Anda di halaman 1dari 25

BAB II

LANDASAN TEORETIS

A. Konsep Belajar dan Pembelajaran

1. Pengertian Belajar

Belajar menurut Aaron Quinn Sartain adalah suatu perubahan

perilaku

sebagai

hasil

pengalaman

(Sugandi,

2000:4).

Belajar

merupakan suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan diri seseorang

yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru, berkat

pengalaman dan latihan. Pengertian lain belajar yaitu suatu proses usaha

yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah

laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri

dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003:2).

Dalam

proses

belajar-mengajar

(PBM)

akan

terjadi

interaksi

antara peserta didik dan pendidik. Peserta didik atau anak didik adalah

salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam

proses belajar-mengajar (Slameto, 2003:109), sedang pendidik adalah

salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar-mengajar, yang

ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang

potensial

di

bidang

pembangunan

(Slameto,

2003:123).

Dalam

melaksanakan kegiatan belajar mengajar tentunya banyak faktor yang

memengaruhi berhasil atau tidaknya kegiatan belajar mengajar.Faktor

yang mempengaruhi belajar dibedakan menjadi dua golongan, yaitu

faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern

adalah faktor yang ada

dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah

faktor yang berada di luar individu (Slameto, 2003:54). Yang termasuk

faktor intern antara lain: faktor faktor jasmaniah (faktor kesehatan dan

cacat tubuh); faktor psikologis (intelligensi, perhatian, minat, bakat,

motif,

kematangan,

dan

kesiapan);

dan

faktor

kelelahan

(kelelahan

jasmani dan rohani). Sedang yang termasuk faktor ektern antara lain

faktor keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga,

suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan

latar

belakang

kebudayaan);

faktor

sekolah

(metode

mengajar,

kurikulum, relasi guru dan siswa, disiplin sekolah, alat pengajaran,

standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode mengajar, dan

tugas rumah); dan faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat,

mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat).

Belajar merupakan proses dasar perkembangan hidup manusia.

Dengan

belajar,

manusia

melakukan

perubahan-perubahan

kualitatif

individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Purwanto, dalam Panen

(1999:84), mengemukakan belajar adalah setiap perubahan yang relatif

menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan

atau pengalaman. Belajar merupakan kegiatan orang sehari-hari kegiatan

belajar tersebut dapat dihayati atau dialami oleh orang yang sedang

belajar

Suatu pengajaran akan berhasil secara baik apabila seorang guru

mampu mengubah diri siswa dalam arti luas menumbuh-kembangkan

keadaan siswa untuk belajar, sehingga dari pengalaman yang diperoleh

siswa

selama

ia

mengikuti

proses

pembelajaran

tersebut

dirasakan

manfaatnya secara langsung bagi perkembangan pribadi siswa.

Sugandi,

dkk

(2004:9)

menyatakan

bahwa

pembelajaran

terjemahan dari kata “instruction” yang berarti self instruction (dari

internal) dan external instructions (dari eksternal). Pembelajaran yang

bersifat eksternal antara lain datang dari guru yang disebut teaching atau

pengajaran. Dalam pembelajaran yang bersifat eksternal prinsip-prinsip

belajar dengan sendirinya akan menjadi prinsip-prinsip pembelajaran.

Pembelajaran adalah perpaduan dari dua aktivitas, yaitu aktivitas

mengajar dan aktivitas belajar. Aktivitas mengajar menyangkut peranan

seorang

guru

dalam

konteks

mengupayakan

terciptanya

jalinan

komunikasi harmonis antara pengajar itu sendiri dengan si pelajar (Rivai,

Metode Mengajar dalam www. google.com).

2. Ciri -ciri Pembelajaran

Sugandi, dkk (2000:25) menyebutkan ciri-ciri pembelajaran antara

lain:

a. Pembelajaran

sistematis;

dilakukan

secara

sadar

dan

direncanakan

secara

b. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa

dalam belajar;

c.

Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan

menantang bagi siswa;

d.

Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan

menarik;

e.

Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan

menyenangkan bagi siswa;

f.

Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran baik

secara fisik maupun psikologis.

