Anda di halaman 1dari 44

BAB 1

PENDAHULUAN

⦁ Latar Belakang

Keadaan lingkungan hidup disekitar kita tiap tahun makin memprihatinkan, hal
tersebut disebabkan karena kegiatan-kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhannya
namun tidak memikirkan keadaan lingkungan yang menjadi rusak. Kualitas kehidupan
manusia beransur-ansur mengalami penurunan, sehingga manusia berpikir agar kejadian
tersebut tidak beransur-ansur, (Hendriana, 2013: 1)

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) merupakan salah satu upaya yang


dikembangkan oleh masyarakat dunia untuk mengoptimalkan peran masyarakat dalam
mengatasi permasalahan lingkungan. Pada dasarnya PLH ditujukan untuk mengubah
perilaku masyarakat menjadi lebih ramah lingkungan sehingga dapat meminimalkan
dampak kegiatan manusia terhadap lingkungan, (Meilani, 2009 : 1)

Pada tahun 2009 Indonesia turut berkomitmen terhadap PLH melalui Undang-
undang No. 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Pasal 1 disebutkan bahwa Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua
benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup.termasuk manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk
hidup lain; Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk
melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan
dan/atau kerusakan lingkungan yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian,
pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.

Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan

1
aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi kedalam strategi pembangunan untuk
menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan dan
mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Pada pasal 70 disebutkan
bahwa masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk
berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

PLH dijadikan muatan lokal di sekolah, mulai dari Taman Kanak-kanak sampai
dengan Sekolah Menengah Atas. Kebijakan Dinas Pendidikan tersebut dipelopori oleh
Dinas Pendidikan Kota Bandung dengan instruksi walikota Bandung. Tujuan mulok PLH
adalah mengubah perilaku dan pola pandang masyarakat ke arah positif terkait dengan
masalah lingkungan. Program mulok juga dimaksudkan untuk mengenalkan dan
menumbuhkan kecintaan akan lingkungan sejak dini, (Adisendjaja, 2008 : 1).

PLH memiliki tujuan seperti yang dirumuskan pada waktu Konferensi Antar Negara
tentang Pendidikan Lingkungan pada tahun 1975 di Tbilisi, yaitu: meningkatkan
kesadaran dan perhatian terhadap keterkaitan yang bidang ekonomi, sosial, politik, dan
ekologi baik daerah perkotaan dan pedesaan; memberikan kesempatan kepada setiap
orang untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan, sikap/perlaku, motivasi, dan
komitmen, yang diperlukan untuk bekerja secara individu dan kolektif untuk
menyelesaikan masalah lingkungan saat ini den mencegah munculnya masalah yang
baru ; menciptakan satu kesatuan pola tingkah laku baru bagi individu, kelompok-
kelompok dan masyarakat terhadap lingkungan hidup, (Sudjoko, 2011 : 1.5).

Dalam proses pembelajarannya, PLH tidak dijadikan sebagai topik hafalan tetapi
dikaitkan dengan dunia nyata yang dihadapinya sehari-hari (kontekstual) dan dunia nyata
tersebut dijadikan obyek kajian dalam konsep PLH. Obyek kajian PLH ada di lingkungan
sekitar sekolah. Karena setiap sekolah memiliki lingkungan yang berbeda sehingga
pembelajaran akan semakin menarik karena keragamannya. Walaupun obyek kajiannya
berbeda namun tujuan pembelajarannya tetap sama.

2
PLH dapat diajarkan melalui berbagai cara seperti observasi, diskusi, kegiatan atau
praktek lapangan, praktek laboratorium, laporan kerja praktek, seminar, debat, kerja
proyek, magang dan kegiatan petualangan. Metode ceramah tidak akan bermakna tetapi
sebaliknya siswa harus dilibatkan secara aktif mentalnya agar dapat mengonstruksi
pengetahuan, pengalaman, dan keterampilannya yang pada gilirannya akan dapat
diterapkan dalam kehidupan dan ditransfer kepada orang lain.
Tempat yang dapat dijadikan obyek kajian sangat bervariasi yaitu lingkungan
sekolah, lingkungan tempat tinggal, lingkungan perkotaan, pasar, terminal, selokan,
sungai, sawah, taman kota, lapangan udara, pembangkit tenaga atom, danau, instalasi
pengolahan air minum, pengolahan sampah, pipa buangan rumah tangga, tempat
pembuangan sampah dan lingkungan lain di sekitar atau dekat sekolah. Masalah yang
dapat diangkat jadi topik pembelajaranpun sangat beragam mulai dari masalah sampah
rumah tangga, sampah industri, penggunaan deterjen, pestisida, pupuk buatan,
pencemaran tanah, air, udara, kekurangan air, banjir, dan sebagainya.

Proses belajar dalam PLH menggunakan filsafat behavioristik dan kontruktivis yaitu
belajar dikatakan terjadi pada diri siswa jika informasi yang diterima terintegrasi dalam
keyakinan siswa dan siswa berperan aktif dalam proses belajar. Siswa harus lebih aktif di
dalam menemukan jalur belajarnya dan membangun konsepnya. Dengan keterlibatan
siswa yang maksimum dalam belajar maka siswa akan memiliki wawasan yang lebih
mapan.

Dengan demikian jika konsep atau materi ajar PLH diajarkan dengan cara tersebut
di atas yaitu dengan melibatkan siswa secara aktif (bukan hanya mengisi LKS tetapi aktif
secara mental) maka diharapkan terbentuk siswa yang memiliki pengetahuan,
keterampilan dan sikap yang peduli terhadap masalah lingkungan dan mampu berperan
aktif dalam memecahkan masalah lingkungan, memiliki kemampuan menerapkan prinsip
keberlanjutan dan etika lingkungan dalam kehidupan sehari-harinya. Pengetahuan dan
pengalaman siswa dapat ditularkan kepada orang lain.

3
⦁ Rumusan Masalah
⦁ Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diambil rumusan masalah sebagai
berikut:
⦁ Jelaskan pengertian perubahan, komplesitas, ketidakpastian, dan konflik ?

⦁ Bagaimana konsep mega proyek lahan gambut dan dampaknya terhadap


lingkungan?

⦁ Jelaskan perbedaan antara pembangunan berkelanjutan di negara maju dan


berkembang ?
⦁ Apa saja strategi pengelolaan lingkungan di indonesia ?

⦁ Bagaimana penerapan pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan


tangkap di indonesia ?
⦁ Apa itu analisa agroekosistem ?

⦁ Apa itu teori kekacauan( chaos teory)

⦁ Tujuan Penulisan
⦁ Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisannya adalah sebagai
berikut:
⦁ Mengetahui pengertian perubahan, komplesitas, ketidakpastian, dan konflik

⦁ Mengetahui konsep mega proyek lahan gambut dan dampaknya terhadap


lingkungan
⦁ Mengetahui perbedaan antara pembangunan berkelanjutan di negara maju dan
berkembang
⦁ Mengetahui strategi pengelolaan lingkungan di indonesia

⦁ Mengetahui penerapan pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan


tangkap di indonesia

4
⦁ Mengetahui analisa agroekosistem

⦁ Mengetahui teori kekacauan( chaos teory)

4.1 Manfaat Penulisan


⦁ Berdasarkan tujuan penulisan di atas, maka manfaat penulisannya adalah sebagai
berikut:
⦁ Dapat mengetahui pengertian perubahan, komplesitas, ketidakpastian, dan
konflik
⦁ Dapat mengetahui konsep mega proyek lahan gambut dan dampaknya terhadap
lingkungan
⦁ Dapat mengetahui perbedaan antara pembangunan berkelanjutan di negara maju
dan berkembang
⦁ Dapat mengetahui strategi pengelolaan lingkungan di indonesia

⦁ Dapat mengetahui penerapan pendekatan ekosistem dalam pengelolaan


perikanan tangkap di indonesia
⦁ Dapat mengetahui analisa agroekosistem

⦁ Dapat mengetahui teori kekacauan( chaos teory)

BAB 2
PEMBAHASAN

⦁ Pengertian perubahan, komplesitas, ketidakpastian, dan konflik

perubahan, kompleksitas, ketidakpastian, dan konflik selalu kita hadapi dalam


banyak aspek kehidupan. Menurut Bruce Mitchell (2000), keempatnya merupakan hal

5
penting dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Sebab, keempatnya itu
akan dapat mendatangkan peluang sekaligus masalah bagi perencana, pengelola,
pengambil keputusan, serta anggota masyarakat lainnya.

Pernyataan Guru besar Geografi University of Waterloo, Ontario, Canada, Bruce


Mitchell tersebut, belakangan ini terbukti terjadi di wilayah Jawa Barat. Seperti
diberitakan Pikiran Rakyat (08/10/2015), Pembangunan Pelabuhan Samudera Bojong
Salawe yang terus berlanjut dikhawatirkan Badan Pengendali Lingkungan Hidup (BPLH)
Pangandaran. Sebab, selama ini tidak ada izin lingkungan dan tidak ada komitmen yang
dipegang oleh semua pihak untuk mengatasi kerusakan lingkungan akibat pembangunan
itu.

Selain itu, Kabar Priangan (10/10/2015), memberitakan warga orang terkena


dampak (OTD) Waduk Jatigede merencanakan akan menggelar aksi massa. Aksi akan
digelar dipicu kekesalan warga terhadap pemerintah yang selama ini tidak konsisten
menangani persoalan warga Jatigede. Menurut pengakuan salah satu warga yang terkena
dampak, Ki Wangsa, “Jangan disangka setelah penggenangan kemudian warga diam. Kita
akan terus menuntut hak-hak kami yang belum diselesaikan.”

Sementara itu, sebelumnya Kabar Priangan (09/10/2015) juga mengkabarkan


masyarakat Desa Sinartanjung Kecamatan Pataruman meminta pemerintah bersikap tegas
terhadap para penambang pasir ilegal di sungai Citanduy. Pasalnya aktifitas penambangan
pasir ilegal itu telah menyebabkan lahan milik warga di pinggiran sungai itu atau tepatnya
di sekitar Dusun Sinargalih “menghilang” akibat amblas dan tergerus air sungai. Warga
mengaku sudah habis kesabaran dengan para penambang pasir tersebut.

Fenomena tersebut merupakan sebagian gambaran dari pengelolaan lingkungan


yang terjadi di wilayah Priangan. Untuk itu, sangatlah penting kita mengenali dari
keempat elemen pengelolaan sumbe rdaya alam dan lingkungan tersebut (perubahan,
kompleksitas, ketidakpastian, konflik) dan memahami bagaimana keempatnya saling
berpengaruh, sehingga memiliki peluang bagaimana kita dapat menjadi agen perubahan
yang positif.

6
Pertama, perubahan. Elemen ini mengajarkan bahwa perencana dan pengelola
lingkungan harus selalu siap menghadapi perubahan. Baik perubahan lingkungan itu
sendiri, maupun perubahan sistem sosial, ekonomi, dan politik yang sering mewarnai
proses pengambilan keputusan. Terkait proses pemberhentian sementara proyek
Pelabuhan Samudera Bojong Salawe, diakui Kepala Subbidang Pengkajian Analisis
Dampak dan Teknik Lingkungan BPLH Pangandaran, Rahlan Herman bahwa secara
kasat mata proses pembangunan itu tentu mengubah ekosistem yang ada. Saat ini pun
telah terlihat beberapa tanaman mangrove yang berubah. Oleh karena itu, ia meminta
komitmen semua pihak untuk menjaga lingkungan melalui penyelesaian dokumen
lingkungan.

