Anda di halaman 1dari 34

MUSIK KURIDING MASYARAKAT KALIMANTAN SELATAN

(KAJIAN ORGANOLOGI)

Muhammad Najamudin
Program Studi Pendidikan Sendratasik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin
Email : Muhammadnajamudin@ulm.ac.id

ABSTRAK

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menelusuri Studi Organologi Musik
kuriding. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan. Sumber data
dalam penelitian ini adalah Muklis Maman, yaitu pengrajin alat musik tradisional
kuriding dan orang yang mengetahui seluk-beluk instrumen kuriding di Kalimantan
Selatan. Alat pengumpul data utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri
sebagai instrumen kunci. Berdasarkan hasil penelitian terhadap Kajian Organologi
musik kuriding. Musik kuriding menjadi instrumen sebagai pengatur tempo di setiap
pertunjukannya. Musik kuriding terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian dalam (tidak
rata) dan bagian luar (rata) yang dimaksud dengan bagian dalam yaitu bagian yang
ditempelkan di mulut, sedangakan bagian luarnya yaitu bagian yang menghadap ke luar.
Penelitian diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang alat musik tradisonal
Kalimantan Selatan agar mahasiswa/wi mengetahui di Kalimantan Selatan terdapat
tempat pembuatan alat musik tradisonal.

1
A. PENDAHULUAN sebagainya), seni musik (panting,

1. Latar Belakang gamelan, kuriding dan sebagainya), dan

Kalimantan Selatan memiliki seni drama/tutur (mamanda, japin carita,

beraneka ragam adat dan budaya yang madihin, lamut dan sebagainya).

tersebar di kabupaten dan kota madya. Kayam (dalam Lelono, 2012:

Keanekaragaman adat dan budaya 2) mengemukakan bahwa kesenian

tersebut terjadi karena ada beberapa tradisional lahir bukan dari konsep

etnik yang berdomisili di wilayah seseorang dan tidak dapat dipastikan

Kalimantan Selatan. Suku yang berada siapa penciptanya. Kesenian tradisional

di Kalimantan Selatan: suku banjar dan lahir di tengah-tengah masyarakat

suku dayak. Setiap suku memiliki adat dikarenakan adanya improvisasi dan

dan budaya yang tumbuh dan spontanitas dari para pelakunya. Jadi,

berkembang secara turun-temurun. kesenian tradisional adalah suatu bentuk

Suku Banjar ialah masyarakat seni yang berakar dan bersumber dari

yang mendiami daerah aliran sungai dari kalangan masyarakat yang merupakan

Banjarmasin sampai Amuntai, dan gagasan kolektif masyarakat, memiliki

daerah Pahuluan atau Pedalaman dari sifat, bentuk, dan fungsi yang

Banjarmasin, Martapura,Pelaihari, berkaitan erat dengan masyarakat

Rantau, Kandangan, Barabai, Amuntai tempat kesenian itu berasal, tumbuh

dan Tanjung. Bentuk-bentuk kesenian dan berkembang.

tersebut yaitu berupa seni tari (japin, Kesenian ini tersebar luas di

baksa kembang, radap rahayu dan kalangan masyarakat khususnya di

2
Kalimantan Selatan. Masyarakat suku dinamakan rending, dan daerah istimewa

banjaryang menghuni daerah tepian Yogjakarta dinamakan rinding.

sungai Kalimantan Selatan terdapat di Keunikan dari kuriding ialah

daerah Kota Banjarmasin, Kabupaten pada saat memainkan dengan cara

Barito Kuala dan Kabupaten Hulu menempelkan dimulut, sedangkan suara

Sungai Selatan. Ketiga wilayah yang dihasilkan menghentak-hentak dari

tersebut memiliki kesenia musik tarikan tangan kanan, dan bentukyang

kuriding. kecil tetapi dapat menghasilkan suara

Musik kuriding merupakan alat nyaring (keras). Kuriding terbagi

musik getar yang dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu bagian dalam

sebagai alat musik ritmis/perkusi (tidak rata) dan bagian luar (rata) yang

berdasarkan hasil produksi suara dan dimaksud dengan bagian dalam yaitu

teknik cara memainkannya. Kuriding bagian yang ditempelkan di mulut,

termasuk ke dalam jenis musik idiofon sedangakan bagian luarnya yaitu bagian

atau golongan alat musik yang sumber yang menghadap ke luar.

bunyinya diperoleh dari badannya Penelitian ini menggunakan

sendiri, (Soeharto, 1992:52) alat musik satu disiplin ilmu yang mempelajari

sejenis dengan kuriding juga ditemukan tentang struktur alat musik

di seluruh dataran Indonesia. Misalnya berdasarkan sumber bunyi, cara

di daerah Jawa Barat dinamakan memproduksi bunyi, dan sistem

karinding, daerah Bali dinamakan pelarasan yang disebut organologi.

genggong, daerah Jawa Timur Organologi mempunyai maksud

3
sebagai gambaran tentang bentuk dan nonfisik yang terdapat pada sebuah

susunan, konstruksi suatu instrument instrumen misalnya fungsi pada musik,

sehingga dapat menghasilkan suara hubungannya dengan kedudukan musisi,

seperti dalam konteks ini musik sejarah, penyebaran, perbandingan,

kuriding. perkembangan teknik penyajian, dan lain

Organologi dalam istilah musik sebagainya.

