Anda di halaman 1dari 22

TUGAS KEBIJAKAN TAMBANG

Dibuat sebagai Tugas Mata Kuliah Kebijakan Tambang pada


Jurusan Teknik Pertambangan

Oleh:

Nama : Sigit Pangestu

NIM: 03021181621110

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SRIIWIJAYA

2018
Soal:
1. Hierarki Peraturan Perundang-undangan perlu dipahami dan dilaksanakan
a. Sebutkan hierarki Peraturan Perundangan-undangan tersebut
b. Dampak apa yang dapat terjadi bila hierarki Perundang-undangan tidak dipatuhi,
berikan contoh
Jawab :
a. Hierarki Peraturan Perundang-undangan tentang Pertambangan yaitu :
1) UUD 1945 Pasal 33 ayat (3) yang berbunyi “ Bumi, air dan kekayaan alam
yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
2) Undang Undang No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara.
3) Peraturan Pemerintah :
 Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah
Pertambangan.
 Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2010 tentang Pembinaan dan
Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral
dan Batubara.
 Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pasca
Tambang.
 Peraturan Pemerintah Nomor 09 Tahun 2012 tentang Jenis dan Tarif atas
Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral.
 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2012 tentang Perubahan atas
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
 Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2014 tentang Perubahan Ke Tiga
atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
 Peraturan Pemerintah Nomor 01 Tahun 2017 tentang Perubahan Ke
Empat atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
 Peraturan Pemerintah Nomor 08 Tahun 2018 tentang Perubahan Ke Lima
atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
4) Peraturan Menteri :
 Permen ESDM Nomor 26 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Kaidah
Pertambangan yang Baik dan Pengawasan Pertambangan Mineral dan
Batubara.
 Permen ESDM Nomor 25 Tahun 2018 tentang Pengusahaan
Pertambangan Mineral dan Batubara.
 Permen ESDM Nomor 11 Tahun 2018 tentang Tata Cara Pemberian
Wilayah, Perizinan dan Pelaporan pada Kegiatan Usaha Pertambangan
Mineral dan Batubara.
 Permen ESDM Nomor 22 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan
Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Nomor 11 Tahun 2018 tentang
Tata Cara Pemberian Wilayah, Perizinan dan Pelaporan pada Kegiatan
Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
 Permen ESDM Nomor 48 Tahun 2017 tentang Pengawasan Pengusahaan
Di Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral Mencabut Peraturan Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral No. 42/2017.
 Permen ESDM Nomor 07 Tahun 2017 tentang Tata Cara Penetapan Harga
Patokan Penjualan Mineral Logam dan Batubara.
 Permen ESDM Nomor 24 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 09 Tahun 2016 tentang
Tata Cara Penyediaan dan Penetapan Harga Batubara untuk Pembangkit
Listrik Mulut Tambang.
 Permen ESDM Nomor 10 Tahun 2014 tentang Tata Cara Penyediaan dan
Penetapan Harga Batubara untuk Pembangkit Listrik Mulut Tambang.
5) Keputusan Menteri :
 Kepmen ESDM No. 1805.K/30/MEM/2018 tentang Harga Kompensasi
Data Informasi dan Informasi Penggunaan Lahan Wilayah Izin Usaha
Pertambangan dan Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus Periode
Tahun 2018.
 Kepmen ESDM No. 1802.K/30/MEM/2018 tentang Wilayah Izin Usaha
Pertambangan dan Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus Periode
Tahun 2018.
 Kepmen ESDM No. 1798.K/30/MEM/2018 tentang Pedoman
Pelaksanaan Penyiapan, Penetapan, dan Pemberian Wilayah Izin Usaha
Pertambangan dan Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus Mineral
dan Batubara.
 Kepmen ESDM No. 1796.K/30/MEM/2018 tentang Pedoman
Pelaksanaan Permohonan, Evaluasi, serta Penerbitan Perizinan di
Bidang Pertambangan Mineral dan Batubara.
6) Peraturan Daerah :
 Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Selatan Nomor 4 Tahun 2012 tentang
Retribusi Jasa Usaha.
 Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Selatan Nomor 5 Tahun 2011 tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
7) Peraturan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 22 Tahun 2017 tentang Prosedur
Penerbitan Izin Usaha Pertambangan Batuan dalam Rangka Mendukung
Pembangunan Infrastruktur.

