Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem organ dalam tubuh manusia ada beberapa macam, diantaranya adalah sistem
muskuloskeletal. Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh, membantu
proses pergerakan, serta melindungi organ-organ tubuh yang lunak. Komponen utama
dari sistem muskuloskeletal merupakan jaringan ikat. Sistem ini terdiri atas tulang, sendi,
otot rangka, tendon, ligamen, bursa, dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkan
struktur-struktur tersebut. Ada tiga macam tumor tulang yaitu yang bersifat lunak, ganas
dan yang memiliki lesi di tulang (berlubangnya struktur karena jaringan akibat cedera
atau penyakit). Selain itu ada yang bersifat primer dan skunder. Pada tumor tulang
sekunder misalnya, seseorang terkena tumor payudara, kemudian menjalar ke tulang dan
selanjutnya menggerogoti tulang tersebut. Kanker tulang ini merupakan kelompok tumor
tulang yang ganas.
Dari berbagai macam jaringan yang menyusun sistem ini, bermacam-macam pula
gangguan yang dapat ditimbulkan. Salah satu gangguan itu yaitu Benigna BoneTumor
and Maligna Bone Tumor. Tumor ini sering terjadi pada anak-anak, karena sifatnya yang
jinak tumor ini tidak berbahaya. Tumor-tumor jaringan lunak merupakan suatu golongan
heterogen kelainan-kelainan yang berasal dari jaringan asal mesodermal. Dalam jaringan
ini termasuk organ gerak, seperti otot-otot dan tendon, kapsula, sendi dan juga semua
struktur lemak dan jaringan ikat penyangga, yang berada diantara komponen-komponen
epitelial dan di sekitar organ-organ. Sering juga kelainan yang berasal dari struktur
mesenkimal, tetapi yang terletak dalam organ tertentu, dibicarakan dan ditangani sebagai
kelainan organ-organ itu dan tidak dimasukkan dalam golongan tumor jaringan lunak.
Peran perawat dalam penyembuhan dan perawatan klien sangat dibutuhkan, karena
umumnya pada pasien tumor tulang ini pasien mengalami kesulitan bergerak. Bahkan
efek dari tindakan medis juga cukup mengganggu, misalnya pada kemoterapi dan
pembedahan. Oleh karena itu perawat juga harus mengetahui tumor tulang Benigna dan
Maligna secara menyeluruh. Hal ini ditujukan agar perawat mampu bertindak secara
profesional dalam asuhan keperawatan dan memberikan perawatan yang supportif pada
penderita tumor tulang.

1
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana konsep teori dari Tumor tulang Benigna dan Maligna ?
1.2.2 Bagaimana Asuhan Keperawatan klien dengan Tumor tulang Benigna dan
Maligna?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahuikonsep teori dari tumor tulang benigna dan maligna.
1.3.2 Mengetahuiasuhan keperawatan pada klien dengan tumor tulang benigna dan
maligna

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Teori Tumor Tulang Benigna dan Maligna


A. Definisi Tumor Tulang
Tumor tulang adalah pertumbuhan abnormal pada sel-sel (neoplasma) di dalam
tulang yang kemungkinannya benigna (non kanker) atau maligna (kanker).
Neoplasma adalah masa abnormal dari jaringan, yang pertumbuhannya pesat dan
tidak terkoordinasi dari pada jaringan normal dan berlangsung lama serta berlebihan
setelah perhentian stimulus yang menimbulkan perubahan tersebut
Tumor tulang adalah istilah yang dapat digunakan untuk pertumbuhan tulang yang
tidak normal, tetapi umumnya lebih digunakan untuk tumor tulang utama (Brunner &
Suddart, 2001).

