Anda di halaman 1dari 10

I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.1.1 Racun Perut/ Lambung

Racun lambung atau racun perut adalah pestisida yang membunuh hama
dengan cara masuk ke dalam pencernaan makanan melalui bagian tanaman yang
dimakan. Pestisida jenis ini masuk ke dalam pencernaan hama dan diserap oleh
dinding usus kemudian ditranslokasikan ke tempat sasaran sesuai dengan jenis
bahan aktifnya. Biasanya sasarannya adalah sel-sel lambung, pusat syaraf hama
dan organ respirasi. Hama akan mati jika memakan bagian tanaman yang
mengandung residu pestisida tersebut. Kemampuan membunuh hama dan
kekuatan residunya tergantung dari jenis bahan aktif yang digunakan. Spodoptera
adalah ngengat yang termasuk dalam suku Noctuidae. Larvanya (ulatnya) dikenal
sebagai hama yang sangat merusak. Ulat yang tidak berbulu oleh awam biasa
disebut ulat tentara atau ulat grayak.
Spodoptera sp. merupakan salah satu hama yang sering ditemukan merusak
berbagai komoditas pertanian. Kehadiran hama ini Spodoptera di pertanaman
sangat berbahaya karena dapat menyerang tanaman pada berbagai fase
pertumbuhan (Hendrival et al. 2013). Petani umumnya mengendalikan hama ini
dengan menggunakan insektisida kimia yang intensif (dosis dan frekuensi tinggi).
Ketergantungan terhadap pestisida sintetis (kimia) mengakibatkan pengembangan
metode pengendalian yang lain menjadi terabaikan atau bahkan ditinggalkan.
Penggunaan pestisida nabati yang berasal dari tumbuhan merupakan salah satu
pestisida alternatif pengganti pestisida sintetis yang dapat digunakan untuk
mengendalikan serangan hama dan penyakit tanaman (Rusdy 2009).
Ulat grayak (Spodoptera litura) merupakan salah satu hama yang menyerang
tanaman cabai. Ulat grayak (Spodoptera litura) menyerang tanaman pada malam
hari, sedangkan pada siang hari berada di dalam tanah. Pada umumnya, ulat
grayak menyerang satu tanaman secara bersama-sama sampai seluruh daun
tanaman tersebut habis, baru kemudian ke tanaman lain. Ulat ini berumur 20 hari
selama hidupnya menyerang tanaman.
Insektisida masuk ke dalam tubuh serangga melalui sistem pencernaan
serangga, sehingga bahan aktif harus termakan oleh serangga tersebut. Salah satu
mekanisme yang dilakukan untuk memastikan bahwa insektisida masuk ke dalam
pencernaan serangga adalah dengan Dipping dan Sandwich. Dipping adalah
metode celup daun ke dalam insektisida sedangkan metode sandwich adalah
metode menyisipkan insektisida diantara dua lapisan daun. Salah satu insektisida
sintetis yang sering digunakan petani adalah Curacron 500 EC yang berbahan
aktif profenofos 500 mg/L. Profenofos merupakan jenis insektisida yang
mempunyai toksisitas sedang dan kandungan gugus halida dalam struktur
molekulnya. Profenofos merupakan bahan kimia yang bersifat racun akut yang
moderat, penyebab kanker (carcinogenic), dikenal sebagai polutan air tanah,
toksikan reproduksi. Intake campuran profenofos dan klorpirifos dapat
menurunkan aktivitas AChE (enzim choline esterase sebesar 50-85,1% (Harsanti
et al. 2013).