b. Dampak yang terjadi bila hierarki Peraturan Perundang-undangan ini tidak


dipatuhi adalah akan terjadi tumpang tindih peraturan dan perebutan kewenangan
terhadap penerbitan IUP yang dimohonkan. Pemerintah Pusat, Pemerintah
Provinsi dan Pemerintah Kabupate / Kota akan saling mengeluarkan IUP terhadap
suatu wilayah yang mengakibatkan sengketa lahan. Dampak paling buruknya
adalah hasil bahan galian tidak dapat termanfaatkan dengan baik untuk
kemakmuran rakyat akibat peraturan yang tumpang tindih.
Contohnya adalah : Sengketa hak atas tanah yang terjadi di Desa Bades,
Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, merupakan sengketa antara PT IMMS
dengan pihak pemilik lahan.
Soal :
2. Asas dan Tujuan pertambangan minerba adalah
a. Manfaat, keadilan dan berkesinambungan
b. Keberpihakan terhadap kepentingan bangsa
c. Patisipatif, transparansi dan akuntabilitas
d. Berkelanjutan dan berwawasan lingkungan
Jelaskan ke-empat hal tersebut diatas.
Jawab :
a. Manfaat, keadilan dan berkesinambungan
Yang dimaksud dengan asas manfaat dalam pertambangan adalah asas yang
menunjukan bahwa dalam melakukan penambangan harus mampu memberikan
keuntungan dan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kemakmuran
dan kesejahteraan rakyat. Kemudian asas keadilan adalah dalam melakukan
penambangan harus mampu memberikan peluang dan kesempatan yang sama
secara proporsional bagi seluruh warga negara tanpa ada yang dikecualikan.
Sedangkan asas keseimbangan adalah dalam melakukan kegiatan penambangan
wajib memperhatikan bidang-bidang lain terutama yang berkaitan langsung
dengan dampaknya.

b. Keberpihakan terhadap kepentingan bangsa


Asas ini mengatakan bahwa di dalam melakukan kegiatan penambangan
berorientasi kepada kepentingan negara. Walaupun di dalam melakukan usaha
pertambangan dengan menggunakan modal asing, tenaga asing, maupun
perencanaan asing, tetapi kegiatan dan hasilnya hanya untuk kepentingan nasional.

c. Patisipatif, transparansi dan akuntabilitas


Asas partisipatif adalah asas yang menghendaki bahwa dalam melakukan kegiatan
pertambangan dibutuhkan peran serta masyarakat untuk penyusunan kebijakan,
pengelolaan, pemantauan, dan pengawasan terhadap pelaksanaannya. Asas
transparansi adalah keterbukaan dalam penyelenggaraan kegiatan pertambangan
diharapkan masyarakat luas dapat memperoleh informasi yang benar, jelas dan
jujur. Sebaliknya masyarakat dapat memberikan bahan masukan kepada
pemerintah. Sedangkan asas akuntabilitas adalah kegiatan pertambangan
dilakukan dengan cara-cara yang benar sehingga dapat dipertanggungjawabkan
kepada negara dan masyarakat.

d. Berkelanjutan dan berwawasan lingkungan


Asas berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah asas yang secara terencana
mengintegrasikan dimensi ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya dalam
keseluruhan usaha pertambangan mineral dan batubara untuk mewujudkan
kesejahteraan masa kini dan masa mendatang.

Soal :
3. Wilayah Pertambangan (WP) sebagai bagian dari tata ruang nasional merupakan
landasan bagi penetapan kegiatan penambangan, jelaskan apa yang dimaksud sebagai
bagian dari tata ruang nasional.
Jawab :
Di Indonesia, Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional adalah arahan kebijakan dan
strategi pemanfaatan ruang wilayah negara yang dijadikan acuan untuk perencanaan
jangka panjang.
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional merupakan:
 Pedoman untuk penyusunan rencana pembangunan jangka panjang nasional;
 Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah nasional;
 Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah nasional;
 Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan
antarwilayah provinsi, serta keserasian antarsektor;
 Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi;
 Penataan ruang kawasan strategis nasional;
 Penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota.
Undang-undang Nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang yang antara
lain untuk sektor pertambangan mengamanatkan pengaturan kawasan peruntukan
pertambangan sebagai berikut:
a. Kawasan peruntukan pertambangan sebagai bagian dari kawasan budi daya
b. Kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional dibidang
pertambangan ditetapkan sebagai kawasan andalan pertambangan
c. Kawasan pertambangan minyak dan gas bumi termasuk pertambangan dan
gas bumi lepas pantai sebagai kawasan strategis nasional dari sudut
kepentingan sumber daya alam.
Sedangkan pengaturan kawasan budidaya pertambangan dan kawasan
strategis nasional berbasis pertambangan diatur dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
( RTRWN). RTRWN ini merupakan arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan
ruang wilayah negara yang terdiri atas struktur ruang dan pola ruang. RTRWN
mempunyai tujuan untuk mewujudkan antara lain :
a. Ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan;
b. Keterpaduan :
• RTRWN, RTRW Provinsi, dan RTRW Kabupaten/Kota;
• Pemanfaatan ruang darat, laut, dan udara termasuk ruang di dalam bumi;
dan
• Pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional, provinsi, dan
kabupaten/kota.
c. Pemanfaatan sumber daya alam bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat;
d. Keseimbangan dan keserasian perkembangan antarwilayah dan
antarsektor; dan
e. Pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi nasional.
Dalam UU No. 4 tahun 2009 dikemukakan Wilayah Pertambangan (WP) yaitu
wilayah yang memiliki potensi mineral dan/atau batubara dan tidak terikat dengan
batasan administrasi. Adapun wilayah hukumnya meliputi seluruh wilayah daratan,
perairan dan landas kontinen Indonesia. WP ini sebagai bagian dari tata ruang
nasional yang merupakan landasan bagi penetapan kegiatan pertambangan. WP terdiri
dari Wilayah Usaha Pertambangan (WUP), Wilayah Pencadangan Negara (WPN) dan
Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR).
Penetapan Wilayah Pertambangan (WP) harus disesuaikan dengan tata ruang
nasional bukan hanya mengikuti kepentingan daerah tertentu. Sehingga, penetapan ini
tak bisa hanya ditentukan oleh pemerintah daerah melainkan harus berkoordinasi
dengan pemerintah pusat.
Soal :
4. Wilayah Pertambangan (WP) dibagi menjadi WUP, WPR dan WPN. Jelaskan
pendapat saudara hubungan ketiga wilayah tersebut, mana yang lebih baik menjadi
perhatian (yang mana yang pertama kali ditentukan)
Jawab :
WUP (Wilayah Usaha Pertambangan) , WPR (Wilayah Pertambangan Rakyat),
dan WPN (Wilayah Pertambangan Nasional) memiliki hubungan terkait Wilayah atau
daerah yang berkenaan dengan Usaha Pertambangan. Yang membedakannya hanya
Lingkup dan Badan yang mengupayakan, menjalankan, dan mengelola usaha tersebut.
Yang biasanya memerlukan perhatian lebih dalam penentuannya adalah WPN di
karenakan Usaha tambang yang akan di dirikan melibatkan banyak pihak. Di perlukan
BUMD/BUMN dimana di utamakan BUMN agar aliran dana untuk investasi jaminan
dan Pasca tambang dapat terpenuhi. Sebab Investasi reklamasi dan pasca tambang
yang harus dipenuhi adalah biaya jaminan perusahaan yang diberikan pada Negara
pertama kali. Maka dapat disimpulkan, apabila dalam persyaratannya pun melibatkan
BUMN otomatis usaha yang kelak dijalankan statusnya jelas dan dalam skala besar.
Oleh sebab itu pun, Pengelolaan WPN akan menjadi hal yang wajib untuk pertama
kali di perhatikan sebab Wilayah yang kelak digunakan pun milik Negara dan dalam
skala besar-besaran.
Akan tetapi apabila BUMN/BUMD menyatakan tidak sanggup untuk melakukan
kegiatan usaha pertambangan, barulah WPN tersebut di lelang untuk diperebutkan
perusahaan swasta yang ada.

