Anda di halaman 1dari 6

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
Kondisi dimana myometrium tidak dapat berkontraksi segera setelah melahirkan.
Antonia uteri terjadi jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 15 detik setelah
dilakukan rangsana taktil (massage) fundus uteri, segera setelah lairnya plasenta (Nita
Nurma, 2013)
Antonia Uteri (relaksasi otot uterus) adalah uteri tidak berkontraksi dalam 15
detik setelah dilakukan pemijatan fundus uteri (plasenta telah lahir) (JNPKR, Asuhan
Persalinan Normal,2002)
Antonia uteri adalah perdarahan pasca persalinan yang dapat terjadi karena
terlepasnya sebagian plasenta dari uterus dan sebagian lagi belum terlepas sehingga tidak
ada terjadinya kontraksi (Anik Maryunani, 2009)
B. Etiologi
Menurut ( Prawirahardjo, 2008)
1. Regangan rahim yang berlebihan dikarenakan polihidramnion, kehamilan kembar,
makrosemia atau janin berat
2. Persalinan yang lama dimaksud merupakan persalinan yang memanjang pada kala
satu dan kala dua yang terlalu lama. Kelemahan akibat partus lama bukan hanya
rahim yang lemah, cenderung berkontraksi lemah setelah melahirka,
3. Persalinan yang terlalu cepat atau persalinan spontan
4. Persalinan yang diinduksi atau dipercepat dengan oksitosin
5. Multiparitas yang sangat tinggi
6. Ibu dengan usia yang terlalu muda dan terlalu tua serta keadaan umum ibu yang jelek,
anemis atau menderita penyakit menahun. Terjadinya peningkatan kejadian atonia
uteri sejalan dengan meningkatnya umur ibu yang diatas 5 tahun dan usia yang
seharusnya belum siap untuk dibuahi. Hal ini dapat diterangkan karena makin tua
umur ibu, makin tinggi frekuensi perdarahan yang terjadi.
7. Jarak kehamlan yang dekat ( kurang dari dua tahun )
8. Bekas operasi Caesar
9. Pernah abortus (keguguran) sebelumnya. Bila terjadi riwayat pesalinan kurang baik,
ibu sebaiknya melahirkan dirumah sakit dan jangan dirumah sendiri
10. Dapat terjadi akibat melakukan plasenta dengan memijat dan mendorong uterus
kebawah sementara uterus belum terlepas dari tempat implannya atau uterus.
C. Klasifikasi
1. Perdarahan post partum primer (early postpartum hemorrhage) yang terjadi dalam 24
jam setelah anak lahir
2. Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage)yang terjadi setelah 24
jam, biasanya antara hari 5 sampai 15 postpartum
D. Tanda dan Gejala
Adapun tanda dan gejala :
1. Perdarahan segera setelah anak lahir
2. Pada palpasi, meraba fundus uteri disertai perdarahan yang memancur dari jalan lahir
3. Perut terasa lembek atau tidak adanya kontraksi
4. Perut terlihat membesar
5. Uterus tidak berkontraksi dan lembek
E. Patofisiologi
Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan
setelah melahirkan. Atonia uteri terjadi karena kegagalan mekanisme ini. Perdarahan
pospartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang
mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah implantasi plasenta. Atonia
uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tersebut tidak berkontraksi. (Cuningham,
2005)
Miometrium terdiri dari tiga lapisan dan lapisan tengah merupakan bagian yang
terpenting dalam hal kontraksi untuk menghentikan perdarahan postpartum, lapisan
tengah miometrium tersusun sebagai anyaman dan ditembus oleh pembuluh darah.
Masing-masing serabut mempunyai dua buah lengkungan sehingga setiap dua buah
serabut kira-kira membentuk angka delapan. Setelah partus, dengan adanya susunan otot
seperti diatas, jika otot berkontraksi akan menjepit pembuluh darah. Ketidakmampuan
miometrium untuk berkontraksi ini akan menyebabkan pembuluh darah pada uterus tetap
vasodilatasi sehingga terjadi perdarahan postpartum (Cuningham, 2005)
Perdarahan postpartum bisa dikendalikan melalui kontraksi dan retraksi serat-
serat myometrium. Kontraksi dan retraksi ini menyebabkan terlipatnya pembuluh-
pembuluh darah sehingga aliran ke darah ke tempat plasenta menjadi terhenti. Kegagalan
mekanisme akibat gangguan fungsi myometrium dinamakan atonia uteri dan keadaan ini
menjadi penyebab utama perdarahan postpartum. Sekalipun pada kasus perdarahan
postpartum kadang-kdang sama sekali tidak disangka Antonia uteri sebagai penyebabnya,
namun adanya factor predisposisi dalam banyak hal harus menimbulkan kewaspadaan
perawat terhadap gangguan tersebut. (Vciky Chapman, 2006)
F. Pencegahan
Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko perdarahan
postpartum lebih dari 40 % dan juga dapat mengurangi kebutuhan obat tersebut sebagai
terapi. Manajemen aktif kala III dapat mengurangi jumlah perdarahan dalam persalinan,
anemia dan kebutuhan tranfusi darah (Hidayat 2009)
Kegunaan utama oksitosin sebagai pencegahan atonia uteri yaitu onsetnya yang
cepat dan tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau kontraksi tetani seperti
ergometrin. Pemberian oksitosin paling bermanfaat untuk mencegah atonia uteri. Pada
manajemen kala III harus dilakukan pemberian oksitosin setalah bayi lahir. Aktif protocol
yaitu pemberian 10 unit IM, 5 unit IV bolus atau 10-20 unit per liter IV drip 100-150
cc/jam (Hidayat,2009)
Analog sintetik oksitosin yaitu karbetosin saat ini sedang diteliti sebagai
uterotonika untuk mencegah dan mengatasi perdarahan postpartum dini. Karbetosin
merupakan obat long-acting dan onset. Kerjanya cepat, mempunyai waktu paruh 40
menit dibandingkan oksitosin 4-10 menit.
G. Penatalaksanaan
1. Segera lakukan kompresi bimanual internal
2. Berikan 0,2 mg ergometrin IM atau misoprostol 600 – 1000 mcg per rectal. Jangan
berikan ergometrin kepada ibu dengan hipertensi karena ergometrin dapat menaikkan
tekanan darah
3. Gunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18 ), pasang infuse dan berikan
500 cc larutan ringer laktat yang mengandung 20 unit oksitosin
4. Pakai sarung tangan steril atau disinfeksi tingkat tinggi dan ulangi KBI
5. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 1 sampai 2 menit, segera rujuk