B. Klasifikasi Tumor Tulang


Tumor tulang ini dapat di bedakan menjadi dua yaitu:
1 Tumor tulang primer
a Tumor tulang primer merupakan tumor tulang yang berasal dari dalam tulang
itu sendiri (osteogenik).
Jinak : osteoid osteoma
Ganas : oesteosarkoma
b Tumor yang membentuk tulang rawan (kondrogenik)
Jinak : Kondroblastoma
Ganas : Kondrosarkoma
2 Tumor jaringan ikat (fibrogenik)
Jinak : Non Ossifying Fibroma
Ganas : Fibrosarkoma
3 Tumor sumsum tulang (myelogenik)
Ganas : multiple myeloma
4 Tumor tulang sekunder / metastasik
Tumor tulang sekunder merupakan tumor tulang yang berasal dari metastase
tumor yang berasal dari organ/bagian tubuh yang lain, misalnya pada tumor
tulang yang terjadi dari tumor payudara, prostase, paru-paru. Terutama sekali
tumor yang berada pada akses utama sistem vaskuler.
3
C. Etiologi Tumor Tulang Benigna dan maligna
1 Tumor Jinak (Benigna)
Tumor Tulang Jinak (Benigna Bone Tumor) adalah pertumbuhan abnormal
pada sel-sel di dalam tulang yang kemungkinannya benigna (non kanker) atau
tumor jinak (benigna) tidak menyerang dan menghancurkan
tissue(sekumpulan sel terinterkoneksi yang membentuk fungsi serupa dalam
suatu organisme) yang berdekatan, tetapi mampu tumbuh membesar secara
lokal.Biasanya setelah dilakukan operasi pengangkatan (tumor jinak), tumor
jenis initidak akan muncul lagi.
Penyebab dari tumor tulang tidak diketahui. Tumor tulang biasanya muncul
pada area yang sedang mengalami pertumbuhan yang cepat. Tetapi pada
penelitian biomolekuler lebih lanjut ditemukan beberapa mekanisme
terjadinyaneoplasma tulang, yaitu melalui identifikasi mutasi genetik yang
spesifik danpenyimpangan kromosom pada tumor. Keabnormalan dari gen
supresor tumordan gen pencetus oncogen. Tumor histogenik memiliki dua
level tipe, yaitu:
a Benigna bone tumor;
b Maligna bone tumor.
Menurut penelitian juga disebutkan bahwa terjadinya mutasi
cromosom P53 dan Rb juga dapat menjadi penyebab terjadinya tumor (Robins
1999, 551,“Basic of Pathology Disease”). Selain itu penyebabnya bisa karena
adanya trauma dan infeksi yang berulang misalnya Bone infarct, osteomyelitis
chronicpaget disease. Faktor lingkungan berupa paparan radiasi dan zat
karsinogenik (timbal, karbon dan bahan metal lain), serta gaya hidup
(perokok, alkoholik, dan sering terpapar stress) juga merupakan factor
predisposisi terjadinya tumor tulang ini.

2 Tumor Ganas (Maligna)


Tumor jenis ini lebih dikenal dengan istilah Kanker, yang memilikipotensi
untuk menyerang dan merusak tissue yang berdekatan, baik
denganpertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi)
ataumenyebabkan terjadinya metastasis (migrasi sel ke tempat yang jauh).
Faktor penyebab tumor maligna jaringan lunak yaitu:
4
a Faktor genetik atau keturunan dimana bisa diturunkan dari embrionik
mesoderm.
b Virus, Virus dapat dianggap bisa menyatukan diri dalam sel sehingga
mengganggu generasi mendatang dari populasi sel.
c Pemajanan terhadap radiasi pengionisasi dapat terjadi saat prosedur
radiografi berulang atau ketika terapi radiasi digunakan untuk mengobati
penyakit.
d Agens hormonal, Pertumbuhan tumor mungkin dipercepat dengan adanya
gangguan dalam keseimbangan hormon baik dalam pembentukan hormon
tubuh sendiri (endogenus) atau pemberian hormon eksogenus.
e Kegagalan sistem imun, Kegagalan sisem imun untuk berespon dengan
tepat terhadap sel-sel maligna memungkinkan tumor tumbuh sampai pada
ukuran yang terlalu besar untuk diatasi oleh mekanisme imun normal.
f Agens kimia, Kebanyakan zat kimia yang berbahaya menghasilkan efek-
efek toksik dengan menggunakan struktur DNA pada bagian-bagian tubuh
(zat warna amino aromatik, anilin, nikel, seng, polifinil chlorida).

D. Faktor Risiko Tumor Tulang


Beberapa faktor resiko yang menyebabkan terjadinya tumor tulang yaitu:
1 Kecepatan pertumbuhan tulang yang memacu timbulnya tumor tulang ganas
selama masa kanak-kanak terutama daerah metafise tulang panjang.
2 Beberapa kasus pada tumor tulang ganas disebabkan oleh kelainan DNA pada
tulang faktor genetik contohnya:
a Retinoblastoma kelainan pada gen 13q14
b Displasi tulang, penyakit paget, fibrous displasia, enchondromatosis,
eksostosis herediter multiple
c L1-Fraumenisyndrome (mutasi TP 53)
d Rothmund-thomson sindrom yaitu kelainan pada resesif autosomal yang
berkaitan dengan kelainan tulang kongenitaaaal, displasia rambut dan kulit,
hipogonadism, dan katarak
e Gaya hidup yang tak sehat misalnya merokok, makanan dan minuman yang
mengandung karbon.

