Anda di halaman 1dari 24

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...................................................................................................................... 1
I. PENDAHULUAN ......................................................................................................... 3
A. Latar Belakang ...................................................................................................... 3
B. Tujuan Penyusunan Renstra................................................................................ 3
C. Sistematika Penyusunan Renstra ........................................................................ 4
II POTENSI DAN PERMASALAHAN ......................................................................... 5
A. Potensi .................................................................................................................... 5
1. Lingkungan Strategis Eksternal .......................................................................... 5
2. Lingkungan Strategis Internal ............................................................................. 6
3. Revitalisasi pertanian dan revolusi peternakan ................................................... 6
4. Posisi politik ekonomi peternakan ...................................................................... 7
B. Permasalahan ........................................................................................................ 7
1. Agribisnis Perunggasan....................................................................................... 7
2. Agribisnis Persusuan ........................................................................................... 7
3. Agribisnis Sapi Potong ....................................................................................... 8
4. Dampak impor ternak dan Daging Sapi .............................................................. 8
III. VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN ................................................................. 10
A. Visi ........................................................................................................................ 10
B. Misi ....................................................................................................................... 11
C. Tujuan .................................................................................................................. 12
1. Tujuan Umum ................................................................................................... 12
2. Tujuan Khusus .................................................................................................. 12
D. Sasaran ................................................................................................................. 12
VI. ARAH, KEBIJAKAN DAN STRATEGI ............................................................... 14
A. Arah Pembangunan Peternakan ....................................................................... 14
1. Paradigma Pembangunan Peternakan ............................................................... 14
2. Pembangunan Pedesaan sebagai Entry Point Revitalisasi Peternakan.............. 15
3. Penguatan kelembagaan (Institusi) dalam pembangunan peternakan ............... 16
4. Analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats (SWOT) ............ 16
B. Kebijakan............................................................................................................. 18
C. Strategi ................................................................................................................. 19

1
V. PROGRAM DAN KEGIATAN ................................................................................ 21
A. Program .................................................................................................................. 21
B. Kegiatan ................................................................................................................ 21
VI. PENUTUP ..................................................................................................................... 24

2
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pertanian dan Peternakan Merupakan komponen utama pendapatan
daerah pedesaaan dan daerah tertinggal (FAO, 1999). Peran Ternak sangat
Substansian dalam memberikan kontribusi kepada pendapatan rumah tangga,
dan saat ini memberikan penghidupan sekitar 700 juta penduduk miskin di
Negara berkembang. Ternak sangat menentukan perekonomian di banyak
negar berkambang (LID, 1999; World Bank, 2001;ATSE, 2003).

Renstra disusun untuk menjamin konsistensi program pembangunan


peternakan sekaligus menjaga fokus sasaran yang dicapai dalam satuan waktu
tertentu. Juga menetapkan sasaran yang di capai dengan indikator keberhasilan
yang dapat diukur dan divertifikasi.

B. Tujuan Penyusunan Renstra


Sebagai Respon terhadap dinamika lingkungan strategis baik global
maupun domestic, serta memperhatikan perencanaan sbg alat manajerial untuk
memelihara keberlanjutan dan perbaikan kinerja lembaga, maka Rencana
Strategis Direktorat Jenderal Peternakan disusun dengan tujuan sbb:
a) Untuk merencanakan berbagai kebijakan dan strategi percepatan
pembangunan peternakan kearah yang lebih baik dalam kondisi
perubahan lingkungan yang cepat, transparan dan semakin
kompleks.
b) Sebagai dokumen yang menjadi dasar atau acuan, khususnya bagi
Ditjennak dan berbagai komponen yang menjalankan fungsi
pembangunan peternakan, dalam melaksanakan tugas pokok dan
fungsinya.
c) Untuk memberikan komitmen pada aktifitas dan kegiatan di masa
mendatang.
d) Sebagai dasar untuk mengukur Capaian kinerja dan melakukan
penyesuaian terhadap perubahan yang mungkin terjadi.

3
e) Sebagai pedoman umum dalam melakukan pelayanan kepada
masyarakat.
f) Untuk memfasilitasi komunikasi, baik vertical maupun horizontal,
antar dan iintas sector serta dengan masyarakat peternakan, dan
pelaku agribisnis berbesis peternakan.

