Anda di halaman 1dari 12

UJIAN AKHIR SEMESTER

Nama : Meila Volita

NIM : 2013-31-068

Mata Kuliah : Konseling Lintas Budaya

Kelas : VI B

Pengampu : Edris Zamroni, S.Pd., M.Pd.

1. Dari deskripsi masalah yang telah saya baca, dapat diidentifikasikan bahwa faktor-
faktor budaya yang mempengaruhi kehidupan dan memicu terjadinya masalah dalam
keluarga tersebut intinya ada pada perbedaan dan ketidak sadaran dari masing-masing
pihak sehingga mereka lupa akan dampak negatif yang dapat muncul ketika mereka
tidak dapat saling toleransi akan budaya yang mereka miliki.

Faktor pertama pemicu terjadinya masalah dalam keluarga tersebut saya dapatkan
bukan dari faktor budaya melainkan dari selisih usia antara suami dan istri. Suami yaitu
sutrimo dengan usia 26 tahun dan euis istrinya 35 tahun, disini terlihat bahwa usia euis
lebih tua dari sutrimo dengan selisih hingga 5 tahun. Sedangkan usia ideal pasangan
suami istri minimal lebih muda 5 tahun usia istri dari pada suami atau usia suami lebih
tua 5 tahun dari usia istri. Hal ini sangat berpengaruh dalam rumah tangga, ini terlihat
pada pernyataan dalam deskripsi masalah yang menyebutkan bahwa euis cenderung
menyerahkan berbagai tugas-tugasnya termasuk tugas rumah tangga kepada suaminya.
Ini terjadi karena euis bisa merasa lebih berkuasa dengan tuntutan agar suaminya mau
menuruti segala perintahnya karena euis merasa ingin lebih dihormati dengan usianya
yang lebih tua dari sutrimo. Di mata euis idealnya sebuah keluarga adalah dimana
seorang yang usianya lebih muda harus patuh kepada seseorang yang usianya lebih tua.

Faktor kedua datang karena euis lebih memilih menutup diri dan tidak mau
mengungkapkan pendapat apapun kepada suaminya dalam hal cara atau pola asuh nya
kepada anak-anaknya. Ia memilih diam dan hanya berjalan sesuai keadaan karena ia tak
mau bila ia menyatakan pendapatnya malah akan menimbukan konflik baru dengan
suaminya. Sehingga pelampiasannya jatuh kepada anaknya, apa bagaimana cara yang
diinginkannya dalam mengasuh anaknya langsung saja di praktikan kepada anaknya
tanpa berfikir dampak yang akan terjadi karena perbedaan pola asuh dengan suaminya.

Faktor ketiga muncul dari budaya, dalam deskripsi masalah telah disebutkan bahwa
sutrimo dan euis dibesarkan dalam budaya yang sangat jauh berbeda. Telah kita ketahui
bersama bahwa budaya adalah salah satu pembentuk kepribadian kita. Walau
bagaimanapun kondisinya mau tidak mau dalam kehidupan bersosial manusia perlu
menanam rasa toleransi apalagi dalam hal berkeluarga. Latar belakang budaya yang
berbeda harus dapat kita terapkan secara obyektif sehingga tercipta keluarga dengan
pola asuh yang sejalan dan seirama. Munculnya masalah dalam keluarga ini adalah
karena hal yang telah saya sebutkan diatas tidak dapat diterapkan karena masing-masing
pihak merasa benar dan tidak melakukan musyawarah untuk mengambil jalan tengah
bagaimana baiknya agar kualitas anak mereka tercipta semaksimal mungkin, bukan
malah menjadi tidak terkendali dan berbuat semaunya.

