berada pada posisi sangat rentan ter- hadap disintegrasi.
Kebhinekaan ras, agama, kul- tur dan etnik sebagai lawan ho- mogenitas dalam suatu negara
biasanya dilihat sebagai faktor negatif yang merugikan negara tersebut. Gejolak sosial dan in-

stabilitas politik yang selama ini ditunjukkan oleh banyak nega- ra di Asia dan Afrika sejak ber-
akhirnya Perang Dunia II seolah-olah telah menjadi kutukan bagi negara tersebut, karena bersamaan
dengan berdirinya negara semacam itu terjadi pe- rang saudara berkepanjangan, kesengsaraan
ekonomi, tragedi politik dan bahkan tidak jarang juga gerakan pembersihan etnis (genocide). Tradisi
dan warisan budaya, agama dan persaingan . wilayah dalam rangka pengua- saan sumber-sumber
ekonomi, serta sentimen etnisitas dan ke- daerahan yang telah melekat kuat semakin menonjolkan
pe- nampilan perbedaan-perbedaan tersebut. Apalagi ketika ideologi kapitalis dan komunis diadopsi
oleh para elit-politik mereka dalam rangka merespon perang dingin yang mendunia, maka
perbedaan dan heterogenitas yang berarti perang saudara dan kekejaman yang berkepanjangan
yang akhirnya memupus sejumlah harapan masa depan masyarakatnya.

Nasionalisme di banyak ne- gara yang baru merdeka, ironisnya justru berkembang dari primordial
attachment yang diikat secara paksa menjadi satu kesatuan oleh pemerintah kolo- nial. Dengan
demikian, nasio- nalisme yang muncul kemudian setelah kemerdekaan melekat Armaidy Armawi,
Pengembangan Wawasan Nusantara Menuju Ketahanan Nasional

pada pluralisme primordial, Pergeseran loyalitas pada nega- ra sebagai perwujudan dari suatu
negara bangsa (nation state) sedikit banyak mengan- dung elemen keharusan sejarah (historical
necessitate) yang mele- kat pada kolonialisme. Jika ke- adaan ini dibiarkan akan meru- pakan bibit
persoalan yang da- pat mengganggu integritas na- sional, seperti merebak dan menguatnya
perasaan tidak puas, kecemburuan sosial, yang memperkuat sentimen sempit seperti rasa kesukuan,
agama, ras dan regionalisme yang pada gilirannya menjadi bibit disintegrasi bangsa dan negara.

Kebhinekaan dan Wawasan Nusantara

Bagi Indonesia yang memiliki pluralitas etnik, agama, budaya, dan lainnya yang sangat tinggi tidak
luput dari sejumlah per- soalan yang mengganggu baik saatini maupun masa depan. Di Indonesia,
kebhinekaan atau heterogenitas merupakan faktor yang sangat diperhitungkan se- jak awal
berdirinya negara. Elemen ini berkaitan dengan apa yang disebut oleh Clifford Geertz sebagai
primordial sentiment se- bagai lawan dari civil politics. Primordial sentiment atau attach- ments
adalah sifat budaya dan tingkah laku politik pada suku (tribe), daerah (region), agama,

kelompok etnik dan pengelom- pokan-pengelompokan sejenis- nya yang bersifat given”. Halini
dalam banyak hal justru telah menjadi dasar yang kuat dari suatu kekuasaan dan identitas karena
mempunyai sifat pasti dan instant. Dalam ikatan-ikatan sosial semacam ini, kehidupan politik
kenegaraan dipandang sebagai persoalan keluarga, se- mentara kekuasaan dan identi- tas pribadi
atau kelompok dilihat sebagai sesuatu yang abstrak dan tidak menentukan. Keadaan ini kontras
sekali dengan civil poli- tics yang memandang kinerja (performances dan prestasi (merit) bukan
hubungan keluar- ga lebih penting sebagai pertim- bangan.

Masyarakat yang sarat de- ngan primordial sentiment menu- rut Geertz memerlukan suatu
integrative revolution yaitu suatu gerak integrasi masyarakat ke dalam ikatan-ikatan kultural yang
lebih luas dan mendukung pemerintahan nasional. Tanpa gerak integrasi ini, bila timbul sedikit saja
kekecewaan yang berkaitan dengan suku, agama, ras, dan antar golongan (sara) akan meningkatkan
potensi meledaknya disintegrasi politik. Dalam hal ini, kemampuan ge- rak integrasi suatu bangsa
dapat diartikan sama dengan pema- haman tentang wawasan na- sional, dan semakin tinggi gerak 4
Jurnal Ketahanan Nasional, XIV (3), Desember 2009