merupakan ilmu alat musik atau studi Studi organologi ini dapat

mengenai alat-alat musik. Jadi, memberikan informasi tentang

organologi merupakan ilmu pengetahuan instrument kuriding dari aspek fisik dan

yang mempelajari tentang seluk-beluk nonfisiknya. Jadi, paparan mengenai

alat musik dari aspek fisik ataupun aspek aspek fisik dan nonfisik yang

nonfisiknya. Hal ini juga dikemukakan dimaksud Hendarto (2010:2) dimulai

oleh Hendarto (2010:2) bahwa dari bahan. Bahan merupakan unsur

organologi merupakan satu cabang utama karena bahan merupakan zat

ilmu studi mempelajari instrumen atau atau benda yang digunakan untuk

alat musik baik dari aspek fisik membuat suatu. Musik kuriding

maupun aspek nonfisiknya. Aspek memiliki bentuk atau ukuran yang

fisik yang terdapat pada sebuah sesuai dengan kreatifitas dari pengrajin.

instrument misalnya bahan, bentuk, Susunan (konstruksi) dari musik

konstruksi, cara pembuatan, kuriding memiliki ciri khas tersendiri

penggolongan fisik, penalaran, dan lain dan dapat dilihat dari cara pengrajin

sebagainya. Adapun aspek-aspek menghasilkan alat musik kuriding.

4
Satu di antara keistimewaan pada penelitian ini dapat

dari penelitian mengenai studi dirumuskan sebagai berikut.

organologi yaitu mencari data secara 2.1 Bagaimana proses pembuatan

lebih tuntas serta menggali informasi musik kuriding masyarakat

tentang aspek fisik dan nonfisik dari Kalimantan Selatan?

suatu instrumen dan dalam hal ini musik 2.2 Bagaimana struktur musik

kuriding yang ada di Kalimantan kuriding masyarakat Kalimantan

Selatan. Alat musik di Kalimantan Selatan?

masih ada yang belum diketahui aspek 3. Tujuan Penelitian

fisik atupun nonfisiknya. Oleh karena Berdasarkan rumusan masalah di

itu, studi organologi merupakan cabang atas, tujuan penelitian ini adalah.

ilmu yang tepat untuk mengatasi 3.1 Pendeskripsian proses pembuatan

masalah tersebut. Berdasarkan uraian di musik kuriding masyarakat

atas, peneliti perlu melakukan Kalimantan Selatan?

penelitian tentang struktur, proses 3.2 Pendeskripsian struktur musik

pembuatan dan warna bunyi (timbre) kuriding masyarakat Kalimantan

musik kuriding di masyarakat Selatan?

Kalimantan Selatan (Kajian organologi). 4. Manfaat Penelitian

2. Rumusan Masalah 4.1 Manfaat Teoretis

Berdasarkan latar belakang di Hasil penelitian ini diharapkan

atas, masalah yang dibahas dapat memperkaya referensi yang

berhubungan dengan studi organologi

5
pada instrumen musik terutama pada

musik kuriding.

4.2 Manfaat Praktis

4.2.1 Hasil penelitian ini diharapkan

dapat memperkaya wawasan peneliti

tentang musik kuriding masyarakat

Kalimantan Selatan.

4.2.2 Penelitian ini diharapkan dapat

menambah bahan bacaan mahasiswa

agar dapat menambah pengetahuan

mahasiswa mengenai alat musik

kuriding.

6
KAJIAN TEORI duration, berhubungan dengan panjang-

Teori dalam suatu penelitian pendeknya nada dan faktor menentukan

sangat diperlukan, untuk mencapai pula pada gerak suatu ritme (long-

penelitian yang relevan dan suatu short duratinal relation) dari sekuen

legitimasi konseptual. Teori yang bunyi;

dipakai harus berkaitan dengan topik volume, berhubungan dengan

penelitian, agar dapat memecahkan intensitas bunyi atau dinamika; timbre

masalah yang ada. Adapun teori yang berhubungan dengan warna bunyi (tone

digunakan dalam penelitian ini sebagai color).

berikut: Tradisional berasal dari kata

2.1 Musik Tradisional Tradisi (Bahasa Latin: traditio,

Menurut Prier berpendapat “diteruskan”) atau kebiasaan, dalam

bahwa musik adalah curahan kekuatan pengertian yang paling sederhana

tenaga batin dan kekuatan tenaga adalah sesuatu yang telah dilakukan

penggambaran (visualisasi) yang berasal sejak lama dan menjadi bagian dari

dari gerak rasa dalam suatu rentetan kehidupan suatu kelompok masyarakat,

suara (melodi) yang berirama. biasanya dari suatu negara,

Sedangkan Christ dan Richard Delone kebudayaan, waktu, atau agama yang

(dalam Hanevi 1998:12) sama. Hal yang paling mendasar dari

mengemukakan tentang elemenelemen tradisi adalah adanya informasi yang

dasar bunyi musikal berupa : Pitch yaitu diteruskan dari generasi ke generasi

tinggi rendahnya kualitas bunyi; baik tertulis maupun (sering kali)

7
lisan, karena tanpa adanya ini, suatu artinya adalah ilmu. Jadi secara

tradisi dapat punah. Dipertegas lagi sederhana batasan organologi adalah

oleh Esten ilmu yang mempelajari tentang benda

(1993:11) bahwa tradisi adalah atau alat. Mempelajari alat musik

kebiasaan turun temurun sekelompok dengan teliti dan seksama seperti

masyarakat berdasarkan nilai-nilai bentuk alat musik, ukuran, bahan

budaya masyarakat yang bersangkutan. baku, yang digunakan dapat

Pengertian di atas dapat dikatakan mempengaruhi pemahaman terhadap

bahwa musik tradisional adalah prinsip bunyi yang dihasilkan, maka

rentetan suara yang memiliki ritme dan penulis melakukan pendekatan teori

bunyi yang menggambarkan watak dari musik yang berorientasi pada teori

suatu kebudayaan yang diwariskan dari yang dibawakan Susumo Kasima

generasi ke genarasi. (dalam Mariam, 1998:13)

mengemukakan:

2.2 Organologi Studi tentang instrumen

Organologi adalah suatu sub musikal di lakukan dengan dua

bagian dalam etnomusikologi, yang pandangan dasar yaitu structural dan

perhatian tamanya mendeskripsikan fungsional, secara struktural yaitu

alat. Diperjelas lagi oleh Kriswanto dengan mempelajari aspek fisik dari

(2008:82) bahwa organologi berasal dari instrumen musical seperti mengukur

kata organ yang berarti benda, alat, atau mencatat dan menggambarkan bentuk

barang dan logi (asal kata logos) yang instrmen konstruksi ukuran dan bahan

8
baku yang digunakan untuk membuat a) Ideofon : alat musik yang sumber

instrumen tersebut. Pendekatan secara bunyinya berupa badan dari alat

fungsional yaitu aspek-aspek yang itu sendiri.

terdapat dari alat musik tersebut yang Contoh : Gong, Angklung, Kolintang,

ada hubungannya dengan fungsi Kentongan.

musical, mencatat semua metode, b) Aerofon : Alat musik yang

memainkan instrumen, penggunaan sumber bunyinya berupa aer atau

bunyi yang diproduksi, kekuatan suara, udara

nada warna dan kualitas suara. Contoh : Seruling dan Terompet

Sebelum mengenal lebih jauh c) Membranofon : Alat musik

tentang organologi sebuah instrumen, yang sumber bunyinya berupa

peneliti mengambil sebuah teori yang membran atau

mengklasifikasikan alat musik sesuai selaput kulit.

dengan sumber bunyinya, seperti yang Contoh : Kendang, Rebana dan Tifa

dikutip oleh Soeharto, Sudharsono d) Kordofon : Alat musik yang

dan Arief (1987:51-52) dalam buku sumber bunyinya berupa cord,

pelajaran seni musik menuliskan tali atau dawai

bahwa Mahillon Sach Hornbostel telah Contoh : Rebab dan Sasando

,mengelompokkan alat-alat musik e) Elektrophon : Alat musik yang

berdasarkan sumber bunyinya sumber bunyinya dari electro

diantaranya adalah : atau listrik.

Contoh : Gitar elektrik, Elekton.

9
atau menjalankan suatu karya seni

dengan benar dalam suatu

2.3 Teknik Permainan pertunjukkan.

Teknik dalam Kamus Umum

Bahasa Indonesia diartikan sebagai

cara membuat sesuatu atau melakukan

sesuatu yang berkenaan dengan seni.

Teknik juga merupakan sesuatu cara

yang terkait dalam sebuah karya seni dan

dapat juga diartikan sebagai suatu cara

melakukan atau menjalankan suatu

karya seni dengan benar

(Poerwadarminto, 1953: 122).

Permainan dalam Kamus Besar

Bahasa adalah suatu pertunjukan dan

tontonan. Dalam pengertian ini,

permainan meliputi penggunaan

instrumen pengiring dan cara

mempertunjukannya kepada khalayak

umum. Dari beberapa penjelasan

tersebut, dapat dikatakan bahwa teknik

permainan adalah suatu cara melakukan

10
METODE PENELITIAN Lokasi penelitian adalah di

3.1 Pendekatan Penelitian Kalimantan Selatan masyarakat suku

Penelitian ini menggunakan Banjar.Kalimantan Selatan merupakan

metode Kualitatif, yaitu seluruh data salah satu Provinsi di Indonesia yang

yang didapat dideskripsikan dalam memiliki bentuk kesenian yang

bentuk kata-kata yang kata-kata itu tidak beranekaragam. Tidak jauh berbeda

diangkakan seperti lazimnya dalam dengan daerah lainnya, masyarakat suku

penelitian Kuantitatif. Cara kerja dan Banjar kaya akan potensi budaya dan

berpikir untuk mendapatkan data yang kesenian.

benar pun melalui proses kerja dan 3.3 Sumber data

berpikir induktif bukan deduktif Sumber data penelitian yang

sebagaimana halnya yang dilakukan diperoleh secara langsung dari

dalam penelitian Kuantitatif. Penentuan pengamatan (observasi) tentang kuriding

lokasi, sasaran kajian, teknik pada masyarakat Kalimantan Selatan

pengumpulan data, dan langkah analisis dalam kontek kajian organologi. Data

data secara umum dijelaskan (Rohidi, dan informasi yang dikumpulkan selama

2011:47). Untuk membantu penelitian penelitian, sebagian besar berupa data

ini, peneliti menggunakan kajian kualitatif yang digali dari berbagai

organologi melihat material sumber, yaitu: narasumber, tempat dan

instrumen(kuriding). peristiwa, dokumen dan catatan.