Soal :
5. Mengapa penggunaan hak atas tanah sering menjadi perdebatan dalam pelaksanaan
usaha pertambangan
Jawab :
Karena dalam penggunaan hak atas tanah untuk pelaksanaan usaha pertambangan,
sering terjadi masalah-masalah berikut :
a. Tumpang tindih pemanfaatan wilayah untuk pertambangan dan hutan lindung
Wilayah Pertambanga (WP) seringkali berbatasan langsung dengan hutan lindung,
hal ini mengaibatkan
b. Pemahanan yang keliru mengenai penggunaan hak atas tanah oleh masyarakat
Dikarenakan pemahaman masyarakat mengenai hak atas tanah yang beranggapan
bahwa kekayaan yang ada di dalamnya adalah kepemilikan pribadi masyarakat.
Akan tetapi hal tersebut bertentangan dengan pasal 33 ayat 3 yang berbunyi
bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh
Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sehingga
masyarakat hanya memiliki hak atas tanah permukaannya saja sedangkan
kekayaan alam yang ada dibawahnya merupakan milik negara yang dapat
digunakan untuk kesejateraan rakyatnya.
Pembebasan lahan wajib dilakukan apabila WUP yang dimiliki oleh perusahaan
berkenaan dengan wilayah seperti : Pemukiman warga, Hutan Lindung, ataupun
mungkin berkenaan dengan Wilayah Usaha Warga setempat. Apabila perusahaan
tidak segera melakukan pembebasan maka Perusahaan akan dinyatakan bersalah
karena melanggar perizinan WUP. Dan, individu yang merasa dirugikan dan
memiliki Hak atas Tanah wilayah yang dilanggar oleh perusahaan dapat
melakukan gugatan terhadap perusahaan terkait. Namun apabila sebelumnya
perusahaan telah melaksanakan prosedur pembebasan lahan dan telah di buktikan
dengan sertifikat pemilikan dan kesahan Tanah untuk dijadikan WUP maka pihak
lain tidak berhak dan tidak dapat melakukan gugatan apapun.
c. Warga setempat kadang tidak setuju dengan adanya WP yang kadang memasuki
daerah yang menurutnya telah memasuki wilayah tanah mereka
d. Penerapan jaminan dan kepastian hukum msih belum optimal, dimana masih
banyak dijumpai kegiatan pertambangan tanpa izin yang kadang beroperasi di
wilayah pertambangan yang telah mendapatkan izin resmi dari pemerintah.
e. Dalam peraturan masih dijumpai kebijakan lintas sektoral yang saling tumpang
tindih. Sebagai contoh untuk penyusunan amdal banyak sektor yang masih
berkeinginan untuk menanganinya.

