Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN STROKE HEMORAGIK

PRAKTIK PROFESI KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


RSUP FATMAWATI, LT. 6 SELATAN
Oleh Rike Triana, 1406571483

A. Pengertian
Stroke atau sering disebut juga dengan sebutan cedera vaskular serebral adalah cedera otak
yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak. Stoke dibagi menjadi dua yaitu stroke
iskemik dan hemoragik. Stroke iskemik terjadi akibat penyumbatan aliran darah arteri
yang lama ke bagian otak yang diakibatkan karena adanya trombus (bekuan darah di arteri
serebril) atau embolus (bekuan darah yang berjalan ke otak dari tempat lain di tubuh)
(Williams & Hopper, 2011). Sedangkan stroke hemoragik terjadi akibat perdarahan dalam
otak (Corwin, 2009, Williams & Hopper, 2011). Di bawah ini adalah gambaran dari stroke
hemoragik.

B. Etiologi
Stroke biasanya diakibatkan dari salah satu empat kejadian: (1) trombosis (bekuan darah
di dalam pembuluh otak atau leher); (2) embolisme serebral (bekuan darah atau material
lain yang dibawa ke otak dari bagian tubuh yang lain; (3) iskemia (penurunan aliran darah
ke area otak); dan (4) hemoragi serebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan
perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak) akibatnya adalah penghentian
suplai darah ke otak yang menyebabkan kehilangan sementara atau permanen gerakan,
berpikir, memori, bicara, atau sensasi. Pada stroke hemoragik biasanya diakibatkan dengan
hemoragi serebral yang dapat terjadi di luar durameter (hemoragi ekstradural atau
epidural), dibawah durameter (hemoragi subdural), di ruang subarakhnoid (hemoragi
subarakhnoid) atau di dalam substansi otak (hemoragi intraserebral) (Smeltzer, Bare,
Hinkle & Cheever, 2010).

Hemoragi ekstradural adalah kedaruratan bedah neuro yang memerlukan perawatan


segera, biasanya diikuti dengan fraktur tengkorak dengan robekan arteri. Pasien yang
mengalami hal ini harus diatasi dalam beberapa jam untuk mempertahankan hidup.
Hemoragi subdural pada dasarnya sama dengan hemoragi epidural, namun pembentukan
hematoma lebih lama karena biasanya yang mengalami kerusakan adalah jembatan vena
yang robek. Hemoragi subarakhnoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau hipertensi,
sedangkan hemoragi intraserebral terjadi karena hipertensi yang tidak terkontrol, rupture
aneurisma dan aterosklerosis serebral (Williams & Hopper, 2011). Perubahan degeneratif
karena penyakit ini biasanya menyebabkan ruptur pembuluh darah. Stroke sering terjadi
pada kelompok usia 40 sampai 70 tahun. Pada seseorang yang usia kurang dari 40 tahun,
hemoragi intraserebral biasanya disebabkan oleh malformasi arteri-vena,
hemangiosblastoma, dan trauma, adanya tumor otak, dan penggunaan medikasi (narkotika
dan zat adiktif) yang meningkatkan tekanan dalam pembuluh darah serebral (Smeltzer,
Bare, Hinkle & Cheever, 2010).