Kedua, kompleksitas. Di sini, harus kita akui kalau dampak kegiatan manusia
terhadap lingkungan memang sesuatu yang sangat kompleks dan tidak selalu dapat
dipahami secara utuh. Artinya, bagi perencana dan pengelola lingkungan harus
memahami kalau perubahan lingkungan itu tidak semuanya dapat diprediksi sebelumnya.
Demikian pula dengan dampak perubahan pembangunan waduk Jadigede di Sumedang.
Sebagian aspek dapat diprediksikan, tapi sebagian lainnya sama sekali belum dapat
dibayangkan apa implikasi susulan dari perubahan tersebut.

Ketiga, ketidakpastian. Keberadaan elemen ini, bagi perencana dan pengambil


keputusan harus dipahami betul. Sebab, lingkungan itu dipenuhi ketidakpastian. Artinya,
mereka harus berani mengambil keputusan ketika tidak semua informasi dan pemahaman
dapat diperoleh secara utuh. Sehingga di sini, perlu sikap kehati-hatian, agar proses
pengambilan keputusannya tidak dilakukan secara gegabah.

Keempat, konflik. Adanya perbedaan dan pertentangan kepentingan sering kali


muncul dalam pengalokasian sumber daya dan pengambilan keputusan pengelolaan
lingkungan. Menurut Bruce Mitchell, pertentangan tersebut seringkali merefleksikan
perbedaan pandangan, ideologi, dan harapan. Untuk itu, adalah tantangan bagi para
pengelola lingkungan untuk dapat mengakomodasikan berbagai perbedaan tersebut serta
mencari jalan tengah yang dapat diterima semua pihak.

7
Tidak bisa dipungkiri, bila berbicara pengelolaan lingkungan dan sumberdaya alam
akan dibutuhkan kemampuan untuk menghadapi konflik. Keberadaan konflik ini, akan
menghantui kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan pengakuan Johnson dan Duinker
(1993), konflik adalah pertentangan antar banyak kepentingan, nilai, tindakan atau arah,
serta sudah merupakan bagian yang menyatu sejak kehidupan ada.

Pada konteks ini, Dorcey (1986), mengakui pada banyak situasi, terdapat lebih dari
satu akar konflik yang muncul. Namun demikian, Dorcey merumuskan ada empat dasar
atau akar konflik, yaitu: 1) Perbedaan pengetahuan dan pemahaman; 2) Perbedaan nilai;
3) Perbedaan alokasi keuntungan dan kerugian; 4) Perbedaan karena latar belakang
personal dan sejarah kelompok-kelompok yang berkepentingan.

Walau keberadaan konflik itu merupakan sesuatu yang tak terelakkan dalam
kehidupan manusia, akan tetapi konflik itu tidaklah selalu berkonotasi kurang baik.
Konflik itu bisa bermakna positif atau negatif tergantung persepsi manusianya. Di sini,
patut dicatat, kalau konflik itu dalam banyak hal dapat membantu kita dalam
mengindentifikasi permasalahan bila suatu proses mengalamai jalan buntu. Arti lainnya,
aspek positif konflik muncul ketika konflik membantu mengindentifikasikan sebuah
proses pengelolaan lingkungan dan sumberdaya yang tidak berjalan secara efektif,
mempertajam gagasan yang tidak jelas, dan menjelaskan kesalahpahaman.

Sebaliknya, konflik dapat bersifat negatif jika diabaikan. Dalam bahasa Johnson dan
Duinker, konflik yang tidak terselesaikan merupakan sumber kesalahpahaman,
ketidakpercayaan, serta bias. Konflik menjadi buruk apabila menyebabkan semakin
meluasnya hambatan-hambatan untuk saling bekerjasama antar berbagai pihak.

Akhirnya, adanya beberapa konflik dalam pengelolaan lingkungan yang terjadi di


wilayah Priangan, tentu harus disikapi sebagai tantangan yang menjadi tugas kita untuk
mencoba memahami bahwa konflik itu hendaknya dianggap sebagai suatu faktor yang
konstruktif, bukannya destruktif, di dalam perencanaan dan pengambilan keputusan
dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan.

8
⦁ Konsep mega proyek lahan gambut dan dampaknya terhadap lingkungan

Lahan gambut tropis meliputi areal seluas 40 juta ha dan 50% diantaranya terdapat
di Indonesia (terutama di Sumatera, Kalimantan dan Papua) dan merupakan cadangan
karbon yang sangat besar yang harus dijaga kelestariannya. Lahan gambut yang masih
alami dapat berfungsi sebagai penyerap karbon yang potensial, sebaliknya apabila gambut
mengalami gangguan, misalnya terbakar, karbon yang akan terlepas ke alam juga sangat
besar.

Kanalisasi, inilah penyebab utama mudah terbakarnya lahan gambut. Bisa anda
bayangkan suatu luasan lahan gambut yang mirip spons yang mudah terbakar tetapi
karena jenuh dengan air sehingga sangat sulit terbakar. Kemudian manusia dengan
teknologi yang dimilikinya membuat kanal-kanal sehingga air yang tergenang mengalir ke
sistem-sistem aliran utama. Hasilnya? Pada musim kemarau dimana suplai air minim,
deposit air yang ada di gambut akan mengalir ke kanal-kanal karena posisinya yang lebih
rendah. Sekarang lahan gambut telah kering, yang kita butuhkan hanyalah sumber api
untuk menjadikan lahan gambut sebagai sumber emisi.

Bagai api dalam sekam, itulah yang akan terjadi jika gambut terbakar, Api akan
bertahan hingga berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Pembakaran yang terjadipun tidak
sempurna, sehingga menghasilkan emisi karbon yang tinggi. Hal ini diperparah dengan
sulitnya memadamkan api yang membakar lahan gambut. Akses yang sulit menuju titik
api mungkin bisa diatasi dengan melakukan pemadam melalui udara, tetapi masalah
utamanya bukanlah akses, letak sumber api-lah yang menjadi masalah utama. Perlu kita
ketahui bahwa pada saat terbakar, bukan hanya vegetasi yang tumbuh di atas lahan
gambut yang terbakar, tetapi lahan gambutnya juga ikut terbakar. Api yang membakar
bukan hanya dipermukaan tetapi juga berada di bawah permukaan. Hal inilah yang

9
menyulitkan proses pemadaman, sehingga kebakaran lahan gambut bisa berlangsung
hingga hitungan bulan.

Masih belum terlambat bagi kita (yang peduli) untuk mencegah nasib 20 juta
hektar lahan gambut Indonesia semakin memburuk. Tidak ada jalan lain untuk mencegah
lahan gambut kita terbakar, kecuali dengan mengembalikan fungsinya seperti semula.
Kanal-kanal yang ada harus ditutup untuk meninggikan muka air tanah pada lahan
gambut sehingga kandungan airnya tetap ada walau kemarau sekalipun. Kalaupun
pemecahan masalah yang terkesan radikal tersebut sulit untuk dilaksanakan, kita bisa
mengembalikan tinggi muka air tanah pada lahan gambut dengan membangun
bendungan-bendungan sederhana yang bisa mencegah air di kanal-kanal mengalir ke
sistem-sistem aliran utama.

Mega proyek ini memiliki catatan sejarah yang cukup panjang, berikut penjelasannya :

Pembukaan dan pengembangan lahan gambut dapat diruntut dari abad ke 13 pada
era Kerajaan Majapahit. Raja Prabu Jaya sebagai keturunan Raja Brawijaya dari Kerajaan
Majapahit pada zamannya dicatat telah mengadakan ekspansi dengan pembukaan lahan
gambut untuk pemukiman dan pertanian di daerah aliran Sungai Pawan, Kalimantan
Barat. Kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Belanda yang tercatat pada tahun 1920an
telah melakukan kolonisasi (sekarang disebut dengan transmigrasi) dengan menempatkan
orang Jawa di rawa-rawa gambut Kalimantan tepatnya daerah Tamban dan Serapat serta
pembukaan lahan gambut jalan sepanjang 40 km dari Banjarmasin-Martapura (Aluh-aluh,
Kurau, Gambut). Waktu itu orang-orang Jawa “dipaksa” untuk membuka lahan rawa atau
gambut secara konvensional dan menanaminya dengan tanaman kelapa dan karet.

Setelah Indonesia merdeka mulailah dilakukan survei-survei investigasi dan


pendataan tentang rawa dan gambut yang lebih rinci, tetapi masih dibantu oleh beberapa
tenaga ahli Belanda yang masih menetap di Indonesia, antara lain Schophuys (1952) yang
telah mempromosikan sistem polder untuk pengembangan lahan rawa. Sejarah
pengembangan rawa dan atau gambut, berdasarkan waktu dan cara serta luas wilayah
yang dikembangkan dapat dibagi dalam 3 (tiga) era, yaitu (1) era periode

10
1945-1960an, (2) era periode 1969-1995an dan (3) era periode 1995-2000an.

Era Periode 1945-1960an

Pembukaan rawa pertama di Indonesia digagas oleh Ir. Pangeran Mohammad Noor
yang menjabat sebagai MenteriPekerjaan Umum dan Tenaga (1956-1958) yang disebut
dengan Proyek Dredge, Drain and Reclamation, yaitu menghubungkan dua sungai besar
dengan membangun kanal sehingga akses ke lahan rawa dapat mudah dilakukan. Gagasan
ini pada awalnya direncanakan meliputi pembuatan kanal (anjir) antara Banjarmasin-
Pontianak (760 km) dan Palembang-Tanjung Balai (850 km). Namun kemudian berhasil
hanya dibangun beberapa saja dari yang direncanakan antara lain yang menghubungkan
Sungai Barito (Kalimantan Selatan) dengan Kapuas Murung (Kalimantan Tengah) yaitu
meliputi Anjir Serapat (28,5 km), Anjir Tamban (25,3 km), dan Anjir Talaran (26 km);
antara Sungai Kahayan dengan Sungai Kapuas Murung (Kalimanyan Tengah) yaitu Anjir
Basarang (24,5 km), Anjir Kelampan (20 km), dan beberapa anjir lainnya di Sumatera
dan Kalimantan Barat (Gambar 1). Anjir pertama dibangun adalah anjir Serapat yang
pada awalnya digali dengan tangan pada tahun 1886, kemudian direhabilitasi dengan
penggalian kembali menggunakan kapal keruk pada tahun 1935.

Pada masa yang bersamaan Prof. Dr. Schophuys (1952) mulai merencanakan
pembangunan polder di daerah lebak Alabio, pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Negara -
Anak Sungai Barito, Kalimantan Selatan seluas 6.500-7.000 hektar dan polder daerah
pasang surut Mentaren, tepian Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah seluas 3.000 hektar
dan beberapa poldr lainnya di Sumatera. Pembangunan polder, khususnya polder Alabio
tersebut di atas menghadapi banyak kendala selain fisik juga masyarakat yang menjebol
tanggul hingga sampai tahun 1972 dilakukan pemberhentian pembiayaan. Sejak 2010
pembangun polder Alabio tersebut kemudian dilanjutkan lagi dengan perbaikan dan
penambahan bangun air dan saluran-saluran serta rumah pompa.

Era Periode 1969-1995an

Kondisi pangan yang sangat memprihatinkan pada dekade 1970, dimana pemerintah
telah mengimpor beras sekitar 2 juta ton beras sehingga cukup menguras devisa Negara.

