Anda di halaman 1dari 23

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Globalisasi
Pengertian Globalisasi menurut bahasa adalah Global dan sasi, Global
adalah mendunia, dan Sasi adalah Proses, jadi apabila pengertian Globalisasi
menurut bahasa ini di gabungkan menjadi “Proses sesuatu yang
mendunia.”
Globalisasi adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena
pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan
lainnya. Kemajuan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi, termasuk
kemunculan telegraf dan Internet, merupakan faktor utama dalam globalisasi
yang semakin mendorong saling ketergantungan (interdependensi) aktivitas
ekonomi dan budaya. Meski sejumlah pihak menyatakan bahwa globalisasi
berawal di era modern, beberapa pakar lainnya melacak sejarah globalisasi
sampai sebelum zaman penemuan Eropa dan pelayaran ke Dunia Baru. Ada
pula pakar yang mencatat terjadinya globalisasi pada milenium ketiga sebelum
Masehi.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, keterhubungan ekonomi
dan budaya dunia berlangsung sangat cepat. Istilah globalisasi makin sering
digunakan sejak pertengahan tahun 1980-an dan lebih sering lagi sejak
pertengahan 1990-an. Pada tahun 2000, dana Moneter Internasional (IMF)
mengidentifikasi empat aspek dasar globalisasi: perdagangan dan transaksi,
pergerakan modal dan investasi, migrasi dan perpindahan manusia, dan
pembebasan ilmu pengetahuan. Selain itu, tantangan-tantangan lingkungan
seperti perubahan iklim, polusi air dan udara lintas perbatasan, dan
pemancingan berlebihan dari lautan juga ada hubungannya dengan globalisasi.
Proses globalisasi memengaruhi dan dipengaruhi oleh bisnis dan tata kerja,
ekonomi, sumber daya sosial-budaya, dan lingkungan alam.

1
Pengertian Globalisasi menurut para ahli :
1. Thomas L. Friedman : Globalisasi memiliki dimensi idiology dan
tekhnologi. Dimensi tekhnologi yaitu kapitalisme dan pasar bebas,
sedangkan dimensi tekhnologi adalah tekhnologi informasi yang telah
menyatukan dunia
2. Emanuel Ritcher: Globalisasi adalah jaringan kerja global secara
bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar – pencar
dan terisolasi kedalam saling ketergantungan dan persatuan dunia
3. Achmad Suparman: Globalisasi adalah sebuah proses menjadikan sesuatu
benda atau perilaku sebagai ciri dan setiap individu di dunia ini tanpa
dibatasi oleh wilayah.
4. Martin Albrown: Globalisasi menyangkut seluruh proses dimana
penduduk dunia terhubung ke dalam komunitas dunia tunggal, komunitas
global.
5. Selo Soemardjan : globalisasi adalah suatu proses terbentuknya sistem
organisasidan komunikasi antarmasyarakat di seluruh dunia. Tujuan
globalisasi adalah untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah tertentu
yang sama misalnya terbentuknya PBB, OKI
Kesimpulan : Globalisasi secara singkat adalah “Sebuah proses dimana antar
individu / kelompok menghasilkan suatu pengaruh terhadap dunia.”

