Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat
rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu sesuai
dengan waktu yang ditentukan.

Adapun yang menjadi judul makalah adalah “Stratifikasi Sosial” dan


dalam makalah ini membahas tentang pengertian stratifikasi sosial, bentuk-bentuk
stratifikasi sosial, faktor-faktor pembentuk stratifikasi sosial, ukuran stratifikasi
sosial, unsur-unsur dalam stratifikasi sosial, dan dampak stratifikasi sosial.”. Serta
Makalah ini menjelaskan tentang pengertian dan ciri-ciri dari masyarakat
perkotaan dan masyarakat pedesaan serta hubungannya antara masyarakat
perkotaan dengan masyarakat pedesaan.

Semoga makalah ini bermanfaat, khususnya bagi mahasiswa yang


mengikuti perkuliahan Ilmu Sosial Dasar dan umumnya bagi masyarakat.

Tujuan saya menulis makalah ini yang utama untuk memenuhi tugas dari
dosen yang membimbing saya dalam mata kuliah Ilmu Sosial Dasar.

Dalam makalah ini saya juga menyadari masih banyak kekurangan yang
menyebabkan makalah ini menjadi tidak sempurna, baik dalam penulisan maupun
isinya, untuk ini dengan hati yang terbuka saya menerima kritik dan saran yang
bersifat membangun.

Semoga makalah ini bermanfaat, khususnya bagi kita semua

BAB I

PEMBUKAAN

1.1 Latar Belakang

Masyarakat dengan segala aspek yang mencakup di dalamnya merupakan


suatu objek kajian yang menarik untuk diteliti. Begitu pula dengan sesuatu yang
dihargai oleh masyarakat tersebut. Dengan kata lain, sesuatu yang dihargai dalam
sebuah komunitas masyarakat akan menciptakan pamisahan lapisan atau
kedudukan seseorang tersebut di dalam masyarakat. Pada kajian yang dibahas
dalam makalah ini, yaitu stratifikasi sosial yang terjadi antara masyarakat kuno
dan modern, kita akan dapat menemukanperbedaan yang terjadi di dalamnya,
menarik sebuah kesimpulan yang terjadi akibat stratifikasi sosial. Secara umum
dapat kita pahami bahwa stratifikasi sosial yang terjadi pada zaman kuno dan
modern adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarin membutuhkan sebuah kajian
yang berguna untuk menindak lanjuti dampak-dampak yang berasal dari
stratifikasi sosial dalam masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, akan dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:

1. Proses terbentuknya lapisan kemasyarakatan


2. Sifat – sifat system berlapis
3. Kedudukan dan cara mendapatkannya
4. Peranan dan sistem status
5. Kekuasaan, wewenang dan kepemimpinan
6. Kelas dalam masyarakat
7. Gerak sosial

1.3 Tujuan

1. Mengetahui pengertian dari stratifikasi social


2. Mengetahui peranan dan system status pada masyarakat
3. Mengetahui kedudukan dalam masyarakat
4. Mengetahui kelas masyarakat dan gerak sosial

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial (Social Stratification) berasal dari kata bahasa latin


“stratum” (tunggal) atau “strata” (jamak) yang berarti lapisan. Dalam Sosiologi,
stratifikasi sosial dapat diartikan sebagai pembedaan penduduk atau masyarakat
ke dalam kelas-kelas secara bertingkat. Beberapa defenisi Stratifikasi Sosial
menurut para ahli :

a. Pitirim A. Sorokin

Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai perbedaan penduduk atau


masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat (hierarki)

b. Max Weber

Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang


termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarki
menurut dimensi kekuasaan, previllege dan prestise.

c. Cuber

Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai suatu pola yang ditempatkan di


atas kategori dari hak-hak yang berbeda

d. Drs. Robert. M.Z. Lawang

Sosial Stratification adalah penggolongan orang-orang yang termasuk


dalam suatu system social tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut
dimensi kekuasaan, privilese, dan prestise .

Begitu pula dengan Seoarang filsuf bangsa Yunani yaitu Aristoteles


mengatakan, bahwa di dalam tiap-tiap negara terdapat 3 unsur lapisan masyarakat,
yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang berada ditengah-tengahnya dan
mereka yang melarat.