11
Oleh karena itu pemerintah orde baru waktu itu berupaya sedemikian rupa untuk
meningkatkan ketersediaan pangan, yaitu dengan salah satunya pembukaan lahan rawa
yang direncanakan sekitar 5,25 juta hektar untuk sekaligus mendukung program
peningkatan penyediaan pangan bersamaan dengan program transmigrasi dalam waktu 15
tahun. Dilaksanakanlah Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut (P4S) di bawah
koordinasi Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik yang dijabat oleh Prof. Dr. Ir.
Sutami. Dalam proyek ini telah berhasil dibuka sekitar 1,24 juta hektar lahan rawa yang
terdiri atas 29 skim/jaringan tata air sistem garpu di Kalimantan Selatan dan
Kalimantan Tengah dan 22 skim/jaringan sistem sisir di Sumatera dan Kalimantan Barat
(Gambar 3 dan 4). Beberapa daerah rawa yang telah dibangun ini telah berkembang
menjadi kota-kota kabupaten, kecamatan bahkan kota provinsi yang menjadi sentra
produksi pertanian dan pusat-pusat pertumbuhan. Sampai tahun 1995, luas lahan rawa
yang telah dibuka 1,18 juta hektar oleh pemerintah dan 3,0 juta hektar oleh masyarakat
setempat secara swadaya. Dari keseluruhan luas lahan yang dibuka oleh pemerintah
dimanfaatkan untuk sawah 688,740 hektar, tegalan 231,040 hektar dan 261,090 hektar
untuk lain-lain, termasuk untuk perikanan atau budidaya tambak. Sementara lahan rawa
yang dibuka masyarakat setempat umumnya untuk pengembangan tanaman padi atau
sawah dan perkebunan rakyat (Balittra, 2001; Noor, 2004).

Era Periode 1996-2000an

Masalah pangan kembali menjadi perhatian seiring dengan impor yang cukup besar
pada tahun 1995. Impor beras Indonesia meningkat sejak tahun 1990an, padahal
sebelumnya (1985) diakui oleh Badan Pangan Dunia (FAO) berhasil swasembada
pangan. Indonesia ingin menjadi “gudang pangan dunia” maka Presiden Soeharto
meminta Menteri Pekerjaan Uumum yang dijabat oleh Dr. Radinal Muchtar dan menteri
terkait lainnya untuk menyusun pembukaan sejuta hektar lahan rawa yang dikenal dengan
Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar (Mega Rice Estate Project) di Kalimantan Tengah
(1995-1999) dengan menerapkan Sistem Tata Air Satu Arah (Gambar 5). Namun proyek
ini mengalami banyak hambatan yang sempat dihentikan tahun 1999 dan kemudian
dilanjutkan kembali secara bertahap sejak tahun 2007-2011 (Inpres No2/2007).

12
Pemerintah provinsi Kalimantan Tengah merencanakan kerjasama dengan pemerintah
Australia untuk membuka kembali sekitar 100 ribu hektar lahan PLG di atas menjadi rice
estate.

Permasalahan yang dihadapi sekarang adalah semakin luasnya lahan bongkor atau
lahan tidur di daerah rawa yang diperkirakan mencapai 600-800 ribu hektar. Hampir 50%
dari lahan yang dibuka pada kawasan PLG Kalimantan Tengah juga terancam menjadi
lahan tidur. Sebagian besar jaringan tata air yang telah dibangun pada periode 1970-1995
sudah banyak yang mengalami kemunduran dan kerusakan, termasuk di kawasan PLG
yang rusak karena pencurian terhadap besi-besi dan kayu-kayu penyusun bangunan air
yang dilakukan masyarakat.

Berbeda dengan lahan irigasi, dimana air dapat diatur semaunya, maka di lahan
rawa air yang mengatur kita. Oleh karena itu, apabila keliru dalam perkiraan musim tidak
jarang akan mengalami gagal panen. Pengembangan lahan rawa tidak lebih adalah
pekerjaan mengatur air sehingga diperlukan pembuatan saluran atau kanal, tanggul, pintu
air, tabat dan sebagainya yang bertujuan agar ketersediaan air buat tanaman dapat
terpenuhi dan sekaligus lahan dapat mempertahankan kebasahan tanahnya. Kekeringan di
lahan rawa dapat menurunkan produktivitas lahan akibat berubahnya sifat dan watak
tanah setelah deraan kekeringan.

⦁ Perbedaan antara pembangunan berkelanjutan di negeara maju dan


berkembang

Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa


kini tanpa harus mengurangi kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan dari generasi
yang akan datang. Pembangunan berkelanjutan harus memerhatikan pemanfaatan
lingkungan hidup dan kelestarian lingkungannya agar kualitas lingkungan tetap terjaga.
Kelestarian lingkungan yang tidak dijaga, akan menyebabkan daya dukung lingkungan
berkurang, atau bahkan akan hilang.Pembangunan berkelanjutan mengandung arti sudah
tercapainya keadilan sosial dari generas ke generasi. Dilihat dari pengertian lainnya,

13
pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan nasional yang melestarikan fungsi dan
kemampuan ekosistem.

Indikator yang terdapat dalam konsep pembangunan berkelanjutan adalah adanya


keseimbangan antara tiga pilar besar yakni, pertumbuhan ekonomi, inklusi sosial, dan
perlindungan lingkungan (Sutopo, 2014:17). Tiga pilar ini dipandang sangat strategis
karena perkembangannya saling berkorelasi dan memengaruhi.

⦁ Analisis 3 pilar konsep pembangunan berkelanjutan di Indonesia (Negara


berkembang)

1. Pertumbuhan ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan tolak ukur untuk memastikan kondisi sebuah
negara berada pada tingkatan sebagai negara miskin, negara berkembang, dan Negara
maju. Hal tersebut ditandai dengan pengaruh pendapan perkapita pengahasilan
masyarakatnya. Pendapat perkapita mencerminkan tingkat kemakmuran dan
kesejahteraan masyarakat dalam suatu negara. Dinamika pertumbuhan ekonomi yang
selalu fluktuatif menjadi ciri khas Indonesia. Jumlah populasi masyarakat yang tinggi
menuntut Indonesia untuk dapat mendistribusikan kesejahteraannya secara adil. Hal
ini menjadi tantangan besar bagi Indonesia untuk mewujudkan kesejahteraan social
yang sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan.

Demi memenuhi tuntutan tersebut, Indonesia mengandalkan beberapa sector


perekonomian, salah satunya adalah sektor perdagangan internasional. Melalui sector
ini, Bank Dunia mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kini berada pada
kisaran 5,3% (Sugianto, 2018). Namun, tingkat perdagangan internasional tersebut
ternyata tidak diimbangi dengan stabilitas ekspor – impor yang dilakukan oleh
Indonesia karena pada faktanya, tingkat impor Indonesia jauh lebih tinggi. Sedangkan,
komoditas ekspor Indonesia banyak memiliki hambatan karena hasilnya tidak besar,
hal ini terjadi karena barang yang diekspor masih berbentuk komoditas barang mentah
yang memiliki nilai jual rendah dengan kuantitas yang banyak.

14
2. Inklusi sosial
Salah satu wajah inklusi sosial di Indonesia bisa dilihat dari inklusifitas
pendidikannya. Pendidikan inklusi merupakan konsep ideal yang memberikan
kesempatan dan peluang sepenuhnya kepada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
untuk mendapatkan haknya sebagai warga negara. Hal yang sama, pendidikan difabel
baik di sekolah inklusi atau di Sekolah Luar Biasa (SLB), terlebih SLB yang sudah
berusia puluhan tahun ini seakan menjadi sedikit tersisih karena adanya program
pendidikan inklusi. Dikotomi tersebut bukan lantas mematikan salah satu lembaga
antara sekolah inklusi dan SLB, keduanya sama-sama program pemerintah yang mesti
harus di seragamkan, baik soal kemudahan akses masuk sekolah ataupun pembiayaan.

Aturan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003


tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Konfrensi Dunia tahun 1994 oleh UNESCO
di Salamanca, Spanyol, menyatakan bahwa “ komitmen pendidikan untuk semua”
atau “Education For All (EFA)”, komitmen ini menegaskan pentingnya pemberian
pendidikan bagi anak, remaja dan orang dewasa yang memerlukan pendidikan dalam
system pendidikan reguler serta menyetujui kerangka aksi pendidikan bagi ABK.
Namun sayangnya, data dilapangan melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan
Pusat Statistik pada 2016 mencatat, dari 4,6 juta anak yang tidak sekolah, satu juta di
antaranya adalah ABK (Kompas, 2016).

Diskriminasi di dunia kerja masih merupakan masalah besar bagi orang yang
hidup dengan HIV/AIDS (ODHA), sehingga mereka sulit mendapatkan pekerjaan,
demikian temuan survei yang dilakukan di tujuh provinsi di Indonesia. Potensi
kerugian karena tidak bekerja cukup besar karena hampir 80 persen penderita
HIV/AIDS di Indonesia adalah orang-orang dengan umur produktif, 20-40 tahun
(Machali, 2015:35).Sampel diambil terhadap 2.038 rumah tangga yang terdampak
HIV/AIDS karena anggota keluarganya menderita penyakit tersebut dan dibandingkan
hasilnya dengan rumah tangga normal. Survei menemukan keluarga ODHA

15
mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses ke pekerjaan. Sebanyak 72,7 persen
keluarga HIV bekerja tanpa upah.

Hal tersebut semakin menyulitkan keluarga ODHA karena tingkat pengeluaran


yang jauh lebih besar hingga lima kali lipat daripada keluarga normal. Melihat
pemaparan data tersebut, kita bisa mengetahui bahwa diskriminasi terhadap ODHA
masih ada walaupun banyak sosialisasi yang telah dilakukan untuk mempromosikan
kehadiran ODHA tetapi masyarakat tetap belum bisa terbuka dengan keberadaan
mereka. Seharusnya, apabila melirik pada konsep inklusi sosial maka, mereka bisa
mendapatkan perlakuan yang sama seperti orang normal kebanyakan dalam hal
mempertahankan hidup maupun mendapatkan pekerjaan.

3. Perlindungan lingkungan
Berbicara mengenai perlindungan lingkungan di Indonesia nampaknya masih
jauh dari ekspektasi yang digagas oleh konsep pembangunan berkelanjutan karena
hingga saat ini Indonesia masih memiliki banyak masalah terkait pelestarian
lingkungan. Salah satu isu yang belum bisa diselesaikan oleh Pemerintah adalah isu
tumpukan sampah yang mencemari lingkungan. Kasus „gunung sampah‟ yang
menghambat aliran Sungai Citarum di Bandung (Lestari, 2017), Jawa Barat adalah
bukti bahwa pengelolaan sampah di Indonesia masih rendah bahkan sampah tersebut
tidak dipilah dulu sebelumnya sehingga menyumbat aliran air dan membunuh
ekosistem yang ada didalam sungai.

Selanjutnya, isu alih fungsi lahan pertanian juga turut mewarnai dinamika
ekologi politik Indonesia. Alih fungsi lahan pernah terjadi didaerah Bekasi yakni
penyusutan lahan pertanian sekitar 1500 hektar/tahun sejak tahun 2009. Sementara
pada akhir tahun 2017, penyusutannya sudah mencapai 48.000 hektar. Data tersebut
didapatkan dari Dinas Kabupaten Bekasi, melalui dinas tersebut juga terdapat
informasi bahwa penyusutan tersebut akibat alih fungsi lahan dari daerah pertanian
menjadi lahan pemukiman elit yang tidak mensejahterahkan masyarakat sekitar.

