Anda di halaman 1dari 6

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, kita menggunakan tiga medium, yaitu AA(Amilum agar),
NAL (Nutrient Agar Lemak), dan SMA (Skim Milk Agar). Masing – masing dari medium
tersebut mengandung bahan dasar bagi bakteri untuk melakukan metabolisme. Disini
digunakan dua bakteri yaitu bakteri koloni 1 dan bakteri koloni 2
Karakterisasi dan klasifikasi sebagian besar mikrobia seperti bakteri berdasarkan pada
reaksi enzimatik ataupun biokimia. Mikroba dapat tumbuh pada beberapa tipe media,
memproduksi tipe metabolit tertentu yang dideteksi dengan interaksi mikrobia dengan reagen
test yang menghasilkan warna reagen (Fogarti, 1983). Reaksi-reaksi dalam sel akan
teridentifikasi dengan melakukan pengujian-pengujian tertentu. Sel akan memberikan respon
sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, misalnya menghasilkan enzim katalase, enzim
gelatinase atau kemampuan untuk menghidrolisis lemak (Pelczar 1986). Untuk mempelajari
karakteristik biokimia suatu biakan murni bakteri maka dapat digunakan suatu uji biokimia
yaitu uji hidrolisis amilum, uji hidrolisis protein dan uji hidrolisis lemak.

1. Uji Hidrolisis Amilum


Mikroorganisme yang bersifat amilolitik dapat memecah pati (amilum) yang terdapat
dalam makanan menjadi senyawa yang lebih sederhana, terutama dalam bentuk glukosa.
Reaksi hidrolisis pati menyebabkan pencairan pati sehingga menyebabkan perubahan pada
cita rasa makanan (Fogarti, 1983)
Amilum merupakan karbohidrat yang masuk dalam jenis polisakarida. Polisakarida
merupakan makromolekul, polimer dengan beberapa monosakarida yang dihubungkan
dengan ikatan glikosidik. Beberapa polisakarida berfungsi sebagai materi simpanan atau
cadangan yang nantinya ketika diperlukan akan dihidrolisis untuk menyediakan gula bagi sel.
Kemampuan untuk memanfaatkan gula atau unsur yang berhubungan dengan konfigurasi
yang berbeda dari glukosa merupakan hasil kemampuan organisme untuk mengubah substrat
menjadi perantara-perantara sebagai jalur untuk fermentasi glukosa (Sukarminah, 2010)
Amilum merupakan karbohidrat yang masuk dalam jenis polisakarida. Polisakarida
merupakan makromolekul, polimer dengan beberapa monosakarida yang dihubungkan
dengan ikatan glikosidik. Beberapa polisakarida berfungsi sebagai materi simpanan atau
cadangan yang nantinya ketika diperlukan akan dihidrolisis untuk menyediakan gula
bagi sel (Hastuti dkk, 2014). Amilum tidak dapat langsung digunakan, karena memiliki
ukuran molekul yang terlalu besar, sehingga bakteri harus menghidrolisis amilum terlebih
dahulu menjadi molekul sederhana dan masuk ke dalam sel. Untuk menghidrolisis amilum
dibutuhkan enzim amilase (Fogarti, 1983). Amilase, yaitu enzim yang menguraikan
amilum menjadi maltosa (suatu disakarida), reaksinya adalah sebagai berikut (Fogarti,
1983).

