Anda di halaman 1dari 12

KONTRIBUSI ALBERT EINSTEIN DALAM PENEMUAN

STRUKTUR ATOM MEKANIKA KUANTUM


Makalah Fisika Modern
Disusun oleh:

Akhmad Futukhillah Fataba Alaih 1706032502 2017


Aisha Nurtabina 1706068704 2017
Aldiman Bakhti 1606902883 2016
Adika Resmana

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Atom adalah satuan unit terkecil dari sebuah unsur yang memiliki sifat-
sifat dasar tertentu. Setiap atom terdiri dari sebuah inti kecil yang terdiri dari
proton dan neutron dan sejumlah elektron pada jarak yang jauh. Mempelajari
tentang teori atom sangatlah penting sebab atom merupakan penyusun materi
yang ada di alam semesta. Dengan memahami atom kita dapat mempelajari
bagaimana satu atom dengan yang lain berinteraksi, mengetahui sifat-sifat
atom, dan sebagainya sehigga kita dapat memanfaatkan alam semesta untuk
kepentingan umat manusia.
Di era modern ini, berbagai penelitian dan penemuan dari segala aspek
yang berhubungan dengan atom telah berkembang pesat. Sampai saat ini,
model atom yang digunakan adalah model atom dalam mekanika kuantum
dimana elektron dalam atom dipandang memiliki sifat dualisme partikel-
cahaya dan dinilai sebagai model atom terbaik untuk menjelaskan segala
fenomena fisis yang terjadi.
Salah satu ilmuwan terkemuka dan dianggap sebagai ilmuan paling
jenius abad 20 yaitu Einstein juga ikut berkontribusi dalam perumusan
mekanika kuantum melalui beberapa kesimpulan yang didapat dari
eksperimennya. Dalam perumusan struktur atom, Einstein memang tidak
langsung berkontribusi namun Einstein berkontribusi dalam perumusan dasar-
dasar dari mekanika yang menjadi pondasi konsep model atom yang berlaku
hingga sekarang.
.
1.2 Rumusan Masalah
1. Kontribusi Einstein dalam perumusan dasar-dasar mekanika kuantum.
2. Kontribusi Einstein dalam perumusan dasar-dasar dari konsep model
atom.

1.3 Tujuan Penulisan

1. Mengetahui dasar-dasar mekanika kuantum yang dibangun Einstein dan


kawan-kawan.
2. Mengetahui kontribusi Einstein dalam penemuan struktur atom.
1.4 Metode Penulisan
Metode penulisan yang kami pakai dalam makalah ini adalah:
1. Metode Pustaka
Metode ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan
mempelajarinya dari berbagai sumber pustaka yang berhubungan dengan
materi. Sumber pustaka yang dihimpun berupa informasi yang di dapat dari
internet, jurnal online, dan buku.
2. Diskusi
Mendapatkan data dari hasil diskusi dengan bertukar pendapat
dengan teman-teman dan fasilitator untuk mengetahui informasi yang
diperlukan dalam pembuatan makalah.

1.4.1 Sistematika Penulisan


Berikut ini adalah sistematika penulisan makalah:
1. BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
b. Rumusan Masalah
c. Tujuan Penulisan
d. Metode Penulisan
2. BAB II ISI
a. Efek Fotolistrik (Awal Dasar Mekanika Kuantum)
b. Awal Mula Konsep Struktur Atom Mekanika Kuantum
c. Titik Pencerahan (Lahirnya Konsep Struktur Atom Mekanika
Kuantum)
3. BAB III PENUTUP
a. Kesimpulan
BAB II
ISI

2.1 Efek Fotolistrik (Awal Dasar Mekanika Kuantum)


Perkembangan Fisika Kuantum Pada tahun 1905, Albert Einstein
berhasil menjelaskan efek foto listrik dengan didasari oleh pendapat Planck
lima tahun sebelumnya dengan mempostulatkan bahwa cahaya atau lebih
khususnya radiasi elektromagenetik dapat dibagi dalam paket-paket tertentu
yang disebut kuanta dan berada alam ruang. Energi berhasil menjelaskan bahwa
untuk membuat elektron terpancar dari permukaan logam diperlukan cahaya
yang menumbuk. Cahaya tersebut harus memiliki frekuensi melebih frekuensi
ambang dari logam tersebut. Efek foto listrik ini tidak bergantung pada
intensitas cahaya yang ditembakan seperti pandangan mekanika klasik tetapi
hanya bergantung pada frekuensinya saja. Walaupun cahaya lemah ditembakan
tetapi memiliki frekuensi yang melebihi frekuensi ambang ternyata ada
elektron yang dipancarkan.Pernyataan Einstein bahwa cahaya teradiasikan
dalam bentuk paket-paket energi yang kemudian disebut kuanta dinyatakan
dalam jurnal kuantum yang berjudul "On a heuristic viewpointconcerning the
emission and transformation of light" pada bulan Maret 1905.
Gambar 1. Skema alat yang digunakan untuk mengadakan efek fotolistrik