C. Faktor Risiko
Faktor risiko terjadinya stroke adalah (Smeltzer, Bare, Hinkle & Cheever, 2010):
1. Hipertensi—faktor risiko utama 7. Kontrasepsi oral yang disertai dengan
2. Penyakit kardiovaskular – hipertensi, merokok, dan kadar estrogen
embolisme serebral yang berasal dari tinggi
jantung, seperti penyakit arteri 8. Merokok
koronaria, gagal jantung kongestif, 9. Penyalahgunaan obat, khususnya
hipertrofi ventrikel kiri, kokain
abnormalitas irama 10. Konsumsi alkohol
3. Kolestrol tinggi
4. Obesitas
5. Peningkatan hemotokrit meningkatkan
risiko infark serebral
6. Diabetes
D. Patofisiologi
Stroke hemoragik terjadi karena adanya hematoma di dalam kranial (epidural, subdural,
atau intraserebral). Stroke hemarogik sering kali terjadi secara tiba-tiba, seperti saat terjadi
cedera kepala. Darah berkumpul di dalam ruang epidural (ekstradural) di antara tengkorak
dan durameter. Keadaan ini biasanya disebabkan dari fraktur tulang tengkorak yang
menyebabkan arteri meningeal putus atau rusak (laserasi), adanya penekanan pada otak
dari arteri ini menyebabkan hemoragik. Pada saat otak yang rusak membengkak atau
terjadi penumpukan darah yang cepat, menyebabkan peningkatan tekanan intrkranial
(TIK). Akibat dari peningkatan TIK dan edema serebral menyebabkan jaringan otak dan
struktur internal otak menjadi kaku. Perubahan posisi ke bawah atau lateral (herniasi)
terhadap struktur yang kaku menimbulkan iskemia, infark, kerusakan otak ireversible, dan
kematian. Terjadinya defisit neurologis menyebabkan pasien mengalami gejala anosmia
(tidak dapat mencium bau-bauan), abnormalitas gangguan mata, defisit neurologik (afasia,
defek memori, kejang postraumatik, epilepsi). Pasien juga akan mengalami sisa penurunan
psikologis organik (melawan, emosi labil, tidak punya malu, perilaku agresif). Stroke
hemoragik terjadi apabila pembuluh darah di otak pecah sehingga menyebabkan iskemia
(penurunan aliran) dan hipoksia yang selanjutnya menyebabkan jaringan otak mati.
Hemoragi dalam otak secara signifikan meningkatkan tekanan intrakranial, yang
memperburuk cedera otak yang dihasilkan (Corwin, 2009). Berikut adalah patofisiologi
perjalanan singkat stroke hemoragik.
hipertensi aneurisma cedera kepala malformasi arteriovenosa

Ruptur pembuluh darah Cerebral

Volume/ Masa cranial

TIK

Jaringan otak dan struktur internal otak menjadi kaku

Herniasi

Defisit Neurologis mendadak


E. Manifestasi Klinis dan Komplikasi
Stroke menyebabkan defisit neurologik, sesuai dengan lokasi lesi (pembuluh darah yang
tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak adekuat, dan jumlah aliran darah kolateral
(sekunder atau aksesori). Berikut ini defisit neurologik yang biasa terjadi (Smeltzer, Bare,
Hinkle & Cheever, 2010):
Defisit Neurologik Manifestasi
Defisit Lapang Penglihatan
- Homonimus hemianopsia (kehilangan - Tidak menyadari orang atau objek di
setengah lapang penglihatan) tempat kehilangan penglihatan
- Mengabaikan salah satu sisi tubuh
- Kesulitan menilai jarak
- Kehilangan penglihatan perifer - Kesulitan melihat pada malam hari
- Tidak menyadari objek atau batas objek
- Diplopia - Penglihatan ganda
Defisit Motorik
- Hemiparesis - Kelemahan wajah, tangan, dan kaki pada
sisi yang sama (karena lesi pada hemisfer
yang berlawanan)
- Hemiplegia - Kelemahan wajah, tangan, dan kaki pada
sisi yang sama (karena lesi pada hemisfer
yang berlawanan)
- Ataksia - Berjalan tidak mantap, tegak
- Tidak mampu menyatukan kaki, perlu
dasar berdiri yang luas
- Disartria - Kesulitan dalam membentuk kata
- Disfagia - Kesulitan dalam menelan
Defisit sensori
- Parestesia (terjadi pada sisi berlawanan - Kebas dan kesemutan pada bagian tubuh
dari lesi) - Kesulitan dalam propriosepsi
Defisit verbal
- Ataksia ekspresif - Tidak mampu membentuk kata yang dapat
dipahami; mungkin dapat bicara dalam
respon kata tunggal
- Ataksia reseptif
- Tidak mampu memahami kata yang
- Ataksia global dibicarakan; mampu bicara tapi tidak
masuk akal
- Kombinasi baik ataksia ekspresif dan
reseptif
Defisit kognitif - Kehilangan memori jangka pendek dan
panjang
- Penurunan lapang perhatian
- Kerusakan kemampuan untuk
berkonsentrasi
- Alasan abstrak buruk
- Perubahan penilaian
Defisit Emosional - Kehilangan control diri
- Labilitas emosional
- Penurunan toleransi pada situasi yang
menimbulkan stress
- Depresi
- Menarik diri
- Rasa takut, bermusuhan dan marah
- Perasaan isolasi
Respirasi
Berisiko aspirasi karena penurunan kesadaran
dan gangguan menelan yang dialami

