Anda di halaman 1dari 30

A.

KEUANGAN NEGARA

1. PASAL-PASAL YANG MENGATUR KEUANGAN NEGARA


DALAM UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

Pasal-pasal yang mengatur tentang Keuangan Negara dalam UUD Negara


Republik Indonesia Tahun 1945 dapat kita jumpai dalam BAB VIII, yaitu :

Pasal 23

I. Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan


keungana negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan
dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.

II. Rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara diajukan


oleh presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah.

III. Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui rancangan anggaran


pendapatan dan belanja negara yang diusulkan oleh Presiden, Pemerintahan
menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun yang lalu.

IV. Hal keuangan negara yang selanjutnya diatir dengan undang-undang.

V. Untuk memeriksa tanggung jawab tentang keuang negara diadakan suatu


Badan Pemeriksaan keuangan, yang peraturannya ditetapkan dengan undang-
undang,. Hasil pemeriksaan itu diberitahukan kepada Dewan Perwakilan
Rakyat

Pasal 23 A
Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur
dengan undang-undang.

Pasal 23 B
Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undang-undang.

1
Pasal 23 C
Hal-hal lain mengenai keuangan negara diatur dengan undang-undang

Pasal 23 D
Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan, kewenangan,
tanggung jawab, dan independensinya diatur dengan undang-undang.

Pasal 23 E
I. Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan
negara diadakan satu Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri.

II. Hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada Dewan Perwakilan


Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, sesuai dengan
kewenangannya.

III. Hasil pemeriksaan tersebut ditinjaklanjuti oleh lembaaga perwakilan dan


badan sesuai dengan undang-undang.

Pasal 23 F
I. Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan
Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan
Daerah dan diresmikan oleh presiden.

II. Pimpinan Badan pemeriksa Keuangan dipilih dari dan oleh anggota.

Pasal 23 G
1) Badan Pemeriksa Keuangan berkedudukan di ibu kota negara, dan
memiliki perawakilan di setiap provinsi
2) Ketentuan lebih lanjut mengenai Badan Pemeriksa Keuangan diatur
dengan undang-undang

Definisi keuangan negara tidak dimuat secara tegas di dalam ketentuan Pasal 23 UUD tahun
1945, sehingga untuk memahami konteks keuangan negara di dalam pasal 23 tahun 1945 perlu
melihat dari penafsiran-penafsiran.

2
Keuangan Negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 angka 1, meliputi
a) Hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengeluarkan uang, dan
melakukan pinjaman.
b) Kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan negara
dan membayar tagihan pihak ketiga.
c) Penerimaan negara.
d) Pengeluaran negara.
e) Penerimaan daerah.
f) Pengeluaran daerah.
g) Kekayaan negara atau kekayaan daerah dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang,
surat berharga, piutang, barang serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan
uang,termasuk kekayaanyang dipisahkan pada perusahaan negara atau perusahaan
daerah.
h) Kekayaan pihaklain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas
pemerintahan atau kepentingan umum.
i) Kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan
pemerintah

2. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP KEUANGAN NEGARA

Definisi keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat
dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang
yang dapat dijadikan milik Negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban
tersebut. Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara dinyatakan bahwa pendekatan yang digunakan dalam merumuskan
Keuangan Negara adalah dari sisi objek, subjek, proses, dan tujuan. Dari sisi objek,
yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi semua hak dan kewajiban negara
yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang
fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan, serta segala
sesuatu baik berupa uang, maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara
berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.

Dari sisi subjek, yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi seluruh
subjek yang memiliki/menguasai objek sebagaimana tersebut di atas, yaitu:
pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan negara/daerah, dan badan lain yang
ada kaitannya dengan keuangan negara.

Dari sisi proses, Keuangan Negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang
berkaitan dengan pengelolaan objek sebagaimana tersebut di atas mulai dari
perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan sampai dengan
pertanggunggjawaban.

3
Dari sisi tujuan, Keuangan Negara meliputi seluruh kebijakan, kegiatan dan hubungan
hukum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasaan objek sebagaimana
tersebut di atas dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara.

Berdasarkan pengertian keuangan negara dengan pendekatan objek, terlihat bahwa


hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang diperluas cakupannya,
yaitu termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan
kekayaan negara yang dipisahkan.

Dengan demikian, bidang pengelolaan keuangan negara dapat dikelompokkan


dalam:
a. subbidang pengelolaan fiskal,
b. subbidang pengelolaan moneter, dan
c. subbidang pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan.

Pengelolaan keuangan negara subbidang pengelolaan fiskal meliputi kebijakan


dan kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) mulai dari penetapan Arah dan Kebijakan Umum (AKU), penetapan
strategi dan prioritas pengelolaan APBN, penyusunan anggaran oleh pemerintah,
pengesahan anggaran oleh DPR, pelaksanaan anggaran, pengawasan anggaran,
penyusunan perhitungan anggaran negara (PAN) sampai dengan pengesahan PAN
menjadi undang-undang.