Faktor keempat datang dari perbedaan ajaran budaya yang sangat berbanding
terbalik dimana sutrimo dengan ajaran budayanya yang disiplin ketat dan penuh dengan
peraturan, sedangkan euis dengan ajaran budaya yang cenderung bebas dan tidak terlalu
ketat dalam hal aturan. Memang kedua hal itu sangat tidak sejalan, logikanya jika ada
sebuah kelompok pasti didalamnya ada seorang pemimpin dan beberapa anggota
kelompok. Bayangkan apabila dalam sebuah kelompok tersebut ada dua pemimpin
dengan aturan yang berbeda, pasti anggota kelompok akan bingung dan dapat
menimbulkan hal yang tak semestinya terjadi dalam sebuah kelompok misalnya mereka
dapat merubah dirinya masing-masing menjadi pemimpin dengan aturan yang berbeda-
beda pula, akan jadi seperti apa nantinya. Begitupun pada keluarga sutrimo dan euis ini,
mereka tidak bisa satu suara dalam mendidik dan mengasuh anak sehingga anak
menjadi bingung dan memilih cara-cara yang mereka suka tanpa menghiraukan lagi
aturan yang berbanding terbalik antara ibu dan ayahnya. Saharusnya antara sutrimo dan
euis dapat melihat sisi baik dan buruk ketika mereka memberikan tanggapan dari suatu
hal yang ditanyakan oleh anaknya kepada mereka. Bukan memberi tanggapan dari
pandangan euis saja atau sutrimo saja.
2. Pengaruh spiritualitas dan non-spiritualitas yang secara implisit muncul dan
mempengaruhi kehidupan keluarga tersebut adalah dimana sutrimo yang memeluk
agama islam meyakini bahwa tugas dan kewajiban seorang suami adalah menafkahi
keluarga dan sang istri bertugas menjadi ibu rumah tangga dan mendidik anak.
Sedangkan tidak pada euis yang cenderung bebas dan tidak terlalu ketat dalam hal
peraturan (non spiritualis). Dalam hal ini sebaiknya masing-masing pihak dapat
memahami perbedaan antara satu dengan yang lain. Karena spiritualitas yang dimiliki
sutrimo dan non spiritualitas yang dimiliki euis justru malah tidak berpengaruh apa-apa
dalam keluarga tersebut apalagi pada anak-anak mereka yang masih dibawah asuhan
mereka. Sebenarnya hal itu dapat diantisipasi dengan rasa saling toleransi dan
komunikasi yang baik tentang paham dari masing-masing pihak. Karena faktor spiritual
dan non spiritual mereka tidak seimbang maka itulah hasilnya. Dapat dikatakan
pengaruhnya adalah buruk bagi anak-anak mereka. Padahal sebenarnya apabila
spiritualitas dan non spiritualitas mereka diimplikasikan dengan baik, pasti akan muncul
dampak positif pada anak-anak mereka.

3. Sisi stereotip yang muncul berkaitan dengan budaya yang pertama adalah semua
orang jawa memiliki sifat disiplin ketat dan penuh peraturan selain itu orang jawa sangat
patuh pada agama dan nilai spiritualnya sangat tinggi. Stereotip yang kedua saya
memandang semua orang sunda dan keturunannya memiliki karakter yang bebas dan
tidak terlalu ketat dalam hal peraturan, orang sunda memiliki nilai spiritual yang rendah,
mereka lebih cenderung mendahulukan tingkatan seseorang untuk dihormatinya.

Prasangka saya, orang jawa sangat patuh akan segala norma dan aturan, sedangkan
orang sunda tidak ketat akan peraturan sehingga aturan apapun dapat dikalahkan dengan
presepsi-presepsi yang mereka miliki sendiri atau aturan yang tak tertulis.

