Anda di halaman 1dari 9

1.

Apa saja macam macam dosis dalam penggunaan rontgen


 Dosis lemah / Rendah : 0-50 rad
o 0-25 rad : tidak ada efek
o 25-50 rad : tidak ada efek / sedikit perubahan susunan darah
 Dosis Sedang : 50-200 rad
o 50-100 rad : badan leams, mual, perpendekan uur dan
perubahan susunan darah
o 100-200 rad : mual dan muntah 24 jam setelah radiasi, nafsu
makan turun,lemasm suara serak, diare, rambut rontok dan
epilepsi.
 Dosis Semi letal : 200-400 rad
Dapat menyebabakan mual dan muntah stelah 1-2 jam setelah
radiasi epilepsi, nafsu makan berkurang, panas dan lemas,
radang tenggorokan pada minggu ketia dan perdarahan hidung
pada minggu ke 4.
 Dosis letal 400-600 rad
1-2 jam mual dan muntah dan pada minggu ke 1 terjadi radang
mulut dan
tenggorokan.
2. Mekanisme terjadinya sinar X
2.1 Mekanisme Penyinaran Sinar-X
Sinar-X yang dipancarkan dari sistem pembangkit sinar-X
merupakan pancaran foton dari interaksi elektron dengan inti atom
di anoda. Pancaran foton tiap satuan luas disebut penyinaran atau
exposure. Foton yang dihasilkan dari sistem pembangkit sinar-X
dipancarkan ketika elektron menumbuk anoda. Beda tegangan
antara katoda dan anoda menetukan besar energi sinar-X, juga
mempengaruhi pancaran sinar-X. Dilihat dari spektrumnya sinar-X
dibedakan menjadi 2 yaitu sinar-X kontinyu dan sinar-X
karasteristik. Sinar-X merupakan gelombang elektromagnetik
dengan panjang gelombang yang pendek. Hal ini dipertegas dengan
penelitian Friedsish dan Knipýing pada tahun 1912, yang
mengemukakan bahwa panjang gelombang sinar-X sama dengan
sinar ultraviolet ( ? = 10-8cm) yaitu gelombang elektromagnetik
dengan panjang gelombang yang pendek (Van Der Plassts,
1972).Interaksi dengan materi terjadi bila sinar-X ditembakkan
pada suatu bahan. Sinar-X yang ditembakkan mempunyai energi
yang lebih tinggi sehingga mampu mengeksitasi elektron-elektron
dalam atom sasarannya.
2.2Pembentukan Sinar-X
Sinar-X ditemukan pertama kali oleh Wilhelm C. Rontgen pada
tahun 1895 dari universitas Worzburg jerman. Penemuan ini
berawal dari pemberian beda potensial antara katoda dan anoda
hingga beberapa kilovolt pada tabung sinar-X. Perbedaan potensial
yang besar ini mampu menimbulkan arus elektron sehingga
elektron-elektron yang dipancarkan akibat pemanasan filamen
akan dipercepat menuju target dalam sebuah tabung hampa udara.
Gambar 2.1 berikut ini adalah gambar skema tabung
Sinar-X (Hoxter,1982).

Prinsip kerja dari pembangkit sinar-X dapat dijelaskan sebagai


berikut, beda potensial yang diberikan antara katoda dan anoda
menggunakan sumber yang bertegangan tinggi. Produksi sinar-X
dihasilkan dalam suatu tabung berisi suatu perlengkapan yang
diperlukan untuk menghasilkan sinar-X yaitu bahan penghenti atau
sasaran dan ruang hampa.Elektron bebas terjadi karena emisi dari
filamen yang dipanaskan. dengan sistem fokus, elektron bebas
yang dipancarkan terpusat menuju anoda. Gerakan
elektron ini akan dipercepat dari katoda menuju anoda bila antara
katoda dan anoda diberi beda potensial yang cukup besar.Gerakan
elektron yang berkecepatan tinggi dihentikan oleh suatu bahan
yang ditempatkan pada anoda. Tumbukan antara elektron dengan
anoda ini menghasilkan sinar-X,pada tumbukan antara elektron
dengan sasaran akan ada energi yang hilang. Energi ini akan diserap
oleh sasaran dan berubah menjadi panas sehingga bahan
sasaranakan mudah memuai. Untuk menghindarinya bahan
sasaran dipilih yang berbentuk padat. Bahan yang biasa digunakan
sebagai anoda adalah platina, wolfram, atau tungsten.
Untuk menghasilkan energi sinar-X yang lebih besar, tegangan yang
diberikan ditingkatkan sehingga menghasilkan elektron dengan
kecepatan yang lebih tinggi. Dengan demikian energi kinetik yang
dapat diubah menjadi sinar-X juga lebih besar
Sumber :