B. Keragaman Budaya Indonesia


Dengan keanekaragaman kebudayaan Indonesia bisa dikatakan
memiliki keunggulan dibandingkan dengan negara lainnya. Indonesia
memiliki potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Dan tidak kalah
pentingnya, secara politik dan sosial budaya masyarakat indonesia memiliki
jalinan sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan yang dirangkai sejak
zaman dulu. Interaksi antar adat, kebudayaan dijalin tidak hanya meliputi
antar kelompok suku bangsa yang berbeda, namun juga meliputi antar
peradaban yang ada di dunia.
Mendaratnya kapal-kapal Portugis di wilayah Banten pada abad
pertengahan misalnya sudah membuka diri Indonesia pada lingkup pergaulan
dunia internasional pada masa itu. Hubungan antar pedagang pesisir jawa dan
gujarat juga memberikan dampak yang penting dalam membangun interaksi
antar peradaban yang ada di Indonesia. Singgungan-singgungan peradaban
inlah yangi pada dasarnya telah membangun daya elasitas bangsa Indonesia
dalam berinteraksi dengan perbedaan-perbedaan yang ada.
Disisi yang lain negara Indonesia juga mampu menelisik dan
mengembangkan budaya lokal ditengah-tengah singgungan antar peradaban
pada masa itu. Sejarah membuktikan bahwa kebudayaan di Indonesia bisa
hidup secara berdampingan, saling mengisi, dan ataupun berjalan secara
paralel. contoh kebudayaan kraton atau kerajaan yang berdiri berdampingan
secara paralel dengan kebudayaan berburu meramu kelompok masyarakat
tertentu.
Dalam konteks kekinian dapat kita temui bagaimana kebudayaan
masyarakat urban bisa berjalan paralel dengan kebudayaan rural/pedesaan,
bahkan dengan kebudayaan berburu meramu yang hidup jauh terpencil.
Hubungan-hubungan yang terjalin antar kebudayaan itu bisa berjalan terjalin
dalam bingkai "Bhinneka Tunggal Ika" , dimana dapat kita maknai kalau
konteks keanekaragamannya bukan hanya mengacu pada keanekaragaman
kelompok sukubangsa semata namun, juga kepada konteks kebudayaan.
Didasari juga dengan jumlah kelompok sukubangsa kurang lebih
700’an suku bangsa di seluruh nusantara, dengan berbagai karakter kelompok
masyarakat yang beragam, serta keragaman agamanya, rumah adat, pakaian
adat, kesenian adat bahkan makanan beraneka ragam pula. Masyarakat
Indonesia adalah masyarakat majemuk yang mempunyai karakteristik yang
unik ini bisa dilihat dari budaya gotong royong, teposliro, budaya
menghormati orang tua (cium tangan), dsbg.
Untuk itulah kita sebagai generasi penerus bangsa, seharunya mampu
menjaga dan melestarikan kebudayaan bangsa tercinta Indonesia kita ini.
Janganlah sampai kita biarkan perbedaan yang ada itu membuat kita lemah
dan memicu konflik, tapi marilah kita bergandengan tangan menyongsong
Indonesia yang Jaya dan penuh dengan harapan yang indah.
1. Manfaat Keberagaman Budaya
Adapun manfaat keberagaman budaya bangsa indonesia antara lain adalah
sebagai berikut :
a. Promotes nilai-nilai kemanusiaan
Pada saat suatu organisasi mempunyai sekelompok karyawan
milik beragam budaya, hal ini menunjukkan kalau organisasi mengakui
dan merayakan serta memperingati keragaman yang ada pada orang
dari latar belakang yang berbeda. Hal ini membuat orang-orang
organisasi berpikir kalu nilai mereka dan kontribusi layak sedang
direalisasikan oleh organisasi dan manajemen.
b. Improves produktivitas dan profitabilitas
Terlepas dari nilai-nilai kemanusiaan, keragaman budaya juga
bisa membawa beberapa manfaat nyata kepada bidang bisnis di seluruh
dunia. Persuasi aktif dalam keragaman di tempat kerja langsung,
dampak produktivitas dan profitabilitas organisasi serta karyawan.
Terdapat peningkatan produktivitas pekerjadan profitabilitas untuk
organisasi.
c. Helps untuk membuat kolam bakat