B. Proses Terbentuknya Lapisan Masyarakat

Adanya sistem lapisan masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya dalam


proses pertumbuhan masyarakat itu. Akan tetapi, ada pula yang dengan sengaja
disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Alasan terbentuknya lapisan
masyarakat yang terjadi dengan sendirinya adalah kepandaian, tingkat umur, sifat
keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat, dan mungkin juga harta
dalam batas – batas tertentu.
C. Lapisan Sistem Sosial

Ada dua tipe sistem lapisan sosial, yaitu :

i. Dapat terjadi dengan sendirinya


ii. Sengaja disusun untuk mengejar tujuan bersama

Pedoman untuk meneliti pokok – pokok terjadinya proses lapisan dalam


masyarakat mempunyai arti khusus bagi masyarakat –masyarakat tertentu.

Sistem lapisan dapat dianalisis dalam arti – arti sebagai berikut :

i. Distribusi hak – hak istimewa yang obyektif seperti penghasilan,


kekayaan, keselamatan. (kesehatan, laju kesehatan).
ii. Sistem pertanggaan yang diciptakan oleh para warga masyarakat
(prestise dan penghargaan)
iii. Kriteria sistem pertentangan dapat berdasarkan kualitas pribadi,
keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik, wewenang atau
kekuasaan.
iv. Lambang – lambang kedudukan, seperti tingkah laku hidup, cara
berpakaian, perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi.

D. Unsur-Unsur Lapisan Masyarakat

Hal yang mewujudkan unsur dalam teori sosiologi tentang sistem lapisan
masyarakat adalah kedudukan (status) dan peranan (role).

Kedudukan diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang secara umum


dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang – orang lain, dalam arti
lingkungan pergaulannya, prestisenya, dan hak – hak serta kewajiban –
kewajibannya.

1) Kedudukan

Masyarakat pada umumnya mengembangkan dua macam kedudukan,


yaitu sebagai berikut :
i. Ascribed status, yaitu kedudukan seseorang dalam masyarakat
tanpa memperhatikan perbedaan – perbedaan rohaniah dan
kemampuan.
ii. Achieved status, yaitu kedudukan yang dicapai oleh seseorang
dengan usaha – usaha yang disengaja.

Kedudukan ini tidak diperoleh atas dasar kelahiran. Akan tetapi, bersifat
terbuka bagi siapa saja, tergantung dari kemampuan masing – masing dalam
mengejar serta mencapai tujuan – tujuannya.

Misalnya, Setiap orang dapat menjadi hakim asalkan memenuhi


persyaratan tetertentu. Demikian pula setiap orang dapat menjadi guru dengan
memenuhi persyaratan – persyaratan tertentu yang semuanya tergantung pada
usaha – usaha dan kemampuan yang bersangkutan untuk menjalaninya.

2) Peran (Role)

Unsur lapisan masyarakat yang kedua adalah Peran (Role). Peran


merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan
hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, dia menjalankan suatu
peranan.

Peranan yang melekat pada diri seseorang harus dibedakan dengan posisi
dalam pergaulan kemasyarakatan. Posisi seseorang dalam masyarakat (yaitu
social-position) merupakan unsur statis yang menunjukkan tempat individu pada
organisasi masyarakat. Pembedaan antara kedudukan dengan peranan adalah
untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena
yang satu tergantung pada yang lain dan sebaliknya.

Peranan mencakup tiga hal, yaitu sebagai berikut :

i. Peranan meliputi norma – norma yang dihubungkan dengan posisi


atau tempat seseorang dalam masyarakat.
ii. Peranan merupakan suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan
oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi
iii. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang
penting bagi struktur sosial masyarakatHal ini jelas dapat diketahui
dari kehidupan masyarakat yang mengabungkan kasta seperti di
India misalnya:
a. Keanggotaan pada kasta diperoleh karena warisan/ kelahiran.
Anak yang lahir memperoleh kedudukan orang tuanya.
b. Keangotaan yang diwariskan tadi berlaku seumur hidup, oleh
karena seseorang tak mungkin mengubah kedudukannya,
kecuali bila ia dikeluarkan dari kastanya.
c. Perkawinan bersifat endogam, artinya harus dipilih dari orang
yang kekasta.
d. Hubungan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya bersifat
terbatas.
e. Kesadaran pada keanggotaan suatu kasta yang tertentu, terutama
nyata dari nama kasta, identifikasi anggota pada kastanya,
penyesuaian diri yang ketat terhadap norma-norma kasta dan
lain sebagainya.
f. Kasta diikat oleh kedudukan-kedudukan yang secara tradisional
telah ditetapkan.
g. Prestise suatu kasta benar-benar diperhatikan.
E. Kekuasaan, wewenang dan kepemimpinan

Kekuasaan, wewenang, dan kepemimpinan merupakan hal yang tidak


dapat dipisahkan dan sangat penting dalam kehidupan kelompok sosial di
masyarakat.

