Anda di halaman 1dari 20

ETIKA PROFESI

TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN / CORPORATE

SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)

Oleh: Kelompok 1

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS TRISAKTI
2018

0
KATA PENGANTAR

Pertama-tama penulis panjatkan Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang


Maha Esa karena berkat Rahmat-Nya, makalah ini dapat terselesaikan. Tujuan
penulisan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas Etika Profesi. Selain itu
juga untuk meningkatkan pemahaman mengenai materi.
Dengan membaca makalah ini penulis berharap dapat membantu teman-
teman serta pembaca dapat memahami materi ini dan dapat memperkaya wawasan
pembaca. Walaupun penulis telah berusaha sesuai kemampuan penulis, namun
penulis yakin bahwa manusia itu tak ada yang sempurna. Seandainya dalam
penulisan makalah ini ada yang kurang, maka itulah bagian dari kelemahan
penulis. Mudah-mudahan melalui kelemahan itulah yang akan membawa
kesadaran kita akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini dan kepada pembaca yang
telah meluangkan waktunya untuk membaca makalah ini. Untuk itu saya selalu
menantikan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi perbaikan
penyusunan makalah ini.

Bogor, 4 Oktober 2018

Penulis

3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................3
BAB 4 PRINSIP-PRINSIP ETIKA BISNIS (SK)...................................................5
1. Beberapa Prinsip Umum Etika Bisnis.....................................................5
2. Etos Bisnis...............................................................................................6
3. Relativitas Moral dalam Bisnis................................................................7
4. Pendekatan Stakeholders.........................................................................8
BAB 4 HAKIKAT EKONOMI (AA).....................................................................11
1. Hakikat Ekonomi...................................................................................11
2. Etika dan Sistem Ekonomi.....................................................................11
2.1 Etika dan Sistem Ekonomi Komunis..............................................12
2.2 Etika dan Sistem Ekonomi Kapitalis..............................................12
2.3 Etika dan Sistem Ekonomi Pancasila.............................................13
2.4 Etika dan Sistem Ekonomi.............................................................13
3. Pengertian Dan Peranan Bisnis..............................................................14
4. Lima Dimensi Bisnis.............................................................................14
4.1 Dimensi Ekonomi...........................................................................14
4.2 Dimensi Etis...................................................................................15
4.3 Dimensi Hukum..............................................................................15
4.4 Dimensi Sosial................................................................................16
4.5 Dimensi Spiritual............................................................................16
5. Pendekatan Pemangku Kepentingan (Stakeholder)...............................17
5.1 Tanggung Jawab Manajemen dan Teori Pemangku Kepentingan. .17
5.2 Hubungan Tingkat Kesadaran, Teori Etika, dan Paradigma
Pengelolaan Perusahaan.................................................................18
5.3 Analisis Pemangku Kepentingan (Stakeholder Analysis)..............18

4
6. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility-
CSR)......................................................................................................19
6.1 Pengertian CSR...............................................................................19
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................21

5
BAB 4

PRINSIP-PRINSIP ETIKA BISNIS (SK)

1. Beberapa Prinsip Umum Etika Bisnis


Pada umumnya, prinsip-prinsip yang berlaku dalam bisnis yang baik
sesungghnya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sehari-hari, dan prinsip-
prinsip ini sangat erat terkait dengan sistem nilai-nilai yang dianut di
kehidupan masyarakat.
Sebagai etika khusus atau etika terapan, prinsip-prinsip etika yang
berlaku dalam bisnis sesungguhnya adalah penerapan dari prinsip etika pada
umumnya. Karena itu, tanpa melupakan kekhasan sistem nilai dari setiap
masyarakat bisnis, di dini secara umum dapat dikemukakan beberapa prinsip
etika bisnis tersebut. Menurut Sonny Keraf (1998) prinsip-prinsip etika bisnis
adalah sebagai berikut :
1) Prinsip Otonomi
Otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil
keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang apa yang
dianggapnya baik untuk dilakukan.
2) Prinsip Kejujuran
Terdapat tiga lingkup kegiatan bisnis yang bisa ditunjukkan secara jelas
bahwa bisnis tidak akan bisa bertahan lama dan berhasil kalau tidak
didasarkan atas kejujuran.
Pertama, kejujuran relevan dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan
kontrak. Masing-masing pihak tulus dan jujur dalam membuat perjanjian
dan kontrak itu dan serius serta tulus dan jujur melaksanakan janjinya.
Kedua, kejujuran juga relevan dalam penawaran barang atau jasa dengan
mutu dan harga yang sebanding. Sebagaimana dalam bisnis modern penuh
persaingan, kepercayaan konsumen adalah hal yang paling pokok.
Ketiga, kejujuran juga relevan dalam hubungan kerja intern dalam suatu
perusahaan.

