Anda di halaman 1dari 120

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERILAKU BULLYING REMAJA DI SMP N 4 GAMPING SLEMAN

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Achmad Yani Yogyakarta YOGA PRATAMA 2212037 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH

YOGA PRATAMA

2212037

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA

2016

i

ii

ii

iii

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rakhmat- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Hubungan Pola Asuh Orangtua dengan Perilaku Bullying Remaja di SMP N 4 Gamping Sleman”. Skripsi ini dapat diselesaikan atas bimbingan, arahan, dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, dan pada kesempatan ini penulis dengan rendah hati mengucapkan terima kasih dengan setulus-tulusnya kepada:

1. Kuswanto Harjo, dr., M.Kes selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Ahmad Yani Yogyakarta.

2. Tetra Saktika Adinugraha, M.Kep., Sp.Kep.MB selaku Ketua Prodi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.

3. Tri Prabowo, S.Kp., MSC selaku penguji yang telah memberikan bimbingan, saran, dan pendapat pada penyelesaian skripsi ini.

4. Dewi Utari., S.Kep., Ns., MNS selaku Dosen Pembimbing I yang telah sabar memberikan bimbingan, saran, dan pendapat selama proses penyelesaian skripsi ini.

5. Agus Warseno.,S.Kep., Ns., M.Kep selaku Dosen Pembimbing II yang telah

sabar memberikan bimbingan, saran, dan pendapat selama proses penyelesaian skripsi ini.

6. Kepala sekolah SMP Negeri 4 Gamping Sleman yang telah memberikan izin penelitian kepada penulis. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi banyak

pihak.

Yogyakarta, Agustus 2016

iv

Penulis

DAFTAR ISI

 

Hal

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PENGESAHAN

ii

HALAMAN PERNYATAAN

iii

KATA PENGANTAR

iv

DAFTAR ISI

v

DAFTAR TABEL

vi

DAFTAR GAMBAR

vii

DAFTAR LAMPIRAN

viii

INTISARI

ix

ABSTRACT BAB I PENDAHULUAN

x

A. Latar Belakang

1

B. Rumusan Masalah

6

C. Tujuan Penelitian

6

D. Manfaat Penelitian

6

E. Keaslian Penelitian

7

BAB II TINJAUN PUSTAKA

A. Remaja

10

B. Pola Asuh

15

C. Perilaku

21

D. Bullying

25

E. Kerangka Teori

31

F. Kerangka Konsep

32

G. Hipotesis

32

BAB III METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

33

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

33

C. Populasi dan Sampel

33

D. Variabel Penelitian

35

E. Definisi Operasional

35

F. Alat dan Metode Pengumpulan Data

36

G. Validitas dan Reliabilitas

41

H. Pengolahan Data dan Analisis Data

43

I. Etika Penelitian

47

J. Pelaksanaan Penelitian

48

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

50

B. Pembahasan

55

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

66

B. Saran

66

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

v

DAFTAR TABEL

 

Hal

Tabel 1

Definisi Operasional Variabel Penelitian

35

Tabel 2

Kisi-Kisi Alat Ukur Pola Asuh Orang Tua

36

Tabel 3

Distribusi Penyebaran Nomor Pernyataan Skala Perilaku Bullying

40

Tabel 4

Pedoman Pemberian Interpretasi Terhadap Koefisien Korelasi

46

Tabel 5

Distribusi Frekuensi Karakteristik Orangtua di SMP N 4 Gamping

51

Tabel 6

Distribusi Frekuensi Karakteristik Remaja di SMP N 4 gamping

52

Tabel 7

Distribusi Frekuensi Pola Asuh Orangtua di SMP N 4 Gamping

53

Tabel 8

Distribusi Frekuensi Perilaku Bullying di SMP N 4 Gamping

53

Tabel 9

Uji Tabulasi Silang Hubungan Pola Asuh Orangtua Dengan

Perilaku Bullying Remaja di SMP N 4 Gamping

54

vi

DAFTAR GAMBAR

 

Hal

Gambar 1 Kerangka Teori Hubungan Pola Asuh Orangtua Dengan Perilaku Bullying

31

Gambar 2 Kerangka Konsep Penelitian

32

vii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Permohonan Penelitian

Lampiran 2

Persetujuan Menjadi Responden

Lampiran 3

Izin Menjadi Responden

Lampiran 4

Rencana Jadwal Penelitian

Lampiran 5

Kuesioner Pola Asuh Orangtua

Lampiran 6

Kuesioner Perilaku Bullying

Lampiran 7

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas

Lampiran 8

Hasil Uji Reliabilitas

Lampiran 9

Data Tabulasi

Lampiran 10

Hasil Penelitian

Lampiran 11

Lembar Bimbingan Konsultasi

Lampiran 12

Surat Izin Studi Pendahuluan

Lampiran 13

Surat Izin Uji Validitas

Lampiran 14

Surat Izin Penelitian

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERILAKU BULLYING REMAJA DI SMP N 4 GAMPING SLEMAN

Yoga Pratama 1 , Dewi Utari 2 , Agus Warseno 3

INTISARI

Latar Belakang : Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak. Tujuan utama pengasuhan orang tua adalah mempertahankan kehidupan fisik anak dan meningkatkan kesehatannya untuk mengembangkan dan mendorong peningkatan perilaku sesuai dengan nilai agama dan budaya yang diyakini. Masa remaja merupakan masa transisi seseorang dari anak-anak menjadi dewasa, dan pada masa tersebut remaja mulai menunjukan jati dirinya dengan menunjukan perilaku yang bermacam-macam, salah satunya adalah perilaku menyimpang yaitu perilaku bullying. Tujuan : Mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku bullying remaja di SMP N 4 Gamping Sleman. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non eksperimental, dengan menggunakan pendekatan cross sectional dengan menggunakan teknik simple random sampling. Subyek penelitian ini sebanyak 65 responden sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis statistik inferensial menggunakan uji Chi

Square dengan tingkat kepercayaan 95% (α= 0,05).

Hasil : Berdasarkan penelitian diperoleh data mengenai pola asuh demokratis sebanyak 22 (33,8%). Perilaku bullying remaja di SMP N 4 Gamping Sleman kategori rendah sebanyak 26 (40,0%) dengan p value 0,003 (p value < 0,05). Artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying remaja di SMP N 4 Gamping Sleman. Keeratan sebesar -0,345 yang berarti rendah. Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying remaja di SMP N 4 Gamping Sleman.

Kata Kunci : Pola asuh orang tua, Remaja, Perilaku bullying.

1 Mahasiswa S1 Keperawatan Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta 2 Dosen S1 Keperawatan Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta 3 Dosen S1 Keperawatan Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

ix

The Correalation between Parental Care Pattern and Adolescents' Bullying Behavior in Junior High School 4 of Gamping, Sleman

Yoga Pratama 1 , Dewi Utari 2 , Agus Warseno 3

ABSTRACT

Background : Parents are responsible for caring, looking after, educating, and protecting their children. The primary goal of parental care is to maintain children's physical life and develop their health in order to improve and encourage proper behaviors enhancement referring to believed religious and cultural values. Adolescent period is a transitional period from a child into an adult. During this period, an adolescent begins to initiate various behaviors such as improper bullying behavior. Objective : This study aimed to identify the relation between parental care Pattern and adolescents' bullying behavior in Junior High School 4 of Gamping, Sleman. Method: This study was a non-experimental quantitative study with cross sectional approach and simple random sampling technique. Subjects in this study were 65 respondents who fulfilled inclusion and exclusion criteria. Data collecting method was distributing quetionnaires. Inferential Statistical Analysis applied Chi Square test with reliability level of 95% (a=0,05). Result : This study figured out data of democratic parental care as many as 22 (33,8%). Bullying behavior in Junior High School 4 of Gamping, Sleman, was in low category as many as 26 (40,0%) with p value 0,003 (p value < 0,05). This figure indicated a significant correlation between parental care pattern and adolescents' bullying behavior in Junior High School 4 of Gamping, Sleman. Contingency coefficient showed -0,345. Conclusion : There was a significant correlation between parental care pattern and adolescents' bullying behavior in Junior High School 4 of Gamping, Sleman.

Keyword : Parental Care Pattern, Adolescent, Bullying Behavior.

1 Student of Nursing Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta 2 Lecturer of Nursing Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta 3 Lecturer of Nursing Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

x

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Undang-undang perlindungan anak No. 23 tahun 2002, menjelaskan

bahwa harapan anak Indonesia akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang

sehat, ceria, dan berakhlak mulia. Bagian keempat dalam Undang-undang ini

menjelaskan kewajiban dan tanggung jawab keluarga dan orang tua. Undang-

Undang Dasar 1945 pasal 26 ayat 1 juga menjelaskan bahwa orang tua

berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik,

dan melindungi anak, selanjutnya menumbuh kembangkan anak sesuai dengan

kemampuan bakat dan minat.

Masa remaja merupakan masa transisi seseorang dari anak-anak menjadi

dewasa. Masa transisi remaja dimulai dengan menunjukkan jati dirinya yaitu

dengan berperilaku sesuai dengan karakter dan kreativitas masing-masing dalam

hal-hal yang positif meliputi aktraktif dan kreatif. Selain itu selama masa transisi

ini remaja juga menunjukkan perilaku-perilaku yang mengarah pada hal-hal

negatif yaitu hura-hura bahkan mengacu pada tindakan kekerasan (King, 2010).

Perilaku remaja memang sangat menarik dan gaya mereka bermacam-macam. Hal

ini terjadi karena remaja mulai berjuang melepas ketergantungan kepada orang tua

dan berusaha mencapai kemandirian sehingga dapat diterima dan diakui sebagai

orang dewasa (Potter & Perry, 2005).

Remaja lebih sering diistilahkan dengan adolsecence yang berarti

tumbuh ke arah kematangan, seperti kematangan mental, emosional, sosial,

psikologis, dan fisik sangat mempengaruhi perkembangan (Widyastuty, 2011).

Remaja pada dasarnya mempunyai rasa ingin tahu yang besar, maka mereka

cenderung mudah terpengaruh oleh kebiasaan sehari-hari dan mempengaruhi

lingkungan sekitar tempat mereka bergaul (Ali, 2006). Remaja pada umumnya

bergaul dengan sesama mereka berdasarkan karakteristik persahabatan remaja

seperti kesamaan usia, jenis kelamin, dan ras atau suku (Yusuf, 2010). Faktor

lingkungan bagi remaja sangat berperan penting bagi perkembangan remaja.

1

2

Masa remaja awal biasanya antara usia 12-15 tahun fokus pada permintaan terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat dengan teman sebaya (Agustiani, 2006). Menurut Bichler dalam Fatimah (2010) ciri-ciri remaja usia 12-15 tahun adalah berperilaku kasar, cenderung berusaha berperilaku tidak toleran terhadap orang lain dan tidak berusaha mengendalikan diri dan perasaan. Kemampuan mengendalikan diri merupakan salah satu kunci untuk mengurangi terjadinya perilaku kekerasan karena dengan pengendalian diri individu dapat merasa tenang sehingga emosional dirinya tidak mudah marah dan pada akhirnya mampu membina hubungan baik dengan teman (Zahara, 2011). Remaja akan lebih banyak melakukan pelanggaran aturan ketika berada di lingkungan yang dipenuhi dengan tata tertib seperti di lingkungan pendidikan (Brook, 2011). Salah satu fenomena pelanggaran aturan yang menyita perhatian di dunia pendidikan saat ini adalah kekerasan sekolah yang dilakukan oleh antar siswa. Aksi tawuran dan kekerasan (bullying) yang dilakukan oleh siswa di sekolah semakin banyak diberitakan di halaman media cetak maupun elektronik. Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan pada remaja telah hilang (Wiyani, 2012). Perilaku bullying merupakan fenomena lama yang sudah sering terjadi namun baru-baru ini perilaku bullying menjadi masalah yang sangat serius, tercatat pada akhir 2013 terdapat 181 kasus berujung pada kematian, 141 kasus korban menderita luka berat, dan 97 kasus korban menderita luka ringan (Komisi Perlindungan Anak Indonesia, 2014). Perilaku bullying muncul di segala tempat baik di sekolah dan lingkungan tempat tinggal. Perilaku bullying dapat terjadi pada anak-anak atau orang dewasa dan korbanya pun bisa laki-laki atau perempuan (Coloronso, 2007). Perilaku bullying merupakan tindakan negatif dimana terjadi penyalahgunaan kekuatan atau kekuasaan yang dilakukan secara berulang oleh satu siswa atau lebih yang bersifat menyerang karena adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pihak yang terlibat. Pihak yang kuat tidak hanya berarti kuat dalam segi fisik tetapi juga kuat secara mental (Astuti, 2008). Ketidakseimbangan antara pelaku dan korban sangat jelas, sehingga pelaku dapat dengan mudah menganiaya korban

3

yang jauh lebih kecil atau lemah darinya. Hal ini bisa menjadi penyebab perilaku bullying bertahan dalam waktu yang lama karena tidak adanya usaha korban untuk menyelesaikan konflik dengan pelaku (Rigby, 2007). Perilaku bullying mudah dipelajari dan ditiru oleh siswa karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan bersama teman-temannya di sekolah dibandingkan dengan orang tua mereka. Umumnya siswa di sekolah hanya mementingkan persahabatan dan tanpa berfikir logis terhadap akibat yang ditimbulkan dari perilaku mereka tersebut. Pelaku bullying akan mudah terjebak dalam tindakan kriminal, selanjutnya mereka akan mengalami kesulitan dalam melakukan relasi sosial (Wiyani, 2012). Sedangkan perilaku bullying di sekolah akan memberikan dampak yang buruk bagi korban seperti prestasi yang menurun, membolos, melanggar kedisiplinan, tidak mengerjakan tugas sekolah, bahkan ada yang sampai depresi (Wharton, 2005). Menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), jumlah perilaku bermasalah pada anak dan remaja meningkat. Kekerasan di sekolah dengan pelaku anak atau remaja juga meningkat. Berdasarkan data dari KPAI, bullying menduduki peringkat teratas dalam pengaduan masyarakat terkait perilaku bermasalah pada anak. Pengaduan ini mengalahkan pengaduan tentang tawuran pelajar, deskriminasi pendidikan ataupun aduan pemungutan liar. KPAI mencatat 369 pengaduan terkait bullying dari tahun 2011 sampai 2014, dimana jumlah itu sekitar 25% dari total pengaduan di bidang pendidikan sebanyak 1.480 kasus.

Penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Semai Jiwa Amini pada 2008 tentang kekerasan bullying di tiga kota besar di Indonesia, yaitu Yogyakarta, Surabaya, dan Jakarta mencatat terjadinya tingkat kekerasan sebesar 67,9% di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan 66,1% di Sekolah Tingkat Lanjutan Pertama (SLTP). Kekerasan yang dilakukan sesama siswa tercatat sebesar 41,2% untuk tingkat SMP dan 43,7% untuk tingkat SMA dengan kategori tertinggi kekerasan psikologis berupa pengucilan. Peringkat kedua ditempati kekerasan verbal (mengejek) dan terakhir adalah kekerasan fisik (memukul). Gambaran

4

kekerasan di SMP di tiga kota besar yaitu Yogyakarta 77,5%, Surabaya 59,8%, dan Jakarta 61,1% (Wiyani, 2012). Menurut Dake et al. (2003) ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku bullying yaitu status sosial ekonomi keluarga, tingkat pendidikan orang tua, lingkungan sekolah yang kurang baik, keharmonisan keluarga, dan parentingstyle atau pola asuh. Pola asuh orang tua dapat diartikan sebagai seluruh cara perlakuan orang tua yang diterapkan pada anaknya. Pola asuh juga bisa diartikan sebagai interaksi yang dilakukan oleh orang tua dengan anak dimana dalam interaksinya tersebut keluarga memberian pengasuhan berupa penilaian, pendidikan, pengetahuan, bimbingan, kedisiplinan, kemandirian, dan perlindungan berkaitan dengan kepentingan hidupnya (Shochib, 2010). Pola pengasuhan (parenting style) sangat bergantung pada nilai-nilai yang dimiliki keluarga. Peran pengasuhan dapat dipelajari melalaui proses sosialisasi selama tahap perkembangan anak-anak yang dijalankan melalui interaksi antara keluarga. Anak yang mempunyai interaksi yang baik dengan keluarga cenderung selalu mempunyai kesempatan untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan anak akan lebih terpantau oleh keluarganya (Hawari, 2007). Hasil penilitian Putri (2014) menjelaskan bahwa ketidakharmonisan keluarga berpengaruh terhadap perilaku bullying yang di lakukan oleh anak karena anak merasa kurang perhatian dan meluapkan emosinya dengan berbuat semaunya termasuk berperilaku kasar pada temannya. Agus (2012) mengemukakan bahwa pola asuh orang tua kepada anak dan remaja adalah salah satu faktor signifikan yang turut membentuk perilaku dan karakter seorang anak tersebut. Anak yang dibesarkan dengan celaan dan permusuhan dalam keluarga akan membuatnyasering memaki bahkan berkelahi dengan orang lain. Berbeda dengan anak yang dididik oleh keluarganya dengan perlakuan baik dan penuh kasih saying, ia akan bersikap adil dalam pergaulannya bahkan dapat menumbuhkan rasa cinta dalam kehidupannya. Hal ini didasari bahwa pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang utama bagi anak, dan pola asuh orang tua merupakan interaksi sosial awal untuk mengenalkan anak pada peraturan, norma, dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Pola