3. Prinsip-prinsip Pembelajaran

Prinsip -prinsip pembelajaran antara lain (Sugandi, dkk, 2000:27):

a. Kesiapan Belajar

Faktor kesiapan baik fisik maupun psikologis merupakan kondisi

awal suatu kegiatan belajar. Kondisi fisik dan psikologis ini biasanya

sudah terjadi pada diri siswa sebelum ia masuk kelas. Oleh karena itu,

guru tidak dapat terlalu banyak berbuat. Namun, guru diharapkan

dapat mengurangi akibat dari kondisi tersebut dengan berbagai upaya

pada saat membelajarkan siswa.

b. Perhatian

Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju pada suatu objek.

Belajar

sebagai

suatu

aktivitas

yang

kompleks

membutuhkan

perhatian

dari siswa

yang

belajar.

Oleh

karena

itu,

guru

perlu

mengetahui berbagai kiat untuk menarik perhatian siswa pada saat

proses pembelajaran sedang berlangsung.

c.

Motivasi

Motif adalah kekuatan yang terdapat dalam diri seseorang yang

mendorong

orang

tersebut

melakukan

kegiatan

tertentu

untuk

mencapai tujuan. Motivasi adalah motif yang sudah menjadi aktif,

saat orang melakukan aktivitas. Motivasi dapat menjadi aktif dan

tidak aktif. Jika tidak aktif, maka siswa tidak bersemangat belajar.

Dalam hal seperti ini, guru harus dapat memotivasi siswa agar siswa

dapat mencapai tujuan belajar dengan baik.

d. Keaktifan Siswa

Kegiatan belajar dilakukan oleh siswa sehingga siswa harus aktif.

Dengan bantuan guru, siswa harus mampu mencari, menemukan dan

menggunakan pengetahuan yang dimilikinya .

e. Mengalami Sendiri

Prinsip

pengalaman

ini

kaitannya

dengan

prinsip

sangat

penting

dalam

belajar

dan

erat

keaktifan.

Siswa

yang

belajar

dengan

melakukan sendiri, akan memberikan hasil belajar yang lebih cepat

dan pemahaman yang lebih mendalam.

f. Pengulangan

Untuk mempelajari materi sampai pada taraf insight, siswa perlu

membaca,

berpikir,

mengingat,

dan

melatihkan.

Dengan

latihan

berarti siswa mengulang-ulang materi yang dipelajari sehingga materi

tersebut mudah diingat. Guru dapat mendorong siswa melakukan

pengulangan,

misalnya

dengan

memberikan

pekerjaan

rumah,

membuat laporan dan mengadakan ulangan harian.

g. Materi Pelajaran Yang Menantang

Keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh rasa ingin tahu. Dengan

sikap seperti ini motivasi anak akan meningkat. Rasa ingin tahu

timbul saat guru memberikan pelajaran yang bersifat menantang atau

problematis. Pemberian materi yang problematis akan membuat anak

aktif belajar.

h. Balikan dan Penguatan

Balikan atau feedback adalah masukan penting bagi siswa maupun

bagi guru. Dengan balikan, siswa dapat mengetahui sejauh mana

kemampuannya

dalam

suatu

hal,

di

mana

letak

kekuatan

dan

kelemahannya. Balikan juga berharga bagi guru untuk menentukan

perlakuan selanjutnya dalam pembelajaran.

Penguatan

atau

reinforcement

adalah

suatu

tindakan

yang

menyenangkan dari guru kepada siswa yang telah berhasil melakukan

suatu

perbuatan

belajar.

Dengan

penguatan

diharapkan

mengulangi perbuatan baiknya tersebut.

i. Perbedaan Individual

siswa

Setiap siswa memunyai karakteristik masing-masing, baik dari segi

fisik maupun psikis. Dengan adanya perbedaan ini, tentu minat serta

kemampuan belajar mereka tidak sama. Guru harus memperhatikan

siswa-siswa

tertentu

secara

individual

dan

memikirkan

model

pengajaran yang berbeda bagi anak didik yang berbakat dengan yang

kurang berbakat.

4. Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran adalah perubahan perilaku dan tingkah laku

yang

positif

dari

peserta

didik

setelah

mengikuti

kegiatan

belajar

mengajar, seperti: perubahan yang secara psikologis akan tampil dalam

tingkah laku (overt behaviour) yang dapat diamati melalui alat indera oleh

orang lain, baik tutur-katanya, motorik dan gaya hidupnya.

Hal ini dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran merupakan

proses melibatkan guru dengan semua komponen tujuan, bahan, metode

dan alat, serta penilaian. Jadi proses pembelajaran merupakan suatu

sistem yang saling terkait antarkomponennya di dalam mencapai suatu

tujuan yang telah ditetapkan.