Kemampuan untuk menghidrolisis amilum menjadi glukosa, maltosa, dan dekstrin


karena mempunyai enzim amilase. Amilum tidak dapat langsung digunakan, sehingga bakteri
harus menghidrolisis amilum terlebih dahulu menjadi molekul sederhana dan masuk ke
dalam sel (Sukarminah, 2010)
Fungsi uji positif hidrolisis amilum pada bakteri ditandai dengan tampaknya area
jernih di sekitar pertumbuhan bakteri yang digoreskan. Adanya daerah jernih tersebut
disebabkan eksoenzim dan organisme menghidrolisis amilum dalam medium agar. Fungi atau
bakteri memproduksi α-amilase sehingga mampu menguraikan amilum dengan eksoenzim
amilolitik tersebut amat luas antara mikroorganisme, diantaranya bakteri Bacillus macerans,
Bacillus polimexa, dan Bacillus subtilis (Sukarminah, 2010)
Indikator yang digunakan pada uji amilolitik ini adalah yodium. Yodium 1%
diteteskan tepat di atas koloni. Tujuan penetasan larutan yodium 1% diberikan untuk
membuktikkan apakah bakteri yang tumbuh pada media adalah bakteri amilolitik. Pati yang
tidak terhidrolisis akan membentuk warna biru dengan yodium yang menunjukkan tidak
terdapatnya enzim amilase yang dihasilkan oleh bakteri selain bakteri amilolitik. Pati yang
terhidrolisis di sekeliling koloni akan terlihat areal bening, sebagai akibat aktivitas enzim
amilase. Warna jernih tersebut mengindikasikan bahwa pati atau amilum sudah terhidrolisis
oleh eksoenzim pada bakteri. Menurut Fardiaz (1992) warna jernih atau bening pada
sekeliling bakteri setelah ditambahkan iodium disebabkan karena amilum tidak dapat
bereaksi lama dengan iodium. Areal berwarna coklat kemerahan di sekeliling koloni
menunjukkan hidrolisis sebagian terhadap pati. Wahyudi dkk (2014) juga menyatakan bahwa
molekul iodium masuk ke dalam molekul amilum yang berbentuk spiral (∝-heliks). Proses
iodinasi terjadi apabila amilum telah dirombak oleh enzim amilase menjadi maltosa dan
glukosa, zona bening yang terbentuk pada sekitar koloni terjadi karena tidak terbentuk spiral
pada molekul iodium dan amilum.
Bakteri yang digunakan dalam praktikum ini adalah berasal lemper yang terbuat dari
ketan. Bakteri yang berasal dari ketan yang digunakan merupakan substrat yang baik untuk
memperoleh isolat amilolitik (Naiola, 2008). Dari data dihasilkan bahwa pada uji hidrolisis
amilum ini menunjukan bahwa isolat I (KK) tidak mampu menghidrolisis amilum karena
tidak terbentuk daerah bening di sekitar isolat bakteri sedangkan pada isolat II (KP)
menunjukan bahwa mampu menghidrolisis amilum dengan ditandai adanya daerah bening di
sekitar isolat bakteri. Adanya daerah jernih tersebut disebabkan eksoenzim dan organisme
menghidrolisis amilum dalam medium agar (Nangin, 2017). Warna bening yang terbentuk di
areal bakteri menunjukkan bahwa masing-masing isolat bakteri tersebut merupakan bakteri
yang bersifat amilolitik (Hansen dkk, 2017). Hal ini sejalan dengan Fardiaz (1992) yang
menyatakan bahwa mikroba yang memproduksi enzim ekstraseluler jika ditumbuhkan pada
media yang mengandung substrat yang dapat dihidrolisis akan mengeluarkan enzim tersebut
di sekitar koloninya dan akan menghidrolisa subtrat di sekeliling koloni. Zona bening yang
terbentuk disekitar koloni bakteri merupakan aktivitas amilase bakteri amilolitik (Winarno,
2002).

2. Uji Hidrolisis Protein


Dalam praktikum pengujian metabolisme bakteri, untuk mengetahui adanya hidrolisis
protein maka digunakanlah medium berupa Skim Milk Agar (SMA). SMA (Skim Milk Agar)
merupakan medium yang terbuat susu skim yang dicampur dengan agar dan aquades, yang
mana susu skim tersebut terkandung kasein yang nantinya akan terhidrolisis menjadi peptida
dan asam amino (Dajanta dkk, 2009). Bakteri mampu mengahsilkan hidrolisis protein karena
di dalam tubuh bakteri dihasilkan koenzim yang mampu menghidrolisis kasein dengan
adanya enzim protease (Gardini, 2011).
Menurut Hadioetomo (1993), yang menyatakanbahwa uji positif dari pengujian
hidrolisis protein ditandai dengan tampaknya area jernih di sekitar pertumbuhan organisme
yang digoreskan. Senada dengan pernyataan tersebut, Hastuti (2015), menyatakan bahwa
koloni bakteri yang dapat menghidrolisis protein akan dikelilingi oleh daerah yang jernih,
sedangkan bagian lainnya akan nampak tetap berwarna putih susu.
Bakteri yang digunakan dalam praktikum ini adalah berasal lemper yang terbuat dari
ketan, santan, dan berisi ayam. Hasil akhir dari uji hidrolisis protein, baik dari Koloni I
maupun Koloni II, tidak terdapat warna jernih yang mengelilingi bagian koloni bakteri. Hal
ini dikarenakan pada saat pembuatan isolat bakteri, ayam pada lemper tidak di campurkan
sehingga bakteri tidak dapat menghidrolisis protein dikarenakan medium tidak sesuai dengan
karakteristik bakteri. Hal ini sesuai dengan pendapat Gardini (2011) bahwa bakteri dapat
menghidrolisis protein jika sesuai dengan kondisi dan karakteristiknya serta jika bakteri tidak
mampu menghirolisis protein tidak akan terbentuk zona jernih di sekitar tumbuh koloni dan
tetap berwarna putih. Hal ini dikarenakan enzim protease tidak mampu memutus ikatan
peptida pada rantai protein sehingga tidak dihasilkan asam amino atau peptida berantai
pendek.