16
Dampak lain terhadap alih fungsi lahan yang terjadi adalah tersumbatnya saluran
irigasi warga karena terhalang dengan bangunan pemukiman.
⦁ Analisis 3 pilar konsep pembangunan berkelanjutan di China (Negara maju)

1. Pertumbuhan ekonomi
Sebagai negara dengan populasi terbanyak didunia, China memiliki tingkat
populasi sebesar 0,59% per tahun. Kondisi ini sangat memengaruhi banyak sektor di
China baik, dari segi politik, sosial, maupun ekonominya. Pada tahun 1950, China
memutuskan untuk mendirikan sektor industrialisasi secara menyeluruh. Gebrakan ini
juga ternyata memengaruhi kondisi sosial masyarakatnya, semenjak sektor industri
mulai berkembang, muncul pula ideologi yang memaksa rakyat China untuk
meninggalkan kebiasaan buruk seperti korupsi serta menolak hal-hal yang berbau
westernisasi karena dapat menghambat etos kerja dan aktivitas ekonomi masyarakat
China.

China memisahkan sektor produksi menjadi dua yakni, sektor agrikultur dan
nonagrikultur. Kemudian, langkah selanjutnya adalah melegitimasi pemisahan
perusahaan milik negara dan milik swasta, hal ini dilakukan dengan harapan bahwa
keuntungan yang didapatkan untuk negara bisa maksimal karena dengan
diresmikannya perusahaan swasta, perusahaan tersebut tidak akan terikat banyak
peraturan yang bisa menghambat aktivitas ekonomi maupun produksinya. Akan
tetapi, Pemerintah China memberlakukan kebijakan bahwa proteksi atas segala sektor
yang dimiliki oleh warga negaranya adalah tanggung jawab negara dan akan selalu
dilindungi sehingga keseimbangan dan keamanan baik dari pihak swasta maupun
pihak pemerintah bisa berjalan secara harmonis. Faktor kepedulian Pemerintah China
ini akhirnya berimplikasi terhadap kemajuan ekonomi China dan China bisa menjadi
kiblat bagi seluruh negara di Asia dalam pengembangan ekonomi berskala
internasional.

2. Inklusi Sosial

17
Seperti pada pembahasan sebelumnya, diketahui bahwa pertumbuhan manusia di
China sangat pesat dan paling tinggi didunia, hal ini juga nampaknya sejalan dengan
kemajuan ekonominya. Akan tetapi, menurut menurut data di Riding the Wave: An
East Asian Miracle for the 21st Century menyatakan bahwa kesenjangan di China
sangat tinggi karena jumlah warga miskin sangat banyak. Kesenjangan ekonomi ini
akhirnya membuat kesenjangan social terutama hubungan sosial antar sesama
masyarakatnya. Selanjutnya, kesenjangan ini semakin diperburuk dengan maraknya
tindak diskriminasi terhadap warga miskin di China yang berusaha untuk mengakses
layanan publik. Bahkan dalam beberapa kasus, diskriminasi ini bisa berujung pada
tindak kriminal. Inklusi sosial di China ternyata tidak dipengaruhi oleh pertumbuhan
ekonominya yang dinilai telah berhasil, justru faktor kemiskinan disana bias
mengancam keamanan dan keselamatan warganya.

3. Perlindungan lingkungan
Pada tahun 2016, pihak yang berwenang terhadap masalah lingkungan di China
mengabarkan bahwa 23 kota di wilayah utara mengeluarkan tanda bahaya karena
karena tingginya ancaman polusi udara (Sagol, 2016). Sebelumnya, China pernah
mengeluarkan peringatan bahaya kabut asap pertama diwilayah Beijing pada desember
2015. Fenomena kabut asap tersebut ternyata berasal dari gas-gas ataupun limbah
udara hasil aktivitas industry di China. Banyaknya limbah membuat kabut hitam pekat
melanda sebagian besar kota di China. Akibat asap tersebut, banyak warga China yang
menderita sesak napas dan penyakit paru-paru karena saluran pernapasannya
terkontaminasi. Melalui peristiwa ini, terlihat bahwa terjadi ketidakseimbangan antara
padatnya aktivitas industri dengan kualitas udara yang dihirup masyarakat sehingga
perlindungan lingkungan yang ramah tidak bisa didapatkan oleh warga China selama
beberapa tahun terkahir.

⦁ Strategi pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia

18
Perubahan ekosistem lingkungan yang paling utama disebabkan oleh perilaku
masyarakat yang kurang baik dalam pemanfaatan sumber-sumber daya dalam rangka
memenuhi kebutuhan hidupnya.Hal inilah yang menyebabkan adanya perubahan
ekosistem.Perubahan ekosistem suatu lingkungan terjadi dengan adanya kegiatan
masyarakat seperti pemanfaatan lahan yang dijadikan sebagai daerah pertanian sehingga
dapat mengurangi luas lahan lainnya. Adanya pertambahan jumlah penduduk dalam
memanfaatkan lingkungan akan membawa dampak bagi mata rantai yang ada dalam suatu
ekosistem.

Selain itu kerusakan hutan yang terjadi karena adanya penebangan dan kebakaran
hutan dapat mengakibatkan banyak hewan dan tumbuhan yang punah.Padahal hutan
merupakan sumber kehidupan bagi sebagian masyarakat yang berfungsi sebagai penghasil
oksigen, tempat penyedia makanan dan obat-obatan. Jumlah kerusakan flora dan fauna
akan terus bertambah dan berlangsung lama jika dalam penggunaannya masyarakat tidak
memperhatikan keseimbangan terhadap ekosistem lingkungan. Dampak dari perubahan
ekosistem akan berkurang jika masyarakat mengetahui dan memahami fungsi dari suatu
ekosistem tersebut. Kerusakan ekosistem membawa dampak bukan hanya pada
keanekaragaman terhadap flora dan fauna juga dapat mmbawa pengaruh lain terhadap
masyarakat itu sendiri seperti longsor, banjir dan erosi. Selain itu kerusakan lingkungan
bisa di sebabkan oleh sampah.Sampah yang semakin banyak dapat menimbulkan
penguapan sungai dan kehabisan zat asam yang sangat dibutuhkan bagi mikroorganisme
yang hidup di sungai.Serta dapat pula disebabkan dari pembuangan limbah cair dari kapal
dan pemanfaatan terhadap penggunaan air panas yang dapat menimbulkan laut menjadi
tercemar.

Pada umumnya permasalahan dalam pengelolaan sumber daya alam agar tetap
lestari maka dapat dilakukan usaha atau upaya atau suatu strategi sebagai berikut:

⦁ Menerapkan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan pada pengelolaan


sumber daya alam baik yang dapat maupun yang tidak dapat diperbaharui dengan
memperhatikan daya dukung dan daya tampungnya.

19
⦁ Untuk menghindari terjadinya pencemaran lingkungan dan kerusakan sumber
daya alam maka diperlukan penegakan hukum secara adil dan konsisten.

⦁ Memberikan kewenangan dan tanggung jawab secara bertahap terhadap


pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup.

⦁ Untuk mengetahui keberhasilan dari pengelolaan sumber daya alam dan


lingkungan hidup dengan penggunaan indikator harus diterapkan secara efektif.

⦁ Penetapan konservasi yang baru dengan memelihara keragaman konservasi yang


sudah ada sebelumnya.

⦁ Mengikutsertakan masyarakat dalam rangka menanggulangi permasalahan


lingkungan global.

⦁ Menjaga kawasan tangkapan hujan seperti kawasan pegunungan yang harus selalu
hijau karena daerah pegunungan merupakan sumber bagi perairan di darat.

⦁ Untuk mengurangi aliran permukaan serta untuk meningkatkan resapan air


sebagia air tanah, maka diperlukan pembuatan lahan dan sumur resapan.

⦁ Reboisasi di daerah pegunungan, dimana daerah tersebut berfungsi sebagai


reservoir air, tata air, peresapan air, dan keseimbangan lingkungan.

⦁ Sebelum melakukan pengolahan diperlukan adanya pencegahan terhadap


pembuangan air limbah yang banyak dibuang secara langsung ke sungai.

⦁ Adanya kegiatan penghijauan di setiap tepi jalan raya, pemukiman penduduk,


perkantoran, dan pusat-pusat kegiatan lain.

⦁ Adanya pengendalian terhadap kendaraan bermotor yang memiliki tingkat


pencemaran tinggi sehingga menimbulkan polusi.

⦁ Memperbanyak penggunaan pupuk kandang dan organik dibandingkan dengan

20
penggunaan pupuk buatan sehinnga tidak terjadi kerusakan pada tanah.

⦁ Adanya pengendalian terhadap penggunan sumber daya alam secara berlebihan.

Adapun cara lain dalam melakukan pengolaan lingkungan terhadap tingkat


pencemaran dan kerusakan lingkungan, dapat dikurangi dengan cara melakukan
pengembangan usaha seperti mendaur ulang bahan-bahan yang sebagian besar orang
menganggap sampah, sebenarnya dapat dijadikan barang lain yang bisa bermanfaat dan
tentunya dengan pengolahan yang baik. Pengelolaan limbah sangat efisien dalam upaya
untuk mengatasi masalah lingkungan. Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam
pengelolaan limbah dengan menggunakan konsep daur ulang adalah sebagai berikut:

⦁ Melakukan pengelompokan dan pemisahan limbah terlebih dahulu.

⦁ Pengelolaan limbah menjadi barang yang bermanfaat serta memilki nilai


ekonomis.

⦁ Dalam pengolahan limbah juga harus mengembangkan penggunaan teknologi.

Strategi pengelolaan lingkungan hidup haruslah diterapkan dengan baik agar


perubahan lingkungan hidup dapat di tahan selama mungkin dan tentunya hal ini harus
dilakukan dengan disiplin yang tinggi juga. Jika dilakukan dengan penuh kesadaran dan
juga disiplin, maka bukan tidak mungkin lingkungan akan pulih secara perlahan-lahan.
Pada prinsipnya, terdapat empat jenis strategi pengelolaan lingkungan yang dapat
digunakan demi lestarinya lingkungan hidup. Keempat strategi ini dapat digunakan di
mana saja dan tentunya lebih cepat dan disiplin dalam menerapkan strategi ini maka akan
lebih baik.

Strategi pertama adalah pengelolaan lingkungan secara rutin. Di sini maksudnya


adalah pengelolaan lingkungan yang telah direncanakan haruslah dilaksanakan sesuai
dengan rencana. Selain itu, pengelolaan ini juga haruslah dilakukan secara terus menerus
dan tidak terputus ditengah jalan. Rasanya memang mudah untuk dilakukan, namun
kenyataannya hal ini cukup sulit untuk dilakukan terutama jika akan dilakukan pada skala

21
yang cukup besar dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Membiasakan diri dengan
program pelestarian lingkungan secara rutin dapat dimulai dari masing-masing individu.

Strategi kedua adalah perencanaan yang lebih awal dan lebih cepat didalam
mengelola satu lingkungan. Di dalam mengelola lingkungan, terdapat begitu banyak
individu yang melihat adanya masalah dengan lingkungan mereka. Namun sayangnya,
mereka ini kurang tanggap di dalam mengatasi masalah yang telah terbentang di depan
mata. Banyak invdividu yang tidak dengan cepat mengajukan program pengelolaan
lingkungan yang berakibat pada rusaknya satu lingkungan. Mencegah akan lebih baik
daripada mengobati, maka dari itu, perencanaan dini akan lebih baik di dalam
menanggulangi masalah lingkungan.