C. Sistematika Penyusunan Renstra


Pedoman yang komprehensif, Rencana Strategis Ditjennak disusun ke
dalam enam BAB sebagai berikut:

BAB I. Pendahuluan

BAB II. Potensi dan Permasalahan

BAB III. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran

BAB IV. Arah, Kebijakan dan Strategi

BAB V. Program dan kegiatan

BAB VI. Penutup

Lampiran-Lampiran

4
II POTENSI DAN PERMASALAHAN
A. Potensi
1. Lingkungan Strategis Eksternal
a) Perdagangan
Globalisasi ditandai dengan meningkatnya
persaingan bebas, karena itu mengharuskan setiap
komponen bangsa harus meningkatkan daya saing. Oleh
karena itu, pada tahun 1988 di cetuskan kesepakatan dunia
dikenal sebagai General Agreement on Tariff and Trade
(GAAT). Antara lain memuat Agreement on Agriculture,
termasuk di dalamnya memuat perjanjian Sanitary and
Phytosanitary (SPS) dan Technical Barrier to Trade (TBT),
kemudian Indonesia mengimplementasikan melalui undang-
undang no.7 tahun 1944.
b) Perhatian Terhadap kelestarian Lingkungan
Perhatian internasional yang harus diprhatikan dan
diatasi melalui langkah- langkah antara lain:

1. Mengintergrasikan prinsip- prinsip pembangunan


berkelanjutan ke dalam kebajikan dan program
pemerintah dalam upaya mencegah degradasi
kualitas lingkungan.

2. Meningkatkan akses masyarakat terhadap air


bersih dan sanitasi secara berkelanjutan.
3. Memperbaiki taraf hidup penduduk miskin.
Ketiga masalah yang menjadi perhatian internasional
tersebut berimplikasi kepada program dan kegiatan
Ditjennak untuk mendukung pembangunan peternakan
secara terintergrasi.

5
2. Lingkungan Strategis Internal

Dalam perkembangan reformasi di segala bidang,maka


diberlakukan Undang – undang nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan di Daerah.dan Undang – undang Nomor 33 Tahun 2004
Tentang Pembagian Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

Termasuk juga dalam sub sector peternakan dan kesehatan hewan


ke depan adalah keberadaan kelembagaan peternakan dan kesehatan
hewan dengan otoritas veteriner nasional yang mampu menembus
otonomi daerah serta mampu membangkitkan kebersamaan dan
partisipasi masyarakat.

3. Revitalisasi pertanian dan revolusi peternakan


Yaitu perubahan dan tantangan strategis yang menuntut adanya
revitalisasi peternakan,yang dilaksanakan melalui restrukturisasi
peternakan dan kesehatan hewan nasional,
Revolusi peternakan dicirikan oleh akselarasi pertumbuhan produksi
peternakan yang akan menjadi sumber utama pertumbuhan baru sector
pertanian menggantikan tanaman pangan yang tumbuh pesat pada
dekade tahun 1970-an sampai dengan 1980-an yang ditopang oleh
Teknologi Revolusi Hijau.
Revitalisasi peternakan dan kesehatan hewan merupakan bagian
yang tidak terpisahkan revitalisasi pertanian yang mengamanatkan
pentingnya arti pertanian untuk diletakan kembali pada proporsi yang
sebenarnya. Untuk mendukung proyeksi pertumbuhan peternakan
tersebut salah satu aspek adalah tuntutan kelembagaan peternakan dan
kesehatan hewan yang kuat untuk mencapai tujuan yang luas dengan
program komprehensif (Menyeluruh) yang mencakup aspek
pembibitan, budidaya ternak ruminansia,budidaya ternak non
ruminansia,kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner.

6
4. Posisi politik ekonomi peternakan
Pada masa awal kemerdekaan, pembangunan peternakan dipenuhi
semangat nasionalisme dan keinginan mencakupi seluruh rakyat akan
bahan makanan pokok daging yang berasal dari dalam negeri.
Pada era orde baru “politik swasembada” menjadi bendera utama
pengelolaan pembangunan pertanian dengan mengembangkan dan
menerapkan program yang sebenarnya sudah dicanangkan
sebelumnya,yaitu intensifikasi dengan penerapan teknologi,
ekstensifikasi,rehabilitasi,dan berbagai program lain.

B. Permasalahan
1. Agribisnis Perunggasan

Permasalahan yang memerlukan Perhatian serius oleh para


peternakan unggas yaitu:

1. Kurang tersedianya bahan pakan yang berasal dari sumberdaya


domestic, sehingga Indonesia masih harus mengimpor, dan.
2. Wabah penyakit khususnya Avian Influenza (AI). Dua
permasalahan tersebut sangat besar pengaruhnya teradap
perkembangan agribisnis perunggasan.
Biaya pakan merupakan aspek terbesar dalam komposisi biaya
produksi industry berkisaran antara 60-70%.
Ada 3 jenis penyakit yang menyerang komoditas unggas yaitu
infectious Bronchitis (IB), infectious Bursal Disease (IBD), Collibacillosis
pada ayam pedaging, dan penyakit yang disebabkan virus infectious
Laryngo Trachealis (ILT) Pada ayam petelur. Selain masalah tersebut juga
masalah permodalan.
2. Agribisnis Persusuan
Kondisi geografis, ekologi, dan kesuburan lahan di Indonesia
memiliki karakteristik yang cocok untuk pengembangan agribisnis

7
persusuan. Dilihat dari sisi konsumsi susu, konsumsi Indonesia terhadap
produk susu masih tergolong sangat rendah bila dibandingkan dengan
Negara berkembang lainnya. Konsumsi susu per kapita masyarakat
Indonesia tahun 2007 sekitar 3,1 kg/kapita./tahun.
Untuk mendorong revitalisasi persusuan nasional diperlukan
kebijakan pemerintah yang pro peternakan, penciptaan pasar yang
kondusif sehingga mampu merangsang peningkatan susu segar dalam
negeri.