5
E. Jenis-jenis Tumor Tulang Benigna dan Maligna
1 Benigna
a Osteokondroma
Osteokondroma (Eksostosis Osteokartilaginous) merupakan tumor
tulang jinak yang paling sering ditemukan. Biasanya menyerang usia 10-20
tahun. Tumor ini tumbuh pada permukaan tulang sebagai benjolan yang
keras. Penderita dapat memiliki satu atau beberapa benjolan, 10% dari
penderita yang memiliki beberapa osteokondroma, akan mengalami
kelaganasan tulang yang disebut kondrosarkoma, tetapi penderita yang hanya
memiliki satu osterokondroma, tidak akan menderita kondrosarkoma.
b Kondromajinak
Kondroma Jinak biasanya terjadi pada usia 10-30 tahun, timbul
dibagian tengah tulang. Beberapa jenis kondroma menyebabkan nyeri. Jika
tidak menimbulkan nyeri, tidak perlu diangkat atau diobati. Untuk memantau
perkembangannya, dilakukan foto rontgen. Jika tumor tidak dapat di
diagnosis melalui foto rontgen atau jika menyebabkan nyeri, mungkin perlu
dilakukan biopsi untuk menentukan apakah tumor tersebut bisa berkembang
menjadi kanker atau tidak.
c Kondroblastoma
Kondroblastoma merupakan tumor yang jarang terjadi, yang tumbuh
pada ujung tulang. Biasanya timbul pada usia 10-20 tahun. Tumor ini dapat
menimbulkan nyeri, yang merupakan petunjuk adanya penyakit ini.
Pengobatan terdiri dari pengangkatan melalui pembedahan; kadang setelah
dilakukan pembedahan, tumor bisa tumbuh kembali.
d Fibroma Kondromiksoid
Fibroma Kondromiksoid merupakan tumor yang sangat jarang, yang
terjadi pada usia kurang dari 30 tahun. Nyeri merupakan gejala yang biasa
dikeluhkan. Tumor ini akan memberikan gambaran yang khas pada foto
rontgen. Pengobatannya adalah pengangkatan melalui pembedahan.
e Osteoid Osteoma
Osteoid Osteoma adalah tumor yang sangat kecil, yang biasanya
tumbuh dilengan atau tungkai, tetapi dapat terjadi pada semua tulang.
Biasanya akan menimbulkan nyeri yang memburuk pada malam hari dan
berkurang dengan pemberian aspirin dosis rendah. Kadang otot di sekitar
6
tumor akan mengecil (atrofi) dan keadaan ini akan membaik setelah tumor
diangkat. Skening tulang menggunakan pelacak radioaktif bisa membantu
menentukan lokasi yang tepat dari tumor tersebut. Kadang-kadang tumor sulit
ditentukan lokasinya dan perlu dilakukan pemeriksaan tambahan seperti CT
scan dan foto rontgen dengan teknik yang khusus. Pengangkatan tumor
melalui pembedahan merupakan satusatunya cara untuk mengurangi nyeri
secara permanen. Bila penderita enggan menjalani pembedahan, untuk
mengurangi nyeri bisa diberikan aspirin.
f Tumor SelRaksasa
Tumor Sel Raksasa biasanya terjadi pada usia 20 tahun dan 30 tahun.
Tumor ini umumnya tumbuh di ujung tulang dan dapat meluas ke jaringan di
sekitarnya, biasanya menimbulkan nyeri. Pengobatan tergantung dari ukuran
tumor. Tumor dapat diangkat melalui pembedahan dan lubang yang terbentuk
bisa diisi dengan cangkokan tulang atau semen tulang buatan agar struktur
tulang tetap terjaga. Pada tumor yang sangat luas kadang perlu dilakukan
pengangkatan satu segmen tulang yang terkena. Sekitar 10 % tumor akan
muncul kembali setelah pembedahan, walaupun jarang tumor ini bisa tumbuh
menjadi kanker.
2 Maligna
a Khondrosarcoma
Chondrosarcoma adalah tumor yang terdiri dari sel-sel kartilago
(tulang rawan) yang ganas, merupakan jenis tumor ganas kedua yang paling
banyak didapati diderita. Kebanyakan Chondrosarcoma tumbuh lambat atau
merupakan tumor derajat rendah yang sering dapat disembuhkan dengan
pembedahan. Namun, ada juga tumor derajat tinggi yang cenderung untuk
menyebar. Biasanya untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan biopsi.