H. Komplikasi
Komplikasi pada atonia uteri yaitu perdarahan post partum primer yang dapat
mengakibatkan syok. Bila terjadi syok yang berat dan pasien selamat, dapat terjadi
komplikasi lanjutan yaitu anemia dan infeksi dalam masa nifas. Infeksi dalam keadaan
anemia bisa berlangsung berat sampai sepsis. Pada perdarahan yang disertai oleh
intravaskuler merata dapat terjadi kegagalan fungsi organ-organ seperti gagal ginjal
mendadak
I. WOC
J. Asuhan Keperawatan
1. Diagnosa Keperawatan

a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif


perdarahan
b. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan perfusi
darah keperifer
c. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, stasis cairan tubuh,
penurunan hb
d. Deficit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
e. Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam fungsi peran
2. Intervensi Keperawatan

N Diagnosa Keperawatan Tujuan Nic


o

1. Defisien volume cairan  Noc - pencegahan perdarahan


- perilaku patuh: diet
-pengurangan
yang sehat
perdarahan:uterus
- kadar glukosa darah antepartum
- eliminasi usus -pengurangan
perdarahan: post partum
- keberhasilan
menyusui: bayi - pemberian produk-
produk darah
- perilaku patuh: diet
yang disarankan - menejemen alat akses
vena sentral
- keseimbangan
elektroilit dan asam - menejemen elektrolit
basa
- monitor elektrolit
- dll
- dll

2 Ketidak efektifan perfusi jaringan  Perilaku patuh:  menejemen


perifer ekstremitas yang asam basa
disarankan  monitor asam
 Pengetahuan proses basa
penyakit  menejemen
 Partisipasi dalam elektrolit/cairan
latihan  menejemen
 Keparahan hipertensi cairan
 Pengetahuan aktifitas  monitor cairan
disarankan  pengaturan
 Pengetahuan gaya hemodinamik
hidup sehat  menejemen
 Pengetahuan aktifitas hemodinamik
yang disarankan  monitor
 Keseimbangan gaya ekstremitas
hidup bawah
 dll  monitor
neurologi
 dll
DAFTAR PUSTAKA

Cunningham FG etc. editor Williams Obsetrics 21th Edition. EGC:Jakarta


Norma, Nita & Mustika Dwi.2013.Asuhan Kebidanan Patologi.Nuha Medika : Yogyakarta
Chapman, Vicky.2006.Asuhan kebidanan persalinan dan kelahiran.EGC : Jakarta
Anil, Maryunani.2009.Asuhan Kegawatdaruratan dalam Kebidanan TIM : Jakarta
Prawirohardjo, S.2008.Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Hidayat A, dkk.2009.Asuhan Patologi Kebidanan.Nuha Medika : Yogyakarta