6
3) Prinsip Keadilan
Menuntut agas setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan
aturan yang adil dan sesuai dengan kriteria yang rasional objektif dan
dapat dipertanggungjwabkan.
4) Prinsip Saling Menguntungkan (Mutual Benefit Principle)
Menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa, sehingga
menguntungkan semua pihak. Jadi, kalau prinsip keadilan menuntut agar
tidak boleh ada pihak yang dirugikan hak dan kepentingannya, prinsip
saling menguntungkan secara positif menuntut hal lain.
5) Prinsip Integritas Moral
Terutama dihayati sebagai tuntutan internal dalam diri pelaku bisnis atau
perusahaan, agar perlu menjalankan bisnis dengan tetep menjaga nama
baiknya atau nama baik perusahaannya.

2. Etos Bisnis
Etos bisnis adalah suatu kebiasaan atau budaya moral menyangkut
kegiatan bisnis yang dianut dalam suatu perusahaan dari satu generasi ke
generasi yang lain. Inti etos ini adalah pembudayaan atau pembiasaan
penghayatan akan nilai, norma atau prinsip moral tertentu yang dianggap
sebagai inti kekuatan dari suatu perusahaan yang sekaligus juga
membedakannya dari perusahaan yang lain. Wujudnya bisa dalam bentuk
pengutamaan mutu, pelayanan, disiplin, kejujuran, tanggung jawab, perlakuan
yang fair tanpa diskriminasi dan seterusnya.
Umumnya etos bisnis ini mula pertama dibangun atas dasar visi atau
filsafat bisnis pendiri suatu perusahaan sebagai penghayatan pribadi orang
tersebut mengenai bisnis yang baik. Visi atau filsafat bisnis ini sesungguhnya
didasarkan pada nilai tertentu yang dianut oleh pendiri perusahaan itu yang lalu
dijadikan prinsip bisnisnya dan yang kemudian menjelma menjadi sikap dan
perilaku bisnis dalam kegiatan bisnisnya sehari-hari dan menjadi dasar dari
keberhasilannya. Visi dan prinsip ini kemudian diberlakukan bagi
perusahaannya, yang berarti visi dan prinsip itu kemudian menjelma menjadi
sikap dan perilaku organisasi dari perusahaan tersebut baik ke luar maupun ke
dalam. Maka, terbangunlah sebuah budaya, sebuah etos, sebuah kebiasaan

7
yang ditanamkan kepada semua karyawan sejak diterima masuk dalam
perusahaan maupun terus menerus dalam seluruh evaluasi dan penyegaran
selanjutnya dalam perusahaan tersebut. Etos inilah yang menjadi jiwa yang
menyatukan sekaligus juga menyemangati seluruh karyawan untuk bersikap
dan berpola perilaku yang kurang lebih sama berdasarkan prinsip yang dianut
oleh perusahaan tersebut.
Berkembang tidaknya sebuah etos bisnis dalam sebuah perusahaan
sangat ditentukan pula oleh gaya kepemimpinan dalam perusahaan tersebut.
Sebaik-baiknya nilai dan prinsip moral tertentu, tetapi kalau tidak ditunjang
oleh gaya kepemimpinan yang kondusif untuk menumbuhkan etos bisnis yang
baik, etos bisnis sulit akan berkembang dalam sebuah perusahaan.

