Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
tugas mata kuliah Manajemen Terpadu Balita Sakit ( MTBS ), dengan judul “
PNEUMONIA “. Makalah ini di susun dalam rangka memenuhi tugas kelompok
mata kuliah Manajemen Balita Sakit ( MTBS ) Program Studi Ilmu Keperawatan
Stikes Indonesia Jaya ( STIK IJ )

Dalam menyusun makalah ini, penulis banyak memperoleh bantuan serta


bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan
ucapan terima kasih kepada Dosen Pembimbing dan kepada teman teman yang
telah mendukung terselesaikannya makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun guna sempurnanya makalah ini. Penulis berharap semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Parigi 15 Oktober 2018

PENYUSUN
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

A. PENDAHULUAN

Pneumonia adalah salah satu penyakit yang menyerang saluran


nafas bagian bawah yang terbanyak kasusnya didapatkan di praktek-
praktek dokter atau rumah sakit dan sering menyebabkan kematian
terbesar bagi penyakit saluran nafas bawah yang menyerang anak-anak
dan balita hampir di seluruh dunia. Diperkirakan pneumonia banyak
terjadi pada bayi kurang dari 2 bulan, oleh karena itu pengobatan penderita
pneumonia dapat menurunkan angka kematian anak.
Salah satu penyebab utama kematian bayi dan anak Balita adalah penyakit
ISPA yang di akibatkan oleh penyakit pneumonia. Strategi dalam
penanggulangan pneumonia adalah penemuan dini dan tatalaksana anak
batuk dan tau kesukaran bernapas yang tepat.
Sejak 1990 Departemen Kesehatan telah mengadaptasi, menggunakan dan
menyebarluaskan pedoman tata laksana pneumonia Balita yang bertujuan
untuk menurunkan angka kematian Balita karena Pneumonia.
B. RUMUSAN MASALAH

C. Tujuan Makalah
1. Mengetahui defenisi dari Pneumonia.
2. Mengetahui penyebab dari Pneumonia.
3. Mengetahui gejala atau manifestasi klinis dari Pneumonia.
4. Mengetahui komplikasi dan bagaimana cara penatalaksanaan (therapy)
dari Pneumonia.
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFENISI

1) Di dalam buku “Pedoman Pemberantasan Penyakit ISPA untuk


Penanggulangan Pneumonia pada Balita” di sebutkan bahwa
pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernapasan
akut (ISPA) yang mengenai bagian paru ( jaringan alvioli) (DepKes
RI, 2004:4). Pertukaran oksigen dan karbondioksida terjadi pada
kapiler kapiler pembuluh darah dalam alvioli. Pada penderita
pneumonia, nanah (pus) dan cairan akan mengisi alvioli tersebut
sehingga terjadi kesulitan penyerapan oksigen. Hal ini mengakibatkan
kesukaran bernapas (DepKes RI, 2007:4)

2) Menurut Mahmud, 2006 menyebutkan bahwa pneumonia adalah


terjadinya peradangan pada salah satu atau kedua organ paru yang di
sebabkan oleh infeksi.

3) Peradangan tersebut mengakibatkan jaringan pada paru terisi oleh


cairan dan tak jarang menjadi mati dan timbul abses (Prabu, 1996:37).
Penyakit ini umunya terjadi pada anak anak dengan ciri ciri adanya
demam, batuk di sertai napas cepat (takipnea) atau napas sesak.
Defenisi kasus tersebut hingga kini digunakan dalam program
pemberantasan dan penanggulangan ISPA oleh Departemen Kesehatan
RI setelah sebelumnya di perkenalkan oleh WHO pada tahun 1989.

4) Menurut Wahab, 2000, pneumonia merupakan penyakit infeksi


saluran pernapasan yang di tunjukkan dengan adanya pelebaran cuping
hidung, ronki, dan retraksi dinding dada atau sering di sebut tarikan
dada bagian bawah ke dalam (chest indrawing)
5) Pengertian pneumonia dalam buku “ Perawatan Anak Sakit” yang
di tulis Ngastiyah yang di terbitkan oleh EGC mengatakan bahwa
pneumonia adalah suatu radang paru yang di sebabkan oleh bermacam
macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur, dan benda asing.