integrasinya semakin tinggi pula tingkat pemahaman mengenai wawasan nasional. Dalam kon- teks
kelIndonesiaan wawasan nasional itulah yang disebut de- ngan wawasan Nusantara. Selanjutnya,
integrasi nasio- nal sebagai produk dari tingkat pemahaman wawasan nasional atau wawasan
Nusantara yang tinggi berarti telah terciptanya suatu identitas bersama sebagai suatu bangsa.
Sementara inte- grasi teritorial di bawah satu kesatuan administrasi adalah syarat utama bagi
integrasi na- sional, tetapi ini tidak berarti bah- wa terlaksananya integrasi terri- torial sama dengan
terjaminnya integrasi nasional (politik). Kesenjangan antara integrasi politik dan integrasi teritorial
pada saat-saat tertentu tampak nyata. Suatu masyarakat yang di satu sisi telah menerima ke-
nyataan adanya kekuasaan ad- ministratif negara, di sisi lain masyarakat tersebut tetap eng- gan
memberikan loyalitas terakhirnya (ultimate loyality). Dengan demikian, integrasi nasional yang utuh
dapat diartikan sebagai suatu pergeseran loyali- tas masyarakat ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih
luas yang termanifestasi pada rasa, ikut serta (sharing) memiliki ke- daulatan. Pertalian keluarga atau
kekerabatan (kinship), per- samaan daerah asal (region)

ataupun identitas etnis tidak lagi sebagai sumber utama dari status dan bentuk tertinggi loyali- tas,
melainkan individu-individu anggota masyarakat mulai ber- usaha menemukan kesempatan untuk
dapat loyal pada komuni- tas yang lebih besar yaitu bangsa atau nation. Ini diikuti dengan
munculnya institusi-institusi tertentu sehingga bentuk-bentuk abstrak dari bangsa (nation) berubah
menjadi konkrit dalam bentuk misalnya, institusi pen- . didikan, dewan-dewan perwa- kilan, partai
politik dan tentara nasional. Partisipasi dalam in- stitusi-institusi semacam itu memberikan
kesempatan pada rakyat banyak untuk bekerja bersama mencapai tujuan sosial tertentu yang
biasanya berada di luar kemampuan kerabat atau kelompok etnisnya secara sendi- ri-sendiri.
Meningkatnya aktivi- tas institusi-institusi ini berakibat pada peningkatan kesejahteraan dan
kekayaan nasional, sehing- ga kedaulatan suatu bangsa menjadi realita dalam bentuk maupun
kenyataan. Pemerintah nasional kemudian memiliki se- gala macam otorita dan dana untuk
memaksakan loyalitas dan kemampuan untuk memberi ganjaran dan hadiah bagi mere- ka yang
loyal atau menghukum- nya bagi yang berbuat sebalik- nya. Armaidy Armawi, Pengembangan
Wawasan Nusantara Menuju Ketahanan Nasional.
2.2 Kajian Inti Sari Bab Kajian Pustaka

Druxes, et al. mengungkapkan beberapa masalah pelajaran Fisika di sekolah (1986: 7-


30) sebagai berikut: (1) Fisika Tidak Disukai, orang mengangap Fisika tidak bermanfaat
dalam kehudupan sehari-hari dan sering dianggap hanya berisi rumus dan hitungan; (2) Fisika
Itu Berat, dalam Fisika terdapat materi yang abstrak yang sulit diamati seperti relativitas; (3)
Pelajaran Fisika Tidak Aktual, dalam pembelajaran Fisika di sekolah tidak mengaktualkan
peristiwa-peristiwa Fisika yang sedang terjadi; dan (4) Pelajaran Fisika Itu Eksperimental,
dalam pembelajaran Fisika diperlukan percobaan/eksperimen untuk memudahkan siswa
dalam belajar tetapi hal itu merepotkan guru.

Beberapa hal yang dikemukakan di atas berpengaruh dalam pembelajaran Fisika di


Sekolah Menengah Atas (SMA), baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini dapat
membuat siswa melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal Fisika. Kesalahan
merupakan hal yang wajar terjadi pada siswa yang sedang belajar. Akan tetapi, kesalahan-
kesalahan yang muncul seharusnya dapat diminimalisasikan. Menurut Lerner (1981)
beberapa kekeliruan umum yang dilakukan anak adalah kekurangan pemahaman tentang
simbol, nilai tempat, perhitungan, penggunaan proses yang keliru, dan tulisan yang tidak
terbaca (Abdurrahman, 2009: 262).

