Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS Mei 2018

Krisis Hipertensi

DISUSUN OLEH:

NAMA : Muhammad Akbar Anas

STAMBUK : N 111 16 072

PEMBIMBING:
dr. I Ketut Suarayasa, M.Kes

PEMBIMBING LAPANGAN
dr. Ketut Sujana

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018
BAB I

PENDAHULUAN
A. Defenisi

Dari populasi Hipertensi (HT), ditaksir 70% menderita HT ringan, 20%


HT sedang dan 10% HT berat. Pada setiap jenis HT ini dapat timbul krisis
hipertensi yang merupakan suatu kegawatan medik dan memerlukan pengelolaan
yang cepat dan tepat untuk menyelamatkan jiwa penderita. Angka kejadian krisis
HT menurut laporan dari hasil penelitian dekade lalu di negara maju berkisar 2 –
7% dari populasi HT, terutama pada usia 40 – 60 tahun dengan pengobatan yang
tidak teratur selama 2 – 10 tahun. Angka ini menjadi lebih rendah lagi dalam 10
tahun belakangan ini karena kemajuan dalam pengobatan HT, seperti di Amerika
hanya lebih kurang 1% dari 60 juta penduduk yang menderita hipertensi. Di
Indonesia belum ada laporan tentang angka kejadian ini. 1,
Terdapat perbedaan beberapa penulis mengenai terminologi peningkatan
darah secara akut. Terminologi yang paing sering dipakai adalah:
1. Hipertensi emergensi (darurat), yaitu peningkatan tekanan darah sistolik > 180
mmHg atau diastoik > 120 mmHg secara mendadak disertai kerusakan organ
terget. Hipertensi emergensi harus ditanggulangi sesegera mungkin dalam satu
jam dengan memberikan obat – obatan anti hipertensi intravena.[1,5,6]

2. Hipertensi urgensi (mendesak), yaitu peningkatan tekanan darah seperti pada


hipertensi emergensi namun tanpa disertai kerusakan organ target. Pada keadaan
ini tekanan darah harus segera diturunkan dalam 24 jam dengan memberikan obat
– obatan anti hipertensi oral.[1,5,6]

Dikenal beberapa istilah yang berkaitan dengan hipertensi krisis antara lain:
1. Hipertensi refrakter: respon pengobatan yang tidak memuaskan dan tekanan
darah > 200/110 mmHg, walaupun telah diberikan pengobatan yang efektif (triple
drug) pada penderita dan kepatuhan pasien.[5]
2. Hipertensi akselerasi: peningkatan tekanan darah diastolik > 120 mmHg
disertai dengan kelainan funduskopi KW III. Bila tidak diobati dapat berlanjut ke
fase maligna.[5]

3. Hipertensi maligna: penderita hipertensi akselerasi dengan tekanan darah


diastolik > 120 – 130 mmHg dan kelainan funduskopi KW IV disertai

B.Etiologi
Faktor penyebab hipertensi emergensi dan hipertensi urgensi masih belum
dipahami. Peningkatan tekanan darah secara cepat disertai peningkatan resistensi
vaskular dipercaya menjadi penyebab.[6,7] Peningkatan tekanan darah yang
mendadak ini akan menyebabkan jejas endotel dan nekrosis fibrinoid arteriol
kemudian berdampak pada kerusakan vaskular, deposisi platelet, fibrin dan
kerusakan fungsi autoregulasi

C.Patofisiologi
Autoregulasi merupakan penyesuaian fisiologis organ tubuh terhadap kebutuhan
dan pasokan darah dengan mengadakan perubahan pada resistensi terhadap aliran
darah dengan berbagai tingkatan perubahan kontraksi/dilatasi pembuluh darah.
Bila tekanan darah turun maka akan terjadi vasodilatasi dan jika tekanan darah
naik akan terjadi vasokonstriksi.