F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Angiografi serebral: membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik. Seperti:
perdarahan, atau obstruksi arteri, adanya titik oklusi atau rupture.
2. CT Scan : memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia dan adanya infark,
Catatan: mungkin tidak dengan segera menunjukkan semua perubahan tersebut.
3. Lumbal pungsi: menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada trombosis,
emboli srebral, dan TIA. Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah
menunjukkan adanya hemoragik subsrakhnoid atau perdarahan intra cranial. Kadar
protein total meningkat pada kasus trombosis sehubungan adanya proses inflamasi.
4. MRI: menunjukkan daerah yang mengalami infark, hemoragik, malformasi arteriovena
(MAV).
5. Ultrasonografi Dopler : mengidentifikasi penyakit arteriovena (masalah system karotis
[aliran darah/ muncul plak] arterioskerotik)
6. EEG : mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak dan mungkin
memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
7. Sinar X tengkorak : menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang
berlawanan dari massa yang meluas : kalsifikasi karotis interna terdapat pada
trombosis serebral; kalsifikasi dinding parsial dinding aneurisma pada perdarahan
subarakhnoid.

G. Pengkajian Keperawatan

AKTIFITAS/ ISTIRAHAT
Tanda:
 Merasa kesulitan untuk melakukan aktifitas karena kelemahan, kehilangan sensasi
atau paralysis.
Gejala:
 Gangguan tonus Otot
 Gangguan penglihatan
 Gangguan tingkat kesadaran

SIRKULASI
Tanda:
 Adanya penyakit jantung , Keterangan : …………………………………
 Polisitemia
 Riwayat hipotensi postural
Gejala ;
 Hipertensi arterial
 Nadi, Frekwensi: …… kali/ menit, Kuat/ lemah. Regular/ ireguler. Disaritmia
 Perubahan EKG
 Desiran pada karotis, femoralis, dan arteri iliaka/ aorta yang abnormal
INTEGRITAS EGO
Tanda:
 Perasaan tidak berdaya
 Perasaan putus asa
Gejala:
 Emosi yang labil
 Ketidaksiapan untuk marah, sedih dan gembira
 Kesulitan untuk mengekspresikan diri

ELIMINASI
Gejala:
 Perubahan pola berkemih sepert; inkontinensia/ anuria.
 Distensi abdomen ( distensi kandung kemih berlebihan )
 Bising usus negative ( ileus paralitik)

MAKANAN/ CAIRAN
Tanda:
 Kesulitan menelan (gangguan pada refleks palatum dan faringea).
 Obesitas (faktor resiko)
Gejala:
 Nafsu makan hilang
 Mual,
 Muntah selama fase akut (peningkatan TIK)
 Kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, pipi dan tenggorokan.
 Dyspagia
 Adanya riwayat diabetes , peningkatan lemak dalam darah ,……, normal:………

NEUROSENSORI
Tanda:
 Status mental/ tingkat kesadaran =………E:….., M: ….., V: …. GCS = ……
 Lethargi
 Apatis
 Menyerang
 Penurunan memori
 Pemecahan masalah
 Ekstremitas/ paralysis
 Genggaman tidak sama
 Reflek tendon melemah secara kontralateral
 Pada wajah terjadi paralisi/ parese (ipsilateral)
 Afasia motorik
 Afasia reseftif/ sensorik
 Kehilangan rangsang visual
 Kehilangan rngsang pendengaran taktil/ agnosia)
 Kehilangan kemampuan menggunakan motorik saan pasien ingin menggunakannya
(apraksia)
 Ukuran/ reaksi pupil tidak sama
 Dilatasi/ miosis pupil ipsilateral ( perdarahan/ herniasi) Kekakuan nukal biasanya
karena perdarahan.
 Kejang karena adanya pencetus perdarahan
Gejala:
 Sinkope/ pusing ( sebelum serangan CSV/ selama TIA)
 Sakit kepala
 Kelemahan/ kesemutan kebas
 Penglihatan menurun
 Penglihatan ganda