Saat organisasi berinvestasi dalam keragaman, hasil didalam
penciptaan kolam bakat yang lebih besar. Ini adalah situasi win-win
baik bagi karyawan serta organisasi. Pertukaran karyawan dan belajar
setiap otherâ ¼ berdampak positif dan bersifat kompetensi. Seperti
kolam bakat yang menyediakan organisasi dengan keunggulan
kompetitif, yang membantu dalam kemajuan dan dalam lingkungan
yang besar serta kompetitif.
d. Exchange ide-ide inovatif
Ketika sebuah organisasi terdiri dari orang dengan berbagai latar
belakang yang berbeda, budaya dan pengalaman, ide-ide kreatif dan
inovatif baru akan menopang dalam pikiran orang yang berbeda. Hal
seperti itu wajar bahwa orang-orang dengan berbagai pengalaman dan
perspektif dalam hidup akan mampu menghasilkan ide-ide jenius dan
solusi untuk masalah. Ini adalah nilai besar untuk organisasi dan
karyawan. Pertukaran ide dinamis seperti yang terjadi antara orang
yang memiliki persepsi yang berbeda akan menghasilkan hasil yang
kreatif. Situasi seperti ini pernah dibuat dalam kelompok orang yang
berpikir sama dan mempunyai budaya serupa.
e. Other manfaat keanekaragaman
Banyak study yang berkaitan dengan perilaku organisasi yang
menyimpulkan bahwa mempromosikan keragaman budaya dapat
mengurangi tingkat ketidak hadiran, perputaran karyawan yang lebih
rendah, mengurangi biaya yang ada kaitannya dengan perekrutan
karyawan baru serta mengurangi tanggung jawab hukum dalam
gugatan diskriminasi. Dalam dunia persaingan, di mana keragaman
budaya mempunyai begitu banyak manfaat.
Masyarakat Indonesia yang terdiri dari ratusan suku bangsa
yang tersebar di lebih dari tiga belas ribu pulau yang ada di indonesia.
Setiap suku bangsa mempunyai identitas sosial, budaya, dan politik
yang berbeda-beda, seperti bahasa , adat istiadat serta tradisi, sistem
kepercayaan, dan sebagainya.
2. Ciri Keragaman Kebudayaan Lokal di Indonesia
Adapun Ciri keragaman kebudayaan lokal di Indonesia dapat dilihat
dari hal-hal sebagai berikut:
a. Keragaman Suku Bangsa
Dari ilmu antropologi dapat diketahui bahwa nenek moyang
bangsa Indonesia berasal dari Yunan, Cina Selatan. Berkisar antara
tahun 3.000 – 500 SM Indonesia sudah dihuni oleh penduduk migran
submongoloid dari Asia, yang kemudian bercampur dengan penduduk
pribumi dan indo-arian berasal dari Asia Selatan. Klasifikasi suku
bangsa di Indonesia menurut Van Vollenhoven yang membagi
Indonesia ke dalam 19 daerah suku bangsa, yaitu:
1) Aceh
2) Bangka dan Belitung
3) Gayo-alas, Batak, Nias dan Batu
4) Sumatra Selatan
5) Melayu
6) Bangka Belitung
7) Kalimantan
8) Singehe-Talaud
9) Gorontalo
10) Bali dan Lombok
11) Toraja
12) Sulawesi Selatan
13) Ternate
14) Ambon Maluku dan Kepulauan Barat Daya
15) Irian
16) Timor
17) Jawa Barat
18) Jawa Tengah dan Jawa Timur
19) Surakarta dan Yogyakarta
b. Keberagaman Bahasa
Bangsa Indonesia termasuk kedalam rumpun bahasa Austronesia
(Australia-Asia). Gorys Keraf membagi rumpun bahasa ini Austronesia
ke dalam subrumpun, sebagai berikut :
1) Bahasa Austronesia Barat atau Bahasa Indonesia atau Melayu yang
meliputi: Bahasa-bahasa Hesperonesia (Indonesia bagian Barat)
yang meliputi: bahasa Minahasa, Aceh,Batak, gayo, Minangkabau,
Melayu, Lampung, Melayu Tengah,Bima, Mentawai, Jawa, Sunda,
Madura, Dayak, Bali Sasak, Gorontalo, Toraja, Bugis-Makasar,
Manggarai, Nias, Sumba, Sabu.
2) Bahasa-bahasa Indonesia Timur yang meliputi: bahasa Timor-
Ambon, Sula Bacan, Halmahera Selatan-Irian Barat.
3) Bahasa-bahasa Austronesia Bagian Timur/Polinesia yang meliputi:
Bahasa-bahasa Melanesia (Melanesia dan Pantai bagian Timur
Irian)
4) Melanesia (dari bahasa Yunani “pulau hitam”) yaitu sebuah
wilayah yang memanjang dari Pasifik barat hingga ke Laut Arafura,