Cultural awareness atau kesadaran budaya, dalam kasus ini sepertinya antara
sutrimo dan euis belum memiliki atau menanamkan kesadaran budaya stu sama lain.
Terbukti oleh munculnya presepsi yang berbeda, aturan yang berbeda, cara pandng yang
berbeda, pola asuh merekapun berbeda walaupun mereka adalah suai istri. Sedangkan
kesadaran budaya saya akan budaya mereka yakni saya mampu melihat dan menyadari
akan nilai-nilai budaya yang beraneka ragam, kebiasaan mereka yang berbeda dengan
saya pula. Menurut saya budaya jawa yang dibawa sutrimo masih pada batas normal
dan dapat saya terima dengan budaya yang saya miliki, atau dengan kata lain, budaya
jawa sangat lazim bagi saya dan tidak ada yang tidak bisa saya tolak untuk saya
masukkan dalam budaya saya. Sedangkan budaya sunda yang dibawa oleh euis menurut
pandangan kesadaran budaya saya, saya dapat menyadari bagaimana memang jauh
berbeda budaya euis dengan budaya yang saya punya dan saya telah mengetahui
bagaimana nilai-nilai dari budaya sunda yang dapat saya masukkan kedalam budaya
saya maupun tidak. Walau demikian, saya tetap dapat memahami budaya orang lain
yang berbeda dari diri saya dan menyadari kepercayaan mereka juga adat istiadatnya
dan sanggup untuk menghormati akan perbedaan. Saya sadar akan budaya yang saya
bawa, saya sadar akan budaya orang lain yang berbeda dengan saya.

Dari ketiga hal yang telah dipaparkan diatas maka hendaknya seorang konselor
profesional mampu untuk peka terhadap budaya khususnya pada poin cultural
awareness. Dalam kasus ini adalah perbedaan budaya jawa dan sunda. Pertama,
konselor harus benar-benar mengenali bagaimana budaya yang dibawa oleh sutrimo dan
euis, konselor tentu tidak boleh memiliki sifat stereotip maupun prasangka terlebih
dahulu. Hendaknya konselor mampu memahami akar dari permasalahan hingga mampu
menuntaskan suatu masalah hingga sampai akarnya pula. Konselor perlu merenapkan
prinsip dalam dirinya bahwa “konseli tidak pernah salah”, ini berarti dengan alasan
apapun, dengan kepribadian apapun, budaya apapun yang dibawa maupun agama
apapun yang dianut konseli, semua itu tak ada yang salah dan tidak dapat disalahkan.
Konselor pun tak ada hak untuk menentukan bahwa konseli harus begini atau begitu,
artinya, semua keputusan ada di tangan konseli sendiri. Tugas konselor hanya
membantu membuka pengoptimalan diri konseli, dimana nantinya konseli akan
mendapat ruang untuk mengetahui kemempuan-kemampuan yang belum konseli sadari
yang sebenarnya ada dalam diri konseli. Harapannya dengan begitu konseli dapat
melangkah lebih jauh untuk mencapai kehidupan yang sejahtera, konselor harus bisa
membuka pikiran konseli selebar mungkin dengan treatment-treatment khusus sesuai
kebutuhan konseli. Dalam kasus sutrimo dan euis hendaknya konselor mampu
menyadarkan bahwa pola asuh dengan keegoisan mereka masing-masing dapat
berdampak buruk bagi anak-anak mereka. Dengan begitu sutrimo dan euis dapat
merubah pola asuh yang lebih baik agar anak lebih terarah dalam perkembangannya.
Melihat usia anak mereka yang masih balita, tentu masa-masa itu adalah masa meniru.
Mereka akan meniru dari apa yang orang tuanya lakukan, namun bagaimana apabila
seterusnya sutrimo dan euis tidak bisa merubah pola asuh mereka terhadap anak-
anaknya. Sutrimo memiliki aturan “A”, sedangkan euis memiliki aturan yang
berbanding terbalik “B”. Ini akan membuat anak menjadi kebingungan dan
perkembangan menjadi tidak optimal. Kewajiban konselor dalam kasus ini tidak hanya
memberi jalan kepada sutrimo dan euis, namun juga pada ketiga anak mereka. Ini dapat
menjadi beban bagi mereka dalam melakukan segala aktifitas setiap hari. Anak perlu
diberikan pengarahan agar tidak terlanjur melebar dan menjadi pembentuk kepribadian
mereka yang asal-asalan.