5

pengasuhan yang kurang tepat seperti terlalu membatasi kegiatan anak akan membuatnya susah untuk bersosialisasi dengan orang lain bahkan jika anak trlalu dibebaskan akan membuat anak bersikap sesuai keinginannya tanpa terkontrol seperti perilaku negative. Baumrind dalam Santrock (2011) menjelaskan pola asuh orang tua dibagi menjadi tiga tipe, yaitu otoriter, demokratif, dan permisif. Masing-masing pola asuh tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dan dapat memberikan dampak yang berbeda juga terhadap pola perkembangan anak. Menurut Tim Penulis Depkes (2012), setiap pola asuh memberikan dampak yang berbeda- beda. Pola asuh otoriter akan sangat berpengaruh pada perkembangan kepribadian anak seperti anak akan berkembang menjadi penakut, kurang percaya diri, dan merasa tidak berharga. Pola asuh permisif akan menumbuhkan sikap ketergantungan dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sedangkan pola asuh demokratis mempunyai kelebihan yaitu orang tua memberikan kebebasan berpendapat kepada anaknya sehingga akan terjadi keseimbangan antara orang tua dan anak. Beberapa penelitian yang membahas tentang perilaku pola asuh orang tua sudah banyak dilakukan. Penelitian Lianasari (2014), menyebutkan bahwa ada hubungan signifikan antara pola asuh orang tua dengan konsep diri remaja. Pola asuh orang tua demokratis mempunyai hubungan dengan tingkat keeratan sedang terhadap konsep diri remaja usia 12-15 tahun. Selain itu penelitian ini menyimpulkan bahwa semakin tinggi pola asuh demokratis maka semakin tinggi pula konsep diri remaja, sebaliknya semakin rendah pola asuh demokratis maka semakin rendah pula konsep diri remaja. Penelitian lain tentang pola asuh orang tua dengan dengan perilaku remaja dilakukan oleh Kharie (2014) yang menyatakan bahwa pola asuh orang tua otoriter mempunyai hubungan dengan tingkat keeratan yang sedang terhadap perilaku merokok pada remaja laki-laki usia 15-17 tahun. Lebih lanjut hasil penilitian ini menjelaskan bahwa penerapan pola asuh otoriter oleh orang tua yang selalu menekan akan membuat anak tertekan dan mudah marah, sehingga kemarahannya dilampiaskan dengan perilaku negatif seperti merokok. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Erine & Villa (2012) bahwa pola asuh yang dilakukan secara tepat oleh orang tua dengan

6

memberikan pengasuhan yang penuh dan perhatian berpengaruh positif dalam menghindarkan remaja dari perilaku yang menyimpang. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 4 Gamping Sleman Yogyakarta melalui wawancara dengan 10 siswa didapatkan data bahwa 6 siswa mengatakan orang tua memberikan kebebasan untuk melalukan sesuatu yang diinginkan, 3 siswa mengatakan diberikan kebebasan tetapi harus sesuai dengan aturan yang berlaku, dan 1 siswa mengatakan selalu bersikap sesuai kehendaknya. Enam dari 10 siswa tersebut juga mengatakan pernah menjahili temannya saat berada di kelas. Berdasarkan latar belakang inilah penelitian tentang hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku bullying ini penting untuk dilakukan.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini adalah adakah hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku bullying remaja di SMP Negeri 4 Gamping?

C.Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum Diketahui hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku bullying remaja di SMP Negeri 4 Gamping.

2. Tujuan Khusus

a) Diketahui pola asuh orang tua.

b) Diketahui perilaku bullying remaja di SMP Negeri 4 Gamping.

c) Diketahui keeratan hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying remaja di SMP Negeri 4 Gamping.

D.Manfaat Penelitian

1. Manfaat secara teori Penelitian ini dapat memperkaya dan menambah ilmu pengetahuan tentang perkembangan remaja dan pola asuh orang tua kaitannya dengan

7

perilaku bullying dan dapat memberikan kajian ilmu di bidang ilmu keperawatan anak, jiwa, dan komunitas.

2. Manfaat secara praktis a.Bagi SMP Negeri 4 Gamping Penelitian ini memberikan informasi kepada sekolah dan guru tentang perilaku bullying di SMP N 4 Gamping. b.Bagi Orang tua Penelitian ini memberikan informasi kepada orang tua mengenai pola asuh dan perilaku bullying, serta diharapkan orang tua dapat memahami dan menerapkan pola asuh yang benar sesuai dengan karakter anak masing-masing. c.Bagi Siswa Penelitian ini memberikan informasi kepada para siswa mengenai perilaku bullying dan dampaknya sehingga siswa dapat mengendalikan diri dengan baik dan menghindari perilaku bullying. d. Bagi peneliti lain Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai data dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya. Penelitian yang berkesinambungan serta berkelanjutan sangat diperlukan di bidang keperawatan, agar dapat memberikan intervensi yang tepat ubntuk mengatasi permasalahan sesuai dengan fenomena yang terjadi, terutama tentang pola asuh dan perilaku bullying.

E. Keaslian Penelitian 1. Lianasari (2014) “Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Konsep Diri pada Remaja Usia 12-15 Tahun di SMP 1 Sedayu Bantul Yogyakarta”. Jenis penelitian ini adalah kualitatif non eksperimental, rancangan yang digunakan penelitian ini adalah menggunakan analitik kolerasi dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini menggunakan teknik stratified random sampling. Uji statistik menggunakan chi square, pengujian dilakukan 2 tingkat dimana terdiri

8

dari

uji silang antara pola asuh otoriter dan demokratis serta uji silang antara

pola

asuh permisif dan demokratis diperoleh hasil yaitu nilai (p-value)sebesar

0,000 (p 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan signifikan antar pola asuh orang tua dengan konsep diri remaja. Hasil analisis contingency

coefficient (koefisien keeratan hubungan) antara variabel didapatkan nilai koefisien sebesar 0,540 dan 0,506. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat keeratan hubungan yang sedang antar pola asuh orang tua dengan konsep diri pada remaja usia 12-15 tahun di SMP 1 Sedayu Bantul Yogyakarta. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pola asuh demokratis maka semakin tinggi pula konsep dirinya, sebaliknya semakin rendah pola asuh demokratisnya maka semakin rendah pula konsep diri remaja. Persamaan dari penelitian ini adalah variabel bebasnya pola asuh orang tua. Sedangkan perbedaanya adalah variabel terikatnya pada penelitian ini adalah konsep diri, sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan adalah perilaku

bullying. Penelitian ini menggunakan teknik stratified random samplingdengan subjek siswa di SMP 1 Sedayu Bantul sedangkan penelitian yang akan dilakukan menggunakan teknik random sampling dengan subjek siswa kelas

VIII SMP 4 Gamping Sleman.

2. Korua (2015) “Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Perilaku Bullying Pada Remaja SMK Negeri 1 Manado”. Penelitian ini menggunakan desain

penelitian cross-sectional dan teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling sebanyak 48 responden. Data dikumpulkan menggunakan lembar kuisioner pola asuh orang tua dan perilaku bullying. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying dengan hasil p= 0,006. Persamaan dari penelitian ini adalah variabel bebas yaitu pola asuh orang tua

dan variabel terikatnya yaitu perilaku bullying. Desain penelitiannya juga

menggunakan cross sectional. Perbedaan dengan penelitian ini adalah teknik pengambilan sampel dan subjek penelitian. Pada peniltian ini menggunakan teknik purposive sampling dan subjek penelitiannya pada siswa SMK N 1 Manado sedangkan penelitian yang

9

akan dilakukan menggunakan teknik random sampling dengan subjek siswa kelas VIII SMP 4 Gamping Sleman. 3. Kharie (2014) “Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Perilaku Merokok Pada Anak Laki-Laki Usia 15-17 Tahun Di Kelurahan Tanah Raja Kota Ternate”. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional dan teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling sebanyak 34 pasang responden. Data dikumpulkan menggunakan lembar kuisioner pola asuh orang tua dan perilaku merokok. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku merokok dengan hasil p= 0,003. Lebih lanjut hasil penilitian ini menjelaskan bahwa penerapan pola asuh otoriter oleh orang tua yang selalu menekan akan membuat anak tertekan dan mudah marah, sehingga kemarahannya dilampiaskan dengan perilaku negatif seperti merokok. Persamaan penelitian ini adalah variabel bebas yaitu pola asuh orangtua dengan pendekatan cross-sectional. Perbedaan dengan penelitian ini adalah variabel terikat, pada penelitian ini adalah perilaku merokok sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan adalah perilaku bullying. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan subjek anak laki-laki usia 15-17 tahun di Kelurahan Tanah Raja Kota Ternatesedangkan penelitian yang akan dilakukan menggunakan teknik random sampling dengan subjek siswa kelas VIII SMP 4 Gamping Sleman.

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Remaja

1. Definisi Menurut Kozier et al (2010), remaja adalah masa perkembangan transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang mencangkup perubahan biologis, kognitif, dan sosio emosional. Masa ini dimulai dari usia 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18-21 tahun, diman remaja mulai menunjukkan jati dirinya dengan menunjukkan perilaku yang bermacam- macam, sesuai dengan karakter dan kreativitas masing-masing dalam hal-hal yang positif maupun mengarah ke hal-hal negatif (King, 2010). Pada masa remaja ini terjadi perubahan hormonal yang mengakibatkan perubahan penampilan, sedangkan perkembangan kognitif sehingga remaja mampu untuk mengambl kesimpulan dan berhubungan dengan hal abstrak. Penyesuaian dan adaptasi dibutuhkan untuk menghadapi perubahan ini dan mencoba untuk memperoleh identitas diri (Potter & Perry, 2005).

2. Klasifikasi Remaja Menurut Agustiani (2006), secara umum remaja dibagi menjadi tiga,

yaitu:

a. Masa remaja awal (12-14 tahun) Pada masa ini individu mulai meninggalkan peran sebagai anak-anak dan berusaha mengembangkan diri individu unik dan tidak tergantung pada orang tua. Faktor dari tahap ini adalah penerimaan terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat dengan teman sebaya.

b. Masa remaja pertengahan (15-18 tahun) Masa ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan berfikir yang baru. Teman sebaya masih mempunyai peran yang penting, namun individu sudah lebih mampu untuk mengendalikan diri (self directed). Pada masa

10

11

ini remaja mulai mengembangkan kematangan tingkah laku, belajar mengendalikan impulsivitas, dan membuat keputusan-keputusan awal yang berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai.

c. Masa remaja akhir (19-22 tahun) Masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa. Selama periode ini remaja berusaha memantapkan tujuan vokasional dan mengembangkan sense of personal identity. Keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima dalam kelompok sebaya dan orang dewasa juga menjadi ciri dari tahap ini.

3. Pertumbuhan dan perkembangan remaja Menurut Soetjiningsih (2013), pertumbuhan adalah perubahan yang bersifat kuantitatif yaitu bertambahnya jumlah, ukuran, dimensi pada tingkat sel, organ, maupun insividu. Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur termasuk perkembangan motorik, kognitif, bahasa, emosi, perilaku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan. Erik Erikson mengatakan bahwa perkembangan manusia erat kaitannya dengan perkembangan psikososial.Menurutnya perkembanganselalu berubah berdasarkan pengalaman baru yang di dapatkan dalam berinteraksi dengan orang lain, jika dalam berinteraksi mendapatkan pengalaman positif maka akan membantu perkembangan menjadi positif sehingga menjadikan perilakunya positif juga. Manusia dapat naik ketingkat berikutnya walaupun ia tidak tuntas pada tingkat sebelumnya. Dalam setiap tahapan tersebut orang akan mengalami konflikyang menjadikan perkembangan kualitas psikologi menjaddi lebih baik dan matang. Erikson membagi teorinya menjadi 8 tahapan yang akan dilalui oleh manusia (Agustiani, 2006) yaitu :

a. Kepercayaan Dasar vs Kecurigaan Dasar (awal pra kanak-kanak atau 0 sampai 2 tahun) Pada usia ini anak sangat tergantung pada ibu atau orang yang dianggap ibu sebagai sumber kasih sayang dan memenuhi kebutuhan anak. Ibu

12

menjadi figure dipercaya dan diharapkan. Apabila fase ini dilalui dengan baik, anak akan mengembangkan kepercayaan kepada dirinya dan orang lain, sebaliknya jika fase ini gagal karena ibu yang tidak ada saat dibutuhkan menyebabkan rasa kecemasan, kecurigaan, dan rasa ketidakpercayaan pada diri sendiri dan lingkungan.

b. Otonomi vs rasa malu dan rasa ragu (2 sampai 4 tahun) Pada fase ini anak mulai belajar untuk mandiri (otonomi). Orang tua diharapkan bertindak tegas tetapi melindungi dan mendukung setiap keinginan anak serta melindunginya dari keraguan dan rasa bersalah. Apabila fase ini berhasil dilalui dengan baik, anak akan memandang dirinya sebagai pribadi yang terpisah dari orang tua tapi masih terkontrol, sebaliknya gagal anak akn menggembangkan rasa malu dan ragu sehingga kurang memiliki keterampilan.

c. Inisiatif vs rasa bersalah (4 sampai 6 tahun) Fase ini adalah masa melakukan eksplorasi lingkungan, memahami informasi, memahami peran sesuai identitasnya, dan mengembangkan imajinasi. Anak akan mengembangkan inisiatifnya dan memiliki daya imajinasi yang berkembang jika pada fase ini berhasil dilalui dengan baik, sebaliknya apabila gagal, anak akan mengembangkan rasa bersalah, serta akan menghambatnya untuk menemukan perannya dalam lingkungan sosial.

d. Kerajinan vs rendah diri (6 sampai 12 tahun) Fase ini akan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan berusaha mendapatkan pengakuan sosial. Apabila berhasil melalui fase ini dengan baik, anak akan memiliki kemampuan sosial, memiliki mmotivasi untuk berkarya atau berprestasi, dan memyelesaikan tugasnya dengan baik. Anak yang gagal pada fase ini akan cenderung menghindar dari persaingan, kurangnya motivas untuk berkarya atau berprestasi.

e. Identitas vs kebimbangan peran (12 sampai 23 tahun) Fase ini bisa disebut masa remaja yaitu anak akan mengalami masa transisi dari masa anak ke masa dewasa. Perubahan fisik dan psikologis pada fase

13

ini terjadi begitu cepat. Remaja akan mengalami proses pencarian identitas diri sehingga perlu dukungan dari orang tua. Remaja tidak akan sekedar mempertanyakan siapa dirinya dan apa perannya tetapi akan berusaha mendapatkan pengakuan sehingga dirinya menjadi pertimbangan dalam kelompok. Remaja yang berhasil pada fase ini akan terbentuk identitas diri sehingga mereka memiliki sikap positif menatap masa depan dan mampu brperan sesuai identitas seksualnya dalam kelompok. Remaja yang tidak memalaui fase ini dengan baik mereka akan bingung menetukan perannya dalam kelompok yang menghambat proses interaksi dengan orang lain.

f. Keakraban vs keterasingan (23 sampai 35 tahun) Fase ini ditandai dengan munculnya pembentukan hubungan afektif yang tetap dan mendalam dengan lawan jenis. Apabila fase ini dilalui dengan baik maka akan tumbuh rasa persatuan dan kasih sayang yang bertahan lama, sebaliknya jika fase ini gagal dilalui, inividu akan menghindari keakraban bahkan akan suka berganti-ganti pasangan.

g. Generativitas vs stagnasi (35 sampai 65 tahun) Keinginan individu untuk membuka diri pada dunia luas merupakan ciri yang terjadi pada fase ini. Individu akan mengembangkan kreatifitasnya untuk berkarya dan memberikan rasa bangga kepada orang yang mendukungnya. Individu akan cenderung mudah puas dan merasa sombong dengan hasil yang didapatkan jika fase ini tidak dilalui dengan baik.

h. Integritas vs keputusasaan (65 tahun lebih) Fase terakhir ini setiap orang memili keterbatasan eksitensi usia lanjut menghadapi kemungkinan kematian. Apabila fase ini dilalui dengan baik individu akan memaknai hidupnya dengan positif, merasakan kebahagian, dan menghargai apa yang telah terjadi pada masa lampau sebagai sebuah pelajaran, sebaliknya jika fase ini gagal dilalui, akan memunculkan perasaan tidak berarti dalam hidup, menyesali semua yang telah terjadi, bahkan takut untuk menghadapi kematian.