timurdan utara laut Australia.
5) Bahasa-bahasa Heonesia (Bahasa Mokronesia dan Polinesia)
c. Keberagaman Religi
Indonesia mempunyai keberagaman agama atau kepercayaan. Di
Indonesia terdapat 6 agama yang diakui secara resmi oleh negara. Ke-6
agama tersebut adalah: Islam, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu dan
Protestan. Selain itu berkembang juga kepercayaan-kepercayaan lain
yang ada di massyarakat.
d. Keberagaman Seni Dan Budaya
Suku bangsa yang beragam di negeri Indonesia ini tentu
menghasilkan kebudayaan yang beragam pula. Salah satu wujud
keberagaman itu adalah kesenian, baik seni sastra, seni tari, seni
drama, seni musik, seni rupa dan sebagainya.
3. Manfaat Keberagaman Budaya
Keberagaman budaya yang ada di indonesia dapat memberikan
manfaat bagi bangsa kita. Dalam bidang bahasa, kebudayaan daerah yang
berwujud dalam bahasa daerahnya masing-masing dapat memperkaya
perbedaharaan istilah dalam bahasa Indonesia. Sementara itu, dalam
bidang pariwisata, potensi keberagaman budaya dapat juga dijadikan objek
dan tujuan pariwisata di Indonesia yang bisa mendatangkan devisa negara.
Pemikiran yang muncul dari sumber daya manusia yang ada di masing-
masing daerah dapat juga dijadikan sebagai acuan bagi pembangunan
nasional.
Keragaman budaya mengandung dua arti, yaitu keragaman artinya
ketidaksamaaan, perbedaan dan budaya dalam rangka kehidupan
bermasyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. Dengan
demikian, keanekaragaman budaya dapat diartikan sebagai suatu keadaan
dimana 8suatu masyarakat memiliki lebih dari satu perangkat gagasan,
tindakan, dan hasil karya. (Koentjaraningrat 1980). Triandis, dikutip oleh
Skeel, membedakan antara objek budaya dan subjek budaya. Objek budaya
meliputi hal-hal yang dapat dilihat oleh mata, seperti makanan, upacara
(peralatannya), sementara subjek budaya meliputi gagasan, tindakan, nilai-
nilai sikap, kebiasaan, dan kepercayaan dimana semuanya hanya bisa
diketahui keberadaannya dengan menggunakan rasa dan pikiran.
Dalam masyarakat yang memiliki keanekaragaman budaya timbul
berbagai masalah dan isu di antaranya adalah pembauran, prasangka dan
etnocentrism (melahirkan superioritas dan inferioritas). Dua hal yang terakhir
sebenarnya lebih bersifat bagian yang tidak terpisahkan dari proses
pembauran (asimilasi).
Menurut Koentjaraningrat pembauran adalah proses sosial yang timbul
apabila ada hal-hal berikut ini:
1. Golongan-golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang
berbeda.
2. Saling bergaul secara intensif untuk waktu yang lama.
3. Kebudayaan- kebudayaan golongan tadi masing-masing berubah sifatnya
yang khas dan juga unsur-unsurnya berubah wujud menjadi unsur-unsur
kebudayaan campuran.
Biasanya golongan-golongan yang tersangkut dalam proses asimilasi
adalah suatu golongan mayoritas dan beberapa golongan minoritas. Dalam
hal ini, golongan minoritas itulah yang mengubah sifat yang khas dari unsur-
unsur kebudayannya, dan menyesuaikannya dengan kebudayaan dari
golongan mayoritas sedemikian rupa sehingga lambat laun kehilangan
kepribadian budayanya dan masuk ke dalam kebudayaan mayoritas.
Faktor-faktor yang menghambat proses pembauran, antara lain berikut
ini :
1. Kurang pengetahuan terhadap kebudayaan yang dihadapi;
2. Sifat takut terhadap kekuatan dari kebudayaan lain atau inferioritas;8
3. Memandang terlalu tinggi terhadap kebudayaan sendiri dan memandang
rendah terhadap kebudayaan lain atau superioritas. Sebagai akibat dari
berkembangnya hambatan-hambatan tersebut dalam proses pembauran
maka sering timbul kecurigaan dan ketidakpercayaan diantara individu-
individu pendukung kebudayaan tersebut. Akibat lainnya ialah sulit
menanamkan sikap toleransi.

