Anda di halaman 1dari 2

Berani menjadi Pemimpin yang Peduli dan Bertanggungjawab

oleh: Anthony Wijaya


disampaikan dalam kegiatan Training Kader FKIP 2016
Gunung Tabor-Tumpang-Malang

Pada dasarnya setiap manusia adalah seorang pemimpin, memimpin dirinya sendiri dan
bertanggung jawab atas kepemimpinannya tersebut.

“Each of you is a leader, and each of you will be held accountable for your
leadership"
~ Muhammad SAW. ~

Perlu kita sadari, dalam perjalanan hidup kita masing-masing, entah ketika kita masih dalam
tahun belajar, ataupun sudah bekerja atau bahkan di setiap tahap kehidupan kita, jatuh bangun,
dalam kondisi menyenangkan atau tidak, sedang mengerjakan tugas sistemik atau urusan pribadi,
kita akan dihadapkan pada situasi saat kita secara alami diharuskan memimpin dan bertanggung
jawab atas diri kita sendiri. Jika kita telah pada tahap menyadari bahwa sebenarnya dalam diri kita
adalah seorang pemimpin, maka kata “berani” tidak perlu kita bahas lebih mendalam karena pada
dasarnya kita masing-masing pasti “berani” bertindak untuk diri kita sendiri.
Cara pikir ini erat kaitannya dengan sisi religius seorang manusia, dimana hal ini menjadi
faktor kontrol paling penting dalam urusan kepemimpinan. Ketika seorang pemimpin menjadikan
kepercayaannya kepada sang pencipta sebagai kontrol utama tindakannya sebagai pemimpin, maka
yakinlah setiap tindakan yang diambilnya adalah baik, walaupun terkadang tidak selalu tepat.
Tindakan yang baik biasanya diawali dengan analisa yang tepat untuk permasalahan yang ada, bukan
keluar dari pemikiran yang salah.
Di sisi lain, kita tidak perlu mengaitkan persoalan memimpin diri sendiri (self leadership)
dengan keegoisan, karena kedua hal tersebut malahan saling bertolakbelakang. Ketika seseorang
dapat memimpin dirinya terlebih dahulu, maka hal ini akan menjadi sistem kontrol yang baik bagi
yang bersangkutan untuk dapat bertindak dengan semestinya dalam sebuah komunitas atau
organisasi. Sedangkan keegoisan jelas berakar pada pemikiran sempit untuk mementingkan diri
sendiri, bertindak untuk kepentingannya sendiri ketika seseorang berada dalam lingkungan
sosialnya.
Oleh karena itu, kepemimpinan bermula dari diri kita sendiri. Ketika kita belum sampai pada
tahap ini, kejarlah, berusahalah, capailah terlebih dahulu hal ini, karena hal inilah yang menunjukkan
tingkat kedewasaan kita, bukan usia, bukan ukuran fisik tubuh melainkan cara pikir dan kontrol diri
kita.

“Many people have ideas on how others should change; few people have
ideas on how they themselves should change”
~ Leo Tolstoy ~

Dari pemikiran di atas, maka muncullah pertanyaan: apakah jika kita belum mencapai self
leadership, kita belum layak terjun dalam kepemimpinan komunitas atau organisasi?. Jawabannya
TIDAK. Kebutuhan berada di dalam suatu komunitas sosial menjadi kodrat kita sebagai manusia. Di
sisi lain, lingkungan komunitas sosial adalah medan/wadah kita untuk mengembangkan diri dan
mencapai self leadership tersebut untuk diri kita sendiri masing-masing. Maka, jadikanlah
komunitas/organisasi tempat kita masing-masing bernaung sebagai arena bermain; kita bisa belajar
dengan serius tetapi kita tetap merasakan kegembiraan.
Muncul lagi pertanyaan: kemudian, apa yang membedakan self leadership dengan
kepemimpinan dalam komunitas/organisasi?. ANALOG, yang berbeda hanyalah jumlah manusianya,
artinya, perlakuan yang sama harus diberikan baik ketika kita memimpin diri kita sendiri atau ketika
kita memimpin rekan-rekan kita dalam komunitas/organisasi. Jika kita peduli kepada diri kita sendiri,
maka kita juga harus peduli kepada setiap rekan dalam komunitas/organisasi. Hanya saja bentuk
kepedulian seorang pemimpin di suatu komunitas/organisasi harus dilihat dari berbagai sudut
pandang.

“The boss says, "Go!"; the leader says, "Let's go!"”


~ Gordon Selfridge ~

Salah satu bentuk kepedulian pemimpin dalam komunitas/organisasi adalah perhatiannya terhadap
perkembangan kemampuan setiap rekan dalam komunitas/organisasi. Seorang pemimpin bukan
memberikan order, tetapi melakukan ajakan. Ketika seorang pemimpin menjadi lebih bisa, maka
adalah misi mulianya pula untuk mengajak rekan yang dipimpinnya untuk menjadi lebih bisa juga. Di
sinilah tahap pembagian tugas berperan dan pelaksanaannya adalah dalam bentuk ajakan bukan
perintah.

“Leaders must be close enough to relate to others, but far enough ahead to
motivate them”
~ John Maxwell ~

“Example is leadership”
~ Albert Schweitzer ~

Bentuk lain kepedulian seorang pemimpin adalah batasan mengenai kedekatan personal dan
profesionalisme. Seorang pemimpin harus mengenal cukup dekat secara personal rekan-rekan yang
dipimpinnya tetapi di sisi lain tetap bersikap profesional sebagai motivasi bagi yang lain. Kedekatan
secara personal akan mampu menciptakan suasana komunitas yang menyenangkan sehingga ide,
kreativitas, dan budaya problem solving dalam komunitas tersebut akan berkembang menjadi lebih
dinamis. Sedangkan dengan bersikap profesional, seorang pemimpin akan menyajikan contoh baik
yang nyata kepada rekan yang lain dan memberikan dorongan kepada yang lain untuk
mengembangkan diri.

Selain “berani”, “peduli” dan “bertanggungjawab”, satu hal penting yang terkadang tidak
dipersiapkan atau bahkan terlupakan, yaitu resilience, respon kita terhadap kegagalan. Satu set
kesiapan yang perlu kita pelajari sebagai modal hidup, di dalamnya terdapat kesiapan kita
menghadapi kegagalan. Sebagai seorang pemimpin, resilience menjadi modal yang sangat penting
dalam menjaga kondisi dan jalannya komunitas/organisasi. Di dalam resilience terdapat kesiapan diri
(siap akan segala konsekuensi atas tindakan yang diambil, menjadi satu dengan
“bertanggungjawab”), refleksi diri (menyadari kegagalan/kesalahan, termasuk penyesalan jika
diperlukan, dan evaluasi) ,dan re-motivating (memotivasi diri sendiri dan rekan yang lain, menjadi
bagian yang paling penting tetapi paling sulit).

Masih banyak hal lain yang perlu kita persiapkan dan pelajari dalam rangka mengumpulkan modal
sebagai pemimpin, tetapi yakinlah kita bisa belajar dari siapa saja, kejadian dan keadaan apa saja,
serta kapan saja, tidak terbatas waktu. Ketika pada saatnya kita diberi kesempatan menjadi seorang
pemimpin dan kita merasa belum siap, kita merasa belum memiliki kemampuan yang cukup, jangan
khawatir, ambil kesempatan itu seraya terus belajar sepanjang hayat.

“Leadership is the ability to get extraordinary achievement from ordinary people”


~ Brian Tracy ~

## God Bless Us ##