Tumor jenis ini harus diangkat seluruhnya melalui pembedahan karena tidak
bereaksi terhadap kemoterapi maupun terapi penyinaran. Amputasi tungkai
atau lengan jarang diperlukan. Jika tumor diangkat seluruhnya, lebih dari 75%
penderita bertahan hidup.
b Ewing’s sarcoma
Ewing’s sarcoma ditemukan oleh Dr. James Ewing pada tahun 1921,
dan sering ditemukan muncul pada masa pubertas, dimana tulang tumbuh
sangat cepat. Jenis tumor ini jarang ditemukan pada anak yang berumur
7
kurang dari 10tahun dan hamper tidak pernah ditemukan pada anak-anak afro-
amerika.Ewing’s sarcoma bisa tumbuh di bagian tubuh manapun, namun
paling seringditemukan pada tulang panjang anggota gerak, panggul atau
dada, bahkan jugabisa tumbuh di tulang tengkorak atau tulang pipih lainnya.
c FibrosarkomadanHistiositoma Fibrosa Malign
Kanker ini biasanya berasal dari jaringan lunak (jaringan ikat
selaintulang, yaitu ligamen, tendo, lemak dan otot) dan jarang berawal dari
tulang.Kanker ini biasanya ditemukan pada usia lanjut dan usia pertengahan.
Tulang yang paling sering terkena adalah tulang pada tungkai, lengan dan
rahang. Fibrosarkoma dan histiositoma fibrosa maligna mirip dengan
osteosarcoma dalam bentuk, lokasi dan gejala-gejalanya, pengobatannya juga
sama.
d Mieloma multipel
Mieloma multipel merupakan kanker tulang primer yang paling sering
ditemukan, yang berasal dari sel sumsum tulang yang menghasilkan sel darah,
umumnya terjadi pada orang dewasa. Tumor ini dapat mengenai satu atau
lebih tulang sehingga nyeri dapat muncul pada satu tempat atau lebih.
Pengobatannya rumit, yaitu meliputi kemoterapi, terapi penyinaran dan
pembedahan.
e Osteosarkoma
Osteosarkoma (sarkoma osteogenik) adalah tumor tulang ganas, yang
biasanya berhubungan dengan periode kecepatan pertumbuhan pada masa
remaja. Osteosarkoma merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan
pada anak-anak. Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun.
Angka kejadian pada anak laki-laki dan anak perempuan adalah sama, tetapi
pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak ditemukan pada anak laki-
laki. Penyebab yang pasti tidak diketahui. bukti-bukti mendukung bahwa
osteosarcoma merupakan penyakit yang diturunkan.
Osteosarkoma cenderung tumbuh di tulang paha (ujung bawah), tulang
lengan atas (ujung atas) dan tulang kering (ujung atas). Ujung tulang-tulang
tersebut merupakan daerah dimana terjadi perubahan dan kecepatan
pertumbuhan yang terbesar. Meskipun demikian, osteosarkoma juga bias
tumbuh di tulang lainnya. Gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri.
sejalan dengan pertumbuhan tumor, juga bisa terjadi pembengkakan dan
8
pergerakan yang terbatas. Tumor di tungkai menyebabkan penderita berjalan
timpang, sedangkan tumor di lengan menimbulkan nyeri ketika lengan dipakai
untuk mengangkat sesuatu benda. Pembengkakan pada tumor mungkin teraba
hangat dan agak memerah. Tanda awal dari penyakit ini bisa merupakan patah
tulang karena tumor bisa menyebabkan tulang menjadi lemah. patah tulang di
tempat tumbuhnya tumor disebut fraktur patologis dan seringkali terjadi
setelah suatu gerakan rutin.
f. Limfoma Tulang Maligna
Limfoma Tulang Maligna (Sarkoma Sel Retikulum) biasanya timbul
pada usia 40- 50 tahun. Bisa berasal dari tulang manapun atau berasal dari
tempat lain di tubuh kemudian menyebar ke tulang. Biasanya tumor ini
menimbulkan nyeri dan pembengkakan, dan tulang yang rusak lebih mudah
patah. Pengobatan terdiri dari kombinasi kemoterapi dan terapi penyinaran,
yang sama efektifnya dengan pengangkatan tumor. Amputasi jarang diperlukan.