B. ETIOLOGI

Tubuh mempunyai daya tahan yang berguna untuk melindungi dari bahaya
infeksi melalui mekanisme daya tahan traktus respiratorius yang terdiri
dari :
a. Susunan anatomis dari rongga hidung
b. Jaringan limfoid di naso faring
c. Bulu getar yang meliputi sebagian besar epitel traktus respiratorius
dan sekret yang di keluarkan oleh sel epitel tersebut
d. Refleks batuk
e. Refleks epiglotis yang mencegah terjadinya aspirasi sekret yang
terinfeksi
f. Drainase sistem limfatik dan fungsi menyaring kelenjar limfe regional
g. Fagositas, aksi enzimatik dan respon immunohumoral terutama dari
IgA

Anak dengan daya tahan terganggu akan menderita pneumonia


berulang atau tidak mampu mengatasi penyakit ini dengan sempurna.
Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya pneumonia adalah daya tahan
tubuh yang menurun misalnya akibat malnutrisi energi protein (MEP),
penyakit menahun, trauma pada paru, anestesia, aspirasi, dan pengobatan
dengan antibiotik yang tidak sempurna..

Etiologi pneumonia dapat dibedakan berdasarkan anatomi dan agen


penyebab infeksinya. Pembagian pneumonia menurut anatominya :
a. Pneumonia lobaris
b. Pneumonia lubularis ( Bronkopneumonia)
c. Pneumonia interstitialis ( Bronkiolitis )

Sedangkan pembagian pneumonia menurut etiologis atau agen penyebab


infeksinya adalah :

a. Bakteri (paling sering menyebabkan pneumonia pada orang dewasa) :


• Staphylococcus aureus
• Legionella
• Hemophillus influenzae

b. Virus
• Virus influenzae
• Chicken pox (cacar air)
c. Mycoplasma pneumoniae (organisme yang mirip bakteri)
d. Jamur
• Aspergilus
• Histoplasma
• koksidioidomikosis
e. Aspirasi ( makanan, amnion dsb )
f. Pneumonia hipostatik
g. Sindrom loeffler
Pada umumnya pneumonia terjadi akibat adanya infeksi bakteri
pneumokokus (streptokokus pneumoniae ). Beberapa penelitian
menemukan bahwa kuman ini menyebabkan pneumonia hampir pada
semua kelompok umur dan paling banyak terjadi di negara negara
berkembang.
Akan tetapi dari pandangan yang berbeda di dapatkan bahwa gambaran
etiologi pneumonia dapat di ketahui berdasarkan umur penderita. Hal ini
terlihat dengan adanya perbedaan agen penyebab penyakit, baik pada bayi
maupun balita. Ostapchuk menyebutkan kejadian pneumonia pada bayi
neonatus lebih banyak disebabkan oleh bakteri streptokokus dan gram
negatif enteric bacteria (escherichia coli). Sementara itu, pneumonia pada
anak anak balita lebih sering di sebabkan oleh virus, salah satunya adlah
Respiratory syncytial virus
D. PATOFISIOLOGI

Suatu penyakit infeksi pernapasan dapat terjadi akibat adanya serangan


agen infeksius yang bertransmisi atau di tularkan melalui udara. Namun
pada kenyataannya tidak semua penyakit pernapasan di sebabkan oleh
agen yang bertransmisi denagan cara yang sama. Pada dasarnya agen
infeksius memasuki saluran pernapasan melalui berbagai cara seperti
inhalasi (melaui udara), hematogen (melaui darah), ataupun dengan
aspirasi langsung ke dalam saluran tracheobronchial. Selain itu masuknya
mikroorganisme ke dalam saluran pernapasan juga dapat di akibatkan oleh
adanya perluasan langsung dari tempat tempat lain di dalam tubuh. Pada
kasus pneumonia, mikroorganisme biasanya masuk melalui inhalasi dan
aspirasi.
Dalam keadaan sehat pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan
mikroorganisme, keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme
pertahanan paru. Terdapatnya bakteri di dalam paru merupakan
ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh, sehingga mikroorganisme
dapat berkembang biak dan berakibat timbulnya infeksi penyakit.
Sekresi enzim – enzim dari sel-sel yang melapisi trakeo-bronkial yang
bekerja sebagai antimikroba yang non spesifik. Bila pertahanan tubuh
tidak kuat maka mikroorganisme dapat melalui jalan nafas sampai ke
alveoli yang menyebabkan radang pada dinding alveoli dan jaringan
sekitarnya. Setelah itu mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu
proses peradangan yang meliputi empat stadium, yaitu :
1. Stadium I (4 – 12 jam pertama/kongesti)

Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang


berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan
peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi.
Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan dari
sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan. Mediator-
mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel
mast juga mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama
dengan histamin dan prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler
paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru. Hal ini mengakibatkan
perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstisium sehingga terjadi
pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Penimbunan cairan
di antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh
oleh oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah
paling berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen
hemoglobin.

2. Stadium II (48 jam berikutnya)

Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah
merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu ( host ) sebagai
bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh
karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna
paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini
udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan bertambah
sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam.
3. Stadium III (3 – 8 hari)

Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih


mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin
terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa
sel.
Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorbsi, lobus masih tetap
padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu
dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.

4. Stadium IV (7 – 11 hari)

Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan
peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh
makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula.

Penyakit pneumonia sebenarnya merupakan manifestasi dari rendahnya


daya tahan tubuh seseorang akibat adanya peningkatan kuman patogen
seperti bakteri yang menyerang saluran pernapasan. Selain adanya infeksi
kuman dan virus, menurunnya daya tahan tubuh dapat juga di sebabkan
karena adanya tindakan endotracheal dan tracheostomy serta konsumsi
obat obatan yang dapat menekan refleks batuk sebagai akibat dari upaya
pertahanan saluran pernapasan terhadap serangan kuman dan virus.

E. GEJALA/MANIFESTASI KLINIS

Gejala pada pneumonia adalah antara lain :


a. Kesulitan dan sakit pada saat bernapas : nyeri pleuritik, nafas dangkal
dan mendengkur, tachipnoe.
b. Bunyi nafas di atas area yang mengalami konsolidasi : mengecil,
kemudian menjadi hilang, ronchi
c. Gerakan dada tidak simetris
d. Menggigil dan demam 38,8’C sampai 41,1’C
e. Diaforesis
f. Anoreksia
g. Malaise
h. Batuk kental, produktif : sputum kuning kehijauan kemudian berubah
menjadi kemerahan atau berkarat
i. Gelisah
j. Cyanosis
k. Masalah masalah psikososial : disorientasi dan anxietas
Kejadian pneumonia pada balita diperlihatkan dengan adanya ciri ciri
demam, batuk, pilek, disertai sesak napas dan tarikan dinding dada bagian
bawah ke dalam, serta cyanosis pada infeksi yang berat. Tarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam terjadi karena gerakan paru yang mengurang
akibat infeksi pneumonia yang berat.. pada usia di bawah 3 bulan, kejadian
pneumonia di ikuti dengan penyakit pendahulu seperti otitis media,
conjuctivitis, laryngitis, dan pharyngitis.
Pneumonia berat pada anak umur 2 bulan - <5 tahun di lihat dari adanya
kesulitan bernapas dan atau tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam,
sedangkan pada anak umur <2 bulan di ikuti dengan adanya napas cepat
dan atau terikan dinding dada bagian bawah ke dalam.

Kriteria napas cepat berdasarkan frekwensi pernapasan di bedakan


menurut umur anak. Untuk umur kurang dari 2 bulan, di katakan napas
cepat, jika frekwensi napas 60x/menit atau lebih, sedangkan untuk umur 2
bulan sampai <12 bulan jika >50x/menit dan umur 12 bulan sampai <5
tahun jika >40x/menit.
F. KOMPLIKASI

1. Pneumothorax
Udara dari alveolus yang pecah di sebabkan karena sumbatan atau
peradangan di saluran bronkioli yang membuat udara bisa masuk namun
tidak bisa keluar. Lambat laun alveolus menjadi penuh sehingga tak kuat
menampung udara dan pecah.
2. Empiyema (peradangan di paru)
Peradangan terjadi karena kuman atau bakteri berhasil di lokalisasi oleh
pertahanan tubuh namun tidak dapat di basmi akhirnya muncul nanah dan
mengumpul di antara paru paru dan dinding dada.