Pengelolaan keuangan negara subbidang pengelolaan moneter berkaitan dengan


kebijakan dan pelaksanaan kegiatan sector perbankan dan lalu lintas moneter baik
dalam maupun luar negeri.
Pengelolaan keuangan negara subbidang kekayaan Negara yang dipisahkan berkaitan
dengan kebijakan dan pelaksanaan kegiatan di sektor Badan Usaha Milik
Negara/Daerah (BUMN/BUMD) yang orientasinya mencari keuntungan (profit
motive).

Berdasarkan uraian di atas, pengertian keuangan negara dapat dibedakan antara:


pengertian keuangan negara dalam arti luas, dan pengertian keuangan negara dalam
arti sempit. Pengertian keuangan negara dalam arti luas pendekatannya adalah dari
sisi objek yang cakupannya sangat luas, dimana keuangan negara mencakup
kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan
negara yang dipisahkan. Sedangkan pengertian keuangan negara dalam arti sempit
hanya mencakup pengelolaan keuangan negara subbidang pengelolaan fiskal saja.

4
3. ASAS-ASAS UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN KEUANGAN
NEGARA

Dalam rangka mendukung good governance dalam penyelenggaraan negara,


pengelolaan keuangan negara perlu diselenggarakansecara profesional, terbuka dan
bertanggung jawab sesuai dengan atuarn pokok yang telah ditetapkan dalam undang-
undang dasar 1945.
Undang-undang tentang Keuangan Negara perlu menjabarkan aturan pokok yang
telah ditetapkan dalam undang-undang dasar tersebut ke dalam asas-asas umum yang
meliputi asas-asas yang telah lama dikenal dalam pengelolaan keuangan negara,
seperti :
a) Asas kesatuan, yaitu menghendaki agar semua pendapatan dan belanja negara
disajikan dalam satu dokumen anggaran;
b) Asas universalitas, yaitu mengharuskan agar setiap transaksi keuangan
ditampilkan secara utuh dalam dokumen anggaran;
c) Asas tahunan membatasi masa berlakunya angaran untuk suatu tahun
tertentu;dan
d) Asas spesialitas, yaitu mewajiban agar kredit anggaran yang disediakan terinci
secara jelas peruntukannya (Muhammad Djafar Saidi, 2008).
Asas-asas di atas merupakan pencerminan best practicess (penerapan
kaidah-kaidah yang baik) dalam pengelolaan keuangan negara, antara lain :
 Akuntabilitas berorientasi pada hasil
 Profesionalitas
 Proporsionalitas
 Keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara
 Pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri
Asas-asas umum tersebut diperlukan pula guna menjamin terselenggaraya
prinsip-prinsip pemerintah daerah sebagaimana yang telah dirumuskan dalam
Bab VI Undang-Undang Dasar 1945. Dengan dianutnya asas-asas umum
tersebut didalam Undang-Undang tentang Keuanagan Negara, pelaksaan
undang-undang ini selain menjadi acuan dalam reformasi manajemen
keuangan negara sekaligus untuk memperkokoh landasan pelaksanaan
desentralisasidan otonomi daerah di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

5
4. KEKUASAAN ATAS PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA
Presiden selaku kepala pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan
keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Kekuasaan tersebut
meliputi kewenangan yang bersifat umum dan kewenangan yang bersifat khusus.
Untuk membantu presiden dalam penyelenggaraan kekuasaan dimaksud, sebagian
dari kekuasaan tersebut dikuasakan kepada Mentri Keuangan selaku pengelola fiskal
dan wakil pemerintah dalam kepemilikan kekayaan negarayang dipisahkan, serta
kepada negara/lembaga yang dipimpinnya. Menteri keuangan sebagai pembantu
presiden dalam bidang keuangan dalam hakekatnya adalah Chief Financial Officer
(CFO) Pemerintah Republik Indonesia, sementara setiap menteri/pimpinan lembaga
pada hakekatnya adalah Chief Operational Officer (COO) untuk suatu bidang tertentu
pemerintahan. Prinsip ini perlu dilaksanakan secara konsisten agar terdapat kejelasan
dalam pembagian wewenang dan tanggung jawab, terlaksananya mekanisme cheks
and balance serta untuk mendorong upaya peningkatan profesionalismedalam
penyelenggaraan tugas pemerintahan

Sub bidang pengelolaan fiskal meliputi fungsi-fungsi pengelolaan kebijakan fiskal


dan kerangka ekonomi makro, penganggaran, administrasi perpajakan, administrasi
kepabean, pembendaharaan dan pengawasan keuangan.

Sesuai dengan asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara


sebagian kekuasaan presiden tersebut diserahkan kepada gubernur/ bupati.wali kota
selaku pengelola keuangan daerah. Demikian pula untuk mencapai kestabilan nilai
rupiah tugas menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter serta mengatur dan
menjaga kelancaran sistem pembayaran dilakukan oleh bank sentral.