Kekuasaan adalah kemungkinan seorang pelaku mewujudkan


keinginannya di dalam suatu hubungan social yang ada termasuk dengan kekuatan
atau tanpa mengiraukan landasan yang menjadi pijakan kemungkinan itu.
Wewenang merupaka hak jabatan yang sah untuk memerintahkan orang lain
bertindak dan untuk memaksa pelaksanaannya. Dengan wewenang, seseorang
dapat mempengaruhi aktifitas atau tingkah laku perorangan dan grup.
Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dilaksanakan dan
diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian tujuan atau tujuan-
tujuan tertentu.

Sumber kekuasaan terdiri dari harta benda, status, wewenang legal,


charisma, dan pendidikan. Selain itu unsure kekuasaan juga berpengaruh yaitu
meliputi: rasa takut, rasa cinta, kepercayaan, dan pemujaan. Lapisan kekuasaan
yaitu tipe kata, tipe oligarkis, dan tipe demokratis.

Bentuk wewenang terdiri dari:

1) Wewenang karena charisma, tradisional, dan rasional.


2) Wewenang resmi dan tidak resmi.
3) Wewenang pribadi dan territorial.
4) Wewenang terbatas dan menyeluruh.

5. Kelas Sosial Dalam Masyarakat

Kelas sosial atau golongan sosial merujuk kepada perbedaan hierarkis


(atau stratifikasi) antara insan atau kelompok manusia dalam masyarakat atau
budaya. Biasanya kebanyakan masyarakat memiliki golongan sosial, namun tidak
semua masyarakat memiliki jenis-jenis kategori golongan sosial yang sama.
Berdasarkan karakteristik stratifikasi sosial, dapat kita temukan beberapa
pembagian kelas atau golongan dalam masyarakat. Beberapa masyarakat
tradisional pemburu-pengumpul, tidak memiliki golongan sosial dan seringkali
tidak memiliki pemimpin tetap pula. Oleh karena itu masyarakt seperti ini
menghindari stratifikasi sosial. Dalam masyarakat seperti ini, semua orang
biasanya mengerjakan aktivitas yang sama dan tidak ada pembagian pekerjaan.

Diferensiasi sosial adalah pengkelasan / penggolongan / pembagian


masyarakat secara horisontal atau sejajar. Contohnya seperti pembedaan agama di
mana orang yang beragama islam tingkatannya sama dengan pemeluk agama lain
seperti agama konghucu, budha, hindu, katolik dan kristen protestan.

Kelas sosial dibagi menjadi tiga, yaitu :


i. Kelas Sosial Atas
ii. Kelas Sosial Menengah
iii. Kelas Sosial Bawah

Kelas sosial atas biasanya mendapat penghormatan atau di hormati oleh


kelas sosial dibawahnya karena beberapa keunggulan yang dimiliki kelas sosial
atas misalnya kedudukan sosialnya maupun kekayaanya. Setiap kelas sosial yang
ada, mereka yang ada di dalamnya biasanya memiliki kebiasaan dan perilaku dan
gaya hidup yang sama. Misalnya kelas sosial atas kebiasaan belanjanya ke Mall
atau ke super Market yang ada.

6. Gerakan Sosial

Gerakan sosial (bahasa Inggris: social movement) adalah aktivitas sosial


berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang merupakan kelompok informal
yang berbentuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang secara spesifik
berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak,
atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial.

Istilah "social movement" diperkenalkan pada 1848 oleh sosiolog Jerman


Lorenz von Stein pada bukunya Socialist and Communist Movements since the
Third French Revolution (1848) dimana ia memperkenalkan istilah "social
movement" pada diskusi akademis.

Charles Tily mendefinisikan social movement sebagai rangkaian tindakan


yang berkelanjutan, menunjukkan dan menyampaikan kepada masyarakat awam
untuk membuat klaim bersama terhadap kelompok lainnya. Menurut Tilly, social
movement merupakan kendaraan utama bagi masyarakat awam untuk
berpartisipasi pada kegiatan politik publik.

