Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah
tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk
masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Sragen, 29 Maret 2017

Penulis, Kumpulan Makalah


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ekonomi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
Seiring perkembangan zaman ,tentu kebutuhan terhadap manusia bertambah oleh karena itu
ekonomi secara terus-menerus mengalami pertumbuhan dan perubahan. Perubahan yang
secara umum terjadi pada perekonomian yang dialami suatu negara seperti inflasi
,pengangguran , kesempatan kerja, hasil produksi,dan sebagainya. Jika hal ini ditangani
dengan tepat maka suatu negara mengalami keadaan ekonomi yang stabil, mempengaruhi
kesejahteraan kehidupan penduduk yang ada negara tersebut.
Sudah hampir 66 tahun Indonesia merdeka. Akan tetapi kondisi perekonomian
Indonesia tidak juga membaik. Masih terdapat ketimpangan ekonomi, tingkat kemiskinan
dan pengangguran masih tinggi, serta pendapatan per kapita yang masih rendah. Untuk
dapat memperbaiki sistem perekonomian di Indonesia, kita perlu mempelajari sejarah
tentang perekonomian Indonesia dari masa penjajahan, orde lama, orde baru hingga masa
reformasi. Dengan mempelajari sejarahnya, kita dapat mengetahui kebijakan-kebijakan
ekonomi apa saja yang sudah diambil pemerintah dan bagaimana dampaknya terhadap
perekonomian Indonesia serta dapat memberikan kontribusi untuk mengatasi permasalah
ekonomi yang ada.

1.2.PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan maka rumusan masalah yang dikaji dalam
pembuatan makalah ini difokuskan tentang Perkembangan Perekonomian Indonesia.
Adapun perumusan masalah dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana perkembangan perokonomian Indonesia hingga saat ini ?

1.3.TUJUAN

Untuk memberikan suatu wawasan dan pengetahuan mengenai sejarah perekonomian


Indonesia, dan agar lebih memahami perkembangan ekonomi di Indonesia secara luas.
Selain itu, makalah ini dibuat sebagai bahan penyelesaian tugas makalah mata kuliah
softskill mengenai Perekonomian Indonesia
PEMBAHASAN
2.Tinjauan Pustaka

Sejak tahun 1970 pembangunan ekonomi mengalami redefinisi. Sejak tahun tersebut
muncul pandangan baru yaitu tujuan utama dari usaha-usaha pembangunan ekonomi tidak
lagi menciptakan tingkat pertumbuhan GNP yang setinggi-tingginya, melainkan
penghapusan atau pengurangan tingkat kemiskinan, penanggulangan ketimpangan
pendapatan, dan penyediaan lapangan kerja dalam konteks perekonomian yang terus
berkembang (Todaro 2004: 21)

Sementara itu Swasono (2004 a.: 13) dalam bukunya berjudul Kebersamaan dan Asas
Kekeluargaan mengatakan Pembangunan ekonomi berdasarkan Demokrasi Ekonomi adalah
pembangunan yang partisipatori dan sekaligus emansipatori. Selanjutnya Swasono
mengatakan bahwa pembangunan ekonomi bukan saja berarti kenaikan pendapatan, tetapi
juga kenaikan pemilikan (entitlement).

Menurut Human Development Report (2000: 3 b.) menyatakan: “Development should


begin with the fulfillment of the basic material needs of an individual including food,
clothing, and shelter, and gradually reach the highest level of self-fulfillment. The most
critical form of self-fulfillment include leading a long and healthy life, being educated, and
enjoying a decent standard of living. Human development is a multidimensional concept
comparising four demension, economic, social-psyhological, political and spiritual.

2.1.Teori Pembangunan Ekonomi

A. Teori Klasik

Adam Smith
Teori Adam Smith beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi sebenarnya bertumpu pada
adanya pertambahan penduduk. Dengan adanya pertambahan penduduk maka akan terdapat
pertambahan output atau hasil. Teori Adam Smith ini tertuang dalam bukunya yang
berjudul An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations.