G. FAKTOR RESIKO PNEUMONIA

Faktor faktor resiko kesakitan (morbiditas) pneumonia adalah antara lain


umur, jenis kelamin, gizi kurang, riwayat BBLR, pemberian ASI yang
kurang, defesiensi Vit A, status imunisasi, polusi udara, ventilasi rumah
dan pemberian makanan yang terlalu dini.

a. Umur
Umur merupakan salah satu faktor resiko utama pada beberapa penyakit.
Hal ini di sebabkan karena umur dapat memperlihatkan kondisi kesehatan
seseorang. Anak anak yang berumur 0-24 bulan lebih rentan terhadap
penyakit pneumonia di bandingkan anak anak yang berumur di atas 2
tahun. Hal ini di sebabkan karena imunitas yang belum sempurna dan
lubang pernapasan yang relatif sempit.

b. Jenis kelamin
Penelitian di Uruguay menunjukkan bahwa pada tahu 1997-1998, 58%
penderita pneumonia yang di rawat di RS adalah laki laki.
c. Riwayat BBLR
Bayi dengan BBLR beresiko mengalami kematian akibat pneumonia, hal
ini di sebabkan karena zat anti kekebalan di dalam tubuhnya belum
sempurna sehingga memiliki resiko yang lebih besar untuk menderita
pneumonia.

d. Pemberian ASI
ASI mengandung nutrisi dan zat zat penting yang berguna terhadap
kekebalan tubuh bayi. Oleh sebab itu, sangat penting bagi bayi untuk
segera di berikan ASI sejak lahir karena pada saat itu bayi belum dapat
memproduksi kekebalannya sendiri.
Pemberian ASI ternyata dapat menurunkan resiko pneumonia pada bayi
dan balita. Penelitian di Rwanda melaporkan bahwa bayi yang di rawat di
rumah sakit karena pneumonia lebih beresiko pada bayi yang tidak
memperoleh ASI.
e. Status Gizi
f. Status Imunisasi
Pada dasarnya beberapa penyakit penyakit infeksi yang terjadi pada anak
anak dapat di cegah dengan imunisasi. Yaitu antara lain ; difteri, pertusis,
tetanus, hepatitis, tuberkulosis, campak dan polio. Beberapa hasil studi
menunjukkan bahwa pneumonia juga merupakan penyakit yang dapat di
cegah melalui pemberian imunisasi yaitu dengan imunisasi campak dan
pertusis. Penyakit pertusis berat dapat menyebabkan infeksi saluran napas
berat seperti pneumonia. Oleh karena itu pemberian imunisasi DPT dapat
mencegah pneumonia
g. Defesiensi Vit A
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pemberian Vit A berguna dalam
mengurangi beratnya penyakit dan mencegah terjadinya kematian akibat
pneumonia. Pemberian Vit A di khususkan pada balita berumur 6 bulan
sampai 2 tahun yang di rawat di RS karena campak dan komplikasi
pneumonia. Oleh karena itu jika anak menderita pneumonia tetapi telah
memperoleh Vit A sebelumnya dalam jangka waktu tertentu, maka anak
tersebut tidak akan menderita pneumonia berat dan dapat mencegah
mortalitas.

H. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan secara umum yaitu :