4. A. Analisis

 Penyebab masalah keluarga sutrimo dan euis:


 Perbedaan selisih usia, sutrimo lebih muda dari euis 5 tahun
 Perbedaan Budaya yang melekat pada masing-masing
 Konsep kehidupan yang berbeda
 Perbedaan Cara ajar untuk melakukan sesuatu
 Pandangan tentang aspek kehidupan yang berbeda

 Analisis penyebab masalah keluarga sutrimo dan euis dipengaruhi oleh 2


faktor:
1) Faktor intern (faktor dari dalam diri)
Sutrimo dan euis sudah dididik oleh keluarganya menjadi kepribadian
sesuai dengan budaya yang berlaku dalam keluarganya sehingga ini
melekat dan dibawanya hingga pada kehidupan berkeluarga. Selain itu
mereka meyakini bahwa budaya mereka masing-masinglah yang paling
baik sehingga muncullah masalah ketika antara sutrimo dan euis tidak
dapat memasukkan atau mengkombinasikan sisi baik dari masing-masing
budaya. Hingga terciptalah suatu perbedaan yang menonjol.

2) Faktor eksternal (faktor dari luar diri)


Pada deskripsi masalah tidak digambarkan tentang lingkungan
keluarga tersebut seperti apa, namun saya mencoba untuk menganalisis
faktor eksternal masalah tersebut bisa saja karena mereka hidup di
lingkungan baru sehingga tidak begitu dekat dengan tetangga atau bisa saja
jauh dengan orang tua masing-masing sehingga tidak ada ruang untuk
mereka mendiskusikan masalah mereka lalu mereka hanya memegang
teguh budaya masing-masing tanpa ada masukan dari orang lain untuk
sekedar membuka wawasan dan pandangan mereka dalam berkeluarga.

 Akibat dari penyebab permasalahan keluarga sutrimo dan euis:

 Ketiga anak mereka menjadi kebingungan dalam melakukan segala hal


 Anak-anak mereka jadi tidak terkendali
 Perbuatan anak-anaknya tidak terarah dan semaunya

 Analisis penyebab dan akibat

Pada dasarnya semua keluarga memiliki cara dan pola asuh yang pastinya
bertujuan agar dalam keluarga tersebut menjadi keluarga yang bahagia dan
sejahtera. Namun dibalik itu semua, tentu antara keluarga satu dan lainnya
memiliki cara dan pola asuh yang berbeda-beda. Hal ini terjadi karena setianp
orang tua memiliki ukuran yang berbeda-beda dalam hal pencapaian tujuan
yang telah saya singgung diatas. Hal tersebut tentu masih pada batas wajar,
namun pada kasus sutrimo dan euis ini sedikit berbeda karena mengingat
mereka adalah suami istri yang pastinya satu keluarga sedangkan mereka
berdua memiliki cara dan pola asuh yang berbeda. Ini tidak bisa berjalan
optimal ketika cara dan pola asuh mereka diterapkan kepada anak-anak mereka.
Anak-anak mereka tentu secara otomatis pasti kebingungan. Hal ini adalah
masalah besar apabila sutrimo dan euis terus menerus tidak dapat menyatukan
pendapat mereka menjadi satu suara. Analisis masalah mereka adalah selisih
usia, perbedaan budaya, beda kebiasaan dan beda konsep hidup. Setiap orang
tua tentunya menginginkan anaknya menjadi seseorang yang sukses, begitu
pula dengan sutrimo dan euis mereka sebenarnya memiliki tekad dan keinginan
yang kuat untuk mendidik anak mereka menjadi seperti apa yang mereka
inginkan. Sayangnya dalam keluarga mereka ada hal yang salah sehingga
membuat keinginan mereka untuk mengarahkan anak mereka menjadi seorang
yang sukses justru menjadi pemicu masalah baru bagi anak-anak mereka.
Antara sutrimo dan euis berbeda cara dan pola asuh, anak mereka kebingungan
harus mengikuti aturan ayah atau ibunya karena pola asuh yang sutrimo dan
euis berikn sangat jauh berbeda, bandingannya adalah “Ya’ dan Tidak”. Hal ini
memicu anak untuk memutuskan segala hal dengan cara yang mereka anggap
benar. Melihat umur mereka, tentu balita dalam melakukan segala hal tidak
akan berfikir panjang, artinya apa yang mereka ingin, itulah yang mereka
lakukan. Tanpa menghiaraukan larangan atau aturan yang orang tua mereka
berikan. Akibatnya anak menjadi tidak terarah dan tidak berkembang baik.
Masalah datang dari orang tua mereka, ini tidak akan selesai apabila orang tua
mereka belum ada komunikasi yang baik untuk menyatukan suara.

