Anda di halaman 1dari 7

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Atraktan merupakan zat yang bersifat menarik, mengandung bahan
aktif metil eugenol. Penggunaan metil eugenol sebagai atraktan lalat buah
tidak meninggalkan residu pada buah dan mudah diaplikasikan pada lahan
yang luas. Karena bersifat volatil (menguap), daya jangkaunya atau radiusnya
cukup jauh, mencapai ratusan meter, bahkan ribuan meter, bergantung pada
arah angin. Daya tangkap atraktan bervariasi, bergantung pada lokasi, cuaca,
komoditas dan keadaan buah di lapangan. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa penggunaan atraktan metil eugenol dapat menurunkan intensitas
serangan lalat buah pada mangga sebesar 39-59%.
Penggunaan atraktan merupakan cara pengendalian hama lalat buah yang
ramah lingkungan, karena baik komoditas yang dilindungi maupun
lingkungannya tidak terkontaminasi oleh atraktan. Selain itu atraktan ini tidak
membunuh serangga bukan sasaran (serangga berguna seperti lebah madu,
serangga penyerbuk atau musuh alami hama), karena bersifat spesifik, yaitu
hanya memerangkap hama lalat buah, sehingga tidak ada risiko atau dampak
negatif dari penggunaannya. Namun ada pula yang berpendapat atraktan
kurang baik untuk upaya pengendalian laalat buah karena hanya menangkap
serangga jantan saja.
Lalat buah merupakan hama yang sangat merugikan di bidang
hortikultura, karena sering membuat produk hortikultura seperti mangga,
cabai, jambu biji, belimbing, nangka, jeruk dan buah-buahan lainnya menjadi
busuk dan berbelatung. Hama ini juga dapat menjadi penghambat
perdagangan (tradebarrier) antar negara, karena apabila pada komoditas
ekspor suatu produk terdapat telur lalat buah, maka produk tersebut akan
ditolak. Hal ini pernah terjadi terhadap Indonesia pada komoditas paprika
yang akan diekspor ke Taiwan. Pengendalian yang dilakukan pada umumnya
adalah dengan pembungkusan buah-buahan ataupun pemberonjongan
pohonnya dengan kasa, pengasapan untuk mengusir lalat buah, penyemprotan
dengan insektisida, pemadatan tanah di bawah pohon untuk memutus siklus
hidup serta penggunaan atraktan (zat pemikat) yang salah satunya
berbahan methil eugenol.

1.2 Tujuan
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 1. Data hasil penggunaan antraktan
Posisi Jumlah/hari Total
1 2 3
Vertikal 50 45 45 140
Horizontal 80 100 70 250