Gambar 2. Grafik Efek Fotolistrik (a) Fungsi Kerja dan frekuensi ambang (b) Potensial penghenti
arus Vstop

Pernyataan tersebut disebut-sebut sebagai pernyataan yang paling


revolusioner yang ditulis oleh fisikawan pada abad ke-20.Paket-paket energi
yang pada masa itu disebut dengan kuanta kemudian disebut oleh foton,sebuah
istilah yang dikemukakan oleh Gilbert & Lewis pada tahun 1926. Ide bahwa
tiap foton harus terdiri dari energi dalam bentuk kuanta merupakan sebuah
kemajuan. Hal tersebut dengan efektif merubah paradigma ilmuwan fisika pada
saat itu yang sebelumnya menjelaskan teori gelombang. Ide tersebut telah
mampu menjelaskan banyak gejala fisika pada waktu itu.Teori kuantum yang
menyatakan bahwa cahaya teradiasi dalam bentuk paket-paket energisecara
terpisah dan diserap oleh electron secara individual berhasil menjelaskan efek
fotolistrik dengan baik yaitu pada intensitas cahaya yang lemah pun bisa
terpancarkan electron dari logam asalkan frekuensi cahaya yang diberikan
melebihi frekuensi ambang dari logam yang disinari. Hal initidak bisa
dijelaskan oleh teori gelombang yang dianut para fisikawan pada saat itu.
Namun, teori gelombang tentang cahaya ini juga dapat menjelaskan dengan
baik bagaimana terjadinya difraksi dan interferensi cahaya yang menganggap
bahwa cahaya teradiasikan dalam bentuk gelombang yangmenjalar seperti riak
air ketika sebuah benda jatuh ke dalam air.

2.2 Awal Mula Konsep Struktur Atom Mekanika Kuantum


Pada tahun 1913, Neils Bohr mencoba menjelaskan garis-garis
spectrum dari atom hydrogen dengan menggunakan teori kuantisasi.
Penjelasannya ini di terbitkan pada bulan Juli 1913 dalam papernya yang
berjudul On the Constitution of Atoms and Molecules. Teori ini ia kemukakan
untuk mendapat gambaran yang lebis jelas tentang bagaimana struktur atomic
yang terdapat dalam benda. Ilmuwan sebelumnya yang berusaha menjelaskan
tentang struktur atom adalah J.J. Thompson yang menyatakan bahwa atom
seperti sebuah bola yang bermuatan postif serba sama yang mengandung
elektron dan tersebar merata di permukaannya. Namun, ternyata teori Bohr ini
tidak bisa menjelaskan mengapa garis spectral tertentu berintensitas lebih tinggi
dari yang lainnya. Selain itu, teori ini tidak bisa menjelaskan hasil pengamatan
bahwa banyak garis spectral sesungguhnya terdiri dari garis-garis terpisah yang
panjang gelombangnya sedikit berbeda. Yang paling penting, teori Bohr ini
tidak dapat menjelaskan bagaimana interaksi atom-atom penyusun ini bisa
menyusun kumpulan makroskopis yang memiliki sifat fisika dan kimia seperti
yang kita amati sekarang.
Gambar 3. Model Atom Bohr

Gambar 4. Model Bohr untuk atom hydrogen

Berikut pernyataan yang dinyatakan oleh bohr untu model atom Bohr

• Lintasan yang diizinkan untuk elektron dinomori n = 1, n = 2, n =3 dst. Bilangan


ini dinamakan bilangan kuantum, huruf K, L, M, N juga digunakan untuk
menamakan lintasan
• Jari-jari orbit diungkapkan dengan 12, 22, 32, 42, …n2. Untuk orbit tertentu dengan
jari-jari minimum a0 = 0,53 Å

4pe 0! 2
a0 =
me 2

• Jika elektron tertarik ke inti dan dimiliki oleh orbit n, energi dipancarkan dan energi
elektron menjadi lebih rendah sebesar