D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis hipertensi krisis berhubunga dengan kerusakan organ target yang
ada. Tanda dan gejala hipertensi krisis berbeda – beda setiap pasien. Sakit kepala,
perubahan tingkat kesadaran dan atau tanda neurologi fokal bisa terjadi pada pasien
dengan hipertensi ensefalopati. Pada pemeriksaan fisik pasien bisa saja ditemukan
retinopati dengan perubahan arteriola, perdarahan dan eksudasi maupun papiledema.
Pada sebagian pasien yang lain manifestasi kardiovaskular bisa saja muncul lebih
dominan seperti; angina, akut miokardial infark atau gagal jantung kiri akut. Dan
beberapa pasien yang lain gagal ginjal akut dengan oligouria dan atau hematuria bisa
saja terjadi
E. Penatalaksanaan

Manajenem penurunan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi urgensi tidak
membutukan obat-obatan parenteral. Pemberan obat-obatan oral aksi cepat akan
memberi manfaat untuk menurunkan tekanan darah dalam 24 jam awal (Mean
Arterial Pressure (MAP) dapat diturunkan tidak lebih dari 25%). Pada fase awal
goal standar penurunan tekanan darah dapat diturunkan sampai 160/110
mmHg.[1,6]
Penggunaan obat-obatan anti-hipertensi parenteral mauun oral bukan tanpa resiko
dalam menurunkan tekanan darah. Pemberian loading dose obat oral anti-
hipertensi dapat menimbulkan efek akumulasi dan pasien akan mengalami
hipotensi saat pulang ke rumah. Optimalisasi penggunaan kombinasi obat oral
merupakan pilihan terapi untuk pasien dengan hipertensi urgensi.[1,6]
BAB II

PERMASALAHAN

2.1 Menentukan Prioritas Masalah Menggunakan Rumus Hanlon


Kuantitatif

Tabel 2.1 Prioritas Masalah di Puskesmas Wani

No Masalah Besar Kegawat Kemungkinan Nilai


kesehatan masalah daruratan diatasi

1 Hipertensi 4 4 1 9
2 Gastritis 4 2 2 8
3 Arthritis 4 3 2 9

4 Hipotensi 3 1 4 8

5 ISK 2 2 4 8
6 Otitis 2 3 4 9
media akut
Dilihat dari table diatas masalah yang menjadi prioritas pada
puskesmas Wani adalah hipertensi, arthritis dan otitis media akut.

a. KRITERIA A :Besar masalah,


dapat dilihat dari besarnya insidensi atau prevalensi. Skor 1-10
Masalah Besar masalah Nilai
kesehatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
X (Hipertensi) V 8
Y (Arthritis) V 7
Z (OMA) V 4

b. KRITERIA B :Kegawatan Masalah (SKOR 1-5)


Masalah Keganasan Tingkat Biaya yang Nilai
kesehatan urgency dikeluarkan
X (Hipertensi) 1 4 5 10
Y (Arthritis) 2 3 4 9
Z (OMA) 1 4 2 7

c. KRITERIA C : Kemudahan dalam Penanggulangan


Sangat sulit X,Y Z sangat mudah

1 2 3 4 5

d. KRITERIA D : PEARL factor


Masalah P E A R L Hasil
kesehatan perkalian
X 1 1 1 1 1 1
Y 1 1 1 1 1 1
Z 1 1 1 1 1 1

e. PENETAPAN NILAI
 HIPERTENSI
NPD : (A+B) C = (8+10) 3= 18x2 = 54

NPT : (A+B) CxD = (8+10) 3x1 = 18x3 = 54

 ARTHRITIS
NPD : (A+B) C = (7+9) 3 = 16 x3 = 48

NPT : (A+B) CxD = (7+9) 3x1 = 16 x3 =48

 OMA
NPD : (A+B) C = (4+7) 4 = 11x4 =44

NPT : (A+B) CxD = (4+7) 4x1 = 11x4 =44

f. KESIMPULAN
Masalah A B C NPD D NPT Prioritas
kesehatan (PEARL)
HIPERTENSI 8 10 3 54 1 54 1
ARTHRITIS 7 9 3 48 1 48 2
OMA 4 7 4 44 1 44 3

Kesimpulan dari rumus hanlon ini yaitu prioritas masalah yang ada
dipuskesmas wani berdasarkan penyakit disimpulkan bahwa penyakit Hipertensi
Merupakan prioritas ke -1 dan arthritis merupakan prioritas ke-2 dan OMA
prioritas ke-3.
2.2 KASUS

1. Identitas Pasien
Nama Pasien : Ny. AS
Umur : 62 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Urusan Rumah Tangga
Alamat : Pantoloan
Agama : Islam
Suku : Kaili
Pendapatan : ± Rp. 2.500.000 (ekomomi menengah)