C. Pengaruh Globalisasi dalam Keragaman Budaya Indonesia


Gaung globalisasi, yang sudah mulai terasa sejak akhir abad ke-20,
telah membuat masyarakat dunia, termasuk bangsa Indonesia harus bersiap-
siap menerima kenyataan masuknya pengaruh luar terhadap seluruh aspek
kehidupan bangsa. Salah satu aspek yang terpengaruh adalah kebudayaan.
Terkait dengan kebudayaan, kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-
nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki
oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Atau kebudayaan juga dapat
didefinisikan sebagai wujudnya, yang mencakup gagasan atau ide, kelakuan
dan hasil kelakuan (Koentjaraningrat), dimana hal-hal tersebut terwujud
dalam kesenian tradisional kita. Oleh karena itu nilai-nilai maupun persepsi
berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan atau psikologis, yaitu apa yang
terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting
artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi
oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai
salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang
merupakan subsistem dari kebudayaan Bagi bangsa Indonesia aspek
kebudayaan merupakan salah satu kekuatan bangsa yang memiliki kekayaan
nilai yang beragam, termasuk keseniannya.
Kesenian rakyat, salah satu bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia
tidak luput dari pengaruh globalisasi. Globalisasi dalam kebudayaan dapat
berkembang dengan cepat, hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya
kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh akses komunikasi dan berita
namun hal ini justru menjadi bumerang tersendiri dan menjadi suatu masalah
yang paling krusial atau penting dalam globalisasi, yaitu kenyataan bahwa
perkembangan ilmu pengertahuan dikuasai oleh negara-negara maju, bukan
negara-negara berkembang seperti Indonesia. Mereka yang memiliki dan
mampu menggerakkan komunikasi internasional justru negara-negara maju.
Akibatnya, negara-negara berkembang, seperti Indonesia selalu
khawatir akan tertinggal dalam arus globalisai dalam berbagai bidang seperti
politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk kesenian kita. Wacana globalisasi
sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara
mendasar. Komunikasi dan transportasi internasional telah menghilangkan
batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung
mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga
melibatkan manusia secara menyeluruh. Simon Kemoni, sosiologi asal Kenya
mengatakan bahwa globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan
berbagai budaya dan nilai-nilai budaya.
1. Globalisasi dalam Kebudayaan Tradisional di Indonesia
Proses saling mempengaruhi adalah gejala yang wajar dalam
interaksi antar masyarakat. Melalui interaksi dengan berbagai masyarakat
lain, bangsa Indonesia ataupun kelompok-kelompok masyarakat yang
mendiami nusantara (sebelum Indonesia terbentuk) telah mengalami
proses dipengaruhi dan mempengaruhi. Kemampuan berubah merupakan
sifat yang penting dalam kebudayaan manusia. Tanpa itu kebudayaan tidak
mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang senantiasa berubah.
Perubahan yang terjadi saat ini berlangsung begitu cepat. Hanya dalam
jangka waktu satu generasi banyak negara-negara berkembang telah
berusaha melaksanakan perubahan kebudayaan, padahal di negara-negara
maju perubahan demikian berlangsung selama beberapa generasi. Pada
hakekatnya bangsa Indonesia, juga bangsa-bangsa lain, berkembang
karena adanya pengaruh-pengaruh luar. Kemajuan bisa dihasilkan oleh
interaksi dengan pihak luar, hal inilah yang terjadi dalam proses
globalisasi.
Oleh karena itu, globalisasi bukan hanya soal ekonomi namun juga
terkait dengan masalah atau isu makna budaya dimana nilai dan makna
yang terlekat di dalamnya masih tetap berarti.. Masyarakat Indonesia
merupakan masyarakat yang majemuk dalam berbagai hal, seperti
anekaragaman budaya, lingkungan alam, dan wilayah geografisnya.
Keanekaragaman masyarakat Indonesia ini dapat dicerminkan pula dalam
berbagai ekspresi keseniannya. Dengan perkataan lain, dapat dikatakan
pula bahwa berbagai kelompok masyarakat di Indonesia dapat
mengembangkan keseniannya yang sangat khas. Kesenian yang
dikembangkannya itu menjadi model-model pengetahuan dalam
masyarakat.
2. Penyebab Terjadinya Perubahan Budaya Indonesia
Seiring dengan kemajuan zaman serta teknologi yang canggih,
Indonesia bangkit menjadi negara berkembang yang semakin lama
semakin tumbuh menjadi negara maju dan ini merupakan salah satu
perkembangan zaman yang sangat cepat yang sering disebut dalam bahasa
sosiologi sebagai Revolusi. Hilangnya budaya indonesia secara bertahap di
akibatkan karena adanya perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat,
faktor yang terjadi dalam masyarakat maupun luar masyarakat itu sendiri.
Faktor-faktor yang berasal dari dalam masyarakat dapat berupa penemuan
baru, atau pertentangan dari masyarakat itu sendiri. Faktor yang berasal
dari luar masyarakat dapat berupa adanya pengaruh budaya dari
masyarakat lainnya.
3. Perubahan Budaya dalam Globalisasi (Kesenian yang Bertahan dan
Kesenian yang Tersisihkan)
Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional,
yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih
terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai dan
norma social merupakan salah satu dampak dari adanya globalisasi. Ilmu
pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar.
Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah menghilangkan
batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung
mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga
melibatkan manusia secara menyeluruh. Misalnya saja khusus dalam
bidang hiburan massa atau hiburan yang bersifat masal, makna globalisasi
itu sudah sedemikian terasa. Sekarang ini setiap hari kita bisa menyimak
tayangan film di tv yang bermuara dari negara-negara maju seperti
Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll melalui stasiun televisi di tanah air.
Belum lagi siaran tv internasional yang bisa ditangkap melalui parabola
yang kini makin banyak dimiliki masyarakat Indonesia. Sementara itu,