II. TIPUS
2.1 Racun Perut
Insektisida secara umum adalah senyawa kimia yang digunakan
untuk membunuh serangga pengganggu (hama serangga). Insektisida
dapat membunuh serangga dengan dua mekanisme, yaitu dengan meracuni
makanannya (tanaman) dan dengan langsung meracuni si serangga
tersebut.
Racun lambung atau perut adalah insektisida yang membunuh
serangga sasaran dengan cara masuk ke pencernaan melalui makanan yang
mereka makan. Insektisida akan masuk ke organ pencernaan serangga dan
diserap oleh dinding usus kemudian ditranslokasikan ke tempat sasaran
yang mematikan sesuai dengan jenis bahan aktif insektisida. Misalkan
menuju ke pusat syaraf serangga, menuju ke organ-organ respirasi,
meracuni sel-sel lambung dan sebagainya. Oleh karena itu, serangga harus
memakan tanaman yang sudah disemprot insektisida yang mengandung
residu dalam jumlah yang cukup untuk membunuh.
Racun lambung atau perut adalah insektisida yang membunuh
serangga sasaran dengan cara masuk ke pencernaan melalui makanan yang
mereka makan. Insektisida akan masuk ke organ pencernaan serangga dan
diserap oleh dinding usus kemudian ditranslokasikan ke tempat sasaran
yang mematikan sesuai dengan jenis bahan aktif insektisida. Oleh karena
itu, serangga harus memakan tanaman yang sudah disemprot insektisida
yang mengandung residu dalam jumlah yang cukup untuk membunuh
(Ditjenbun 2013).
Salah satu mekanisme yang dilakukan untuk memastikan bahwa
insektisida masuk ke dalam pencernaan serangga adalah dengan Dipping
dan Sandwich. Dipping adalah metode celup daun ke dalam insektisida
sedangkan metode sandwich adalah metode menyisipkan insektisida
diantara dua lapisan daun. Salah satu insektisida sintetis yang sering
digunakan petani adalah Curacron 500 EC yang berbahan aktif profenofos
500 mg/L. Profenofos merupakan jenis insektisida yang mempunyai
toksisitas sedang dan kandungan gugus halida dalam struktur molekulnya.
Profenofos merupakan bahan kimia yang bersifat racun akut yang
moderat, penyebab kanker (carcinogenic), dikenal sebagai polutan air
tanah, toksikan reproduksi. Intake campuran profenofos dan klorpirifos
dapat menurunkan aktivitas AChE (enzim choline esterase sebesar 50-
85,1% (Harsanti et al. 2013).
2.2 Ulat Grayak ( Spodoptera litura )
Klasifikasi ulat grayak (Spodoptera litura) pada tanaman cabai
(Capsicum annum) adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Divisio : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Genus : Spodoptera
Spesies : Spodoptera litura

Spodoptera adalah ngengat yang termasuk dalam suku


Noctuidae. Larvanya (ulatnya) dikenal sebagai hama yang sangat
merusak. Ulat yang tidak berbulu oleh awam biasa disebut ulat
tentara atau ulat grayak.
Ulat grayak (Spodoptera litura) merupakan salah satu hama
yang menyerang tanaman cabai. Ulat grayak (Spodoptera litura)
menyerang tanaman pada malam hari, sedangkan pada siang hari
berada di dalam tanah. Pada umumnya, ulat grayak menyerang satu
tanaman secara bersama-sama sampai seluruh daun tanaman
tersebut habis, baru kemudian ke tanaman lain. Ulat ini berumur 20
hari selama hidupnya menyerang tanaman.

Biologi (Ciri-ciri Karakteristik) Ulat Grayak (Spodoptera


litura)

Serangga dewasa jenis Spodoptera litura, memiliki ukuran panjang badan


20 - 25 mm, berumur 5 - 10 hari dan untuk seekor serangga betina jenis ini
dapat bertelur 1.500 butir dalam kelompok-kelompok 300 butir. Serangga
ini sangat aktif pada malam hari, sementara pada siang hari serangga
dewasa ini diam ditempat yang gelap dan bersembunyi.
Larva Spodoptera litura memiliki jumlah instar 5 dengan ukuran
instar 1 panjang 1,0 mm dan instar 5 panjang 40 - 50 mm berwarna coklat
sampai coklat kehitaman dengan bercak-bercak kuning dan berumur 20 -
26 hari. Sepanjang badan pada kedua sisinya masing-masing terdapat 2
garis coklat muda.
Ciri khas ulat grayak ini adalah terdapat bintik-bintik segitiga
berwarna hitam dan bergaris-garis kekuningan pada sisinya. Sedangkan
ulat dewasa berwarna abu-abu gelap atau cokelat. Larva akan menjadi
pupa (kepompong) yang dibentuk di bawah permukaan tanah. Daur hidup
dari telur menjadi kupu-kupu berkisar antara 30 hari hingga 61 hari.
Stadium yang membahayakan dari hama Spodoptera litura adalah larva
(ulat) karena menyerang secara bersama-sama dalam jumlah yang sangat
besar untuk menunjang metamorfosisnya. Ulat ini memangsa segala jenis
tanaman (polifag), termasuk menyerang tanaman cabai.

III. METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Prakrikum pestisida dan Aplikasi dilaksanakan pada hari senin
tanggal 15 Oktober 2018, pukul 10.00 wib sampai selesai
Praktikum dilaksanakan di Laboraturium Hama Tanaman fakultas
Pertanian Universitas Riau.

3.1 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam kegiatan praktikum uji racun perut
adalah handsprayer, wadah , pinset, masker.
Bahan yang digunakan adalah aquades, ulat grayak ( Spodoptera
litura ), insektisida Curacron 500 EC.

