Anda di halaman 1dari 14

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ................................................................................................. i


DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... iv
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. v
I PENDAHULUAN ..................................................................................... 2
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 2
1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah .......................................................... 3
1.3 Hipotesis................................................................................................... 3
1.4 Tujuan Penelitian ..................................................................................... 4
1.5 Manfaat Penelitian ................................................................................... 4
II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 5
2.1 Jagung (Zea mays).................................................................................... 5
2.2 Lignin ....................................................................................................... 6
2.3 Surfaktan .................................................................................................. 8
2.4 Metode Sulfonasi ..................................................................................... 9
2.5 Fourier Transform Infra Red (FTIR)........................................................ 12
2.6 Nuclear Magnetic Resonance (NMR) ...................................................... 12
2.7 Karbon Organik Terlarut .......................................................................... 13
III METODOLOGI PENELITIAN .......................................................... 19
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................. 19
3.2 Bahan dan Peralatan
3.2.1 Bahan
3.2.2 Peralatan ................................................................................................ 19
3.3 Metode Penelitian..................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 38
DAFTAR GAMBAR

Gambar

1. Buah jagung ............................................................................


2. Reaksi lignin dan NaOH .........................................................
3. Struktur lignin .........................................................................
4. Reaksi lignin dengan cairan pengsulfonat................................
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Jagung merupakan salah satu tanaman penghasil karbohidrat yang


terpenting selain padi,gandum dan umbi-umbian. Produk pertanian tanaman
jagung ini banyak dihasilkan di Indonesia terlebih lagi jagung merupakan bahan
makanan pokok kedua setelah padi. Menurut BPS Provinsi Jambi
No.17/03/15/Th.X, 1 Maret 2016 produksi jagung tahun 2015 (Angka
Sementara) diperkirakan sebesar 51.724 ton pipilan kering atau mengalami
kenaikan produksi sebesar 8.107 ton pipilan kering (18,59%), dibanding
produksi tahun 2014. Kenaikan produksi disebabkan karena peningkatan luas
panen seluas 551 hektar (6,94%) dan peningkatan produktivitas jagung sebesar
5,98 kuintal/hektar (10,89%). Dengan meningkatnya produksi jagung ini, tidak
menutup kemungkinan bahwa limbah yang dihasilkan akan lebih banyak.
Salah satu limbah jagung yang berdampak,yaitu tongkol jagung. Tongkol jagung
itu sendiri adalah limbah yang diperoleh ketika biji jagung dirontokkan dari
buahnya. Selama ini masyarakat cenderung memanfaatkan limbah tongkol
jagung hanya sebagai bahan pakan ternak atau bahkan terbuang percuma.
Padahal didalam tongkol jagung terkandung selulosa 41%, hemiselulosa 36%,
lignin 16%, dan lain-lain yang dpat dimanfaatkan (Shofiyanto, 2008). Untuk
menghindari pembuangan limbah percuma, maka diperlukan pemanfaatan
limbah tongkol jagung tersebut, salah satunya yaitu pemanfaatan lignin sebagai
sumber surfaktan alami.

