Anda di halaman 1dari 4

Lunturnya Eksistensi Media Cetak di Era Digital

Nadiyatul Umamy DN

1605905030054

Masyarakat pada era sekarang ini dimanjakan oleh berbagai fasilitas


teknologi, khususnya dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi.
Kecepatan, ketepatan dan keefisienan menjadi andalan masyarakat untuk
memperoleh dan berbagi informasi. Media cetak yang dulunya menjadi primadona
bagi masyarakat dalam mencari informasi kini sudah mulai terasingkan dan
tergantikan oleh kehadiran internet. Media cetak untuk pertama kalinya hadir di
Indonesia sejak tahun 1744 yakni pada masa kolonial Belanda. Sejak saat itu hingga
sekarang media cetak telah mengalami banyak perubahan mengikuti arah
perkembangan zaman dan kebutuhan konsumen.

Media cetak pertama kali di temukan pada tahun 1455 di Negara Eropa oleh
Johannes Gutenberg. pada mulanya media cetak terbuat dari penggunaan daun atau
tanah liat sebagai medium, bentuk media sampai percetakan. Media cetak adalah
media penyampai informasi untuk kepentingan umum atau orang banyak, dan
bentuk penyampaiannya tertulis. Media cetak telah banyak berjasa mengkontribusi
dalam perkembangan zaman. Peran media cetak sebagai kontrol sosial pun terbukti,
contohnya saja pengaruh besar media cetak dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Pasca Indonesia merdeka, media cetak adalah sarana yang paling utama bagi
masyarakat dalam mengemukakan pendapat. Media cetak mampu meredam,
bahkan memicu amarah masyarakat terhadap suatu hal.

Namun ketenaran dan kehebatan media cetak kini mulai tersaingi oleh media
online yang semakin canggih. Philip Meyer Dalam Bukunya The Vanishing
Newspaper terbitan 2006, bahwa pada tahun 2044 mendatang hanya akan terdapat
satu eksemplar koran. Media online semakin menjadi ancaman bagi koran dan
media cetak lainnya karena seiring perkembangan teknologi. Pesatnya
perkembangan internet juga mendorong masyarakat untuk mengakses media
online. Media online semakin mudah diakses karena tidak hanya lewat computer,
tapi dapat melalui telepon genggam atau gadget.
Tidak dapat dipungkiri rendahnya minat pembaca koran pada masyarakat
sekarang ini di karenakan koran dipandang sebagai sesuatu yang kuno dan juga
ribet. Kehadiran berita online seakan menggeser fungsi media cetak sebagai
penyempai informasi tertulis. Berdasarkan data dari Dewan Pers, terdapat 567
media cetak, 1.166 stasiun radio, 394 stasiun televisi, dan 211 media siber selama
tahun 2014. Jumlah ini meningkat sebanyak 158 media cetak dibanding tahun 2013
yang totalnya ada 409. Peningkatan yang sangat terlihat ada pada koran, dari
sebelumnya 215 menjadi 311. Peningkatan jumlah perusahaan pers juga terjadi
pada media penyiaran, radio dan televisi, serta media siber. Pada tahun 2013,
berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, Dewan Pers
mencatat ada 991 stasiun radio dan 340 stasiun televisi. Sedangkan tahun 2014
meningkat menjadi 1166 stasiun radio dan 394 stasiun televisi. Sedangkan jumlah
media siber dari sebelumnya 134 menjadi 211 (Kominfo, 2013).

Perlu adanya inovasi agar industri media cetak tetap bertahan di tengah
persaingan media yang sangat ketat. Menurut Everett M. Rogers, inovasi adalah
suatu ide, gagasan, objek, dan praktik yang dilandasi dan diterima sebagai suatu hal
yang baru oleh seseorang atau pun kelompok tertentu. Pada hakikatnya Inovasi
ialah suatu pembaharuan terhadap berbagai sumber daya sehingga sumber daya
tersebut mempunyai manfaat yang lebih bagi manusia. Proses inovasi sangat
dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan karena kedua hal
tersebut dapat memudahkan dalam memproduksi sesuatu yang baru dan berbeda.
Adapun manfaat inovasi adalah untuk menyempurnakan atau meningkatkan fungsi
dari pemanfaatan suatu produk atau sumber daya sehingga manusia mendapatkan
manfaat yang lebih.