Soal :
6. Mengapa pemberdayaan dan pengembangan masyarakat disekitar WIUP dan WIUPK
penting menjadi perhatian setiap pemegang IUP dan IUPK, jelaskan.
Jawab :
Karena dalam UU No. 4 tahun 2009 disebutkan bahwa para pemegang IUP
dan IUPK wajib menyusun program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.
Penyusunan program tersebut untuk kemudian akan dikonsultasikan kepada
Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Selanjutnya dalam UU Perseroan
Terbatas (UU PT), pengaturan mengenai program pengembangan dan pemberdayaan
masyarakat atau CSR (Corporate Social Responsibilty) hanya terdapat dalam 1 (satu)
pasal yakni Pasal 74. Pasal 74 menegaskan perseroan yang menjalankan kegiatan
usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan
Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, yang mana kewajiban tersebut dianggarkan
dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukandengan
memperhatikan kepatutan dan kewajaran. Apabila kewajiban tersebut tidak dijalankan
maka akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Selanjutnya dalam penjelasan pasal tersebut ditegaskan pula mengenai tujuan
diberlakukannya kewajiban CSR, “untuk tetap menciptakan hubungan Perseroan yang
serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat.”
Ketentuan Pasal 74 UU PT kemudian diatur lebih lanjut dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut PP CSR). Salah satu pengaturan penting
dalam PP CSR, terdapat dalam Pasal 6, dimana diatur pelaksanaan tanggung jawab
sosial dan lingkungan dimuat dalam laporan tahunan Perseroan dan
dipertanggungjawabkan kepada RUPS. Penjelasan Umum PP CSR juga menguraikan
tujuan pemberlakuan CSR. Pengaturan tanggung jawab sosial dan lingkungan tersebut
dimaksudkan untuk:
1. Meningkatkan kesadaran Perseroan terhadap pelaksanaan tanggung jawab sosial
dan lingkungan di Indonesia;
2. Memenuhi perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat mengenai
tanggung jawab sosial dan lingkungan; dan
3. menguatkan pengaturan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang telah diatur
dalam berbagai peraturan perundang-undangan sesuai dengan bidang kegiatan
usaha Perseoan yang bersangkutan.
Selanjutnya secara spesifik, pengaturan CSR di bidang industri pertambangan
mineral dan batubara diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Barubara (UU Minerba). Dalam Pasal 108 UU Minerba
dinyatakan “pemegang IUP dan IUPK wajib menyusun program pengembangan dan
pemberdayaan masyarakat, penyusunan program tersebut dikonsultasikan kepada
Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Ketentuan lebih lanjut dari Pasal 108
UU Minerba terdapat dalam Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, tepatnya dalam
Pasal 106-109.
Kementerian ESDM meyakini kegiatan pengembangan masyarakat
(Community Development) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya
pengembangan sektor ESDM. Program ini tidak hanya penting bagi pemilik
perusahaan tetapi juga bagi masyarakat sekitar dalam rangka menciptakan kondisi
yang kondusif bagi kegiatan perusahaan juga bagi pemberdayaan masyarakat yang
ada disekitar tambang.

Soal:
7. Peningkatan nilai tambah untuk minerba merupakan kewajiban bagi pemegang IUP
dan IUPK.
a. Jelaskan mengapa peningkatan nilai tambah tersebut menjadi penting
b. Jelaskan bentuk nilai tambah apa yang perlu dilakukan untuk Batubara
Jawab :
a. Karena berdasarkan pasal 103-104 UU No.4 tahun 2009 tentang Minerba, para
pelaku usaha (pemegang Izin Usaha Pertambangan) operasi produksi wajib
melakukan peningkatan nilai tambah melalui proses pengolahan dan pemurnian
hasil tambang di dalam negeri. Peningkatan nilai tambah tersebut dapat
meningkatkan nilai jual bahan galian tersebut hingga 10 – 14 kali dari bahan
mentah melalui smelting. Keuntungan peningkatan nilai tambah yaitu :
 Nilai tambah pendapatan rumah tangga untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat,
 Nilai tambah surplus usaha untuk menarik minat investor menanamkan modal,
 Nilai tambah pendapatan pajak untuk meningkatkan kemampuan dan
kemandirian fiskal bagi pemerintah pusat dan daerah (APBD),
 Nilai tambah tenaga kerja untuk memperluas lapangan pekerjaan bagi
masyarakat sekaligus mengurangi pengangguran dan kemiskinan.

b. Bentuk nilai tambah yang perlu dilakukan pada batubara, yaitu dengan mengubah
batubara muda menjadi syngas dengan teknologi gasifikasi. Teknologi itu
mengonversi batu bara muda menjadi syngas yang merupakan bahan baku untuk
diproses lebih lanjut menjadi dimethyl ether (DME) sebagai bahan bakar, urea
sebagai pupuk, dan polypropylene sebagai bahan baku plastik. Dengan teknologi
gasifikasi ini, batubara muda tidak lagi bernilai murah dan dapat membuka
lapangan perkerjaan yang lebih luas lagi.
Selain penambahan nilai tambah batubara muda dengan teknologi gasifikasi,
penambahan nilai tambah dapat pula dengan mengambil gas metana yang terdapat
di dalam pori batubata dengan teknologi Coal Bed Methane (CBM). Teknologi
CBM sendiri dengan mengambil gas metana dalam batubara sebelum proses
penambangan batubara dilakukan dengan memasang pipa dari permukaan tanah
menuju lapisan batubara. Teknologi ini dapat membuat gas metana batubara yang
hilang sia-sia melalui cara penambangan konvensional terambil untuk pemanfaatan
gas rumah tangga dan dapat membuka peluang lapangan perkejaan yang baru.