3. Agribisnis Sapi Potong

Permasalahan utama secara umum adalah lambatnya peningkatan


populasi yang berkaitan dengan belum optimalnya tingkat produktivitas
serta adanya penyembelihan betina produktif. Untuk memacu populasi,
perlu memperhatikan strategi peningkatan populasi ternak sekalipun teknk
yang digunakan masih relative sama seperti penggunaan inseminasi buatan
(IB), pemberantasan penyakit dan gangguan reproduksi dan pencegahan
penyembelihan ternak betina produktif.

Pakan merupakan aspek penting dalam usaha peternakan. Kualitas


produk peternakan sangat tergantung pada keberadaan pakan. Untuk
ternak ruminansia kualitas pakan sering terabaikan. Peternak lebih suka
menggembalakan dipadang yang kualitasnya rendah. Pengembangan
agribisnis sapi potong membutuhkan perwilayahan untuk produksi sapi
bakalan, sapi bibit dan penggemukan. Permasalahan lain adalah tidak
adanya insentif (dukungan) pembiayaan yang dapat merangsang
tumbuhnya peternak pembibitan dan penggemukan yang berorientasi
komersial.

4. Dampak impor ternak dan Daging Sapi


Dalam menentukan kebijakan impor, harus melihat pertimbangandan
dampak lain yang dimungkinkan dapat terjadi pada perkembangan
agribisnis peternakan saat ini. Impor hasil peternakan khususnya produk

8
pedaging ke Indonesia telah menimbulkan silang pendapat yang
diutarakan beberapa kalangan antara lain sebagai berikut:
Pertama, Di beberapa Negara pengekspor daging telah berkembang
berbagai penyakit misalnya penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan sapi
gila. Indonesia telah dinyatakan bebas beberapa penyakit hewan menular
utamanya dalam daftar penyakit “A” Organisasi kesehatan hewan dunia.
Dinyatakan bebas PKM sejak 1985 setelah berupaya lebih dari 100 tahun.
Kedua, Kecenderungan peningkatan impor daging dan sapi bakalan
maupun sapi potong tidak hanya semata-mata karena kesenjangan
permintaan dan penawara. Tetapi disebabkan adanya kemudahan dalam
pengadaan produk impor (Volume, kredit, transportasi) serta harga produk
yang murah.
Ketiga, Apabila Impor daging ke Indonesia menghancurkan
peternakan nasional, maka dalam jangka panjang yang terjadi adalah
timbulnya pengangguran, dan tingkat kemiskinan baru, serta berkurangnya
penerimaan pemerintah dari pajak yang seyogyanya dapat dibayarkan oleh
usaha dan industry peternakan. Hal tersebut harus dihindari karena
pengangguran dan kemiskinan yang masih menjadi penghambat utama
dalam membangun bangsa yang tangguh dan berdaya saing, serta
kehilangan potensi penerimaan pajak lebih memberatkan pelaksanaan
program-program pembangunan peternakan.

9
III. VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

A. Visi
Visi merupakan suatu gambaran tentang keadaan masa depan yang
berisikan cita-cita dan citra yang ingin diwujudkan. Visi adalah suatu harapan
sekaligus tujuan yang ketercapaianya memerlukan waktu yang panjang, karena
visi tersebut akan selalu berkembang sesuai dengan kondisi lingkungan
Strategis pembangunan pertanian dan arah pembangunan nasional. Visi
Direktorat Jenderal Peternakan 2010 – 2014 dirumuskan sebagai berikut :

Menjadi direktorat jenderal yang professional dalam


mewujudkan peternakan yang berdaya saing dan
berkelanjutan dengan mengoptimalkan pemanfaatan
sumberdaya lokal untuk mewujudkan penyediaan
dan keamanan pangan hewani serta meningkatkan
kesejahteraan peternak.

Visi tersebut mengandung 6 (Enam) kata kunci yang merupakan


pernyataan keinginan atau mencerminkan mimpi Direktorat Jenderal
Peternakan. Keenam Kata kunci tersebut yakni : 1. Profesional, 2. Berdaya
saing, 3. Berkelanjutan, 4. Sumber Daya Lokal, 5. Penyediaan dan keamanan
pangan hewani, dan 6. Kesejahteraan peternak.