3. Relativitas Moral dalam Bisnis


Dalam bisnis modern dewasa ini, orang dituntut untuk bersaing secara
etis. Dalam persaingan global yang ketat tanpa mengenal adanya perlindungan
dan dukungan politik tertentu, semua perusahaan bisnis mau tidak mau harus
bersaing berdasarkan prinsip etika tertentu. Terdapat tiga pandangan yang
umum dianut.
Pandangan pertama adalah bahwa norma etis yang berbeda antara satu
tempat dengan tempat yang lain. Hal ini berarti, di mana saja suatu perusahaan
beroperasi, ikuti norma dan aturan moral yang berlaku di tempat perusahaan
melakukan bisnisnya.
Pandangan kedua adalah bahwa norma sendirilah yang paling benar dan
tepat. Karena itu, prinsip yang harus dipegang adalah “bertindaklah di mana
saja sesuai dengan prinsip yang dianut dan berlaku di negaramu sendiri”.
Pandangan ketiga adalah bahwa tidak ada norma moral yang perlu diikuti
sama sekali.

4. Pendekatan Stakeholders
Pendekatan stakeholders merupakan sebuah pendekatan baru yang
banyak digunakan. Khusunya dalam etika bisnis, belakangan ini dengan
mencoba mengintegrasikan kepentingan bisnis di satu pihak dan tuntutan etika
di pihak lain. Dalm hal ini, pendekatan stakeholders adalah cara mengamati

8
dan menjelaskan secara analitis bagaimana berbagai unsur dipengaruhi dan
mempengaruhi keputusan dan tindakan bisnis.
Dasar pemikiran dari pendekatan ini adalah bahwa semua pihak yang
punya kepentingan dalam suatu kegiatan bisnis terlibat di dalamnya karena
ingin memprokeh keuntungan, maka hak dan kepentingan mereka harus
diperhatikan dan dijamin. Yang menarik, pada akhirnya pendekatan
stakeholders bermuara pada prinsip “tidak merugikan hak dan kepentingan
pihak berkepentingan mana pun dalam suatu kegiatan bisnis. Ini berarti, pada
akhirnya pendekatan stakeholders menuntut agar bisnis apapun perlu
dijalankan secara baik dan etis justru demi menjamin kepentingan semua pihak
yang terkait dalam bisnis tersebut.
Pada umumnya ada dua kelompok stakeholders: kelompok primer dan
kelompok sekunder. Kelompok primer terdiri dari pemilik modal atau saham,
kreditor, karyawan, pemasok, konsumen, penyalur dan pesaing atau rekanan.
Kelompok sekunder terdiri dari pemerintah setempat, pemerintah asing,
kelompok sosial, media massa, kelompok pendukung, masyarakat pada
umumnya dan masyarakat setempat. Yang paling penting diperhatikan dalam
suatu kegiatan bisnis tentu saja adalah kelompok primer karena hidup matinya,
berhasil tidaknya suatu perusahaan sangat ditentukan oleh relasi yang saling
menguntungkan yang dijalin dengan kelompok primer tersebut. Yang berarti,
demi keberhasilan dan kelangsungan bisnis suatu perusahaan, perusahaan
tersebut tidak boleh merugikan satu pun kelompok stakeholders primer.
Dengan kata lain, perusahaan tersebut harus menjalin relasi bisnis yang baik
dan etis dengan kelompok tersebut: jujur, bertanggung jawab dalam penawaran
barang dan jasa, bersikap adil terhadap mereka, dan saling menguntungkan satu
sama lain. Di sinilah kita menemukan bahwa prinsip etika menemukan tempat
penerapannya yang paling konkret dan sangan sejalan dengan kepentingan
bisnis untuk mencari keuntungan.
Relasi antara suatu perusahaan dan dua kelompok stakeholders tersebut
dapat digambarkan sebagai berikut.

9
10
BAB 4

HAKIKAT EKONOMI (AA)

1. Hakikat Ekonomi
Ekonomi berasal dari kata Yunani oikonomia yang berarti pengelolaan
rumah (Capra, 2002). Yang dimaksud dengan pengelolaan rumah adalah cara
rumah tangga memperoleh dan menghasilkan barang atau jasa untuk
memenuhi kebutuhan hidup (fisik) anggota rumah tangganya. Dari sini
berkembang disiplin ilmu ekonomi yang dapat didefinisikan sebagai ilmu yang
berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi. Ilmu ekonomi
berkembang berdasarkan asumsi dasar yang masih dipegang hingga saat ini,
yaitu adanya kebutuhan (needs) manusia yang tidak terbatas dihadapkan pada
sumber daya yang terbatas (scarce resources) sehingga menimbulkan persoalan
bagaimana mengekploitasi sumber daya yang terbatas tersebut secara efektif
dan efisien.