14

4. Perubahan pada remaja Pada masa remaja perubahan-perubahan besar terjadi baik dalam aspek biologis maupun psikologis, sehingga dapat dikatakan bahwa ciri umum yang menonjol pada masa remaja adalah berlangsungnya perubahan itu sendiri, yang di dalam interaksinya dengan lingkungan sosial membawa berbagai dampakpada prilaku remaja (Agustiani, 2006). Proses perubahan tersebut bisa diuraikan sebagai berikut :

a. Perubahan fisik remaja Perubahan fisik pada remaja terjadi dengan cepat. Maturasi seksual terjadi seiring perkembangan karakteristik seksual primer dan seksual sekunder. Karakteristik primer berupa perubahan fisik dan hormonal sedangkan karakteristik sekunder berupa perubahan perkembangan sistem reproduksi (Potter & Perry, 2005)

b. Perubahan kognitif remaja Kognitif memungkinkan individu adaptasi terhadap lingkungan sehingga meningkatkan kemungkinan bertahan hidup dan melalui perilakunya individu membentuk dan mempertahankan keseimbangan dengan lingkungan. Pada tahap ini remaja mulai mengembangkan kemampuan berfikir untuk menghadapi masalah dan menemukan solusinya (Wong,

2009).

c. Perubahan moral remaja Remaja pada tingkat konvensional akan menguji nilai-nilai, standar, serta moral yang mereka miliki kemudian membuang nilai-nilai yang mereka adopsi dari orang tua dan menggantikannya dengan nilai-nilai yang mereka anggap lebih sesuai. Saat remaja beralih ke tingkat pos konvensional atau prinsip, mereka mulai mempertanyakan atuan-aturan serta hukum dalam masyarakat. Remaja mempertimbangkan kemungkinan untuk mengubah hukum secara rasional dan menekankan hak individu (Kozier et al, 2010).

15

d. Perubahan psikoseksual remaja Freud dalam Wong (2009) menyatakan bahwa perkembangan pada remaja berbeda pada fase genital, dimana fase ini dimulai pada fase pubertas dengan maturasi sistem reproduksi dan produksi-produksi hormon seks. Organ genital menjadi sumber ketergantungan dan kesenangan seksual, tetapi energi juga digunakan untuk embentuk persahabatan dan persiapan pernikahan.

e. Perubahan psikososial remaja Remaja selama tahap ini akan dihadapkan untuk memutuskan siapa mereka, apa mereka, dan kemana tujuan mereka dalam hidup (Santrock,

2010).

B. Pola Asuh

1. Definisi Pola asuh atau parenting style adalah model pengembangan atau sikap perlakuan yang dimiliki dan diterapkan orang tua dalam pengasuhan terhadap anak sejak usia kandungan hingga dewasa (Yusuf, 2010). Pola asuh merupakan interaksi yang dilakuan oleh orang tua dengan anaknya dalam interaksi tersebut orang tua memberian pengasuhan berupa penilaian, pendidikan, pengetahuan, bimbingan, kedisiplinan, kemandirian, dan perlindungan untuk mencapai kedewasaan yang berlaku di masyarakat berkaitan dengan kepentingan hidupnya (Shochib, 2010).

2. Macam Pola Asuh Macam-macam pola asuh yang diterapkan oleh orang tua yaitu :

a. Pola asuh otoriter Pola asuh otoriter merupakan pola asuh orang tua dimana orang tua mencoba untuk mengontrol perilaku dan sikap anak melalui perintah yang tidak boleh dibantah. Mereka menetapkan aturan atau standar perilaku yang dituntut untuk diikuti dan tidak boleh dipertanyakan. Anak

16

dituntut untuk mematuhi kata-kata atau aturan mereka. Mereka akan menghukum setiap perilaku yang berlawanan dengan standar yang telah dibuat (Wong et al, 2009). Orang tua otoriter beranggapan bahwa tindakannya adalah sikap terbaik bagi anaknya, sehingga mereka memperlakukan anak sesuai nilai yang mereka anut (Yuniantun, 2009). Dampak dari penerapan pola asuh otoriter adalah anak mengalami tekanan fisik dan mental, sering tidak bahagia, kehilangan semangat, cenderung menyalahkan diri, mudah putus asa, tidak memiliki inisiatif, tidak bisa mengambil keputusan, tidak berani mengemukakan pendapat, dan memiliki keterampilan komunikasi yang buruk (Santrock, 2007).

b. Pola asuh permisif Pola asuh permisif adalah merupakan pola asuh dimana orang tua memiliki sedikit kontrol bahkan tidak sama sekali atas tindakan anak- anaknya (Wong et al, 2009). Orang tua pada pola asuh ini membiaran anak-anaknya melakuan apapun yang mereka inginkan dan hasilnya adalah anak-anak yang tidak pernah belajar mengendalian perilakunya sendiri dan selalu berharap kemauannya di turuti (Santrock, 2007). Penerapan pola asuh permisif pada anak remaja dilatar belakangi orang tua yang tidak ingin melihat anak remajanya mengalami kesulitan seperti mereka remaja dulu (Surbakti, 2009).

c. Pola asuh demokratis Pola asuh demokratis merupakan kombinasi praktik mengasuh anak dari pola asuh otoriter dan permisif. Orang tua mengarahkan perilaku dan sikap anaknya agar tidak menyimpang. Orang tua menghargai individualitas anak dan memberikan izin anak untuk menyatakan keberataannya terhadap standar atau peraturan keluarga. Kontrol dari orang tua kuat dan konsisten tetapi dengan dukungan , pengertian dan keamanan (Wong et al, 2009).

17

Orang tua yang demokratis bersikap hangat dan kasih sayang terhadap anak, serta menunjukkan kesenangan dan dukungan sebagai respon atas perilaku konstruktif anak. Anak yang memiliki orang tua demokratis sering kali ceria, bisa mengendalikan diri, mandiri, berorientasi pada prestasi, dan dapat mengatasi stress. Anak cenderung untuk mempertahankan hubungan yang ramah dengan teman sebaya dan menghormati orang dewasa (Santrock, 2007).

d. Pola asuh uninvolved atau mengabaikan Pola asuh ini karakterisitik orang tua tidak terlibat dalam kehidupan anak karena cenderung lalai. Urusan anak dianggap oleh orang tua sebagai bukan urusan mereka atau orang tua menganggap urusan sang anak tidak lebih penting dari urusan mereka. Anak yang diasuh dengan gaya seperti ini cenderung kurang cakap secara sosial, memiliki kemampuan pengendalian diri yang buruk, tidak memiliki kemandirian diri yang baik, dan tidak bermotivasi untuk berprestasi. Pola asuh mengabaikan dapat menghasilkan anak-anak yang cenderung memiliki frekuensi tinggi dalam melakukan tindakan anti sosial. Oleh karena itu, mereka tidak biasa untuk diatur sehingga apa yang mereka mau melakukan, mereka akan lakukan tanpa mau dilarang oleh siapapun Arisandi (2011).

Ketiga pola asuh tersebut pada kenyataannya sering kali tidak diterapkan secara utuh, dalam arti orang tua tidak menerapkan salah satu pola asuh tersebut secara terus menerus, tetapi ketiga pola asuh tersebut diterapkan secara fleksibel, luwes, dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang berlangsung. Pola asuh seperti ini disebut pola asuh situasional (Sarwono, 2013). Beberapa dampak penerapan ketiga pola asuh tersebut pada remaja saat ini yaitu pola asuh otoriter mengakibatkan anak cenderung bersikap memberontak dan bermusuhan, pola asuh permisif membuat remaja cenderung berperilaku bebas dan tidak terkontrol, dan pola asuh demokratis membuat

18

remaja cenderung terhindar dari perilaku menyimpang atau kenakalan remaja (Yusuf, 2010).

3. Dimensi pola asuh

Baumrind dalam Learnern (2006) menyatakan bahwa pola asuh terbentuk dari adanya dua dimensi, yaitu;

a. Parental Responsiveness Parental Responsiveness yaitu orang tua berespon kepada anaknya dengan kehangatan, memberikan kasih sayang, dan dukungan kepada anaknya. Parental Responsiveness mengacu pada beberapa aspek yaitu:

1) Sejauh mana orang tua mendukung dan sensitif pada kebutuhan anak- anaknya

2)

Bensitif terhadap emosi anak

3)

Memperhatikan kesejahteraan anak

4)

Bersedia meluangkan waktu dan melakukan kegiatan bersama

5) Serta bersedia untuk memberikan kasih sayang dan pujian saat anak- anak mereka berprestasi atau memenuhi harapan mereka

b. Parental Demanding

Parental Demanding yaitu orangtua memberikan kontrol terhadap anaknya, mereka bersikap menuntut dan memaksa anak dan menggunakan hukuman dengan tujuan untuk mengontrol perilaku anak mereka. Parental Demanding mengacu pada beberapa aspek yaitu:

1) Pembatasan Orang tua membatasi tingkah laku anak menunjukkan usaha orang tua menentukan hal-hal yang harus dilakukan anak dan memberikan batasan terhadap hal-hal yang ingin dilakukan anak. 2) Tuntutan Orangtua memberikan tuntutan agar anak memenuhi aturan, sikap, tingkah laku dan tanggung jawab sosial sesuasi dengan standart yang berlaku sesuai keinginan orang tua.

19

3) Sikap ketat Berkaitan dengan sikap orang tua yang ketat dan tegas dalam menjaga agar anak memenuhi aturan dan tuntutan mereka. Orang tua tidak menghendaki anak membantah atau mengajukan keberatan terhadap peraturan yang telah ditentukan, 4) Campur tangan Orangtua tidak adanya kebebasan bertingkah laku yang diberikan orang tua kepada anaknnya. Orang tua selalu turut campur dalam keputusan, rencana dan relasi anak, mereka tidak melibatkan anak dalam membuat keputusan tersebut.

4. Faktor yang mempengaruhi penerapan pola asuh orang tua Ada beberapa faktor yang mempengaruhi orang tua dalam menerapkan pola asuh kepada anak-anaknya, yaitu :

a. Jenis pola asuh yang diterima orang tua sebelumnya Orang tua merasa bahwa pola asuh yang mereka terima sebelumnya dalam membentuk individu yang baik, maka mereka akan menerapkan jenis pola asuh yang sama terhadap anak-anaknya, tapi apabila pola asuh yang diterima sebelumnya oleh orang tua tidak tepat, mereka akan menerapan pola asuh yang berbeda terhadap anak-anaknya (Rinestaelsa, 2008).

b. Kepribadian orang tua Setiap orang berbeda dalam tingkat energi, kesabaran, intelegensi, sikap, dan kematangannya. Karakteristik tersebut aan mempengaruhi kemampuan orang tua untuk memenuhi tuntutan peran sebagai orang tua dan bagaimana tingkat sensifitas orang tua terhadap kebutuhan anak- anaknya (Rinestaelsa, 2008).

c. Usia orang tua Pasangan orang tua yang masih dalam usia muda lebih cenderung menerapkan pola asuh demokratis dan permisif kepada anak-anaknya. Hal ini karena orang tua muda lebih bisa terbuka dan berialog dengan baik pada anak-anaknya. Pasangan dengan usia yang lebih tua biasanya cenderung

20

lebih keras dan bersikap otoriter terhadap anak-anaknya, dimana orang tua lebih dominan dalam mengambil keputusan karena orang tua merasa sangat berpengalaman dalam memberikan pengasuhan dan penilaian pada anak- anak mereka (Kozier et al, 2010).

d. Jenis kelamin orang tua Ibu lebih bertanggung jawab untuk mengasuh anak sehingga penerapan pola pengasuhan yang baik sangat diperlukan. Sedangkan ayah bertanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai moral dan mengontrol perilaku anak (Santrock, 2007).

e. Status ekonomi keluarga Kondisi ekonomi keluarga kelas menengah ke bawah cenderung lebih keras terhadap anak dan lebih sering menggunakan hukuman fisik. Keluarga ekonomi kelas menengah cenderung lebih memberi pengawasan dan perhatian sebagai orang tua. Sementara keluarga ekonomi kelas atas cenderung lebih sibuk untuk urusan pekerjaannya sehingga anak sering terabaikan (Yusuf, 2010).

f. Tingkat pendidikan Orang tua yang telah mendapatkan pendidikan yang tinggi, dan mengikuti kursus dalam mengasuh anak lebih menggunakan teknik pengasuhan demokratis dibandingkan dengan orang tua yang tidak mendapatkan pendidikan dan pelatihan dalam mengasuh anak (Hibana,

2002).

g. Usia anak Orang tua cenderung otoriter terhadap anak yang sudah remaja dibanding anak yang masih kecil karena pada umumnya anak kecil masih begitu patuh terhadap orang tua, dibanding remaja yang mendesak untuk mandiri sehingga menyebabkan kesulitan dalam pengasuhan (Santrock,

2007).

21

h. Jenis kelamin anak Orang tua cenderung bersikap protektif terhadap anak perempuan. Remaja perempuan lebih mudah terpengaruh dari lingkungan yang buruk dan banyak bahaya yang mengancam (Rinestaelsa, 2008).

5. Cara pengukuran Instrumen yang digunakan untuk mengukur pola asuh orang tua adalah kuesioner. Beberapa kuesioner telah digunakan pada penelitian sebelumnya seperti kuesioner pola asuh menurut Sari tahun 2010 dan Annisa tahun 2012. Kuesioner pola asuh yang dikembangkan oleh Sari ini terdiri dari 30 item pernyataan yang diisi oleh orang tua dengan hasil nilai validitasnya lebih dari 0,3, sedangkan uji reliabilitas di dapatkan nilai alpha 0,941. Kuesioner yang dikembangkan oleh Annisa terdiri dari 18 pertanyaan yang diisi menurut persepsi anak mengenai pola asuh orang tuanya dan didapatkan hasil validitasnya 0,48, dan hasil reliabilitas di dapatkan nilai alpha 0,67.

C.

Perilaku

1. Definisi Perilaku adalah respon individu terhadap sesuatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan baik disadari maupun tidak. Perilaku merupakan kumpulan berbagai faktor yang saling berinteraksi (Wawan dan Dewi, 2010). Perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati langsung oleh pihak luar (Notoatmodjo,

2010).

2. Jenis Perilaku Perilaku terbagi menjadi tiga yaitu perilaku sosial, perilaku kesehatan, dan perilaku menyimpang.

22

a. Perilaku Sosial Perilaku sosial dapat juga diartikan suasana saling ketergantungan yang merupakan keharusan untuk menjamin keberadaan manusia. Perliku sosial seseorang itu tampak dalam pola respon antar orang yang dinyatakan dengan hubungan timbal balik. Perilaku sosial juga identik dengan dengan reaksi seseorang dengan orang lain,perilaku ini ditunjukkan dengan perasaan, tindakan, sikap keyakinan, kenangan, atau rasa menghargai dan menghormati orang lain. Manusia sebagai pelaku dari perilaku sosial tidak bisa hidup tanpa orang lain. Manusia memiliki kebutuhan dan kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia yang lain (Ibrahim, 2001).

b. Perilaku Kesehatan Berdasarkan batasan Skiner (1938), perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang (organism) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makan dan minum, serta lingkungan (Notoatmodjo, 2007).

c. Perilaku Menyimpang Perilaku menyimpang adalah semua tingkah laku yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku dalam masyarakat seperti norma agama, etika, peraturan keluarga dan peraturan sekolah. Perilaku menyimpang pada remaja perlu mendapat perhatian karena dapat menjadi faktor terjadinya tindak kekerasan dan kriminal. Membiarkan remaja masuk ke dalam kondisi yang berpotensi menyebabkan perilaku menyimpang misalnya tidak memahami dan memberikan perhatian terhadap tugas-tugas perkembangan remaja, membiarkan remaja mendapatkan pengaruh negatif dari media elektronik, tidak melakukan kontrol dalam pergaulannya berarti melakukan penelantaran pada remaja (Soetjiningsih, 2004).

23

Jenis perilaku mnyimpang remaja menurut Jansen dalam Soetjiningsih (2004) yaitu :

1) Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain seperti perkelahian, pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, dan lain-lain. 2) Kenakalan yang menimbulkan korban materi seperti perkelahian, pencurian, pemerasan, pencopetan, dan lain-lain.

3)

4) Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos dan merokok di lingkungan

Kenakalan sosial seperti pelacuran dan penyalahgunaan obat.

sekolah.

3. Bentuk Perilaku Menurut Wawan dan Dewi (2010), bentuk perilaku dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :

a. Bentuk Pasif Bentuk pasif yaitu perilaku yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain. Misalnya berfikir, tanggapan atau sikap batin, dan pengetahuan.

b. Bentuk Aktif Bentuk aktif yaitu apabila perilaku jelas dapat diobservasi secara langsung. Bentuk ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata.

4. Domain Perilaku

Benyamin Bloon dalam Notoatmodjo (2007), membagi perilaku manusia dalam tiga domain, ranah, kawasan yaitu :

a. Kognitif (cognitive) dapat diukur dari pengetahuan.

b. Afektif (affective) dapat di ukur dari sikap.

c. Psikomotor (psychomotor) dapat di ukur dari tindakan yang dilakukan.

24

5. Proses Terjadinya Perilaku

proses

berurutan terjadinya perilaku seseorang yaitu :

a. Awarennes Awarennes atau kesadaran yaitu orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.

b. Interest Interest (merasa tertarik) yaitu orang yang mulai tertarik terhadap stimulus.

Notoatmodjo

Menurut

Rogers

dalam

(2010),

ada

beberapa

c. Evaluation Evaluation (menimbang) yaitu dimana individu akan mempertimbangkan baik atau tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.

d. Trial Trial (mencoba) yaitu individu telah mencoba perilaku tersebut.

e. Adaptation Adaptation (adaptasi) yaitu individu telah brprilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

6. Perubahan Perilaku Bentuk perubahan perilaku sangat bervariasi, sesuai dengan konsep yang digunakan para ahli dalam pemahamannya terhadap perilaku. Menurut

Notoatmodjo (2007) perubahan perilaku itu dikelompokkan menjadi tiga yaitu:

a. Perubahan alamiah (Natural Change) Perilaku manusia itu selalu berubah. Sebagian perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila dalam masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan lingkungan fisik atau sosial budaya dan ekonomi, maka anggota–anggota masyarakat di dalamnya juga akan mengalami perubahan.

b. Perubahan terencana (Panned Change)

25

Perubahan perilaku ini terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh seseorang, sehingga seseorang tersebut mempunyai keinginan yang kuat untuk berubah dari perilaku sebelumnya menjadi perilaku yang lebih baik. c. Kesediaan untuk berubah (Readdiness to Change) Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program pembangunan di dalam masyarakat, maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut (berubah perilakunya), dan sebagian orang lagi sangat lambat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut. Hal ini disebabkan setiap orang mempuyai kesediaan untuk berubah (readdiness to change) yang berbeda- beda.

7. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Faktor-faktor yang memegang peranan di dalam pembentukan perilaku dapat dibedakan menjadi dua yakni, (Notoatmodjo, 2010) :

a. Faktor internal berupa persepsi, pengetahuan, keyakinan, keinginan, motivasi, niat, dan sikap. b. Faktor eksternal meliputi pengalaman, pengasuhan orang tua, fasilitas, sosial, dan hasil-hasil kebudayaan yang dijadikan sasaran dalam mewujudkan bentuk perilakunya. Kedua faktor tersebut dapat menjadi perilaku yang selaras dengan lingkungannya apabila perilaku yang terbentuk dapat diterima oleh lingkungannya, dan dapat diterima oleh individu yang bersangkutan.

D.Bullying

1. Definisi Bentuk perilaku bullying di sekolah bermacam-macam dari bentuk fisik, verbal, relasional cyberbullying dan dapat terjadi pada berbagai tempat yang ada di sekolah. Lokasi yang sering menjadi tempat melakukan bullying diantaranya di koridor, ruang kelas, ruang ganti, di belakang sekolah, dan jalan

26

yang sepi (Donellan, 2006). Perilaku bullying di sekolah pada awalnya dapat berupa serangan-serangan kecil oleh pelaku atau bullies yang dilakukan secara berulang-ulang. Bullies biasanya akan melontarkan komentar yang merendahkan korbannya, memukul, mengejek, dan menganiaya korban secara terus menerus (Wharton, 2009). Baron dan Byrne (2009) menjelaskan bullying sebagai pola tingkah laku dimana terdapat individu yang dipilih sebagai target korban perilaku agresif secara berulang-ulang yang dilakukan oleh satu orang atau lebih. Bullying adalah perilaku agresif yang disengaja dan berulang-ulang untuk menyerang korban, yang biasanya orang lemah, mudah diejek, dan tidak bisa membela diri (Papalia, Olds, & Feldman, 2009). Rigby dan Thomas (2010) menyebutkan bahwa bullying adalah memperlakukan orang lain dengan berbagai tingkah laku yang menyakiti, mengancam dan menakuti. Tingkah laku ini biasanya dilakukan berulang kali dan memperlakukan orang lain dengan tidak hormat. Ketidakseimbangan antara pelaku dan korban sangat jelas, sehingga pelaku dapat dengan mudah menganiaya korban yang jauh lebih kecil atau lemah darinya. Hal ini bisa menjadi penyebab perilaku bullying bertahan dalam waktu yang lama karena tidak adanya usaha korban untuk menyelesaikan konflik dengan pelaku (Rigby, 2007).

2. Bentuk-bentuk bullying Perilaku bullying ini dapat hadir dalam berbagai bentuk mulai dari bentuk fisik, non-fisik, sampai perusakan terhadap properti orang lain (Sullivan & Cleary, 2005). Perilaku bullying terdiri dari dua bentuk, yaitu perilaku bullying yang dilakukan secara langsung kepada korban atau direct bullying dan perilaku bullying yang tidak dilakukan seecara langsung kepada korban atau inderct bullying dan bersifat lebuh memanipulasi hubungan sosial (Duffy, 2005). Klasifikasi bullying menurut Sejiwa (2008) adalah :

a. Bullying fisik, misalnya memukul, mendorong, menendang, memalak, mencubit, merusak barang milik orang lain, mengambil barang milik orang lain secara paksa. Serangan fisik langsung lebih sering terjadi pada

27

anak laki-laki, sedangkan bentuk tidak langsung lebih umumn terjadi pada anak perempuan. b. Bullying verbal, misalnya berkata kasar, mengejek, menertawakan, memanggil dengan nama julukan yang tidak disenangi (name calling), dan mengancam. c. Bullying mental, misalnya mengucilkan, mengabaikan, menyebarkan gosip yang tidak benar, memndang sinis, mencibir, dan meneror.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku bullying Ada beberapa faktor ang menjadi penyebab perilaku bullying pada remaja yaitu :

a. Faktor keluarga

1)

Pola asuh

2)

Latar belakang keluarga memiliki kaitan dengan perilaku bullying. Perilaku bullying biasanya merupakan anak dari orang tua yang menerapkan disiplin fisik, cenderung menolak, bermusuhan, memiliki keterampilan menyelesaikan masalah yang buruk, permisif terhadap perilaku anak, serta mengajarkan anak untuk menyerang atau membalas jika mendapat provokasi. Bullying dimakna anak sebagai sebuah kekuatan untuk melindungi diri dari lingkungan yang mengancam (Veenstra et al, 2005). Keharmonisan keluarga

3)

Orang tua adalah sumber pengaruh terkait dengan perilaku bullying pada remaja. Praktek orang tua yang positif seperti kehangatan keluarga atau dukungan bisa melindungi remaja dari keterlibatan bullying baik sebagai pengganggu maupun korban (Wong et al, 2009) Jumlah saudara Jumlah saudara juga memiiki hubungan dengan perilaku bullying. Remaja yang berasal dari keluarga yang besar memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam bullying antara saudara dibandingkan dengan remaja yang berasal dari keluarga yang relatif kecil. Bullying antar

28

saudara terjadi dalam waktu yang lama membuat anak menganggap perilaku bullying sebagai sesuatu yang normal dan diterima (Veenstra et al, 2005).

b. Faktor individu Faktor individu seperti kepribadian juga memiliki peranan penting dalam bullying misalnya rasa malu, kurangnya kontrol diri, senioritas, meniru, dan pengalaman bullying dimasa lalu.

c. Faktor lingkungan 1) Sekolah Ada beberapa faktor sekolah yang berpengaruh terhadap perilaku bullying, yaitu pergantian guru yang tinggi, sistem administrasi yang kurang baik, pengawasan yang tidak adekuat, kurangnya kesadaran dari anak secara individu (Monks et al, 2009).

Hubungan dengan pergaulan Memiliki banyak teman akan berkaitan dengan terjadinya kekerasan dan cenderung menjadi pengganggu dari pada menjadi korban dan cenderung terisolasi secara sosial (Wang et al, 2009).

2)

4. Dampak perilaku bullying Perilaku bullying memiliki dampak negatif terhadap semua pihak yang terlibat didalamnya dan mempengaruhi situasi belajar. Bullying memberikan dampak dalam jangka waktu pendek maupun jangka panjang baik sebagai pelaku maupun korbannya. Orang yang menjadi korban bullying semasa kecil kemungkinan kurang percaya diri pada masa dewasa dan tidak menutup kemungkinan dia menjadi pelaku bullying (Sejiwa, 2008). Bullying dapat berpengaruh bagi sekolah dan masyarakat. Marsh dalam Sanders (2003) mengemukakan bahwa sekolah dimana bullying itu terjadi seringkali dicirikan dengan para siswa yang tidak aman selama di sekolah, rasa tidak memiliki hubungan dengan masyarakat sekolah, ketidakpercayaan diantara para siswa, pembentukan geng, turunya reputasi sekolah di masyarakat, dan iklan pendidikan yang buruk.

29

a. Dampak bagi korban Perilaku bullying di sekolah akan memberikan dampak yang buruk bagi korban seperti prestasi yang menurun, membolos, melanggar kedisiplinan, tidak mengerjakan tugas sekolah, bahkan ada yang sampai depresi (Wharton, 2005). Bila bullying berlanjut dalam jangka waktu yang lama dapat mempengaruhi self-esteem siswa, meningkatkan isolasi sosial, memunculkan perilaku menarik diri, rasa tidak nyaman, bahkan bisa melakukan tindakan bunuh diri. Bullying yang dilakukan berulang-ulang akan membuat korban merasa depresi dan mudah marah. Korban akan mudah marah terhadap dirinya, terhadap pelaku bullying, dan orang-orang disekitarnya Coloroso (2006).

b. Dampak bagi pelaku Pelaku bullying memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi, cenderung bersifat agresif, berwatak keras, mudah marah, mudah frustasi, dan memiliki rasa toleransi yang rendah. Siswa yang menjadi pelaku bullying tidak dapat mengembangkan hubungan yang sehat, kurang cakap untuk memandang dari perspektif lain, tidak memiliki empati dengan teman sekolah, serta mengganggap dirinya paling kuat diantara teman- temannya (Coloroso, 2006). Pelaku bullying akan mudah terjebak dalam tindakan kriminal, selanjutnya mereka akan mengalami kesulitan dalam melakukan relasi sosial (Wiyani, 2012).

5. Karakteristik pelaku bullying Karakteristik yang muncul pada pelaku bullying (bullies) yaitu berkepribadian agresif, kurang empati, secara fisik lebih kuat dibandingkan korbannya, mengalami kesulitan beradaptasi dengan aturan, harga diri rendah, mempunyai penilaian positif terhadap kekerasan, pencapaian nilai akademik rendah, kurangnya rasa tanggung jawab terhadap sekolah, berasal dari keluarga yang keras, dan mengalami gejala-gejala depresi (Heath & Sheen, 2005).

30

6. Karakteristik korban bullying Karakteristik yang terlihat pada korban bullying diantaranya memiliki harga diri rendah, tingkat kehadiran di sekolah rendah, terlihat ketakutan saat berangkat atau pulang sekolah, sering menangis, terdapat luka memar yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya, mnarik diri dari kegiatan sosial, lebih sering menyendiri, kehilangan kepercayaan diri secara bertahap dalam situasi sosial, sering merasa tidak berdaya, menunjukkan tanda-tanda depresi (Weston,

2010).

7. Cara pengukuran perilaku bulying Instrumen yang digunakan untuk mengukur perilaku bullying adalah kuesioner. Kuesioner perilaku bullyingsalah satunya telah dikembangkan oleh Sejiwa tahun 2008. Klasifikasi dalam kuesioner ini mencakup bullying fisik, bullying verbal, dan bullying psikologi. Skala perilaku bullying terdiri dari 38 item.Uji validitas instrumen perilaku bullying bergerak antara 0,30-0,70 dan dinyatakan valid. Sedangkan uji reliabilitas di dapatkan nilai alpha 0,91 sehingga kuesioner dinyatakan reliable.

31

E. Kerangka Teori

Remaja Perubahan Perubahan Perubahan Perubahan Perubahan Fisik Kognitif Psikoseksual Psikososial Moral Kognitif
Remaja
Perubahan
Perubahan
Perubahan
Perubahan
Perubahan
Fisik
Kognitif
Psikoseksual
Psikososial
Moral
Kognitif
Faktor internal :
- Persepsi
Perilaku
- Pengetahuan
Afektif
- Keyakinan
- Keinginan
Psikomotor
- Motivasi
- Niat
- Sikap
Faktor eksternal :
Perilaku
Perilaku Sosial
Kesehatan
- Pengalaman
- Fasilitas
Sangat rendah
- Sosial-budaya
Perilaku Menyimpang:
Rendah
- Pola Asuh Orang Tua
Bullying
Sedang
1. Pola asuh otoriter
- Bullying fisik
2. Pola asuh
- Bullying verbal
Tinggi
demokratis
- Bullying psikologis
Sangat tinggi
Tinggi demokratis - Bullying psikologis Sangat tinggi Dampak bagi pelaku bullying : - Tidak memiliki empati

Dampak bagi pelaku bullying :

- Tidak memiliki empati

- Susah bersosialisai

- Mudah marah

- Terjebak dalam tindak kriminal

- Mudah marah - Terjebak dalam tindak kriminal Dampak bagi korban bullying : - Membolos -

Dampak bagi korban bullying :

- Membolos

- Melangar kedisiplinan

- Prestasi menurun

- Cemas, takut, dan rasa tidak nyaman, dan isolasi sosial

Gambar 1: Kerangka Teori Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Perilaku Bullying. Agustiani (2006), Santrock (2007), Ibrahim (2001), Jensen dalam Soetjiningsih (2004), Bloom dalam Notoatmojo (2007), Sejiwa (2008), serta Coloroso (2006)

32

F. Kerangka Konsep

Variabel bebas

Variabel Terikat

Pola Asuh Orang Tua

Perilaku Bullying

Variabel Terikat Pola Asuh Orang Tua Perilaku Bullying Gambar 2: Kerangka Konsep Penelitian G.Hipotesa Ada hubungan

Gambar 2: Kerangka Konsep Penelitian

G.Hipotesa

Ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying remaja di SMP N 4 Gamping Sleman.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non eksperimental, yaitu

suatu penelitian yang dilakukan tanpa melakukan intervensi terhadap subjek

penelitian (masyarakat). Rancangan ini menggunakan pendekatan cross sectional

yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor

risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi, atau pengumpulan data

dalam waktu yang bersaman. Penelitian ini menggunakan studi korelasi

(correlation study), yaitu penelitian atau penelaahan hubungan antara dua

variabel, yaitu variabel bebas adalah pola asuh orang tua dan variabel terikat

adalah perilaku bullying pada suatu situasi atau sekelompok subjek (Notoatmodjo,

2010).

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 4 Gamping Kecamatan Sleman.

2. Waktu penelitian

Waktu penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2016.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,

2011). Populasi penelitian ini adalah siswa SMP N 4 Gamping Sleman yang

duduk di kelas VIII sebanyak 189 siswa.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dianggap

mewakili populasi. Apa yang didapatkan dari sampel, kesimpulannya akan

33

34

dapat diberlakukan untuk populasi harus betul-betul representative (mewakili) (Sugiyono, 2011). Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling yaitu pengambilan sampel dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Pengambilan sampel acak sederhana dilakukan dengan cara undian (Sugiyono, 2011). Perhitungan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin, dengan tingkat kesalahan sebesar 0,1 (Nursalam, 2008). Besar sampel yaitu :

kesalahan sebesar 0,1 (Nursalam, 2008). Besar sampel yaitu : Keterangan : n= besar sampel N= besarnya

Keterangan : n= besar sampel N= besarnya populasi d= tingkat signifikan (p)=0,1 Hasil hitungan besar sample adalah sebagai berikut:

(p)=0,1 Hasil hitungan besar sample adalah sebagai berikut: Dari rumus tersebut, maka peneliti mengambil jumlah sampel
(p)=0,1 Hasil hitungan besar sample adalah sebagai berikut: Dari rumus tersebut, maka peneliti mengambil jumlah sampel

Dari rumus tersebut, maka peneliti mengambil jumlah sampel sebanyak 65 orang yang memenuhi kriteria inklusi secara acak dan diundi. 3. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria inklusi :

a. Siswa kelas VIII SMP N 4 Gamping.

b. Siswa yang masih memiliki orang tua kandung yang masih hidup dan tinggal satu rumah

c. Siswa yang mendapat izin orang tua dan mengisi lembar informed consent

Kriteria eksklusi :

a. Siswa yang tidak hadir saat dilakukan penelitian.

b. Siswa yang tidak kooperatif

35

D. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas Variabel bebas atau variabel independen adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel dependen, jadi variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi (Sugiyono, 2011). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pola asuh orang tua.

2. Variabel terikat Variabel terikat atau variabel dependen, yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2011). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah perilaku bullying.

E. Definisi Oprasional

Tabel 1 Definisi Operasional Variabel Penelitian

 

Jenis dan nama variabel

 

Skala

No

Definisi operasional

pengukuran

Penilaian

1

Variabel bebas:

Nominal Menggunakan kuesioner dengan jumlah pertanyaan

16.

Pola asuh orang tua

Pola asuh orang tua adalah cara yang digunakan orang tua dalam merawat dan mendidik anak-anaknya. Terdapat 3 macam pola asuh orang tua yaitu :

a. Pola asuh otoriter Orang tua memaksakan kehendak pada orang tua dan anak tidak boleh membantah maka akan mendapatkan hukuman.

b. Pola asuh permisif Orang tua memberikan pengawasan yang longgar dan anak diberi kebebasan untuk mengambil keputusan.

c. Pola asuh demokratis Orang tua mengarahkan perilaku dan sikap anak dengan menekankan alasan peraturan dan secara negatif menguatkan penyimpanan

d. Pola asuh Uninvolved Orang tua orang tua tidak terlihat dalam kehidupan anak karena cenderung lalai, sangat sedikit atau bahkan tidak ada kontrol kepada anak, dan kurangnya pendekatan emosional karena cenderung bersikap acuh

Dimensi Kontrol: DC Dimensi Kehangatan: DK Mean DC : 25,9 Mean DK :30,5

Otoriter : DC ≥ 25,9 & DK ≤ 30,5 Permisif : DC ≤ 25,9 & DK ≥ 30,5 Demokratis : DC ≥ 25,9 & DK ≥ 30,5 Uninvolved : DC ≤ 25,9 & DK ≤ 30,5

36

2

terikat:

perilaku bullying

Variabel

Perilaku bullying adalah perilaku agresif yang disengaja dan berulang untuk menyerang target atau korban dalam bentuk fisik, verbal, maupun psikologis

Ordinal Menggunakan kuesioner dengan jumlah pertanyaan 30, pertanyaan bersifat favourable dan unfavourable

Penilaian:

Sangat rendah = < 52,5

Rendah

Sedang = 67,5 – 82,4 Tinggi = 82,5 – 97,5

= > 97,5

Sangat tinggi

= 52,5 – 67,4

F. Alat dan Prosedur Pengumpulan Data

1. Alat atau Instrumen Penelitian

a. Pola Asuh Orang Tua

Instrumen yang digunakan untuk mengukur pola asuh orang tua

adalah kuesioner. Kuesioner skala pola asuh merupakan modifikasi yang

telah dibuat oleh Annisa (2012). Kuesioner ini menggunakan skala likert.