Surfaktan merupakan zat seperti detergen yang ditambahkan pada


cairan untuk meningkatkan sifat penyebaran dengan menurunkan tegangan
permukaan cairan khususnya air. Salah satu senyawa penyusun dari surfaktan
lignosulfonat ialah lignin. Tongkol jagung berperan sebagai sumber bahan baku
lignin yang akan digunakan dalam penelitian ini. Untuk dapat memisahkan
lignin dari tongkol jagung dilakukan dengan menggunakan NaOH yang
kemudian dititrasi dengan menggunakan larutan asam H2SO4. Hasil lignin yang
terbentuk dikarakterisasi dengan metode spektroskopis Infra Red untuk
mengetahui gugus-gugus fungsi khas yang terdapat pada struktur lignin dan
dibandingkan dengan spektrum lignin komersial standar. Selanjutkan
dilakukan proses sulfonasi untuk membentuk lignosulfonat yang hasilnya juga
diuji dengan FTIR dan NMR dan dibandingkan dengan spektrum sulfonat
komersial standar sehingga dapat diketahui komponen di dalamya.Sulfonasi
dimaksudkan untuk mengubah sifat hidrofilisitas lignin yang kurang polar
(tidak larut air) menjadi garam lignosulfonat yang lebih polar (larut air), dengan
cara memasukkan gugus sulfonat (SO3-) dan garamnya ke dalam gugus
hidroksil (OH-) lignin, sehingga garam lignosulfonat tersebut memiliki struktur
sebagai surface active agent atau surfaktan. Natrium bisulfit (NaHSO3)
digunakan sebagai reagen pada proses sulfonasi sehingga akan diperoleh
natrium lignosulfonat yang dapat digunakan sebagai surfaktan.

Natrium lignosulfonat (NLS) termasuk jenis surfaktan anionik karena


memiliki gugus sulfonat dan garamnya (-NaSO3) yang merupakan gugus
hidrofilik (suka air) serta gugus hidrokarbon yang merupakan gugus hidrofobik.
Menurut ASTM Standard C 494-79, natrium lignosulfonat (NaLS) adalah bahan
tambahan kimia termasuk jenis water reducing admixture (WRA) atau plasticizer
yang memiliki kemampuan sebagai bahan pendispersi pada berbagai sistem
dispersi partikel. Dari penelitian sebelumnya telah dilakukan pemanfaatan
ampas tebu sebagai sumber lignin dengan persentase kandungan 19,6%,
sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa tongkol jagung juga dapat
dimanfaatkan dalam hal yang sama sebab tongkol jagung juga mengandung
lignin yang cukup. Hal ini lah yang menjadi bahan pertimbangan untuk
menggunakan tongkol jagung sebagai sumber bahan baku pembuatan
surfaktan lignosulfonat sebagai pemanfaatan limbahnya.

1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah

Tongkol jagung memiliki kandungan lignin 16% sehingga berpotensi


sebagai sumber lignin untuk membentuk surfaktan natrium lignosulfonat.
Metode yang akan digunakan adalah sulfonasi lignin dan karakterisasi
menggunakan FTIR dan NMR.

Berdasarkan identifikasi masalah dapat dirumuskan masalah, sebagai


berikut :

1. Bagaimana proses sulfonasi lignin tongkol jagung membentuk surfaktan


natrium lignosulfonat?
2. Bagaimana karakteristik struktur molekul lignosulfonat yang
terbentuk?
3. Bagaimana pengaruh konsentrasi NaHSO3 terhadap surfaktan yang
terbentuk?
1.3 Hipotesis

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, hipotesis dalam


penelitian ini adalah tongkol jagung dapat digunakan sebagai alternatif sumber
lignin dalam pembuatan surfaktan natrium lignosulfonat.

1.4 Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :


1. Mengetahui proses sulfonasi lignin tongkol jagung membentuk surfaktan
natrium lignosulfonat
2. Mengetahui struktur molekul lignosulfonat yang terbentuk
3. Mengetahui pengaruh konsentrasi NaHSO3 terhadap surfaktan yang
terbentuk

1.5 Manfaat Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan penelitian di atas, tujuan


penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan tongkol jagung sebagai
sumber lignin dalam pembuatan surfaktan natrium lignosulfonat, untuk
meningkatkan nilai tambah tongkol jagung dan sebagai bahan acuan untuk
penelitian selanjutnya.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jagung (Zea mays)