4.2 Pembahasan

Atraktan merupakan zat yang bersifat menarik, mengandung bahan aktif metil
eugenol. Penggunaan metil eugenol sebagai atraktan lalat buah tidak
meninggalkan residu pada buah dan mudah diaplikasikan pada lahan yang luas
(Anonim, 2006).
Penggunaan atraktan merupakan cara pengendalian hama lalat buah yang ramah
lingkungan, karena baik komoditas yang dilindungi maupun lingkungannya tidak
terkontaminasi oleh atraktan. Selain itu atraktan ini tidak membunuh serangga
bukan sasaran (serangga berguna seperti lebah madu, serangga penyerbuk atau
musuh alami hama), karena bersifat spesifik, yaitu hanya memerangkap hama
lalat buah, sehingga tidak ada risiko atau dampak negatif dari penggunaannya
(Sudarmo, 2005).
Karena bersifat volatil (menguap), daya jangkaunya atau radiusnya cukup jauh,
mencapai ratusan meter, bahkan ribuan meter, bergantung pada arah angin. Daya
tangkap atraktan bervariasi, bergantung pada lokasi, cuaca, komoditas dan
keadaan buah di lapangan. Dilihat dari data hasil tabel diatas daya tangkap
antraktan yang besar ada pada posisi perangkap yang dipasang horizontal yaitu
250 dibandingkan dengan posisi antraktan yang dipasang vertikal yaitu 140.
Metil Eugenol merupakan atraktan yang sering digunakan untuk
mengendalikan lalat buah Bactrocera sp. Metil eugenol sangat dibutuhkan oleh
lalat jantan untuk dikonsumsi. Zat ini bersifat volatile atau menguap dan
melepaskan aroma wangi dengan radius mencapai 20-100 m, tetapi jika dibantu
oleh angin jangkauan bisa mencapai 3 km. Atraktan sintetik sudah banyak beredar
dipasaran tetapi harganya cukup mahal, dapat menimbulkan iritasi pada kulit, dan
belum tentu berhasil dalam pengaplikasiannya. Selain dari bahan kimia
sintetik, metil eugenol juga dapat dibuat secara langsung dari beberapa tanaman
seperti tanaman cengkeh, kayu putih, daun wangi, dan selasih (Kardinan, 2003).
Keefektifan metal eugenol bergantung pada kondisi peletakan perangkap,
semakin ternaungi sinar matahari semakin tahan lama dan sebaliknya semakin
terbuka terhadap sinar matahari maka semakin cepat habisnya.
Kandungan metileugenol mencapai puncaknya pada pagi hari, dan mulai menurun
sekitar jam 12-14, kemudian menghilang setelah jam 14. Makin lama kandungan
senyawa metileugenol makin menipis karena terbawa angina. Hal ini terlihat dari
grafik hari pertama hingga hari terakhir, semakin lama semakin berkurang jumlah
serangga yang terperangkap (Tan, et al, 2002).
Cara pengaplikasian atraktan pada saat praktikum yaitu mula-mula
disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan yaitu 2 buah botol air mineral
dengan volume 1,5 liter dan 600ml, gunting, kawat, kapas dan atraktan. Lalu pada
botol pertama, digunting ujung atas dan ujung bawahnya, lalu disimpan bagian
ujung atas dan bagian badannya. Pada botol kedua, digunting ujung atas bagian
botol, lalu disimpan. Bagian badan botol yang disimpan dilubangi bagian
tengahnya. Kemudian kapas dilumuri dengan atraktan lalu diikat dengan tali dan
dipasang pada badan botol yang dilubangi tadi. Lalu badan botol ditutup dengan
ujung dari kedua botol dan dipasangkan pada pohon.
Lalat buah Bactrocera sp. adalah hama yang banyak menyerang buah-
buahan dan sayuran. Lalat buah berukuran 1-6 mm, berkepala besar, berleher
sangat kecil. Warnanya sangat bervariasi, kuning cerah, oranye, hitam, cokelat,
atau kombinasinya dan bersayap datar. Pada tepi ujung sayap ada bercak-bercak
coklat kekuningan. Pada abdomennya terdapat pita-pita hitam, sedangkan pada
thoraxnya terdapat bercak-bercak kekuningan. Disebut Tephitidae yang
berarti bor karena terdapat ovipositor pada lalat betina. Bagian tubuh itu berguna
memasukkan telur ke dalam buah. Ovipositornya terdiri dari tiga ruas dengan
bahan seperti tanduk yang keras (Tjahjadi, 1989).
Lalat buah yang banyak terdapat di Indonesia adalah dari
genus Batrocera dan salah satu jenis yang sangat penting dan ganas
adalah Batrocera dorsalis Hendel Complex. B. dorsalis Hendel Complex
merupakan lalat buah yang bersifat polifag, mempunyai sekitar 26 jenis inang
seperti belimbing, jambu biji, tomat, cabai merah, melon, apel, nangka kuning,
mangga dan jambu air. Selain merusak buah-buahan seperti jatuhnya buah muda
yang terserang, serangan hama ini juga menyebabkan buah menjadi busuk dan
dihinggapi belatung, lalat buah juga merupakan vektor bakteri Eschericia
coli, penyebab penyakit pada manusia sehingga dapat dijadikan alasan untuk
menghambat perdagangan. Untuk mencegah masuknya spesies baru lalat buah ke
Indonesia, pemerintah mengeluarkan Permentan No. 37/Kpts/HK.060/172006
yang menetapkan hanya tujuh pintu masuk buah segar ke Indonesia yaitu Batu
Ampar, Batam; Ngurah Rai, Bali; Makasar; Belawan, Medan; Tanjung Priok,
Jakarta; Tanjung Perak, Surabaya dan Cengkareng, Jakarta (Tjahjadi, 1989).
Hama lalat buah Bactrocera sp. merupakan hama utama buah. Inangnya
banyak yaitu mangga, jambu air, jambu biji, cabai, papaya, nangka, jeruk, melon,
ketimun, tomat, alpukat, pisang dan belimbing. Kerugian yang ditimbulkan dapat
secara kuantitatif maupun kualitatif. Kerugian kuantitatif yaitu berkurangnya
produksi buah sebagai akibat rontoknya buah yang terserang sewaktu buah masih
muda ataupun buah yang rusak serta busuk yang tidak laku dijual. Kualitatif yaitu
buah yang cacat berupa bercak, busuk berlubang dan berulat yang akhirnya
kurang diminati konsumen. Kerusakan buah dapat mencapai 100% jika tidak
dilakukan pengendalian secara tepat. Di Indonesia lalat ini mempunyai inang
lebih dari 26 jenis yang terdiri dari sayuran dan buah-buahan. Seekor lalat betina
mampu meletakkan telur pada buah sebanyak 1-10 butir dan dalam sehari mampu
meletakkan telur sampai 40 butir (Tjahjadi, 1989).
V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Atraktan merupakan zat yang bersifat menarik, mengandung bahan
aktif metil eugenol. Penggunaan metil eugenol sebagai atraktan lalat buah tidak
meninggalkan residu pada buah dan mudah diaplikasikan pada lahan yang luas.
Keefektifan metal eugenol bergantung pada kondisi peletakan perangkap,
semakin ternaungi sinar matahari semakin tahan lama dan sebaliknya semakin
terbuka terhadap sinar matahari maka semakin cepat habisnya.
Kandungan metil eugenol mencapai puncaknya pada pagi hari, dan mulai
menurun sekitar jam 12-14, kemudian menghilang setelah jam 14.

5.2 Saran
Semoga lebih baik lagi dan lebih kondusif dalam melakukan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Kardinan, A. 2003. Tanaman Pengendali Lalat Buah. PT Agro Media Pustaka. Jakarta.
Kusnaedi. 1999. Pengendalian Hama Tanpa Pestisida. Tanindo Press. Jakarta.
Sudarmo, S. 2005. Pestisida Nabati Pembuatan dan Pemanfaatannya. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Tan, K.H., R. Nishida dan Y.C. Toong. 2002. Floral synomone of a wild orchid
Bulbophyllum cheiri, lures Bactrocera fruit flies for pollination. Journ. Of
Chemical Ecology. XXVIII (6) : 1161-1172.
Tjahjadi, Nur. 1989. Hama Dan Penyakit Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.