2. Etika dan Sistem Ekonomi


Ada dua paham sistem ekonomi yang berkembang, yaitu ekonomi
kapitalis dan ekonomi komunis. Inti dari paham ekonomi kapitalis adalah
adanya kebebasan individu untuk memiliki, mengumpulkan, dan
mengusahakan kekayaan secara individu. Sistem kapitalis sering disebut juga
sistem ekonomi liberal. Ada dua ciri pokok dari sistem ekonomi kapitalis,
yaitu: liberalisme kepemilikan dan dukungan ekonomi pasar bebas. Menurut
paham ini, kebebasan individu akan memicu motivasi setiap orang untuk
melakukan kegiatan bisnis dan ekonomi dalam rangka memakmurkan dirinya
masing-masing.
Sebaliknya paham ekonomi komunis yang memperoleh inspirasi dari
pemikiran Karl Marx justru sangat menentang sistem kapitalis ini. Menurut
sistem ekonomi komunis, setiap individu dilarang menguasai modal dan alat-
alat produksi. Alat-alat produksi dan modal harus dikuasai oleh masyarakat
(melalui negara) sehingga tidak ada lagi eksploitasi oleh sekelompok kecil
majikan terhadap masyarakat mayoritas (kaum buruh). Karena perhatian utama

11
sistem komunis adalah kemakmuran masyarakat secara keseluruhan dan bukan
kemakmuran orang per orang, maka sering kali sistem komunis ini—dengan
beberapa variasinya—disebut sebagai sistem sosialis. Walaupun sistem
kapitalis dan sistem komunis sangat bertentangan, namun sebenarnya ada
persamaan yang sangat esensial, yaitu keduanya hanya ditujukan untuk
mengejar kemakmuran/kenikmatan duniawi dengan hanya mengandalkan
kemampuan pikiran rasional dan melupakan tujuan tertinggi umat manusia
(kebahagiaan di akhirat).

2.1 Etika dan Sistem Ekonomi Komunis


Tujuan sistem ekonomi komunis adalah untuk memeratakan
kemakmuran masyarakat dan menghilangkan eksploitasi oleh manusia
(majikan, pemilik modal) terhadap manusia lainnya (kaum buruh). Tujuan
pemerataan kemakmuran tidak tercapai; yang terjadi adalah pemerataan
kemiskinan. Terjadi kesenjangan kekayaan yang sangat mencolok antara
oknum pejabat sangat kaya, sementara rakyatnya tetap dililit kemiskinan.
Mengapa sistem ekonomi komunis mengalami kegagalan walaupun
sebenarnya tujuannya sangat mulia? Jawaban atas hal ini dapat diberikan
sebagai berikut:
a. Sistem ekonomi komunis didasarkan atas hakikat manusia tidak utuh.
b. Dalam sistem ekonomi komunis, alat-alat produksi dan kekayaan
individu tidak diakui.
c. Produktivitas tenaga kerja sangat rendah karena rakyat yang bekerja
untuk negara tidak termotivasi untuk bekerja lebih giat.
d. Keadaan perekonomian negara-negara Blok Komunis semakin
memburuk karena terjadi pemborosan kekayaan negara, terutama untuk
memproduksi senjata yang dipaksakan dalam rangka perang dingin
menghadapi negara-negara Blok Barat.

2.2 Etika dan Sistem Ekonomi Kapitalis


Dalam sistem ekonomi kapitalis, tujuan manusia direndahkan hanya
untuk mengejar kemakmuran ekonomi (fisik) semata dan mengabaikan
kekuatan Tuhan. Sistem ekonomi ini juga melupakan tujuan tertinggi
hakikat sebagai manusia, yaitu kebahagiaan di akhirat. Sistem ekonomi

12
kapitalis yang berkembang di negara-negara Barat telah melahirkan
perusahaan-perusahaan multinasional dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1)
Kekayaan mereka sudah semakin besar, bahkan sudah melewati
pendapatan negara-negara yang sedang berkembang. (2) Kekuasaan para
pemiliknya telah melewati batas-batas wilayah suatu negara.