Strategi ketiga adalah pengelolaan lingkungan dengan memperhitungkan dampak


yang akan terjadi. Ini merupakan langkah penting yang harus diambil oleh berbagai
individu yang ingin membangun satu bangunan baru yang misalnya digunakan untuk
pabrik. Perencanaan akan sangat diperlukan mengingat setiap bangunan yang digunakan
oleh berbagai individu akan memiliki sejumlah limbah yang tidak baik bagi lingkungan
terutama jika tidak dikelola dengan baik. Perencanaan tentunya ditikberatkan kepada
pengelolaan limbah dan memperkecil besarnya dampak pada lingkungan.

Strategi keempat adalah pengelolaan lingkungan untuk perbaikan. Hal ini dilakukan
karena alasan yang jelas yaitu lingkungan yang telah menjadi rusak akibat tangan-tangan
manusia yang kurang bertanggung jawab ataupun karena satu kerusakan alami yang
disebabkan oleh bencana alam. Di dalam memulai rencana ini, akan ada beberapa hal
yang perlu untuk dipikirkan lebih lanjut sebelum dimulainya proses pemulihan.

⦁ Analisa agroekosistem

Tanaman merupakan mahluk hidup yang pertumbuhan dan perkembangannya


sangat bergantung pada faktor biotik dan abiotik disekitar tanam. Faktor abiotik biasanya
meliputi tanah, suhu, air, cahaya sedangkan faktor biotik meliputi hama, patogen,

22
mikroorganisme lain dan manusia. Interaksi atau hubungan timbal balik antara faktor
biotik dan faktor abiotik disebut dengan ekosistem. Peningkatan faktor biotik disuatu
lingkungan bisa dipengaruhi oleh faktor abiotik. Misalkan musim kemarau dapat
meningkatkan banyaknya hama yang muncul sehingga bisa mengancam tanaman yang
sedang dibudidayakan.

Hamparan luas dalam suatu area yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik yang
saling berinteraksi kemudian diolah sedemikian rupa oleh manusia untuk usaha pertanian
guna memenuhi kebutuhan pangan dikenal dengan agroekosistem. Agroekosistem inilah
yang harus dijaga kelestariannya demi kelangsungan generasi berikutnya. Hal ini
disebabkan karena kerusakan-kerusakan yang terjadi di alam atau di agroekosistem akibat
penerapan sistem budidaya yang kurang tepat.

Masyarakat dapat mengambil segala sesuatu hasil pertanian yang ditanam disuatu
agroekosistem secara langsung ataupun terlebih dahulu mengolah atau memodifikasinya.
Jadi suatu agroekosistem sudah mengandung campur tangan masyarakat yang merubah
keseimbangan alam atau ekosistem untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Pendekatan agroekosistem yang berbasis pada ekologi berusaha menanggulangi
kerusakan lingkungan akibat penerapan sistem pertanian yang tidak tepat dan pemecahan
masalah pertanian spesifik akibat penggunaan masukan teknologi. Salah satu upaya atau
strategi pemecahan masalah dalam agroekosistem adalah pada komponen-komponennya
secara terpadu. Misalkan pengendalian hama dengan menggunakan perangkap yang
ramah lingkungan. Hal ini tentu menjadi salah satu cara efektif agar hama tersebut
berkurang, tanaman tetap berproduksi dan dapat dinikmati oleh masyarakat serta kondisi
lingkungan tetap lestari atau terjaga.

Agroekosistem atau ekosistem pertanian merupakan suatu kesatuan lingkungan


pertanian yang tersusun dari komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi serta
manusia dengan sistem sosialnya yang tidak dapat dipisahkan dengan komponen-
komponen tersebut. Pengertian ekosistem pertanian yang paling sederhana dan mudah
dimengerti oleh petani adalah hubungan timbal balik antara komponen biotik dan abiotik

23
serta manusia pada suatu lingkungan pertanian.

Pendekatan pertanian berwawasan lingkungan adalah pendekatan yang dimulai


dengan pendekatan ekosistem.Pendekatan ekosistem pertanian selanjutnya dikenal
sebagai agroekosistem menekankan dua prinsip dasar akibat penerapan teknologi.
Agroekosistem berasal dari kata sistem, ekologi dan agro. Sistem adalah suatu kesatuan
himpunan komponen-komponen yang saling berkaitan dan pengaruh-mempengaruhi
sehingga di antaranya terjadi proses yang serasi. Ekologi adalah ilmu tentang hubungan
timbal balik antara organisme dengan lingkungannya. Sedangkan ekosistem adalah
sistem yang terdiri dari komponen biotic dan abiotik yang terlibat dalam proses bersama
(aliran energi dan siklus nutrisi).

Pengertian Agro adalah Pertanian dapat berarti sebagai kegiatan produksi/industri


biologis yang dikelola manusia dengan obyek tanaman dan ternak. Pengertian lain dapat
meninjau sebagai lingkungan buatan untuk kegiatan budidaya tanaman dan ternak.
Pertanian dapat juga dipandang sebagai pemanenan energi matahari secara langsung atau
tidak langsung melalui pertumbuhan tanaman dan ternak.

Analisis agroekosistem (AAES), merupakan kegiatan terpenting dalam pengelolaan


hama dan penyakit terpadu, kegiatan ini dapat dianggap sebagai teknik pengamatan
terhadap hal yang mendasari petani dalam membuat keputusan-keputusan pengelolaan
lahan pertaniannya. Keputusan pengelolaan tersebut misalnya kegiatan sanitasi,
pemangkasan , pemupukan, teknik pengendalian. Kegiatan AAES mengharuskan
melakukan sejumlah pengamatan sejumlah faktor sebelum membuat keputusan
perlindungan tanaman. Faktor tersebut antara lain hama, cuaca, penyakit, air, musuh
alami,kondisikebun,serangga netraL, Gulma.

Komponen agroekosistem dan interaksinya terdiri dari Tanah, biota tanah , vegetasi,
manusia, teknologi, nutrisi / pemupukan , pestisida, Hewan ternak, Sungai / air. Dalam
komponen agroekosistem di atas saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Tanah
komponen sumberdaya alam yang mencakup semua bagian atas permukaan bumi,
termasuk yang di atas dan di dalamnya yang terbentuk dari bahan induk yang dipengaruhi

24
kinerja iklim dan biota tanah. Tanah yang diberikan pestisida kimia yang berlebihan dapat
membuat tanah kekurangan nutrisi, musuh alami menjadi berkurang, dan ledakan hama.
Agroekosistem memiliki beberapa aspek yang dapat mendukung terciptanya
keseimbangan agroekosistem, yaitu meliputi :

⦁ Produktivitas (Productivity)

Apabila produktifitas dari suatu agroekosistem itu tinggi maka hendaknya kebutuhan
hidup bagi manusia akan terpenuhi, dan sepantasnya untuk diupayakan kondisi
agroekosistem yang lestari. Namun, pada kenyataannya upaya konservasi terhadap
agroekosistem itu jarang sekali dilakukan. Seharusnya disusun suatu model
pendekatan agroekosistem yang di desain untuk pencegahan dan pengendalian
terjadinya kemerosotan kualitas sumberdaya lahan dan lingkungan dan tetap
mernpertahankan produktivitas pertanian.

⦁ Stabilitas (Stability)

Stabilitas diartikan sebagai tingkat produksi yang dapat dipertahankan dalam kondisi
konstan normal, meskipun kondisi lingkungan berubah. Suatu sistem dapat dikatakan
memiliki kestabilan tinggi apabila hanya sedikit saja mengalami fluktuasi ketika
sistem usaha tani tersebut mengalami gangguan. Sebaliknya, sistem itu dikatakan
memiliki kestabilan rendah apabila fluktuasi yang dialami sistem usaha tani tersebut
besar. Produktifitas menerus yang tidak terganggu oleh perubahan kecil dari
lingkungan sekitarnya. Fluktuasi ini mungkin disebabkan karena perubahan iklim atau
sumber air yang tersedia, atau kebutuhan pasar akan bahan makanan.

Kemampuan agroekosistem untuk memelihara produktifitas ketika ada gangguan


besar. Gangguan utama ini berkisar dari gangguan biasa seperti salinasi tanah,
sampai ke yang kurang biasa dan lebih besar seperti banjir, kekeringan atau
terjadinya introduksi hama baru. Aspek keberlanjutan sebenarnya mengacu pada
bagaimana mempertahankan tingkat produksi tertentu dalam jangka panjang.

25
⦁ Pemerataan (Equitability)

Aspek Ekuitabilitas digunakan untuk menggambarkan bagaimana hasil-hasil


pertanian dinikmati oleh segenap lapisan masyarakat. Contoh apabila suatu sistem
usaha tani dapat dikatakan memiliki suatu ekuitabilitas atau pemerataan sosial yang
tinggi apabila penduduknya memperoleh manfaat pendapatan, pangan, dan lain-lain
yang cukup merata dari sumber daya yang ada. Indikatornya antara lain rata-rata
keluarga petani memiliki akses lahan yang luasnya tidak terlalu berbeda atau senjang.
Pemerataan biasanya diukur melalui distribusi keuntungan dan kerugian yang terkait
dengan produksi barang dan jasa dari agroekosistem.

Agroekosistem adalah suatu kawasan tempat membudidayakan makhluk hidup


tertentu meliputi apa saja yang hidup di dalamnya serta material lain yang saling
berinteraksi. Agar lebih mudah dipahami, dapat diartikan lahan pertanian dalam arti luas,
termasuk kedalamnya hutan produksi dengan komoditas tanaman industry (HTI),
kawasan peternakan dengan lading penggembalaan serta tambak-tambak ikan.

Agroekosistem adalah satuan fungsi dan struktur yang ada dalam proses pertanian
atau bercocok tanam yang bertujuan untuk mencapai hasil yang maksimal, dan dalam
rangka untuk memenuhi kebutuhan manusia (sandang, pangan, dan papan). Keberhasilan
suatu sistem pertanian tidak hanya ditentukan oleh hasil yang diperoleh tetapi juga
didasarkan pada berbagai komponen baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang
atau biasa disebut dengan analisis agroekosistem.

Berdasarkan proses pembentukannya, ekosistem dibagi menjadi dua, yaitu


Ekosistem Alami dan Ekosistem Pertanian / Agroekosistem. Ekosistem Alami merupakan
ekosistem yang proses pembentukan dan perkembangannya terjadi tanpa ada campur
tangan manusia, sedangkan Agroekosistem merupakan ekosistem yang proses
pembentukan dan perkembangannya terjadi karena ada campur tangan manusia.

⦁ Penerapan pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan tangkap

26
di indonesia

Penerapan pendekatan Ekosistem membantu untuk menyeimbangkan tiga tujuan


konservasi Konvensi Keanekaragaman Hayati; pemanfaatan secara berkelanjutan; dan
pembagian yang adil dan merata dari keuntungan yang dihasilkan dari pemanfaatan
sumber daya genetik. Akibatnya, pendekatan Ekosistem dapat dianggap sebagai cara
untuk menerapkan pembangunan berkelanjutan, konsep yang menggantikan kebijakan
sebelumnya pembangunan berdasarkan pertumbuhan ekonomi saja. Pembangunan
berkelanjutan didefinisikan oleh Brundtland (1987) sebagai: "Pembangunan yang
memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang
untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri."