2. Anamnesis
Keluhan utama: pusing mendadak
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien mengeluh pusing mendadak yang dirasakan tiba-tiba serta
tegang pada tengkuk sejak kurang lebih beberpa minggu yang lalu. Keluhan
tersebut dirasakan sangat menganggu terutama dalam aktivitasnya sehari-hari,
keluhan kadang disertai dengan adanya nyeri kepala, serta rasa tidak nyaman
saat tidur malam hari ketika nyeri itu timbul. Pasien sendiri mengeluhkan
sulit tidur pada malam hari dan sering menonoton TV
Pasien mengaku seringkali mengkonsumsi makanan yang asin serta
pedis. Pasien juga sering mengkonsumsi makanan yang digoreng, makanan
yang bersantan,dan jarang mengkonsumsi buah dan sayuran serta jarang
berolahraga. Pasien juga mengaku seringkali merasa stress akibat kondisi
perekonomian keluarganya. awalnya keluhan ini pertama kali dirasakan pada
saat hamil anak keduanya dan disampaikan bahwa pasien menderita
hipertensi kehamilan .
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien mengaku menderita hipertensi sudah sejak kehamilan anak
keduanya hingga saat ini.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Ibu pasien memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol

Riwayat Pengobatan
Pasien mengaku tidak rutin minum obat hipertensi dan jarang kontrol ke
Puskesmas dengan alasan sibuk dan tidak ada keluhan.

Riwayat Sosial, Ekonomi dan Lingkungan:


1. Pasien memiliki 2 anak laki-laki
2. Pasien tinggal dirumah sendiri, bersama suami dan anaknya.
3. Pasien merupakan keluarga ekonomi rendah. Pasien hanya mengelolah
warung makan kecil bersama suami.
4. Rumah pasien terletak dipinggir jalan, semi permanen, berdinding beton
dibagian belakang dan kayu dibagian depan, atap seng, lantai terbuat
dari papan, satu ruang tidur, dapur, dan berhubungan lansung dengan
tempat jualan.
5. Pasien biasa membuang sampah di belakang rumahnya.

Pemeriksaan Fisik

Keadaaan umum : Baik


Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 220/ 120 mmHg
Frek. Nadi : 105 x/menit
Frek. Nafas : 22 x/menit
Suhu : 36,7 oC
Berat Badan : 40 kg
Tinggi Badan : 160 cm
Status Generalis
Kepala-Leher
Dalam batas normal
Paru
Dalam batas normal
Abdomen
Dalam batas normal
Ekstremitas
Dalam batas normal

Diagnosis Kerja
Krisis Hipertensi

Penatalaksanaan
Medikamentosa :
Captopril 3 x 25 mg
Amlodipin tablet 10 mg 1x1 (malam)
Non Medikamentosa (Edukasi):
1. Mengurangi garam dalam masakan dan menghentikan kebiasaan menabur
garam diatas nasi sebelum disantap
2. Mengurangi makan makanan berminyak dan bersantan
3. Mengonsumsi buah dan sayuran setiap hari
4. Rutin minum obat anti hipertensi tiap hari walaupun tidak ada keluhan dan
ke Puskesmas tiap bulan untuk kontrol