3.3 Cara Kerja


 Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk melakukan
praktikum uji racun perut
 Diisi handprayer dengan aquades sebanyak 500 ml air, dan
kemmudian dicampurkan dengan pestisida Curacron 500 EC sesuai
dengan perlakuan yang dilakukan ( 20 tetes )
 Bahan makanan untuk ulat grayak (baby corn) direndam dengan
pestisida yang telah dibuat selama 5 menit.
 Disiapkan wadah untuk tempat ulat dan makannya
 Setelah 5 menit, makanan ulat dimasukkan kewadah ulat , tetapi
jangan sampai ulat tertimpa dengan makanannya.
 Ditutup wadah dengan plastik putih dan diikat.
 Diamati setiap 1 jam sekali bagaimana mekanisasi kerja racun dari
pestisida
 Dilakukan pencatatan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil

Tabel. 1 Rata awal kematian

Perlakuan Ulangan Waktu awal kematian


1 2
U0J 96 96 96 Jam
U1J 30 21 25,5
U2J 3 5 4
U3J 12 13 12,5
U4J 2 8 5

Tabel. 2 Rata-rata Lethal time 50

Perlakuan Ulangan Waktu awal kematian


1 2 (Jam)
U0J 96 96 -Jam
U1J 56 56 56
U2J 5 9 7
U3J 16 15 15,5
U4J 13 9 11

Tabel. 3 Mortalitas harian

Perlakuan Hari ke
1 2 3 4 5
U0J (I) 0 0 0 2 2
U0J (II) 0 0 0 2 2
U1J (I) 0 1 1 0 0
U1J (II) 0 1 0 3 0
U2J (I) 2 0 0 1 0
U2J (II) 2 2 0 0 0
U3J (I) 2 2 0 0 0
U3J (II) 2 2 0 0 0
U4J (I) 3 1 0 0 0
U4J (II) 3 1 0 0 0

Tabel. 4 Mortalitas total

Perlakuan Ulangan Mortalitas total (%)


1 2
U0J 4 4 50%
U1J 2 4
U2J 3 4
U3J 4 4 50%
U4J 4 4 50%

4.2 Pembahasan

Pengujian racun perut dengan sandwich method pada serangga


Spodoptera litura terlihat efektif efektif ditinjau dari konsentrasi dibutuhkan
untuk mematikan seerangga baik untuk pengamatan.Begitupun dengan dipping
method yang terlihat dari semarin lama perlakuan maka semakin banyak serangga
yang mati.

Insektisida dengan bahan aktif bactospeine merupakan racun lambung


dengan bahan aktif Bacillus thuringiensis. Bakteri B. thuringiensis yang termakan
akan berkembangbiak dalam midgut, dan memproduksi toksin yang menyebabkan
serangga hilang nafsu makan, diare kotorannya berair, dan kadang-kadang
muntah. Insektisida Profenofos 500 g/l dengan nama dagang Curacron 500 EC
merupakan racun kontak termasuk dalam golongan organofosfat. Namun selain
sebagai racun kontak, curacron juga merupakan racun lambung.
V. PENUTUP
Kesimpulan
Curaccon ini merupakan pestisida yang efektif
penggunaanya jika termakan oleh serangga disebabkan pestisida
Curaccon bersifat racun perut yang langsung mematikan serangga.
Semakin rendah LD berarti semakin banyak serangga yang mati.

DAFTAR PUSTAKA

Bahagiawati.2002. Penggunaan Bacillus thuringiensis sebagai bioinsektisida. Bul


Agrobio. 5(1):21-28.

[Ditjenbun] Direktorat Jenderal Perkebunan.2013. Pengenalan insektisida


[internet]. [diunduh 2016 Maret 17]. Tersedia pada:
http://ditjenbun.pertanian.go.id/ bbpptp medan/berita-183-seri- pengenalan-
pestisida.html.Harsanti ES, Martono E, Sudarmadji, Sudibyakti HA, Sugiharto
E.2013. Residu insektisida profenofos dalam tanah dan produk

bawang merah Allium ascalonicum L.di sentra bawang merah di


Bantul.Lingkungan Tropis. 6(2):131-138.
Hendrival, Latifah, Hayu R.2013. Perkembangan Spodoptera litura F.
(Lepidoptera: Noctuidae) pada kedelai. J Floratek. 8:88-100.

Rusdy A.2009. Efektivita ekstrak nimba dalam pengendalian ulat grayak


(Spodoptera litura F.) pada tanaman selada. J Floratek. 4:41-54.

LAPORAN PRAKTIKUM
PESTISIDA DAN APLIKASI

Pengujian pestisida Racun Perut

Oleh :

FENTI ARTIKA
NIM. 1606110446

LABORATURIUM HAMA TANAMAN


JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2018