Manfaat manajemen EAFM (SEAFDEC 2015), meliputi:

1. pertimbangan yang lebih luas dari hubungan antara ekosistem dan perikanan;

2. kontribusi bagi perencanaan penggunaan sumber daya yang lebih efektif;

3. fasilitasi trade-off antara prioritas pemangku kepentingan yang berbeda,


menyeimbangkan manusia dan kebutuhan ekologis;

4. partisipasi stakeholder meningkat yang mengarah ke: (1) perencanaan yang lebih baik
dari sumber daya menggunakan; dan

5. penggunaan yang lebih adil dari sumber daya alam (baik perikanan dan non-perikanan
terkait);

6. bantuan dengan menyeimbangkan produksi ikan dengan konservasi keanekaragaman


hayati dan habitat perlindungan;

7. bantuan dengan menyelesaikan atau mengurangi konflik antara para pemangku


kepentingan;

8. pengakuan yang lebih besar dari nilai-nilai budaya dan tradisional dalam pengambilan
keputusan;

9. memungkinkan untuk skala yang lebih besar, masalah jangka panjang untuk diakui
dan dimasukkan ke dalam perikanan dan pengelolaan sumber daya pesisir (misalnya
implikasi jangka panjang dari perubahan iklim dan pengasaman laut, degradasi
habitat, pertumbuhan penduduk, pembangunan ekonomi, globalisasi, dll).

27
Pembangunan berkelanjuatan diterima secara luas bahwa "kesejahteraan" adalah sebuah
konsep yang mengacu pada keadaan sistem (misalnya ekosistem atau sistem sosial).
Aspek-aspek tertentu dari dua dimensi kesejahteraan dan apa yang dimaksud dengan tata
kelola yang baik adalah sebagai berikut:

1. Kesejahteraan Ekologi, berkaitan dengan ekosistem laut dan pesisir, terdiri dari
sedikitnya lima aspek utama: (a) Ekosistem yang sehat memaksimalkan barang dan
jasa ekosistem; (b) keanekaragaman hayati yang mengarah ke ketahanan ekosistem;
(c) struktur yang mendukung ekosistem dan habitat (termasuk DAS terhubung.); (d)
lautan sehat, daerah pesisir dan daerah aliran sungai; dan (e) jaring makanan
berdasarkan berbagai sumber produksi primer. Kesehatan ekosistem sering
dinyatakan dengan menggunakan indikator dalam hal karakteristik terukur yang
menggambarkan: (i) proses kunci yang menjaga ekosistem yang stabil dan
berkelanjutan (misalnya ada tidak adanya ganggang biru-hijau); (ii) zona dampak
manusia tidak memperluas atau memburuk (misalnya pengurangan batas spasial
limbah nitrogen); dan (iii) habitat kritis tetap utuh (misalnya padang lamun).

2. Kesejahteraan Manusia, mengacu pada semua komponen manusia yang tergantung


pada, dan mempengaruhi, ekosistem. Kesejahteraan manusia mencerminkan
berbagai kegiatan atau prestasi yang merupakan kehidupan yang baik. Hal ini juga
diterima bahwa kesejahteraan adalah konsep multidimensional yang mencakup
semua aspek kehidupan manusia. Penghasilan, dengan sendirinya, meskipun
komponen penting, bisa tidak cukup menangkap luas atau kompleksitas
kesejahteraan manusia. Delapan aspek kesejahteraan manusia adalah: (a) Standar
bahan hidup (pendapatan, makanan dan kekayaan); (b) Kesehatan; (c) Pendidikan;
(d) Kegiatan Pribadi (rekreasi dan pekerjaan); (e) Suara politik dan pemerintahan;
(f) Hubungan sosial dan hubungan; Lingkungan Hidup (kondisi sekarang dan masa
depan); dan (g) Keamanan Ekonomi dan keselamatan manusia. Aspek-aspek
tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa mengukur kesejahteraan manusia
melampaui laporan subjektif diri dan persepsi, dan harus mencakup ukuran yang

28
objektif dari tingkat rakyat "set kesempatan" dan kapasitas mereka (atau kebebasan)
untuk memilih dari peluang tersebut dalam kehidupan mereka nilai. Kedua faktor
obyektif dan subyektif yang penting dalam pengukuran delapan aspek yang
tercantum di atas.

3. Tata Kelola yang baik, mengacu pada institusi dan pengaturan yang efektif untuk
menetapkan dan menerapkan aturan dan peraturan. Singkatnya, tata kelola yang
baik terkait dengan kepengurusan di mana individu, organisasi, komunitas dan
masyarakat berusaha untuk mempertahankan kualitas ekosistem yang sehat dan
tangguh dan populasi manusia yang terkait. Stewardship mengambil pandangan
jangka panjang dan mempromosikan kegiatan yang menyediakan untuk
kesejahteraan kedua ini dan masa depan generasi. Manajemen berbasis ekosistem
(MBE) sering digunakan bergantian dengan PE, tetapi dalam beberapa konteks,
lebih memfokuskan pada dimensi ekologi/lingkungan pembangunan berkelanjutan.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar yang dikaruniai dengan ekosistem


perairan tropis memiliki karakterstik dinamika sumber daya perairan, termasuk di
dalamnya sumber daya ikan, yang tinggi. Tingginya dinamika sumberdaya ikan ini tidak
terlepas dari kompleksitas ekosistem tropis (tropical ecosystem complexities) yang telah
menjadi salah satu ciri dari ekosistem tropis. Dalam konteks ini, pengelolaan perikanan
yang tujuan ultimatnya adalah memberikan manfaat sosial ekonomi yang optimal bagi
masyarakat tidak dapat dilepaskan dari dinamika ekosistem yang menjadi media hidup
bagi sumberdaya ikan itu sendiri. Gracia and Cochrane (2005) memberikan gambaran
model sederhana dari kompleksitas sumberdaya ikan sehingga membuat pendekatan
terpadu berbasis ekosistem menjadi sangat penting.

Pada Gambar 2 disajikan model sederhana dari interaksi antar komponen dalam
ekosistem yang mendorong pentingya penerapan pendekatan ekosistem dalam
pengelolaan perikanan (EAFM). Dari Gambar 2 dapat dilihat bahwa interaksi antar
komponen abiotik dan biotik dalam sebuah kesatuan fungsi dan proses ekosistem perairan
menjadi salah satu komponen utama mengapa pendekatan ekosistem menjadi sangat

29
penting.

Interaksi bagaimana iklim mempengaruhi dinamika komponen abiotik,


mempengaruhi komponen biotik dan sebagai akibatnya, sumberdaya ikan akan turut
terpengaruh, adalah contoh kompleksitas dari pengelolaan sumberdaya ikan. Apabila
interaksi antar komponen ini diabaikan, maka keberlanjutan perikanan dapat dipastikan
menjadi terancam. Pada Gambar 2 juga dijelaskan bahwa EAFM sesungguhnya bukan hal
yang baru. EAFM merupakan pendekatan yang ditawarkan untuk meningkatkan kualitas
pengelolaan yang sudah ada (conventional management). Pada Gambar tersebut, proses
yang terjadi padaconventional management digambarkan melalui garis tebal, sedangkan
pengembangan dari pengelolaan konvensional tersebut melalui EAFM digambarkan
melalui garis putus-putus. Sebagai contoh, pada pengelolaan konvensional kegiatan
perikanan hanya dipandang secara parsial bagaimana ekstraksi dari sumberdaya ikan yang
didorong oleh permintaan pasar. Dalam konteks EAFM, maka ekstraksi ini tidak bersifat
linier namun harus dipertimbangkan pula dinamika pengaruh dari tingkat survival habitat
yang mensupport kehidupan sumberdaya ikan itu sendiri.

Menurut Gracia and Cochrane (2005), sama dengan pendekatan pengelolaan


konvensional, implementasi EAFM memerlukan perencanaan kebijakan (policy
planning), perencanaan strategi (strategic planning), dan perencanaan operasional
manajemen (operational management planning). Perencanaan kebijakan diperlukan dalam
konteks makro menitikberatkan pada pernyataan komitmen dari pengambil keputusan di
tingkat nasional maupun daerah terkait dengan implementasi EAFM. Dalam perencanaan
kebijakan juga perlu dimuat pernyataan tujuan dasar dan tujuan akhir dari implementasi
EAFM melalui penggabungan tujuan sosial ekonomi dan pertimbangan lingkungan dan
sumberdaya ikan. Selain itu, dalam perencanaan kebijakan juga ditetapkan mekanisme
koordinasi pusat dan daerah, koordinasi antar sektor, dan hubungan antara regulasi
nasional dan internasional terkait dengan implementasi EAFM secara komprehensif.

Sementara itu, perencanaan strategi (strategies planning) lebih menitikberatkan pada


formulasi strategi untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan pada rencana
kebijakan (policy plan). Strategi yang dipilih bisa saja berasal dari kesepakatan strategi

30
yang berlaku secara umum baik di level nasional maupun internasional misalnya
pengurangan non-targeted fish dan by-catch practices; penanggulangan pencemaran
perairan; pengurangan resiko terhadap nelayan dan sumberdaya ikan; penetapan kawasan
konservasi, fish refugia site approach, dan lain sebagainya.

Smith and Zang (2008) menyebutkan "seafood berkelanjutan" adalah semua


langkah yang dilakukan agar populasi spesies ikan yang sedang dikelola dengan cara yang
dapat menyediakan kebutuhan hari ini tanpa merusak kemampuan spesies untuk
mereproduksi dan mempertahankan populasi berlimpah untuk generasi masa depan
konsumen. Langkah yang dilakukan untuk menuju Pengelolaan Sumber Daya Air yang
Berkelanjutan dimulai dengan menentukan sebagian besar masalah utama perairan dan
indikator. Tujuan jangka panjang dari Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan
termasuk pengembangan prinsip-prinsip, kriteria dan indikator untuk mendukung
pengambilan keputusan dan identifikasi peluang untuk kolaborasi.

Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan menekankan pada perlunya


kolaborasi dan komitmen untuk interdisipliner, antar-yurisdiksi, dan kolaborasicross-
ownership yang mengidentifikasi dan mendukung baik di tingkat nasional, provinsi,
kabupaten/kota, dan wilayah pengelolaan sumberdaya perairan.

Langkah dalam pergerakan prinsip-prinsip menuju aksi:

1. Dari prinsip untuk tujuan kebijakan

Terjemahan dimulai dengan mengubah prinsip-prinsip tingkat tinggi membimbing


ke tujuan kebijakan. Banyak dari prinsip-prinsip yang mendasari berharga EAFM
begitu generik yang mereka dapat benar-benar dicapai dalam arti praktis. Selain itu,
banyak dari karakteristik ekosistem, seperti kesehatan ekosistem, integritas,
ketahanan sulit untuk mengukur konsep yang tidak sepenuhnya dipahami dan sulit
diterapkan dalam praktek. Prinsip-prinsip ini sering dimasukkan dalam tujuan
kebijakan-tingkat yang lebih tinggi, misalnya melestarikan keanekaragaman hayati,
mempertahankan habitat perikanan, melindungi penting fungsi rantai makanan dan

31
sebagainya, yang biasanya menjadi dasar kebijakan dan rencana nasional.