Prognosis
Dubia ad malam
BAB III
PEMBAHASAN

Suatu penyakit dapat terjadi oleh karena ketidakseimbangan faktor-faktor


utama yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Paradigma hidup
sehat yang diperkenalkan oleh H.L. Bloom mencakup 4 faktor yaitu faktor
genetik/biologis, faktor perilaku individu atau masyarakat, faktor lingkungan dan
faktor pelayanan kesehatan (jenis, cakupan dan kualitasnya).
Berdasarkan kasus di atas, jika dilihat dari segi konsep kesehatan
masyarakat, maka ada beberapa yang menjadi faktor risiko yang mempengaruhi
derajat kesehatan hipertensi, yaitu:
1. Faktor genetik
Berdasarkan riwayat penyakit keluarga, ibu pasien juga mengalami
keluhan serupa dan memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol. Menurut
Davidson, bila kedua orangtuanya menderita hipertensi maka sekitar 45%
akan turun ke anak-anaknya dan bila salah satu orang tuanya menderita
hipertensi maka sekitar 30% akan turun ke anak. Sehingga pada kasus ini
faktor genetik berpegaruh pada pasien.
2. Faktor perilaku
1) Diet tinggi garam dan lemak, serta rendah serat
Kebiasaan makan pasien yang suka mengonsumsi makanan asin dan
pedis sebelum makan, sering makan ikan asin, makanan berminyak, dan
makanan bersantan. Pasien juga kurang mengkonsumsi buah dan sayuran.
Diet tinggi natrium akan menstimulasi pengeluaran hormon
natriuretik dan mekanisme vasopressor dalam sistem saraf pusat. Menurut
penelitian yang dilakukan Sugiharto (2007) menunjukkan seseorang yang
terbiasa mengkonsumsi makanan asin berisiko menderita hipertensi 3,95
kali dibandingkan orang yang tidak terbiasa mengkonsumsi makanan asin.
Diet tinggi lemak jenuh juga dapat meningkatkan risiko penyakit
kardiovaskular akibat peningkatan kadar kolesterol yang membentuk plak
aterosklerosis pada pembuluh darah sehingga menyebabkan peningkatan
tekanan darah pasien.
2) Stress
Pasien mengaku mengalami stress dengan pekerjaanya sehingga
pasien sering tidur larut malam dan menonton tv hingga larut malam.
Seseorang yang berada dalam kondisi stress telah terjadi proses fisiologis
dimana sistem saraf simpatis teraktivasi yang selanjutnya dapat
menstimulus pengeluaran hormon adrenalin dan kortisol. Respon fisiologis
ini menyebabkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah.
3) Olahraga
Pasien mengaku sangat jarang berolahraga karena alasan sibuk
bekerja. Olahraga yang adekuat dan teratur akan menjadikan fungsi
kardiovaskular menjadi lebih baik dan menurunkan berat badan pada
pasien obesitas.
4) Pengobatan
Perilaku pasien yang tidak rutin kontrol ke puskesmas dan minum obat
tidak teratur ( hanya saat ada keluhan) sangat berpengaruh pada tekanan
darahnya. Obat hipertensi seharusnya dikonsumsi tiap hari dan sesuai
dosis yang tepat agar tekanan darah menjadi normal terkontrol.
3. Faktor lingkungan
Tidak ada faktor lingkungan yang berpengaruh pada kasus ini
4. Faktor pelayanan kesehatan
Dari segi pelayanan kesehatan terkait kinerja Puskesmas Pantoloan
untuk menanggulangi penyakit hipertensi mulai dari pelayanan di poli lansia,
posyandu lansia, posbindu serta pelayanan dalam memberikan obat telah
dianggap cukup baik dalam penanggulangan penyakit hipertensi. Puskesmas
Wani memiliki Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) Usia lanjut yang
dilaksanakan setiap bulan. Kegiatan promotif dan preventif dilakukan melalui
penyuluhan tentang penyakit-penyakit degenaratif, gizi, kesehatan jiwa,
olahraga lansia, dan lain-lain serta pembagian pamflet tentang kesehatan.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan atas pengamatan dan pemantauan dari kasus tersebut,
dapat ditarik kesimpulan bahwa yang paling mempengaruhi hipertensi pada
pasien adalah faktor perilaku dan genetik.

4.2 Saran
Berdasarkan dari kasus tersebut dapat diberikan saran berdasarkan
Five Level of Preventions sebagai berikut:
1. Promosi Kesehatan (health promotion)
a) lebih sering melakukan promosi kesehatan tentang penyakit hipertensi
serta dampak atau komplikasi yang ditimbulkan dari penyakit
hipertensi, hal ini dapat dilakukan pada saat kegiatan posbindu ataupun
dipuskesmas.
b) Promosi kesehatan yang dapat mengubah pola pikir masyarakat bahwa
obat hipertensi harus diminum seumur hidup walaupun tidak merasakan
gejala, hal ini dapat dilakukan diposbindu, poliklinik puskesmas
ataupun dapat juga dilakukan seminar awam tentang penyakit
hipertensi.

2. Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu


(general and specific protection)
Merupakan suatu tindakan pencegahan yang dilakukan oleh
masyarakat terhadap ancaman agen penyakit atau pembawa penyakit
tertentu.
a) Memberikan informasi pada pasien tentang makan apa saja yang dapat
memicu naiknya tekanan darah seperti makanan yang mengandung
kadar garam tinggi.
b) Memberikan informasi pada pasien bahwa salah satu pemicu naiknya
tekanan darah adalah stres, sehingga pasien dapat menghindari hal-hal
yang dapat mebmuat stres baik di rumah, di tempat kerja ataupun
dilingkungan masyarakat lain.
c) Olahraga ringan teratur dapat merupakan salah satu solusi untuk
mencegah ataupun mengontrol tekan darah.
d) Untuk pasien dengan obesitas, mengurangi berat badan adalah salah
satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegah ataupun mengontrol
hipertensi.

3. Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt


treatment)
Merupakan tindakan menemukan penyakit sedini mungkin dan
melakukan penatalaksanaan segera dengan terapi yang tepat. Hal yang
dapat dilakukan adalah:
a) Melakukan skrining dengan memeriksa tekanan darah tidak hanya
pasien dengan faktor resiko seperti lansia tetapi semua pasien
sebaiknya diukur tekanan darahnya secera rutin.
b) Memberikan pengobatan yang tepat untuk mecapai terget tekanan
darah tertentu sesuai dengan guideline hipertensi.
c) Memberikan kemudahan untuk akses obat hipertensi, seperti
pemberian obat hipertensi satu bulan untuk meningkatkan kepatuhan
pasien untuk minum obat.

4. Membatasi kecacatan (disability limitation)


Usaha ini dilakukan dengan pengobatan dan perawatan yang
sempurna agar penderita sembuh kembali dan tidak cacat ( tidak terjadi
komplikasi ). Bila sudah terjadi kecacatan maka dicegah agar kecacatan
tersebut tidak bertambah berat dan fungsi dari alat tubuh yang cacat ini
dipertahankan semaksimal mungkin. Hal yang dapat dilakukan adalah:
 Untuk penyakit hipertensi penyebab kecacatan terbesar adalah
stroke, untuk itu, cara yag dilakukan adalah sekali lagi dengan
merubah pola hidup dan pengobatan yang teratur untuk mencapai
tekanan darah yang terkontrol.
5. Pemulihan (rehabilitation)
Pada proses ini diusahakan agar cacat yang di derita tidak menjadi
hambatan sehingga individu yang menderita dapat berfungsi optimal
secara fisik, mental dan sosial. Hal yang dapat dilakukan adalah:
a) Untuk pasien yang sudah mengalami stroke, diberikan motivasi bahwa
dengan latihan fisik yang teratur dapat mengembalikan fungsi tubuh
yang terkena stroke walaupun tidak sempurna.
b) Dimasyarakat, dapat dibentuk suatu kegiatan khusus sebulan sekali
misalnya yang ditujukan bagi penderita stroke, misalnya senam
bersama, sekaligus dapat memotivasi para penderita stroke untuk
dapat pulih. Tentunya hal ini dibutuhkan dukungan dari msyrakat itu
sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

1.Rampengan SH. Krisis Hipertensi. Hipertensi Emergensi dan Hipertensi


Urgensi. BIK Biomed. [database on the internet] 2007. [cited February 2013, 21].
Vol.3, No.4 :163-8. Available from:
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/3408163168.pdf.

2. Saguner AM, Dür S, Perrig M, Schiemann U, Stuck AE, et al. Risk Factors
Promoting Hypertensive Crises: Evidence From a Longitudinal Study. Am J
Hypertens [database of Nature Publishing Group] 2010. [cited February 2013,
21]. 23:775-780. Available from: http://ajh.oxfordjournals. org/content /23/7/775.
full.pdf.

3. Madhur MS. Hypertension. Medscape Article. [database on the internet] 2012.


[cited February 2013, 21]. Vol.3, No.4 :163-8. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/241381overview?pa=g9YPJFBPkOn%2Fx
eT6PfGOhnN48mGJ4tbjfnC6TtgPW0i5S6p0rRh8mklVRUL%2B1hDX56MI7dG
TgNawPfsOtJla9Q%3D%3D#showall.

4. Fauci AS, Kasper DL, Longo DL, Braunwald E, Hauser SL, et al. Harrison's
Principles of Internal Medicine. Seventeenth Edition. [text books of internal
medicine] 2008. United States of America: The McGraw-Hill Companies.

5. Majid A. Krisis Hipertensi Aspek Klinis dan Pengobatan. USU Digital Library
[database on the internet] 2004. [cited February 2013, 21]. Available from:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1999/1/ fisiologi-abdul % 20
majid.pdf.

6. Vaidya CK, Ouellette JR. Hypertensive Urgency and Emergency. Hospital


Physician Article [article on the internet] 2007. [cited February 22, 2013]. pp. 43
– 50. Available from: http://www.turner-white.com/memberfile.
php?PubCode=hp_mar07_hypertensive.pdf.
DOKUMENTASI