Menurunnya Minat Pambaca media Cetak

Meski media cetak semakin banyak, namun jumlah pembaca telah mengalami
penurunan yang signifikan. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan penduduk
berumur 10 tahun ke atas yang membaca surat kabar sebesar 23,0 %. Tahun 2006
berkurang 0,3%. Penurunan drastis terjadi pada 2009 di mana pembaca surat kabar
menurun menjadi 18,4% dan pada tahun 2012 sampai saat ini tingkat perunanan
sudah sampaii dengan angka 17 %. Berdasarkan hasil survei Nielsen menunjukkan
bahwa angka pembaca koran semakin menurun secara signifikan, dari perolehan 28
persen pada kuartal pertama tahun2005 menjadi hanya 19 persen persen pada
kuartal 2009. penurunan yang sama juga pada media cetak lainnya, yakni majalah
dan tabloid. pada kuartal kedua tahun 2009, perolehan tabloid hanya mencapai 13
persen. sementara itu, majalah memperoleh 12 persen. Angka ini menurun jauh
dibandingkan perolehan pada kuartal pertama 2005, majalah dan tabloid sama-sama
memperoleh 20 persen dari total populasi.

Data diatas menunjukkan bahwa industri media cetak sudah harus berinovasi
mencari alternatif peralihan sebagai media informasi agar mampu bertahan
ditengah ketatnya persaingan media massa. Jika tidak maka tidak menutup
kemungkinan perusahaan media cetak akan gulung tikar.

Saatnya Membuat Alternatif Peralihan

Sudah semestinya industri media cetak berinovasi dan mendigitalisasi


produk-produk yang ditawarkan oleh media cetak. sejalan dengan teori difusi
inovasi yang dipopulerkan oleh Everett Rogers pada tahun 1964 melalui bukunya
yang berjudul Diffusion of Innovations. Teori ini membahas bagaimana sebuah ide
dan teknologi baru tersebar dalam sebuah kebudayaan. terori ini bertujuan
bagaimana diterimanya suatu inovasi atau gagasan, ilmu pengetahuan dan teknologi
baik oleh individu maupun kelompok sosial tertentu.

Adapun strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan industri media cetak
ialah mengubah platfrom dan format media nya ke media online selain itu,
mengubah model bisnisnya ke media online,hal ini dilakukan oleh majalah
Newsweek, majalah terbitan Amerika ini pada akhir 2012 lalu menghentikan edisi
cetaknya dan beralih penuh ke edisi online. Banyak orang beranggapan peristiwa
ini menjadi salah satu tanda sedang berakhirnya era media cetak. Memperluas
model bisnisnya ke media online, nampaknya strategi inilah yang dipilih oleh
media-media cetak Indonesia, berlomba-lomba baik Kompas, Tempo, Republika,
Metrotv dan lainnya menerbitkan edisi online mereka. Jadi cetak dan online,
keduanya dikerjakan. Mengubah strategi bisnisnya, ada banyak strategi berbeda
yang dipilih oleh media cetak.

Majalah Femina misalnya melalui pemimpin redaksinya Petty Fatimah,


mengungkapkan bahwa strategi mereka di era digital lebih mengarah pada
pengelolaan komunitas, bahasa kerennya “engagement”. Sedangkan pewakilan dari
majalah SWA, Kemal Ghani menyatakan bahwa SWA sendiri tidak hanya
mengandalkan edisi cetak, tapi juga mengembangkan riset dan event.” Lain lagi
yang dilakukan majalah O, The Oprah Magazine. Majalah milik ratu talk show asal
Amerika Serikat ini yang juga mengalami penurunan omzet sebesar 14% pada
tahun 2013, memanfaatkan popularitas dari Oprah dengan mengambil strategi
personal branding untuk meluncurkan progran berlangganan pada pelanggan
setianya. Program ini menawarkan tiga kategori berlangganan dengan penawaran
hadiah menarik, mulai dari diskon spesial bagi produk-produk yang
direkomendasikan Oprah, satu kotak perawatan kecantikan mewah, sampai tikert
tur “The Life You Want” sehingga pelanggan dapat mencoba produk-produk yang
akan tampil di majalah Oprah dan bahkan mendapatkan kartu ucapan ulang tahun
langsung dari Oprah. Selain itu ada strategi segmentasi bisa menjadi nilai lebih,
misalnya Republika yang menyasar komunitas Muslim dan Bisnis Indonesia yang
menyasar kalangan pebisnis. Dengan segmentasi seperti ini, media cetak tersebut
akan terus dinantikan oleh masyarakat.