Pada dasarnya pesawat Sinar-X terdiri dari tiga bagian utama, yaitu
tabung Sinar-X, sumber tegangan tinggi yang mencatu tegangan listrik
pada kedua elektrode dalam tabung Sinar-X, dan unit pengatur.Di
dalam tabung roentgen ada katoda dan anoda dimana pada tabung
tersebut dalam keadaan vakum fungsinya agar elektron yang bergerak
cepat dapat bergerak bebas dan tidak bertumbukan dengan elektron
lain. kemudian pada tabung rontgen diberi sumber listrik untuk
memanaskan katoda (filament) kira-kira lebih dari 20.0000C sampai
menyala dengan mengantarkan listrik dari transformator, Karena
panas maka electron-electron dari katoda (filament) terlepas, dengan
memberikan tegangan tinggi maka electron-elektron dipercepat
gerakannya menuju anoda (target), electron yang bergerak dengan
kecepatan tinggi (karena ada beda potensial 1000 Kvolt) yang
mengenai target anoda, electron akan mengalami perlambatan saat
mendekati target karena pengaruh gaya inti atom (target anoda)
sehingga menimbulkan Sinar-X yang mana dinamakan Sinar-X
Brehmsstrahlung, elektron-elektron mendadak dihentikan pada
anoda (target) sehingga terbentuk panas (99%) dan Sinar-X (1%), Sinar
X akan keluar dan diarahkan dari tabung melelui jendela yang disebut
diafragma, panas yang ditimbulkan pada target (sasaran) akibat
benturan elektron dihilangkan dengan radiator pendingin.
Sumber :

3. Apa saja bahaya dari radiasi rontgen


ada gigi terjadi dua efek radiasi yaitu :
 Efek radiasi langsung
Efek radiasi langsung terjadi paling dini dari benih gigi,berupa
gangguan kalsifikasi benihgigi,gangguan perkembangan benih gigi
dan gangguan erupsi gigi.
 Efek radiasi tak langsung
Efek radiasi tak langsung terjadi setelah pembentukan gigi dan
erupsi gigi normal beradadalam rongga mulut,kemudian terkena
radiasi ionisasi,maka akan terlihat kelainan gigi tersebutmisalnya
ada karies radiasi.Biasanya karies radiasi terjadi pada beberapa gigi
bahkan seluruhregio yang terkena pancaran sinar radiasi,keadaan
ini disebut rampan karies radiasi,yang terjadisetelah mengabsorbsi
dosis radiasi 5.000R
 Efek radiasi pada membrane mukosa mulut
Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring akan
mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut. Akibatnya dalam
keadaan akut akan terjadi efek samping berupa:
 Mukositis yang dirasa pasien nyeri saat menelan
 Mulut kering(xerostomia)
 Hilangnya cita rasa
 Efek radiasi pada glandula salivarius
Radiasi pada daerah leher dan kepala menyebabkan berkurangnya
volume
produksi saliva, pembengkakakan pada mukosa mulut

4. Bagaimana teknik pengambilan rontgen pada ibu hamil

5. Bagaimana interpretasi dan cara baca hasil foto rontgen


3 macam kontras , yaitu :
 Radiolucent ( warna hitam )
Ini terjadi jika sinar rogent tersebut hanya sedikit saja
diabsorpsi atau hanya menembus saja.Misalnya : rongga
mulut, sinus paranasalis
 Radiointermediate ( warna hitam dan putih atau abu- abu )
Terjadi bila sinar rogent menembus jaringan ikat, otot, saraf,
pembuluh darah, tulang rawan
 Radiopaque ( warna putih )
terjadi bila sinar rogent diabsorpsi sebagian besar misalnya
bila sinar melalui sinar melalui tulang- tulang, gigi- gigi atau
benda logam.

Dalam pembacaan hasil dari foto ronrgn sering dikenal


dengan yang namanya radiolucent dan radioopaque.
Penghitaman dan pemaparan daerah tertentu yang
dihasilakn dari film merupakan perubahan dari fisikokimiawi
akibat dari pemaparan sinar rontgen. Tetapi pada jaringan
atau daerah yang memiliki ketebalan yang tinggi sinar yang
diseappun akan sedikit sehingga pada film akan terbentuk
jaringan yang memiliki ketebalan yang tinggi memiliki
fluoresensi yang lebih baik sehingga akan berwarna putih
pada film hal ini disebut dengan radiopaque. Sedangkan pada
daerah atau jaringan yang memiliki ketebalang yang rendah
akan cendrung menyerap sinar yang dipaparkan dan
kemampuan fluoresensinya rendah sehingga jaringan yang
lebih tipis ini akan cendrung berwarna gelap atau sering
dikenal dengan istilah radioluscent.
Namun sebelum menentukan ada atau tidaknya kelainan dari
hasil foto rontgen, kita harus bisa menentukan depan atau
belakang dari film, kemudian gambar tersebut merupakan
elemen gigi apa saja, rahang atas atau bawah, terdapat pada
regio berapa kemudian baru kita analisis dimana tempat
terdapat kelainan dalam film hasil foto rontgen tersebut