B. Model Pembelajaran Langsung

1. Pengertian Model Pembelajaran Langsung

Model Pembelajaran Langsung

(Direct Instruction) merupakan

suatu model pembelajaran yang dapat membantu peserta didik dalam

mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat

diajarkan dengan pola kegiatan

bertahap,

selangkah demi selangkah.

Model pembelajaran langsung juga merupakan model pembelajaran yang

menekankan pada penguasaan konsep dan/atau perubahan perilaku dengan

mengutamakan pendekatan deduktif.

MenurutArends (Trianto, 2007: 29), model pembelajaran langsung

adalah salah satu

model pembelajaran

yang

dirancang

khusus untuk

menunjang proses pembelajaran peserta didik yang

pengetahuan

deklaratif

dan

pengetahuan

prosedural

berkaitan dengan

yang

terstruktur

dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap,

selangkah demi selangkah.

Menurut Kardi dan Nur (Trianto, 2009:29) adapun ciri-ciri model

pembelajaran langsung adalah seperti berikut :

a. Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada peserta didik

termasuk prosedur penilaian pembelajaran.

b. Sintaks/pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran.

c. Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang diperlukan agar

kegiatan tertentu dapat berlangsung dengan berhasil.

Selain itu juga dalam pembelajaran langsung harus memenuhi

suatu persyaratan, antara lain: (1) ada alat yang dapat didemonstrasikan;

dan (2) harus mengikuti tingkah laku mengajar (sintaks).

2. Fase-fase Model Pembelajaran Langsung

Pada model pembelajaran langsung terdapat lima fase yang sangat

penting. Menurut Kardi (Trianto, 2007: 30) pembelajaran langsung dapat

berbentuk

ceramah,

demonstrasi,

pelatihan

atau

praktik,

dan

kerja

kelompok.

Pembelajaran

langsung

digunakan

untuk

menyampaikan

pelajaran yang ditransformasikan langsung oleh guru kepada peserta didik.

Penyusunan waktu yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran

harus seefisien mungkin, sehingga guru dapat merancang dengan tepat

waktu yang digunakan.

Fase-fase model pembelajaran langsung tersebut disajikan dalam 5

(lima) tahap, seperti Tabel 2.1 berikut:

Tabel 2.1 Fase-Fase Model Pembelajaran Langsung

Fase

Fase 1:

Menyampaikan tujuan dan Mempersiapkan pesertadidik.

Fase 2:

Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan.

Fase 3:

Memberikan latihan terbimbing.

Fase 4:

Mengecekpemahaman dan memberikan umpan balik.

Fase 5:

Memberikan kesempatan untuk pelatihan dan penerapan.

Perilaku Guru

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan menyiapkan peserta didik.

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan menyiapkan peserta didik.

Guru menyampaikan informasi dengan jelas dan mendemonstrasikan keterampilan dengan benar

Guru menyampaikan informasi dengan jelas dan mendemonstrasikan keterampilan dengan benar

Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal.

Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal.

Guru mengecek apakah peserta didik telah berhasil melakukan tugas dengan baik dengan memberikan umpan balik.

Guru mengecek apakah peserta didik telah berhasil melakukan tugas dengan baik dengan memberikan umpan balik.

Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan dan memberi pekerjaan rumah

Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan dan memberi pekerjaan rumah

Sumber: Kardi dan Nur (Trianto, 2007: 31).

C. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Langsung

Langkah-langkah

model

pembelajaran

langsung

pada

dasarnya

mengikuti pola-pola pembelajaran secara umum.

Menurut

Kardi

dan

Nur

(Trianto,

2007:33-40),

langkah-langkah

pembelajaran langsung meliputi tahapan sebagai berikut:

1.

Menyampaikan Tujuan dan Menyiapkan Peserta Didik

Tujuan langkah awal ini untuk menarik dan memusatkan perhatian

peserta didik, serta memotivasi mereka untuk berperan serta dalam

pelajaran itu.

a. Menyampaikan Tujuan

Peserta didik perlu mengetahui dengan jelas, mengapa mereka

berpartisipasi dalam suatu pembelajaran tertentu, dan mereka perlu

mengetahui apa yang harus dapat mereka lakukan setelah selesai

berperan serta dalam pelajaran itu. Penyampaian tujuan kepada

peserta didik dapat dilakukan guru melalui rangkuman rencana

pembelajaran

dengan

cara

menuliskannya

di

papan

tulis

atau

menempelkan

informasi tertulis pada papan tulis,

yang

berisi

tahap-tahap dan isinya, serta alokasi waktu yang disediakan untuk

setiap

tahap.