kesenian-kesenian populer lain yang tersaji melalui kaset, vcd, dan dvd
yang berasal dari manca negara pun makin marak kehadirannya di tengah-
tengah kita. Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa
negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang
kendali dalam globalisasi budaya khususnya di negara ke tiga. Peristiwa
transkultural seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap
keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian tradisional kita merupakan
bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga
kelestariannya.
Di saat yang lain dengan teknologi informasi yang semakin canggih
seperti saat ini, kita disuguhi oleh banyak alternatif tawaran hiburan dan
informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih menarik jika
dibandingkan dengan kesenian tradisional kita. Dengan parabola
masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang bersifat
mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi.
Contoh lainnya adalah kesenian Ludruk yang sampai pada tahun
1980-an masih berjaya di Jawa Timur sekarang ini tengah mengalami
“mati suri”. Wayang orang dan ludruk merupakan contoh kecil dari mulai
terdepaknya kesenian tradisional akibat globalisasi. Bisa jadi fenomena
demikian tidak hanya dialami oleh kesenian Jawa tradisional, melainkan
juga dalam berbagai ekspresi kesenian tradisional di berbagai tempat di
Indonesia.Sekalipun demikian bukan berarti semua kesenian tradisional
mati begitu saja dengan merebaknya globalisasi. Di sisi lain, ada beberapa
seni pertunjukan yang tetap eksis tetapi telah mengalami perubahan fungsi.
Ada pula kesenian yang mampu beradaptasi dan mentransformasikan diri
dengan teknologi komunikasi yang telah menyatu dengan kehidupan
masyarakat, misalnya saja kesenian tradisional “Ketoprak” yang
dipopulerkan ke layar kaca oleh kelompok Srimulat. Kenyataan di atas
menunjukkan kesenian ketoprak sesungguhnya memiliki penggemar
tersendiri, terutama ketoprak yang disajikan dalam bentuk siaran televisi,
bukan ketoprak panggung. Dari segi bentuk pementasan atau penyajian,
ketoprak termasuk kesenian tradisional yang telah terbukti mampu
beradaptasi dengan perubahan zaman.
4. Pengaruh Globalisasi terhadap Eksistensi Jati Diri dan Budaya Bangsa
Adanya unsur budaya asing yang tidak sosuai dengan kepribadian
bangsa indonesia sangat menghawatirkan karena dapat menyebabkan
terjadinya goncangan budaya. Namun, di sisi lain masuknya unsur budaya
asing ke indonesia juga sangat bermanfaat bagi kehidupan bangsa
indonesia.
Menurut Bierens de Haan, dalam masyarakat terdapat dua unsur
berlawanan, yaitu statika dan dinamika. Unsur statika merupakan unsur-
unsur dalam masyatakat yang cenderung memepertahankan suatu keadaan
untuk tetap (tidak berubah), seperti adanya vested interest atau golongan
orang yang menghendaki status quo. Sebaliknya, unsur dinamika
merupakan unsur yang menghendaki adanya perubahan, misalnya
perubahan linkungan alam, nilai-nilai sosial, dan perubahan struktur sosial.
Adanya unsur statika dan dinamika inilah sesinambungan masyarakat tetap
tejadi meskipun terjadi perubahan-perubahan di dalam masyarakat. Arus
globalisasi saat ini telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan
budaya bangsa Indonesia. Derasnya arus informasi dan telekomunikasi
ternyata menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap
memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan 3T
(Transportasi, Telekomunikasi, dan Teknologi) mengakibatkan
berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri .
Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan
berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas. Di Tapanuli
(Sumatera Utara) misalnya, duapuluh tahun yang lalu, anak-anak
remajanya masih banyak yang berminat untuk belajar tari tor-tor dan
tagading (alat musik batak). Hampir setiap minggu dan dalam acara ritual
kehidupan, remaja di sana selalu diundang pentas sebagai hiburan budaya
yang meriah. Hal lain yang merupakan pengaruh globalisasi adalah dalam
pemakaian bahasa indonesia yang baik dan benar (bahasa juga salah satu
budaya bangsa).
Sudah lazim di Indonesia untuk menyebut orang kedua tunggal
dengan Bapak, Ibu, Pak, Bu, Saudara, Anda dibandingkan dengan kau atau
kamu sebagai pertimbangan nilai rasa. Sekarang ada kecenderungan
dikalangan anak muda yang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia
dialek Jakarta seperti penyebutan kata gue (saya) dan lu (kamu). Selain itu
kita sering dengar anak muda mengunakan bahasa Indonesia dengan
dicampur-campur bahasa inggris seperti OK, No problem dan Yes’,
bahkan kata-kata makian (umpatan) sekalipun yang sering kita dengar di
film-film barat, sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kata-kata ini disebarkan melalui media TV dalam film-film, iklan
dan sinetron bersamaan dengan disebarkannya gaya hidup dan fashion.
Gaya berpakaian remaja Indonesia yang dulunya menjunjung tinggi norma
kesopanan telah berubah mengikuti perkembangan jaman. Ada
kecenderungan bagi remaja putri di kota-kota besar memakai pakaian
minim dan ketat yang memamerkan bagian tubuh tertentu. Budaya
perpakaian minim ini dianut dari film-film dan majalah-majalah luar
negeri yang ditransformasikan kedalam sinetron-sinetron Indonesia.
Derasnya arus informasi, yang juga ditandai dengan hadirnya
internet, turut serta menyumbang bagi perubahan cara berpakaian. Pakaian
mini dan ketat telah menjadi trend dilingkungan anak muda. Salah satu
keberhasilan penyebaran kebudayaan Barat ialah meluasnya anggapan
bahwa ilmu dan teknologi yang berkembang di Barat merupakan suatu
yang universal. Masuknya budaya barat (dalam kemasan ilmu dan
teknologi) diterima dengan `baik`. Pada sisi inilah globalisasi telah
merasuki berbagai sistem nilai sosial dan budaya Timur (termasuk
Indonesia) sehingga terbuka pula konflik nilai antara teknologi dan nilai-
nilai ketimuran.
Apa yang akan terjadi jika kita tidak mampu menghadapi tantangan
global? Apabila kita tidak mampu menghadapinya, kita akan terisolasi dari
bangsa lain. Keberadaan bangsa kita pun tidak diketahui di mata dunia
apalagi jika kita tidak mampu menstarakan diri dari bangsa lain.