Menurut Blando, Kelly, Schneider, dan Sleeman (1989) kesalahan terjadi jika siswa
berhadapan dengan tugas yang sukar sehingga menghadapi jalan buntu, kemudian diatasi
dengan memodifikasi prosedur yang diketahui dan diterapkan pada tugas tersebut. Menurut
Matz (1982) kesalahan merupakan gangguan yang dapat berupa mal-rule, kesalahan
sistematik yang merupakan kesalahan umum berkenaan dengan pilihan yang salah atas teknik
ekstrapolasi, pengetahuan dasar yang kurang, dan kesalahan dalam proses pemecahan
masalah. Pengelompokkan kesalahan menurut Sleeman, Kelly, Martinak, Ward, dan Moore
(1989) terdiri atas: (a) kesalahan tetap, (b) kesalahan yang berkenaan dengan perhatian, (c)
mal-rule, dan (d) kesalahan mengingat, kesalahan hitung, serta kesalahan tulis (Sriati, 1994:
4-5).

2.3 Kajian Inti Sari Bab Metode Penelitian

Tahapan metode Penelitian yg dilakukann :


a. Identifikasi permasalahaan
Pada tahap identifikasi permasalahan, dilakukan identifikasi permasalahan terkait
dengan topik rangkaian listrik. Permasalahan-permasalahan tersebut harus terkait
dengan konsep yang akan diajarkan kepada siswa
b. Identifikasi konsep
Pada tahap identifikasi konsep dilakukan penentuan konsep target yang terdapat
dalam permasalahan yang diangkat. Semua konsep dapat tercapai dengan baik jika
permasalahan dapat diselesaikan oleh siswa dengan benar.
c. Penyelesaian permasalahan
Pada tahap penyelesaian permasalahan, dilakukan penyelesaian permasalahan
terhadap permasalahan yang sudah diidentifikasi terkait dengan rangkaian listrik.
Tujuannya adalah untuk mencari jawaban benar dari setiap permasalahan, sehingga
konsep yang akan diajarkan dapat sampai kepada siswa dengan tepat.
d. Pelaksanaan uji coba ke beberapa siswa
Pada tahap pelaksanaan uji coba ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua
konsep target dapat tercapai dengan dipecahkannya permasalahan yang diberikan.
Selain itu, dapat diketahui pula sikap siswa ketika mencoba menyelesaikan
permasalahan tersebut. Pada penelitian ini, diambil sampel sebanyak 5 orang siswa
SMA kelas X.

2.4 Kajian Inti Sari Bab Hasil dan Pembahasan


Dalam penelitian ini, permasalahan-permasalahan yang akan diangkat pada topik
rangkaian listrik dengan model PBM dibatasi pada sub konsep: syarat arus dapat mengalir,
rangkaian seri, rangkaian paralel, rangkaian gabungan seri dan paralel serta fungsi
penggunaan saklar dalam rangkaian.
Desain permasalahan 1 : menyusun rangkaian listrik untuk menyalakan satu lampu
menggunakan satu baterai dan satu kabel
Konsep target dari desain permasalahan ini adalah (1) siswa dapat menyalakan lampu
menggunakan 1 baterai dan 1 kabel, (2) siswa dapat menemukan syarat lampu dapat menyala
pada rangkaian tersebut.
Dari gambar 3 dapat dilihat bahwa penyelesaian permasalahan yang dilakukan oleh
siswa adalah sesuai dengan Gambar 1 (a), dimana ujung logam lampu dihubungkan dengan
kutub positif pada baterai dan ulir lampu dihubungkan pada kutub negatif pada baterai.
Dengan menyelesaikan permasalahan tersebut, siswa belajar untuk menyusun
rangkaian dengan menggunakan satu kabel dan satu baterai yaitu dengan cara ujung logam
lampu dan ulir lampu harus dihubungkan dengan kutub baterai yang berbeda. Siswa dapat
menemukan bahwa syarat lampu dapat menyala adalah adanya beda potensial antara ulir
lampu dan ujung logam lampu. Dari hasil uji coba didapatkan bahwa dengan memberikan
desain permasalahan 1, siswa dapat memahami konsep target yang telah ditentukan.