Jagung (Zea mays ssp. mays) adalah salah satu tanaman pangan
penghasil karbohidrat yang terpenting di dunia, selain gandum dan padi.
Tanaman jagung tumbuh optimal pada tanah yang gembur, drainase baik,
dengan kelembaban tanah cukup, dan akan layu bila kelembaban tanah kurang
dari 40% kapasitas lapang, atau bila batangnya terendam air. Pada dataran
rendah, umur jagung berkisar antara 3-4 bulan, tetapi didataran tinggi di atas
1000 m dpl berumur 4-5 bulan. Umur panen jagung sangat dipengaruhi oleh
suhu, setiap kenaikan tinggi tempat 50 m dari permukaan laut, umur panen
jagung akan mundur satu hari (Hyene 1987).Jagung merupakan tanaman
semusim determinat, dan satu siklus hidupnyadiselesaikan dalam 80-150 hari.
Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh
kedua untuk pertumbuhan generatif.

Gambar 1. Buah Jagung


Tanaman jagung merupakan tanaman tingkat tinggi dengan klasifikasi sebagai
berikut:
1. Kingdom : Plantae
2. Divisio : Spermatophyta
3. Sub divisio : Angiospermae
4. Class : Monocotyledoneae
5. Ordo : Poales
6. Familia : Poaceae
7. Genus : Zea
8. Spesies : Zea mays L.
Tanaman jagung dapat ditanam pada lahan kering beriklim basah dan
beriklim kering, sawah irigasi dan sawah tadah hujan, toleran terhadap
kompetisi pada pola tanam tumpang sari, sesuai untuk pertanian subsistem,
pertanian komersial skala kecil, menengah, hingga skala sangat besar. Suhu
optimum untuk pertumbuhan tanaman jagung rata-rata 26-300C dan pH tanah
5,7-6,8 (Subandi et al. 1988). Produksi jagung berbeda antardaerah, terutama
disebabkan oleh perbedaan kesuburan tanah, ketersediaan air, dan varietas
yang ditanam. Variasi lingkungan tumbuh akan mengakibatkan adanya
interaksi genotipe dengan lingkungan (Allard and Brashaw 1964), yang berarti
agroekologi spesifik memerlukan varietas yang spesifik untuk dapat memperoleh
produktivitas optimal.
Tongkol Jagung
Tongkol jagung adalah bagian dalam organ betina tempat bulir duduk
menempel. Istilah ini juga dipakai untuk menyebut seluruh bagian jagung
betina (buah jagung). Tongkol terbungkus oleh kelobot (kulit buah jagung).
Secara morfologi, tongkol jagung adalah tangkai utama mulai yang
termodifikasi, mulai organ jantan pada jagung dapat memunculkan bulir pada
kondisi tertentu. Tongkol jagung muda, disebut juga babycorn, dapat dimakan
dan dijadikan sayuran. Tongkol yang tua ringan namun kuat, dan menjadi
sumber furfural, sejenis monosakarida dengan lima atom karbon

Kandungan yang terdapat dalam tongkol jagung. . Tongkol jagung


tersusun atas senyawa kompleks lignin, hemiselulose dan selulose. Hasil
analisis kimia dari tongkol jagung mengandung 30,91% hemiselulosa, 26,81%
alfa selulosa, 15,52% lignin, 39,80% karbon, 2,21% nitrogen, dan 8,38% kadar
air (Septiningrum, 2011).