F. Patofisiologi Tumor Tulang Benigna dan Maligna


Tumor ganas merupakan proses yang biasanya makan waktu lama sekali, bermula
ketika sel abnormal diubah oleh mutasi genetik dari DNA seluler. Sel abnormal ini
membentuk klon dan mulai berfoliferasi secara abnormal, mengabaikan sinyal
mengatur pertumbuhan dalam lingkungan sekitar sel tersebut kemudian dicapai suatu
tahap dimana sel mendapatkan ciri-ciri invasif. Dan terjadi perubahan pada jaringan
sekitarnya sel-sel tersebut menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan memperoleh akses
ke limfe dan pembuluh-pembuluh darah, melalui pembuluih darah tersebut sel-sel
dapat terbawa ke area lain dalam tubuh untuk membentuk metastase.
Penyebaran limfogen terjadi karena sel kanker menyusup ke saluran limfe
kemudian ikut aliran limfe menyebar dan menimbulkan metastasis di kelenjar limfe
regional. Pada umumnya kanker mula-mula menyebar dengan cara ini baru kemudian
menyebar hematogen, pada permulaan penyebaran hanya terjadi pada satu kelenjar
limfe saja tetapi selanjutnya terjadi pada kelenjar limfe regional lainnya. Setelah
menginfiltrasi kelenjar limfe sel kanker dapat menembus dinding struktur sekitar
menimbulkan perlekatan. Kelenjar limfe satu dengan yang lain sehingga membentuk
paket kelenjar limfe. Penyebaran hematogen terjadi akibat sel kanker menyusup ke
kapiler darah kemudian masuk ke pembuluh darah dan menyebar mengikuti aliran
darah vena sampai organ lain.
9
Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun dari tiga jenis sel: osteoblas,
osteosit, dan osteoklas. Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen
tipe I dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui suatu
proses yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid,
osteoblas, mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang peranan
dalam mengendapkan kalsium dan fosfat kedalam matriks tulang. Sebagian dari
fosfotase alkali akan memasuki aliran darah, dengan demikian maka keadaan
fosfotase alkali di dalam darah dapat menjadi indikator yang baik tentang
pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang atau pada kasus metastasis
kanker ke tulang. Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu
lintasan untuk pertukaran kimiawi untuk tulang yang padat. Osteoklas adalah sel-sel
besar berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat
diabsorbsi. Tidak seperti osteoblas dan osteosit, osteoklas adalah proses pengikisan
tulang.
Metabolisme tulang diatur oleh beberapa hormon yaitu hormon kalsitonin,
hormon paratiroid dan vit D. Suatu peningkatan kadar hormone kalsitonin mempunyai
efek terjadinya peningkatan absorbsi ke dalam tulang sehingga mengakibatkan
terjadinya pengapuran tulang yang menjadikan tulang-tulang rawan menjadi keras.
Jika terjadi peningkatan hormon paratiroid (PTH) mempunyai efek langsung
menyebabkan kalsium dan fosfat diabsorbsi dan bergerak memasuki serum. Di
samping itu peningkatan kadar PTH secara perlahan-lahan menyebabkan peningkatan
jumlah dan aktivitas osteoklas, sehingga terjadi demineralisasi. Peningkatan kadar
kalsium serum pada hiperparatiroidisme dapat pula menimbulkan pembentukan batu
ginjal. Vitamin D mempengaruhi deposisi dan absorbsi tulang seperti yang terlihat
pada kadar PTH yang tinggi.

G. Pathway
(terlampir)

H. Manifestasi Klinis Tumor Tulang Benigna dan Maligna


1 Manifestasi Klinis Tumor Tulang Benigna
Pasien umumnya memiliki riwayat nyeri berulang, memburuk pada malam
hari dan biasanya tidak sanggup beraktivitas. Massa dan pembengkakan mungkin
dapat diketahui dengan palpasi, tetapi gejala pokok (kehilangan berat badan,
10
demam, berkeringat pada malam hari, lemas) biasanya tidak ditemukan, kecuali
pada kasus tumor metastase.
Lesi yang berdekatan bergabung dan dapat menyebabkan tumor tidak
terkendali, bernodul dan nyeri. Tumor jaringan lunak seringkali dirasakan kurang
nyeri bahkan tidak nyeri. Nyeri ini disebabkan tertekannya saraf-saraf nyeri oleh
massa.
2 Manifestasi Klinis Tumor Tulang Maligna
a Nyeri
Nyeri merupakan gejala yang paling banyak ditemukan, sekitar 75% pasien
dengan tumor tulang maligna merasakan nyeri. Gejala nyeri yang
ditimbulkan tergantung pada predileksi serta ukuran tumor. Gejala dini
biasanya berupa nyeri yang bersifat tumpul akibat pembesaran tumor yang
perlahan-lahan. Nyeri berlangsung lama dan memburuk pada malam hari.
Saat istirahat nyeri tidak menghilang, nyeri diperberat oleh adanya fraktur
patologis.
b Pembengkakan, Pembengkakan lokal biasa ditemukan.
c Massa yang teraba-teraba yang diakibatkan penonjolan tulang.
d Frekuensi miksi meningkat
Manifestasi klinis ini ditemukan pada tumor tulang maligna di pelvis, namun
manifestasi klinis ini tidak selalu ada di setiap tumor tulang maligna. Gejala yang
ditimbulkan tergantung dari gradenya. Pada grade tinggi, selain pertumbuhan
tumor cepat juga disertai nyeri yang hebat. Sedangkan pada grade rendah,
pertumbuhan tumor lambat dan biasanya disertai keluhan orang tua seperti nyeri
pinggul dan pembengkakan.

I. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis didasarkan pada riwayat, pemeriksaan fisik, dan penunjang
diagnosis seperti CT, mielogram, asteriografi, MRI, biopsi, dan pemeriksaan biokimia
darah dan urine. Pemeriksaan foto toraks dilakukan sebagai prosedur rutin serta untuk
follow-up adanya stasis pada paru-paru. Fosfatase alkali biasanya meningkat pada
sarkoma osteogenik. Hiperkalsemia terjadi pada kanker tulang metastasis dari
payudara, paru, dan ginjal. Gejala hiperkalsemia meliputi kelemahan otot, keletihan,
anoreksia, mual, muntah, poliuria, kejang dan koma. Hiperkalsemia harus
diidentifikasi dan ditangani segera. Biopsi bedah dilakukan untuk identifikasi
11
histologik. Biopsi harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran dan
kekambuhan yang terjadi setelah eksesi tumor., (Rasjad, 2003).

J. Penatalaksanaan Medis Tumor Tulang Benigna dan Maligna


1 Penatalaksanaan Medis Tumor Tulang Benigna
Penatalaksanaan tumor tulang benigna biasanya tidak terlalu sulit dibanding
dengan tumor tulang maligna. Pada tumor tulang benigna yang jelas, misalnya non-
ossifying fibrosa, osteokondroma yang kecil biasanya tidak diperlukan tindakan
khusus. Apabila jenis tumor diragukan maka perlu dilakukan pemeriksaan biopsi.
Tujuan pengambilan biopsi adalah memperoleh material yang cukup untuk
pemeriksaan histologis, untuk membantu menetapkan diagnosis serta staging
tumor. Waktu pelaksanaan biopsi sangat penting sebab dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan radiologis yang dipergunakan pada staging.
2 Penatalaksanaan Medis Tumor Tulang Maligna
Penatalaksanaan tumor tulang maligna merupakan bentuk kerja tim antara
dokter dengan profesional kesehatan lainnya. Para radiologist, diperlukan untuk
melihat faktor- faktor untuk evaluasi kecepatan perkembangan tumor, diagnosis
spesifik, dan pembesaran tumor. Perawat dan ahli gizi, terlibat menjelaskan kepada
pasien efek samping dari penanganan tumor tulang maligna dan memberikan
dorongan kesehatan makanan untuk membantu melawan efek samping tersebut.
Jenis terapi yang diberikan kepada pasien tergantung pada beberapa hal seperti:
a. Ukuran dan lokasi dari kanker.
b. Menyebar tidaknya sel kanker tersebut.
c. Grade dari sel kanker tersebut.
d. Keadaan kesehatan umum pasien.
Pasien dengan tumor tulang maligna memerlukan terapi kombinasi
pembedahan(surgery), kemoterapi dan radioterapi;
a Surgery
Langkah utama penatalaksanaan tumor tulang maligna pembedahan karena
tumor tulang ini kurang berespon terhadap terapi radiasi dan kemoterapi.
Variasi penatalaksanaan bedah dapat dilakukan dengan kuret intralesi untuk
lesi grade rendah, eksisi radikal, bedah beku hingga amputasi radikal untuk
lesi agresif grade tinggi. Lesi besar yang rekuren penatalaksanaan paling tepat
adalah amputasi.
12
b Kemoterapi
Kemoterapi, meskipun bukan yang paling utama, namun ini diperlukan jika
kanker telah menyebar ke area tubuh lainnya. Terapi ini menggunakan obat
anti kanker (cytotoxic) untuk menghancurkan sel-sel kanker. Namun
kemoterapi dapat memberikan efek samping yang tidak menyenangkan bagi
tubuh. Efek samping ini dapat dikontrol dengan pemberian obat.
c Radioterapi
Prinsip radioterapi adalah membunuh sel kanker menggunakan sinar
berenergi tinggi. Radioterapi diberikan apabila masih ada residu tumor, baik
makro maupun mikroskopik. Radiasi diberikan dengan dosis per fraksi 2,5
Gy per hari dan total 50-55 Gy memberikan hasil bebas tumor.