NYERI/ KENYAMANAN
Tanda:
 Tingkah laku yang stabil/ gelisah, ketegangan pada otot/ fasia
 Sakit kepala dengan intensitas yang berbeda- beda
Gejala:
 Sakit kepala dengan intensitas yang berbeda- beda

PERNAFASAN
Tanda:
 Ketidak mampuan menelan/ batuk/ hambatan jalan nafas
 Timbulnya pernafasan sulit dan / atau tidak teratur
 Suara nafas terdengar/ ronki (aspirasi sekresi)
Gejala:
 Merokok (faktor resiko)

KEAMANAN
Tanda:
 Motorik/ sensorik, masalah dengan penglihatan
 Perubahan persepsi terhadap orientasi tempat tubuh (stroke kanan)
 Kesulitan untuk melihat obyek kesisi kiri (pada stroke kanan)
 Hilang kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang sakit
 Tidak mampu mengenali obyek , warna/ kata dan wajah yang pernah dikenalnya
dengan baik
 Gangguan berespon terhadap panas dan dingin/ gangguan regulasi suhu tubuh
 Kesulitan dalam menelan, tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi sendiri
 Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, tidak sabar/
kurang kesadaran diri (stroke kanan)

INTERAKSI SOSIAL
Tanda:
 Masalah bicara, ketidakmampuan untuk berkomunikasi

PENYULUHAN/ PEMBELAJARAN
Tanda:Adanya riwayat hipertensi pada keluarga,
 Stroke (faktor resiko)
 Pemakaian kontrasepsi oral
 Kecanduan alkohol

H. Penatalaksanaan
1. Terapi trombolitik (sebelum terjadinya perdarahan intraserebral) untuk melisiskan
thrombus yang menyebabkan oklusi, diantaranya streptokinase, urokinase dan tissue-
type plasminogen activator (TPA).
2. Terapi antikoagulan untuk mengatasi emboli, seperti warfarin; terapi antipletelet
3. Manajemen airway
4. Kontrol hipertensi, rekomendasi : tidak lebih dari 10% tekanan darah baseline saat
pemeriksaan
5. Terapi berbicara, fisik, rehabilitasi

I. Prioritas Keperawatan
1. Meningkatkan perfusi serebral dan oksigenasi serebral yang adekuat
2. Mencegah / meminimalkan komplikasi dan ketidakmampuan yang bersifat permanent
3. Membantu klien untuk menemukan kemandiriannya melakukan aktifitas sehari- hari
4. Memberikan dukungan terhadap prose koping dan mengintegrasikan perubahan dalam
konsep diri klien
5. Memberikan informasi tentang proses penyakit/ prognosisnya dan kebutuhan
tindakan/ rehabilitas
Diagnosa Rencana Tindakan Keperawatan Rasional
Keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Perubahan perfusi Perubahan perfusi  Mempertahankan tingkat Mandiri  Mempengaruhi penetapan intervensi.
jaringan serebral jaringan serebral kesadaran  Tentukan faktor-faktor yang Kerusakan/kemunduran tanda/gejala
berhubungan dengan berhubungan biasanya/membaik, fungsi berhubungan dengan neurologis atau kegagalan memperbaikinya
interupsi aliran darah; dengan interupsi kognitif, dan keadaan/penyebab khusus selama setelah fase awal memerlukan tindakan
gangguan oklusif; aliran darah; motorik/sensori. koma/penurunan perfusi serebral dan pembedahan dan/atau pasien harus
hemoragi; vasospasme gangguan oklusif; potensial terjadinya peningkatan TIK. dipindahkan ke ruang perawatan kritis
serebral; edema hemoragi;  Mendemonstrasikan tanda- (ICU) untuk melakukan pemantauan
serebral. vasospasme tanda vital stabil dan tak terhadap peningkatan TIK.
serebral; edema adanya tanda-tanda
serebral dapat peningkatan TIK.  Pantau/catat status neurologist sesering  Mengetahui kecenderungan tingkat
diatasi. mungkin dan bandingkan dengan kesadaran dan potensial peningkatan TIK
 Menunjukkan tidak ada keadaan normalnya/standar. dan mengetahui lokasi, luas dan
kelanjutan deteriorasi/ kemajuan/resolusi kerusakan SSP.
kekambuhan deficit.
 Pantau tanda-tanda vital, seperti catat :
o Adanya hipertensi/hipotensi, o Variasi mungkin terjadi oleh karena
bandingkan tekanan darah yang tekanan/trauma serebral pada daerah
terbaca pada kedua lengan. vasomotor otak. Hipertensi atau hipotensi
postural dapat menjadi factor pencetus.
Hipotensi dapat terjadi karena syok
(kolaps sirkulasi vaskuler). Peningkatan
TIK dapat terjadi (karena edema, adanya
formasi bekuan darah). Tersumbatnya
arteri subklavia dapat dinyatakan dengan
adanya perbedaan tekanan pada kedua
lengan.