Skala pola asuh orangtua dalam penelitian ini menggunakan 5 alternatif

jawaban antara lain SS (Sering Sekali) diberi skor 5 untuk item favourable

dan skor 1 untuk item unfavourable, S (Sering) diberi skor 4 untuk item

favourable dan skor 2 untuk item unfavourable, K (Kadang) diberi skor 3

untuk item favourable dan unfavaurable, J (Jarang) diberi skor 2 untuk item

favourable dan skor 4 untuk item unfavourable, TP (Tidak Pernah) diberi

skor 1 untuk item favourable dan skor 5 untuk item unfavourable.

Tabel 2 Kisi-Kisi Alat Ukur Pola Asuh Orangtua

Dimensi

Indikator

Favourable

Unfavourable

Kontrol

Penegakan standar dan

1, 16

9

aturan yang jelas

Mengawasi tingkah laku

2, 10

13

dengan ketat

Kepatuhan tanpa

-

5, 6

pertanyaan atau

menentang

37

Kehangatan

Responsif terhadap hak-

7

8

hak dan kebutuhan anak Membantu anak dalam

3

-

segala hal Memberikan dukungan

-

4

Memberikan afeksi

11

15

Berkomunikasi dengan baik

14

12

Untuk menggolongkan responden ke dalam kategori pola asuh tertentu, terlebih dahulu dicari mean (nilai rata-rata) skor setiap dimensi yaitu dimensi kontrol dan dimensi kehangatan dari seluruh skor responden. Setiap responden yang skor dimensinya berada di bawah nilai rata-rata dianggap rendah pada dimensi tersebut, sebaliknya apabila nilainya di atas nilai rata-rata maka dianggap tinggi pada dimensi tersebut. Responden yang skornya pada dimensi kontrol maupun dimensi kehangatan lebih tinggi dari mean digolongkan sebagai responden yang diasuh secara demokratis, responden yang skornya pada dimensi kontrol lebih rendah dari mean tetapi pada dimensi kehangatan lebih tinggi dari mean adalah responden yang diasuh secara permisif, responden yang skornya pada dimensi kontrol lebih tinggi dari mean tetapi skor dimensi kehangatan lebih rendah dari mean adalah responden yang diasuh secara otoriter, dan responden yang skor pada kedua dimensi rendah dari mean adalah responden yang diasuh secara uninvolved. Hasil penghitungan skor kuesioner pola asuh orangtua diperoleh hasil sebagai berikut :

1)

Nilai mean dimensi kontrol dan dimensi kehangatan

Skor dimensi kontrol seluruh responden

: 1689

Skor dimensi kehangatan seluruh responden

: 1985

kehangatan Skor dimensi kontrol seluruh responden : 1689 Skor dimensi kehangatan seluruh responden : 1985

38

38 2) Mean Dimensi Kontrol Mean Dimensi Kehangatan : 30,5 : 25,9 Penggolongan kategori pola asuh

2)

Mean Dimensi Kontrol Mean Dimensi Kehangatan : 30,5

: 25,9

Penggolongan kategori pola asuh orangtua

Otoriter

: DC ≥ 25,9 & DK ≤ 30,5

Permisif

: DC ≤ 25,9 & DK ≥ 30,5

Demokratis

: DC ≥ 25,9 & DK ≥ 30,5

Uninvolved

: DC ≤ 25,9 & DK ≤ 30,5

b. Perilaku bullying Instrumen yang digunakan untuk mengukur perilaku bullying adalah kuesioner. Kuesioner perilaku bullying hasil modifikasi Sejiwa (2008). Skala perilaku bullying dalam penelitian ini menggunakan empat alternatif jawaban antara lain SS (sangat setuju) diberi skor empat untuk item favourable dan satu untuk item unfavourable, S (setuju) diberi skor tiga untuk item favourable dan dua untuk item unfavourable, TS (tidak setuju) diberi skor dua untuk item favourable dan tiga untuk item unfavaurable, STS (sangat tidak setuju) diberi skor satu untuk item favourable dan empat untuk item unfavourable. Tingkat bullying dapat dilihat dari skor yang didapat subjek dari skala tersebut. Semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin tinggi intensitas melakukan bullying begitu juga sebaliknya. Klasifikasi dalam kuesioner ini mencakup bullying fisik, bullying verbal, dan bullying psikologi. Skala perilaku bullying terdiri dari 30 item dengan skala ordinal, terdiri dari bullying fisik 2 item untuk favourable dan 3 item untuk unfavourable, bullying verbal 10 item untuk favourable dan 6 item untuk unfavourable, bullying psikologis 6 item untuk favourable dan 3 item untuk unfavourable. Hasil pengukuran perilaku bullying diperoleh skor minimal 30 dan skor maksimal 120. Hasil pengukuran perilaku bullying

39

dihitung dari banyaknya skor dari setiap responden kemudian dijumlahkan dan dianalisis sebagai berikut:

1) Menentukan nilai mean (rata-rata) skor maksimal dan minimal. Skor maksimal = 120 Skor Minimal = 30

maksimal dan minimal. Skor maksimal = 120 Skor Minimal = 30 2) Menentukan standar deviasi (SD)

2) Menentukan standar deviasi (SD)

= 120 Skor Minimal = 30 2) Menentukan standar deviasi (SD) 3) Penggolongan kategori skor mean

3) Penggolongan kategori skor mean :

X

< M -1,5.SD

= X < 52,5

M -1,5.SD ≤ X < M –0,5.SD

= 52,5 ≤ X < 67,5

M

–0,5.SD ≤ X < M +0,5.SD

= 67,5 ≤ X < 82,5

M

+0,5.SD ≤ X ≤ M +1,5.SD

= 82,5 ≤ X ≤ 97,5

X

> M +1,5.SD

= X > 97,5

4) Menyusun kategori Perilaku bullying

Sangat rendah

= < 52,5

Rendah

= 52,5 – 67,4

Sedang

= 67,5 – 82,4

Tinggi

= 82,6 – 97,5

Sangat tinggi

= > 97,6

Distribusi penyebaran nomor pernyataan skala bullying dapat dilihat pada tabel 3 berikut :

40

Tabel 3 Distribusi Penyebaran Nomor Pernyataan Skala Perilaku Bullying

Komponen

Aspek

Nomor butir

Favorable

Unfavorable

Jumlah

Bullying fisik

a. Memukul

-

2

1

b. Menindas

3

-

1

c. Menghajar

21

-

1

d. Berbuat kasar

-

6, 8

2

Bullying

a. Berkata kasar

17

9

2

verbal

b. Mengejek

10, 11, 22,

16

5

 

29

 

c. Menertawakan

12, 13

-

2

d. Mencaci maki

23

18

2

e. Mengancam

4, 19

25, 26, 27

5

Bullying

a. Memandang sinis

1

30

2

psikologis

b. Mempermalukan di

28

-

1

depan umum

c. Mengucilkan

20

7

3

d. Meneror

5

24

2

e. Mencibir

15

-

1

f. Menjahili

14

-

1

 

Jumlah

30

2. Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan subjek dan proses pengumpulan data karakteristik subjek yang dilakukan dalam suatu penelitian, dimana langkah-langkah pengumpulan data tergantung dari rancangan penelitian dan teknik yang digunakan (Nursalam, 2008). Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara :

Peneliti datang ke sekolah pada tanggal 14 Juni 2016 menghadap Kepala Sekolah untuk meminta izin melakukan penelitian dan meminta daftar nama siswa-siswi kelas VIII di bagian Tata Usaha untuk dilakukan pemilihan responden sesuai dengan kriteria inklusi. Tanggal 15 Juni 2016 peneliti meminta izin kepada guru yang bertanggung jawab dalam kegiatan pesantren ramadhan tersebut untuk membawa siswa-siswi yang namanya sudah sesuai dengan kriteria dibawa ke ruang yang berbeda, kemudian peneliti dibantu oleh asiten menjelaskan mengenai maksud dan tujuan serta menyebarkan lembar informed consent, setelah siswa mengisi lembar informed consent yang menyatakan bahwa siswa tersebut setuju untuk menjadi responden penelitian,

41

peneliti dibantu oleh asisten langsung memberikan kuesioner kepada siswa. Peneliti memastikan siswa mengisi kuesioner sesuai petunjuk atau keterangan yang tertera pada kuesioner tersebut.

G. Validitas dan Reliabilitas

1. Uji Validitas Sebelum kuesioner ini dibagikan kepada responden, maka peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas terlebih dahulu agar instrumen yang digunakan benar-benar memenuhi persyaratan sebagai alat ukur data (Notoatmodjo, 2010). Sebuah instrumen dapat dikatakan valid jika instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2011). Untuk mengukur validitas digunakan rumus korelasi product moment, yaitu teknik korelasi yang digunakan untuk mencari hubungan dan membuktikan hipotesis hubungan dua variabel. Adapun rumusnya adalah :

Rumus Product moment:

Rxy=

Adapun rumusnya adalah : Rumus Product moment : Rxy = Keterangan: R : Koefisien tiap butir

Keterangan:

R

: Koefisien tiap butir pertanyaan

X

: Jumlah skor tiap pertanyaan

Y

: Jumlah skor total tiap pertanyaan

xy

: Jumlah total skor responden kali tiap pertanyaan

N

: Jumlah responden percobaan.

Uji

validitas dilaksanakan di SMP N 2 Gamping Sleman pada tanggal 7

Juni 2016 dengan jumlah responden 20 jiwa. SMP N 2 Gamping Sleman memiliki karakteristik yang sama dengan SMP N 4 Gamping Sleman. Hasil uji validitas dinyatakan valid jika nilai r hitung > r tabel sebesar 0,444. Bila r hitung lebih kecil dari r tabel maka pertanyaan tersebut tidak valid. Peneliti

42

menggunakan dua kuisioner yaitu kuesioner pola asuh orangtua dan kuesioner perilaku bullying. Hasil uji validitas variabel pola asuh orangtua didapatkan 16 butir pertanyaan yang valid dan 2 pertanyaan yang tidak valid yaitu pertanyaan nomer 14 dan 18. Kedua pertanyaan dihilangkan karena sudah terwakili di pertanyaan yang lain yaitu nomer 14 terwakili oleh nomer 10 dan nomer 18 terwakili oleh nomer 16. Hasil uji validitas variabel perilaku bullying didapatkan 30 butir pertanyaan yang valid dan 8 pertanyaan yang tidak valid. Delapan pertanyaan dihilangkan karena sudah terwakili oleh pertanyaan lain untuk setiap aspek perilaku bullying.

2. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur diamati berkali-kali dalam waktu yang berlainan (Nursalam, 2010). Uji reliabilitas instrumen penelitian ini menggunakan uji reliabilitas dengan rumus alpha cronbach yaitu :

uji reliabilitas dengan rumus alpha cronbach yaitu : Keterangan : r 1 1 k : Diperoleh

Keterangan :

r 11

k

dengan rumus alpha cronbach yaitu : Keterangan : r 1 1 k : Diperoleh nilai reliabilitas

: Diperoleh nilai reliabilitas instrumen

: Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

: Jumlah varians butir

: Varians total

Interpretasi hasil r hitung dibandingkan dengan r tabel pada α 5% dengan nilai r tabel 0,6, sehingga apabila r hitung > r tabel dikatakan butir soal tersebut reliable karena menyatakan adanya korelasi antara skor item dan jumlah skor total. Hasil uji reliabilitas yang dilakukan di SMP N 2 Gamping Sleman untuk variabel pola asuh orangtua memperlihatkan bahwa 16 butir pertanyaan

43

diperoleh nilai r hitung 0,929 yang berarti lebih besar dari r tabel sebesar 0,6 sehingga variabel pola asuh orangtua dinyatakan reliable. Hasil uji reliabilitas untuk variabel perilaku bullying memperlihatkan bahwa 30 butir pertanyaan diperoleh nilai r hitung 0,947 yang berarti lebih besar dari r tabel sebesar 0,6 sehingga variabel perilaku bullying dinyatakan reliable.

H.Pengolahan Data dan Analisis Data

1. Pengolahan Data Menurut Notoatmodjo (2010), agar analisis menghasilkan informasi yang benar ada empat tahap dalam mengolah data pada suatu penelitian, yaitu:

a. Editing Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kelengkapan dan kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul. Pada saat penelitian setelah semua kuesioner dikumpulkan dan diperiksa kelengkapannya ada tujuh identitas responden yang belum lengkap sehingga peneliti mengembalikan kepada responden untuk dilengkapi kemudian dikumpulkan kembali.

b. Scoring

Memberikan skor pada jawaban responden terhadap kuesioner yang diberikan. Pola asuh orang tua :

Otoriter Permisif Demokratis Uninvolved Perilaku bullying :

= DC ≥ 25,9 & DK ≤ 30,5 = DC ≤ 25,9 & DK ≥ 30,5 = DC ≥ 25,9 & DK ≥ 30,5 = DC ≤ 25,9 & DK ≤ 30,5

Sangat rendah

= < 52,5

Rendah

= 52,5 – 67,4

Sedang

= 67,5 – 82,4

Tinggi

= 82,6 – 97,5

Sangat tinggi

= > 97,6

44

c. Coding Coding adalah pemberian kode numeric atau angka terhadap data yang sudah terkumpul yang terdiri atas beberapa kategori. Peneliti memeberikan kode untuk memudahkan kembali melihat lokasi dan arti kode dari suatu variabel. Pemberian kode kuesioner:

Pola asuh orang tua: Kode 0 yaitu pola asuh uninvolved, kode 1 yaitu pola asuh otoriter, kode 2 yaitu pola asuh permisif dan untuk kode 3 yaitu pola asuh demokratis. Perilaku bullying: kode 1 yaitu sangat rendah, kode 2 yaitu rendah, kode 3 yaitu sedang, kode 4 yaitu tinggi, dan kode 5 yaitu sangat tinggi.

d. Entry Entry data adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam master tabel atau data base komputer. Data yang sudah dikumpulkan melalui kuesioner kemudian dientri yaitu jawaban-jawaban dari masing- masing responden dimasukkan ke dalam software menggunakan SPSS.

e. Tabulating Pada tahap ini merupakan proses pembuatan tabel untuk data dari masing- masing variabel penelitian dan dibuat berdasarkan tujuan penelitian. Peneliti membuat tabel distribusi frekuensi seperti jenis kelamin, usia, jenis pekerjaan orangtua, dan pendidikan terakhir orangtua tujuan agar data dapat tersusun rapi, mudah dibaca dan dianalisis.

2. Analisis Data

Analisa data penelitian akan menggunakan ilmu statistik terapan yang sesuai dengan tujuan yang akan dianalisis. Penelitian ini menggunakan analisa univariat dan bivariat.

a. Analisis univariat Analisa univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran karakteristik masing-masing variabel penelitian dengan menyajikan distribusi frekuensi. Tabel distribusi frekuensi ini menggambarkan jumlah

45

dan presentasi dari setiap variabel yang ada (Notoatmodjo, 2010). Analisa univariat dalam penelitian ini yaitu karakteristik responden (usia, jenis kelamin, jumlah saudara, usia orang tua, tingkat pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua), variabel pola asuh orang tua dan perilaku bullying. Distribusi responden :

x100%

P =

dan perilaku bullying . Distribusi responden : x100% P = Keterangan : P = Presentase variabel

Keterangan :

P= Presentase variabel f = Frekuensi n = Observasi b. Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara 2 variabel. Variabel yang akan dilihat adalah variabel bebas dan variabel terikat yakni hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku bullying. Jenis skala pola asuh orang tua dan perilaku bullying adalah skala nominal dan ordinal sehingga analisa yang digunakan adalah uji Chi-square. Rumus Chi-square (x 2 ) hitung yang akan digunakan yaitu:

Chi-square (x 2 ) hitung yang akan digunakan yaitu: Keterangan : x 2 = Nilai Chi-square

Keterangan :

x 2

= Nilai Chi-square

fo

= Frekuensiyang diobservasi (frekuensi empiris)

fe

= Frekuensiyangdiharapankan (frekuensi teoritis)

Rumus mencari Chi-square (x 2 ) tabel adalah:

empiris) fe = Frekuensiyangdiharapankan (frekuensi teoritis) Rumus mencari Chi-square (x 2 ) tabel adalah:

46

Keterangan :

dk

= x 2 tabel

k

= Jumlah kolom

b

= Jumlah baris

Hasil teknik uji Koefisiensi kontingensi akan dicari tingkat signifikan dengan taraf kesalahan 5% dan taraf kepercayaan 95%. Hasil yang diperoleh 0,003 < 0,05 maka Ho ditolak. Sedangkan untuk mengetahui keeratan hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying menggunakan rumus :

orang tua dengan perilaku bullying menggunakan rumus : Keterangan : C= Contingency coefficient x 2 =

Keterangan :

C= Contingency coefficient x 2 = Nilai Chi-square N= Jumlah responden

Pedoman pemberian interpretasi terhadap koefisien korelasi dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4 Pedoman Pemberian Interpretasi terhadap Koefisien Korelasi

Interval Koefisien

Tingkat Hubungan

0,800-1,000

Sangat kuat

0,600-0,799

Kuat

0,400-0,599

Sedang

0,200-0,399

Rendah

0,000-0,199

Sangat Rendah

(Sugiyono, 2011)

47

I. Etika Penelitian Pada penelitian ilmu keperawatan, karena hampir 90% subjek yang dipergunakan adalah manusia, sehingga peneliti harus memahami prinsip-prinsip etika penilitian (Nursalam, 2008). Prinsip-prinsip etika penilitian sebagai berikut :

1. Lembar persetujuan responden (Informed Consent) Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian terlebih dahulu sebelum melakukan penelitian. Responden dijelaskan terlebih dahulu mengenai persetujuan tentang akan dilakukannya penelitian sehingga responden setuju dan peneliti memberikan lembar persetujuan untuk ditanda tangani. Pada penelitian ini seluruh responden menandatangani lembar persetujuan untuk menjadi responden.