1. Muklis Maman (seniman) data

3.2 Lokasi dan Sasaran Penelitian yang diperoleh tentang profil

11
seniman kuriding, sejarah kuriding, langkah sistematis dan procedural yang

teknik pembuatan kuriding. dilakukan dimulai dari awal hingga

2. Rumiah (seniman) yakni seniman ditemukan kesimpulan-kesimpulan yang

hanya bisa memainkan tetapi tidak mendukung kajian peneliti. Tahap

bisa membuat. Data yang diperolah pengumpulan data berkaitan dengan

tentang profil seniman kuriding, pencarian berbagai sumber yang

sejarah kesenian kuriding, teknik dianggap penting dalam penelitian,

permainan kuriding. meliputi:

3. Gaparudin (seniman) yakni Studi pustaka ini dilakukan untuk

seniman hanya bisa memainkan mempelajari literatur yang berkaitan

tetapi tidak bisa membuat. Data dengan objek penelitian guna

yang diperolah tentangprofil mendapatkan berbagai informasi tentang

seniman kuriding, sejarah kesenian musik tradisional kuriding secara

kuriding, teknik permainan tertulis. Referensi dapat diperoleh dari

kuriding. data-data tertulis yang berkaitan

4. Anang Kacil (seniman) data yang langsung dengankuriding berupa buku-

diperoleh tentang profil seniman buku, foto-foto, artikel, dan surat kabar.

kuriding, sejarah kuriding, teknik Selain itu, peneliti berusaha membuat

pembuatan kuriding. foto-foto baru dan mencari sumber-

3.4 Teknik Pengumpulan Data sumber terbaru sebagai bahan

Dalam teknik pengumpulan data, perbandingan dalam pengolahan

peneliti berupaya melakukan langkah- data.Jika terdapat perubahan-perubahan,

12
hasil dari perbandingan tersebut Observasi adalah

dikomplikasikan dengan berbagai studi mengungkapkan gambaran sistematik

pustaka yang terkait langsung dengan mengenai peristiwa, tingkah laku dan

analisis data. perangkat pada tempat penelitian sosial

Untuk memperoleh data-data yang dipilih untuk diteliti dalam

yang relevan dengan penelitian yang kaitannya dengan penelitian ini

dilakukan, diperlukan teknik (Rohidi,2011:181). Peneliti

pengumpulan data dengan cara terjun menggunakan teknik pengumpulan data

dan aktif ke dalam objek penelitian dengan observasi partisipasi pasif

untuk mendapatkan informasi secara (passive participation).diharapkan dapat

langsung. Sesuai dengan bentuk memperoleh data langsung tanpa

pendekatan penelitian kualitatif dari adanya setingan mengenai, sejarah,

sumber data yang digunakan, maka organologi, teknik pembuatan kuriding,

teknik pengumpulan data yang dan teknik permainan kuriding.

digunakan adalah dengan analisis Kegiatan observasi ini dilakukan

dokumen, observasi, dan oleh peneliti dibagi dalam dua tahap.

wawancara.Teknik pengumpulan data Tahap pertama berupa observasi awal

yang digunakan dalam penelitian ini yang berisi dengan kegiatan pengecekan

melalui observasi, wawancara dan lokasi, kuriding pada masyarakat

dokumentasi yaitu: Kalimantan Selatan, dan sasaran

3.4.1 Observasi penelitian yang terdiri dari: (1).

Pembuatan, (2). struktur, dan (3). Warna

13
(timbre) .Tahap kedua berupa penelitian dalam penelitian. Informan atau

inti dengan kegiatan pengumpulan data narasumber diberi kesempatan yang

setelah langsung kelapangan. sebanyak-banyaknya untuk menjawab

pertanyaan-pertanyaan serta memberikan

3.4.2 Wawancara keterangan tentang siapa dirinya serta

Teknik wawancara ini dilakukan bagaimana perannya dalam kegiatan

dengan dua cara yaitu, yaitu wawancara tersebut.Wawancara seperti ini

terarah (directed interview) dan tidak dimaksudkna untuk membangun

terarah (non-interview). Wawancara hubungan yang akrab dengan informan

terarah yaitu, wawancara yang dilakukan dan narasumber di samping

dengan terlebih dahulu telah dimaksudkan untuk mendapatkan

mempersiapkan sejumlah pertanyaan keterangan yang umum.

yang akan diajukan dan bisa mencapai Nara sumber yang akan

sasaran atau tujuan penelitian. diwawancarai secara selektif dan

Wawancara tidak terarah dilakukan diperoleh data yang sebanyak-

secara bebas tanpa perencanaan banyaknya: terdiri dari beberapa

sebelumnya untuk lebih memperkuat seniman daerah dan perajin; (a). Muklis

data yang diperoleh. Maman, (b). Rumiah, (c). Gaparrudin,

Teknik ini dilakukan agar (d). Anang Kacil. Data yang didapatkan

informan maupun narasumber, bisa meliputi: mengenai sejarah, teknik

memberikan informasi yang akan permainan,cara pembuatan.

menjawab permasalahan yang diajukan

14
3.4.3 Dokumentasi telah diambil dijadikan sebagai bukti

Dokumentasi yaitu mencari data otentik agar hasil pengamatan tetap

mengenai hal-hal atau variabel yang terjaga validasinya.

berupa catatan, buku, surat kabar, 3.4.4 Perekaman

majalah, dan sebagainya. Dibandingkan Dalam teknik perekaman

dengan metode lain, maka metode ini digunakan untuk membantu bahkan

tidak begitu sulit, dalam arti apabila ada menjadi alat utama dalam melakukan

kekeliruan, sumber datanya masih tetap, langkah awal dalam observasi berupa

belum berubah. Dengan metode fotografi, video, perekaman audio.Pada

dokumentasi yang diamati bukan benda saat perekaman berlangsung, peneliti

hidup tetapi benda mati. menggunakan alat bantu berupa kamera

Pengumpulan dokumentasi DSLR, handycam yang nantinya

digunakan untuk menambah informasi digunakan untuk merekam gambar atau

dan pengetahuan yang telah diberikan suara, dan melihat keseluruhan

oleh para informan.Dokumentasi juga mengenai instrument kuriding di

dapat memperkuat suatu pendapat atau Kalimantan Selatan, hal inilah yang akan

informasi dari informan.Bentuk digunakan peneliti untuk menjaga

informasi yang digunakan dalam kebenaran data yang didapat dilapangan

penelitian adalah hasil wawancara, untuk menjembatani keterbatasan panca

referensi, gambar dan rekaman indera peneliti dalam mengumpulkan

wawancara yang memuat pembuatan. data-data di lapangan.(Rohidi 2011:

Gambar dan rekaman wawancara yang 194).