David Ricardo

Ricardo berpendapat bahwa faktor pertumbuhan penduduk yang semakin besar sampai
menjadi dua kali lipat pada suatu saat akan menyebabkan jumlah tenaga kerja melimpah.
Kelebihan tenaga kerja akan mengakibatkan upah menjadi turun. Upah tersebut hanya
dapat digunakan untuk membiayai taraf hidup minimum sehingga perekonomian akan
mengalami kemandegan (statonary state). Teori David Ricardo ini dituangkan dalam
bukunya yang berjudul The Principles of Political and Taxation.

B. Teori Neoklasik

Robert Solow
Robert Solow berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan rangkaian kegiatan
yang bersumber pada manusia, akumulasi modal, pemakaian teknologi modern dan hasil
atau output. Adapun pertumbuhan penduduk dapat berdampak positif dan dapat berdampak
negatif. Oleh karenanya, menurut Robert Solow pertambahan penduduk harus
dimanfaatkan sebagai sumber daya yang positif.

Harrord Domar
Teori ini beranggapan bahwa modal harus dipakai secara efektif, karena pertumbuhan
ekonomi sangat dipengaruhi oleh peranan pembentukan modal tersebut. Teori ini juga
membahas tentang pendapatan nasional dan kesempatan kerja

2.2.Indikator Pembangunan Ekonomi

Pembangunan Ekonomi adalah usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa
yang seringkali diukur dengan tinggi rendahnya pendapatan riil perkapita (Irawan dan M.
Suparmoko, 6:2002). Di samping itu, pembangunan ekonomi juga dapat dikatakan
sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi yang berskala besar, yakni
skala sebuah Negara. Oleh karena skala yang besar tersebut, dalam rangka melakukan
evaluasi keberhasilan pembangunan ekonomi masih sering mengalami kesulitan. Ditambah
lagi ukuran tingkat kesejahteraan yang tidak sederhana karena meliputi banyak hal atau
multidimensi. Untuk mengatasi hal-hal tersebut, ahli ekonomi pembangunan menyusun dan
mengidentifikasikan berbagai indicator pembangunan.

Indikator merupakan sumber informasi yang sistematik serta obyektif yang hampir setiap
hari beberapa surat kabar menulis statistic yang baru dikeluarkan oleh pemerintah. Indicator
adalah sebuah instrument yang menunjukkan keterkaitan berbagai hal. Pemerintah
misalnya, secara regular mensurvei rumah tangga ataupun perusahaan untuk mempelajari
aktivitas dan dampak kegiatan mereka terhadap kesejahteraannya. Tanpa adanya indicator-
indikator ini, pola atau gejala yang sedang terjadi serta pengaruhnya akan sulit diketahui
secara pasti. Indikator yang diperoleh secara survey oleh pemerintah ataupun lembaga yang
berkepentingan digunakan sebagai tolak ukur untuk mengawasi dan merumuskan suatu
kebijakan. Dapat disimpulkan bahwa indicator pembangunan ekonomi adalah suatu
instrument untuk mengetahui derajat pembangunan yang dilakukan oleh suatu Negara yang
meliputi beberapa aspek.
Adapun pentingnya indicator-indikator pembangunan ekonomi adalah sebagai berikut :

1. Memantau perilaku perekonomian


2. Kepentingan analisis ekonomi
3. Dasar pengambilan keputusan
4. Dasar perbandingan internasional

Pembangunan Ekonomi memiliki tiga Indikator pokok, berikut ini adalah penjelasan dari
masing-masing Indikator Pembangunan Ekonomi :

A. Indikator Moneter
Indikator ini berkaitan dengan uang. Uang disini berupa tingkat income yang diterima oleh
masyarakat. Dalam indicator moneter, ada beberapa indicator yang dapat diukur, yakni :

1. Pendapatan Per Kapita


Pendapatan per kapita seringkali digunakan pula sebagai indicator pembangunan selain
untuk membedakan tingkat kemajuan ekonomi antara Negara-negara nmaju dengan Negara
sedang berkembang. Pendapatan per kapita selain dapat memberikan gambaran tentang laju
pertumbuhan kesejahteraan masyarakat di berbagai Negara juga dapat menggambarkan
perubahan corak perbedaan tingkat kesejahteraan masyarakat yang sudah terjadi di antara
berbagai Negara.