B. Diagnosis

Euis lebih memilih diam tanpa ada protes sedikitpun kepada suaminya
tentang segala hal untuk menghindari masalah dengan suaminya yang dapat
muncul akibat perbedaan pendapat maupun aturan anatara keduanya. Namun ia
melampiaskan keinginannya tentang aturan dan sebagainya yang ia miliki dan
ia inginkan agar terwujud kepada anak-anaknya sehingga berdampak buruk
bagi anak-anaknya karena sutrimo pun memiliki aturan yang berbeda untuk
mengasuh anak-anaknya.
Sutrimo pun tak mau toleransi dan membuka kesempatan kepada istrinya
untuk mengungkapkan keinginanya dalam mengasuh anak agar dapat terarah
kepada tujuan mereka yang sebenarnya pasti positif.

C. Prognosis

Bukan tidak mungkin keluarga mereka akan menjadi keluarga yang sangat
menyedihkan karena cita-cita orang tua kepada anaknya tidak tercapai,
begitupun juga anak-anak mereka, umur yang masih balita mereka sudah bisa
berfikir untuk melakukan hal dengan semaunya dan tidak menurut kepada
orangtuanya karena aturan yang berbeda-beda. Kelak mereka akan menjadi
pribadi yang buruk karena sejak kecil mereka sudah tidak mendapatkan
pendidikan yang baik dan berhasil dari orang tunya, padalah pendidikan
pertama berasal dari keluarga terutama orang tua.

D. Treatment (Konseling)
Karena kasus keluarga ini termasuk kompleks yang dimana mereka
memiliki konsep hidup, budaya, aturan yang benar-benar berbeda namun dari
masing-masing pihak ingin mengaktualisasikan, mengimplikasikan cara dan
pola asuh mereka kepada anak-anaknya. Namun ternyata tidak sesuai dengan
konsep yang di ingingkan oleh euis maupun sutrimo. Oleh karena itu Konselor
harus mengadakan Konseling dengan sikap Kongruen dengan cara
memperlihatkan keaslian konselor antara perasaan dan pikiran yang ada
didalamnya dengan menggunakan perasaan dan tingkah laku yang
diekspresikan. Selain itu, konselor juga harus mampu menerima tanpa syarat
pada konseli artinga konselor harus mampu melakukan konseling tanpa
melakukan penilaian dan penghakiman terhadap perasaan, pikiran dan tingkah
laku yang ditunjukkan konseli. Yang terakhir adalah konselor harus
menunjukkan sikap Empaty terkhusus pada kondisi Psikologis konseli.

E. Evaluasi
Karena disini saya tidak melakukan praktik konseling, jadi evaluasi saya
mungkin saja apabila mereka telah saya beri layanan konseling dan berhasil
maka yang terjadi mereka akan merubah pola asuh dan cara komunikasi mereka
sehingga anak-anak mereka pun menjadi lebih terarah dan beraturan dengan
baik.

