Anda di halaman 1dari 3

1.

Klasifikasi desa :

 Desa Swadaya

Desa swadaya adalah desa yang memiliki potensi tertentu tetapi dikelola dengan sebaik-
baiknya, dengan ciri:

1. Daerahnya terisolir dengan daerah lainnya.

2. Penduduknya jarang.

3. Mata pencaharian homogen yang bersifat agraris.

4. Bersifat tertutup.

5. Masyarakat memegang teguh adat.

6. Teknologi masih rendah.

7. Sarana dan prasarana sangat kurang.

8. Hubungan antarmanusia sangat erat.

9. Pengawasan sosial dilakukan oleh keluarga.

 Desa Swakarya

Desa swakarya adalah peralihan atau transisi dari desa swadaya menuju desa
swasembada. Ciri-ciri desa swakarya adalah:

1. Kebiasaan atau adat istiadat sudah tidak mengikat penuh.

2. Sudah mulai menpergunakan alat-alat dan teknologi

3. Desa swakarya sudah tidak terisolasi lagi walau letaknya jauh dari pusat perekonomian.

4. Telah memiliki tingkat perekonomian, pendidikan, jalur lalu lintas dan prasarana lain.

5. Jalur lalu lintas antara desa dan kota sudah agak lancar.

 Desa Swasembada
Desa swasembada adalah desa yang masyarakatnya telah mampu memanfaatkan dan
mengembangkan sumber daya alam dan potensinya sesuai dengan kegiatan
pembangunan regional. Ciri-ciri desa swasembada

1. kebanyakan berlokasi di ibukota kecamatan.

2. penduduknya padat-padat.

3. tidak terikat dengan adat istiadat

4. telah memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai dan labih maju dari desa lain.

5. partisipasi masyarakatnya sudah lebih efektif.

2. TAHAP PERKEMBANGAN KOTA MENURUT GRIFFITH TAYLOR Griffith Taylor (1958)


mengemukakan tahapan perkembangan kota sebagai berikut:

- Stadium Infantile, di dalam stadium ini tak terlihat batas yang jelas antara daerah
pemukiman dan daerah perdagangan. Demikian pula antara daerah miskin dan kaya. Batas-
batasnya sulit untuk digambarkan. Perumahan pemilik toko dan toko yang masih menjadi
satu juga menjadi ciri-ciri stadium ini.

- Stadium Juvenile, di dalam stadium ini mulai terlihat bahwa kelompok perumahan tua
sudah mulai terdesak perumahan-perumahan baru. Selain itu, terdapat pula pemisah antara
daerah pertokoan dan daerah perumahan.

- Stadium Mature, di dalam stadium ini banyak ditemui daerah-daerah baru yang telah
mengikuti rencana tertentu.

- Stadium Senile, stadium kemunduran kota. Hal ini terjadi karena di stadium ini tampak
bahwa setiap zona terjadi penurunan dan kemunduran karena kurang adanya pemeliharaan
yang dapat disebabkan faktor ekonomi dan politik

3. Teori Konsentris (Concentric Theory)

Teori Konsentris dari Ernest W. Burgess, kota berkembang kesegala arah, merata, dan
bentuknya melingkar. Berdasarkan teori konsentris, wilayah kota dibagi menjadi lima :
· Zona daerah pusat kegiatan / DPK (central business district / CBD)
· Zona peralihan (zona perdagangan beralih pada zona permukiman)
· Zona permukiman kelas pekerja / buruh / proletar
· Zona kelas menengah
· Zona penglaju / orang kaya (zona permukiman beralih pada zona pertanian)
4. Tahapan kota menurut Lewis :
 Tahap Eopolis, tahap perkembangan desa yang sudah teratur menuju arah kehidupan
kota.
 Tahap Polis, suatu kota yang sebagian kegiatan penduduknya masih bersifat agraris.
 Tahap Metropolis, kota yang kehidupannya sudah mengarah industri.
 Tahap Megapolis, wilayah perkotaan yang terdiri atas beberapa kota metropolis.
 Tahap Tryanopolis, kota yang ditandai dengan kekacauan dan tingkat kriminalitas yang
tinggi.
 Tahap Nekropolis, suatu kota yang mulai mengalami keruntuhan.
5. Pola desa
a. Bentuk desa linear atau memanjang mengikuti jalur jalan raya atau alur sungai.
Pola semacam ini dapat dijumpai di daerah dataran, terutama dataran rendah. Tujuan
utama bentuk desa yang linear atau memanjang adalah mendekati prasarana transportasi
(jalan atau alur sungai) sehingga memudahkan mobilitas manusia, barang, dan jasa.

b. Bentuk desa yang memanjang mengikuti garis pantai.


Pola ini terbentang disepanjang pesisir pantai, hal ini terbentuk karena berdasarkan mata
pencaharian penduduk sebagai nelayan.

c. Bentuk desa terpusat.


Bentuk desa semacam ini banyak dijumpai di wilayah pegunungan. Wilayah pegunungan
biasanya dihuni oleh penduduk yang berasal dari keturunan yang sama sehingga antara
sesama warga masih merupakan saudara atau kerabat.

d. Bentuk desa yang mengelilingi fasilitas tertentu.


Bentuk semacam ini banyak dijumpai di wilayah dataran rendah dan memiliki fasilitas
umum yang banyak dimanfaatkan oleh penduduk setempat, seperti mata air, danau,
waduk, dan fasilitas-fasilitas lainnya.