Melalui indikator pendapatan perkapita ini Bank Dunia (2003) mengklasifikasikan negara
menjadi tiga golongan, yaitu :

1. Negara berpenghasilan rendah (low-income economies)


Negara-negara ini memiliki Pendapatan perkapita Kurang atau sama dengan US$ 745 pada
tahun 2001.

2. Negara berpenghasilan menengah (middle-income economies)


Kelompok Negara ini memiliki Pendapatan perkapita lebih dari US$ 745 namun kurang
dari US$ 8.626 pada tahun 2001. kelompok Negara ini dibagi menjadi :

1) Negara berpenghasilan menengah papan bawah (lower-middle-income


economies)dengan GDP perkapita antara US$ 746 sampai US$2.975.
2) Negara berpenghasilan menengah papan atas (upper-middle-income economies) dengan
GDP perkapita antara US$2.976 sampai US$ 9.025.
3. Negara berpenghasilan tinggi (high- income economies)
Negara di dalam kelompok ini mempunyai GDP perkapita sebesar US$ 9.206 atau lebih
pada tahun 2001.

Dalam metode Purchasing Power Parity dikenal dua versi yaitu versi absolut dan versi
relatif (Kuncoro, 2001: bab 10).Versi absolut menjelaskan bahwa kurs spot ditentukan oleh
harga relative dari sejumlah barang yang sama (ditunjukkan oleh indeks harga).Sedangkan,
versi relatif mengatakan bahwa persentase perubahan kurs nominal akan sama dengan
perbedaan inflasi di antara kedua negara.

Dalam menggunakan pendapatan per kapita sebagai indicator pembangunan, kita harus
senantiasa hati-hati dan teliti. Hal ini disebabkan oleh adanya pendapat yang mengatakan
pembangunan itu bukan hanya sekedar meningkatkan pendapatan riil saja, akan tetapi
kenaikan tersebut haruslah berkesinambungan yang disertai dengan perubahan sikap-sikap
dan kebiasaan-kebiasaan social yang sebelumnya menghambat kemajuan-kemajuan
ekonomi.

B. Indikator Non-Moneter
Indikator ini merupakan indicator yang diambil dari beberapa hal pokok yang berkaitan
dengan kehidupan masyarakat. Sama halnya dengan indicator sebelumnya, Indikator
memiliki beberapa macam-macam sub- Indikator. Berikut ini adalah uraiannya.

1. Indikator Sosial
Ahli Pembangunan Ekonomi yang bernama Beckerman membedakan berbagai penelitian
tentang cara-cara membandingkan tingkat kesejahteraan dalam 3 kelompok.

Kelompok pertama, merupakan suatu usaha untuk membandingkan tingkat kesejahteraan


yang terjadi dalam masyarakat yang ada di dalam dua atau beberapa Negara dengan cara
memperbaiki pelaksanaan dalam perhitungan pendapatan nasional biasa. Usaha ini
dipelopori oleh Colin Clark yang selanjutnya disempurnakan oleh Gilbert dan Kravis.

Kelompok kedua, dengan usaha membuat penyesuaian dalam pendapatan masyarakat yang
dibandingkan dengan melihat pertimbangan perbedaan tingkat harga disetiap Negara.

Kelompok ketiga, adalah usaha untuk membuat perbandingan tingkat kesejahteraan dari
setiap Negara berdasarkan pada data yang tidak bersifat moneter seperti, jumlah kendaraan
bermotor, konsumsi minyak, jumlah penduduk yang mengenyam pendidikan, dan usaha ini
dipelopori oleh tokoh yang bernama Bennet.
Menurut Beckerman, dari tiga cara diatas, cara yang dirasa paling tepat adalah cara yang
dilakukan oleh Gilbert dan Kravis. Cara ini merupakan usaha untuk membandingkan
tingkat kesejahteraan dan pembangunan di berbagai Negara dengan memperbaiki metode
pembanding dengan menggunakan data pendapatan nasional dari masing-masing Negara.