5. A. Analisis

 Penyebab masalah keluarga sutrimo dan euis:

 Kekuatan ego masing-masing


 Kebiasaan sejak kecil yang terbawa hingga sekarang
 Perbedaan Budaya yang melekat pada masing-masing
 Konsep kehidupan yang berbeda
 Perbedaan Cara ajar untuk melakukan sesuatu
 Pandangan tentang aspek kehidupan yang berbeda

 Analisis penyebab masalah keluarga sutrimo dan euis dipengaruhi oleh 2


faktor:
1) Faktor intern (faktor dari dalam diri)
Sutrimo dan euis sudah dididik oleh keluarganya menjadi kepribadian
sesuai dengan budaya yang berlaku dalam keluarganya sehingga ini
melekat dan dibawanya hingga pada kehidupan berkeluarga. Selain itu
mereka meyakini bahwa budaya mereka masing-masinglah yang paling
baik sehingga muncullah masalah ketika antara sutrimo dan euis tidak
dapat memasukkan atau mengkombinasikan sisi baik dari masing-masing
budaya. Hingga terciptalah suatu perbedaan yang menonjol.

2) Faktor eksternal (faktor dari luar diri)


Pada deskripsi masalah tidak digambarkan tentang lingkungan
keluarga tersebut seperti apa, namun saya mencoba untuk menganalisis
faktor eksternal masalah tersebut bisa saja karena mereka hidup di
lingkungan baru sehingga tidak begitu dekat dengan tetangga atau bisa saja
jauh dengan orang tua masing-masing sehingga tidak ada ruang untuk
mereka mendiskusikan masalah mereka lalu mereka hanya memegang
teguh budaya masing-masing tanpa ada masukan dari orang lain untuk
sekedar membuka wawasan dan pandangan mereka dalam berkeluarga.

 Akibat dari penyebab permasalahan keluarga sutrimo dan euis:

 Ketiga anak mereka menjadi kebingungan dalam melakukan segala hal


 Anak-anak mereka jadi tidak terkendali
 Perbuatan anak-anaknya tidak terarah dan semaunya

 Analisis penyebab dan akibat

Pada dasarnya semua keluarga memiliki cara dan pola asuh yang pastinya
bertujuan agar dalam keluarga tersebut menjadi keluarga yang bahagia dan
sejahtera. Namun dibalik itu semua, tentu antara keluarga satu dan lainnya
memiliki cara dan pola asuh yang berbeda-beda. Hal ini terjadi karena setianp
orang tua memiliki ukuran yang berbeda-beda dalam hal pencapaian tujuan
yang telah saya singgung diatas. Hal tersebut tentu masih pada batas wajar,
namun pada kasus sutrimo dan euis ini sedikit berbeda karena mengingat
mereka adalah suami istri yang pastinya satu keluarga sedangkan mereka
berdua memiliki cara dan pola asuh yang berbeda. Ini tidak bisa berjalan
optimal ketika cara dan pola asuh mereka diterapkan kepada anak-anak mereka.
Anak-anak mereka tentu secara otomatis pasti kebingungan. Hal ini adalah
masalah besar apabila sutrimo dan euis terus menerus tidak dapat menyatukan
pendapat mereka menjadi satu suara. Analisis masalah mereka adalah selisih
usia, perbedaan budaya, beda kebiasaan dan beda konsep hidup. Setiap orang
tua tentunya menginginkan anaknya menjadi seseorang yang sukses, begitu
pula dengan sutrimo dan euis mereka sebenarnya memiliki tekad dan keinginan
yang kuat untuk mendidik anak mereka menjadi seperti apa yang mereka
inginkan. Sayangnya dalam keluarga mereka ada hal yang salah sehingga
membuat keinginan mereka untuk mengarahkan anak mereka menjadi seorang
yang sukses justru menjadi pemicu masalah baru bagi anak-anak mereka.
Antara sutrimo dan euis berbeda cara dan pola asuh, anak mereka kebingungan
harus mengikuti aturan ayah atau ibunya karena pola asuh yang sutrimo dan
euis berikn sangat jauh berbeda, bandingannya adalah “Ya’ dan Tidak”. Hal ini
memicu anak untuk memutuskan segala hal dengan cara yang mereka anggap
benar. Melihat umur mereka, tentu balita dalam melakukan segala hal tidak
akan berfikir panjang, artinya apa yang mereka ingin, itulah yang mereka
lakukan. Tanpa menghiaraukan larangan atau aturan yang orang tua mereka
berikan. Akibatnya anak menjadi tidak terarah dan tidak berkembang baik.
Masalah datang dari orang tua mereka, ini tidak akan selesai apabila orang tua
mereka belum ada komunikasi yang baik untuk menyatukan suara.