2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Tumor Tulang Benigna dan Maligna
A. Pengkajian
1 Pengkajian Identitas Klien (nama, usia, jenis kelamin, asal, dll)
2 Riwayat kesehatan
a Riwayat kesehatan sekarang
Klien nyeri pada ekstremitas, sering berkeringat pada malam hari, nafsu makan
berkurang dan sakit kepala.
b Riwayat kesehatan dahulu
1) Kemungkinan pernah terpapar sering dengan radiasi sinar radio aktif dosis
tinggi
2) Kemungkinan pernah mengalami fraktur
3) Kemungkinan sering mengkonsumsi kalsium dengan batas narmal
4) Kemungkinan sering mengkonsumsi zat-zat toksik seperti : makanan dengan
zat pengawet, merokok dan lain-lain
c Riwayat kesehatan keluarga
Kemungkinan ada salah seorang keluarga yang pernah menderita kanker
3 Pengkajian fisik
a Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya
pelebaran vena
b Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang
terbatas
c Adanya tanda-tanda inflamasi
13
d Pemeriksaan TTV klien

B. Diagnosa Keperawatan
1 Nyeri akut berhubungan dengan obstruksi jaringan saraf atau inflamasi
2 Resiko cedera berhubungan dengan Pertumbuhan tulang yang absortif
3 Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
4 Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan Fraktur patologik
5 Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan dan penanganan
6 Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan pembedahan,
radiasi, kemoterapi

C. Intervensi
NO DIAGNOSA NOC NIC
KEPERAWATAN
1 Nyeri akut berhubungan Setelah diberikan asuhan  Observasi reaksi
dengan obstruksi jaringan keperawatan … x 24 jam non verbal dari
saraf atau inflamasi. diharapkan nyeri berkurang ketidaknyamanan
dengan criteria hasil :  Lakukan pengkajian
 Mampu mengontrol nyeri nyeri secara
nyeri komprehensif
 Melaporkan bahwa termasuk lokasi,
nyeri berkurang karakteristik,
dengan menggunakan durasi, frekuensi,
manajemen nyeri kualitas, dan faktor
 Mampu mengenali presipitasi
nyeri  Ajarkan teknik non
 Menyatakan rasa farmakologi
nyaman setelah nyeri  Bantu pasien dan
berkurang keluarga untuk
mencari dan
menemukan
dukungan
 Kolaborasi

14
pemberian obat
analgetik untuk
mengurangi nyeri

2 Resiko cedera berhubungan Setelah diberikan asuhan  Identifikasi


dengan Pertumbuhan tulang keperawatan … x 24 jam kebutuhan
yang absortif resiko cedera dapat teratasi keamanaan pasien
dengan criteria hasil : ,sesuai dengan
 Klien terbebas dari kondisi fisik dan
cedera fungsi kognitif
 Klien mampu pasein dan riwayat
menjelaskan cara atau penyakit terdahulu
metode untuk pasien
mecegah injury /  Sediakan
cedera lingkungan yang
 Klien mampu aman untuk pasien
menejlaskan faktor  Memasang side rail
resiko dari tempat tidur
lingkungan /prilaku  Menyediakan
personal tempat tidur yang
nyaman dan bersih

3 Resiko infeksi berhubungan Setelah diberikan asuhan  Monitor tanda dan


dengan trauma jaringan keperawatan … x 24 jam gejala infeksi
diharapkan resiko infeksi sitemik atau local
teratasi dengan criteria  cuci tangan setiap
hasil : sebelum dan
 Klien bebas dari tanda sesudah makan
dan gejala infeksi ajarkan pasien dan
 Mendeskripsikan keluarga tanda dan
proses penularan gejala infeksi
penyakit  ajarkan cara
 Menunjukan menghindari infeksi

15
kemampuan mencegah  kolaborasi
timbulnya infeksi pemberian
 Menunjukan prilaku antibiotic
hidup sehat