Dengan cara-cara diatas memiliki kelemahan pada Negara sedang berkembang. Pada
dasarnya Negara berkembang tidak memiliki data-data tentang cara-cara diatas. Sehingga
Beckerman mengemukakan lagi cara yang lain dalam membandingkan tingkat
kesejahteraan masyarakat di berbagai Negara yaitu dengan menggunakan data yang bukan
bersifat moneter untuk menentukkan indeks kesejahteraan masyarakat disetiap Negara.
Cara ini sering disebut dengan Indikator Non-Moneter Disederhanakan. Untuk itu, berikut
adalah data yang dapat digunakan untuk memperoleh indikator tersebut.

 Jumlah konsumsi baja dalam satu tahun (kg)


 Jumlah konsumsi semen dalam satu tahun dikalikan 10 (ton)
 Jumlah surat dalam negeri dalam satu tahun.
 Jumlah persediaan pesawat radio dikalikan 10.
 Jumlah persediaan telpon dikalikan 10.
 Jumlah persediaan berbagai jenis kendaraan.
 Jumlah konsumsi daging dalam satu tahun (kg).

Usaha lain juga dilakukan oleh United Nations Research Institute for Social Development
(UNRISD) untuk menentukan dan membandingkan tingkat kesejahteraan suatu Negara.
Untuk menciptakan indeks taraf pembangunan, ada 18 jenis data yang harus diperoleh
yakni :

 Tingkat harapan hidup.


 Konsumsi protein hewani perkapita.
 Presentase anak-anak yang belajar di sekolah dasar dan menengah.
 Persentase jumlah anak yang bersekolah di kejuruan.

Apabila indeks pembangunan yang diusulkan oleh UNRISD ini digunakan sebagai
indicator kesejahteraan atau pembangunan ekonomi, maka perbedaan tingkat pembangunan
antara negara maju dan negara sedang berkembang tidak terlalu besar seperti yang
digambarkan berdasarkan pendapatan perkapita masing-masing Negara.
2. Indeks Kualitas Hidup dan Indeks Pembangunan Manusia
Untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat, ada sebuah indeks gabungan yang
dikenal dengan Physical Quality of Line Index (PQLI) dan Indeks Kualitas Hidup (IKH).
Indeks ini diperkenalkan oleh Morris D. Morris. Indeks Kulaitas Hidup (IKH) terdiri dari 3
indikator yakni, tingkat harapan hidup, angka kematian, dan tingkat melek huruf.

Sejak tahun 1990, United Netions for Development Program (UNDP) mengembangkan
indeks yang sering dikenal dengan istilah Indeks Pembangunan Manusia (HDI). Sedangkan
indicator yang digunakan untu mengukur indeks ini adalah :

1. Tingkat harapan hidup.


2. Tingkat melek huruf masyarakat.
3. Pendapatan riil perkapita berdasarkan daya beli masing-masing Negara.

Indeks HDI ini besarannya antara 0 sampai dengan 1,0. Apabila angka indeks yang
diperoleh dari suatu Negara mendekati 1, maka HDI di Negara tersebut semakin tinggi.
Sedangkan, apabila angka indeks mendekati 0, maka Negara tersebut memiliki indeks
pembangunan manusia yang rendah.

C. Indikator Campuran

1. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu indicator yang digunakan dalam mengukur pembangunan ekonomi
suatu Negara. Pada umumnya, dalam Negara maju tingkat pendidikan rata-rata tinggi
dengan TPAK dari tahun ketahun selalu meningkat. Negara maju sangat memperhatikan
tingkat pendidikan para penduduknya. Berbeda dengan Negara sedang berkembang,
pendidikan di NSB masih rendah jika dibandingkan Negara maju. Terbukti tingkat melek
huruf dan TPAk serta angka partisipasi sekolah masih rendah. Sehingga, dari perbandingan
tersebut, indicator yang dapat diukur dalam pendidikan yakni ; tingkat pendidikan, tingkat
melek huruf, dan tingkat partisipasi pendidikan.

