Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR KIMIA ANALITIK

PERCOBAAN I

PENERAAN VOLUMETRI

OLEH

NAMA : HASRIANA

STAMBUK : F1C1 17 013

KELOMPOK : X (SEPULUH)

ASISTEN : WA NAZILA

LABORATORIUM KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2018
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pengukuran analitik sering kali digunakan dalam pengukuran atau riset

dalam bidang kimia. Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui nilai sebenarnya

dari suatu parameter kuantitas kimia. Nilai sebenarnya adalah nilai yang

mengkarakterisasi suatu kuantitas secara benar dan didefinisikan pada kondisi

tertentu yang eksis pada saat kuantitas tersebut diukur. Beberapa parameter yang

digunakan kemudian ditentukan secara analitik seperti volume, konsentrasi, titik

didih dan lain-lain. Pengukuran parameter ini sangat penting karena data yang

diperoleh nantinya menunjukkan nilai sebenarnya baik secara kualitatif maupun

kuantitatif.

Secara umum, data yng diperoleh dari pengukuran tersebut tidak terlepas

dari kesalahan. Salah satu cara digunakan untuk mengurangi kesalahan dalam

pengukuran analitik adalah dengan proses peneraan atau kalibrasi. Kalibrasi

adalah proses verifikasi alat-alat praktikum untuk memastikan keakuratan alat

sesuai rancangannya. Peneraan atau kalibrasi dapat dilakukan dengan

membandingkan suatu standar yang terhubung dengan standar nasional atau

internasional.
Alat-alat volumetrik adalah alat-alat yang digunakan untuk mengukur

volume seperti buret, labu takar, pipet volume dan sebagainya. Pada pengukuran

volume alat-alat tersebut dibutuhkan ketelitian, misalnya pada pengukuran volume

yang menggunakan alat-alat ukur gelas harus diperhatikan batas miniskus larutan

yang diukur volumenya menggunakan batas miniskus atas atau bawah. Pada alat

ukur volume seperti buret, labu takar, dan pipet volume juga berpengaruh dalam
pengukurannya. Suhu standar dalam pengukuran peralatan volumetrik yaitu 20ºC.

Apabila suhu berada diatas atau dibawah suhu standar maka volume yang

diperoleh bukan volume sebenarnya. Berdasarkan penjelasan diatas, maka

dilakukan percobaan peneraan volumetri untuk dapat melakukan peneraan

terhadap buret, labu takar dan pipet volume.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah percobaan ini adalah bagaimana cara melakukan

peneraan terhadap labu takar, dan pipet volume.

C. Tujuan

Tujuan yang akan dicapai pada percobaan ini adalah untuk mengetahui

cara melakukan peneraaan terhadap labu takar, dan pipet volume.

D. Manfaat

Manfaat yang dapat diperoleh dari percobaan ini adalah dapat mengetahui

cara melakukan peneraaan terhadap labu takar, dan pipet volume.

I. TINJAUAN PUSTAKA

Permasalahan ketidaktepatan dalam pengukuran dari suatu alat ukur dapat

diatasi dengan melakukan kalibrasi ulang pada alat tersebut. Kalibrasi alat ukur ini

bertujuan untuk memverifikasi bahwa suatu alat ukur sesuai dengan

rancangannya. Kalibrasi merupakan kegiatan yang membandingkan suatu standar

yang tertelusur dengan standar nasional atau internasional dan bahan-bahan acuan
tersersertifikasi. Manfaat kalibrasi adalah Menjaga kondisi instrumen ukur dan

bahan ukur agar tetap sesuai dengan spesefikasinya sehingga tetap akurat dan

presisi. Akurasi dalam pengukuran merupakan tingkat kedekatan pengukuran

kuantitas terhadap nilai yang sebenarnya sedangkan Kepresisian dari suatu sistem

pengukuran diartikan sejauh mana pengulangan pengukuran dalam kondisi yang

tidak berubah mendapatkan hasil yang sama (Fitrya, 2017).