4 Hambatan mobilitas fisik Setelah diberikan asuhan  monitoring vital


berhubungan dengan keperawatan … x 24 jam sign sebelum/
Fraktur patologik hambatan mobilitas fisik sesudah latihan dan
teratasi dengan criteria lihat respon pasien
hasil : saat latihan
 Klien meningkat dalam  bantu klien untuk
aktivitas fisik menggunakan
 Mengerti tujuan dari tongkat saat
peningkatan mobilitas berjalan dan cegah
 Memperagakan terhadap cedera
penggunaan alat  berikan alat bantu
jika pasien
memerlukan
 ajarkan pasien
bagaimana merubah
posisi dan berikan
bantuan jika
diperlukan
 konsultasikan
dengan terapi fisik
tentang rencana
ambulasi sesuai
dengan kebutuhan

5 Gangguan citra tubuh Setelah dilakukan asuhan  Kaji harapan cara


berhubungan dengan keperawatan selama tubuh klien yang
pembedahan dan ......x24 jam diharapkan berdasarkan tahap

16
penanganan klien tidak mengalami perkembangan.
gangguan citra tubuh dan  Bantu klien untuk
pasien melakukan mendiskusikan
Pengembangan penyebab
peningkatan penerimaan perubahan yang
diri pada klien tercapai terjadi karena
dengan kriteria hasil: penyakitnya
 Klien mengatakan bisa  Dukung upaya
menerima kondisi klien untuk
fisiknya memperbaiki citra
 Klien mau berinteraksi diri , spt merias,
dengan orang lain dan merapikan.
tidak merasa malu
untuk berinteraksi
dengan orang lain.

6 Ansietas berhubungan Setelah dilakukan asuhan  Identifikasi tingkat


dengan perubahan status keperawatan selama … x kecemasan
kesehatan dan pembedahan, 24 jam diharapkan ansietas  Gunakan
radiasi, kemoterapi pasien teratasi dengan pendekatan yang
criteria hasil : menenangkan
 Klien mampu  Jelaskan semua
mengidentifikasi dan prosedur dan apa
mengungkapkan gejala yang dirasakan
cemas selama prosedur
 Vital sign dalam batas  Dengarkan dengan
normal penuh perhatian
 Postur tubuh, ekspresi  Instruksikan pasien
wajah, bahasa tubuh menggunakan
dan tingkat aktivitas teknik relaksasi
menunjukan  Berikan obat untuk
berkurangnya mengurangi

17
kecemasan kecemasan

D. Implementasi
Implementasi dilakukan berdasarkan intervensi yang telah direncanakan.

E. Evaluasi
1 Nyeri akut berhubungan dengan obstruksi jaringan saraf atau inflamasi.
a Mampu mengontrol nyeri
b Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
c Mampu mengenali nyeri
d Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
2 Resiko cedera berhubungan dengan Pertumbuhan tulang yang absortif
a Klien terbebas dari cedera
b Klien mampu menjelaskan cara atau metode untuk mecegah injury / cedera
c Klien mampu menejlaskan faktor resiko dari lingkungan /prilaku personal
3 Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
a Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
b Mendeskripsikan proses penularan penyakit
c Menunjukan kemampuan mencegah timbulnya infeksi
d Menunjukan prilaku hidup sehat
4 Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan Fraktur patologik
a Klien meningkat dalam aktivitas fisik
b Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas
c Memperagakan penggunaan alat
5 Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan dan penanganan
a Klien mengatakan bisa menerima kondisi fisiknya
b Klien mau berinteraksi dengan orang lain dan tidak merasa malu untuk
berinteraksi dengan orang lain.
6 Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan pembedahan,
radiasi, kemoterapi
a Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas

18
b Vital sign dalam batas normal
c Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukan
berkurangnya kecemasan

19
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Kanker tulang merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini
tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah
bagian ujung tulang panjang, terutama lutut.
Kanker tulang( osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok usia 15 – 25 tahun (
pada usia pertumbuhan ). Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka
kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Tetapi pada akhir masa
remaja penyakit ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki. Sampai sekarang
penyebab pasti belum diketahui.
Tanda dan gejala dari Osteosarkoma adalah Nyeri dan/ atau pembengkakan
ekstremitas yang terkena, pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta
pergerakan yang terbatas, teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa
serta adanya pelebaran vena dan gejala-gejala penyakit metastatic meliputi nyeri dada,
batuk, demam, berat badan menurun dan malaise.

20
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddart. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Vol 3. Ed 8. EGC. Jakarta.

Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit

Buku Kedokteran EGC

Nurarif Amin, Hardhi. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan

Nanda NIC&NOC. Mediaction Jogja. 2015

Reeves, J. Charlene. Et al. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Ed. I. Salemba medika.

Jakarta

21