2. Kesehatan
Kesehatan merupakan hak asasi yang harus dipenuhi demi keberlangsungannya kehidupan
bermasyarakat. Indikator tingkat kesehatan dapat dilihat dari rata-rata hari sakit dan
ketersediaannya fasilitas kesehatan. Ketika terpenuhinya pembangunan ekonomi berupa
kesejahteraan dalam bidang kesehatan, dapat dilihat dari beberapa indikasi berupa tingkat
mortalitas yang rendah, angka pertumbuhan penduduk yang tinggi, dan angka harapan
hidup yang tinggi.
3. Perumahan
Rumah merupakan kebutuhan primer yang harus terpenuhi oleh masing-masing
penduduk. Indicator perumahan yang sesuai dengan tujuan kesejahteraan penduduk yakni
sumber air bersih dan listrik, sanitasi, dan mutu rumah tinggal.

4. Angkatan Kerja
Penduduk yang dikatakan angkatan kerja adalah orang yang telah berumur 15-64 tahun.
Angkatan kerja ini juga dibagi lagi menjadi dua yakni bekerja dan sedang mencari
pekerjaan (Menganggur). Indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kesejahteraan
angkatan kerja adalah, partisipasi tenaga kerja, jumlah jam kerja, sumber penghasilan
utama, dan status pekerjaan.

5. KB dan Fertilitas
Indikator yang dapat digunakan yakni, penggunaan asi, tingkat imunisasi, kehadiran tenaga
kesehatan pada kelahiran, dan penggunaan alat kontrasepsi.

6. Ekonomi
Pembangunan ekonomi pada dasarnya di ikuti dengan pertumbuhan ekonomi. Dengan
adanya pertumbuhan ekonomi, kita dapat melihat Indikator ekonomi itu sendiri, yakni
tingkat pendapatan dan konsumsi per kapita.

7. Kriminalitas
Pada dasarnya Negara maju memiliki tingkat kriminalitas yang rendah, hal ini disebabkan
sudah lengkapnya alat keamanan Negara yang digunakan oleh Negara tersebut. Hal ini
berbeda dengan keadaan di Negara sedang berkembang. Di NSB, banyak terjadi
kriminalitas yang disebabkan beberapa factor seperti adanya cultural shock, ketidak
mampuan dalam memenuhi kebutuhan, dan adanya kepentingan dari suatu pihan. Indicator
kriminalitas itu sendiri diantaranya adalah, jumlah pencurian per tahun, jumlah
pembunuhan per tahun, dan jumlah pemerkosaan per tahun.

8. Perjalanan Wisata
Indikatornya adalah frekuensi perjalanan wiata per tahun.

9. Akses Media Massa


Akses media bertujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi dalam masyarakat itu sendiri.
Indikatornya antara lain : jumlah surat kabar, jumlah radio, dan jumlah televisi.

D. Berikut beberapa perbandingan indikator pembangunan ekonomi indonesia dengan


beberapa negara lainya :Jika di lihat dari tingkat PDB ( Pendapatan domestik Bruto )
Indonesia berada pada peringkat 18 dunia. Data ini di dapatkan dari world bank tahun 2009,
namun apabila mengacu pada data world bank tahun 2010 Indonesia Indonesia menduduki
peringkat ke 16 dunia, naik dua tingkat dari peringkat tahun 2009.
2.3.Perkembangan Ekonomi di indonesia

MASA PASCA KEMERDEKAAN (1945-1950)


Pada masa awal kemerdekaan, keadaan ekonomi Indonesia sangat buruk, yang antara lain
disebabkan oleh :

– Inflasi yang sangat tinggi, hal ini disebabkan karena beredarnya lebih dari satu mata uang
secara tidak terkendali. Pada waktu itu, untuk sementara waktu pemerintah RI menyatakan
tiga mata uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu mata uang De Javashe Bank, mata uang
pemerintah Hindia Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang. Pada tanggal 6 Maret
1946, Panglima AFNEI (Allied Forces for Netherlands East Indies/pasukan sekutu)
mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang dikuasai sekutu. Pada bulan
Oktober 1946, pemerintah RI juga mengeluarkan uang kertas baru, yaitu ORI (Oeang
Republik Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. Berdasarkan teori moneter, banyaknya
jumlah uang yang beredar mempengaruhi kenaikan tingkat harga.