-B
En = ,
n2
B : konstanta numerik dengan nilai 2,179 x 10-18 J = -13.6eV
Gambar 5. Tingkat-tingkat energi atom Hydrogen

Walaupun teori Bohr tidak terbukti secara eksperimen, namun hal ini
menjadi sebuah catatan yang merubah paradigma para ilmuwa saat itu tentang
bagaimana menjelaskan gejala tomik dengan memakai pendekatan yang lebih
umum. Hal ini kemudian dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan lainnya ditahun-
tahun selanjutnya.Dari diskusi Henri Poincare tentang teori Planck pada tahun
1912, tulisannya yang berjudul Sur la theorie des quanta menyatakan bahwa
walaupun teori tentang kuantisasi energi ini berhasil dan cukup fenomenal,
namun pada saat itu tidak ada pertimbangan yang tepat tentang kuantisasi. Oleh
karena itu, kemudian teori tersebut disebut dengan teori kuantum lama.
Kemudian pada tahun 1931 kata fisika kuantum pertama kali diungkapkan oleh
Johnston dalam bukunya yang berjudul Planck's Universe in Light of Modern
Physics.

2.3 Titik Pencerahan (Lahirnya Konsep Struktur Atom Mekanika Kuantum)


Pada tahun 1924, seorang fisikawan Perancis, Louis de Broglie
menyatakan teorinya tentang gelombang materi dengan menyatakan bahwa
partikel dapat menunjukan sifat gelombang dan sebalikanya. Teori ini berlaku
untuk partikel tunggal. Teori tersebut diambil dari teori relativitas khusus.
Kemudian berdasarkan pemikiran de Broglie mekanika kuantum modern lahir
pada tahun 1925 yaitu ketika fisikawan Jerman, Werner Heisenberg dan Max
Born mengembangkan mekanika matriks. Selain itu, Erwin Schrodinger
seorang fisikawan Austria menemukan mekanika gelombang dan persamaan
non-relativistik Schrodinger sebagai pendekatan terhadap kasus umum dari
teori deBroglie. Schrodinger menunjukan bahwa kedua temuannya equivalen.
Pada tahun 1926 Einstein pernah bertanya kepada W. Heisenberg di Berlin
"Filosofi apa yang mendasari anda mengenai teori aneh anda? Teori tersebut
terlihat menarik, tetapi apa yang dimaksud dengan kuantitas yang dapat diamati
saja?" W. Heisenberg menjawab bahwa ia tidak percaya kepada keberadaan
jejak-jejak dalam kamar kabut. Kemudian Einstein menimpali: "tetapi anda
harus menyadari bahwa hal tersebut sangatlah salah". W. Heisenberg
menjawab lagi "tetapi kenapa kalau sementara hal ini tidak benar sedangkan
anda menggunakannya". Einstein mengatakan bahwa "I mayhave used it, but
still it is nonsense"!
Bagi Heisenberg, penegasan Einstein tersebut sangat bermanfaat
dalam penelitian selanjutnya bersama dengan Neils Bohr. Penegasan tersebut
sekaligus mengingatkan bahwa akan sangat membahayakan apabila hanya
meneliti tentang kuantitas yang teramati saja, padahal disamping semua
kuantitas yang dapat diamati secara langsung masih banyak hal yang
dimungkinkan untuk dapat diamati secara tidak langsung. Akhirnya Heisenberg
mengakuinya dengan mengemukakan "this wasthat one should not strick too
much to one special group of experiments; one should rather try to keepin touch
with all the developments in all the relevant experiments so that one should
always have thew hole picture in mind before one tries to fix a theory in
mathematical or other languages". Heisenberg merumuskan prinsip
ketidaktentuannya pada tahun 1927. Interpretasi Copenhagen juga mulai
melakukan hal yang sama pada saat itu.
Gambar 6. Representasi Orbital dalam Elektron menurut persamaan Schrodinger