15
3.5 Matrik Pengumpulan Data dikemukakan bahwa kriteria keabsahan data

3.6 Studi Literatur perlu dibuktikan dengan teknik pemeriksaan

salah satunya adalah trianggulasi


Studi literatur dilakukan oleh
(Moleong,2007:327).
peneliti untuk mendukung atau
Teknik triangulasi yang
memperkuat konsep-konsep yang dapat
dipergunakan dalam penelitian ini adalah
dijadikan sebagai landasan pemikiran
triangulasi data dan sumber lain. Artinya
dalam penelitian yang berhubungan
proses pengujian dilakukan dengan cara
dengan masalah yang ada di lapangan.
memeriksa data yang telah didapatkan
Adapun berbagai sumber yang peneliti
melalui berbagai sumber. Sumber yang
ambil, diantaranya buku-buku, karya
didapatkan selanjutnya dideskripsikan,
ilmiah, makalah, jurnalistik, surat kabar
dianalisis dan dikategorikan menurut
dan tulisan-tulisan dari internet yang
data yang ingin diperoleh sehingga
berhubungan dengan penelitian.
menghasilkan suatu kesimpulan.

Langkah dilakukan ialah sebagai berikut:


3.7 Teknik Keabsahan Data
a). Membandingkan data hasil
Keabsahan data diperlukan
pengamatan dengan data hasil
dalam penelitian ini untuk menjaga
wawancara, b). Membandingkan apa
kebenaran dan kevalidan data. Dalam
yang dikatakan informan di depan umum
penelitian ini peneliti menggunakan
dengan di depen peneliti, c).
teknik triangulasi, yakni pengecekan
Membandingkan apa yang dikatakan
data dengan data dan sumber lain yang
informan pada sat penelitian dan pada
relevan. (Rohidi, 2011:218). Lebih lanjut
saat sepanjang waktu, d).
16
Membandingkan perspektif dan keadaan Metode deskriptif kualitatif

orang dengan tanggapan orang lain, dan digunakan untuk menganilisi semua

e). Membandingkan hasil wawancara rumusan masalah dalam penelitian

dengan data dokumen. ini.Menurut Moleong (1999:48) teknik

3.8 Teknik Analisis Data analisi deskriptif kualitatif adalah

Dalam penelitian ini, langkah- analisis yang berusaha mendeskrpsikan

langkah yang ditempuh untuk mengolah atau menggambarkan atau melukiskan

data antara lain: (1). Pengorganisasian fenomena atau hubungan antar fenomena

dan editing data, yaitu mengadakan yang diteliti secara sistematis, faktual

penyusunan data berdasarkan dan akurat.Data yang terkumpul dari

tipologisatuan data dengan mempelajari lapangan, masih merupakan data mentah

secara teliti seluruh jenis data dengan yang belum dapat digunakan untuk

mempelajari secara teliti seluruh jenis menarik kesimpulan.Karenanya, data

data yang sudah terkumpul dari hasil mentah tersebut harus diubah menjadi

observasi, wawancara, dan studi suatu informasi yang dapat dimengerti.

dokumen, (2). Memilih jenis-jenis Data dalam penelitian ini bersifat

variable atau koding, (3). Memasukan kualitatif, sehingga digunakan teknik

data (data entry),(4). Melakukan analisis analisis data kualitatif, yang terdiri atas

data, dan selanjutnya melakukan reduksi data, penyajian data, dan

interpretasi data untuk mendapatkan verifikasi (Matthew B. Miles & A.M.

makna simpulannya. Huberman, 1992.Dalam Rohidi, 2007:

16).

17
dokumentasi yang telah dilakukan.

3.8.1 Reduksi Data Selanjutnya data dianalisis antara

Data yang diperoleh masih kategori dan permasalahan yang ada

berupa dokumen dan catatan-catatan agar sajian dapat lebih jelas dan

peneliti berupa uraian yang panjang sistematis. Data yang disajikan terkait

perlu direduksi.Reduksi data merupakan dengan kuriding masyarakat Kalimantan

bagian dari analisis yang bertujuan untuk Selatan, yaitu: 1). Pembuatan, 2).

mempertegas, memeperpendek, Struktur, dan 3). Warna kuriding di

memfokuskan, serta membuang yang masyarakat Kalimantan Selatan.

tidak penting agar kesimpulan akhir 3.8.3 Verifikasi Data

dapat ditarik dengan valid. Pada reduksi Verivikasi merupakan langkah

ini, data penelitian dipilah-pilah sesuai terakhir dalam analisis data setelah

dengan fokus penelitian ini. reduksi dan sajian data.Sajian data

diinterpretasikan pada pembahasan

3.8.2 Penyajian Data secara sistematis. Data yang diverifikasi

Sajian data merupakan informasi pada penelitian ini pada akhirnya akan

yang dapat memungkinkan ditariknya dapat menjawab permasalahan penelitian

sebuah kesimpulan.didalam penelitian yang telah dirumuskan sebelumya.