2.3 Etika dan Sistem Ekonomi Pancasila


Sistem ekonomi pancasila mencoba memadukan hal-hal positif
yang ada pada kedua sistem ekonomi ekstrem—komunis dan kapitalis.
Ciri keadilan dan kebersamaan pada sistem ekonomi Pancasila diambil
dari sistem komunis; ciri hak dan kebebasan individu diambil dari sistem
kapitalis; ditambah dengan ciri ketiga yang tidak ada pada kedua sistem
tersebut, yaitu kepercayaan kepada Tuhan YME dengan memberikan
kebebasan rakyatnya memeluk agama sesuai dengan keyakinan masing-
masing. Secara teoretis, sistem ekonomi Pancasila merupakan fondasi
yang paling baik dan paling sesuai untuk membangun hakikat manusia
seutuhnya.

2.4 Etika dan Sistem Ekonomi


Etika pada intinya mempelajari perilaku/tindakan seseorang dan
kelompok atau lembaga yang dianggap baik atau tidak baik. Sistem
ekonomi adalah seperangkat umur (manusia, lembaga, wilayah, sumber
daya) yang terkoordinasi untuk mendukung peningkatan produksi (barang
dan jasa) serta pendapatan untuk menciptakan kemakmuran masyarakat.
Kesimpulannya adalah bahwa sistem ekonomi apa pun dapat saja
memunculkan banyak persoalan yang bersifat tidak etis. Etis tidaknya
suatu tindakan lebih disebabkan tingkat kesadaran individual para perilaku
dalam aktivitas ekonomi (oknum birokrasi, pejabat negara, pemimpin
perusahaan), bukan pada sistem ekonomi yang dipilih oleh suatu negara.
Di sini yang berperan adalah tingkat kesadaran dalam memaknai hakikat
dirinya—hakikat manusia sebagai manusia utuh atau manusia tidak utuh.

13
3. Pengertian Dan Peranan Bisnis
Aktivitas bisnis bukan saja kegiatan dalam rangka menghasilkan barang
dan jasa, tetapi juga termasuk kegiatan mendistribusikan barang dan jasa
tersebut ke pihak-pihak yang memerlukan serta aktivitas lain yang mendukung
kegiatan produksi dan distribusi tersebut. Dua pandangan tentang bisnis
sebagaimana diungkapkan oleh Sonny Keraf (1998), yaitu pandangan praktis-
realistis dan pandangan idealis. Pandangan praktis-realistis melihat tujuan
bisnis adalah untuk mencari keuntungan (profit) bagi pelaku bisnis, sedangkan
aktivitas memproduksi dan mendistribusikan barang merupakan sarana/alat
untuk merealisasikan keuntungan tersebut. Pandangan idealis adalah suatu
pandangan di mana tujuan bisnis yang terutama adalah menghasilkan dan
mendistribusikan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,
sedangkan keuntungan yang diperoleh merupakan konsekuensi logis dari
kegiatan bisnis tersebut. Inti dari pandangan idealis adalah bahwa tujuan pokok
dari bisnis adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sedangkan
keuntungannya hanyalah akibat dari kegiatan bisnis.

Komponen-komponen Budaya Etis


Fokus
Kriteria Etis
Individu Perusahaan Masyarakat

Egoisme (pendekatan Kepentingan diri (self- Kepentingan perusahaan Efisiensi ekonomi


berpusat pada interest) (company interest)
kepentingan diri)

Benevolence Kepentingan Bersama Kepentingan tim (team Tanggung jawab sosial


(pendekatan berpusat (friendship) interest) (social responsibility)
pada kepentingan orang
lain)

Principles (pendekatan Moralitas pribadi Prosedur dan peraturan Kode etik dan hukum
berpusat pada prinsip (personal morality) perusahaan
integritas)

4. Lima Dimensi Bisnis


4.1 Dimensi Ekonomi
Bisnis paling mudah dipahami bila dilihat dari dimensi ekonomi. Dari
sudut pandang ini, bisnis adalah kegiatan produktif dengan tujuan
memperoleh keuntungan. Bisnis merupakan tulang punggung kegiatan

14
ekonomi; tanpa bisnis tidak ada kegiatan ekonomi. Harta adalah sumber
daya ekonomis yang masih mempunyai manfaat untuk menciptakan
penjualan pada periode mendatang.