Profesional. Berarti mampu mengerjakan pekerjaan sesuai dengan tugas


pokok dan fungsi yang diemban dengan penuh tanggungjawab berdasarkan
pada target sasaran yang telah ditetapkan.

Peternak yang berdaya saing. Berarti peternakan yang mampu


menghasilkan luaran berkualitas yang memiliki keunggulan kompetitif dan
komparatif.

10
Peternakan yang berkelanjutan. Mengandung arti bahwa peternakan
mampu eksis dan dinamis dalam menghadapi eperubahan lingkungan Strategis
dengan menggunakan sumberdaya terbarukan.

Sumber daya Lokal. Diartikan sumber daya yang berasal dari berbagai
daerah Yng meliputi sumber daya genetic ( bibit, pakan, master seed/biang
vaksin), teknologi peternakan yang sesuai dengan kondisi agroekosistem serta
sosial ekonomi di Indonesia.

Penyediaan dan keamanan pangan hewani. Mencangkup 1. Kecukupan


ketersediaan pangan hewani, 2. Stabilitas ketersediaan pangan hewani, 3.
Keamanan pangan yaitu produk berkualitas yang Aman, Sehat Utuh dan Halal
(ASUH).

Kesejahteraan peternak. Diartikan sebagai kemampuan peternak dalam


memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

B. Misi

Untuk mewujudkan Visi Direktorat Jenderal Peternakan perlu ditetapkan


misi yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu. Rumusan misi
Direktorat Jenderal Peternakan Adalah sebagai berikut:

a.) Merumuskan dan menyelenggarakan kebijakan bidang peternakan


yang berdaya saing dan berkelanjutan dengan memanfaatkan
sumberdaya lokal.
b.) Menyelenggarakan dan menggerakan pengembangan: perbibitan,
pakan, budidaya ternak ruminansia, kesehatan hewan dan kesehatan
masyarakat veteriner dalam mencapai penyediaan dan keamanan
pangan hewani untuk meningkatkan kesejahteraan peternak.
c.) Meningkatkan profesionalisme dan integritas penyelenggaraan
administrasi publik.

11
C. Tujuan

Tujuan adalah sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan dalam periode
tertentu. Sinergi dengan Visi misi yang telah di tetapkan, maka dirumuskan
tujuan Direktorat Jenderal Peternakan dalam periode tahun 2010- 2014 yang
mencangkup tujuan khusus.

1. Tujuan Umum

Meningkatkan penyediaan pangan hewani yang aman dan


kesejahteraan peternak melalui kebijakan dan program
pembangunan peternakan yang berdaya saing dan berkelanjutan
dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal.

2. Tujuan Khusus
Tujuan Khusus Direktorat Jenderal Peternakan adalah
sebagai Berikut :
a) Meningkatkan Jaminan ketersediaan benih dan bibit
ternak yang berkualitas.
b) Meningkatkan populasi dan produktivitas ternak
ruminansia
c) Meningkatkan populasi dan produktivitas Non
ruminansia
d) Meningkatkan populasi dan mempertahankan status
kesehatan hewan
e) Meningkatkan jaminan keamanan produk hewan
f) Meningkatkan pelayanan prima kepada masyarakat
D. Sasaran
Sasaran Adalah hasil yang akan di capai secara nyata dalam rumusan
yang lebih spesifik dan terukur. Indikator pencapaian sasaran dalam kurun
waktu 2010 – 2014 diuraikan pada bagian program dan kegiatan. Sasaran
Utama Direktorat Jenderal Peternakan adalah meningkatkan ketersediaan

12
produk daging, telur, dan susu serta meningkatnya kontribusi produk ternak
dalam negeri yang mencakup :
a) Meningkatnya ketersediaan benih dan bibit ternak yang
berkualitas dengan memanfaatkan sumber daya lokal
b) Meningkatnya populasi dan produktivitas ternak
ruminansia dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
c) Meningkatnya populasi dan produktivitas ternak non
ruminansia dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
d) Meningkatnya derajat kesehatan ternak dan wilayah
bebas penyakit
e) Menurunnya derajat kontaminan dan residu prodak
hewan
f) Meningkatnya kualitas pelayanan kepada masyarakat.

13
VI. ARAH, KEBIJAKAN DAN STRATEGI

A. Arah Pembangunan Peternakan

1. Paradigma Pembangunan Peternakan

Potensi yang sagat besar di Indonesia seharusnya dapat menjadi tulang


punggung perekonomian untuk mensejahterahkan bangsa. Hal tersebut dapat
menjadi kenyataan apabila peternakan dijadikan platform pembangunan
nasional dengan demikian revitalisasi peternakan menjadi sangat penting. Ada
beberapa keyword untuk mencapai keberhasilan pembangunan peternakan,
yaitu: keberpihakan, koordinasi, sumberdaya manusia dan investasi.