2. Tanpa nama (Anonimity) Peneliti memberikan jaminan dalam menggunakan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil yang akan disajikan. Peneliti memberikan kode angka sebagai pengganti nama responden sehingga identitas responden dapat terjamin kerahasiaannya.

3. Kerahasiaan (Confidentiality) Kerahasiaan dari data-data yang diperoleh dari responden dijamin oleh peneliti. Peneliti hanya mengungkapkan data yang didapatkan tanpa menyebutkan nama asli subyek penelitiannya. Penelitian ini sangat dijaga kerahasiaannya dan dijamin keamanannya guna mengembangkan penelitian yang selanjutnya akan dibuat oleh peneliti lain. Hard file berupa kuesioner akan peneliti hanguskan 3 bulan setelah penelitian dan softfile pada penyimpanan komputer akan diberi password untuk melindungi kerahasian data dari responden.

4. Izin Orangtua Izin dari orangtua untuk siswa-siswi yang akan dijadikan responden sangat diperlukan karena mereka masih menjadi tanggung jawab orangtua sehingga penelitian ini perlu mendapat izin dari mereka. Penelitian ini bersamaan dengan kegiatan pesantren kilat sehingga waktu sangat terbatas untuk

48

memberikan surat izin kepada orangtua terlebih dahulu. Salah satu guru selaku ketua kegiatan tersebut sebagai pihak yang bertanggung jawab memberikan izin kepada peneliti dalam proses penelitian.

J. Pelaksanaan Penelitian Bagian ini berisikan semua hal yang dilakukan peneliti pada setiap tahap yang terdiri dari :

1. Tahap Persiapan

Tahap

persiapan penelitian yang dilakukan adalah :

a. Mengumpulan data, artikel dan jurnal sebagai keaslian penelitian dan referensi untuk penyusunan proposal penelitian.

b. Mengajukan judul penelitian kepada pembimbing kemudian meminta persetujuan di PPPM.

c. Mengonsultasikan dengan pembimbing mengenai langkah-langkah dalam penyusunan proposal.

d. Mengurus surat izin untuk studi pendahuluan di SMP N 4 Gamping.

e. Melakukan studi pendahuluan di SMP N 4 Gamping.

dilakukan untuk mempersiapkan jalannya proses penelitian .

ini

f. Menyusun proposal skripsi dengan bimbingan pembimbing dan melakukan perbaikan yang sudah diperiksa oleh pembimbing.

g. Melakukan ujian proposal penelitian.

h. Melakukan perbaikan proposal penelitian sesuai dengan saran yang diberikan oleh pembimbing dan penguji.

i. Mengurus surat ijin uji validitas dan reliabilitas dari Stikes Jen. A. Yani Yogyakarta ke SMP N 2 Gamping Sleman.

j. Melakukan uji validitas dan reliabilitas di SMP N 2 Gamping Sleman.

k. Mengurus surat ijin penelitian dari Stikes Jen. A. Yani Yogyakarta ke SMP N 4 Gamping.

49

2. Tahap Pelaksanaan

Penelitian ini dilakukan oleh peneliti di SMP N 4 Gamping pada bulan Juni 2016. Penelitian mengumpulkan data dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Tanggal 14 Juni 2016 menghadap Kepala Sekolah untuk meminta izin melakukan penelitian dan meminta daftar nama siswa-siswi kelas VIII di bagian Tata Usaha untuk dilakukan pemilihan responden sesuai dengan kriteria inklusi.

b. Tanggal 15 Juni 2016 peneliti meminta izin kepada guru yang bertanggung jawab dalam kegiatan pesantren ramadhan tersebut untuk membawa siswa- siswi yang namanya sudah sesui dengan kriteria di bawa ke ruang yang berbeda, kemudian peneliti di bantu oleh asiten menjelaskan mengenai maksud dan tujuan serta menyebarkan lembar informed consent dan responden dianjurkan bertanya apabila ada pertanyaan ataupun pernyataan yang kurang jelas, setelah siswa mengisi lembar informed consent yang menyatakan bahwa siswa tersebut setuju untuk menjadi responden penelitian, peneliti dibantu oleh asisten langsung memberikan kuesioner kepada siswa.

c. Peneliti memastikan siswa mengisi kuesioner sesuai petunjuk atau keterangan yang tertera pada kuesioner tersebut.

3. Tahap Akhir

Tahap

menggunakan program komputer. Selanjutnya adalah:

a. Melakukan penyelesaian

b. Menyusun laporan hasil penelitian

c. Melakukan ujian hasil penelitian

d. Melakukan perbaikan laporan sesuai saran dalam ujian hasil penelitian

e. Menyerahkan hasil perbaikan untuk dikoreksi lagi oleh pembimbing

f. Melakukan pengumpulan laporan skripsi

akhir

penelitian

ini

adalah

mengolah

dan

menganalisis

data

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

SMP N 4 Gamping terletak di Kalimanjung desa Ambarketawang

Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman dengan status sekolah negeri di bawah

naungan Departemen Pendidikan Nasional dan telah terakreditasi A oleh

BAN-SM (Badan Akreditasi Nasional- Sekolah/Madrasah). Jumlah guru pada

sekolah ini adalah 72 guru, pegawai tata usaha 11 orang, sedangkan jumlah

murid adalah 612 siswa yang terdiri dari 320 siswa laki-laki dan 292 siswa

perempuan. SMP N 4 Gamping 18 kelas dan setiap angkatan memiliki 6 kelas.

SMP N 4 Gamping memiliki fasilitas sekolah antara lain Aula,

perpustakaan, laboratorium komputer, laboratorium biologi dan fisika, ruang

ketrampilan, UKS (Unit Kesehatan Sekolah), Musholla, Koprasi sekolah,

lapangan olah raga, ruang kesenian. SMP N 4 Gamping Sleman memiliki

program ekstrakulikuler diantaranya : Seni musik, Pramuka, Sepak bola,

Futsal, Basket, Bulu tangkis, Pencak silat, Palang Merah Remaja (PMR),

semua kegiatan ekstrakulikuler ini boleh diikuti oleh seluruh siswa dan siswi.

Setiap sekolah memiliki tata tertib sendiri, termasuk juga SMP N 4 Gamping,

baik untuk siswa, maupun guru dan karyawan. Setiap pelanggaran terhadap tata

tertib yang ada akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan yang telah

ditetapkan. Siswa yang bermasalah akan ditangani oleh pihak-pihak yang telah

ditentukan, antara lain oleh guru bimbingan dan konseling (BK).

Orangtua siswa setiap satu tahun sekali yaitu saat penerimaan raport

kenaikan kelas akan bertemu dengan pihak sekolah untuk membahas masalah-

masalah yang dihadapi siswa selama satu tahun dan menentukan jalan keluar

yang sesuai atau tepat. Siswa yang bermasalah dengan kasus berat akan

panggil orangtuanya untuk bertemu dengan pihak sekolah sedangkan untuk

kasus yang ringan atau sedang akan diberi teguran lisan dan surat peringatan.

Data dari bagian BK di SMP N 4 Gamping dari Januari sampai Juni 2016

50

51

sudah ada 13 kasus yang ditangani oleh BK, tetapi seluruhnya berupa masalah

sedang sehingga penyelesaiannya hanya berupa surat peringatan.

2. Analisis Hasil Penelitian

a. Karakteristik Orang Tua

Dari hasil penelitian, diperoleh karakteristik orang tua siswa

berdasarkan usia, pendidikan, pekerjaan di SMP N 4 Gamping sebagai

berikut :

Tabel 5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Orang Tua di SMP N 4 Gamping Sleman

Karakteristik Orangtua

Frekuensi (n)

Persentase (%)

Usia orang tua < 40 tahun 40-50 tahun

 

26

40,0

31

47,7

>50 tahun

8

12,3

Pendidikan orang tua SD SMP SMA Perguruan Tinggi

8

12,3

21

32,3

29

44,6

7

10,8

Agama orang tua Islam

65

100

Pekerjaan orang tua Buruh Guru IRT Karyawan Pedagang Pegawai Pensiunan PNS Sopir TNI Wiraswasta

27

41,5

1

1,5

2

3,1

7

10,8

1

1,5

3

4,6

1

1,5

1

1,5

1

1,5

1

1,5

20

30,8

Total

65

100,0

Sumber: Data Primer, 2016

Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa karakteristik orang tua

responden menurut usia yang paling banyak adalah usia 40-50 tahun yaitu

sebanyak 31 orang (47,7%). Pendidikan orangtua responden terbanyak

52

adalah berpendidikan SMA yaitu sebanyak 29 orang (44,6%). Agama

orangtua responden keseluruhan beragama islam yaitu sebanyak 65 orang

(100%). Sementara karakteristik orang tua responden menurut pekerjaannya

yang paling banyak yaitu buruh 27 orang (41,6%).

b. Karakteristik Remaja

Dari hasil penelitian, diperoleh karakteristik responden siswa

berdasarkan umur, jumlah saudara, dan jenis kelamin di SMP N 4 Gamping

Sleman sebagai berikut :

Tabel 6 Distribusi Frekuensi Karakteristik Remaja di SMP N 4 Gamping Sleman

Karakteristik Responden

Frekuensi (n)

Presentase (%)

Umur

13 Tahun

7

10,8

14 Tahun

45

69,2

15 Tahun

13

20,0

Jumlah Saudara

1 Saudara

12

18,5

2 Saudara

32

49,2

3 Saudara

14

21,5

4 Saudara

5

7,7

5 Saudara

2

3,1

Jenis Kelamin

Laki-laki

34

52,3

Perempuan

31

47,7

Total

65

100,0

Sumber : Data Primer, 2016

Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat bahwa karakteristik responden

menurut umur remaja paling banyak adalah usia 14 tahun yaitu 44 orang

(67,7%), sedangkan paling sedikit yaitu umur 13 tahun yaitu sebanyak 7

orang (10,8%). Karakteristik responden berdasarkan jumlah saudara paling

banyak adalah yang memiliki 2 saudara yaitu 32 orang (49,2%), sedangkan

yang paling sedikit adalah yang memiliki 5 saudara sebanyak 2 orang

(3,1%). Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin hampir seimbang

yaitu laki-laki yaitu 34 orang (52,3%) dan perempuan sebanyak 31 orang

(47,7%).

53

3. Pola Asuh Orang Tua

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui frekuensi pola

asuh orang tua pada siswa di SMP N 4 Gamping Sleman adalah sebagai

berikut:

Tabel 7 Distribusi Frekuensi Pola Asuh Orang Tua di SMP N 4 Gamping Sleman

Pola asuh

Frekuensi (n)

Presentase (%)

Uninvolved Pola Asuh Otoriter Pola Asuh Permisif Pola asuh Demokratis

14

21,5

14

21,5

15

23,1

22

33,8

Total

65

100,0

Sumber : Data Primer, 2016

Berdasarkan tabel 7 dapat dilihat bahwa pola asuh orang tua yang paling

paling banyak diterapkan oleh orang tua siswa di SMP N 4 Gamping Sleman

adalah pola asuh demokratis yaitu sebanyak 22 orang (33,8%).

4. Perilaku Bullying

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui frekuensi

sebagai

perilaku bullying pada siswa SMP N 4 Gamping Sleman adalah

berikut :

Tabel 8 Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Bullying Siswa di SMP N 4 Gamping Sleman

Perilaku Bullying

Frekuensi (n)

Presentase (%)

Bullying Sangat Rendah Bullying Rendah Bullying Sedang Bullying Tinggi

21

32,3

26

40,0

12

18,5

6

9,2

Total

65

100,0

Sumber : Data Primer, 2016

Berdasarkan tabel 8 dapat disimpulkan bahwa siswa lebih banyak

melakukan perilaku bullying dengan intensitas rendah sebanyak 26 orang

54

(40,0%) dan perilaku bullying dengan intensitas sangat rendah sebanyak 21

orang (32,3%).

5. Hubungan Antara Pola Asuh Orang Tua Dengan Perilaku Bullying

Remaja di SMP N 4 Gamping Sleman

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara 2 variabel,

yaitu variabel bebas adalah pola asuh orang tua dan variabel terikat adalah

perilaku bullying. Hasil tabulasi hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku

bullying remaja di SMP N 4 Gamping Sleman disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 9 Uji Tabulasi Silang Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Perilaku Bullying Remaja di SMP N 4 Gamping Sleman

 

Bullying

Bullying

Bullying

Bullying

 

Total

r

Pola asuh

Sangat

Rendah

Sedang

 

Tinggi

 

P-

hitung

 

Rendah

 

value

N

%

N

%

N

%

N

%

N

%

Uninvolved

2

3,1

8

12,3

4

6,2

0

0

14

21,5

Otoriter

2

3,1

4

6,2

3

4,6

5

7,7

14

21,5

0,00

-0,345

Permisif

6

9,2

4

6,2

4

6,2

1

1,5

15

23,1

3

Demokratis

11

16,9

10

15,4

1

1,5

0

0

22

33,8

Total

21

32,3

26

40,0

12

18,5

6

9,2

65

100,0

Sumber : Data Primer, 2016

Berdasarkan tabel 9 dapat disimpulkan bahwa dari total 65 responden,

responden dengan pola asuh otoriter lebih banyak melakukan perilaku bullying

dengan intensitas tinggi sebanyak 5 responden (7,7%). Responden dengan pola

asuh permisif lebih banyak melakukan perilaku bullying dengan intens sangat

rendah sebanyak 6 responden (9,2%). Responden dengan pola asuh demokratis

lebih banyak melakukan perilaku bullying dengan intensitas sangat rendah

sebanyak 11 responden (16,9%) dan perilaku bullying dengan intensitas rendah

sebanyak 10 responden (15,4%).

Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan chi square, diketahui bahwa

nilai p-value sebesar 0,003, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan

yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying remaja di

SMP N 4 Gamping Sleman. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini untuk

55

mengetahui corelation coefficient yaitu -0,345 sehingga keeratan hubungan rendah.

B. PEMBAHASAN 1. Karakteristik Orang Tua Responden di SMP N 4 Gamping Sleman Orang tua dalam penelitian ini paling banyak berusia 40-50 tahun yaitu sebanyak 31 orang (47,7%). Menurut teori kedewasaan masa dewasa dibagi menjadi tiga kategori yaitu dewasa awal dimulai dari usia 29-39 tahun, dewasa tengah dimulai antara usia 40-59 tahun dan dewasa akhir berusia di atas 60 tahun (Wong, 2009). Menurut teori perkembangan Erikson, tugas perkembangan yang utama pada masa dewasa adalah mencapai generativitas. Generativitas adalah keinginan untuk merawat dan membimbing orang lain. Dewasa tengah dapat mencapai generativitas dengan anak-anaknya melalui bimbingan dalam interaksi sosial dengan generasi berikutnya (Potter & Perry,

2005).