o Frekuensi dan irama jantung; o Perubahan terutama adanya bradikardia


auskultasi adanya mur-mur. dapat terjadi sebagai akibat adanya
kerusakan otak. Disritmia dan mur-mur
mungkin mencerminkan adanya penyakit
jantung yang mungkin telah menjadi
pencetus CSV (seperti stroke setelah IM
atau penyakit katup).

o Catat pola dan irama dari pernafasan, o Ketidakteraturan pernafasan dapat


seperti adanya periode apnea setelah memberikan gambaran lokasi kerusakan
pernafasan hiperventilasi, serebral/peningkatan TIK dan kebutuhan
pernafasan Cheyne-Strokes. untuk intervensi selanjutnya termasuk
kemungkinan perlunya dukungan
terhadap pernafasan.
 Evaluasi pupil, catat ukuran, bentuk,
kesamaan, dan reaksinya terhadap  Reaksi pupil diatur oleh saraf cranial
cahaya. okulomotor (III) dan berguna dalam
menentukan apakah batang otak tersebut
masih baik. Ukuran dan kesamaan pupil
ditentukan oleh keseimbangan antara
persarafan simpatis dan parasimpatis yang
mempersarafinya. Respons terhadap refleks
cahaya mengkombinasikan fungsi dari
saraf cranial optikus (II) dan saraf cranial
okulomotor (III).
 Catat perubahan dalam penglihatan,
seperti adanya kebutaan, gangguan  Gangguan penglihatan yang spesifik
lapang pandang/ kedalaman persepsi mencerminkan daerah otak yang terkena,
mengindikasikan keamanan yang harus
mendapat perhatian dan mempengaruhi
intervensi yang akan dilakukan.
 Kaji fungsi-fungsi yang lebih tinggi,
seperti fungsi bicara jika pasien sadar.  Perubahan dalam isi kognitif dan bicara
merupakan indikator dari lokasi/derajat
gangguan serebral dan mungkin
mengindikasikan penurunan/peningkatan
TIK.
 Letakkan kepala dengan posisi agak di
tinggikan dan dalam posisi anatomis  Menurunkan tekanan arteri dengan
(lateral). meningkatkan drainase dan meningkatkan
sirkulasi/perfusi serebral.
 Pertahankan keadaan tirah baring;
ciptakan lingkungan yang tenang;  Aktivitas/stimulasi yang kontinu dapat
batasi pengunjung/aktivitas pasien meningkatkan TIK. Istirahat total dan
sesuai indikasi. Berikan istirahat secara ketenangan mungkin diperlukan untuk
periodik antara aktivitas perawatan, pencegahan terhadap perdarahan dalam
batasi lamanya setiap prosedur. kasus stroke hemoragik/perdarahan
lainnya.
 Cegah terjadinya mengejan saat
defekasi, dan pernafasan yang
memaksa (batuk terus-menerus).  Manuver Valsava dapat meningkatkan TIK
dan memperbesar resiko terjadinya
 Kaji rigiditas nukal, kedutan, perdarahan.
kegelisahan yang meningkat, peka
rangsang dan serangan kejang.  Merupakan indikasi adanya iritasi
meningeal. Kejang dapat mencerminkan
adanya peningkatan TIK/trauma serebral
yang memerlukan pehatian dan intervensi
Kolaborasi selanjutnya.
 Berikan oksigen sesuai indikasi.