Keberpihakan revitalisasi peternakan memerlukan keberpihakan dari


seluruh komponen bangsa, terutama politisi, dan pengambilan kebijakan agar
menempatkan peternakan yang kaya potensi dan melibatkan mayoritas mata
pencaharian masyarakat perlu mendapat dukungan konkrit. Berupa penyediaan
infrastruktur, kebijakan monoter dan permodalan, asuransi, serta jaminan
pemasaran yang adil.

Koordinasi tidak berjalan dengan baik sehingga program yang telah di


canangkan tidak pernah dapat di selesaikan dengan tuntas dan berhasil. Hal
tersebut masih di tambah dengan euforia demokrasi dan reformasi, termasuk
menonjolnya kepentingan kelompok yang tidak jarang mendistorsi
kepentingan yang lebih besar.

Sumberdaya manusia . kondisi kualitas sumberdaya yang masih rendah


( sekitar 79,5% ) SDM yang bekerja pada sektor pertanian lulusan atau tidak
tamat sekolah.

Investasi peningkatan iklim investasi terutama jaminan keamanan,


stabilitas politik dan kepastian hukum sangat dibutuhkan untuk revitalisasi
peternakan, untuk mendorong pebisnis menanamkan modalnya di sektor
agribisnis. Revitasisasa peternakan akan berjalan cepat sesuai harapan apabila

14
key parties yaitu Academician, Bussinesman , and Government (ABG) dapat
bersinergi dalam visi yang sama.

2. Pembangunan Pedesaan sebagai Entry Point Revitalisasi Peternakan

Indonesia sebagai Negara agraris sudah sewajarnya apabila


menempatkan subsector peternakan sebagai salah satu prioritas pembangunan
nasional. Kontribusi signifikan di tunjukan dari :1. Produksi pangan dan bahan
mentah bagi proses produksi di sector hilir, 2. Pasar utama bagi sector di luar
peternakan baik barang maupun jasa, 3. Penyerapan tenaga kerja, kaptal dan
meningkatkan kesejahteraan peternak, dan 4. Neraca perdagangan , serta 5.
Keseimbangan lingkungan.

Fenomena menurunyya kontribusi sector pertanian ( termasuk


subsector peternakan) yang terlihat dari share nya terhadap DGP, yang
kemudian digantikan oleh sector lainya seperti manufaktur untuk menompang
pertumbuhan ekonomi Negara merupakan kejadian yang umum juga dijumpai
pada Negara-negara maju.

Sebagian besar actor pembangunan peternakan Indonesia yang


bergerak pada domain on-farm adalah masyarakat yang berada di pedesaan.
Indicator yang penting dalam rangka revitalisasi peternakan yang terkait erat
dengan kebijakan pembangunan pedesaan mencangkup : infrastruktur,
reformasi agrarian, lembaga keuangan, lembaga penelitian, dan penyuluh
peternakan.

Keberadaan infrastruktur yang baik mendorong berkembangnya modal-


modal produksi serta proses distribusi dari input yang digunakan dalam proses
produksi peternakan serta output yang dihasilkan . secara prinsip hal tersebut
akan mengurangi biaya transaksi yang terjadi untuk memperoleh akses barang
dan jasa serta informasi yang diperlukan.

15
3. Penguatan kelembagaan (Institusi) dalam pembangunan peternakan

Kelembagaan adalah seperangkat aturan formal (hokum, system


politik, organisasi, pasar, dll) dan informal (norma, tradisi, system nilai ) yang
mengatur hubungan antara individu dan kelompok masyarakat.

Peran institusi bagi revitalisasi peternakan dapat dilihat pada dua aras
yaitu : (1) aras makro yang memfokuskan pada dominan aturan main (rules of
the games). (2) aras mikro yang lebih memfokuskan pada institusional
arrangement sebagai upaya mengatur antar unit sosial ekonomi mengenai cara-
cara bekerjasama dan berkompetisi diantara anggotanya dalam mencapai
tujuan.

Salah satu factor yang harus dipertimbangkan dan menjadi kebutuhan


terjadinya perubahan revitalisasi sector peternakan adalah meningkatnya
kompetisi global para pelaku., perubahan economies of size dan lingkup
produksi serta pola distribusi , strategi pemasaran, kekuatan pasar dan
kemampuan membaca strategi bisnis.

Di perlukan institusional arrangement yang baik dan social


cohesiveness yang kuat untuk menjadikan revitalisasi pembangunan
peternakan sebagai suatu paradigm yang benar-benar dapat dioprasionalkan
untuk meningkatkan kinerja peternakan umumnya dan kesejahteraan peternak
khususnya.

4. Analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats (SWOT)


Analisis SWOT digunakan untuk mengetahui kekuatan, kelemahan,
peluang dan ancaman yang dihadapi oleh Ditjennak. Tindakan lanjut dari
analisis SWOT adalah rumusan- rumusan strategi yang feasible dan sesuai
dengan kondisi factual yang dihadapi. Berdasarkan serangkaian focus grup
discussion yang sudah dilakukan , dapat dirumuskan beberapa hal sebagai
berikut :

16
a) Strengths ( Kekuatan – kekuatan )

Kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh Ditjennak dalam membangun


peternakan di Indonesia antara lain : Tersedianya SDM, kelembagaan yang
mendukung, teknologi di bidang peternakan yang memadai, sarana dan
prasarana serta tersedianya regulasi di bidang peternakanyang sudah cukup
lengkap.

b) Weaknesses ( Kelemahan-kelemahan)

Berbagai kelemahan yang teridentifikasi dari hasil Focussed Group


Discussion (FGD) cukup banyak kelemahan yang ada antaralain dipicu oleh
belum optimalnya fungsi kelembagaan. rendahnya dukungan institusi dalam
mendukung pembangunan peternakan: lemahnya koordinasi lintas sector ,
pusat-pusat , dan pihak terkait; serta rendahnya penerapan standar mutu bibit,
persilangan ternak asli, lokal dan eksotik, juga merupakan beberapa kelemahan
yang menuntut penanganan untuk diperbaiki. Kelemahan yang lain kurangnya
pendayagunaan sumberdaya genetic. (ternak asli dan lokal serta benih rumput)
kurang gayutnya penelitian peternakan dengan kebutuhan peternak; belum
terpetaknya potensi baru sumber pakan ruminansia, kurangnya disseminasi dan
pemanfaatan teknologi peternakan, rendahnya penerapan good farming
practices ; kurangnya pengawasan (bibit, pakan, obat hewan, dan produk
peternakan ) ; lemahnya penerapan zonasi dan kompartementalisasi penyakit
hewan sesuai dengan pengaturan tata ruang perwilayahan ternak, kurangnya
informasi tentang bahaya pencemaran produk hewan dan zoonis; serta
lemahnya akses peternak terhadap sumber permodalan.

c) Opportunities ( Peluang-Peluang)

Opportunity merupakan kondisi positif yang harus dimanfaatkan.


beberapa peluang yang teridentifikasi yakni meningkatnya permintaan produk,
peternakan domestic dan ekspor, adanya potensi sumber daya bahan pakan dan
pakan lokal; adanya potensi sumberdaya genetic ternak lokal ; berkembangnya
integrasi sector lain dengan peternakan; berkembangnya integritas sector lain

17
dengan peternakan ; berkembangnya pertanian organic dan biofuel; adanya
minat investasi di bidang peterakan; adanya bantuan luar negeri ; adanya
pembiayaan melalui Corporate Social Responsibility (CSR) dan pemda ;
meningkatnya tuntutan One World One Health (OWOH) untuk kesehatan
manusia , hewan dan lingkungan ; serta adanya pengaturan perwilayahan
peternakan.

d) Threats (Ancaman)

Adalah Kondisi eksternal yang bersifat kurang menguntungkan dan


mengancam keberhasilan kinerja Ditjennak antara lain adanya perdagangan
produk peternakan illegal. Selain itu, adanya perdagangan bebas barang dan
jasa peternakan yang tidak adil ( free and fair trade of goods and services)
menurunya (reduksi) fungsi kelembagaan peternakan di daerah; dan tingginya
konversi serta kompetisi lahan juga merupakan ancaman serius terhadap
lingkungan, adanya isu peternakan sebagai sumber emisi gas rumah kaca
mrupakan ancaman yang harus dicermati.

5. Investasi, Pembiayaan dan Kesempatan Kerja Pembangunan Peternakan

Investasi (I) adalah penanaman modal pada berbagai kegiatan ekonomi


(Subsektor Peternakan) atas keterlibatanyya dalam proses produksi dengan
harapan akan memperoleh manfaat (benefit) pada masa- masa yang akan
datang. Investasi tersebut diperlukan sebagai sumber pembiayaan proses
produksi peternakan dan pendorong laju pertumbuhan sub sector peternakan (
growth) serta menjaga keberlanjutan proses produksi peternakan.

B. Kebijakan
Kebijakan yang berkaitan dengan pembangunan peternakan tidak
sepenuhnya berada dalam kewenangan Ditjennak, melainkan sebagiam
kebijakan strategis tersebut berada dalam wewenang di luar Ditjennak.
Beberapa kebijakan Ditjennak untuk mencapai tujuan dalam periode 2010-
2014 adalah sebagai berikut:
a) Kebijakan peningkatan ketersediaan dan mutu benih dan bibit

18
b) Kebijakan, peningkatan , populasi dan optimalisasi produksi ternak
ruminansia
c) Kebijakan, peningkatan , populasi dan optimalisasi produksi ternak non
ruminansia
d) Kebijakan, peningkatan dan pemertahanan status kesehatan hewan.
e) Kebijakan peningkatan jaminan keamanan produk hewan
f) Kebijakan peningkatan pelayanan prima kepada masyarakat.