2.2 Lignin
Jumlah lignin yang terdapat di dalam tumbuhan yang berbeda sangat
bervariasi. Distribusi lignin di dalam dinding sel dan kandungan lignin bagian
pohon yang berbeda tidak sama.Secara fisis lignin berwujud amorf (tidak
berbentuk), berwarna kuning cerah dengan bobot jenis berkisar antara 1,3-1,4
bergantung pada sumber ligninnya. Indeks refraksi lignin sebesar 1,6. Sifatnya
yang amorf menyebabkan lignin sulit dianalisis dengan sinar-X. Lignin juga
tidak larut dalam air, dalam larutan asam dan larutan hidrokarbon. Karena
lignin tidak larut dalam asam sulfat 72%, maka sifat ini sering digunakan untuk
uji kuantitatif lignin. Lignin tidak dapat mencair, tetapi akan melunak dan
kemudian menjadi hangus bila dipanaskan. Lignin yang diperdagangkan larut
dalam alkali encer dan dalam beberapa senyawa organik (Kirk dan Othmer,
1952). Lignin merupakan senyawa turunan alkohol kompleks yang
menyebabkan dinding sel tanaman menjadi keras. Lignin bersifat termoplastik,
dapat melunak pada suhu tinggi (120°C). Lignin merupakan bahan adhesif yang
sangat efektif dan ekonomis, yang berperan sebagai bahan pengikat. Lignin juga
dikenal sebagai bahan baku yang mampu mengikat ion logam, serta mencegah
logam untuk bereaksi dengan komponen lain dan menjadikannya tidak larut
dalam air (Indrainy, 2005).
Isolasi Lignin
Lignin umumnya tidak larut dalam pelarut sederhana, namun lignin
alkali dan lignin sulfonat larut dalam air, alkali encer, larutan garam dan buffer.
Isolasi lignin merupakan tahap pemisahan lignin. Pada prinsipnya yaitu diawali
dengan proses pengendapan padatan. Lignin dalam tongkol jagung dapat
dipisahkan dengan proses hidrolisis menggunakan katalis NaOH . Metoda
isolasi lignin ( hidrolisis ) dapat melakukan presitasi lignin dengan asam,
sehingga menghasilkan lignin asam seperti yang tampak pada gambar dibawah
ini. Pada umumnya dilakukan dengan menggunakan asam sulfat atau asam
khlorida. Lignin tidak akan larut dalam air dan akan mengendap. Padatan yang
dihasilkan dapat dipisahkan dengan melakukan penyaringan.

Gambar 2. Reaksi lignin dan NaOH

2.3 Surfaktan

Surfaktan (Surface Active Agent) adalah zat yang ditambahkan pada


cairan untuk meningkatkan sifat penyebaran atau pembasahan dengan
menurunkan tegangan permukaan cairan khususnya air. Surfaktan banyak
digunakan dalam industri antara lain sebagai zat pembasah, zat pembusa, zat
pengemulsi, zat anti busa, deterjen, zat pencegah korosi, dan lain-lain.
Surfaktan dapat juga digunakan sebagai bahan pencuci yang bersih karena
mengandung zat antikuman yang membuat surfaktan banyak digunakan
dirumah sakit (Fiona,et al, 2012).
Gambar 3. Struktur Surfaktan

Struktur molekul surfaktan

Struktur molekul surfaktan terdiri dari :

1. Gugus hidrofilik (kepala surfaktan)


a. Bermuatan negatif adalah surfaktan anionik
b. Bermuatan positif adalah surfaktan kationik
c. Bermuatan positif dan negatif adalah surfaktan amfoter (zwitterion)
d. Tidak bermuatan adalah surfaktan non ionik
2. Gugus hidrofobik (ekor surfaktan)
a. Hidrokarbon
b. Perfluorohidrokarbon
c. Polyoxypropylene atau polyoxybutylene

Penggolongan surfaktan. Surfaktan dapat digolongkan menjadi empat


golongan berdasarkan muatan surfaktan, yaitu :