 Menurunkan hipoksia yang dapat


menyebabkan vasodilatasi seebral dan
 Berikan obat sesuai indikasi : tekanan meningkat/terbentuknya edema.
o Antikoagulasi, seperti natrium
warfarin (Coumadin); heparin,
antitrombosit (ASA); dipiridamol o Dapat digunakan untuk
(Persantine). meningkatkan/memperbaiki aliran darah
serebral dan selanjutnya dapat mencegah
pembekuan saat embolus/thrombus
merupakan factor masalahnya.
Merupakan kontraindikasi pada pasien
o Antifibrolitik, seperti asam dengan hipertensi sebagai akibat dari
aminokaproid (Amicar). peningkatan resiko perdarahan.
o Penggunaan dengan hati-hati dalam
perdarahan untuk mencegah lisis bekuan
yang terbentuk dan perdarahan berulang
o Antihipertensi. yang serupa.

o Narkotik, seperti demerol/kodein. o Hipertensi lama/kronis memerlukan


penangan yang hati-hati; sebab
penanganan yang berlebihan
meningkatkan resiko terjadinya
perluasan kerusakan jaringan. Hipertensi
sementara seringkali terjadi selama fase
stroke akut dan penanggulangannya
o Vasodilatasi perifer, seperti seringkali tanpa intervensi terapeutik.
siklandelat (Cyclospasmol);
papaverin (Pavabid/Vasospan); o Digunakan untuk memperbaiki sirkulasi
isoksupresin (Vasodilan). kolateral atau menurunkan vasospasme.

o Steroid,deksametason
(Decadrone).
o Penggunaannya controversial dalam
o Fenitoin (Dilantin), fenobarbital. mengendalikan edema serebral.

o Dapat digunakan untuk mengontrol


kejang dan/atau untuk aktivitas sedative.
o Pelunak feses. Catatan : Fenobarbital memperkuat kerja
dari antiepilepsi.
o Mencegah proses mengejan selama
defekasi dan yang berhubungan dengan
 Persiapkan untuk pembedahan, peningkatan TIK.
endarterektomi, bypass mikrovaskuler.
 Mungkin bermanfaat untuk mengatasi
 Pantau pemeriksan laboratorium sesuai situasi.
indikasi, seperti masa protrombin,
kadar Dilantin.  Memberikan informasi tentang keefektifan
pengobatan/kadar terapeutik.

Kerusakan mobilitas Mempertahankan/  Klien mampu Mandiri


fisik berhubungan meningkatkan mempertahankan posisi  Kaji kemampuan secara  Dapat memberikan informasi mengenai
dengan gangguan kekuatan dan optimal dari fungsi yang fungsional/luasnya kerusakan awal pemulihan
neuromuskuler: fungsi bagian dibuktikan dengan tak dan dengan cara yang teratur
kelemahan. tubuh adanya kontraktur,
footdrop.  Ubah posisi minimal setiap 2 jam  Menurunkan resiko terjadinya iskemia
 Klien mampu
mempertahankan/  Letakkan pada posisi telungkup satu  Membantu mempertahankan ekstensi
meningkatkan keskuatan atau dua kali sehari jika klien dapat pinggul fungsional
dan fungsi bagian tubuh mentoleransinya
yang terkena/ kompensasi
 Klien menunjukkan tanda-  Mulai melakukan latihan rentang  Meminimalkan atrofi otot, meningkatkan
tanda mampu melakukan gerak aktif dan pasif pada semua sirkualsi, membantu mencegah kontraktur
aktifitas ekstremitas saat masuk.

 Mencegah adduksi bahu dan fleksi siku


 Klien mampu  Tempatkan bantal di bawah aksila
mempertahankan integritas untuk melakukan abduksi pada tangan
kulit  Meningkatkan aliran balik vena dan
 Tinggikan tangan dan kepala membantu mencegah terbentuknya edema

 Mempertahankan posisi fungsional


 Posisikan lutut dan panggul dalam
posisi ekstensi
 Mencegah rotasi eksternal pada pinggul
 Pertahankan kaki dalam posisi netral
dengan gulungan/ bantalan trokanter
 Jaringan yang mengalami edema lebih
 Observasi daerah yang terkena: warna, mudah mengalami trauma dan
edeme atau tanda lain dari gangguan penyembuhannya lambat
sirkulasi
 Mencegah terjadinya dekubitus
 Inspeksi kulit terutama pada daerah-
daerah yang menonjol secara teratur.
 Meningkatkan kemandirian
 Libatkan orang terdekat untuk
berpartisipasi dalam aktifitas/latihan
dan merubah posisi