– Adanya blockade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945 untuk menutup
pintu perdagangan luar negeri RI.

– Kas Negara kosong

– Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan

Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan ekonomi,antara lain :


Program Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh menteri keuangan IR. Surachman pada
bulan Juli 1946.

Upaya menembus blockade dengan diplomasi beras ke, mengadakan kontak dengan
perusahaan swasta Amerika, dan menembus blockade Belanda di Sumatera dengan tujuan
ke Singapura dan Malaysia.

Konferensi Ekonomi Februari 1946 dengan tujuan untuk memperoleh kesepakatan yang
bulat dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang mendesak, yaitu : masalah
produksi dan distribusi makanan, masalah sandang, serta status dan administrasi
perkebunan-perkebunan.
Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947
Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948, mengalihkan tenaga bekas
angkatan perang ke bidang-bidang produktif.

Kasimo Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk
pelaksanaan yang praktis. Dengan swasembada pangan, diharapkan perekonomian akan
membaik (mengikuti Mazhab Fisiokrat : sektor pertanian merupakan sumber kekayaan).
ORDE BARU (1966-1997)

Pada awal orde baru, stabilisasi ekonomi dan stabilisasi politik menjadi prioritas
utama. Program pemerintah berorientasi pada usaha pengendalian inflasi, penyelamatan
keuangan negara dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Pengendalian inflasi mutlak
dibutuhkan, karena pada awal 1966 tingkat inflasi kurang lebih 650 % per tahun.

Setelah melihat pengalaman masa lalu, dimana dalam sistem ekonomi liberal ternyata
pengusaha pribumi kalah bersaing dengan pengusaha nonpribumi dan sistem etatisme tidak
memperbaiki keadaan, maka dipilihlah sistem ekonomi campuran dalam kerangka sistem
ekonomi demokrasi pancasila. Ini merupakan praktek dari salahsatu teori Keynes tentang
campur tangan pemerintah dalam perekonomian secara terbatas. Jadi, dalam kondisi-
kondisi dan masalah-masalah tertentu, pasar tidak dibiarkan menentukan sendiri. Misalnya
dalam penentuan UMR dan perluasan kesempatan kerja. Ini adalah awal era Keynes di
Indonesia. Kebijakan-kebijakan pemerintah mulai berkiblat pada teori-teori Keynesian.
Kebijakan ekonominya diarahkan pada pembangunan di segala bidang, tercermin dalam 8
jalur pemerataan : kebutuhan pokok, pendidikan dan kesehatan, pembagian pendapatan,
kesempatan kerja, kesempatan berusaha, partisipasi wanita dan generasi muda, penyebaran
pembangunan, dan peradilan. Maka sejak tahun 1969, Indonesia dapat memulai
membentuk rancangan pembangunan yang disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun
(REPELITA).

Berikut penjelasan singkat tentang beberapa REPELITA:

REPELITA I (1967-1974)
Mulai berlaku sejak tanggal 1april 1969. Tujuan yang ingin dicapai adalah pertumbuhan
ekonomi 5% per tahun dengan sasaran yang diutamakan adalah cukup pangan, cukup
sandang, perbaikan prasarana terutama untuk menunjang pertanian. Tentunya akan diikuti
oleh adanya perluasan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

REPALITA II (1974-1979)
Target pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 7,5% per tahun. Prioritas utamanya adalah
sektor pertanian yang merupakan dasar untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri
dan merupakan dasar tumbuhnya industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan
baku.