ini akan menyajikan data secara lengkap

dan jujur, yang diperoleh melalui

tahapan-tahapan sebagai berikut:

observasi, wawancara, perekaman, dan

18
Pengumpul data selanjutnya dipaparkan secara
an data
Penyaji
sistematis kemudian
an dilakukan verifikasi

dan penarikan kesimpulan tentang hasil


Reduks
i kajian.
Kesimpulan-
kesimpulan/Verif

3.9 Jadwal Penelitian


Gambar 1. Komponen-komponen
analisis data model interaktif Dalam menyusunan agenda
(Sumber: Matthew B. Miles & A.M.
Huberman, 1992. Dalam Rohidi, dilapangan peneliti melakukan dalam
2007:20).
beberapatahapan-tahapan yang disusun

kedalam kalender nasional dengan


Mengacu dengan model analisis
menggunakan jadwal penelitian yang
data diatas maka pertama-pertama
direncanakan dan diatur sesuai urutan
peneliti berusaha semaksimal mungkin
kerja peneliti, direncanakan dengan
mencari dan mengumpulkan data yang
pembagian waktu pelaksanaan yang
berkaitan dengan kajian utama dalam
terperinci yaitu sebagai berikut:
penelitian ini. Pengumpulan data

dilakukan dengan teknik observasi,

wawancara, dan kajian pustaka dari

berbagai sumber, baik sumber primer


Table 3.2 : Jadwal penelitian.
maupun sekunder. Bersamaan dengan

proses pengumpulan data ini dilakukan

analisis data dengan mereduksi dan

membuat klasifikasi. Dari hasil reduksi

19
PEMBAHASAN lahan yang berketinggian 0-1400m dari

4.1 Proses Pembuatan Kuriding permukaan laut. Akan tetapi dalam

Bahan dasar kenyataanya populasinya tidak terlalu

Bahan dasar pembuatan kuriding besar.

ialah pohon enau, pada umumnya pohon

enau tidak secara khusus atau

diperkebunkan. Melalui bijinya yang

dimakan oleh binatang dalam hal ini


Foto : Pohon enau
musang, enau tersebar bersama Sumber : dokumentasi
pribadi.
pembuangan sisa cerna (tinja) binatang
Di kabupaten Banjar, daerah
tersebut. Apabila lingkungan mikronya
persebaran enau ini banyak terdapat di
cocok, enau dapat tumbuh besar dan
Kecamatan Astambul dan Karang Intan.
dapat diambil manfaatnya untuk
Oleh karenanya tanaman ini tumbuh
berbagai keperluan.
secara alamiah atau melalui biji yang
Pohon enau adalah tumbuhan
disebar oleh musang, maka tumbuhan ini
berbatang tunggal, termasuk keluarga
ada yang hidup bergerombol dan ada
pinang-pinangan dalam dialek Banjar
pula yang menyebar tak beraturan. Pada
enau disebut atau diucapkan dengan
lingkungan mikro yang cocok dalam arti
“enau”. Pohon enau dapat tumbuh di
tanahnya subur dan tidak terlalu lindung
daerah tropis dan subtropics, tersebar di
oleh tumbuh besar lainnya, enau sudah
Asia Selatan termasuk Indonesia.
menjadi besar pada usia 6 tahun. Namun
Sebenarnya pohon ini dapat hidup di
apabila lingkungan mikro tersebut

20
kurang mendukung, maka baru menjadi terkandung tepung sagu yang dapat

besar (dapat diambil niranya) setelah dikonsumsi karena banyak mengandung

sampai 10 tahun. karbohidrat.

Masyarakat suku Banjar Peralatan

Kalimantan Selatan mengenal dua Proses pembuatan kuriding memerlukan

macam pohon enau yaitu pohon enau peralatan yang cukup sederhana,

bini dan pohon enau laki antara lain: peralatan tersebut adalah sebagai

1) Pohon enau bini (enau betina) berikut:

tanda-tandanya berbunga putih 1) Parang, alat untuk memotong

dan memiliki tangkai yang pelepah pohon enau, menebas

lentur. rumput, ranting dan dahan kayu

2) Pohon enau laki (enau jantan) yang cukup besar. Terbuat dari

tanda-tanda berbunga merah, besi baja tipis dan tajam, dengan

tangkai agak keras dan batangnya ukuran 50-60 cm dilengkapi

mengandung banyak sagu. ulu(gagang)terbuat dari kayu

Dilihat dari bagian-bagiannya, sebagai pengangan.

pohon enau terdiri dari akar, batang,

daun dan bunga/buah.seperti halnya

pada tumbuhan jenis palam, pohon enau

memiliki akar serabut. Batangnya terdiri

dari kulit yang keras serta emplur di

dalamnya, di dalam emplur ini

21
Foto : pisau kecil.
Sumber : dokumen
Foto : parang. pribadi.
Sumber : dokumentasi pribadi.

3) Sarang kalulut/lem korea, yang


2) Pisau kecil, pisau yang
dipergunakan untuk
dipergunakan pisau ukuran kecil
menempelkan pemberat diilat
dengan bentuk khusus, untuk
kuriding.
mengorek, menghalusi

permukaan dan meraut pelepah

pohon enau yang sudah

dipotong-potong hingga menjadi

tipis. Yang terbuat dari besi baja

tipis dan tajam, dengan ukuran

20-30 cm dilengkapi

ulu(gagang)terbuat dari kayu

sebagai pengangan.

22
tergolong kayu keras akan

mempengaruhi ke bunyi/suara kuriding.

Foto : lem korea


Sumber : dokumentasi pribadi.