5. PENYUSUNAN DAN PENETAPAN APBN DAN APBD


Ketentuan mengenai penyusunan dan penetapan APBN/APBDdalam undang-
undang No. 17 Tahun 2003 meliputi penegasan tujuan dan fungsi penganggaran
pemerintah, penegasan peran DPR/DPRD dan pemerintah dalam proses penyusunan dan
penetapan anggaran, pengintegrasian sistem akuntabilitas kinerja dalam sistem
penganggaran, penyempurnaan klasifikasi anggaran, penyatuan anggaran, dan
pengguanaan kerangka pengeluaran jangka menengah dalam penyusunan anggaran.
Anggaran adalah alat akuntabilitas manajemen dan kebijakan ekonomi. Sebagai
instrumen kebijakan ekonomi anggaran berfungsi untuk mewujudkan pertumbuhan dan
stabilitas perekonomian serta pemerataan pendapatan dalam rangka mencapai tujuan
bernegara. Dalam upaya untuk meluruskan kembali tujuan dan fungsi anggaran tersebut
perlu dilakukan pengaturan secara jelas peran DPR/DPRD dan pemerintah dalam proses
penyusunan dan penetapan anggaran sebagai penjabaran aturan pokok yang telah
ditetapkan dalam undang-undang dasar 1945.

6
Sehubungan dengan itu dalam undang-undang ini disebutkan bahwa belanja
negara/belanja daerah dirinci sampai dengan unit organisasi, fungsi,program, kegiatan
dan jenis belanja. Hal tersebut berarti bahwa setiap pergeseran anggaran antar unit
organisasi, antar kegiatan, antar jenis belanja harus mendapat persetujuan DPR/DPRD.
Masalah lain yang tidak kalah pentingnya dalam upaya memperbaiki proses
penganggaran di sektor publik adalah penerapan anggaran berbasis prestasi kerja.
Mengingat bahwa sistem anggaran berbasis prestasi kerja/ hasil memerlukan kriteria
pengendalian kinerja dan evaluasi serta untuk menghindari duplikasi dalam penyusunan
rencana kerja dan anggaran kementrian negara/lembaga/perangkat daerah, perlu
dilakukan penyatuan sistem akuntabilitas kinerja dalam sistem penganggaran dengan
memperkenalkan sistem penyusunan rencana kerja dan anggaran
kementrian/lembaga/perangkat daerah. Dengan penyusuna rencan kerja dan anggaran
anggaran berbasis prestasi kerja dan pengukuran akuntabilitas kinerja
kementrian/lembaga/perangkat daerah yang bersangkutan.
Sejalan dengan upaya untuk menerapkan secara penuh anggaran berbasi kinerja di
sektor publik, perlu pula dilakukan perubahan klasifikasi anggaran agar sesuai dengan
klasifikasi yang digunakan secara internasional. Perubahan dalam pengelompokan
transaksi pemerintahan tersebut dimaksudkan untuk memudahkan pelaksanaan anggaran
berbasis kinerja, memberikan gambaran yang objektif dan proporsional mengenai
kegiatan pemerintah, menjaga konsistensi dengan standar akuntansi sektor publik, serta
memudahkan penyajian dan meningkatkan kredibilitas statistik keuangan pemerintah.
Selama ini anggaran belanja pemerintah dikelompokkan atas anggaran belanja
rutin dan anggaran belanja pembangunan. Pengelompokan dalam anggaran belanja rutin
dan anggaran belanja pembangunan yang semula bertujuan untuk memberikan penekanan
pada arti pentingnya pembangunan dalam pelaksanaanya telah menimbulkan peluang
terjadinya duplikasi, penumpukan, dan penyimpangan anggaran. Sementara itu,
penuangan rencana pembangunan dalam suatu dokumen perencanaan nasional lima
tahunan yang ditetapkan dengan undang-undang dirasakan tidak realistis dan semakin
tidak sesuai dengan dinamika kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dalam era
globalisasi.
Perkembangan dinamis dalam penyelenggaran pemerintahan membutuhkan
sistem perencanaan fiskal yang terdiri dari sistem penyusunan anggaran tahunan yang
dilaksanakan sesuai dengan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (medium term
expenditure framework) sebagaimana dilaksanakan di kebanyakan negara maju.
Walaupun anggaran dapat disusun dengan baik, jika proses penetapannya
terlambat akan berpotensial menimbulkan masalah dalam pelaksanaanya. Oleh karena
itu, dalam undang-undang ini diatur secara jelas mekanisme pembahasan anggaran
tersebut di DPR/DPRD termasuk pembagian tugas antara panitia/komisi anggaran dan
komisi-komisi pasangan kerja kementrian negara/lembaga/perangkat daerah di
DPR/DPRD.

7
6. HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN
BANK SENTRAL, PEMERINTAH DAERAH,
PEMERINTAH/LEMBAGA ASING, PERUSAHAAN NEGARA,
PERUSAHAAN DAERAH, PERUSAHAAN SWASTA, SERTA
BADAN PENGELOLA DANA MASYARAKAT.