3. Uji Hidrolisis Lemak


Bakteri yang mampu menghidrolisis lemak adalah bakteri yang mampu mengurai
molekul lemak menjadi gliserol dan asam lemak. Adanya zona merah dalam media NA+1%
minyak zaitun menunjukan adanya aktivitas bakteri yang mampu menghidrolisis lemak.
Bakteri menghasilkan enzim lipase yang mampu mengurai lemak menjadi asam lemak dan
gliserol. Asam lemak tersebut digunakan oleh bakteri sebagai energi untuk metabolisme
(Zusfahair dkk, 2010). Warna merah yang terbentuk pada media merupakan reaksi hidrolisis
antara lipase dengan substrat (minyak zaitun) menghasilkan asam lemak bebas (Kasipah dkk,
2013).
Kemampuan bakteri untuk menghidrolisis lemak dikarenakan pada tubuh bakteri
dihasilkan enzim lipase. Enzim lipase ini termasuk golongan ester yaitu esterase. Dimana
enzim ini memiliki kemampuan menghidrolisis lemak dan memecahkan menjadi 3 molekul
asam lemak dan 1 molekul gliserol. Lemak merupakan campuran trigleserida yang terdiri atas
1 molekul gliserol yang berikatan dengan 3 molekul asam lemak. Lemak memiliki sifat
antara lain: tidak larut dalam air, bila dipanaskan akan terjadi perubahan pada titik cair, titik
asap dan titik nyala, serta plastis dan bentuknya mudah berubah-ubah bila mendapat tekanan,
bisa mengalami ketengikan, dan reaksi dengan alkali akan membentuk sabun dan gliserol
(Pelczar, 1986).
Pada uji hidrolisis lemak ini menggunakan medium lemak atau Nutrien Agar Lemak
(NAL). Dari data dihasilkan bahwa bakteri koloni 1 dapat menghidrolisis lemak walaupun
hanya sedikit dan dan koloni 2 tidak memiliki kemampuan dalam menghidrolisis lemak .
Hal ini disebabkan bakteri koloni 2 tidak menghasilkan enzim lipase sehingga tidak mampu
mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol

Daftar Rujukan

Dajanta, K., Wongkham, S., Thirach, P., Baophoeng, P., Apichartsrangkoon, A., Santithum,
P., dan Chukeatirote, E., 2009. Comparative Study of Proteolytic Activity of Protease-
Producing Bacteria Isolated from Thua nao. Maejo. Int. J. Sci. & Technol, 3(2): 269-
276.
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan I. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.
Fogarti, W. M., 1983. Microbial Enzymes and Biotechnology. New York: Applied Science
Publisher.
Gardini, F., Martuscelli, M., Caruso, M.C., Galgano, F., Crudele, M.A., Favati, F., Guerzoni,
M.E., dan Suzzi, G. 2011. Effects of pH, Temperature and NaCl Concentration on the
Growth Kinetics, Proteolytic Activity and Biogenic Amine Production of Enterococcus
faecalis. Int. J. Food Microb. 64: 105-117.
Hastuti, U.S., Yakub, P. and Khasanah, H.N. 2014. Biodiversity of Indigenous Amylolytic
and Cellulolytic Bacteria in Sago Waste Product at Susupu, North Moluccas. Journal of
Life Sciences, 8(11): 920-924.
Hansen, E., Hastuti, U.S., Makkadafi, S.P., Asna, P.M. 2017. Isolasi dan Identifikasi Bakteri
Amilolitik dari Tanah yang Tercampur Limbah Kulit Ubi Kayu di Bondowoso, Jawa
Timur. Prosiding Seminar Nasional III Tahun 2017 Universitas Muhammadiyah
Malang. (online), http://research-report.umm.ac.id/index.php/ diakses 21 Oktober 2018.
Kasipah, dkk. 2013. Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Penghasil Enzim Lipase Ekstraseluler
dari Lumpur Aktif Instalasi Pengolahan Air Limbah Industri Tekstil. Jurnal Ilmiah
Arena Tekstil, 28 (1): 38-46.

Naiola, E. 2008. Isolasi dan Seleksi Mikroba Amilolitik dari Makanan Fermentasi/Ragi Tapai
gambut di Kalimantan Selatan. Jurnal Berk Penel Hayati. 13: 109-114.
Nangin, D. 2015. Enzim Amilase Pemecah Pati Mentah dari Mikroba. Jurnal Pangan dan
Agroindustri, 3(3): 110-117
Pelezar, Michael J. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI-Press.
Sukarminah E., Sumanti, D.M. dan Hanidah,I. 2010. Mikrobiologi Pangan. Bandung:
Universitas Padjajaran.
Wahyudi, P., Rachmania, R.A., Ramdham, M., Sari, N., Nuriam, M.S., Hardi, D., &
Purwanti, T. 2014. Isolasi Bakteri Amilolitik dan Optimasi Kondisi Fermentasi untuk
Produksi Enzim α-Amilase. Jurnal FARMASAINS, 2 (3): 1-8.
Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Zusfahair, dkk. 2010. Isolasi, Pemurnian dan Karakterisasi Lipase Bakteri Hasil Skrining dari
Tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gunung Tugel Banyumas. Jurnal Natur
Indonesia. 12(2): 124-129.