Soal :
8. Bandingan bagaimana cara mendapatkan WIUP dan WIUPK
Jawab :
Tahapan mendapatkan WIUP :
 Pada mineral non-logam dan batuan :
1) Pemohon mencari informasi, baik kepada DPMPTSP (Dinas Penanaman
Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu) maupun kepada Dinas ESDM
Provinsi setempat;
2) Setelah mendapatkan informasi tentang WIUP, Pemohon melengkapi syarat-
syarat dan mengajukan permohonan WIUP.
3) Pemohon mengajukan permohonan ke DPMPTSP Provinsi setempat;
a. Dokumen tidak lengkap dikembalikan
b. Dokumen lengkap siap diserahkan ke Dinas ESDM.
4) Dokumen diterima oleh Dinas ESDM Provinsi setempat
a. Dinas ESDM melakukan disposisi surat masuk, mulai dari Sekretariat
kemudian ke Kepala Dinas, kemudian diserahkan ke Bidang GMB
(Geologi, Mineral dan Batubara).
b. Bidang GMB melakukan verifikasi data awal permohonan. Jika berkas
lengkap maka akan diteruskan ke proses rekomendasi. Disini Kepala
Bidang GMB akan meneruskan disposisi proses berkas ke
bidang/balai. Jika berkas kurang lengkap / data salah maka akan
dikembalikan ke DPMPTSP.
c. Balai ESDM akan melakukan pemrosesan dan pengkajian data teknis
terhadap berkas permohonan dan mempersiapkan tinjauan lapangan.
d. Balai ESDM melaksanakan peninjauan lapangan sesuai dengan jadwal
yang telah ditentukan. Dari hasil kunjungan, tim teknis membuat draf
laporan kajian lapangan dan berita acara.
e. Setelah selesai ditinjau dan tidak ada masalah maka tim teknis Balai
ESDM memproses dan menganalisis data lapangan serta tindak lanjut
selanjutnya membuat nota dinas laporan peninjauan lapangan.
f. Setelahnya Tim teknis Balai ESDM menyusun konsep
rekomendasi teknis WIUP dan berkas dinaikkan kembali ke Bidang
GMB. Bidang GMB menaikkan berkas ke Kepala Dinas untuk
menyetujui konsep/draf rekomendasi teknis WIUP.
g. Setelah Kepala Dinas menyetujui konsep/draft rekomtek berkas
dikembalikan kembali ke Bidang GMB untuk dilakukan pengarsipan
rekomendasi. Setelahnya rekomendasi teknis WIUP dikirimkan ke
DPMPTSP.
h. DPMPTSP mengeluarkan izin WIUP.
 Pada mineral logam dan batubara :
1) WIUP mineral logam dan WIUP batubara ditetapkan oleh Menteri setelah
ditentukan oleh gubernur dan bupati/walikota berdasarkan kriteria sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sebelum menentukan
WIUP mineral logam dan WIUP batubara yang akan diusulkan kepada
Menteri, Gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya,
wajib mengumumkan kepada masyarakat secara terbuka. Dan apabila
terdapat lebih dari 1 (satu) permohonan WIUP mineral logam dan WIUP
batubara maka dilakukan pelelangan
2) Dilakukan pelelangan dengan tata cara pelelangan wilayah izin usaha
pertambangan atau wilayah izin usaha pertambangan khusus mineral
logam dan batubara yang meliputi:
 Persiapan Lelang
 Pembentukan Panitia Lelang
 Persyaratan Peserta Lelang
 Prosedur Lelang
 Dokumen Prakualifikasi
 Dokumen Lelang
 Pelaksanaan Lelang Wilayah Izin Usaha Pertambangan dan Wilayah
Izin Usaha Pertambangan Khusus Eksplorasi
 Evaluasi dan Penetapan Pemenang Lelang
 Jaminan Kesungguhan Lelang

Tahapan mendapatkan WIUPK :


1) Menteri menawarkan kepada BUMN dan BUMD dengan cara prioritas untuk
mendapatkan WIUPK mineral logam atau WIUPK batubara setelah WIUPK
mineral logam atau WIUPK batubara ditetapkan. Apabila terdapat lebih dari 1
(satu) BUMN dan/atau BUMD yang berminat, WIUPK mineral logam atau
WIUPK batubara diberikan dengan cara Lelang. Dan Apabila tidak ada BUMN
dan/atau BUMD yang berminat, WIUPK mineral logam atau WIUPK batubara
ditawarkan kepada badan usaha swasta dengan cara lelang.
2) Dilakukan pelelangan dengan tata cara pelelangan wilayah izin usaha
pertambangan atau wilayah izin usaha pertambangan khusus mineral logam dan
batubara yang meliputi:
 Persiapan Lelang
 Pembentukan Panitia Lelang
 Persyaratan Peserta Lelang
 Prosedur Lelang
 Dokumen Prakualifikasi
 Dokumen Lelang
 Pelaksanaan Lelang Wilayah Izin Usaha Pertambangan dan Wilayah Izin
Usaha Pertambangan Khusus Eksplorasi
 Evaluasi dan Penetapan Pemenang Lelang
 Jaminan Kesungguhan Lelang
Soal :
9. Di suatu lokasi (x) ditetapkan sebagai WUP terdapat dua jenis bijih yang
ketedapatannya bersamaan, disamping itu ada bahan galian lain yaitu kaoline yang
juga potensial untuk ditambang.
Bagaimana cara untuk mendapatkan IUP untuk ketiga jenis bahan galian tersebut,
jelaskan.
Jawab :
Apabila pada suatu lokasi yang ditetapkan sebagai WUP terdapat dua jenis bijih yang
keterdapatannya bersamaan (misalnya mineral Calcopyrite yang mengandung
tembaga, emas dan perak), dan disamping itu ada bahan galian baru yaitu kaoline.
Maka cara mendapatkan IUP untuk ketiga jenis bahan galian tersebut yaitu dengan
mendapatkan dua jenis IUP untuk bahan galian yang terdapat secara bersamaan dan
bahan galian baru (kaoline). Memang pada dasarnya setiap bahan galian harus
memiliki IUP nya sendiri-sendiri akan tetapi apabila bahan galian tersebut terdapat
secara bersamaan maka kita hanya memerlukan satu IUP untuk kedua jenis bahan
galian yang terdapat secara bersama-sama tersebut. Akan tetapi kita harus memiliki
IUP sendiri untuk bahan galian yang baru ditemukan atau dalam kasus ini yaitu
kaoline. Karena bahan galian kaoline ditambang secara sendiri, dan keberadaannya
tidak terkait dengan bahan galian lain atau tidak bersamaan dengan bahan galian lain.
Jadi, cara mendpatkan IUP nya dengan mengajukan dua buah IUP, satu IUP untuk
bahan galian yang keterdapatannya bersamaan dan yang lainnya untuk bahan galian
baru (kaoline).