1. Surfaktan anionik
2. Surfaktan kationik
3. Surfaktan non ionik
4. Surfaktan amfoter

2.4 Metode Sulfonasi


Sulfonasi adalah reaksi kimia yang melibatkan penggabungan gugus
asam sulfonat, -SO3H, ke dalam suatu molekul ataupun ion, termasuk reaksi-
reaksi yang melibatkan gugus sulfonil halida ataupun garam-garam yang
berasal dari gugus asam sulfonat, misalnya penggabungan –SO3 ke dalam
senyawa organik. . Sulfonasi dimaksudkan untuk mengubah sifat hidrofilisitas
lignin yang kurang polar (tidak larut air) menjadi garam lignosulfonat yang lebih
polar (larut air), dengan cara memasukkan gugus sulfonat (SO3-) dan garamnya
ke dalam gugus hidroksil (OH-) lignin, sehingga garam lignosulfonat tersebut
memiliki struktur sebagai surface active agent atau surfaktan. Proses sulfonasi
lignin menjadi natrium lignosulfonat (NLS) menggunakan agen penyulfonasi
yaitu natrium bisulfit (NaHSO3) serta NaOH sebagai katalis. Keberhasilan
proses sulfonasi tergantung pada nilai kemurnian lignin, temperatur, dan pH.
Penelitian yang telah dilakukan yaitu mendapatkan kondisi optimum proses
sulfonasi lignin isolat menjadi NLS menggunakan metode permukaan
respon/response surface method (RSM), diperoleh kondisi proses optimum
terjadi pada nisbah pereaksi (NaHSO3 terhadap lignin) yaitu 60,32%, pH 6,03
dan suhu 90,280C, menghasilkan konversi optimum 72,2% (Ismiyati, 2008).
Jenis-jenis zat pensulfonasi antara lain :
1. Persenyawaan SO3, termasuk didalamnya asam sulfat
2. Persenyawaan SO2
3. Senyawa sulfoalkilasi
Sedangkan zat-zat yang disulfonasi adalah zat alifatik, misalnya
hidrokarbon jenuh, oleofin, alkohol, selulosa, senyawa aromatis, napthalena dan
lain-lain. Reaksi sulfonasi merupakan reaksi yang melibatkan pemasukan
gugus sulfonat ke dalam lignin (Fiona,et al, 2012).

Gambar 4. Reaksi lignin dengan cairan pengsulfonat


Reaksi yang terjadi pada proses sulfonasi lignin ini termasuk reaksi
irreversible dan bersifat endotermis. Suhu dan pH merupakan faktor yang
paling berpengaruh pada reaksi pembentukan lignosulfonate ini. Semakin tinggi
tingkat keasamannya maka laju hidrolisis akan semakin meningkat dan
semakin tinggi temperature laju reaksi akan semakin besar.
Natrium Lignosulfonat
Natrium lignosulfonat adalah surfaktan anionik yang terbentuk dari hasil reaksi
antara lignin dengan natrium bisulfit (NaHSO3), dimana rantai hidrokarbonnya
sebagai gugus hidrofobik dan ion SO3- sebagai gugus hidrofiliknya. . NLS bisa
juga disebut lignin sulfonat atau sulphite lignin merupakan suatu surfaktan
yang dihasilkan dari proses sulfite pulping pada kayu. Pada proses sulfite
pulping, lignin dibuat larut dalam solven polar (air) melalui proses sulfonasi dan
hidrolisis.
2.5 Fourier Transform Infra Red (FTIR)
Spektrofotometri inframerah (IR) merupakan salah satu alat yang dapat
digunakan untuk menganalisa senyawa kimia. Spektra inframerah suatu
senyawa dapat memberikan gambaran dan struktur molekul senyawa tersebut.
Spektra IR dapat dihasilkan dengan mengukur absorbsi radiasi, refleksi atau
emisi di daerah IR. Syarat suatu gugus fungsi dalam suatu senyawa dapat
terukur pada spektra IR adalah adanya perbedaan momen dipol pada gugus
tersebut. Vibrasi ikatan akan menimbulkan fluktuasi momen dipol yang
menghasilkan gelombang listrik. Untuk pengukuran menggunakan IR biasanya
berada pada daerah bilangan gelombang 400-4500 cm-1. Daerah pada bilangan
gelombang ini disebut daerah IR sedang, dan merupakan daerah optimum
untuk penyerapan sinar IR bagi ikatan-ikatan dalam senyawa organik. Suatu
ikatan kimia dapat bervibrasi sesuai dengan level energinya sehingga
memberikan frekuensi yang spesifik. Hal inilah yang menjadi dasar pengukuran
spektroskopi inframerah ( Harjono, 1992).