Kalibrasi adalah suatu kegiatan untuk menentukan kebenaran kovensional

nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur. Pelaksanaan kalibrasi dilakukan

dengan cara membandingkan alat ukur dan bahan ukur yang akan dikalibrasi

terhadap sandar ukurnya yang mampu telusur (traceable) kestandar nasional dan

atau internasional. Kalibrasi bertujuan untuk menentukan deviasi kebenaran

konvensinal nilai penunjukkan suatu alat ukur, atau deviasi dimensi nominal yang

seharusnya suatu bahan ukur. Nilai deviasi akan menunjukkan kualitas alat ukur,

semakin kecil nilai deviasinya maka semakin baik pula kualitas alat ukur tersebut.

Setiap pengukuran pasti mengandung kesalahan (error). Kesalahan tersebut

ditimbulkan oleh berbagai faktor diantaranya adalah operator, instrumen ukur,

kondisi lingkungan, obyek ukur, metode pengukuran (Amani, 2015).

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengurangi kesalahan dalam

pengukuran analitik adalah dengan proses kalibrasi. Proses kalibrasi secara rutin

dan benar memiliki peranan penting dalam memberikan hasil analisis dengan

presisi dan akurasi yang terjaga termasuk dalam hal ini proses kalibrasi. Peran

teknisi laboratorium sangat diperlukan untuk menyediakan fasilitas kalibrasi

meliputi bahan dan peralatan pendukung, serta menyiapkan prosedur kalibrasi dan
standarisasi bagi para pemakai alat. Rendahnya tingkat perawatan peralatan juga

dapat menyebabkan kerusakan alat lebih cepat, yang berdampak kurang baik pada

hasil pemeriksaan laboratorium (Santoso, 2015).

Alat ukur dapat berfungsi sebagai salah satu penentu kualitas produk

karena dari awal kegiatan produksi kebenaran nilai ukur yang terbaca adalah

informasi yang sangat penting untuk melajutkan proses berikutnya sampai dengan

proses produksi selesai, untuk proses terakhir pun setelah produk jadi sebelum di

pasarkan, produk harus diuji dengan menggunakan alat-alat ukur yang dapat

dipercaya kebenarannya. Dengan demikian alat-alat ukur yang akurat, teliti dan

mampu menunjukan nilai kebenaran setiap pengukuran sangat diperlukan. Untuk

mengetahui sejauh mana keakuratan dan ketelitian alat ukur maka perlu dilakukan

kalibrasi. Kalibrasi adalah kegiatan membandingkan alat ukur terhadap standard

ukur, agar diperoleh informasi tentang seberapa jauh penyimpangan alat ukur

terhadap standar tersebut (Heriyadi, 2015).

II. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu Dan Tempat


Percobaan Peneraan Volumetri Rabu, 23 Oktober 2018 pukul 07.30 –

09.55 WITA bertempat di Laboratorium Kimia Organik, Jurusan Kimia, Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.


B.Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah pipet volume 10 mL,

pipet volume 25 mL, labu takar 50 mL, erlenmeyer 250 mL, timbangan analitik.

2. Bahan

Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah akuades dan tisu.

C. Prosedur Kerja
1. Peneraan Pipet Volume 10 mL

Akuades
- diambil menggunakan pipet volume yang
bersih dan kering hingga batas tera
- dikerluarkan perlahan-lahan kedalam
erlenmeyer yang telah diketahui beratnya
- ditimbang erlenmeyer yang berisi air dan
W0 = 10,06 g tentukan berat air di udara
- ditentukan
Wt = 10,0493 g volume air pada suhu tersebut (Vt)
- ditentukan
Vt = 10,0937 mL volume air (Vo) atau volume
kalibrasi
V0 = 10,091 mL
Penyimpangan = – 0,1211 mL

2. Peneraan Pipet Volume 25 mL

Akuades

- diambil menggunakan pipet volume yang


bersih dan kering hingga batas tera
- dikerluarkan perlahan-lahan kedalam
erlenmeyer yang telah diketahui beratnya
- ditimbang erlenmeyer yang berisi air dan
tentukan berat air di udara
- ditentukan volume air pada suhu tersebut (Vt)
- ditentukan volume air (Vo) atau volume
kalibrasi
W0 = 25,03 g
Wt = 25,003 g
Vt = 25,113 mL
V0 = 25,106 mL
Penyimpangan = – 0,136 mL
3. Peneraan Labu Takar