Foto : pelepah pohon


Cara membuat kuriding
enau/aren yang sudah diambil
dari pohonnya
Menurut tuturan para informan
Sumber : dokumentasi
pribadi.
pembuatan musik kuriding dari bahan
Dari semua bahan tersebut
bambu sudah dicoba tapi tidak berhasil,
mendapat peringkat tertinggi saat ini
karena letak geografis alam
adalah pelepah pohon enau/aren,
mempengaruhi tekstur bambu yang ada
maupun pelepah yang diambil “pelepah
di Kalimantan Selatan mudah sekali
enau bujang” yaitu: memiliki usia batang
pecah, kayu bangaris sudah tidak bisa
yang cukup, hampir muncul atau sudah
lagi ditemukan karena dilindung oleh
mengurai mayang buahnya tapi belum
masyarakat adat Kalimantan Tengah.
disadap air niranya. Pengambilan
Sedangkan kayu bangkala, kayu alaban,
pelepahnya yang baik ketika musim
dan kemuning menurut tutur seniman
hujan, yang diambil adalah bagian
Muklis Maman kurang cocok digunakan
belakang pelepah “balukuk” sepanjang
dalam pembuatan kuriding karena bahan
2m dan lebar 4 -5cm, yang kemudian

dikeringkan melalui prose alami tanpa

23
sinar matahari langsung dengan posisi jalan membuat kerangkanya lebih dahulu

bilahan berdiri hingga terjadi perubahan sehingga terjadi 2 (dua) ruas. Kemudian

warna pada kulit luarnya. (dari warna diraut menurut tebalnya sampai tipisnya

hijau berubah menjadi kuning kira-kira 2mm. ruas kedua sedikit tebal.

kecoklatan). Pada ruas kedua dibuat celah-celah

sempit dan diteruskan sampai ruas

pertama. Akibat dari pada pembuatan

celah-celah sempit ini akan terbentuknya

semacam lidah. Lidah ini pada ruas

pertama tipisnya kira-kira 1/2mm. lidah

inilah yang bergetar dan menimbulkan

bunyi. Pada kedua ujung alat musik

kuriding ini dibuat lubang kecil untuk

mengikatkan tali sebagai pemegang pada

ujung ruas kedua dan tali penarik pada

Foto : bahan kuriding ujung pertama.


yang sudah dipotong-potong dari
pelapah enau/aren
Sumber : dokumentasi
pribadi.

Kuriding terbuat dari pelepah

pohon enau dengan ukuran panjang kira-

kira 15 s/d 18cm, lebar 2cm dan tebalnya

+ 4mm. cara membuatnya adalah dengan

24
dalam pintu masuk rumah, sehingga

sewaktu-waktu mudah untuk

mengambilnya apabila hendak

Foto : Tali belati memainkan. Pendapat ini atas penuturan


Sumber : dokumentasi pribadi.
informan.

Tempat penyimpanan kuriding


Table : Tahapan pengerjaan dalam
pembuatan kuriding.
terbuat dari bahan batang bambu yang
Sumber : berdasarkan wawancara
dengan beberapa seniman kuriding masih basah maupun kering, dengan

panjang 21cm dan diameter 4,5cm.

Digunakan untuk menyimpan kuriding

biar awet terhindar dari patah.

No. Tahap Pengerjaan Bagian Pengerjaan


1. Tahap 1 1. pemilihan pohon
2. proses pemotongan
2. Tahap 2 1. Proses penipisan/meraut
2. Mebuat ilat/butuh kuriding
3. Pemasangan pemberat dikuriding
4. Proses membuat lubang
5. Pembuatan stik
6. Pemasangan tali penarik

Penyimpanan Kuriding

Masyarakat Banjar sejak dulu

penyimpanan kuriding biasanya

menyelipkan digantung disisi sebelah

25
Foto : tempat penyimpanan
kuriding.
Sumber : dokumentasi pribadi.

26
4.2 Struktur Musik Kuriding Merupakan kayu yang digunakan untuk

Struktur merupakan susunan mempermudah pemain kuriding dalam

unsur-unsur, dalam konteks ini kayu menarik.

enau yang diubah menjadi suatu 4. Kayu enau.

benda yaitu kuriding. Kuriding Pada proses pembuatan

terdapat struktur atau susunan kuriding kayu enau merupakan faktor

sehingga dapat menjadi kuriding. yang paling penting dan paling

Berdasarkan data dari Muklis Maman utama. Kayu merupakan bahan yang

yang di wawancarai pada tanggal 14 digunakan untuk membuat bagian tabang

September 2016 di Taman Budaya (badan) atau tubuh pada kuriding. Kayu

Provinsi Kalimantan Selatan struktur- yang memiliki kualitas baik akan

struktur yang terdapat pada kuriding menghasilkan kuriding yang berkualitas

yaitu. baik. Pada proses pembuatan kuriding

1. Bilah kayu (ilat kuriding). yang dibuat Muklis Maman digunakan

Merupakan bahan yang bergetar pada beberapa kayu yaitu; kayu bangaris,

bagian tengah kuriding. pohon pelepah enau, pelepah bangkala,

2. Benang rol. kayu alaban, dan kayu kemuning. Dari

Merupakan tali pengikat yang digunakan beberapa kayu yang dicoba dibuat kayu

bahan penarik yang diikatkan pada enau yang memiliki kualitas baik akan

bagian ujung kuriding dan kayu penarik. menghasilkan kuriding yang berkualitas

3. Kayu penarik. baik.

27
dan lebar 10cm dengan ketebalan 2mm.

Memiliki tekstur nyata dengan bentuk

garis-garis halus. Bahan dasar kuriding

dari pelepah pohon enau, tali penarik

kuriding dari tali belati kecil berwarna

putih dari tali belati, sedangkan stik

(stick) yang mempermudahkan pemain

kuridingdalam memainkannya terbuat

dari pelepah pohon enau. Pemberat

diilat/butuh kuriding yang ditempelkan


Foto : organologi kuriding. dengan menggunakan lem G terbuat dari
Sumber : dokumentasi pribadi.