D. Pembelajaran IPS dalam Era Globalisasi dan Keragaman Budaya


Pendidikan global adalah salah satu sarana agar siswa mengerti bahwa,
mereka adalah bagian dari masyarakat dunia, sekalipun demikian tidak berarti
tidak harus mengingkari dirinya sebagai warga dari sebuah bangsa. Demikian
juga sebaliknya, sebagai warga Negara yang baik seharusnya menjadi warga
dunia yang baik.
Sebagai contoh seorang warga dunia yang baik akan menaati peraturan-
peraturan yang berlaku di antaranya mengajarkan peserta didik agar
membuang sampah pada tempatnya sehingga tidak akan terjadi banjir
dikemudian hari. Kepatuhan terhadap peraturan membuang sampah [ada
tempatnya, secara tidak langsung sekaligus telah menjadi warga Negara dunia
yang baik karena telah ikut membersihkan lingkungan dan menjaga agar
terhindar dari banjir. Ditarik suatu gambaran dari contoh di atas, bahwa
menjadi warga Negara yang baik seharusnya menjadi warga dunia yang baik
pula.
Pendidikan global mencoba lebih banyak menerangkan persamaan dari
pada perbedaan perbedaan yang dimiliki oleh berbagai bangsa. Disamping
itu, berusaha memberikan penekanan untuk berpikir tentang negerinya
sendiri, terutama berhubungan dengan masalah-masalah dan isu-isu yang
mampu melintasi batas-batas Negara.
Indonesia memerlukan sumber daya manusia yang unggul sebagai
modal utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumber daya tersebut
pendididkan memiliki peran yang sangat penting. Pendidikan merupakan
suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Suatu usaha pendidikan
menyangkut tiga unsure pokok, yaitu input, proses, dan output. Input
pendidikan adalah peserta didik dengan berbagai cirri-ciri yang ada pada
peserta didik. Proses pendidikan terkait berbagai hal seperti pendidik,
kurikulum, gedung, buku, metode mengajar. Output atau hasil pendidikan
dapat berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan (Widiyarti &Suranto, t.t. ,
hal 1).
Pendidikan IPS adalah seleksi dan rekonstruksi dari disiplin ilmu
pendidikan dan disiplin ilmu-ilmu sosial, humaniora, yang diorganisir dan
disajikan secara psikologis dan ilmiah untuk tujuan pendidikan (Somantri,
2001, hal. 191).
Untuk menghadapi tantangan dan dinamika masyarakat dan globalisasi,
pembelajaran IPS harus mengandung tujuan yaitu :
1. Mampu menanamkan pengertian bahwa sekalipun mereka berbeda tetapi
sebagai manusia memiliki kesamaan-kesamaan.
2. Membantu para siswa untuk mengembangkan kemampuan pemahaman
bahwa bumi dihuni oleh manusia yang memiliki saling ketergantungan dan
lebih banyak memiliki kesamaan budaya daripada perbedaannya.
3. Membantu para siswa memahami kenyataan bahwa ada masalah-masalah
yang dihadapi bersama.
4. Membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap
masalah-masalah dunia dan keterampilan menganalisis informasi yang
diterimanya.
Di tengan iklim globalisasi, pendidikan IPS tetap diperlukan, baik
sebagai penopang identitas nasional maupun pemecahan masalah local,
regional, nasional, dan global. Masalah akan selalu ada, dalam mengatasi
segala kendala yang muncul di era globalisasi dibutuhkan keterlibatan semua
pihak. Masalah dalam pendidikan IPS, baik dari kurikulum, pengembangan
perguruan tinggi, kemampuan guru dalam pembelajaran, kebijakan
pemerintah, peran masyarakat itu sendiri harus bekerja sinergis, karena hasil
yang didapatkan akan dirasakan oleh seluruh lapisan. Dan keberhasilan yang
akan diperoleh, juga akan menjadi buah yang manis yang bisa dirasakan oleh
seluruh lapisan masyarakat.
Willard M. Kniep (1986) mengemukakan bahwa isi pendidikan global
dirumuskan dari realitas sejarah dan kondisi saat ini yang menggambarkan
dan menunjukkan dunia sebagai masyarakat global. Dari hasil analisisnya ini,
Kniep (1986, h.437) memperkenalkan empat unsur kajian yang dianggap
esensial dan mendasar bagi pendidikan global : (1) kajian tentang nilai
manusia (the study og human values); (2) kajian tentang sistem global (the
study og global systems); (3) kajian tentang masalah-masalah dan isu-isu
global (the study of global problems and issues); (4) kajian tentang sejarah
hubungan dan saling ketergantungan antar orang, budaya dan bangsa (the
study of the history of contacts and interdependence among peoples, cultures,
and nations).
Kniep (1986, h.422-444) mengemukakan empat kategori pemikiran isi
pendidikan global yang dapat menjadi masukan untuk kurikulum :
1. Isu-isu Perdamaian dan Keamanan
Menciptakan keamanan dan mempertahankan perdamaian telah menjadi
pemikiran bangsa-bangsa sepanjang sejarah karena sistem internasional
tidak mempunyai pusat otoritas untuk melaksanakan hukum dan
menyelesaikan konflik dengan suatu sistem kedaulatan bangsa-bangsa.
2. Isu-isu Pembangunan
Studi tentaang isu-isu pembangunan akan mengajak para siswa dalam
perjuangan rakyat dan bangsa untuk memperoleh kebutuhan dasar:
mencapai pertumbuhan ekonomi nasional, dan memperluas kebebasan
politik, ekonomi dan sosial mereka.
3. Isu-isu Lingkungan
Isu-isu lingkungan terutama berkaitan dengan akibat-akibat eksploitasi
sumber daya manusia dan pengelolaan kekayaan bumi. Pendidikan global
akan memberi kesempatan kepada para siswa untuk melihat perannya
dalam isu-isu dan masalah-maslah global demikian pula peran orang dan
sistem lainnya.