REPALITA III (1979-1984)


Prioritas tetaap pada pembangunan ekonomi yang dititikberatkan pada sector pertanian
menuju swasembada pangan, serta peningkatan industri yang mengolah bahan baku
menjadi bahan jadi.
REPALITA IV (1984-1989)
Adalah peningkatan dari REPELITA III. Peningkatan usaha-usaha untuk memperbaiki
kesejahteraan rakyat, mendorong pembagian pendapatan yang lebih adil dan merata,
memperluas kesempatan kerja. Priorotasnya untuk melanjutkan usaha memantapkan
swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin
industri sendiri.

Jika ditarik kesimpulan maka pembangunan ekonomi menurut REPELITA adalah mengacu
pada sektor pertanian menuju swasembada pangan yang diikuti pertumbuhan industri
bertahap.

MASA REFORMASI
Pemerintahan reformasi diawali pada tahun 1998. Peristiwa ini dipelopori oleh ribuan
mahasiswa yang berdemo menuntut presiden Soeharto untuk turun dari jabatannya
dikarenakan pemerintahan Bapak Soerhato dianggap telah banyak merugikan Negara dan
banyak yang melakukan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Tahun 1998 merupakan
tahun terberat bagi pembangunan ekonomi di Indonesia sebagai akibat krisis moneter di
Asia yang dampaknya sangat terasa di Indonesia. Nilai rupiah yang semula 1 US$ senilai
Rp. 2.000,- menjadi sekitar Rp. 10.000,- bahkan mencapai Rp. 12.000,- (5 kali lipat
penurunan nilai rupiah terhadap dolar). Artinya, nilai Rp. 1.000.000,- sebelum tahun 1998
senilai dengan 500 US$ namun setelah tahun 1998 menjadi hanya 100 US$. Hutang Negara
Indonesia yang jatuh tempo saat itu dan harus dibayar dalam bentuk dolar, membengkak
menjadi lima kali lipatnya karena uang yang dimiliki berbentuk rupiah dan harus dibayar
dalam bentuk dolar Amerika. Ditambah lagi dengan hutang swasta yang kemudian harus
dibayar Negara Indonesia sebagai syarat untuk mendapat pinjaman dari International
Monetary Fund (IMF). Tercatat hutang Indonesia membengkak menjadi US$ 70,9 milyar
(US$20 milyar adalah hutang komersial swasta).

Pemerintahan reformasi dari tahun 1998 sampai sekarang sudah mengalami beberapa
pergantian presiden, antara lain yaitu :
Bapak B.J Habibie (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999)
Pada saat pemerintahan presdiden B.J Habibie yang mengawali masa reformasi belum
melakukan perubahan-perubahan yang cukup berarti di bidang ekonomi. Kebijakan-
kebijakannya diutamakan untuk menstabilkan keadaan politik di Indonesia. Presiden B.J
Habibie jatuh dari pemerintahannya karena melepaskan wilayah Timor-timor dari Wilayah
Indonesia melalui jejak pendapat
Bapak Abdurrahman Wahid (20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001)

Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman wahid pun belum ada tindakan yang
cukup berati untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan. Kepemimpinan
Abdurraman Wahid berakhir karena pemerintahannya mengahadapi masalah konflik antar
etnis dan antar agama.
Ibu Megawati (23 Juli 2001 – 20 Oktober 2004)
Masa kepemimpinan Megawati mengalami masalah-masalah yang mendesak yang harus
diselesaikan yaitu pemulihan ekonomi dan penegakan hokum.

Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasai persoalan-persoalan ekonomi antara


lain :
– Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 milyar pada pertemuan Paris
Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116.3 triliun
– Kebijakan privatisasi BUMN. Privatisasi adalah menjual perusahaan negara di dalam
periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatan-
kekuatan politik dan mengurangi beban negara. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,1 %. Namun kebijakan ini memicu banyak
kontroversi, karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing. Megawati
bermaksud mengambil jalan tengah dengan menjual beberapa asset Negara untuk
membayar hutang luar negeri. Akan tetapi, hutang Negara tetap saja menggelembung
karena pemasukan Negara dari berbagai asset telah hilang dan pendapatan Negara menjadi
sangat berkurang.

Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (20 Oktober 2004-sekarang)

Masa kepemimpinan SBY terdapat kebijakan yang sikapnya kontroversial yaitu :

– Mengurangi subsidi BBM atau dengan kata lain menaikkan harga BBM. Kebijakan ini
dilatarbelakangi oleh naiknya harga minyak dunia. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke
sektor pendidikan dan kesehatan, serta bidang-bidang yang mendukung kesejahteraan
masyarakat.
– Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial kedua,
yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Kebanyakan BLT tidak
sampai ke tangan yang berhak, dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial.
– Mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. Salah
satunya adalah diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006
lalu, yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepaladaerah. Investasi merupakan
faktor utama untuk menentukan kesempatan kerja. Mungkin ini mendasari kebijakan
pemerintah yang selalu ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor, terutama
investor asing, yang salah satunya adalah revisi undang-undang ketenagakerjaan. Jika
semakin banyak investasi asing di Indonesia, diharapkan jumlah kesempatan kerja juga
akan bertambah.
– Lembaga kenegaraan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang dijalankan pada
pemerintahan SBY mampu memberantas para koruptor tetapi masih tertinggal jauh dari
jangkauan sebelumnya karena SBY menerapkan sistem Soft Law bukan Hard Law. Artinya
SBY tidak menindak tegas orang-orang yang melakukan KKN sehingga banyak terjadi
money politic dan koruptor-koruptor tidak akan jera dan banyak yang mengulanginya.
Dilihat dari semua itu Negara dapat dirugikan secara besar-besaran dan sampai saat ini
perekonomian Negara tidak stabil.
– Program konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas dikarenakan persediaan
bahan bakar minyak semakin menipis dan harga di pasaran tinggi.
– Kebijakan impor beras, tetapi kebijakan ini membuat para petani menjerit karena harga
gabah menjadi anjlok atau turun drastis

Pada tahun 2006 Indonesia melunasi seluruh sisa hutang pada IMF (International Monetary
Fund). Dengan ini, maka diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-agenda IMF
dalam menentukan kebijakan dalam negeri. Namun wacana untuk berhutang lagi pada luar
negri kembali mencuat, setelah keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara
penduduk kaya dan miskin menajam, dan jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10
jiwa di bulan Februari 2005 menjadi 39,05 juta jiwa pada bulan Maret 2006. Hal ini
disebabkan karena beberapa hal, antara lain karena pengucuran kredit perbankan ke sektor
riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan dana di SBI), sehingga kinerja
sektor riil kurang dan berimbas pada turunnya investasi. Pengeluaran Negara pun juga
semakin membengkak dikarenakan sering terjadinya bencana alam yang menimpa negeri
ini.
BAB III
PENUTUP
3.1.KESIMPULAN

Perekonomian Indonesia sejak masa penjajahan, pemerintahan masa orde lama hingga
masa reformasi masih mengalami beberapa gejolak. Perekonomian Indonesia masih jatuh
bangun. Hal itu dapat dilihat dari :
– Kemiskinan yang masih ada
– Pengangguran tingkat tinggi dikarenakan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia
tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja
– Maraknya para koruptor karena hukum di negeri ini kurang tegas (Indonesia termasuk
dalam 5 terbesar Negara terkorup didunia)
– Masih terjadi kesenjangan ekonomi antara penduduk yang miskin dan yang kaya
– Masih memiliki hutang ke luar negeri
DAFTAR PUSTAKA

http://kumpulanmakalahupdate.blogspot.co.id/
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia
Dumairy, Perekonomian Indonesia, Erlangga, Jakarta, 1996.
PERKEMBANGAN EKONOMI DI INDONESIA
2017

D
I
S
U
S
U
N

Oleh :

Nama : Febrian S.M Nainggolan


NPM : 17520171

UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN


FAKULTAS EKONOMI
PRODI MANAJEMEN T.A 2017/2018