Desain permasalahan 2 : menyusun rangkaian untuk menyalakan satu lampu


menggunakan dua baterai dan dua kabel.
Konsep target dari desain permasalahan 2 adalah (1) siswa dapat menyusun rangkaian
untuk menyalakan lampu menggunakan dua baterai dan dua kabel, (2) siswa dapat
menemukan syarat ke-2 lampu dapat menyala selain mendapatkan beda potensial, (3) siswa
dapat menemukan bahwa bagian lampu pijar yang menyala adalah filamen lampunya, (4)
siswa dapat menjelaskan jalannya arus pada rangkaian hingga lampu tersebut menyala dan
(5) siswa dapat membandingkan terangnya lampu yang disusun menggunakan satu baterai
dan dua baterai.
Dari Gambar, didapatkan bahwa desain permasalahan 2 diselesaikan siswa sesuai
dengan gambar 4b, dimana ulir lampu dihubungkan dengan kutub positif pada baterai 2 dan
ujung logam lampu dihubungkan dengan kutub negatif baterai 1 menggunakan kabel,
sedangkan untuk kutub positif baterai 1 dan kutub negatif baterai 2 dihubungkan
menggunakan kabel.
Setelah ditemukannya penyelesaian permasalahan tersebut, siswa diberi pertanyaan:
susunan rangkaian pertama (lampu tidak menyala) dan rangkaian terakhir (lampu dapat
menyala) berupa rangkaian terbuka atau tertutup. Siswa menjawab rangkaian pertama berupa
rangkaian terbuka dan rangkaian terakhir berupa rangkaian tertutup. Sehingga mereka
menyimpulkan bahwa jika rangkaian terbuka, maka lampu tidak dapat menyala dan jika
rangkaian tertutup maka lampu dapat menyala.
Dengan menyelesaikan permasalahan 2, pembelajaran yang didapatkan siswa adalah
ada syarat lain untuk membuat lampu dapat menyala selain mendapatkan beda potensial yaitu
rangkaian harus berupa rangkaian tertutup. Selain itu siswa juga dapat menjelaskan jalannya
arus pada lampu, serta dapat membandingkan nyala lampu yang menggunakan satu baterai
dan dua baterai.
Dari hasil uji coba tersebut dapat disimpulkan bahwa, dengan menggunakan desain
permasalahan 2, semua konsep target dapat tercapai dengan baik dan siswa juga memahami
konsep tersebut.

Desain permasalahan 3 : menyusun rangkaian listrik untuk menyalakan dua lampu


menggunakan kabel dan baterai.
Konsep target dari desain permasalahan 3 adalah siswa dapat: (1) menyusun
rangkaian untuk menyalakan dua lampu menggunakan baterai dan kabel, (2) dapat menyusun
rangkaian dua lampu dimana jika satu lampu dilepas, lampu yang lain akan mati, (3) dapat
menjelaskan penyebab matinya lampu pada rangkaian seri ketika salah satu lampu dilepas,
(4) dapat menyusun rangkaian dua lampu, dimana jika salah satu lampu dilepas, lampu yang
lain akan tetap menyala dan menjelaskan penyebabnya, (5) dapat membandingkan nyala dua
lampu yang dipasang secara seri dan paralel.
Akhirnya mereka menemukan bahwa pada rangkaian yang kedua, jika salah satu
lampu dilepas maka lampu yang lain tetap akan menyala. Hal tersebut terjadi karena meski
salah satu lampu dilepas, lampu yang lainnya tetap berupa rangkaian tertutup dan arus dapat
mengalir dalam rangkaian tersebut. Setelah itu diinformasikan bahwa rangkaian pertama
disebut dengan rangkaian seri dan rangkaian kedua disebut dengan rangkaian paralel. Selain
itu, siswa juga menemukan bahwa nyala lampu yang dirangkai secara seri menyala lebih
redup dibandingkan yang disusun secara paralel.
Dengan melakukan percobaan-percobaan untuk menyelesaikan permasalahan 3, siswa
dapat mempelajari tentang sifat dari rangkaian seri dan rangkaian paralel. Dari hasil uji coba
dapat disimpulkan bahwa, desain permasalahan 3 dapat diselesaikan dengan baik dan semua
konsep target dapat tercapai dengan baik pula.

2.5 Kajian Inti Sari Bab Kesimpulan


Dalam desain permasalahan 1 dan 2, konsep yang didapati oleh siswa adalah syarat
arus dapat mengalir, yaitu ada beda potensial di dalam rangkaian dan rangkaian harus berupa
rangkaian tertutup. Konsep yang didapati siswa dalam permasalahan 3 adalah sifat rangkaian
seri dan paralel. Pada rangkaian seri jika salah satu lampu dilepas maka lampu yang lain tidak
akan menyala. Sedangkan untuk rangkaian paralel, jika salah satu lampu dilepas maka lampu
yang lain akan tetap menyala. Untuk desain permasalahan 4, konsep yang didapati siswa
adalah mengkombinasikan rangkaian seri dan paralel. Sedangkan untuk desain permasalahan
5 dan 6 adalah fungsi saklar dalam rangkaian.
Dengan mendesain permasalahan dalam pembelajaran dapat merangsang proses
berfikir siswa secara aktif dan kreatif selama proses pemecahan permasalahan. Siswa
mencoba memahami permasalahan yang diberikan, mencoba-coba bagaimana cara untuk
memecahkan permasalahan tersebut dan menemukan jawaban dari setiap permasalahan
melalui percobaan. Dari semua permasalahan, permasalahan 6 merupakan permasalahan yang
paling kompleks. Meskipun sulit untuk dipecahkan, namun proses pemantapan konsep dapat
diperoleh melalui permasalahan tersebut.

BAB III