 Anjurkan pasien untuk membantu


pergerakan dan latihan dengan
menggunakan ekstremitas yang tidak
sakit.  Mencegah terjadinya komplikasi
Kolaborasi
 Baerikan tempat tidur khusus sesuai
indikasi  Menentukan program latihan yang tepat

 Konsultasikan dengan ahli fisioterapi


secara aktif  Menghilangkan spstisitas pada ekstremitas
yang terganggu
 Berikan obat relaksasi otot sesuai
indikasi
Kerusakan komunikasi Meningkatkan  Klien menunjukkan Mandiri
verbal berhubungan kemampuan pemahaman tentang  Kaji tipe/derajat disfungsi  Membantu menentukan daerah dan derajat
dengan kerusakan komunikasi masalah komunikasi kerusakan serebral yang terjadi dan kesulitan
sirkulasi serebral verbal  Klien dapat pasien dalam beberapa atau seluruh tahap
mengekspresikan proses komunikasi
kebutuhannya
 Klien menggunakan  Minta pasien untuk mengikuti perintah  Melakukan penilaian terhadap adanya
sumber-sumber dengan sederhana seperti buka mata,tunjuk kerusakan sensorik
tepat pintu dengan kalimat yang sederhana

 Tunjukkan objek dan minta pasien  Melakukan penilaian terhadap adanya


untuk menyebutkan nama benda kerusakan motorik (klien mungkin
tersebut mengenali tapi tidak mampu
menyebutkannya)
 Minta pasien mengucapkan suara  Mengidentifikasi adanya disartria sesuai
sederhana komponen motorik dari yang dapat
mempengaruhi artikulasi

 Berikan metode komunikasi  Memberikan komunikasi tentang kebutuhan


alternative seperti menulis di kertas berdasarkan keadaan/ deficit yang
atau gambar mendasarinya

 Gunakan pertanyaan terbuka dan  Menurunkan kebingunan dan s\ansietas


kontak mata selama komunikasi

 Bicara dengan nada normal dan  Nada suara yang tinggi memicu
hindari percakapan yang cepat. ketidaknyamanan dan rasa marah
Berikan jarak waktu untuk klien
merespons

 Diskusikan mengenai hal-hal yang  Meningkatkan percakapan yang bermakna


disenangi dan dikenal pasien

Kolaborasi
 Konsultasikan kepada ahli terapi  Menentukan terapi yang tepat
wicara
Defisit perawatan diri Klien  Klien dapat melakukan Madiri
berhubungan dengan menunjukkan ADL dibuktikan dengan  dorong klien untuk menggunakan  penggunan bagian tubuh yang tidak terkena
kehilangan kemampuan penggunaan alat dan teknik bagian tubuh yang tidak terefek oleh efek stroke akan meningkatkan
kemampuan dalam dalam yang adaptif
menggunakan bagian beraktivitas stroke untuk mandi, menyikat gigi, kemampuan fungsional dan kemandirian
tubuh tertentu (ADL) sebanyak menyisir, berpakaian dan makan klien
mungkin dalam
batasan tertentu  ajarkan dan bantu memakai pakaian
pada bagian tubuh yang terkena stroke  teknik ini memfasilitasi klien berpakaian
dahulu baru kemudian selanjutnya dengan bantuan yang minimal
pada bagian tubuh yang tidak terkena
efek.
Kolaborasi
 kolaborasi dengan terapi okupasi  mengikuti latihan terjadwal dan rutin
dalam menjadwalkan latihan pada akan meningkatkan kemampuan belajar.
ektremitas yang penting untuk Pemggunaan alat bantu meningkatkan
melakukan ADL. Dorong klien untuk kemandirian dan maminimalkan rasa
menggunakan alat bantu untuk tidak mampu. Latihan ini meningkatkan
beraktivitas jika diperlukan konsep diri positif.

REFERENSI:
Corwin, E. J. (2009). Buku saku patofisiologi. Terj. Nike Budhi Subekti. Jakarta: EGC.
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Geissler, A. C. (2010). Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patient care (8th ed).
Philadelphia : F. A. Davis Company.
Smeltzer, S. C. Bare, B. G., Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2010). Brunner & suddarth’s textbook of medical surgical nursing, 12th ed.
Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins.
Williams, L. S., and Hopper, P. D. (2011). Understanding medical surgical nursing, 4th ed. Philadelphia : F. A. Davis Company.