Sidney Tarrow mendefinisikan social movement sebagai tantangan


bersama (untuk elit politik, penguasa, atau kelompok kebudayaan tertentu) oleh
orang-orang dengan tujuan bersama dan solidaritas dengan interaksi yang terus-
menerus terhadap lawan politik mereka. Ia secara spesifik memisahkan social
movement dengan partai politik dan kelompok pembelaan.

Beberapa proses utama bergantung dibalik sejarah social movement.


Urbanisasi mendorong pemukiman yang lebih besar, dimana orang-orang dengan
tujuan yang sama dapat bertemu satu sama lain, berkumpul dan berorganisasi. Hal
ini mendorong interaksi sosial antara sekelompok orang, dan hal tersebut terbukti
di daerah perkotaan yang seringkali menjadi social movement pertama kali
berlangsung. Serupa dengan hal ini, proses industrialisasi yang mengumpulkan
sejumlah besar pekerja dalam region yang sama menjelaskan mengapa banyak
dari pergerakan tersebut ditujukan untuk permasalahan seperti kesejahteraan
ekonomi, hal yang penting bagi kelas pekerja. Banyak social movement lainnya
yang terjadi di universitas, dimana proses edukasi massal membawa banyak orang
berkumpul bersama. Dengan perkembangan teknologi komunikasi, kreasi dan
aktivitas social movement menjadi lebih mudah. Hingga akhirnya, penyebaran
demokrasi dan hak berpolitik sebagaimana kebebasan berbicara membuat social
movement semakin mudah untuk dimulai.

Gerakan sosial lahir dari situasi yang dihadapi masyarakat karena adanya
ketidakadilan dan sikap sewenang-wenang terhadap rakyat. Dengan kata lain
gerakan sosial lahir sebagai reaksi terhadap sesuatu yang tidak diinginkannya atau
menginginkan perubahan kebijakan karena dinilai tidak adil. Biasanya gerakan
sosial seperti itu mengambil bentuk dalam aksi protes atau unjuk rasa di tempat
kejadian atau di depan gedung dewan perwakilan rakyat atau gedung pemerintah.
Setelah Mei 1998, gerakan sosial semakin marak dan ketidakadilan atau
ketidakpuasan yang muncul jauh sebelum 1998 dibongkar untuk dicari
penyelesaiannya. Situasi itu menunjukkan bahwa dimana sistem politik semakin
terbuka dan demokratis maka peluang lahirnya gerakan sosial sangat terbuka.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari uraian-uraian yang telah saya paparkan diatas, maka dapat saya
simpulkan bahwa Stratifikasi sosial Stratifikasi sosial adalah adanya lapisan-
lapisan; penggolongan-penggolongan, pengelompokkan-pengelompokkan dalam
masyarakat, karena adanya perbedaan kriteria/ukuran tertentu yang menjadi dasar
terjadinya stratifikasi sosial. Terjadinya stratifikasi sosial itu lebih banyak tidak
sengaja dibentuk oleh individu-individu yang bersangkutan, akan tetapi timbul
dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu, namun kendatinya
ada juga yang sengaja dibentuk.

B. SARAN

1. Stratifikasi sosial bukan halangan bagi kita untuk menjadi lebih baik.
Maka sifat optimis dan merasa cukup dalam hal ini diperlukan
2. Tidak ada masyarakat tanpa stratifikasi sosial, maka optimalisasi peran
adalah yang terbaik.
3. Masyarakat pedesaan merupakan wilayah yang masih agraris dan
lingkungannya yang masih alamiyah, oleh karena itu sebaiknya kealamian
lingkungan tersebut harus tetap terjaga sebab lingkungan yang masih
alami memiliki udara yang sejuk. Selain itu, masyarakat desa juga
memiliki rasa persaudaraan yang erat, sebaiknya penduduk desa selalu
menjaga kerukunan bersama.
4. Masyarakat kota yang modern dengan berbagai alat tekhnologi yang
canggih, alangkah baiknya jika memanfaatkan alat-alat tersebut dengan
baik tanpa ada penyalahgunaan. Seperti penyalah gunaan pada internet,
sehingga banyak terjadi suatu kejadian yang tidak diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

http://blogpsikologi.blogspot.co.id/2015/10/pengertian-dan-teori-gerakan-
sosial.html

https://irdaaprianti.wordpress.com/2013/12/15/strata-kelas-dalam-masyarakat/

http://indomaterikuliah.blogspot.co.id/2015/03/makalah-stratifikasi-sosial-
masyarakat.html
https://pindaiilmu.blogspot.co.id/2015/06/makalah-stratifikasi-sosial.html