Dengan

demikian

peserta

didik

dapat

melihat

keseluruhan alur tahap-tahap kegiatan pembelajaran.

b. Menyiapkan Peserta Didik

Kegiatan ini bertujuan untuk menarik perhatian peserta didik pada

pokok pembicaraan, dan mengingatkan kembali pada hasil belajar

yang dimilikinya yang relevan dengan pokok pembicaraan yang

akan dipelajari. Tujuan ini dapat dicapai dengan jalan mengulang

pokok-pokok

pelajaran

yang

lalu,

atau

memberikan

sejumlah

pertanyaan kepada peserta didik tentang pokok-pokok pelajaran

yang lalu.

2.

Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan

Fase

kedua

pembelajaran

langsung

pengetahuan atau keterampilan.

3. Memberikan Latihan terbimbing

adalah

mendemonstrasikan

Salah satu tahap penting dalam pembelajaran langsung adalah cara guru

mempersiapkan dan melaksanakan pelatihan terbimbing. Keterlibatan

peserta didik secara aktif dalam pelatihan dapat meningkatkan retensi,

membuat

pembelajaran

dapat

berlangsung

dengan

lancar,

dan

memungkinkan peserta didik menerapkan konsep/keterampilan pada

situasi yang baru.

Menurut Kardi dan Nur (Trianto, 2007:37), ada beberapa hal yang perlu

diperhatikan

oleh

guru

dalam

menerapkan

dan

melakukan

pelatihan,yaitu:

a. Memberi tugas peserta didik melakukan latihan singkat dan

bermakna.

b. Memberikan pelatihan pada peserta didik sampai benar-benar

menguasai konsep/keterampilan yang dipelajari.

c. Hati-hati terhadap latihan yang berkelanjutan, pelatihan yang

dilakukan

terus

menerus

dalam

waktu

yang

lama

dapat

menimbulkan kejenuhan pada peserta didik.

d. Memperhatikan tahap-tahap awal pelatihan

yang

mungkin

saja peserta didik melakukan keterampilan yang kurang benar

atau bahkan salah tanpa disadari.

4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik

Tahap ini kadang-kadang disebut juga dengan tahap resitasi, yaitu guru

memberikan beberapa pertanyaan lisan ataupun tertulis kepada peserta

didik dan guru memberikan respon terhadap jawaban peserta didik.

Kegiatan ini merupakan aspek penting dalam pembelajaran langsung,

karena tanpa mengetahui hasilnya latihan tidak mempunyai manfaat

bagi peserta didik.

Guru dapat

menggunakan

berbagai cara

untuk

memberikan umpan balik, sebagaimana umpan balik secara lisan, tes,

dan tertulis, tanpa umpan balik spesifik peserta didik tak mungkin dapat

memperbaiki

kekurangannya

dan

tidak

dapat

penguasaan keterampilan yang mantap.

mencapai

tingkat

Menurut Kardi dan Nur (Trianto, 2007:38), untuk memberikan umpan

balik yang efektif kepada peserta didik yang jumlahnya banyak dapat

digunakan beberapa pedoman

berikut :

yang patut dipertimbangkan,

sebagai

a. Memberikan umpan balik sesegera mungkin setelah latihan.

b. Mengupayakan agar umpan balik jelas dan spesifik mungkin

agar dapat membantu peserta didik dalam keterampilan.

c. Umpan balik ditujukan langsung pada tingkah laku dan bukan

pada maksud yang tersirat dalam tingkah laku tersebut.

d. Menjaga

umpan

peserta didik.

balik

sesuai

dengan

tahap

pengembangan

e. Memberikan pujian dan umpan balik pada kinerja yang benar.

f. Apabila

memberi

umpan

balik

yang

negatif,

bagaimana melakukan dengan benar.

tunjukkan

g. Membantu peserta didik memusatkan perhatiannya pada proses

bukan pada hasil.

h. Melatih peserta didik cara memberi umpan balik kepada dirinya

sendiri dan bagaimana menilai keberhasilan kinerjanya sendiri.

Belajar bagaimana menilai keberhasilan sendiri dan memberikan

umpan balik kepada dirinya sendiri merupakan hal penting yang

perlu dipelajari oleh peserta didik.