2.6 Nuclear Magnetic Resonance (NMR)


Nuclear Magnetic Resonance (NMR) adalah salah satu metode analisis
yang paling mudah digunakan pada kimia modern. NMR digunakan untuk
menentukan struktur dari komponen alami dan sintetik yang baru, kemurnian
dari komponen, dan arah reaksi kimia sebagaimana hubungan komponen
dalam larutan yang dapat mengalami reaksi kimia. Meskipun banyak jenis
nuclei yang berbeda akan menghasilkan spektrum, nuclei hidrogen (H) secara
histori adalah salah satu yang paling sering diamati. Spektrokopi NMR
khususnya digunakan pada studi molekul organik karena biasanya membentuk
atom hidrogen dengan jumlah yang sangat besar. Spektroskopi NMR
merupakan tehnik analisis untuk memberikan gambaran mengenai jenis atom,
jumlah, maupun lingkungan atom hidrogen (1H NMR) maupun karbon (13C
NMR) pada suatu komponen senyawa (Silverstein et al., 2005).
III.METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di laboratorium Instrumentasi dan


Tugas Akhir Universitas Jambi pada bulan September 2017 – Oktober 2017.

3.2 Bahan dan Peralatan


3.2.1 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : Tongkol jagung
yang berasal dari pasar aurduri, Natrium Hidroksida (NaOH), Asam Sulfat
(H2SO4), Natrium Bisulfit (NaHSO3), aquadest.
3.2.2 Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : Oven, sieve
shaker 80 mesh (pengayak halus), rangkaian refluks, magnetic stirrer, hot plate,
dan kertas saring.

3.3 Metode Penelitian

Bahan yang digunakan adalah tongkol yang berasal dari pasar aurduri,
Kota Jambi. Tongkol jagung yang diperoleh masih berbentuk tongkolan-
tongkolan besar sehingga perlu sebelumnya dipotong, dicacah, ditumbuk dan
diayak kasar kemudian dioven pada suhu 60°C agar benar-benar kering.
Pengayakan dilakukan kembali dengan sieve shaker (pengayak halus) untuk
mendapatkan ukuran tongkol jagung dengan mesh tertentu yaitu 80 mesh.
Bahan pengisolasi lignin adalah air, asam sulfat (H2SO4) dan natrium hidroksida
(NaOH). Proses sulfonasi lignin digunakan natrium bisulfit (NaHSO3). Metode
pengolahan tongkol jagung menjadi lignosulfonat dilakukan melalui dua proses
yaitu proses isolasi lignin dari tongkol jagung dilanjutkan dengan proses
sulfonasi lignin menjadi sulfonat.

Pengolahan pemisahan lignin dari tongkol jagung ini dimulai dengan


memasukkan serbuk tongkol jagung 80 mesh ke dalam labu. Proses
delignifikasi dilakukan dengan memasak bahan baku menggunakan larutan
natrium hidroksida pada konsentrasi 2% (b/b) selama 5 jam pada suhu 90°C.
Parameter konsentrasi NaOH, waktu dan suhu diperoleh setelah mempelajari
referensi yang ada dan dilakukan pengembangan menyesuaikan hasil-hasil
delignifikasi yang diperoleh dengan berbagai percobaan. Hasil pemasakan
dengan NaOH ini kemudian disaring, diencerkan dan dinetralkan dengan titrasi
asam sulfat pekat (H2SO4 98%) hingga pH mencapai 2 dan kemudian didiamkan
selama minimal 8 jam hingga muncul endapan. Endapan yang terbentuk
kemudian disaring dan dikeringkan dalam oven pada suhu 70°C. Bubuk hasil
pengeringan oven berwarna coklat tua inilah yang disebut lignin. Langkah
selanjutnya adalah melakukan uji infra red terhadap lignin hasil proses
delignifikasi tersebut untuk menganalisis gugus fungsi yang terkandung dalam
lignin tersebut.