2. Dari tujuan kebijakan terhadap isu-isu dan tujuan pengelolaan

Tujuan kebijakan-tingkat yang lebih tinggi ini maka perlu dipecah menjadi tujuan
pengelolaan yang lebih spesifik. Hal ini dicapai dengan mengidentifikasi dan
memprioritaskan isu-isu dan kemudian mengembangkan tujuan manajemen untuk
setiap masalah. Pada tingkat operasional ini, prioritas dapat diatur melalui proses
penilaian risiko dan trade-off dan saldo dicapai melalui konsensus. Tujuan-tujuan
ini harus cukup spesifik bahwa satu atau tindakan manajemen lainnya dapat
mengatasi mereka dan keberhasilan (atau sebaliknya) dari intervensi ini dapat
dipantau dan dinilai.

3. Dari tujuan tindakan manajemen

Setiap tujuan pengelolaan dapat dicapai dengan pelaksanaan tindakan manajemen


(misalnya memperkenalkan batas pada jumlah kapal penangkap ikan, meningkatkan
ukuran mesh jaring, penanaman mangrove, memperkenalkan KKL, dll). Seringkali,
satu tindakan manajemen dapat mengatasi beberapa tujuan. Asalkan ada keterkaitan
yang baik antara tujuan tingkat tinggi kebijakan dan tujuan pengelolaan, tindakan
manajemen dalam rencana EAFM menerapkan kebijakan.

Rencana pengelolaan perikanan yang baik, setidaknya memiliki sifat:

1. Membuat prinsip-prinsip umum dan tingkat tujuan yang lebih tinggi: untuk prinsip-
prinsip EAFM secara umum efektif dan tujuan kebijakan tingkat yang lebih tinggi
perlu diterjemahkan ke dalam tujuan manajemen. Tujuan operasional merupakan
tujuan pengelolaan yang manajemen tepat. Misalnya, "Mempromosikan
pembangunan berkelanjutan perikanan" tidak dapat diatasi langsung oleh
manajemen, tetapi tujuan operasional "Mengurangi jumlah kapal nelayan" dapat
diatasi dengan ukuran manajemen.

2. Memberikan arahan: perencanaan memberikan arah yang jelas untuk kegiatan


manajemen. Ini memperkuat kepercayaan para pemangku kepentingan dan

32
mendorong mereka untuk bergerak sepanjang jalan yang dipilih, sementara juga
menjelaskan tindakan yang harus mereka ambil untuk mencapai tujuan.

3. Pertimbangkan program alternatif tindakan: perencanaan memungkinkan manajer


untuk memeriksa dan menganalisa program alternatif tindakan dengan pemahaman
yang lebih baik dari kemungkinan konsekuensi mereka.

4. Mengurangi ketidakpastian: Pasukan perencanaan manajer dan para pemangku


kepentingan untuk melihat melampaui keprihatinan langsung. Hal ini mendorong
mereka untuk menganalisis kompleksitas dan ketidakpastian lingkungan dan
berusaha untuk mendapatkan kontrol.

5. Minimalkan keputusan impulsif dan sewenang-wenang: perencanaan cenderung


untuk meminimalkan kejadian keputusan impulsif dan sewenang-wenang dan
tindakan ad hoc. Ini mengurangi kemungkinan kesalahan utama dan kegagalan dalam
tindakan manajerial. Ini menyuntikkan ukuran disiplin dalam pemikiran dan
tindakan.

6. Memberikan dasar untuk manajemen yang lebih baik: ia menyediakan dasar bagi
fungsi manajerial lainnya. Dengan demikian, perencanaan adalah fungsi sentral
sekitar yang fungsi lain (misalnya monitoring, kontrol dan pengawasan (MCS))
dirancang.

7. Sertakan respon adaptif: perencanaan cenderung untuk meningkatkan kemampuan


manajemen untuk beradaptasi secara efektif dan menyesuaikan kegiatan dan arah
dalam menanggapi perubahan yang terjadi di lingkungan eksternal.

8. Aktifkan tindakan proaktif: sementara adaptasi dilakukan sebagai reaksi dan respon
terhadap beberapa perubahan di dunia luar, tidak cukup dalam beberapa situasi.
Dalam pengakuan kenyataan ini, perencanaan merangsang manajemen untuk
memutuskan di muka pada tindakan apa yang harus diambil ketika sesuatu tidak
berjalan sesuai rencana (aturan kontrol).

9. Meningkatkan transparansi: membuat pengambilan keputusan yang transparan dan

33
tersedia bagi semua pemangku kepentingan.

Menurut Cochrane (2002), rencana strategi tersebut paling tidak juga memuat
instrument aturan main dan perangkat pengelolaan input dan output control yang disusun
berdasarkan analisis resiko terhadap keberlanjutan sistem perikanan itu sendiri.Sedangkan
rencana pengelolaan (management plan) menitikberatkan pada rencana aktivitas dan aksi
yang lebih detil termasuk di dalamnya terkait dengan aktivitas stakeholders, rencana
pengendalian, pemanfaatan dan penegakan aturan main yang telah ditetapkan dalam
rencana strategis. Dalam rencana pengelolaan, mekanisme monitoring dan pengawasan
berbasis partisipasi stakeholders juga ditetapkan.

⦁ Teori kekacauan ( chaos teory)

Dalam mitologi Yunani chaos merupakan keadaan awal kemunculan para dewa.
Konon kata chaos paling awal ditemukan pada buku Theogeny karya Hesoid, filsuf
Yunani yang hidup pada 700 tahun sebelum Masehi. Chaos sendiri dalam bahasa Yunani
berarti “membuka kehampaan”. Sebagai seorang sosok dewa, Chaos merupakan suatu
kehampaan yang menjadi tempat kemunculan objek-objek pertama. Objek awal tersebut,
dikenal sebagai anak-anak Chaos, yaitu Gaia, Tartarus, dan Eros, sebagian lain
menambahkan Nyx dan Erebus.

Dalam konteks sains, khususnya fisika dan matematika, chaos berarti suatu sistem
yang sangat sensitif terhadap gangguan. Artinya, gangguan sedikit saja terhadap sistem
chaos ini dapat menghasilkan perubahan yang besar. Fenomena ini populer dengan
sebutan efek kupu-kupu (Butterfly Effect). Dalam terminologi efek kupu-kupu, satu
kepakan sayap seekor kupu-kupu yang lemah dipercaya dapat menghasilkan badai
tornado di daerah yang berjarak ribuan km dari posisi kupu-kupu tersebut.

Teori chaos lahir dari rasa ingin tahu manusia terhadap yang akan datang. Kita
selalu menanyakan bagaimana sebuah sistem berubah dari waktu ke waktu. Di dalam
teori chaos manusia menemukan bahwa bahwa terkadang sebuah perubahan tidaklah
serumit sebagaimana ia terlihat. Bahkan dari sistem yang secara matematis sangat

34
sederhana sekalipun dapat dihasilkan pola-pola yang chaotik.

Chaos menunjukkan ketidakberaturan, kekacauan, keacakan atau kebetulan, yaitu:


gerakan acak tanpa tujuan, kegunaan atau prinsip tertentu. Alam semesta yang bersifat
dinamis ini kelihatannya bekerja melalui sistem yang linier, tetapi banyak juga yang tidak
bekerja secara linier dan tidak dapat dipahami melalui system linier, seperti awan, pohon,
garis pantai, ombak dan lain sebagainya, yang secara sekilas menampakkan acak dan
tidak teratur. Sistem seperti inilah yang dinamakan dengan teori chaos, yaitu suatu teori
yang berkaitan dengan proses alam yang nampaknya kacau, acak dan tidak linier (system
yang tidak dapat diprediksi berdasarkan kondisi awal). Seperti yang dikemukakan Dhani
bahwa teori chaos adalah teori yang menjelaskan gerakan atau dinamika yang kompleks
dan tidak terduga dari sebuah system yang tergantung dari kondisi awalnya. Lebih lanjut
Dhani mengemukakan bahwa walaupun berlangsung acak, system chaotic dapat
ditentukan secara matematis, hal ini disebabkan system chaotic mengikuti hukum-hukum
yang berlaku di alam. Hanya saja, karena sifatnya yang tidak teratur maka dilihat sebagai
peristiwa yang acak. Chaotik dapat ditemukan pada berbagai sistem umum, mulai dari
system yang sederhana seperti gerak pendulum sampai sistem yang kompleks seperti:
irama detak jantung, aktivitas listrik pada otak, dan lain sebagainya. Bahkan system
ekonomi seperti: pergerakan harga di bursa saham, kurs mata uang sampai harga minyak
mentah merupakan sistem chaotic.

Jadi, tidak seperti yang dipersepsikan banyak orang yang selalu mengaitkan chaos
dengan ketidakteraturan. Bahkan, di dalam chaos sekalipun tersimpan keteraturan.
Pendek kata, teori chaos sebenarnya bicara tentang keteraturan, bukan ketidakteraturan.

Jacques Hadamard pada tahun 1898 menerbitkan suatu tulisan tentang gerakan yang
tidak stabil atau acak dari suatu “arah peluru”. Ia menunjukkan bahwa semua arah peluru
yang ditembakkan dari senapan memiliki arah yang berbeda dan menyimpang satu sama
lainnya. Sementara itu istilah “chaos” dirumuskan pertama kali oleh Henri Poincaré
(1854 – 1912), seorang ahli matematika Perancis. Ia menemukan bukti bahwa system tata
surya tidak bekerja secara teratur dan dapat diprediksi dengan pasti. Ia mengungkapkan
bahwa dapat terjadi perbedaan kecil pada kondisi awal menghasilkan peristiwa yang

35
berdampak sangat besar. Sebuah kesalahan kecil pada permulaannya akan menghasilkan
penyimpangan yang lebih besar. Prediksi akan menjadi hal yang mustahil. Semula
gagasan Henri Poincaré tidak terlalu dihargai olehpara ilmuwan pada saat itu, sampai
penemuan computer yang memungkinkan para ahli membuat model dan menggambarkan
system chaostik.

Teori chaos pertama kali dicetuskan oleh seorang meteorologis bernama Edward
Lorenz pada tahun 1961. Teori chaos berusaha mencari bentuk keseragaman dari data
yang kelihatannya acak. Teori ini ditemukan secara tidak sengaja, Lorenz pada saat itu
sedang mencari penyebab mengapa cuaca tidak bisa diramalkan. Ia menggunakan bantuan
computer dan menggunakan 12 model rumusan. Program yang ia ciptakan tidak bisa
memprediksi cuaca, tetapi dapat menggambarkan seperti apa cuaca tersebut jika diketahui
titik awalnya. Suatu saat Lorenz ingin melihat hasil urutan model cuaca. Ia memulai dari
bagian tengah dan tidak dari awal. Untuk mempermudah, Lorenz memasukkan nilai
dengan 3 angka decimal (0,506), sementara angka dari urutan tersebut adalah 0,506127.
Karena pembulatan sudah benar, maka pola yang terbentuk dari kedua angka tersebut
seharusnya mirip, ternyata pola yang muncul semakin lama semakin berbeda dari
sebelumnya. Berdasarkan penemuan ini, Lorenz melakukan percobaan kembali, kali ini
model dibuat lebih sederhana dengan hanya 3 rumusan. Hasilnya data-data yang
ditampilkan kembali terlihat acak, tetapi ketika datadata tersebut dimasukkan dalam
bentuk grafik maka terciptalah fenomena yang disebut efek kupu-kupu (butterfly effect).
Suatu perbedaan kecil pada titik awal (hanya berbeda 0,000127) akan mengubah pola
secara keseluruhan (Kusmarni, 2008).