C. Strategi
Strategi merupakan cara dan teknik mencapai tujuan yang akan
digunakan sebagai acuan dalam menetapkan kebijakan, program dan
kegiatan. Strategi disusun berdasarkan analisis Strengths-Opportunities
(SO), Strengths-Threats (ST), Weaknesses- Opportunities (WO) dan
Weaknesses-Threats (WT), sebagai Berikut :
a) Peningkatan ketersediaan dan perbaikan mutu benih dan bibit ternak
dengan pengoptimalisaasi kelembagaan pembibitan dan sertifikasi,
penjaringan, pemurnian dan persilangan ternak bibit dan benih lokal
melalui penerapan perbibitan yang baik , serta penggunaan teknologi
inseminasi buatan dan embrio transfer.
b) Peningkatan populasi dan optimasi produksi ternak ruminansia melalui
penerapan good farming practiced (GFP) , pengaturan perwilayahan,
intregasi ternak dan tanaman, pendayagunaan bahan pakan lokal serta
pemberdayaan peternak.
c) Peningkatan populasi dan optimalisasi produksi ternak non-ruminansia
melalui restrukturisasi perunggasan, percepatan peningkatan populasi
unggas lokal, dan optimalisasi produksi ternak unggas, penataan usaha
babi ramah lingkungan, pengembangan ternak puyuh, kelinci, dan rusa,
pemberdayaan peternak, peningkatan ketahanan dan keamanan pakan
unggas dan pengembangan alat dan mesin.

19
d) Pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan menular dan
gangguan reproduksi serta mempertahankan dan mempeluas status
wilayah Indonesia bebas penyakit hewan menular strategis.
e) Pencegahan dan pengamanan bahaya pencemaran produk hewan,
zoonosism dan produk rekayasa genetic, serta peningkatan penerapan
kesejahteraan hewan.
f) Pendayagunaan peran dan fungsi kelembagaan serta SDM peternakan
untuk kebijakan dan pengambilan keputusan.

20
V. PROGRAM DAN KEGIATAN

A. Program

Program merupakan instrumen kebijakan yang berisi kegiatan-kegiatan


untuk mencapai sasaran dan tujuan. Program Direktorat Jenderal Peternakan
adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan secara Sistematik untuk mencapai
tujuan. Dalam kaitan dengan hierarki organisasi, Renstra Direktorat Jenderal
Peternakan disusun sebagai penjabaran Renstra Departemen Pertanian,
demikian pula program yang ditetapkan. Direktorat Jenderal Peternakan
menetapkan program yaitu : " Program Peningkatan Penyediaan Pangan
Hewani yang Aman, Berdaya Saing dan Berkelanjutan",

Outcome yang diharapkan dari program Direktorat Jenderal Peternakan adalah :


1. Meningkatnya ketersediaan pangan hewani ( daging, susu, telur ),
2. Meningkatnya kontribusi ternak lokal dalam penyediaan pangan hewani
( daging, telur, susu).
3. Meningkatnya ketersediaan protein hewani asal ternak.

B. Kegiatan

Kegiatan merupakan sekumpulan tindakan pengerahan sumberdaya ya


ng ditunjukkan untuk mencapai sasaran program. Kegiatan pada Direktorat Je
nderal Peternakan disinergikan dengan tugas pokok dan fungsi pada masing-m
asing eselon 2 ( Direktorat Perbibitan, Direktorat Budidaya ternak Ruminansia
, Direktorat Budidaya ternak non Ruminansia, Direktorat Kesehatan Hewan, D
irektorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan Sekretariat Direktorat Jenderal
). Ada enam kegiatan dalam menunjang tupokasi dan satu kegiatan prioritas, y
ang dirumuskan sebagai berikut:
a) Kegiatan Prioritas : pencapaian swasembada Daging Sapi. Output kegiatan in
i adalah meningkatnya ketersediaan daging sapi domestik sebesar 90%, indika
tornya adalah kontribusi produksi daging sapi domestik terhadap total penyedi
aan daging sapi nasional.