Karakterisasi struktur lignin tersebut dilakukan dengan spektrofotometri


FTIR (Fourier Transform Infra Red). Uji FTIR ini dilakukan untuk dapat
memastikan bahwa produk lignin yang dihasilkan telah sesuai kandungan
gugus fungsionalnya dengan lignin standar. Hasil uji karakterisasi lignin
tongkol jagung ini kemudian dibandingkan dengan produk lignin standar
lainnya, yaitu dengan produk Aldrich dan Kraft sebagai pengontrol keberhasilan
proses delignifikasi tersebut. Pada proses selanjutnya, yaitu proses sulfonasi,
diawali dengan memasukkan 1,82 g lignin ke dalam labu, ditambahkan 350 mL
larutan natrium bisulfat pada berbagai konsentrasi kemudian dimasak pada
temperatur 150°C selama 5 jam sambil diaduk dengan magnetik stirer. Hasil
refluks kemudian disaring untuk mendapatkan filtrat yang bening, bebas dari
padatan yang tersisa. Selanjutnya filtrat tersebut dikeringkan menggunakan
oven pada temperatur 60°C hingga terbentuk padatan. Hasil pengeringan ini
berupa bubuk berwarna coklat muda yang dikenal sebagai surfaktan natrium
lignosulfonat. Lignosulfonat hasil sulfonasi tersebut diuji FTIR dan NMR untuk
mengetahui struktur gugus sulfonat tersebut.

3.4 Analisis Data


DAFTAR PUSTAKA

Allard, R.W. and A.D. Bradshaw.1964. Implication of genotype-environment


interaction in applied plant breeding. Crop Sci. 4: 503-507.
Fiona, P.M, E.L. Mirta dan M.Y. Thoha.2012 “Pembuatan Surfaktan Natrium
Lignosulfonat Dari Tandan Kosong Kelapa Sawit Dengan Sulfonasi
Langsung”. Jurnal Teknik Kimia. Vol 18. No.1.
Harjono.S., 1992, Spektroskopi Inframerah Edisi Pertama, Yogyakarta : liberty.
Hyene, K.1987. Tumbuhan Berguna Indonesia-I. Balai Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan Bogor.
Indrainy, M. 2005. Kajian Pulping Semimekanis dan Pembuatan Handmade
Paper Berbahan Dasar Pelepah Pisang. (Skripsi). Institut Pertanian
Bogor. Bogor.56 hlm.
Ismiyati. 2008. Perancangan proses sulfonasi lignin isolat tkks menjadi
surfaktan natrium lignosulfonat (NLS).[Disertasi].InstitutPertanian
Bogor, Bogor.
Kirk R.E. and D.F. Othmer.1952. Encyclopedia of Chemical Technology. Vol.3.
The Interscience Encyclopedia, Inc., New York.Pp 327-338.
Septiningrum, Krisna, dan Apriana, Chandra. 2011. ”Produksi Xilanase dari
Tongkol Jagung dengan Sistem Bioproses menggunakan Bacillus
Circulans untuk Pra Pemutihan Pulp Production of Xylanase from
Corncob by Bioprocess System Using Bacillus circulans for Pre-Bleaching
Pulp”. Bandung:Balai Besar Pulp dan Kertas, Kementerian Perindustrian
Indonesia. Vol. V, No. 1 Hal. 87-97.
Silverstein, R.M., Webster, F.X. dan Kiemle, D.J. 2005. Spectrometric
Identification of Organic Compounds, Seventh Edition. United States of
America: John Wiley & Sons, Ltd
Subandi, I. Manwan, and A. Blumenschein. 1988. National Coordinated
Research Program: Corn. Central Research Institute for Food Crops
Bogor. p.83.