Sejalan dengan semakin luas dan kompleksnya kegiatan pengelolaan keuangan


negara, perlu diatur ketentuan mengenai hubungan keuangan antara pemerintah dan
lembaga-lembaga infra/supranasional. Ketentuan tersebut meliputi hubungan keuangan
antara pemerintah pusat dan bank sentral, pemerintah daerah, pemerintah asing,
badan/lembaga asing, serta hubungan keuangan antara pemerintah dan perusahaan
negara, perusahaan daerah, perusahaan swasta dan badan pengelola dana masyarakat.
Dalam hubungan keuangan antara pemerintah pusat dam bank sentral ditegaskan
bahwa pemerintah pusat dan bank sentral berkoordinasi dalam penetapan dan
pelaksanaan kebijakan fiskal dan moneter. Dalam hubungan dengan pemerintah daerah,
undang-undang No.17 tahun 2003menegaskan adanya kewajiban pemerintah pusat
mengalokasikan dana perimbangan kepada pemerintah daerah. Selain itu, undang-undang
ini mengatur pula perihal penerimaan pinjaman luar negri pemerintah. Dalam hubungan
antara pemerintah dan perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan swasta, dan
badan pengelola dana masyarakat ditetapkan bahwa pemerintah dapat memberikan
pinjaman/hibah/penyertaan modal kepada dan menerima pinjaman/hibah dari perusahaan
negara/daerah setelah mendapat persetujuan DPR.DPRD.

7. PELAKSANAAN APBN DAN APBD

Setelah APBN ditetapkan secara rinci dengan undang-


undang,pelaksanaannya dituangkan lebih lanjut dengan keputusan presiden
sebagai pedoman bagi kementrian Negara/lembaga dalam pelaksanaan anggaran.
Penuangan dalam keputusan presiden tersebut terutama menyangkut hal-hal yang
belum rinci di dalam undang-undang APBN,seperti alokasi anggaran untuk kantor
pusat dan kantor daerah kementrian Negara/lembaga,pembayaran gaji dalam
belanja pegawai,dan pembayaran untuk tunggakan yang menjadi beban
kementrian/lembaga. Selain itu,penuangan dimaksud meliputi pula alokasi dana
perimbangan untuk provinsi/kabupaten/kota dan alokasi subsidi sesuai dengan
keperluan perusahaan/badan yang menerima.

Untuk memberikan informasi mengenai perkembangan pelaksanaan


APBN/APBD,pemerintah pusat/pemerintah daerah perlu menyampaikan laporan
realisasi semester pertama kepada DPR/DPRD pada akhir juli tahun anggaran
yang bersangkutan. Informasi yang disampaikan dalam laporan tersebut menjadi

8
bahan bahwa evaluasi pelaksanaan APBN/APBD semester pertam dan
penyesuaian/perubahan APBN/APBD pada semester berikutnya.

Ketentuan mengenai pengelolaan keuangan Negara dalam rangka


pelaksanaan APBN/APBD ditetapkan tersendiri dalam undang-undang yang
mengatur perbendaharaan Negara mengingat lebih banyak menyangkut hubungan
administratif antar kementrian Negara/lembaga di lingkungan pemerintah.

8. PERTANGGUNGJAWABAN PENGELOLAAN KEUANGAN


NEGARA

Salah satu upaya kongkrit untuk mewujudkan transparansi dan


akuntabilitas pengelolaan keuangan Negara adalah penyampaian laporan
pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip-prinsip tepat
waktu dan disusun dengan mengikuti standar akuntansi pemerintah yang telah
diterima secara umum.
Dalam Undang-undang No. 17 Tahun 2003 ditetapkan bahwa laporan
pertanggung jawaban pelaksanaan APBN/APBD disampaikan berupa laporan
keuangan yang setidak-tidaknya terdiri dari laporan realisasi
anggaran,neraca,laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan yang disusun
sesuai dengan standar akuntansi pemerintah. Laporan keuangan pemerintah pusat
yang telah diperiksa leh Badan Pemeriksa Keuangan harus disampaikan kepada
DPR selambat-lambatnya 6 bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang
bersakutan,demikian pula laporan keuangan pemerintah daerah yang telah
diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan harus disampaikan kepada DPRD
selambat-lambatnya 6 bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang
bersangkutan.
Dalam rangka akuntabilitas pengelolaan keuangan Negara
menteri/pimpinan lembaga/gubernur/walikota/bupati selaku pengguna
anggaran/pengguna barang bertanggun jawab atas pelaksanaan kebijakan yang
ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN/peraturan daerah tentang
APBD,dari segi manfaat atau hasil (outcome). Sedangkan pimpinan unit
organisasi kementrian Negara/lembaga bertanggung jawab atas pelaksanaan
kegiatan yang ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN,demikian pula
Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan
kegiatan yang ditetapkan dalam peraturan daerah tentang APBD,dari segi barang
atau jasa yang disediakan (output). Sebagai konsekuensinya,dalam undang-
undang ini diatur sanksi yang berlaku bagi menteri/pemimpin
lembaga/gubernur/bupati/walikota serta pemimpin unit organisasi kementrian
Negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah yang terbukti melakukan