21
b) Kegiatan 1: Peningkatan kualitas dan kuantitas benih dan bibit dengan mengo
ptimalkan sumber daya lokal. Output kegiatan ini adalah peningkatan kualitas
dan kuantitas benih dan bibit ternak ( sapi potong, sapi perah, domba, kambin
g, ayam buras, itik) yang bersertifikat melalui : penguatan kelembagaan Perb
ibitan yang menerapkan Good Breeding Practices, Peningkatan penerapan st
andar mutu benih dan bibit ternak; peningkatan penerapan teknologi Perbibita
n, dan pengembangan usaha dan investasi. indikator kegiatan ini adalah peni
ngkatan kuantitas semen, peningkatan produksi embrio, peningkatan kualitas d
an kuantitas bibit sapi potong, sapi perah, ayam buras, itik, domba, dan peni
ngkatan kualitas dan kuantitas kambing.
c) Kegiatan 2: Peningkatan produksi ternak Ruminansia dengan Pendayagunaan
sumber daya lokal. Output kegiatan ini adalah meningkatnya produksi dan po
pulasi ternak Ruminansia ( Sapi potong, sapi perah, domba dan kambing), ser
ta proporsi produksi susu sapi domestik terhadap total permintaan susu nasion
al.
d) Kegiatan 3: Peningkatan Produksi ternak non Ruminansia dengan pendayagun
aan sumber daya lokal.
Output kegiatan ini adalah meningkatnya produksi dan populasi serta meningk
atnya pendayagunaan sumber daya lokal ternak non Ruminansia. indikator ke
giatan ini adalah pertumbuhan populasi dan produksi ayam buras dan itik, pro
porsi produksi telur ayam buras terhadap total produksi telur nasional, propor
si produksi daging unggas lokal terhadap total produksi daging unggas nasion
al serta proporsi pemanfaatan bahan pakan lokal dalam pakan unggas.
e) Kegiatan 4 : Pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan menular strat
egis dan penyakit Zoonosis. Output kegiatan ini adalah penguatan kelembagaa
n kesehatan hewan, pengendalian dan penanggulangan PHMS dan Zoonosis,
Perlindungan hewan terhadap penyakit eksotik, serta terjaminnya mutu obat h
ewan. Indikator kegiatan ini adalah kemampuan mempertahankan status " dae
rah bebas" PKM dan BSE, dan peningkatan status wilayah, penguatan otorita
s veteriner melalui pertumbuhan jumlah puskeswan yang terfasilitasi, penguat
an otoritas veteriner melalui pertumbuhan jumlah laboratorium veteriner kelas

22
C yang terfasilitasi , surveilans nasional PHMSZE (prevalensi dN atau insiden
si), dan ketersediaan alsin dan obat hewan bermutu.
f) Kegiatan 5 : Penjaminan pangan asal hewan yang aman dan halal serta pemen
uhan persyaratan produk hewan non pangan . Output kegiatan ini adalah peng
uatan peran dan fungsi lembaga otoritas veteriner, peningkatan jaminan produ
k hewan ASUH dan daya saing produk hewan, tersosialisasikannya risiko res
idu dan cemaran pada produk hewan serta zoonosis kepada masyarakat dan te
rsedianya profil keamanan produk hewan nasional serta peta zoonosis, serta p
eningkatan penerapan kesrawan di RPH/RPU. indikator kegiatan ini adalah pe
ningkatan penerapan fungsi otoritas veteriner, UPT pelayanan dan lab kesma
vet melalui puskeswan, pertumbuhan terpenuhinya persyaratan dan standar ke
amanan dan mutu produk hewan pangan dan non pangan, persentase penurun
an produk asal hewan yang diatas BMCM dan BMR, penurunan prevalensi da
n insidensi zoonosis, peningkatan persentase jumlah RPH yang menerapkan k
esrawan, peningkatan persentase jumlah RPU yang menerapkan kesrawan.
g) Kegiatan 6: peningkatan koordinasi dan dukungan manajemen di bidang peter
nakan. Output kegiatan ini adalah meningkatnya pelayanan prima kepada mas
yarakat indikator dari kegiatan ini adalah indeks kepuasan pelanggan.

23
VI. PENUTUP

Rencana Strategis Direktorat Jenderal Peternakan 2010-2014 adalah dokumen p


erencanaan untuk waktu 5 tahun, yakni tahun 2020 sampai dengan tahun 2014 yan
g memuat visi , misi, strategi, kebijakan, program dan kegiatan prioritas yang me
rupakan penjabaran dari Rencana Strategis Departemen Pertanian dan Rencana Pe
mbangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Rencana Strategis Direktorat Jenderal Peternakan disusun berdasarkan RPJMN


dan berpedoman pada Rencana Strategis Departemen Pertanian serta dengan mem
perhatikan hasil evaluasi pembangunan di bidang peternakan sebelumnya. Selanju
tnya Rencana Strategis ini merupakan panduan bagi pimpinan dan seluruh unit org
anisasi di lingkungan Direktorat Jenderal Peternakan dalam menyusun perencanaa
n tahunan dan melakukan evaluasi kinerjanya.

24