Soal :
10. Mengapa dalam kegiatan usaha pertambangan perlu dilakukan pembinaan dan
pengawasan penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan minerba
Jawab :
Karena sesuai amanat Undang-undang Minerba, ada kewajiban dari
pemerintah melalui Inspektur Tambang untuk melakukan pengawasan terhadap
kegiatan usaha pertambangan. Adapun obyek utama pengawasan dilakukan terhadap:
(1) Teknis Pertambangan; (2) Konservasi Sumberdaya Mineral dan Batubara; (3)
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Pertambangan; (4) Keselamatan Operasi
Pertambangan; serta (5) Pengelolaan Lingkungan Hidup, Reklamasi dan
Pascatambang.
Dalam pelaksanaannya, pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan
usaha pertambangan dapat dilakukan oleh Menteri, Gubernur dan/atau Bupati sesuai
dengan kewenangannya masing-masing. Pengawasan dimaksud meliputi:
Administrasi/Tata Laksana, Operasional, Kompetensi Aparatur serta Pelaksanaan
Program Pengelolaan Usaha Pertambangan.
Pengawasan dilakukan dalam rangka pengawasan dan penjaminan, yaitu:
(1) Tingkat kepatuhan dan pentaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang
berlaku; (2) Pencapaian target dari rencana kerja yang telah disusun dan disampaikan
kepada Pemerintah melalui RKAB dan RKTTL; (3) Mengetahui sejak dini apabila
terjadi penyimpangan berdasarkan ketentuan / peraturan perundangan ataupun
rencana kerja; dan (4) Dapat segera melakukan koreksi bila terjadi perubahan rencana
kerja atau perubahan kebijakan Pemerintah.
Dengan pengawasan diharapkan terciptanya perencanaan tambang yang benar;
pelaksanaan kegiatan pertambangan mengacu pada kaidah pertambangan yang baik;
tidak terbuangnya bahan galian; aktivitas pertambangan berlangsung secara aman,
bebas dari: kecelakaan, penyakit akibat kerja, kejadian berbahaya, dan pencemaran
lingkungan; serta termanfaatkannya lahan bekas tambang secara tepat dan baik yang
mendorong meningkatnya perekonomian rakyat.
Soal :
11. Konsep dasar Pengelolaan Pertambangan yang baik dan benar pada dasarnya
berisikan
a. Peraturan Perundang-undangan dan Perizinan
b. Teknik Pertambangan
c. K3
d. Lindungan Lingkungan Pertambangan
e. Peningkatan nilai tambah
f. Standarisasi Pertambangan
g. Perencanaan penutupan tambang
Jelaskan ketujuh hal tersebut dan hubungkan dengan UU No.4 tahun 2009 dan
Peraturan Pemerintah atau Peraturan Menteri yang ada

Jawab :
a. Peraturan Perundang-undangan dan Perizinan
Kegiatan pertambangan yang mematuhi ketentuan hukum dan perundang-
undangan yang berlaku didaerah atau Negara tempat aktivitas pertambangan
tersebut dilaksanakan. Dalam praktik pertambangan yang baik harus sinkron
antara kepentingan pembuat regulasi dan kepentingan pemegang izin usaha
pertambangan (IUP). Pemerintah harus mampu memberikan kepastian dan
kejelasan mengenai peraturan dan kebijakan pertambangan pada satu sisi,
sementara pemegang izin usaha pertambangan (IUP) harus menaati peraturan dan
kebijakan yang berlaku ditempat tersebut pada sisi lain.