5. Memberikan kesempatan latihan mandiri

Pada tahap ini, guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk

menerapkan keterampilan yang baru saja diperoleh secara mandiri.

Kegiatan ini dilakukan oleh peserta didik secara pribadi yang dilakukan

di rumah atau diluar jam pelajaran.

Menurut Kardi dan Nur (Trianto, 2007:40), ada beberapa hal yang perlu

diperhatikan oleh guru dalam memberikan tugas mandiri yaitu:

a. Tugas rumah yang diberikan bukan merupakan kelanjutan dari

proses pembelajaran, tetapi merupakan kelanjutan dari pelatihan

untuk pembelajaran berikutnya.

b. Guru

harus

menginformasikan

kepada

orangtua

peserta

didik

tentang tingkat keterlibatan mereka dalam membimbing peserta

didik di rumah.

c. Guru perlu memberikan umpan balik tentang hasil tugas yang

diberikan kepada peserta didik di rumah.

D. Tugas-Tugas Perencanaan Pembelajaran Langsung

Sebelum

melaksanakan

pembelajaran

langsung

guru

perlu

merencanakan proses pembelajaran. Adapun tugas-tugas perencanaan guru

adalah:

1. Merumuskan Tujuan

Menurut Mager (Trianto, 2009:46) tujuan yang baik perlu berorientasi

pada peserta didik yang spesifik, mengandung uraian yang jelas tentang

situasi

penilaian

(kondisi

evaluasi),

dan

mengandung

tingkat

ketercapaian kinerja yang diharapkan (kriteria keberhasilan).

2. Memilih Isi

Menurut Kardi & Nur (Trianto, 2009:46) bagi guru pemula yang masih

dalam proses penguasaan sepenuhnya materi ajar, disarankan agar

dalam memilih materi ajar mengacu pada kurikulum yang berlaku, dan

buku ajar tertentu.

3. Melakukan Analisis Tugas

Analisis

tugas

ini

adalah

alat

yang

digunakan

oleh

guru

untuk

mengidentifikasi

setepatnya

dari

suatu

keterampilan

atau

butir

pengetahuan yang terstruktur dengan baik yang akan diajarkan oleh

guru.

4. Merencanakan Waktu dan Ruang

Dalam

merencanakan

waktu

diperhatikan oleh guru:

dan

ruang,

ada

dua

hal

yang

harus

a. Memastikan bahwa waktu yang disediakan sepadan dengan bakat

dan kemampuan peserta didik.

b. Memotivasi peserta didik agar mereka tetap melakukan tugas-

tugasnya dengan perhatian yang optimal.

E.

Musik

 

Musik adalah hasil karya seni bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi

 

musik

yang

mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya,

melalui

unsur-unsur musik yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk atau struktur lagudan

ekspresi (Hermawati, dkk, 2008 :38).

Klasifikasi

alat

musik

(Hermawati, dkk, 2008 :38) :

menurut

Curt

Suchs

dan

Hornbostel

1. Idiophon: Badan alat musik itu sendiri yang menghasilkan bunyi. Contoh:

triangle, cabaza, marakas

2. Aerophone: Udara atau satuan udara yang berada dalam alat musik itu

sebagai penyebab bunyi. Contoh: recorder, seruling, saxsophone

3. Membranophone:

Kulit

atau

selaput

tipis

yang

ditegangkan

sebagai

penyebab bunyi. Contoh: gendang, conga, drum

4. Chordophone: Senar (dawai) yang ditegangkan sebagai penyebab bunyi.

Contoh: piano, gitar, mandolin.

5. Electrophone: Alat musik yang ragam bunyi atau bunyinya dibantu atau

disebabkan adanya daya listrik. Contoh: keyboard.

F. GAMBARAN UMUM ALAT MUSIK KOLINTANG

1. Sejarah Kolintang

Alat musik kolintang adalah alat musik yang berasal dari

daerah Minahasa, Sulawesi Utara. Bahan dasar kolintang adalah kayu,

seperti kayu telur, bandaran, wenang, kakinik dan kayu sejenisnya (jenis

kayu dari daerah Minahasa).

Nama kolintang itu sendiri berasal dari bunyi: Tong (low pitch

note), Ting (high pitch note) dan Tang (moderate pitch note). Dalam

bahasa daerah Minahasa untuk mengajak orang bermain kolintang

“Mangemo kumolintang” (mari kita ber tang ting tong) dan dari

kebiasaan itulah muncul nama Kolintang.