Akuades
- siapkan labu takar yang kosong dan bersih
serta kering
- ditimbang labu takarnya
- diisi labu takar sampai batas tera
- ditentukan berat air diudara
- ditentukan volumr air pada suhu kerja (Vt)
- ditentukan volume sesungguhnya (Vo)
- dibandingkan Vo dengan batas toleransi
W0 = 50,13 g
Wt = 50,07691874 g
Vt = 50,29823069 mL
V0 = 50,2856561 mL
Penyimpangan = – 0,3156561 mL
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

1. Tabel hasil pengamatan

 Peneraan pipet volume 10 mL dan 25 mL

Perlakuan Hasil
Berat erlenmeyer kosong 139,46 gram
Berat erlenmeyer + akuades (10 mL) 149,52 gram
Berat air di udara 10,06 gram
Berat erlenmeyer kosong 139,46 gram
Berat erlenmeyer + akuades (25 mL) 164,49 gram
Berat air di udara 25,03 gram

 Penerapan labu takar 50 mL

Perlakuan Hasil
Berat labu takar kosong 35,97 gram
Berat labu takar + akuades (10 mL) 86, 10 gram
Berat air di udara 50,13 gram

2. Analisis data

a. Peneraan pipet volume 10 mL

 W0 = Berat erlenmeyer isi – Berat erlenmeyer kosong

= 149,52 g – 139,46 g

= 10,06 g

 Wo = Wt + 0,0012 Wt (1/Bj(t) – 1/8,4)


Wt =

= 10,0493 g

 Vt = = = 10,0937 mL

 Vo = Vt + 0,000025 × Vt(To – T)

= 10,0937 mL + 0,000025 × 10,0937 mL (20 – 30)

= 10,0937 mL + 0,000025 × 10,0937 mL (–10)

= 10,0937 mL – 0,00252344 mL

=10,091 mL

 Penyimpangan = (10 mL – V0) – 0,03 mL

= (10 mL – 10,091 mL) – 0,03 mL

= – 0,0911 mL – 0,03 mL

= – 0,1211 mL

b. Peneraan Pipet Volume 25 mL


 W0 = Berat erlenmeyer isi – Berat erlenmeyer kosong

= 164,49 g – 139,46 g

= 25,03 g

 Wo = Wt + 0,0012 Wt (1/Bj(t) – 1/8,4)

Wt =

= 25,003 g

 Vt = = = 25,113 mL

 Vo = Vt + 0,000025 × Vt (T0 – T)

= 25,113 mL + 0,000025 × 25,113 mL (20 – 30)

= 25,113 mL + 0,000025 × 25,113 mL (–10)

= 25,113 mL – 0,006278 mL

= 25,106 mL
 Penyimpangan = (25 mL – V0 ) – 0,03 mL

= (25 mL – 25,106 mL ) – 0,03 mL

= – 0,106 mL – 0,03 mL

= – 0,136 mL

c. Peneraan Labu Takar 50 mL

 Wo = Labu takar yang berisi air – labu takar yang kosong

= 86,10g – 35,97g

= 50,13 g

 Wo = Wt + 0,0012 Wt (1/Bj(t) – 1/8,4)

Wt =

= 50,07691874 g

 Vt = = = 50,29823069 mL
 Vo = Vt + 0,000025 × Vt (T0 – T)

= 50,29823069 mL + 0,000025 x 50,29823069 mL (20 – 30)

= 50,29823069 mL + 0,000025 x 50,29823069 mL (–10)

= 50,29823069 mL – 0,012574558 mL

= 50,2856561 mL

 Penyimpangan = (50 mL – V0 ) – 0,03 mL

= (50 mL – 50,2856561 mL ) – 0,03 mL

= – 0,2856561 mL – 0,03 mL

= – 0,3156561 mL

B. Pembahasan

Alat-alat laboratorium sebelum digunakan harus dilakukan peneraan/

kalibrasi terlebih dahulu. Kalibrasi adalah suatu kegiatan untuk menentukan

kebenaran kovensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur. Pelaksanaan

kalibrasi dilakukan dengan cara membandingkan alat ukur dan bahan ukur yang

akan dikalibrasi terhadap sandar ukurnya yang mampu telusur (traceable)

kestandar nasional dan atau internasional. Kalibrasi bertujuan untuk menentukan

deviasi kebenaran konvensinal nilai penunjukkan suatu alat ukur, atau deviasi

dimensi nominal yang seharusnya suatu bahan ukur. Nilai deviasi akan
menunjukkan kualitas alat ukur, semakin kecil nilai deviasinya maka semakin

baik pula kualitas alat ukur tersebut.