Pemberat Tali belati


Stik

sisa potongan dasar kuriding.

Bentuk kuriding berukuran kecil Musik kuriding merupakan alat

persegi panjang. Berukuran panjang 2cm musik yang dimainkan dengan cara

28
ditarik pada bagian ujung kuriding, Gambar dibawah ini

tangan kanan menarik dan tangan kiri mendeskripsikan organologi kuriding

menahan pada bagian sisi kiri mulut agar dari berbagai sisi dan ukuran-ukuran

menghasilkan beberapa warna bunyi kuriding.

(timbre) melalui tarikan. Dari hasil

wawancara dengan muklis maman

tanggal 20 September 2016 seniman

yang berada di Kota Banjarmasin yang

memberikan informasi bahwa warna

bunyi yang dihasilkan dari kuriding

yaitu paw, dan waw. Warna bunyi dung

dihasilkan dari tarikan paw dihasilkan

dari tarikan pada bagian ujung kuriding.

Musik kuriding merupakan salah

satu kesenian tradisi rakyat. Kuriding

diinterpretasikan sebuah alat getar yang

dapat dikategorikan sebagai alat musik

ritmis/perkusi, berdasarkan dari hasil

produksi suara, teknik cara

memainkannya, dan termasuk ke dalam

jenis musik idiofon.

29
30
2cm lidah 4cm hasil suara
tangkai 8cmmenggunakan
2cm rongga mulut

sebagai pengatur resonasinya. Pemain

Ukuran bagian kuriding


kuriding biasanya bernafas dalam
Melihat dari petunjukannya dengan cara membuka
31 musik 31 instrument yang digunakan mulut sesaat tetapi tidak berpengaruh ke
pada pertunjukan 31 musik kuriding dalam permainan karena sudah terampil.
termasuk kedalam jenis 31 musik

Percusion Instrumen Ensamble yang

diisi atau diikuti oleh nyanyian atau

musik didalamnya. Pertunjukan kuriding

selain dimainkan secara ansambel. Akan

tetapi juga dapat dipadukan dengan

31 musik 31 instrument musik tradisi

lainnya seperti: panting, unggut, dan

sampek. Hal ini disesuaikan dengan

kebutuhan atau keinginan seorang

komponis musik.

Penyajiannya pemain kuriding

dapat memainkan dua sampai tiga menit

menyesuaikan dengan ketahanan fisik

dari pemain kuriding. Mengingat

kuriding susah untuk dimainkan karena

31
PENUTUP Bahan dasar alat musik kuriding

5.1 Simpulan dari banyaknya bahan yang terdapat di

Berdasarkan hasil data tentang Kalimantan Selatan seperti kayu

“Kajian Organologi” musik kuriding bangaris, pohon pelepah enau, pelepah

masyarakat suku banjar Kalimantan bangkala, kayu alaban, dan kayu

Selatan” disimpulkan bahwa musik kemuning. Dari beberapa kayu yang

kuriding memiliki keunikan dari dicoba dibuat seniman Muklis Maman

kuriding ialah pada saat memainkan kayu enau yang memiliki kualitas baik

dengan cara menempelkan dimulut, akan menghasilkan kuriding yang

sedangkan suara yang dihasilkan berkualitas baik. Hal ini juga diperkuat

menghentak-hentak dari tarikan tangan dengan letak geografis Provinsi

kanan, dan bentukyang kecil tetapi dapat Kalimantan Selatan yang banyak

menghasilkan suara nyaring (keras). ditumbuhi kayu/pohon enau.

Kuriding terbagi menjadi dua bagian,

yaitu bagian dalam (tidak rata) dan 5.2 Saran

bagian luar (rata) yang dimaksud dengan 1) Penelitian ini dapat di jadikan

bagian dalam yaitu bagian yang refrensi untuk meneliti alat

ditempelkan di mulut, sedangakan musik tradisional yang ada di

bagian luarnya yaitu bagian yang Kalimantan Selatan khususnya

menghadap ke luar. Posisi dalam Kotamadya Banjarmasin.

memainkan alat musik kuriding 2) Para pendidik diharapkan dapat

memiliki khas tersendiri. memberikan pengetahuan

32
tentang alat musik tradisonal

Kalimantan Selatan agar

mahasiswa/wi mengetahui di

Kalimantan Selatan terdapat

tempat pembuatan alat musik

tradisonal.

33
DAFTAR PUSTAKA

Banoe, Pono. 2003. Kamus Musik. Yogjakarta: Kanisius.


Hendarto, Sri. 2010. Organologi dan Akustika. Bandung: Lubuk Agung.
Maryanto, dkk. 2014. Tinjauan Etnomusikologi Musik Kuriding Suku Dayak Bakumpai
Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Yogjakarta: Aswaja Pressindo.
Meleong, Lexy J., (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Miles, H B. dan Heberman A M. 1992. Analisis Data Kualitatif (terj. Tjetjep Rohendi
Rohidi). Jakarta: UI Press.
Najamudin, Muhammad. 2015. Pelestarian Musik Kuriding Masyarakat Suku Banjar
Kalimantan Selatan (Perubahan Sosial Budya). Tesis S2. Unnes.
Prier, SJ. Karl-Edmund. 1999. Inkulturasi Musik Liturgi. Yogjakarta: Pusat Musik
Liturgi.
Rohidi. T. Rohendi. 2011. Metodologi Penelitian Seni. Semarang: Cipta Prima Nusantara
Semarang.
Soeharto. M, 1992. Kamus Musik. Jakarta: PT grasindo.
Sohartono, M. Sudarsono. Arief, Dasriel. 1987 Pelajaran Seni Musik SMPT. Jakarta :
PT. Gramedia

34