Pada mulanya kolintang hanya terdiri dari beberapa potong

kayu yang diletakkan berjejer di atas kedua kaki pemainnya dengan

posisi duduk di tanah, dengan kedua kaki terbujur lurus ke depan.

Dengan berjalannya waktu kedua kaki pemain diganti dengan dua

batang pisang, atau kadang-kadang diganti dengan tali seperti arumba

dari Jawa Barat. Sedangkan penggunaan peti resonator dimulai sejak

Pangeran Diponegoro berada di Minahasa (th.1830). Pada saat itu,

konon

peralatan

gamelan

dan

gambang

ikut

dibawa

oleh

rombongannya.

 
 

Adapun

pemakaian

kolintang

erat

hubungannya

dengan

kepercayaan tradisional rakyat Minahasa, seperti dalam upacara-upacara

ritual sehubungan dengan pemujaan arwah para leluhur. Itulah sebabnya

dengan masuknya agama kristen di Minahasa, eksistensi kolintang

demikian terdesak bahkan hampir menghilang sama sekali selama ±

100th.

Sesudah Perang Dunia II, barulah kolintang muncul kembali

yang dipelopori oleh Nelwan Katuuk (seorang yang menyusun nada

kolintang menurut susunan nada musik universal).

Pada mulanya hanya terdiri dari satu Melodi dengan susunan

nada diatonis, dengan jarak nada 2 oktaf, dan sebagai pengiring dipakai

alat-alat "string" seperti gitar, ukulele dan stringbass.

(Sumber:http://kolintang.page.tl/Sejarah-Kolintang.html)

2. Jenis - Jenis Kolintang

Sebuah

kolintang

mempunyai

14-21

bilah

kayu

yang

panjangnya sekitar 30-100 cm. Kayu yang lebih pendek menghasilkan

tangga

nada

(not) yang

tinggi,

sebaliknya

kayu

yang

panjang

menghasilkan not yang rendah. Kayunya adalah kayu lokal seperti, kayu

telur, bandaran, wenang, kakinik atau sejenisnya (jenis kayu yang agak

ringan tapi cukup padat dan serat kayunya disusun agar membentuk

garis sejajar). Dalam perkembangannya saat

ini, kayu

yang bagus

digunakan adalah kayu waru gunung dan kayu cempaka.

Kolintang sendiri ada 4 tipe, yaitu: soprano, alto, tenor, dan bas.

Penamaan masing-masing instrumen Kolintang :

Tabel 2.3. Jenis-Jenis Kolintang dan jarak nadanya

 

Nama

Jarak Nada

Nama Minahasa

Nama Lain

Instrument

(Range)

 

Bass II

A0-D#1

Loway

Bass Ekstension

 

Bass I

E1-A2

Loway

 
 

Cello

C2-A3

Sella

Contra Bass

 

Tenor I

G2-G4

Karua

 
 

Tenor II

E2-E4

Karua Rua

Gitar

 

Alto I

C3-C5

Uner

 
 

Alto II

E3-E5

Uner Rua

Banjo

 

Alto III

E4-E6

Katelu

Ukulele

 

Melodi I

C3-F6

Ina Esa

Melodi dasar

 

Melodi II

E2-A5

Ina Rua

Melodi Alto

 

Melodi III

E3-A6

Ina Taweng

Melodi Sopranino

a.

Melodi

Berfungsi

sebagai pembawa

lagu,

dapat

disamakan

dengan

melodi gitar, biola, xylophone, atau vibraphone.

Pada umumnya pemain melodi menggunakan dua atau tiga

pemukul, maka salah satu pemukul memainkan lagu (suara satu),

pemukul lainnya memainkan kombinasinya, serupa dengan orang

menyanyi duet atau trio. Bila dalam satu set terdapat dua buah melodi,

maka dapat digunakan bersama agar suaranya lebih kuat. Dengan

begitu dapat mengimbangi suara kolintang pengiring (terutama untuk

set 9 pemain) atau bisa juga melodi tersebut dimainkan dengan cara

memukul nada yang sama tetapi dengan oktaf yang berbeda. Alternatif

lain salah satu melodi memainkan pokok lagu, dan melodi yang lain

memainkan nada nada improvisasi.