9
penyimpangan kebijakan atau kegiatan yang telah ditetapkan dalam
Undang-Undang tentang APBN/peraturan daerah tentang APBD. Ketentuan-
sanksi tersebut dimaksudkan sebagai preventif dan represif,serta berfungsi
sebagai jaminan atas ditaatinya Undang-undang tentang APBN/peraturan daerah
tentang APBD yang bersangkutan.
Selain itu perlu ditegaskan prinsip yang berlaku universal bahwa barang
siapa yang diberi wewenang untuk menerima,menyimpan,dan membayar atau
menyerahkan uang,surat berharga atau barang milik Negara bertanggungjawab
secara pribadi atas semua kekurangan yang terjadi dalam pengurusannya.
Kewajiban untuk mengganti kerugian keuangan Negara oleh para pengelola
keuangan Negara dimaksud merupakan unsur pengendalian intern yang andal.

B. BADAN PEMERIKSA KEUANGAN (BPK)

1. PASAL-PASAL YANG MENGATUR BADAN PEMERIKSA


KEKUANGAN DALAM UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 1945

Pasal 23E

I. Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara


diadakan satu Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri.

II. Hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada Dewan Perwakilan


Rakyat,Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, sesuai
dengan Kewenangannya

III. Hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan dan/atau


badan sesuai dengan undang-undang.

Pasal 23 F
I. Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat
dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan
oleh Presiden.

II. Pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan dipilih dari dan oleh anggota.

10
Pasal 23G

I. Badan Pemeriksa Keuangan berkedudukan di ibu kota negara, dan memiliki


perwakilan di setiap provinsi.

II. Ketentuan lebih lanjut mengenai Badan Pemeriksa Keuangan diatur dengan
undangundang.

2. PENGERTIAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 telah mengalami


perubahan yang mendasar diantaranya pasal 23 ayat (5) mengenai kedudukan dan
tugas Badan Pemeriksa Keuangan.

Para pembentuk Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia


menyadari bahwa pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab pemerintah
tentang keuangan Negara merupakan kewajiban yang berat,sehingga perlu
dibentuk suatu Badan Pemeriksa Keuangan yang terlepas dari pengaruh
kekuasaan pemerintah (bersifat merdeka).

Tuntutan reformasi telah menghendaki terwujudnya penyelenggaraan


Negara yang bersih dan bebas dari korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) menuju
tata pemerintah yang baik,mengharuskan perubahan peraturan perundang-
undangan dan kelembagaan Negara.

Perubahan ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia


Tahun 1945 merupakan salah satu reformasi atas ketentuan pasal 23 ayat (5)
tentang Badan Pemeriksa Keuangan telah memperkokoh keberadaan dan
kedudukan BPK sebagai satu lembaga Negara yang bebas dan madiri. Kedudukan
BPK sebagai lembaga Negara pemeriksa keuangan Negara perlu dimantapkann
sidertai dengan memperkuat peran dan kinerjanya

Pengertian Badan Pemeriksa Keuangan berdasarkan pasal 1 undang-


undang no. 15 tahun 2006 tentang badan pemeriksa keuangan adalah lembaga
Negara yang bertugas untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan Negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.

11
3. TUGAS DAN WEWENANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
Tugas BPK
BPK bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang
dilakukan oleh Pemerintahan Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank
Indonesia, Badan Usaha Milik Negara, Badan Layanan Umum, Badan Usaha Milik
Daerah, dan lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan negara.

Wewenang BPK
1. menentukan objek pemeriksaan, merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan,
menentukan waktu dan metode pemeriksaan serta menyusun dan menyajikan laporan
pemeriksaan;

2. meminta keterangan dan/atau dokumen yang wajib diberikan oleh setiap orang, unit
organisasi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank
Indonesia, Badan Usaha Milik Negara, Badan Layanan Umum, Badan Usaha Milik
Daerah, dan lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan negara;

3. melakukan pemeriksaan di tempat penyimpanan uang dan barang milik negara, di tempat
pelaksanaan kegiatan, pembukuan dan tata usaha keuangan negara, serta pemeriksaan
terhadap perhitungan-perhitungan, surat-surat, bukti-bukti, rekening koran,
pertanggungjawaban, dan daftar lainnya yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan
negara;

4. menetapkan jenis dokumen, data, serta informasi mengenai pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara yang wajib disampaikan kepada BPK;

5. menetapkan standar pemeriksaan keuangan negara setelah konsultasi dengan Pemerintah


Pusat/Pemerintah Daerah yang wajib digunakan dalam pemeriksaan pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan negara;

6. menetapkan kode etik pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara;

7. menggunakan tenaga ahli dan/atau tenaga pemeriksa di luar BPK yang bekerja untuk dan
atas nama BPK;

8. membina jabatan fungsional Pemeriksa;

9. memberi pertimbangan atas Standar Akuntansi Pemerintahan; dan

10. memberi pertimbangan atas rancangan sistem pengendalian intern Pemerintah


Pusat/Pemerintah Daerah sebelum ditetapkan oleh Pemerintah pusat/pemerintah daerah.