4.2 Dimensi Etis


Konsep bisnis bila dilihat dari dimensi ekonomi yaitu aktivitas
produktif dengan tujuan mencari keuntungan—sudah sangat jelas dan
dipahami oleh hampir semua pihak. Namun bila dilihat dari dimensi etis,
bisnis masih menimbulkan diskusi yang diwarnai oleh pro dan kontra.
Persoalan pro dan kontra dari dimensi etika ini dapat dimaklumi karena
belum semua pihak mempunyai pemahaman yang sama tentang pengertian
etika dan ukuran yang tepat untuk menilai etis tidaknya suatu tindakan
bisnis.
Berikut ini adalah pembahasan bisnis dari dimensi etis. Pertama,
kegiatan bisnis adalah kegiatan produktif, artinya kegiatan menghasilkan
dan mendistribusikan barang dan jasa untuk kebutuhan seluruh umat
manusia. Kedua, bila dilihat dari pihak yang memperoleh manfaat dari
keuntungan suatu kegiatan bisnis (masalah keadilan dalam distribusi
keuntungan) dan tindakan bisnis dalam merealisasikan keuntungan itu, isu
etika muncul untuk memberikan penilaian atau dampak negatif yang
ditimbulkan bagi masyarakat dan lingkungan alam (merugikan orang lain
atau menimbulkan kerusakan lingkungan).

4.3 Dimensi Hukum


Hukum dan etika sebenarnya mempunyai hubungan yang sangat erat
karena keduanya mengatur perilaku manusia. Hukum dibuat oleh negara
atau beberapa negara melalui suatu mekanisme formal yang sesuai dengan
konstitusi/aturan internasional dan mengikat seluruh warga suatu negara
atau lebih dari satu negara bila hukum/peraturan itu diratifikasi oleh lebih
dari satu negara. Pelanggaran terhadap hukum akan dikenai sanksi hukum.

15
4.4 Dimensi Sosial
Sebagai suatu sistem, artinya di dalam organisasi perusahaan terdapat
berbagai elemen, unsur, orang, dan jaringan yang saling terhubung
(interconnected), saling berinteraksi (interacted), saling bergantung
(interdepended), dan saling berkepentingan. Sebagai sistem terbuka,
artinya keberadaan perusahaan ditentukan bukan saja oleh elemen-elemen
yang ada di dalam perusahaan atau yang sering disebut faktor internal,
seperti: sumber daya manusia (tenaga kerja, manajer, eksekutif) dan
sumber daya non-manusia (uang, peralatan, bangunan, dan sebagainya),
tetapi juga oleh faktor-faktor di luar perusahaan atau yang sering disebut
faktor eksternal, yang juga terdiri atas dua elemen, yaitu: faktor manusia
dan non-manusia.

4.5 Dimensi Spiritual


Kegiatan bisnis dalam pandangan Barat tidak pernah dikaitkan dengan
agama. Padahal kalau ditelusuri dalam ajaran agama-agama besar, ada
ketentuan yang sangat jelas tentang kegiatan bisnis ini. Dalam agama
Islam dijumpai suatu ajaran bahwa menjalankan kegiatan bisnis ini
merupakan bagian dari ibadah, asalkan kegiatan bisnis (ekonomi) diatur
berdasarkan wahyu yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul
(Dawan Rahardjo, 1990). Selanjutnya Dawan Rahardjo mengatakan
bahwa ada tiga doktrin dalam Islam, yaitu: ibadah, akhirat, dan amal saleh.
Kegiatan bisnis yang spiritual tumbuh berdasarkan paradigma sebagai
berikut:
 Pengelola dan pemangku kepentingan (stakeholders) menyadari bahwa
kegiatan bisnis adalah bagian dari ibadah (God devotion).
 Tujuan bisnis adalah untuk memajukan kesejahteraan semua pemangku
kepentingan atau masyarakat (prosperous society).
 Dalam menjalankan aktivitas bisnis, pengelola mampu menjamin
kelestarian alam (planet conservation).