Berdasarkan tingkat pendidikan orang tua responden didominasi oleh orang tua dengan pendidikan SMA sebanyak 29 orang (44,6%). Hal ini sesuai dengan penelitian Linda & Hamal (2011) yang menyatakan bahwa orang tua dengan latar belakang pendidikan yang tinggi akan memiliki pengetahuan dan pengertian yang luas terhadap perkembangan anak, sedangkan orang tua dengan latar belakang pendidikan yang rendah cenderung memiliki pengetahuan dan pengertian yang terbatas mengenai perkembangan dan kebutuhan anak. Penelitian Rahni (2010) juga menyatakan bahwa orang tua yang telah mendapatkan pendidikan yang tinggi, dan mengikuti kursus dalam mengasuh anak lebih menggunakan teknik pengasuhan demokratis dibandingkan dengan orang tua yang tidak mendapatkan pendidikan dan pelatihan dalam mengasuh anaknya. Berdasarkan hasil penelitian mayoritas pekerjaan orang tua responden adalah buruh yaitu sebanyak 27 (41,5 %). Menurut Yusuf (2010) mengatakan bahwa kondisi ekonomi keluarga kelas menengah ke bawah cenderung lebih keras terhadap anak dan lebih sering menggunakan hukuman fisik. Keluarga

56

ekonomi kelas menengah cenderung lebih memberi pengawasan dan perhatian sebagai orang tua. Sementara keluarga ekonomi kelas atas cenderung lebih sibuk untuk urusan pekerjaannya sehingga anak sering terabaikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh yang banyak di terapkan adalah demokratis, meski sebagian besar orang tua bekerja sebagai buruh dengan kondisi ekonomi kelas menengah ke bawah yang cenderung lebih keras terhadap anak dan lebih sering menggunakan hukuman fisik tapi ada beberapa faktor lain yang mempempengaruhi yaitu pendidikan terakhir orangtua dan usia. Pendidikan terakhir orang tua yang mayoritas SMA bisa memberikan pengaruh terhadap pola pengasuhannya. Orang tua dengan pendidikan tersebut sudah memiliki pengetahuan dan pengertian yang luas terhadap perkembangan anak, sehingga bisa menyesuaikan pola pengasuhan mana yang terbaik untuk anaknya. Usia orangtua yang sebagian besar masih dalam masa dewasa tengah sehingga membuat orang tua masih sering memberikan bimbingan dan saling berinteraksi dengan anaknya. Pasangan orang tua yang masih dalam usia muda lebih cenderung menerapkan pola asuh demokratis dan permisif kepada anak-anaknya karena orang tua muda lebih bisa terbuka dan berialog dengan baik pada anak-anaknya. Pasangan dengan usia yang lebih tua biasanya cenderung lebih keras dan bersikap otoriter terhadap anak-anaknya, dimana orang tua lebih dominan dalam mengambil keputusan karena orang tua merasa sangat berpengalaman dalam memberikan pengasuhan dan penilaian pada anak-anak mereka (Kozier et al, 2010)

2. Karakteristik Responden di SMP N 4 Gamping Sleman Remaja dalam penelitian ini paling banyak berusia 14 tahun yaitu sebanyak 45 orang (69,2%). Pada masa remaja awal (12-14 tahun) individu mulai meninggalkan peran sebagai anak-anak dan berusaha mengembangkan diri individu unik dan tidak tergantung pada orang tua. Faktor dari tahap ini adalah penerimaan terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat dengan teman sebaya (Agustiani, 2006). Menurut Bichler dalam Fatimah (2010) ciri-ciri remaja usia 12-15 tahun adalah berperilaku kasar,

57

cenderung berusaha berperilaku tidak toleran terhadap orang lain, susah diatur, mudah terangsang, emosi yang tidak stabil dan tidak berusaha mengendalikan diri dan perasaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki 2 saudara yaitu sebanyak 32 orang (49,2%). Remaja yang berasal dari keluarga yang besar memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam bullying antara saudara dibandingkan dengan remaja yang berasal dari keluarga yang relatif kecil. Bullying antar saudara terjadi dalam waktu yang lama membuat anak menganggap perilaku bullying sebagai sesuatu yang normal dan diterima (Veenstra et al, 2005). Berdasarkan hasil penelitian jenis kelamin responden hampir seimbang yaitu laki-laki sebanyak 34 orang (52,3%) dan perempuan sebanyak 31 orang (47,7%). Olweus mengatakan dalam Yahaya et al (2008) bahwa perilaku negatif seperti bullying di lingkungan sekolah antara siswa laki – laki dan siswa perempuan sangat berbeda. Siswa laki – laki dalam melakukan perilaku bullying cenderung lebih kasar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku bullying masih dalam intensitas sangat rendah dan rendah. Usia remaja mayoritas berusia 14 tahun, pada usia tersebut remaja berperilaku kasar, cenderung berusaha berperilaku tidak toleran terhadap orang lain, susah diatur, mudah terangsang, emosi yang tidak stabil dan tidak berusaha mengendalikan diri dan perasaan. Faktor yang membuat perilaku bullying dalam intensitas rendah meski pada usia tersebut remaja cenderung bersikap kasar terhadap teman sebayanya adalah jenis kelamin dan jumlah saudara. Jenis kelamin yang hampir seimbang mempunyai pengaruh karena anak perempuan akan cenderung lebih bersifat simpati dengan temannya dibanding anak laki-laki yang cenderung lebih agresif. Anak perempuan juga cenderung lebih dikontrol bahkan dibatasi pergaulannya oleh orangtua. Jumlah saudara yang sedikit akan memberikan rasa keharmonisan di banding dengan anak yang memiliki jumlah saudara banyak karena mereka akan cenderung lebih menunjukkan kelebihannya satu sama lain sehingga perilaku bullying lebih banyak terjadi yang berpengaruh dalam pergaulannya

58

sebagai pengalaman yang didapatkan dalam keluarga. Remaja yang berasal dari keluarga yang besar memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam bullying antara saudara sehingga anak menganggap perilaku bullying sebagai sesuatu yang normal dan diterima (Veenstra et al, 2005).

3. Pola Asuh Orang Tua Remaja di SMP N 4 Gamping Sleman Hasil penelitian menunjukan bahwa pola asuh orang tua di SMP N 4 Gamping Sleman paling banyak adalah pola asuh demokratis yaitu sebanyak 22 orang (33,8%), pola asuh permisif sebanyak 15 orang (23,1%), dan pola asuh otoriter sebanyak 14 orang (21,5%). Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang memberikan pengaruh sangat besar bagi tumbuh kembang remaja Perkembangan remaja akan optimal apabila mereka bersama keluarga yang harmonis, sehingga kebutuhan remaja seperti kebutuhan fisik, sosial maupun psiko-sosial terpenuhi (Murtiyani, 2011). Pola asuh (parenting style) adalah model pengasuhan atau sikap perlakuan yang dimiliki dan diterapkan orang tua dalam pengasuhan terhadap anak sejak usia kandungan hingga dewasa (Yusuf, 2010). Pola asuh merupakan interaksi yang dilakuan oleh orang tua dengan anaknya dalam interaksi tersebut orang tua memberian pengasuhan berupa penilaian, pendidikan, pengetahuan, bimbingan, kedisiplinan, kemandirian, dan perlindungan untuk mencapai kedewasaan yang berlaku di masyarakat berkaitan dengan kepentingan hidupnya (Shochib, 2010). Ciri khas pola asuh otoriter adalah dimana orang tua mencoba untuk mengontrol perilaku dan sikap anak melalui perintah yang tidak boleh dibantah. Mereka menetapkan aturan atau standar perilaku yang dituntut untuk diikuti dan tidak boleh dipertanyakan. Anak dituntut untuk mematuhi kata-kata atau aturan mereka. Mereka akan menghukum setiap perilaku yang berlawanan dengan standar yang telah dibuat. Keterlibatan anak dalam pengambilan keputusan sangatlah sedikit dan komunikasi yang terjalin dalam pola asuh ini adalah komunikasi satu arah (Wong et al, 2009). Dampak dari penerapan pola asuh otoriter adalah anak mengalami tekanan fisik dan mental, sering tidak

59

bahagia, kehilangan semangat, cenderung menyalahkan diri, mudah putus asa, tidak memiliki inisiatif, tidak bisa mengambil keputusan, tidak berani mengemukakan pendapat, dan memiliki keterampilan komunikasi yang buruk (Santrock, 2007). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pertanyaan tentang pola asuh otoriter dari 65 responden, lebih banyak responden mengatakan bahwa orang tua kurang mengungkapkan kasih sayang kepada mereka sebanyak 49,2 % dan orang tua mengatur hidup mereka sebanyak

32,3%.

Ciri pola asuh permisif adalah orang tua memiliki sedikit kontrol atau tidak sama sekali atas tindakan anak-anak mereka (Wong et al., 2009). Orang tua cenderung memberi kebebasan kepada anak dan menuruti segala keinginan anak. Penerapan pola asuh permisif pada anak remaja dilatar belakangi oleh orang tua yang tidak ingin melihat anak remajanya mengalami kesulitan seperti mereka remaja dulu, rasa membahagiakan anak dan orang tua memiliki perasaan bersalah (Surbakti, 2009). Orang tua pada pola asuh ini membiarkan anak-anaknya melakuan apapun yang mereka inginkan dan hasilnya adalah anak-anak yang tidak pernah belajar mengendalian perilakunya sendiri dan selalu berharap kemauannya di turuti (Santrock, 2007). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pertanyaan tentang pola asuh permisif dari 65 responden, lebih banyak responden mengatakan bahwa orang tua kurang peduli dengan urusan sekolah mereka sebanyak 67,7% dan orang tua kurang berkomunikasi dengan mereka sebanyak 64,6%. Pola asuh demokratis merupakan kombinasi praktik mengasuh anak dari pola asuh otoriter dan permisif. Orang tua mengarahkan perilaku dan sikap anaknya agar tidak menyimpang. Orang tua menghargai individualitas anak dan memberikan izin anak untuk menyatakan keberataannya terhadap standar atau peraturan keluarga. Kontrol dari orang tua kuat dan konsisten tetapi dengan dukungan , pengertian dan keamanan (Wong et al, 2009). Orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis memberikan kebebasan kepada anak tetapi tetap memberikan batasan untuk mengarahkan anak menentukan keputusan yang tepat dalam hidupnya (Arisandi, 2011). Hasil penelitian

60

menunjukkan bahwa pada pertanyaan tentang pola asuh demokratis dari 65 responden, lebih banyak responden mengatakan bahwa orang tua selalu memperhatikan mereka sebanyak 46,2 %, orang tua menerapkan disiplin belajar sebanyak 38,5 %, dan orang tua sangat sering membantu mencari jalan keluar jika mereka menghadapi masalah 30,8 %. Selain ketiga pola asuh tersebut terdapat pola asuh yang banyak memiliki dampak negatif bagi anak yaitu uninvolved atau pola asuh mengabaikan. Penerapan pola asuh uninvolved pada anak remaja dilatar belakangi oleh pengalamnya dulu yang cenderung dibebaskan di lingkungan yang menjurus kearah negatif sehingga orang tua mengulangi apa yang mereka dapatkan kan dulu kepada anaknya. Ciri pola asuh uninvoloved adalah orang tua tidak terlihat dalam kehidupan anak karena cenderung lalai, sangat sedikit atau bahkan tidak ada kontrol kepada anak, dan kurangnya pendekatan emosional karena cenderung bersikap acuh. Anak yang diasuh dengan gaya seperti ini cenderung kurang cakap secara sosial, memiliki kemampuan pengendalian diri yang buruk, tidak memiliki kemandirian diri yang baik, tidak bermotivasi untuk berprestasi, dan cenderung melakukan tinadakan kekerasan di masa remajanya kelak (Arisandi, 2011).

4. Perilaku Bullying Remaja Di SMP N 4 Gamping Sleman Berdasarkan hasil penelitian dari 65 responden diperoleh hasil bahwa jumlah siswa yang melakukan perilaku bullying dengan intensitas sangat rendah adalah sebanyak 21 orang (32,3%), perilaku bullying dengan intensitas rendah adalah sebanyak 26 orang (40,0%), perilaku bullying dengan intensitas sedang adalah sebanyak 12 orang (18,5%), dan perilaku bullying dengan intensitas tinggi adalah sebanyak 6 orang (9,2%). Perilaku bullying merupakan tindakan negatif dimana terjadi penyalahgunaan kekuatan atau kekuasaan yang dilakukan secara berulang oleh satu siswa atau lebih yang bersifat menyerang karena adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pihak yang terlibat. Pihak yang kuat tidak hanya berarti kuat dalam segi fisik tetapi juga kuat secara mental (Astuti, 2008). Klasifikasi bullying menurut Sejiwa (2008) adalah

61

bullying fisik, misalnya memukul, mendorong, menendang, bullying verbal, misalnya berkata kasar, mengejek, dan bullying mental, misalnya mengucilkan, mencibir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pertanyaan tentang aspek bullying fisik dari 65 responden, lebih banyak responden mengatakan sangat tidak setuju jika berkelahi dengan yang lebih lemah sebanyak 56,9 % dan mereka tidak setuju jika menindas adik kelas sebanyak 44,6%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pertanyaan tentang aspek bullying verbal dari 65 responden, lebih banyak responden mengatakan setuju jika tidak meneriaki teman yang salah dan tidak setuju jika memberi nama ejekan kepada temannya sebanyak 56,9%. Bullying psikologis dari 65 responden, lebih banyak responden mengatakan setuju tidak akan mengucilkan teman yang sudah berbuat salah sebanyak 63,1% dan tidak setuju jika menjahili adik kelas sebanyak 55,4%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku bullying masih dalam intensitas sangat rendah dan rendah. Usia remaja mayoritas berusia 14 tahun, pada usia tersebut remaja berperilaku kasar, cenderung berusaha berperilaku tidak toleran terhadap orang lain, susah diatur, mudah terangsang, emosi yang tidak stabil dan tidak berusaha mengendalikan diri dan perasaan. Faktor yang membuat perilaku bullying dalam intensitas rendah meski pada usia tersebut remaja cenderung bersikap kasar terhadap teman sebayanya adalah jenis kelamin dan jumlah saudara.

5. Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Perilaku Bullying Remaja Di SMP N 4 Gamping Sleman Berdasarkan hasil penelitian dengan 65 responden, responden dengan pola asuh otoriter lebih banyak melakukan perilaku bullying dengan intensitas tinggi sebanyak 5 responden (7,7%). Responden dengan pola asuh permisif lebih banyak melakukan perilaku bullying dengan intens sangat rendah sebanyak 6 responden (9,2%). Responden dengan pola asuh demokratis lebih banyak melakukan perilaku bullying dengan intensitas sangat rendah sebanyak

62

11

responden (16,9%) dan perilaku bullying dengan intensitas rendah sebanyak

10

responden (15,4%).

Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan chi square, diketahui bahwa nilai p-value sebesar 0,003, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying remaja di SMP N 4 Gamping Sleman. Nilai koefisien korelasi sebesar -0,345 menunjukkan bahwa tingkat hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying remaja dalam tingkat rendah, arah negatif pada nilai koefisien korelasi berarti semakin baik pola asuh orang tua maka semakin semakin rendah tingkat perilaku bullying remaja, sehingga dapat disimpulan bahwa sebagian banyak orang tua menerapkan pola asuh yang baik yaitu pola asuh demokratis maka intensitas perilaku bullying menjadi rendah. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi perilaku bullying sehingga keeratannya dengan pola asuh rendah yaitu jumlah saudara, keharmonisan

keluarga, pengalaman, lingkungan sekolah, kebijakan sekolah dan pergaulan. Orang tua adalah sumber pengaruh terkait dengan perilaku bullying pada remaja. Sikap orang tua yang positif seperti kehangatan keluarga atau dukungan bisa melindungi remaja dari keterlibatan bullying baik sebagai pelaku maupun korban (Wong et al, 2009). Jumlah saudara yang sedikit akan memberikan rasa keharmonisan di banding dengan anak yang memiliki jumlah saudara banyak karena mereka akan cenderung lebih menunjukkan kelebihannya satu sama lain sehingga perilaku bullying lebih banyak terjadi yang berpengaruh dalam pergaulannya sebagai pengalaman yang didapatkan dalam keluarga. Remaja yang berasal dari keluarga yang besar memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam bullying antara saudara sehingga anak menganggap perilaku bullying sebagai sesuatu yang normal dan diterima (Veenstra et al, 2005). Perilaku bullying bukan perilaku yang terbentuk dengan sendirinya, melainkan dari pengalaman yang pernah dialami baik dalam keluarga maupun sekolah (Yusuf, 2009). Menurut Willis (2013) keluarga dan sekolah adalah dua sistem yang sangat penting dalam kehidupan remaja. Saat memasuki sekolah

63

keterampilan kognitif remaja akan berkembang, selain itu perkembangan emosi dan sosial remaja juga akan terpengaruhi. Penelitian Nurhayati (2013) menyatakan bahwa kebijakan sekolah yang baik dan sekolah memiliki social support sebagai sarana penyelesaian masalah sosial siswa sehingga perilaku agresif seperti bullying dapat diteken dan dikendalikan. Pergaulan remaja di sekolah akan lebih banyak bersama teman sebayanya. Remaja yang berkelompok dengan kesamaan umur akan mudah terpengaruh dengan teman sebaya terutama tingkah laku yang melanggar peraturan atau disiplin, sehingga mendapatkan pengakuan dari kelompok tersebut (Yahaya et al, 2008). Hal ini sesuai dengan penelitian Arina (2011) menyatakan bahwa selain pola asuh orang tua perilaku menyimpang seperti merokok juga dapat dipengaruhi oleh teman sebaya, semakin tinggi dukungan teman sebaya maka semakin tinggi perilaku menyimpang anak. Penelitian ini sejalan dengan Lianasari (2014), pola asuh orang tua dengan konsep diri remaja sebagian besar adalah pola asuh demokratis yaitu sebanyak 63 orang (81,8%), sedangkan remaja yang memiliki konsep diri positif sebanyak 59 orang (76,6%) dan remaja yang memiliki konsep diri negatif sebanyak 18 orang (23,4%), dari hasil pengujian dua tingkat dimana terdiri dari uji silang antara pola asuh otoriter dan demokratis serta uji silang antara pola asuh permisif dan demokratis diperoleh hasil yaitu nilai (p-value) sebesar 0,000 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan konsep diri remaja. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Setyobudi (2015) Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Perilaku Merokok Remaja Di SMP N 3 Grabag Magelang. Hasil penelitian menyatakan bahwa anak yang memperoleh pengasuhan dengan keras atau otoriter menekan, tidak memberikan kebebasan pada anak untuk berpendapat akan membuat anak tertekan, marah kesal kepada orang tuanya, akan tetapi anak tidak berani mengungkapkan kemarahannya itu dan cenderung melampiaskan kepada hal negatif berupa perilaku merokok. Penelitian Korua (2015) Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Perilaku

