Anda di halaman 1dari 2

RANGKUMAN BUKU PANCASILA RUKIYATI

Landasan pendidikan pancasila berupa landasan yuridis, landasan historis, landasan


kultural dan landasan filosofis. Semua landasan ini mendukung secara rasional akan arti
pentingnya pendidikan Pancasila.

1. Landasan historis

Keberadaan pancasila sebagai dasar filsafat negara dapat ditelusuri secara


historis sejak adanya sejarah awal masyarakat Indonesia. Keberadaan masyarakat
ini dapat dilacak melalui berbagai peninggalan sejarah yang berupa peradaban,
agama, hidup ketatanegaraan, kegotongroyongan, struktur sosial dari masyarakat
Indonesia.

2. Landasan yuridis

Pendidikan pancasila memiliki landasan yuridis yang dapat dilihat dasar


rasionalnya dimulai dari tujuan negara indonesia yang termuat di dalam
pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagai
konsekuensi dari adanya tujuan negara tersebut, maka negara berkewajiban untuk
menyelenggarakan pendidikan nasional untuk warga negaranya.

3. Landasan filosofis

Pendidikan pancasila di perguruan tinggi merupakan kajian ilmiah yang


bersifat interdisipliner (kajian antar-bidang). Pembahasan ini mendudukkan
pancasila dari dua sisi. Pertama, pancasila diposisikan sebagai objek formal
(perspektif) dalam menyelesaikan berbagai macam persoalan kehidupan
berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di indonesia.

Manusia adalah makhluk berpikir. Aristoteles menyatakan dengan istilah animal


rationale. Oleh karena kemampuan berpikir ini manusia dapat memahami dan menghasilkan
pengetahuan. Pengetahuan ini diperoleh secara spontan dan ada yang diperoleh secara
sistematis reflektif. Pancasila sebagai pengetahuan manusia merupakan pengetahuan yang
reflektif, bukan pengetahuan spontan. Proses penemuan pengetahuan pancasila ini diperoleh
melalui kajian empiris dan filosofis terhadap berbagai ide atau gagasan, peristiwa dan
fenomena sosio-kultural religius masyarakat indonesia.

Pancasila sebagai pengetahuan ilmiah filosofis dapat dipahami dari sisi verbalis,
konotatif, denotatif. Pengetahuan verbalis dimaksudkan upaya memahami pancasila dari
aspek rangkaian kata kata yang diucapkan. Pengetahuan konotatif dimaksudkan upaya
memahami pancasila dengan menggunakan ratio. Pancasila dipahami, ditafsirkan dan
dimaknai dengan menggunakan metode ilmiah. Kajian ilmiah merupakan salah satu
pemahaman konotatif.
Pengetahuan manusia tidak akan mencapai pengetahuan yang mutlak, termasuk
pengetahuan tentang pancasila, karena keterbatasan daya pikir dan kemampuan manusia.
Pengetahuan manusia bersifat evolutif, terus menerus berkembang dan bertambah juga dapat
berkurang. Pengetahuan yang dikejar manusia identik dengan pengejaran kebenaran. Oleh
karena itu kalau seseorang memperoleh pengetahuan, maka diandaikan pengetahuan yang
diperolehnya adalah benar. Ada beberapa kriteria tentang kebenaran yang sejak dulu
dijadikan acuan para ilmuwan dalam mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan manusia
merupakan proses panjang yang dimulai dari purwa-madya-wasana (awal-proses-akhir).
Akhir proses pengetahuan manusia diungkapkan melalui pernyataan pernyataan yang benar.
Dari kriteria ini diperoleh 4 maca, teori kebenaran;

1. Teori kebenaran koherensi


2. Teori kebenaran korespondensi
3. Teori kebenaran pragmatisme
4. Teori kebenaran konsensus

Ilmu pengetahuan merupakan kumpulan usaha manusia untuk memahami kenyataan


sejauh dapat dijangkau oleh daya pemikiran manusia berdasarkan pengalaman secara empirik
dan reflektif. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi sehingga pengetahuan itu dapat
dikatakan sebagai suatu ilmu. Poedjawijatna menyebutnya sebagai syarat ilmiah (Kaelan,
1998), yaitu:

1. Berobjek
2. Bermetode
3. Bersistem
4. Bersifat umum / universal.

Bentuk pancasila merupakan satu kesatuan yang utuh. Setiap unsur pembentuk
pancasila merupakan unsur mutlak yang membentuk kesatuan, bukan unsur yang
komplementer. Sebagai satu kesatuan yang mutlak, tidak dapat ditambah atau dikurangi.