a. Oksigen 1-2 l/menit
b. Infus Dextrose 10% : NACL 0,9% =3:1
c. Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat di mulai makanan enteral bertahap
melaui selang nasogastrik dengan feeding drip
d. Jika sekresi lendir berlebihan dapat di berikan inhalasi dengan salin
normal dan beta agonis untuk memperbaiki transpor mukosilier
e. Berikan antibiotika jika penderita telah di tetapkan sebagai
pneumonia.
Pada tahun 1997, pemerintah Indonesia mulai memperkenalkan
manajemen tatalaksana baru yaitu MTBS (Manajemen Terpadu Balita
Sakit) yang terintegrasi dan di terapkan sebagai acuan program
penanggulangan ISPA pneumonia di pelayanan kesehatan dasar. Adapun
tatalaksananya adalah meliputi :
a. Pemeriksaan
b. Penentuan ada tidaknya bahaya
c. Penentuan klasifikasi penyakit
d. Pengobatan dan tindakan
Tata Laksana Therapy
1. Bagi penderita pneumonia, di berikan antibiotika per oral selama 5
hari. Antibiotika yang di gunakan adalah kotrimoksasol (480 mg dan 120
mg) dan Paracetamol (500mg dan 100mg). akan tetapi pada bayi berumur
kurang dari 2 bulan, tidak di anjurkan untuk di berikan pengobatan
antibiotika per oral maupun paracetamol.
2. Tindakan yang di berikan pada penderita pneumonia berat adalah di
rawat di RS. Ada beberapa tanda bahaya yang menunjukkan anak
menderita penyakit yang sangat berat di mana jika anak mempunyai salah
satu tanda bahaya tersebut maka perlu segera di rujuk ke RS yaitu:
• Pada anak umur 2 bulan - <5 tahun tanda bahaya tsb antara lain kurang
bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor atau mengalami gizi
buruk.
• Pada anak umur <2 bulan : kurang bisa minum, kejang, kesadaran
menurun, stridor, wheezing, demam atau dingin.
• Penderita sangat muda atau tua : mengalami keadaan klinis berat yaitu
sesak napas, kesadaran menurun, serta gambaran kelainan toraks cukup
luas, adanya riwayat penyakit lain (bronkiektasis atau bronkitis kronik,
adanya komplikasi dan tidak adanya respon terhadap pengobatan yang
telah di berikan.
3. Pemberian oksigen terutama pada anak yang cyanosis
4. Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit
B A B III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang


mengenai parenkim paru. Pneumonia pada anak dibedakan menjadi:
1) Pneumonia lobaris
2) Pneumonia interstisial (bronkiolitis)
3) Bronkopneumonia.
Pneumonia adalah salah satu penyakit yang menyerang saluran nafas
bagian bawah yang terbanyak kasusnya didapatkan di praktek-praktek
dokter atau rumah sakit dan sering menyebabkan kematian terbesar bagi
penyakit saluran nafas bawah yang menyerang anak-anak dan balita
hampir di seluruh dunia. Diperkirakan pneumonia banyak terjadi pada bayi
kurang dari 2 bulan, oleh karena itu pengobatan penderita pneumonia
dapat menurunkan angka kematian anak.

B. SARAN
Penyakit pneumonia sebenarnya merupakan manifestasi dari rendahnya
daya tahan tubuh seseorang akibat adanya peningkatan kuman patogen
seperti bakteri yang menyerang saluran pernapasan.
Dalam keadaan sehat pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan
mikroorganisme, keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme
pertahanan paru. Terdapatnya bakteri di dalam paru merupakan ketidak
seimbangan antara daya tahan tubuh, sehingga mikroorganisme dapat
berkembang biak dan berakibat timbulnya infeksi penyakit.
Oleh karena itu sangat di perlukan menjaga daya tahan tubuh dengan
memperhatikan nutrisi dan kesehatan tubuh, terutama untuk ibu ibu agar
lebih memperhatikan kesehatan anak karena anak lebih rentan beresiko
terkena penyakit yang di sebabkan daya tahan tubuh mereka yang masih
lemah. Pemberian ASI sangat di butuhkan oleh bayi dengan tujuan untuk
membentuk imun si bayi tersebut agar terbentuk lebih kuat dalam
menghadapi resiko terkena penayakit.
Kita harus lebih memperhatikan resiko penyebab yang memungkinkan
terkenanya pneumonia seperti misalnya gizi buruk, defesiensi Vit A,
pemberian ASI dan imunisasi. Untuk mencegah hal tsb, ibu ibu sebaiknya
memperhatikan gizi si anak,memberikan ASI pada bayinya, kelengkapan
imunisasi dan selalu waspada terhadap tanda bahaya jika si anak
mengalami infeksi saluran napas.