12
4. NILAI-NILAI DASAR BPK RI
Dalam melakukan misinya,BPK menjaga nilai-nilai dasar sebagai berikut :
Independesi

Menjunjung tinggi independensi,baik secara kelembagaan,organisasi,maupun


individu. Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan
pemeriksaan,kami bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan
pribadi,ekstern.dan/atau organisasi yang dapan mempengaruhi independensi.

Integritas

Membangun nilai integritas dengan bersikap jujur,objektif,dan tegas dalam


menerapkan prinsip,nilai,dan keputusan.

Profesionalisme

membangun nilai-nilai profesionalisme dengan menerapkan prinsip kehati-


hatian,ketelitian,da kecermatan,serta berpedoman kepada standar yang
berlaku.

C. KEKUASAAN KEHAKIMAN

1. PASAL-PASAL YANG MENGATUR KEKUASAAN KEHAKIMAN


DALAM UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

Pasal-pasal yang mengatur masalah kekuasaan kehakiman dalam UUD Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 dapat kita jumpai dalam Bab IX kekuasaan kehakiman dalam pasal
sebagai berikut:

Pasal 24
I. Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasan yang merdeka untuk menyelenggarakan
peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan

II. Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung dan badan peradilan yang
berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum,lingkungan peradilan
agama,lingkungan peradilan militer,lingkungan peradilan tata usaha Negara,dan oleh
sebuah Mahkamah Konstitusi.

13
III. Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kehakiman diatur dalam undang-
undang.

Pasal 24A
I. Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi,menguji peraturan
perundang-undangan di bawah undang-undang,dan mempunyai lainnya yang
diberikan oleh undang-undang.

II. Hakim agung harus memiliki integritas dan keperibadian yang tidak
tercela,adil,professional,dan berpengalan di bidang hukum.

III. Calon hakim agung diusulkan oleh Komisi Yudisial kepada Dewan Perwakilan
Rakyat untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim
agung oleh Presiden.

IV. Ketua dan wakil ketua Mahkamah Agung dipilih dari dan oleh hakim agung.

V. Susunan,kedudukan,keanggotaan,dan hukum acara Mahkamah Agung serta badan


peradilan di bawahnya diatur oleh undang-undang.

Pasal 24B
I. Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan
hakim
agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan
kehormatan,
keluhuran martabat, serta perilaku hakim.

II. Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di


bidang
hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela.

III. Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
IV. Susunan, kedudukan, dan keanggotaan komisi yudisial di atur dengan undang-
undang.

14
PASAL 24
I. Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir
yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-
Undang Dasar,memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang
kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran
partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

II. Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan


Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil
Presiden menurut Undang-Undang Dasar.

III. Mahkamah Konstitusi mempunyai sembilan orang anggota hakim konstitusi yang
ditetapkan oleh Presiden, yang diajukan masing-masing tiga orang oleh
Mahkamah Agung,tiga orang oleh Dewan Perwakilan Rakyat, dan tiga orang oleh
Presiden.

IV. Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh hakim
konstitusi.

V. Hakim konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela,
adil,negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan, serta tidak
merangkap sebagai pejabat negara.

VI. Pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi, hukum acara serta ketentuan
lainnya tentang Mahkamah Konstitusi diatur dengan undang-undang.

Pasal 25
Syarat-syarat untuk menjadi dan untuk di perhentikan sebagai hakim di tetapkan oleh
undang-undang

15
2. KEKUASAAN KEHAKIMAN DALAM UUD NEGARA REPUBLIK
INDONESIA TAHUN 1945
Kekuasaan kehakiman di Indonesia mengalami perubahan yang sangat mendasar
sejak masa reformasi, di awali dengan adanya TAP MPR RI Nomor X/MPR/1999
tentang pokok-pokok reformasi pembangunan dalam rangka penyelamatan dan
normalisasi kehidupan nasional sebagai haluan Negara menurut adanya pemisahan yang
tegas antara fungsi-fungsi yudikatif dan eksekutif.
Sejak adanya TAP MPR tersebut, peraturan yang mengatur tentang kekuasaan
kehakiman yaitu Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan
pokok kekuasaan kehakiman di ubah dengan undang-undang nomor 35 Tahun 1999
tentang perubahan atas undang-undang nomor 14 tahun 1970 tentang ketentuan-
ketentuan pokok kekuasaan kehakiman.
Perubahan pokok dalam undang-undang nomor 35 tahun 1999 tentang perubahan
atas undang-undang nomor 14 tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekusaaan
kehakiman hanya mengenai penghapusan campur tangan kekuasaan eksekutif terhadap
kekuasaan kehakiman (yudikatif). Perubahan penting dalam kekuasaan kehakiman adalah
segala urusan organisasi,administrasi,dan financial mahkamah agung dan badan peradilan
yang ada di bawahnya berada dibawah kekuasaan mahkamah agung yang
sebelumnya,secara organisatoris,administrasi dan financial badan peradilan yang berada
dibawah mahkamah agung berada di bawah departemen.
Selanjutnya kekuasaan kehakiman Indonesia mengalami perkembangan dan
perubahan dengan adanya amandemen UUD 1945 menjadi UUD Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 telah mengubah sistem penyelenggaraan Negara di bidang
yudikatif atau kekuasaan kehakiman sebagaimana termuat dalam bab IX tentang
kekuasaan kehakiman pasal 24,pasal 24A,pasal 24B,pasal 24C,dan pasal 25.
Berdasarkan pasal-pasal tersebut,kekuasaan kehakiman yang semula dilakukan
oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan umum,peradilan agama,peradilan
militer,peradilan tata usaha Negara dengan mahkamah agung sebagai pengadilan tertinggi
kemudian berubah menjadi kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah mahkamah
agung dan badan peradilan dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum,lingkungan
peradilan agama,lingkungan peradilan militer,lingkungan peradilan tata usaha,dan oleh
sebuah pelaksana kekuasaan kehakiman baru yang disebut mahkamah konstitusi.
Dengan adanya perubahan tersebut,akhirnya undang-undang yang mengatur
tentang kekuasaan kehakiman di Indonesia mengalami perubahan pula karena harus
disesuaikan dengan UUD sebagai peraturan yang lebih tinggi agar peraturan yang
tingkatnya lebih rendah tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.
Kekuasaan kehakiman yang semula diatur dalam Udang-undang Nomor 14 Tahun 1970
tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman dirubah dengan undang-
undang Nomor 35 Tahun 1999 tentang perubahan atas undan-undang Nomor 14 Tahun
1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman,kemudian diganti dengan