b. Teknik Pertambangan
Pada prinsipnya, Teknis Pertambangan yang baik dapat dilakukan apabila
didalam aktifitas pertambangan tersebut dilakukan hal-hal sebagai berikut :
 Eksplorasi harus dilaksanakan secara baik, benar dan memadai.
 Perhitungan cadangan layak tambang harus ditetapkan dengan baik (tingkat
akurasi tinggi).
 Studi Geohidrologi, Geoteknik dan Metalurgi harus dilakukan secara baik
dan benar.
 Studi Kelayakan (Feasibility Study) yang komprehensif dengan didukung
data yang cukup, perlu disusun dengan baik, termasuk studi lingkungannya
(AMDAL atau UKL/UPL).
 Teknik dan sistim tambang serta proses pengolahan/pemurnian harus
direncanakan dan dilak-sanakan secara baik (sistim tambang pada material
lepas dan padu sangat berbeda, demikian pula proses pengolahannya)
 Teknis konstruksi dan Pemilihan peralatan harus tepat guna.
 Sistim pengangkutan bahan tambang harus terencana baik, termasuk
pemilihan alat angkut dan alat berat lainnya.
 Produksi hendaknya disesuaikan dengan jumlah ketersediaan cadangan dan
spesifikasi.
 Program pasca tambang harus terencana dengan baik sebelum seluruh
aktifitas dihentikan.
Jika Teknis Pertambangan tidak dilakukan dengan baik dan benar, maka akan
berakibat pada :
 Kesulitan dalam pelaksanaan kegiatan.
 Hasil tambang tidak akan efisien dan ekonomis.
 Produksi akan tersendat / tidak lancar.
 Kemungkinan terjadinya kecelakaan tambang akan tinggi.
 Pengrusakan dan gangguan terhadap lingkungan akan timbul.
 Terjadinya “pemborosan” bahan galian.
 Pasca tambang akan mengalami kesulitan dan sulit penanganannya.
 Semua pihak akan mendapat rugi (Pemerintah, perusahaan dan masyarakat).
 Kegiatan pertambangan akan “dituding” sebagai suatu kegiatan yang
merusak lingkungan.

c. K3
Peraturan yang menyangkut tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pertambangan Umum telah diatur dalam Keputusan Menteri Pertambangan dan
Energi Nomor : 555.K/26/M.PE/1995, tanggal 22 Mei 1995. Segala aspek
menyangkut K-3 Pertambangan Umum telah diatur didalamnya, antara lain
tentang :
 Pihak-pihak penanggung jawab
 Program dan manajemen K-3
 Kewajiban melaksanakan pendidikan dan pelatihan bagi pekerja tambang.
 Tatacara inspeksi tambang oleh Pelaksana Inspeksi Tambang dan Kepala
Teknik Tambang.
 Kondisi kerja, peralatan kerja, rambu-rambu/tanda-tanda peringatan.
 Kewajiban menyusun Standard Operation Procedure (SOP).
 Tatacara pencegahan dan penanggulangan kemungkinan terjadinya bahaya
dan kecelakaan.
 Tatacara penanganan, penggunaan dan penyimpanan bahan peledak.
 Dimensi tambang.
 Kewajiban pemeriksaan kesehatan terhadap pekerja tambang.
 Aturan-aturan penggunaan alat angkut.
 Pengamanan alat-alat berputar.
 Pembiayaan-pembiayaan pelaksanaan program K-3
 Beberapa hal lainnya dalam upaya pencegahan terjadinya kecelakaan
tambang.
Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi ini berlaku untuk kegiatan
pertambangan terbuka /diatas permukaan tanah dan pertambangan bawah tanah.

d. Lindungan Lingkunan Pertambangan


Dalam pelaksanaan kegiatan pertambangan, permasalahan lingkungan hidup
wajib untuk menjadi perhatian dari para pelaku kegiatan. Hal-hal yang perlu
diperhatikan adalah :
 Semua ketentuan, peraturan dan standar lingkungan yang berlaku.
 Setiap kegiatan wajib dilengkapi dengan dokumen kajian lingkungan
(AMDAL atau UKL/UPL).
 Perlu adanya suatu jaminan dalam rangka pelaksanaan reklamasi.
Kepedulian harus dimulai sejak tahap eksplorasi sampai tahap pasca tambang.

e. Peningkatan nilai tambah


Berdasarkan pasal 103-104 UU No.4 tahun 2009 tentang Minerba, para pelaku
usaha (pemegang Izin Usaha Pertambangan) operasi produksi wajib melakukan
peningkatan nilai tambah melalui proses pengolahan dan pemurnian hasil
tambang di dalam negeri. Peningkatan nilai tambah tersebut dapat meningkatkan
nilai jual bahan galian tersebut hingga 10 – 14 kali dari bahan mentah melalui
smelting. Keuntungan peningkatan nilai tambah yaitu :
 Nilai tambah pendapatan rumah tangga untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat,
 Nilai tambah surplus usaha untuk menarik minat investor menanamkan
modal,
 Nilai tambah pendapatan pajak untuk meningkatkan kemampuan dan
kemandirian fiskal bagi pemerintah pusat dan daerah (APBD),
 Nilai tambah tenaga kerja untuk memperluas lapangan pekerjaan bagi
masyarakat sekaligus mengurangi pengangguran dan kemiskinan.