6. Sinar radiasi yang berbahaya dan tidak berbahaya


a. Radiasi Pengion
Radiasi pengion adalah jenis radiasi yang dapat menyebabkan
proses ionisasi (terbentuknya ion positif dan ion negatif) apabila
berinteraksi dengan materi. Yang termasuk dalam jenis radiasi
pengion adalah partikel alpha, partikel beta, sinar gamma, sinar-
X dan neutron. Setiap jenis radiasi memiliki karakteristik khusus.
Yang termasuk radiasi pengion adalah partikel alfa (α), partikel
beta (β), sinar gamma (γ), sinar-X, partikel neutron.
b. Radiasi Non Pengion Radiasi non-pengion adalah jenis radiasi
yang tidak akan menyebabkan efek ionisasi apabila berinteraksi
dengan materi. Radiasi non-pengion tersebut berada di
sekeliling kehidupan kita. Yang termasuk dalam jenis radiasi
non-pengion antara lain adalah gelombang radio (yang
membawa informasi dan hiburan melalui radio dan televisi);
gelombang mikro (yang digunakan dalam microwave oven dan
transmisi seluler handphone); sinar inframerah (yang
memberikan energi dalam bentuk panas); cahaya tampak (yang
bisa kita lihat); sinar ultraviolet (yang dipancarkan matahari).

7. Apa yang terjadi pada tingkat seluler pada janin yang


menggunakan radiograf?
Efek genetik yaitu efek biologi dari radiasi ionisasi pada generasi
yang belum lahir. Efek ini timbul karena kerusakan molekul DNA
pada sperma atau ovarium, karena radiasi. Bila mutasi genetik ini
terjadi, informasi genetik yang salah diteruskan ke generasi
mendatang. Informasi genetik yang salah ini dapat termanifestasi
berupa berbagai penyakit atau malformasi
Efek radiasi pada fetus mempunyai mekanisme yang secara umum
sama dengan efek pada orang dewasa, kematian sel akan
menimbulkan efek deterministik. Sedangkan kerusakan pada DNA
yang tidak dapat diperbaiki atau mengalami perbaikan yang salah
akan menimbulkan efek stokastik. Pada efek derterministik, seperti
retardasi mental, terdapat dosis ambang, dan semakin besar dosis
semakin parah efek yang terjadi. Efek deterministik akibat pajanan
radiasi selama kehamilan antara lain kematian, abnormalitas
system syaraf pusat, katarak, retardasi pertumbuhan, malformasi,
dan bahkan kelainan tingkah laku. Karena system syaraf fetus
adalah paling sensitif dan mempunyai periode perkembangan yang
paling panjang, abnormalitas yang terjadi akibat radiasi jarang
terjadi pada manusia tanpa disertai neuropathology. Sedangkan
pada efek stokastik seperti induksi leukemia, tidak terdapat dosis
semakin besar kemungkinan timbulnya efek ini. Keparahan efek
stokastik tidak bergantung pada dosis radiasi yang diterima.
Pajanan radiasi pengion dapat menyebabkan efek sangat parah
pada embrio dan janin. Efek radiasi pada janin dalam kandungan
sangat bergantung pada umur kehamilan pada saat terpapar
radiasi, dosis dan juga laju dosis yang diterima. Perkembangan janin
dalam kandungan dapat dibagi atas 3 tahap. Tahap pertama
yaitu preimplantasi dan implamintasi yang dimulai sejak proses
pembuahan sampai menempelnya zigot pada dinding rahim yang
terjadi sampai umur kehamilan 2 minggu. Tahap kedua adalah
organogenesis pada masa kehamilan 2-7 minggu. Tahap ketiga
adalah tahap fetus pada usia kehamilan 8-40 minggu. Dosis ambang
yang dapat menimbulkan efek pada janin adalah 0,05 Gy. Efek
teratogenik radiasi pengion sebagai fungsi usia kehamilan. Irradiasi
selama organogenesis adalah periode yang menjadi perhatian.
IUGR malformasi bawaan, mokrocepali, dan retardasi mental
adalah efek yang dominan akibat pajanan radiasi dengan dosis >0,5
Gy. Dosis ambang retardasi pertumbuhan adalah dibawah 1 Gy
(masih jauh diatas kisaran diagnostik) dan bergantung pada tahap
kehamilan dan laju dosis.
Kerusakan akibat radiasi pada system saraf pusat manusia pertama
kali terjadi pada akhir organogenesis, sekitar minggu ke 3 setelah
pembuahan, malformasi dapat terjadi khususnya pada organ yang
sedang mengalami perkembangan pada saat terpapar radiasi. Efek
ini mempunyai dosis ambang 100-200 mGy atau prosedur radiologi
diagnostik atau kedokteran nuklir diagnostik, tetapi terdapat
kemungkinan dari terapi radiasi dan pajanan radiasi dosis tinggi
baik akibat kerja atau kecelakaan. Efek yang mungkin timbul pada
tahap organogenesis berupa malformasi tubuh dan kematian
neonatal.