Kemudian dimulai pada sekitar tahun 1927 Dirac memproses


penyatuan mekanika kuantum dengan relativitas khusus dengan mengajukan
persamaan dirac untuk elektron. Persamaan dirac mampu menjelaskan
gambaran relativistic dari fungsi gelombang dari sebuah electron yang gagal
dijelaskan oleh Schrodonger. Persamaan dirac memprediksikan spin electron
dan menuntun Dirac untuk meramalkan keberadaan positron. Dia juga merintis
penggunaan tools matematika dalam menjelaskan teori,termasuk notasi bra-ket.
Hal ini digambarkan dalam bukunya yang terkenal pada tahun 1930.Pada
periode yang sama, seorang polimat John Von Neumann merumuskan dasar
matematikayang tepat untuk mekanika kuantum yaitu teori operator linear. Hal
tersebut digambarkan dalam bukunya pada tahun 1932. Bidang ilmu kimia
kuantum dirintis oleh fisikawan Walter Heitler dan Fritz London
yangmempublikasikan suatu studi tentang ikatan kovalen dan molekul
hydrogen pada tahun 1927.
Kimia kuantum dibangun oleh banyak orang termasuk kimiawan teori
Amerika, Pauling dan John C Slater ke dalam banyak teori misalnya teori
molekuler orbit dan teori valensi.Pada tahun 1927 mulai dilakukan penerapan
mekanika kuantum untuk sebuah bidang yanglebih dari partikel tunggal, yang
menghasilkan teori medan kuantum. Orang-orang yang pertama kalimenekuni
bidang ini diantaranya adalah P.A.M. Dirac, W. Pauli, V. Weisskopf, dan P.
Jordan.Penelitian ini mencapai puncaknya ketika perumusan elektrodinamika
kuantum oleh R.P. Feynmen,F. Dyson, J. Schwinger, dan S.I Tomonaga
sepanjang tahun 1940. Kuantum elektrodinamikamerupakan teori kuantum
tentang electron, positron, dan medan electromagnet. Teori kuantum
chromoynamics pertama kali dirumuskan pada awal tahun 1960. Teori
tersebutdirumuskan oleh Politzer, Gross dan Wilczek pada tahun 1975.
Kemudian berdasarkan pada hasil dari pekerjaan yang dipelopori oleh
Schwinger, Higgs dan Goldstone, fisikawan Glashow, Weinberg danSalam
menunjukan bagaimana gaya nuklir lemah dan kuantum elektrodinamika dapat
disatukan kedalam gaya listrik lemah. Dari hal tersebut pada tahun 1979 mereka
menerima hadiah nobel dalam bidang fisika. Dari sini terungkapa bahwa dalam
partikel elementer masih terdapat partikel elementer lagi. Di dalam atom
terdapat elektron, proton, dan neutron selanjutnya didalam elekttron, proton,
dan neuton masih terdapat quark (e1/3 atau e 2/3)

Gambar 7. Model Partikel dasar standart sampai saat ini

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
• Einstein tidak berkontribusi langsung dalam penemuan struktur atom atom
namun dia berkontribusi aktif dalam merumuskan dasar mekanika kuantum
yang merupakan dasar model atom mekanika kuantum yang dipakai hingga
sekarang.
• Penemuan-penemuan terbaru di bidang fisika kuantum menunjukan bahwa
di dalam partikel dasar elektron, proton, dan neutron ternyata masih terdapat
partikel yang lebih dasar lagi.
• Semakin kecil mikroskopis ukuran partikel, semakin terlihat pula sifat
kuantum-nya yaitu dualisme partikel-gelombang. Penemuan-penemuan ini
semakin merujuk bahwa akan ada suatu rumusan yang dapat
menggabungkan sifat-sifat gelombang-partikel bhahkan sampai segi
energinya. Hal ini menunjukan bahwa bentuk awal energi adalah satu.

Referensi
Yosi, R. (n.d.). Pendalaman Materi Fisika: Mekanika Kuantum. Yogyakarta:
Jurdik Fisika UNY.
Krane, K. (2012). Modern physics 3rd ed. United States of America: Clearance
Center, Inc. 222.
Hardhienata, H. (2014). Tutorial Mekanika Kuantum. 1Theoretical Physics
Division, Bogor Agricultural University, Jl. Meranti S, Darmaga,
Indonesia 2Center for surface- and nanoanalytics (ZONA), 10-20.
Purwanto, A. (2012). Fisika Kuantum. Banyuwangi: Katalog Perpustakaan
Daerah Kabupaten Banyuwangi.
Gribbin, J. (2003). Fisika Kuantum Panduan Bagi Pemula Menuju Dunia
Subatomik. Jakarta: Erlangga.
Strathern, P. (2003). Bohr & Teori Kuantum / Paul Strathern ; alih bahasa
Andreas Haryono ; editor Rahmat Rikard, Theresia Vini, S. Jakarta:
Erlangga.