Percobaan ini, alat-alat yang digunakan adalah alat-alat yang terbuat dari

gelas yang mempunyai tanda batas teraan, yaitu pipet volume dan labu takar.

Pengambilan larutan dengan volume tertentu merupakan fungsi dari pipet volume,

sedangkan fungsi dari labu ukur adalah sebagai wadah tempat pembuatan larutan

dengan ukuran volume tertentu. Larutan yang digunakan pada percobaan ini

adalah akuades, karena zat ini merupakan zat yang tidak berbahaya saat

digunakan sebagai sampel. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan,

diperoleh hasil pada perlakuan pertama yaitu peneraan terhadap pipet volume 10

mL berat erlemeyer kosong sebesar 139,46 gram dan berat erlenmeyer yang

berisikan akuades sebesar 149,52 gram. Hasil yang diperoleh yaitu berat air

diudara sebesar 10,06 gram dengan nilai Wt yang didapat sebesar 10,0493 gram,

nilai Vt sebesar 10,0937 mL dan Vo sebesar 10,091 mL dan menghasilkan nilai

penyimpangan sebesar – 0,1211 mL. Hasil percobaan ini menunjukan bahwa

yang dilakukan untuk peneraan terhadap pipet volume 10 mL terukur secara teliti

karena besarnya penyimpangan yang diperoleh tidak melewati batas toleransi

pipet volume.

Perlakuan kedua yaitu peneraan terhadap pipet volume 25 mL berat

erlemeyer kosong sebesar 139,46 gram dan berat erlenmeyer yang berisikan

akuades sebesar 164,49 gram. Hasil yang diperoleh yaitu berat air diudara sebesar

25,03 gram dengan nilai Wt yang didapat sebesar 25,003 gram, nilai Vt sebesar

25,113 mL dan Vo sebesar 25,106 mL dan menghasilkan nilai penyimpangan


sebesar – 0,136 mL. Hasil percobaan ini menunjukan bahwa yang dilakukan

untuk peneraan terhadap pipet volume 25 mL terukur secara teliti juga karena

besarnya penyimpangan yang diperoleh tidak melewati batas toleransi pipet

volume.

Peneraan selanjutnya dilakukan pada labu takar 50 mL, diperoleh berat

labu takar sebesar kosong 35,97 gram. Selanjutnya berat labu takar yang diisi

dengan akuades yaitu 86, 10 gram sehingga dapat diketahui berat air diudara

sebesar 50,13 gram. Adapun nilai Wt yang didapat sebesar 50,07691874 gram dan

nilai Vt sebesar 50,29823069 mL serta nilai Vo sebesar 50,2856561 mL. Nilai

penyimpangan yang diperoleh sebesar – 0,3156561 mL. Hasil dari peneraan

ketiga alat gelas tersebut, dapat diketahui bahwa ketiga alat tersebut masih layak

digunakan karena nilai penyimpangannya masih dibawah nol atau dibawah batas

toleransi.
V. PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

Amani, N. dan Dodi S. A., 2015, Kalibrasi Jangka Sorong Nonius (Vernier
Calliper) Berdasarkan Standar Jis B 7507 Di Laboratorium Pengukuran
Teknik Mesin Universitas Riau, Jom Fteknik Volume, 2(2).

Fitrya, N., Delovita G., Sri F. R., Noni F., Yulia F. dan Shabri P. W., 2017
Pentingnya Akurasi Dan Presisi Alat Ukur Dalam Rumah Tangga, Jurnal
Untuk Mu Negeri, 1(2).

Hariyadi, S., Fitria H., dan Sunartoto G., 2015, Rancang Bangun Sistem Kalibrasi
Alat Ukur Tekanan Rendah, Jurnal Ilmiah GIGA, 18(1).

Santoso, K., 2015, Pengaruh Pemakaian Setengan Volume Sampel Dan Reagen
Pada Pemeriksaan Glukosa Darah Metode God-Pap Terhadap Nilai
Simpangan Baku dan Koefisien Variasi, Jurnal Wiyata, 2(2).