Gambar 4.1

16
Kegiatan Bisnis Spiritual

Ibadah (God Devotion)

Bisnis
(Profit)

Alam Lestari Masyarakat Sejahtera


(Planet Conservation) (Prosperous Society)

5. Pendekatan Pemangku Kepentingan (Stakeholder)


5.1 Tanggung Jawab Manajemen dan Teori Pemangku Kepentingan
Dari sudut pandang pengelola perusahaan (manajemen), dijumpai
beberapa paradigma berkaitan dengan peran dan tanggung jawab
manajemen dalam mengelola perusahaan. Dalam dunia akuntansi wujud
peran dan tanggung jawab manajemen ini tercermin dalam beberapa teori
yang berkaitan dengan pemangku kepentingan. Pada umumnya, dulu
perusahaan didirikan oleh pemilik yang sekaligus merangkap sebagai
pengelola perusahaan tidak ada perusahaan antara pengelola
(manajemen) dengan pemilik perusahaan.
Paradigma yang sangat berbeda dijumpai dalam teori dana dan
teori komando. Dalam teori dana, manajemen dalam mengelola suatu
lembaga/organisasi lebih berorientasi kepada restriksi legal atas
pengguanaan dana yang dipercayakan kepadanya. Pemangku
kepentingan (stakeholders) adalah semua pihak (orang atau lembaga)
yang mempengaruhi keberadaan perusahaan dan/atau dipengaruhi oleh
tindakan perusahaan. Selanjutnya Lawrence, Weber, dan Post membagi
pemangku kepentingan ke dalam dua golongan, yaitu pemangku
kepentingan pasar (market stakeholders) dan pemangku kepentingan
nonpasar (nonmarket stakeholders).

17
5.2 Hubungan Tingkat Kesadaran, Teori Etika, dan Paradigma
Pengelolaan Perusahaan

Hubungan Tingkat Kesadaran, Teori Etika, dan


Paradigma Pengelolaan Perusahaan
Tingkat
Teori Etika Paradigma Pengelolaan Sasaran Perusahaan
Kesadaran

Kesadaran  Teori Egoisme  Paradigma Memperoleh kekayaan dan


Hewani  Teori Hak Kepemilikan keuntungan optimal bagi
(Proprietorship pengelola yang sekaligus
Paradigm) merangkap sebagai pemilik
perusahaan

Pengelola (manajemen) sudah


terpisah dari para pemegang
 Paradigma Pemegang saham selaku pemilik
Saham
perusahaan.
(Stockholders
Paradigm)

Sasaran perusahaan adalah


memperoleh kekayaan dan
keuntungan optimal bagi para
pemegang saham

Kesadaran  Teori Paradigma Ekuitas (Equity Sasaran pengelolaan perusahaan


Manusiawi Utilitarianisme Paradigm) untuk meningkatkan kekayaan
 Teori Keadilan dan keuntungan para investor
(Fairness (pemegang saham dan kreditur)
Theory)
 Teori Kewajiban Paradigma Perusahaan Sasaran pengelolaan perusahaan
(Deontologi) (Enterprise Paradigm) adalah untuk kesejahteraan
 Teori Keutamaan seluruh masyarakat (semua
pemangku
kepentingan/stakeholders)

Kesadaran  Teori Teonom Paradigma Perusahaan Tujuan pengelolaan perusahaan


Transendental Tercerahkan (Enlightened adalah sebagai bagian dari
Company) ibadah kepada Tuhan melalui
pengabdain tulus untuk
kemakmuran bersama dan
menjaga kelestarian alam

5.3 Analisis Pemangku Kepentingan (Stakeholder Analysis)


Sebagai suatu sistem terbuka, perusahaan saling berinteraksi dengan
semua pihak terkait (stakeholders) sehingga keberadaan perusahaan
bersifat saling mempengaruhi dengan semua pemangku kepentingan
tersebut. Oleh sebab itu perlunya menyadari pentingnya melakukan
proses pengambilan keputusan berdasarkan pendekatan dan analisis

18
pemangku kepentingan. Hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam
proses pengambilan keputusan berdasarkan pendekatan pemangku
kepentingan, antara lain: (a)Lakukan identifikasi semua pemangku
kepentingan, baik yang nyata maupun yang masih bersifat potensial. (b)
Cari tahu kepentingan (interest) dan kekuasaan (power) setiap golongan
pemangku kepentingan. (c) Cari tahu apakah ada koalisi
kepentingan dan kekuasaan antar golongan pemangku kepentingan
tersebut.

6. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility-


CSR)
6.1 Pengertian CSR
Definisi CSR yang dikutip dari buku Membedah Konsep dan Aplikasi
CSR karangan Yusuf Wibisono (2007) dan buku Corporate Social
Responsibility dari A.B. Susanto (2007) salah satunya adalah: (1) The
World Business Council for Sustainable Development mendifinisikan CSR
sebagai “Komitmen bisnis untuk secara terus menerus berperilaku etis dan
berkontribusi dalam pembangunan ekonomi serta meningkatkan kualitas
hidup karyawan dan keluarganya, masyarakat lokal, serta masyarakat luas
pada umumnya.” (2) A.B. Susanto mendifinisikan CSR sebagai tanggung
jawab perusahaan baik ke dalam maupun ke luar perusahaan. Tanggung
jawab ke dalam diarahkan kepada pemegang saham dan karyawan dalam
wujud profitabilitas dan pertumbuhan perusahaan, sedangkan tanggung
jawab ke luar dikaitkan dengan peran perusahaan sebagai pembayar pajak
dan penyedia lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan dan kompetensi
masyarakat, serta memelihara lingkungan bagi generasi mendatang.
Berangkat dari konsep 3P yang dikemukakan oleh Elkington,
konsep CSR sebenarnya ingin memadukan tiga fungsi perusahaan secara
seimbang, yaitu:
a. Fungsi ekonomis
b. Fungsi sosial
c. Fungsi alamiah

Tingkat/Lingkup Keterlibatan dalam CSR

19
Hubungan Tingkat Kesadaran, Teori Etika, dan Tingkat Keterlibatan CSR

Tingkat Kesadaran Teori Etika Tingkat


Keterlibatan CSR

Khewani Egoisme Rendah

Manusiawi Utilitarianisme

Transendental Teonom Tinggi

Pro dan Kontra terhadap CSR


Alasan-alasan yang menentang CSR ini antara lain: (1) Perusahaan adalah
lembaga ekonomi yang tujuan pokoknya mencari keuntungan, bukan merupakan
lembaga sosial. (2) Perhatian manajemen perusahaan akan terpecah dan akan
membingungkan mereka bila perusahaan dibebani banyak tujuan. (3) Biaya
kegiatan sosial akan meningkatakan biaya produk yang akan ditambahkan pada
harga produk sehingga pada gilirannya akan merugikan masyarakat/konsumen itu
sendiri. (4) Tidak semua perusahaan mempunyai tenaga yang terampil dalam
menjalankan kegiatan sosial. Sementara itu, alasan-alasan yang mendukung CSR
ini adalah:
a. Kesadaran yang meningkat dan masyarakat yang makin kritis terhadap dampak
negatif dari tindakan perusahaan yang merusak alam serta merugikan
masyarakat sekitarnya.
b. Sumber daya alam yang makin terbatas.
c. Menciptakan lingkungan sosial yang lebih baik.
d. Perimbangan yang lebih adil dalam memikul tanggung jawab dan kekuasaan
dalam memikul beban sosial dan lingkungan antara pemerintah, perusahaan,
dan masyarakat.
e. Bisnis sebenarnya mempunyai sumber daya yang berguna.
f. Menciptakan keuntungan jangka panjang.

DAFTAR PUSTAKA

20
Agoes, Sukrisno & Ardana, I Cenik. 2011. Etika Bisnis dan Profesi - Tantangan
Membangun Manusia Seutuhnya. Penerbit: Salemba Empat. Jakarta.

Sonny Keraf. 1998. Etika Bisnis: Tuntutan dan Relevansinya. Yogyakarta:


Kanisius.

21