Untuk memainkan nada panjang (legato) karena karakteristik

b.

dengung

nada

kolintang

agak

pendek,

maka

pada

nada

yang

dinginkan; harus ditahan dengan cara

(roll)

menggetarkan pemukulnya

Cello

Kolintang Cello dapat dipakai untuk memainkan bermacam-

macam

fungsi

pemainnya:

instrumen,

tergantung

dari

lagu

dan

kecakapan

1)

memainkan fungsi bass dan treble, dianalogikan seperti

pemain

piano,

di

mana

tangan

kanan

pemain

piano

memainkan lagu pokok, dan tangan kiri mengiringi lagu

yang dimainkan tangan kanan. Dalam hal ini tangan kanan

digantikan oleh kolintang melodi dan tangan kiri digantikan

oleh kolintang Cello, di mana nada bassnya dimainkan oleh

pemukul

tangan

kiri

Cello

(sticks

no1)

dan

treblenya

dimainkan oleh sepasang pemukul di tangan kanan pemain

Cello (sticks no 2 dan 3).

2)

Memainkan

fungsi

Contra

Bas

(Cello)

pada

orkes

keroncong. Hal ini akan lebih lincah apabila dimainkan

dengan

menggunakan

dua

pemukul,

sementara

fungsi

treblenya (cuk) diwakili oleh pemain kolintang Tenor atau

Alto.

3)

Memainkan

fungsi

drum

atau

taganing

(Gondang

Tapanuli), terutama untuk lagu lagu yang menonjolkan efek

ritmis

nya.

memfungsikan

Diperlukan

kecakapan

khusus

untuk

cello

sebagai

unpitched

percussion,

terutama untuk “mengaburkan” nada nada yang dihasilkan

Kolintang Cello.

c.

Tenor

Kolintang Tenor dibagi atas 2, yaitu Tenor I dan Tenor II. Tenor

I dan Tenor II hanya memiliki sedikit perbedaan yaitu pada jarak

nadanya (scale range), tetapi memunyai fungsi yang sama sebagai

penghasil suara treble rendah. Bagi pemain-pemain yang terbiasa

dengan sistem tone guitar lebih menyukai menggunakan Tenor II

karena nada terendahnya dimulai dari nada E, sama dengan nada

terendah senar guitar. Untuk pemain yang mahir bahkan tidak perlu

melihat notasi yang tertera di wilahan kolintang karena mereka sudah

hafal dengan posisi nadanya.

d.

Alto

Alto I dan Alto II ,juga hanya memiliki perbedaan sedikit pada

jarak

nada

(range),

tetapi

mempunyai

fungsiyang

sama

sebagai

penghasil suara treble sedang.

 
 

Alto

I

dan

Alto

II

dapat

melengkapi

fungsi

Tenor

merepresentasikan

fungsi pengiring

Guitar,

gabungan

3

pemukul

Tenor dengan 3 pemukul Alto dapat dianalogikan sebagai 6 senar

Guitar.

Alto

II

merepresentasikan

dengan

alat

musik

jarak

Banjo,

nada

E3-E5,

juga

dapat

sebagian

pemain

kolintang

menggunakan 2 pasang pemukul di tangan kanan dan kiri, untuk

menyamakan dengan 4 senar Banjo.

Alto III dengan jarak nada (range) E4-E6, merepresentasikan

fungsi Ukulele,

membunyikan nada

nadatinggi,

yang pada orkes

keroncong

disebut

“cuk”. Alto III dapat pula berfungsi sebagai

“cimbal” karena nadanya yang tinggi. Hal yang patut diperhatikan

adalah

supaya

memainkan

Alto

III

tidak

terlalu

keras

sehingga

mengaburkan fungsi lagu pada Kolintang Melodi.

Baik Alto maupun Tenor meskipun susunan wilahannya 1 baris

/tidak

bertingkat

seperti

kolintang

melodi,

tetapi

dapat

juga

memainkan fungsi melody (lagu). Hal ini tergantung dari kebiasaan

pemain tersebut.

Sebagai contoh pemain pemain Arumba, lebih familiar dengan

menggunakan Kolintang Alto atau Tenor untuk memainkan melodi

sebuah lagu, daripada mereka menggunakan Kolintang Melodi, karena

kebiasaan mereka dalam memainkan melodi Arumba

bertingkat.

e.

Bass

yang tidak

Pencapaian prestasi pengembangan alat musik kolintang yang

paling membanggakan adalah pada saat menciptakan Kolintang Bass.