f. Standarisasi Pertambangan
Memasuki era perdagangan global, pelaku usaha dituntut untuk memiliki daya
kompetitif tinggi(kinerja,harga,mutu dan jaminan produk), dengan mengikuti
standar dan aturan negara tujuan ekspor/impor. Kecenderungan dunia menuju
satu pasar, satu standar, satu sistem penilaian kesesuaian serta transparasi dalam
pemberlakuan peraturan teknis akan mewujudkan persaingan yang sehat dan
tidak ada diskriminatif terhadap produk yang beredar di pasar.
Permasalahan yang dihadapi adalah, bahwa kondisi nasional dan beberapa
daerah masih dirasa kurang tanggap untuk menerapkan standar/pedoman/kriteria
teknis di bidang mineral dan batubara. Hal tersebut masih dipicu rendahnya
kemampuan daya saing industri serta belum meratanya kesadaran masyarakat
terhadap standar dan budaya mutu menjadi bagian dari kehidupan.
Tujuan standarisasi pertambangan :
Meningkatkan efisiensi, perlindungan konsumen, tenaga kerja dan masyarakat
lain baik dari aspek keselamatan, keamanan, kesehatan, maupun pelestarian
fungsi lingkungan hidup.
Untuk merealisasikannya di bentuk Panitia Teknis Perumusan SNI dibidang
pertambangan yang terdiri dari : Sub Panitia Teknis Penambangan dan
Pengolahan, Komoditas Tambang dan Uji Mineral/Logam, Standar Istilah
Pertambangan dan Standar Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan
Hidup/Tambang.
Tersedianya SNI Pertambangan yang dibutuhkan pasar dan selaras dengan
standar internasional harus didukung dengan penyediaan sistem penilaian
kesesuaian yang dapat memberikan jaminan mutu dan keberterimaan pasar
produk nasional, memfasilitasi produk unggulan berpotensi ekspor serta
mewujudkan persaingan usaha yang sehat dalam pengusahaan mineral dan
batubara dengan sasaran utama untuk menjadikan SNI Pertambangan sebagai
sarana kompetisi nasional dalam perdagangan global.
Kegiatan standarisasi di lingkungan pertambangan umum berkembang sesuai
sistem standarisasi nasional yang berlaku. Hal ini terlihat dengan telah
lengkapnya komponen standarisasi yang selama ini merupakan kegiatan rutin unit
teknis. Oleh sebab itu, program yang perlakukan saat ini adalah pengembangan
kegiatan yang selaras dengan perkembangan standarisasi secara nasional serta
peningkatan kualitas sumber daya manusia yang mampu sebagai bagian dari
perangkat yang dibutuhkan dalam pengelolaan dan pengembangan standarisasi
dilingkungan departemen energi dan sumber daya mineral.
Disamping itu, dalam mendukung serta memacu program penerapan
standarisasi dilingkungan pemerintah daerah, maka diperlukan perangkat
kebijakan yang mapan dan transparan sehingga mempunyai dampak positif bagi
pengembangan usaha pertambangan di Indonesia, terutama dengan kebijakan
penerapan SNI baik wajib maupun sukarela dalam setiap kegiatan usaha
pertambangan. Oleh karena itu dengan terbitnya PP No. 102/2000 yang akan
segera diangkat menjadi Undang – undang maka departemen Energi dan Sumber
Daya Mineral Cq. Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral terus
merumuskan kebijakan baru dibidang standarisasi pertambangan serta selaras
dengan kebijakan standarisasi secara nasional.
Dengan berlakunya UU No. 13/ 2003 Tentang Ketenaga Kerjaan , maka
seluruh komponen industri dan jasa berkewajiban meningkatkan kompetensi
profesi tenaga kerjanya agar dapat bersaing dengan tenaga kerja asing. Untuk itu
menjadi kewajiban dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mneral dan
Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral untuk merumuskan
kebijakan yang terkait sehingga dalam penerapannya berjalan secara optimal.

g. Perencanaan penutupan tambang


Beberapa prinsip dalam perencanaan dan pelaksanaan pasca tambang yang harus
menjadi perhatian antara lain :
 Perlu adanya transparansi, komunikasi yang terbuka, komitmen, dukungan
dan partisipasi yang ber-asal dari seluruh stake holders (pemerintah,
masyarakat dan pelaku bisnis).
 Perencanaan dan pelaksanaannya harus sejalan dengan ketentuan dan
standard yang berlaku.
 Rencana pasca tambang harus dapat diterima oleh seluruh stake holders dan
sesuai dengan keinginan publik.
 Pelaksanaan harus mempunyai target terjaminnya keselamatan lahan ex
tambang, terpeliharanya lingkungan dan lahan ex tambang dapat pergunakan
kembali untuk kegiatan lainnya yang lebih bermanfaat.
 Pelaku kegiatan harus dapat mempertanggung-jawabkan dari aspek teknik
dan sosio-ekonomi.
 Pelaksanaan kegiatan pasca tambang harus disesuaikan dengan rencana
pembangunan daerah.
 Secara teknis dan ekonomis, pelaksanaan pasca tambang dapat dilaksanakan.
 Ditangani oleh sumber daya manusia yang profesional dan paham.
 Program pasca tambang harus dipantau secara kontinyu dan segera direvisi
jika terjadi perubahan.
 Program hendaknya bersifat adaptatif terhadap adanya perubahan kondisi.
 Harus ada kriteria yang jelas terhadap tingkat keberhasilan secara kuantitatif.
 Jaminan pasca tambang perlu ada dalam jumlah yang memadai.