16
undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman dank arena undang-
undang ini sudah tidak sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum dan
ketatanegaraan menurut UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 maka diganti
dengan Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman.
Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan Negara yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan
pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 demi terselenggaranya
Negara Hukum Republik Indonesia.
Kekuasaan kehakiman di Indonesia dilaksanakan oleh sebuah mahkamah agung
dan badan peradilan yang dibawahnya dalam lingkugan peradilan umum,lingkungan
peradilan agama,lingkungan peradilan militer,lingkungan peradilan tata usaha Negara dan
oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.

3. MAHKAMAH AGUNG DAN LEMBAGA PERADILAN DI


BAWAHNYA

Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Mahkamah Agung dan


badan peradilan yang berada di bawahnya adalah sebagai berikut.

– Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung dirubah


menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang
Mahkamah Agung;

– Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum dirubah


menjadi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum dan Undang-Undang Nomor 49 Tahun
2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang
Peradilan Umum;

– Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara


dirubah menjadi Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan Undang-Undang
Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara;

– Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama dirubah


menjadi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun
2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang
Peradilan Agama;

17
– Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer.

A. Mahkamah Agung
Mahkamah Agung merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman di
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 Pasal 24 ayat (2 )dan pasal 24A ayat (1) dan Undang-Undang
Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman serta Undang-Undang Nomor
14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah dirubah dengan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung dan Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985
tentang Mahkamah Agung.

Dalam undang-undang ini mengatur tentang kedudukan, susunan, kekuasaan,


hukum acara yang berlaku pada pemeriksaan perkara di Mahkamah
Agung.Mahkamah Agung berkedudukan di ibukota negara Republik Indonesia.

Kewenangan Mahkamah Agung adalah:


a. Mahkamah Agung bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus:
– permohonan kasasi;
– sengketa tentang kewenangan mengadili;
– permohonan peninjauan kembali.

b. Menguji peraturan perundang-undangan yang di bawah undang-undang


terhadap undang-undang.

c. kewenangan lainnya yang diberikan oleh undang-undang.


Terdapat pengecualian dalam pengajuan permohonan kasasi, ada perkara-perkara
tertentu yang tidak dapat diajukan permohonan kasasi, perkara tersebut adalah:

– putusan praperadilan;

– perkara pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun
dan/atau diancam pidana denda;

– perkara tata usaha negara yang objek gugatannya berupa keputusan pejabat
daerah yang jangkauan keputusannya berlaku di wilayah daerah yang bersangkutan.

Mahkamah Agung berwenang juga:


– melakukan pengawasan tertinggi terhadap penyelenggaraan peradilan di semua
lingkungan peradilan yang berada di bawahnya dalam menjalankan kekuasaan
kehakiman;

– melakukan pengawasan organisasi, administrasi badan peradilan yang ada di


bawahnya;

18
– meminta keterangan tentang hal-hal yang berkaitan dengan teknis peradilan dari
semua badan yang berada di bawahnya;

– memberi petunjuk, teguran, atau peringatan kepada pengadilan di semua badan


yang berada di bawahnya;

– memberikan pertimbangan hukum kepada presiden dalam permohonan grasi


dan rehabilitasi;

– dapat memberi keterangan, pertimbangan, dan nasihat masalah hukum kepada


lembaga negara dan lembaga pemerintahan.
Dalam melaksanakan kekuasaan kehakiman, Mahkamah Agung merupakan
pengadilan tertinggi dari semua lingkungan peradilan.Segala urusan organisasi,
administrasi, dan finansial Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di
bawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung.