64

Bullying Pada Remaja SMK Negeri 1 Manado juga menyatakan bahwa pola asuh otoriter memiliki keterlibatan dalam perilaku bullying. Penelitian yang dilakukan Nurhayati (2013) tentang tipe pola asuh orang tua yang berhubungan dengan perilaku bullying di SMA Islam Sudirman Ambarawa Kabupaten Semarang menyatakan bahwa anak yang mendapatkan pola pengasuhan secara demokratis cenderung melakukan tindakan bullying dengan intensitas ringan. Penelitian lain oleh Kharie (2014) Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Perilaku Merokok Pada Anak Laki-Laki Usia 15-17 Tahun Di Kelurahan Tanah Raja Kota Ternate juga memiliki hasil yang sama dengan penelitian ini menyatakan adanya hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku merokok. Hasil penelitian menunjukkan orang tua yang memiliki pola asuh otoriter terdapat 10 responden yang melakukan perilaku merokok ringan dan 1 responden yang melakukan perilaku merokok berat. Orang tua yang memiliki pola asuh permisif terdapat 6 responden yang melakukan perilaku merokok ringan dan 6 responden yang melakukan perilaku merokok berat. Orang tua yang memiliki pola asuh demokratis terdapat 2 responden yang melakukan perilaku merokok ringan dan 9 responden yang melakukan perilaku merokok berat. Kesimpulan penelitian ini berbeda dengan kesimpulan penelitian yang dilakukan karena hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak dengan pola asuh demokratis justru lebih banyak melakukan perilaku merokok berat. Hal tersebut terjadi karena selain pola asuh perilaku merokok juga dapat dipengaruhi oleh teman sebaya, iklan, dan media sosial. Orang tua yang demokratis bersikap hangat dan sayang terhadap anak, serta menunjukan kesenangan dan dukungan sebagai respon atas perilaku kontruktif anak. Anak yang memiliki orang tua demokratis sering kali ceria, bisa mengendalikan diri dan mandiri, berorientasi pada prestasi, dan dapat mengatasi stress. Anak juga cenderung untuk mempertahankan hubungan yang ramah dengan teman sebaya maupun orang dewasa (Santrock, 2007). Orang tua mengarahkan perilaku dan mengontrolnya sehingga membuat remaja cenderung terhindar dari perilaku menyimpang atau kenakalan remaja (Yusuf,

65

2010). Anak yang dididik dengan pola asuh demokratis memiliki tingkat kompetensi sosial yang tinggi, percaya diri, memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, akrab dengan teman sebaya mereka, dan mengetahui konsep harga diri yang tinggi. Karakteristik pola asuh ini dapat mengimbangi rasa keingintahuan remaja, sehingga proses anak dalam menimbulkan perilaku tindakan antisosial cenderung bisa dibatasi. Oleh karena itu, walaupun anak dibebaskan, orang tua tetap terlibat dengan memberikan batasan berupa peraturan yang tegas (Arisandi, 2011).

C. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini mengalami berbagai keterbatasan dan kendala dalam penelitian antara lain :

1. Lembar izin menjadi responden yang seharusnya diisi terlebih dahulu oleh orangtua sebagai bukti bahwa orangtua memberikan izin kepada anaknya untuk dijadikan responden tidak diberikan kepada orang tua langsung karena keterbatasan waktu dan bersamaan dengan kegiatan pesantren ramdhan. Guru sebagai ketua kegiatan pesantren Ramadhan memberikan izin untuk dilakukan penelitian dan segala hal yang terjadi menjadi tanggung jawabnya.

2. Penelitian ini memiliki kelemahan yaitu hanya meneliti satu faktor, yaitu pola asuh. Masih terdapat faktor lain, seperti tingkat pendidikan, pekerjaan, teman sebaya, lingkungan, yang mempengaruhi perilaku bullying pada remaja.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang hubungan pola asuh

orang tua dengan perilaku bullying remaja di SMP N 4 Gamping Sleman dapat

disimpulkan bahwa :

1. Ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan perilaku

bullying remaja di SMP N 4 Gamping Sleman.

2. Sebagian besar orang tua di SMP N 4 Gamping Sleman menerapkan pola asuh

orang tua demokratis.

3. Sebagian besar perilaku bullying dari siswa di SMP N 4 Gamping Sleman

adalah perilaku bullying dengan intensitas rendah.

1. Sekolah

B. SARAN

Pihak sekolah diharapkan dapat lebih meningkatkan pendidikan tentang

dampak perilaku bullying yang akhir-akhir ini menjadi masalah serius di

bidang pendidikan. Pihak sekolah juga harus senantiasa memantau dan

mengontrol setiap perilaku negatif siswa agar tidak memberikan dampak yang

lebih buruk di kemudian hari dengan lebih mempertegas peraturan-peraturan

sekolah khususnya yang mengatur tentang perilaku kekerasan di lingkungan

sekolah. Bimbingan Konseling secara efektif membuka layanan untuk

menanamkan nilai-nilai moral sehingga menumbuhkan rasa empati siswa

terhadap teman sebayanya.

2. Orang tua

Orang tua diharapkan agar lebih memperhatikan dalam menerapkan pola

asuh yang tepat kepada anak sesuai dengan karakter anak. Khususnya bagi

orang tua yang memiliki anak remaja diharapkan selalu memberikan

pendidikan yang baik serta selalu memperhatikan anaknya supaya tidak

66

67

terjerumus ke dalam perilaku menyimpang yang dapat membawa dampak buruk. Hendaknya orang tua dapat mencontohkan perilaku yang positif, besifat fleksibel, dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berlangsung, memahami anak yang masih berusia remaja sedang mengalami masa peralihan.

3. Bagi Siswa Hendaknya bagi siswa meningkatkan pengetahuan mengenai bullying bahwa bullying itu tidak hanya berupa penyerangan secara fisik, tetapi juga secara lisan seperti mengejek sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki siswa dapat mengendalikan dan mengontrol diri dengan baik dari perilaku bullying agar terwujud hubungan yang harmonis dalam pergaulannya.

4. Bagi peneliti selanjutnya Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat meneliti faktor-faktor lain yang merupakan penyebab dari perilaku bullying sehingga dapat digunakan sebagai data yang berkesinambungan serta berkelanjutan agar dapat memberikan intervensi yang tepat untuk mengatasi permasalahan sesuai dengan fenomena yang terjadi. Peneliti lain juga dapat meneliti apakah perilaku bullying mempengaruhi proses tumbuh kembang remaja.

DAFTAR PUSTAKA

Agus. (2012). Pendidikan Karakter Usia Dini. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Agustiani, H. (2006). Psikologi Perkembangan (Pendekatan Ekologi Kaitanya dengan Konsep Diri dan Penyesuaian Diri Pada Remaja). Bandung:

Refika Aditama.

Annisa. (2012) . Hubungan Antara Pola Asuh Ibu dengan Perilaku Bullying Remaja Fakultas Ilmu Keperawatan. Skripsi Program Studi Ilmu Keperawatan UI: Depok

Arisandi,

Disiplin

Siswa.com/pengertian-disiplin-dan-penerapannya-bagi-siswa/, diakses 28 Juli 2016

Bagi

D.

(2011).

Pengertian

dan

Penerapannya

Astuti, P.R. (2008). Meredam Bullying. Jakarta: Grasindo

Baron, R., dan Byrne, D. (2009). Social Psychology (12 th ed). Boston: Person Education.

Brooks, J. (2011). The Process of Parenting. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Coloroso.

(2007).

Stop

Bullying:

Memutus

Rantai

Kekerasan

Anak

dari

Prasekolah Hingga SMU. Jakarta: Ikrar Mandiriabadi.

Dake, J.A., Prince, J.H., Telljohann, S.K. (2003). The Nature and Extent of Bullying at School. Journal of school health. Vol. 73, No.5:173-180.

Donnellan, C. (2006). Bullying. England: Independence Educational Publishers Cambridge.

Erine dan Villa. (2012). Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Perilaku Merokok di Desa Cendono Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus.

Fatimah, E. (2010). Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik). Bandung: CV Pustaka Setia.

Hibana S, R. (2002). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta:

Penerbit Galah.

Ibrahim, R. (2001). Landasan Psikologi Pendidikan Jasmani Di Sekolah Dasar. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Kharie. (2014). Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Perilaku Merokok Pada Anak Laki-Laki Usia 15-17 Tahun Di Kelurahan Tanah Raja Kota Ternate. King, L.A. (2010). Psikologi Umum (Sebuah Pandangan Apresiatif). Jakarta:

Salemba Humanika.

Kozier, B., Erb, G., Berman, A., Snyder, S. J. (2010). Buku Ajar Fundamental Keperawatan (Konsep, Proses dan Praktik). Edisi 7. Volume 2. Jakarta:

EGC.

Korua, S. (2015). Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Perilaku Bulliyng Pada Remaja SMK Negeri 1 Manado. E-journal Keperawatan, Volume 3, No. 2, Hal 1-7.

McEachern, A.G., Kenny. M., Blake, E., & Aluede. (2005). Bullying in School:

International Variations. Chapter 7. Journal of Social Sciences special Issue. No.8:51-58.

Lianasari, M.D. (2014). Hubungan Pola Asuh Orang tua dengan Konsep Diri pada Remaja Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri 1 Sedayu Bantul Yogyakart. Tidak diterbitkan : Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.

Linda dan Hamal. (2011). Hubungan Pendidikan dan Pekerjaan Orang Tua serta Pola Asuh dengan Status Gizi Balita di Kota dan Kabupaten Tangerang, Banten.

Notoatmodjo, S. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.

(2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Nursalam. (2008). Pendekatan Praktis Metodologi Penelitian Riset Keperawatan Cetakan 1. Jakarta : Penerbit CV Sagung Seto.

Nurhayati, R. (2013). Tipe Pola Asuh Orang Tua Yang Berhubungan Dengan Perilaku Bullying di SMA Islam Sudirman Ambarawa Kabupaten Semarang. Jurnal Keperawatan jiwa, Volume 1, No.1, Mei 2013; 49-59.

Papalia, D.E., Olds, S.W., Feldman, R.D. (2009). Perkembangan Manusia. Ed 10., Buku 2. Penerjemah: Brian Marwensdy. Jakarta: Salemba Humanika.

Potter, P.A. & Perry, A.G. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Edisi 4. Volume 1. Jakarta: EGC.

Rahni, S. (2010). Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Peran Kelompok Siswa Terhadap Perkembangan Sosial Remaja di SLTP Negeri 1 Gamping Yogyakarta. Tidak diterbitkan : Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta.

Rigby, K. (2007). Bullying in Schools: and What to do About it. Australia: ACER Press.

Rigby, K dan Thomas. (2010). How School Counter Bullying Policies and Procedures in Selected Australian Schools. Camberwell: Australian Council for Education Research Limited.

Rinestaelsa, U.A. (2008). Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Prestasi Belajar Siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta. Tidak Dipublikasikan. Yogyakarta.

Sanders, Cherryl E. (2003). Bullying Implication For The Classroom. California:

Elsevier Academic Press.

Santrock. (2007). Masa Perkembangan Anak. Edisi 11 Jilid 2. Jakarta: Salemba Humanika.

Sarwono, S.W. (2013). Psikologi Remaja Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers.

Schohib, M. (2010). Pola Asuh Orang Tua. Jakarta: Rineka Cipta.

Sejiwa. (2008). Bullying: Mengatasi Kekerasan Di Sekolah dan Di Lingkungan Sekitar Anak. Jakarta: PT Grasindo.

Setyobudi, J. (2015). Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Perilaku Merokok Remaja Di SMP N 3 Grabag Magelang. Tidak diterbitkan : Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.

Soetjiningsih. (2004). Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahanya. Jakarta:

Sagung Seto.

. (2013). Tumbuh Kembang Aanak Edisi 2. Jakarta: EGC.

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung :

Alfabeta.

Sulivan, K., Clearly, M., dan Sullivan G. (2005). Bullying In Secondary Schools. London: SAGE Publication.

Surbakti,

E.B.

(2009).

Komputido.

Kenali

Anak

Remaja

Anda.

Jakarta

:

Elek

Media

Tim Penulis Poltekes Depkes Jakarta I. (2012). Kesehatan Remaja : Problem dan Solusinya. Jakarta: Salemba.

Veenstra, R., Lindenberg, S.,Oldehinkei, A.J., De Warner, A.F., Verhulst, F.C., dan Ormel, J. (2005). Bullying and victimination in elemntary school: A comparison of bullies, victims, bully/victims, and uninvolved predolescent. Developmental Psychology.

Wawan, A. & Dewi, M. (2010). Teori Pengukuran pengetahuan sikap dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika.

Wharton, S. (2005). How to stop that bully: Menghentikan si tukang terror (Ratri Sunar Astuti & Malik, penerjemah). Yogyakarta: Kanisius.

Wiyani, N.A. (2012). Save Our Chilldren From School Bullying. Yogyakarta: Ar- Rus Media.

Wong, D.L. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Edisi 6. Volume 1. Jakarta: EGC.

Wong, J., Iannotti, R.J. dan Nansel, T.R. (2009). School Bullying Adolescent In The United States: Physical, Verbal, Relational, and Cyber. Journal Of Adolescent Health.

Yuniatun, W. (2009). Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Kecenderungan Perilaku Caring pada Mahasiswa Program A Angkatan 2008/2009 PSIK UGM. Skripsi. UGM. Yogyakarta.

Yusuf, S. (2010). Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.

LAMPIRAN

PERMOHONAN PENELITIAN

Saya Yoga Pratama, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yogyakarta akan melakukan penelitian yang berjudul judul Hubungan Pola Asuh Orangtua dengan Perilaku Bullying Remaja di SMP N 4 Gamping Sleman”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pola asuh orangtua dengan perilaku bullying di sekolah tersebut. Penelitian ini membutuhkan seluruh partisipasi siswa-siswi sebagai subyek penelitian. 1. Kesukarelaan untuk ikut penelitian Anda bebas memilih, keikutsertaan dalam penelitian ini tanpa ada paksaan. Bila anda sudah memutuskan untuk ikut, anda juga bebas untuk mengundurkan diri atau berubah pikiran setiap saat tanpa dikenai denda atau sanksi apapun.

2. Kewajiban subyek penelitian Sebagai subyek penelitian, siswa-siswi mewakili siswa-siswi yang lain berkewajiban mengikuti aturan atau petunjuk penelitian seperti yang tertulis di atas. Bila ada yang belum jelas, siswa-siswi bias bertanya lebih lanjut kepada peneliti. Selama penelitian, diharapkan siswa-siswi benar-benar menjawab pertanyaan peneliti dengan sejujur-jujurnya.

3. Dampak Dengan penelitian yang dilakukan kepada siswa-siswi, sejauh ini tidak memberika dampak yang berarti namun kadang didalam penelitian ini responden mengalami ketidaknyamanan karena beberapa informasi yang harus diberikan.

4. Manfaat Keuntungan yang bisa didapatkan setelah dilakukan penelitian adalah responden dapat mengetahui pentingnya pengasuhan orangtua yang baik dalam proses pembentukan perilaku khusnya perilaku bullying yang banyak terjadi pada pergaulan remaja.

Semua informasi yang berkaitan dengan identitas orangtua dan siswa-siswi akan dirahasiakan dan hanya akan diketahui oleh peneliti. Hasil penelitian akan dipublikasikan tanpa identitas responden.

6. Informasi tambahan Siswa-siswi diberikan kesempatan untuk menanyakan semua hal yang belum jelas sehubungan dengan penelitian ini. Siswa-siswi dapat menghubungi saya dengan nomor telepon 0857 9909 1172.

Yogyakarta,

Peneliti

Juni 2016

(Yoga Pratama)

PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN (INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama

:

Umur

:

NIS

:

Alamat :

Menyatakan bersedia menjadi responden pada penelitian yang dilakukan

oleh :

Nama

:

Yoga Pratama

NPM

: 2212037

Judul

: Hubungan Pola Asuh Orangtua Dengan Perilaku Bullying

Remaja di SMP N 4 Gamping Sleman.

Saya akan memberikan jawaban sejujur-jujurnya demi kepentingan

penelitian dengan ketentuan jawaban yang diberikan akan dirahasiakan dan hanya

semata-mata untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Demikian surat pernyataan ini

saya buat.

(

Yogyakarta,

Juni 2016

Hormat saya,

)

IZIN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama Orang Tua

:

Umur

:

Alamat

:

No telepon

:

Nama Anak

:

Kelas

:

Menyatakan member izin kepada anak saya untuk menjadi responden pada penelitian yang akan dilakukan oleh :

Nama

:

Yoga Pratama

NPM

: 2212037

Judul

: Hubungan Pola Asuh Orangtua Dengan Perilaku Bullying

Saya

Remaja Di SMP N 4 Gamping Sleman memberikan izin demi kepentingan penelitian dengan ketentuan

jawaban yang diberikan akan dirahasiakan dan hanya semata-mata untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Demikian surat pernyataan ini saya buat.

Yogyakarta, Hormat saya,

(

)

RENCANA JADWAL PENELITIAN

No

Kegiatan

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agustus