4. Isu-isu Hak Asasi Manusia


Pada dasarnya, masyarakat global seyogianya peduli terhadap konsep-
konsep hak asasi manusia universal di tengah adanya penyalahgunaan
terhadap hak asasi manusia. Sehingga memberikan pada para siswa untuk
mengerti tentang hak-hak manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
5. Keragaman Budaya
Keragaman budaya mengandung dua arti, yaitu keragaman artinya
ketidaksamaan, perbedaan dan budaya berarti dalam rangka kehidupan
bermasyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar.
Dengan demikian, keanekaragaman budaya dapat diartikan sebagai
suatu keadaan dimana suatu masyarakat memiliki lebih dari suatu perangkat
gagasan, dan hasil karya. (Koentjaraningrat, 1980:193).
Keanekaragaman budaya diantaranya mengambil wujud perbedaan
ras, dan etnik yang dimiliki sebuah masyarakat. keanekaragaman budaya bisa
diperkenalkan sejak usia Sekolah Dasar, di Indonesia sejak kelas 3, dimulai
dengan memperkenalkan perbedaan-perbedaan yang ada pada siswa di
kelasnya. Misalnya, perbedaan jenis kelamin, latar belakang pekerjaan
orangtua, dan kemampuan belajar. Pelajaran IPS akan menjadi menarik jika
para siswa didorong mengenali berbagai perbedaan diantara mereka, tetapi
tanpa melupakan kesamaan dan kebersamaan sebagai anggota kelas tersebut.
Menurut Skeel, pelajaran IPS pada dasarnya mengutamakan atau
memperbolehkan perbedaan dalam persamaan atau persamaan dalam
perbedaan.
Untuk menghadapi keragaman budaya di Indonesia, pembelajaran IPS
harus mengandung beberapa tujuan yaitu :
1. Mampu mentransformasikan bahwa “sekolah” akan memberikan
pengalaman dan kesempatan yang sama kepada semua siswa sekalipun
mereka memiliki perbedaan budaya, sosila, ras, dan kelompok etnik.
2. Membimbing para siswa utnuk mengembangkan sikap-sikap positif dalam
mendekati masalah perbedaan budaya, ras, etnik, dan kelompok agama.
3. Mendorong siswa untuk tidak jadi kelompok yang dirugikan dengan cara
memberikan ketrampilan dalam mengambil keputusan dan
mengembangkan sikap-sikap sosial.
4. Membimbing para siswa mengembangkan kemampuan memahami saling
keterhubungan dan ketergantungan budaya dan mampu melihatnya dari
pandangan yang berbeda-beda.
Dalam masyarakat yang memiliki keanekaragaman budaya timbul
berbagai masalah dan isu diantaranya adalah pembaruan, prasangka, dan
etnosentrisme (melahirkan superioritas dan inferioritas). Dua hal yang
terakhir sebenarnya lebih bersifat bagian yang tidak terpisahkan dari proses
pembaruan (asimilasi).
Menurut Koentjaraningrat pembaruan adalah proses sosial yang
timbul apabila ada hal-hal berikut :
1. Golongan-golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang
berbeda.
2. Saling bergaul secara intensif untuk waktu yang lama.
3. Kebudayaan-kebudayaan golongan tadi masing-masing berubah sifatnya
yang khas dan juga unsur-unsurnya berubah wujud menjadi unsur-unsur
kebudayaan campuran.
Faktor-faktor yang menghambat pembaruan, antara lain :
1. Kurang penggettahuan terhadap kebudayaan yang dihadapi.
2. Sifat takut terhadap ketakutan dari kebudayaan lain atau inferioritas.
3. Memandang terlalu tinggi terhadap kebudayaan sendiri dan memandang
rendah terhadap kebudayaan lain atau perasaan superiorasi.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan
peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di
seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya
populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu
negara menjadi semakin sempit.
Keanekaragaman budaya merupakan suatu keadaan dimana suatu
masyarakat memiliki lebih dari suatu perangkat gagasan, dan hasil karya.
Dengan keanekaragaman kebudayaan Indonesia bisa dikatakan memiliki
keunggulan dibandingkan dengan negara lainnya. Indonesia memiliki potret
kebudayaan yang lengkap dan bervariasi.
Pendidikan global adalah salah satu sarana agar siswa mengerti bahwa,
mereka adalah bagian dari masyarakat dunia, sekalipun demikian tidak berarti
tidak harus mengingkari dirinya sebagai warga dari sebuah bangsa. Demikian
juga sebaliknya, sebagai warga Negara yang baik seharusnya menjadi warga
dunia yang baik.

B. Saran
Bahwa di era Globalisasi ini sangat nyata dibutuhkan generasi yang
unggul dan mandiri dalam IPTEK. Oleh karena itu diperlukan sikap positif
dari kita dalam menerima perkembangan IPTEK untuk mengimbangi
kehidupan kita dalam era Globalisasi ini sehingga tercipta generasi yang tidak
tertinggal dalam era globalisasi ini. Sehingga pengaruh teknologi informasi
memang tidak mungkin kita tolak atau hindari, kita harus dapat
memanfaatkannya untuk kesejahteraan masyarakat tetapi disisi lain kita juga
harus berhati-hati dan bersikap bijak agar dampak negatif yang menyertainya
dapat kita hilangkan atau paling tidak kita minimalisir, mengenalkan teknologi
informasi sekaligus pemanfaatannya bagi kehidupan pribadi maupun
kehidupan sosial kemasyarakatan dan meningkatkan daya nalar dan daya
22

seleksi masyarakat terhadap berbagai informasi yang membanjir, sehingga


masyarakat semakin kritis dan dewasa dalam menyikapinya. -pada masa-masa
sekarang Indonesia perlu melakukan sosialisasi yang berkelanjutan dalam
membudayanya IPTEK.
Pengenalan IPTEK dapat di mulai dari tingkat Sekolah Menengah sampai
Perguruan Tinggi, juga pelaku industri dan masyarakat umum.Tujuannya
adalah menciptakan generasi yang unggul dan mandiri dalam IPTEK untuk
menghadapi era globalisasi. Sebab globalisasi proses yang tidak bisa dihindari
dan dicegah. Globalisasi dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
dimana proses yang mencakup keseluruhan dalam berbagai bidang kehidupan
sehingga tidak tampak lagi adanya batas-batas yang mengikat secara nyata.
Dalam keadaan global apa saja dapat masuk sehingga sulit untuk disaring atau
dikontrol.
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zaenal. 1984. Seri Himpunan Pelajaran Metodik Ilmu Pengetahuan


Sosial. Jakarta:Depdikbud Dirjen Dikdasmen
Susanto, Ahmad. 2014. Pengembangan Pembelajaran IPS SD. Ciputat : Pranada
Fakih Samlawi, Bunyamin Maftuh. 1998/1999. Konsep Dasar IPS. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi Bagian Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
(Primary School Teacher Developmen Project) IBRD: Loan 3496-IND.
Sardjiyo, dkk, 2013, Pendidikan IPS di SD. Universitas Terbuka. Jakarta

23