36
Gambar 1. Butterfly Effect

Fenomena inilah yang kemudian melahirkan teori chaos. Dari tulisan sebelumnya
kita sudah tahu kalau chaos adalah sistem yang memiliki ketergantungan yang sangat
peka terhadap kondisi awal. Hanya sedikit perubahan pada kondisi awal, dapat mengubah
secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. Jika suatu sistem dimulai dengan
kondisi awal 2 maka hasil akhir dari sistem yang sama akan jauh berbeda jika dimulai
dengan 2,000001 di mana 0,000001 sangat kecil sekali dan wajar untuk diabaikan. Atau
dengan kata lain: kesalahan yang sangat kecil akan menyebabkan bencana dikemudian
hari (Dhani, 2005).

Pada permulaan abad ke-20, yaitu pada masa hidup E. Lorentz, para ilmuwan masih
berkeyakinan bahwa walaupun sebuah sistem dapat “berperilaku” sangat liar, namun
suatu saat akhirnya sistem akan kembali pada kondisi kesetimbangan. Ini sesungguhnya
sangat bertentangan dengan prinsip chaos. Selain Lorentz, sebenarnya masih ada nama-
nama lain yang ikut berperan dalam perumusan teori chaos –œ diantaranya adalah B van
der Pol, Duffing, dan M He”„¢non. Tidak tertutup pula kemungkinan ada sederet nama

37
ilmuwan lain yang telah melihat fenomena chaos di sistem yang mereka miliki, namun
mereka tidak berani mempublikasikannya. Edward Lorenz sendiri pernah mendapat
reaksi negatif dari rekannya ketika ia dengan penuh semangat menjelaskan fenomena itu,
“Ed, alam di mana kita hidup tidak berperilaku seperti yang kau deskripsikan!” Kata
seorang profesor Fisika kepada E Lorenz.

Di lain pihak, ada juga seorang matematikawan bernama Stephen Smale yang
sebenarnya kontra terhadap teori chaos. Tetapi ketika ia membaca paper E Lorenz, ia
mulai berpikir tentang kemungkinan selain teorinya sendiri. Akhirnya, ia menciptakan
Pemetaan Sepatu Kuda (Horse-shoe map) yang sampai saat ini merupakan bentuk paling
sederhana dari sistem yang memuat skenario menuju chaos.

Pada dasarnya Teori Chaos adalah teori yang berkenaan dengan sistem yang tidak
teratur. Sistem semacam ini bisa kita temui pada objek-objek seperti awan, pohon, garis
pantai, ombak dsb. Sekilas, sistem-sistem tersebut nampak acak, tidak teratur dan anarkis.
Namun bila dilakukan pembagian (fraksi) atas bagian-bagian yang kecil, maka sistem
yang besar yang tidak teratur ini didapati sebagai pengulangan dari bagian-bagian yang
teratur. Secara statistik bisa dinyatakan bahwa Chaos adalah kelakuan stokastik dari
sistem yang deterministik. Sistem yang deterministik (sederhana, satu solusi) bila
ditumpuk-tumpuk akan menjadi sistem yang stokastik (rumit, solusi banyak).

Benoit Mandelbrot seorang ahli matematika dari IBM, menggunakan teknik


matematika yang lain, sebagai seorang ahli IBM, ia mencari dan menemukan “pola”
dalam beragam proses “acak” alamiah. Ia mulai dengan menyelidiki gejala yang tidak
dapat dijelaskan dari dunia alami, seperti transmisi gelombang radio, banjir di sungai Nil,
suara gemerisik (noise) yang melatarbelakangi transmisi telepon, yang semuanya itu
mengikuti satu pola yang sepenuhnya tidak dapat diramalkan atau chaos. Begitu juga
penemuannya yang berasal dari hasil analisisnya terhadap fluktuasi harga kapas. Ia
mengumpulkan dan menganalisa data harga harian dan bulanan harga kapas sejak tahun
1900 sampai tahun 1960-an. Hasil analisa fluktuasi harga tersebut tidak cocok dengan
Distribusi Normal dalam Statistik. Perubahan harga munculsecara acak dan tidak dapat
diprediksi. Tetapi, pola urutan perubahannya (harian dan bulanan) selalu sama, bahkan

38
tingkat variasi tidak mengalami perubahan berarti meskipun dunia mengalami dua kali
Perang Dunia dan satu kali Resesi global.

Helge von Koch, seorang ahli matematika

menemukan sisi lain dari teori chaos. Ia membuat suatu model matematika yang
kemudian dikenal sebagai “Kurva Koch”. Ia memulai dari satu segitiga, kemudian di
bagian tengah setiap sisi objek tersebut ditambahkan segitiga lagi, seperti gambar di
bawah ini :

Gambar 2. Fenomena Fraktal

Jika diperhatikan, bentuk yang tercipta mirip sekali dengan bunga es. Air yang
mengkristal menjadi es dan ketika mencair membentuk suatu pola kristal tertentu. Kurva
Koch dan Lorenz Attractor keduanya adalah fraktal. Rumusan fractal adalah persamaan
yang sebenarnya konstan, tetapi menghasilkan yang berbeda dan simetris. Rumus fractal
yang terkenal adalah himpunan Mandelbrot. Rumusnya adalah z = z² + c. Dengan
menggunakan computer IBM, Mandelbrot menghasilkan system chaos secara grafik dan
gambar grafik ini dikenal sebagai “himpunan Mandelbrot”. Dengan terus menerus
“memperbesar” skala dan “mencari detail” yang semakin lama semakin halus dapat
dilihat bahwa ada “pengulangan teratur” – “kemiripan” pada skala yang berbeda.
“Tingkat ketidakberaturan” yang sama pada skala yang berbeda, ia namakan “fractal”,
untuk menggambarkan pola yang terlihat di dalam ketidakberaturan itu. Berikut ini adalah

39
contoh grafik fractal Mandelbrot:

Gambar 3. Grafik Fraktal

Struktur fractal dapat ditemukan pada banyak hal seperti pembuluh darah yang terus
bercabang, ranting pohon yang juga bercabang, struktur bagian dalam paru-paru, pola
bunga es dan lain-lain. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa teori chaos berawal dari
ketidaksimetrisan, ketidakberaturan, kekacauan suatu hal yang kemudian melahirkan
suatu pola yang teratur dan pola yang berulang. Perubahan “kestabilan” atau perubahan
yang “dramatis” dalam dinamika suatu system akibat berubahnya nilai parameter dalam
suatu system, dinamakan bifurkasi. Bifurkasi ini tidak selalu berhubungan dengan
kompleksitas, tetapi terdapat beberapa jenis bifurkasi yang senantiasa berhubungan
dengan bertambahnya kerumitan suatu system yang pada akhirnya mengakibatkan kondisi
chaos. Johan Matheus mengemukakan bahwa salah satu jenis bifurkasi yang terkenal

40
adalah perioddoubling, yakni suatu gerakan periodic yang mengalami bifurkasi dan
“melontarkan” gerakan periodik lain yang periodenya dua kali lebih besar dari periode
semula. Kemudian masing-masing gerakan periodic itu mengalami bifurkasi lagi yang
sama dan begitu proses seterusnya. Masing-masing gerakan periodic yang terlontar
biasanya “tidak stabil”, akibatnya pada suatu nilai parameter tertentu akan sangat banyak
gerakan periodic yang tidak stabil dalam suatu system. Ketika hal ini terjadi, dinamika
system sudah sangat kompleks dan kondisi chaos terjadi lagi. Untuk itu agar kondisi
chaos tidak terjadi lagi Briggs & Peat mengemukakan tiga senjata untuk menghentikan
chaos, yaitu: kontrol, kreativitas dan komunikasi. Briggs & Peatmengemukakan bahwa
ketiga aspek ini membawa dan mendorong makna atau tujuan baru untuk menemukan
keteraturan dalam keadaan chaos, menemukan masalah yang tidak umum juga
menyelesaikannya, kemampuan membentuk kaitan-kaitan baru serta dapat
menyeimbangkan kreasi dan gagasan sehingga dapat memotivasi untuk menyelesaikan
tugas/masalah dengan baik.

41
BAB 3

PENUTUPAN

⦁ KESIMPULAN
Perubahan, kompleksitas, ketidakpastian, dan konflik selalu kita hadapi dalam
banyak aspek kehidupan. Keempatnya merupakan hal penting dalam pengelolaan sumber
daya alam dan lingkungan. Lahan gambut yang masih alami dapat berfungsi sebagai
penyerap karbon yang potensial, sebaliknya apabila gambut mengalami gangguan,
misalnya terbakar, karbon yang akan terlepas ke alam juga sangat besar. Perbedaan
pembangunan berkelanjutan antara Negara maju (China) dengan negara berkembang
(Indonesia) dapat di lihat dari indikator keseimbangan antara tiga pilar besar yakni,
pertumbuhan ekonomi, inklusi sosial, dan perlindungan lingkungan. Strategi pengelolan
hidup di indonesi yaitu pengelolaan lingkungan secara rutin,perencanaan yang lebih awal
dan lebih cepat didalam mengelola satu lingkungan, pengelolaan lingkungan dengan
memperhitungkan dampak yang akan terjadi, dan pengelolaan lingkungan untuk

42
perbaikan. Analisis agroekosistem merupakan kegiatan terpenting dalam pengelolaan
hama dan penyakit terpadu, kegiatan ini dapat dianggap sebagai teknik pengamatan
terhadap hal yang mendasari petani dalam membuat keputusan-keputusan pengelolaan
lahan pertaniannya. Pembangunan berkelanjutan yaitu Pembangunan yang memenuhi
kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk
memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Pada dasarnya Teori Chaos adalah teori yang
berkenaan dengan sistem yang tidak teratur.

⦁ SARAN
Kita memiliki sumber daya alam yang begitu berlimpah. Keadaan demikian harus kita
syukuri dan lestarikan dengan cara-cara seperti : sadar Dan peduli terhadap lingkungan total
(keseluruhan) dan segala masalah yang berkaitan dengannya , memecahkan berbagai masalah
lingkungan saat ini, dan mencengah timbulnya masalah baru.

Daftar Pustaka
http://anita-fisip10.web.unair.ac.id/artikel_detail-48223-Tugas%20PDB-Pembangunan%
20Berkelanjutan%20di%20Negara%20Berkembang.html

https://ariaturns.wordpress.com/2009/05/31/teori-kekacauan-apa-yang-kacau/

https://doaj.org/article/4e4da599f188488e81d97671fba1b5eb

http://faradlinam.blogspot.com/2011/04/perubahan-kompleksitas-ketidakpastian.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Proyek_lahan_gambut_satu_juta_hektar

https://jujubandung.wordpress.com/2012/09/22/strategi-pengelolaan-lingkungan-hidup/

https://nasional.tempo.co/read/20664/proyek-lahan-gambut-sejuta-hektar-gagal

43
http://somasalims.blogspot.com/2011/03/teori-chaos.html

http://www.ardadinata.com/2017/02/konflik-pengelolaan-lingkungan.html

https://www.researchgate.net/publication/325314365
_PERBANDINGAN_PEMBANGUNAN_BERKELANJUTAN_NEGARA_BERKEMBANG_DAN_NEGARA_
MAJU_Studi_terhadap_Pembangunan_Berkelanjutan_di_Indonesia_dan_China

https://www.scribd.com/doc/86071112/Analisis-Agroekosistem-Dan-Pengambilan-Keputusan-
Tanaman-Kakao

https://201043127irawangalela1993.wordpress.com/2013/09/01/makalah-strategi-
pengelolaan-lingkungan/

44