Melalui masa trial & error yang cukup panjang, menghabiskan

banyak kayu wilahan, bongkar pasang peti resonansi berulang-ulang

sampai akhirnya didapat formula Kolintang Bass yang menghasilkan

suara rendah dan bulat.

Kolintang Bass merupakan salah satu alat musik perkusi akustik

bernada rendah yang terbaik di dunia. Cara memainkannya sama

seperti memainkan alat musik Bass pada umumnya, seperti Bass

Guitar atau Stringbass.

Untuk menutupi kekosongan bunyi karena jarak nadanya terpaut

yang jauh dengan instrument kolintang lainnya, sering pemain Bass

Kolintang memukul dua nada secara simultan dengan rentang nada 1

oktaf.

26

Ada juga pemain Bass Kolintang yang bereksperimen dengan

memainkan

Bass

dengan

suara

yang

diredam

dengan

menekan

wilahannya.

Hal yang perlu diperhatikan adalah penempatan Bass II yang

 

kadang

harus

disesuaikan

dengan

kondisi

ruangan

supaya

menghasilkan suara yang prima.

 

3.

Stick (Pemukul) Kolintang

 
 

Jenis

stick

(pemukul)

kolintang

bermacam

macam

yang

disesuaikan dengan instrumen yang akan digunakan.

Untuk instrumen bernada tinggi biasanya menggunakan stick

yang permukaannya keras, contohnya stick

Kolintang

melodi tanpa

menggunakan

pelapis

karet

pada

kepalanya.

Semakin

rendah

nada

wilahan yang akan dipukul, semakin membutuhkan stick yang empuk

dengan lapisan karet yang tebal pada kepala sticknya. Lapisan karet yang

paling tebal digunakan pada stick Kolintang Bass.

Dalam

satu

instrumen

Kolintang

dapat

menggunakan

stick

dengan ketebalan karet yang berbeda-beda. Stick no 1 digunakan pada

wilahan (bar tone) rendah sedangkan stick no 3 digunakan pada sisi

wilahan (bar tone) yang lebih tinggi.

27

Gambar 2.5. Gambar Stick Kolintang G. IRAMA CHA CHA CHA Musik Cha cha cha tidak

Gambar 2.5. Gambar Stick Kolintang

G. IRAMA CHA CHA CHA

Musik Cha cha cha tidak terlepas dari tarian cha cha cha. Tidak ada

penjelasan pasti tentang asal mula kata cha cha cha. Beberapa penulis tentang

irama cha cha cha hanya dapat menduga bahwa penyebutan nama cha cha

cha, diambil dari kelaziman menyebut ketukan terakhir yang berjumlah tiga

ketukan

itu

dengan cha cha

cha.

Mungkin

di negara

aslinya,

orang

menyebut atau menyuarakan ketukan itu dengan cara itu. Sama seperti orang

yang berbahasa Inggris menyebut sesuatu yang tidak perlu diuraikan dengan

cara menyuarakan: “bla bla bla”. Mungkin dari situlah nama cha cha cha

diperoleh,

sehingga

menjadi

kesepakatan

umum

yang

diterima

secara

universal.

Irama cha cha cha dalam suatu lagu, seperti irama Mars, mempunyai

tanda birama 4/4. yang berarti bahwa pada setiap di antara dua garis birama

dalam lagu tersebut mempunyai empat (4) hitungan. (1, 2, 3, 4). Yang berarti

pula bahwa setiap not yang berharga 1/4 (not balok) mendapat satu (1)

28

hitungan. Irama cha cha cha memunyai kekhususan, yaitu pada hitungan 3

dan 4, di tengah-tengahnya dengan jarak yang sama diberi hitungan (1) lagi

(cha). Sehingga hitungannya bukan (1, 2, 3, 4) melainkan 1, 2, 3 cha 4. Karena

masing-masing 3, cha, 4 harganya sama maka dijadikan cha cha cha.

Pola ritme irama Cha cha cha dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.2. Pola ritme irama Cha cha cha

Instrumen

   

Pola ritme

 

No

 

1

Cello/Rhytem

1 Cello/Rhytem
1 Cello/Rhytem
1 Cello/Rhytem
1 Cello/Rhytem

2

Alto

2 Alto
2 Alto
2 Alto
2 Alto
2 Alto

3

Tenor

3 Tenor
3 Tenor
3 Tenor
3 Tenor

4

Bass

4 Bass
4 Bass
4 Bass
4 Bass

Sumber : Tolan 1993:7

29