B. Diagnosis

Dilihat dari sisi cultural awareness mereka sangat kurang artinya


kesadaran mereka akan budaya nya sendiri dan budaya lain yang mencoba
memasuki budaya mereka belum bisa diterima bukan karna alasan tidak bisa
namun karena mereka saling menutup diri dalam berbudaya.

Euis lebih memilih diam tanpa ada protes sedikitpun kepada suaminya
tentang segala hal untuk menghindari masalah dengan suaminya yang dapat
muncul akibat perbedaan pendapat maupun aturan anatara keduanya. Namun ia
melampiaskan keinginannya tentang aturan dan sebagainya yang ia miliki dan
ia inginkan agar terwujud kepada anak-anaknya sehingga berdampak buruk
bagi anak-anaknya karena sutrimo pun memiliki aturan yang berbeda untuk
mengasuh anak-anaknya.

Sutrimo pun tak mau toleransi dan membuka kesempatan kepada istrinya
untuk mengungkapkan keinginanya dalam mengasuh anak agar dapat terarah
kepada tujuan mereka yang sebenarnya pasti positif.

C. Prognosis

Bukan tidak mungkin keluarga mereka akan menjadi keluarga yang sangat
menyedihkan karena cita-cita orang tua kepada anaknya tidak tercapai, hanya
karna ego masing-masing dalam berbudaya begitupun juga anak-anak mereka,
umur yang masih balita mereka sudah bisa berfikir untuk melakukan hal dengan
semaunya dan tidak menurut kepada orangtuanya karena aturan yang berbeda-
beda. Kelak mereka akan menjadi pribadi yang buruk karena sejak kecil mereka
sudah tidak mendapatkan pendidikan yang baik dan berhasil dari orang tunya,
padalah pendidikan pertama berasal dari keluarga terutama orang tua.

D. Treatment (Konseling)
Mereka memiliki konsep hidup, budaya, aturan yang benar-benar berbeda
namun dari masing-masing pihak ingin mengaktualisasikan, mengimplikasikan
cara dan pola asuh mereka kepada anak-anaknya. Namun ternyata tidak sesuai
dengan konsep yang di ingingkan oleh euis maupun sutrimo. Oleh karena itu
Konselor harus mengadakan Konseling dengan pembukaan alam sadar mereka
dalam kaitannya dengan cultural mereka yang sangat kurang. Apabila mereka
telah menyadari bagaimana hidup berbudaya dengan semestinya, baru kita bisa
memberikan treatmen khusus untuk merubah opsinya bahwa budaya masing-
masing tidak bisa di praktikkan kepada anak-anak mereka secara bersamaan
atau dalam satu tempo yang sama, dalam persoalan yang sama karena budaya
mereka yang sangat jauh berbeda.

E. Evaluasi
Karena disini saya tidak melakukan praktik konseling, jadi evaluasi saya
mungkin saja apabila mereka telah saya beri layanan konseling dan berhasil
maka yang terjadi mereka akan merubah pola asuh dan cara komunikasi mereka
sehingga anak-anak mereka pun menjadi lebih terarah dan beraturan dengan
baik.

6. Perbedaan mendasar antara pendekatan konvensional dan pendekatan budaya


sebenarnya ada pada treatmen yang kita berikan, langkahnya pun berbeda. Menyadarkan
kepekaan budaya dan hanya membantu mereka agar mereka dapat membuka peluang untuk
menyelesaikan masalahnya sendiri. Disini artinya pada pendekatan budaya, cocok
diterapkan pada kasus ini karena faktor budaya yang harus disemtug dan faktor tersebut lah
yang memicu timbulnya masalah. Berbeda ketika permasalahan datang bukan dari
pengaruh budaya yang mereka bawa.