B. Peradilan Umum
Peradilan Umum diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang
Peradilan Umum sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun
2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan
Umum dan dengan Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua
atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum.Dalam undang-
undang ini diatur susunan, kekuasaan, dan kedudukan hakim serta tata kerja
administrasi pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi.

Kekuasaan kehakiman di lingkungan Peradilan Umum dilaksanakan oleh:


– Pengadilan Negeri;
– Pengadilan Tinggi.

Pengadilan Negeri berkedudukan di di ibukota kabupaten/kota dan daerah


hukumnya meliputi wilayah kabupaten/kota.Pengadilan Tinggi berkedudukan di
ibukota propinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah propinsi.Pengadilan Negeri
merupakan Pengadilan Tingkat Pertama dan Pengadilan Tinggi merupakan
Pengadilan Tingkat Banding, Peradilan umum sebagai pelaksana kekuasaan
kehakiman berpuncak ke Mahkamah Agung.

Pengadilan Tinggi merupakan Pengadilan Tingkat Banding yang memeriksa,


memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara yang diputus oleh Pengadilan Negeri
dan merupakan Pengadilan Tingkat Pertama dan Terakhir mengenai sengketa
kewenangan mengadili antar Pengadilan Negeri di daerah hukumnya.

Kekuasaan dan kewenangan mengadili Pengadilan Negeri adalah memeriksa,


memutus, dan menyelesaikan perkara pidana dan perkara perdata di tingkat pertama
bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya kecuali undang-undang menentukan lain.

19
Pada lingkungan Peradilan Umum dapat dibentuk pengkhususan pengadilan
yang diatur dalam undang-undang sebagaimana tercantum dalam pasal 8 Undang-
Undang Nomor 49 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2
Tahun 1986 tentang Peradilan Umum. Pengadilan khusus pada lingkungan Peradilan
Umum antara lain Pengadilan Anak, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Pengadilan
Niaga, Pengadilan Perikanan dan Pengadilan Hak Asasi Manusia.

C. Peradilan Agama
Peradilan Agama diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang
Peradilan Agama sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang
Peradilan Agama Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua
atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Peradilan
Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan
yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud undang-
undang .

Dalam undang-undang ini diatur susunan, kekuasaan, hukum acara, dan


kedudukan hakim serta segi-segi administrasi pada Pengadilan Agama dan
Pengadilan Tinggi Agama.

Kekuasaan kehakiman di lingkungan Peradilan Agama dilaksanakan oleh:


– Pengadilan Agama;
– Pengadilan Tinggi Agama.

Pengadilan Agama berkedudukan di ibukota kabupaten/kota dan daerah


hukumnya meliputi wilayah kabupaten/kota.Pegadilan Tinggi Agama berkedudukan
di ibukota propinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah propinsi tetapi tidak
menutup kemungkinan adanya pengecualian.Pengadilan Agama merupakan
Pengadilan Tingkat Pertama dan Pengadilan Tinggi Agama merupakan Pengadilan
Tingkat Banding.Peradilan Agama sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman
berpuncak ke Mahkamah Agung.

Peradilan Agama berwenang memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan


perkara antara orang-orang yang beragama Islam sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Yang dimaksud “antara orang yang beragama Islam ” adalah
orang atau badan hukum yang dengan sendirinya menundukkan diri dengan suka rela
kepada hukum Islam mengenai hal-hal yang menjadi kewenangan Peradilan Agama.

Kewenangan Pengadilan Agama sebagaimana diatur dalam Undang-Undang


Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989

tentang Peradilan Agama, yaitu:

a. perkawinan;

20
b. waris;

c. wasiat;

d. hibah;

e. wakaf;

f. zakat;

g. infak;

h. sodaqoh;

i. ekonomi syari’ah.

Pengadilan Tinggi Agama merupakan Pengadilan Tingkat Banding yang


memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara yang diputus oleh
Pengadilan Agama dan merupakan Pengadilan Tingkat Pertama dan Terakhir
mengenai sengketa kewenangan mengadili antar Pengadilan Agama di daerah
hukumnya.

Pada lingkungan Peradilan Agama dapat dibentuk pengkhususan pengadilan yang


diatur dalam undang-undang sebagaimana tercantum dalam pasal 3A Undang-
Undang Nomor 50 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Peradilan Syari’ah Islam di Propinsi Nanggroe
Aceh Darussalam merupakan peradilan khusus dalam lingkungan Peradilan Agama
dan merupakan peradilan khusus dalam lingkungan Peradilan Umum sepanjang
kewenangannya menyangkut kewenangan Peradilan Umum.Pengadilan Arbitrasi
Syari’ah termasuk Pengadilan khusus dalam lingkungan Peradilan Agama.

Pengadilan syari’ah Islam di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam diatur dengan


Undang-Undang Mahkamah Syar’iyah di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang
dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi
Khusus bagi Propinsi Daerah Aceh sebagai Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2003


Pengadilan Agama di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam berubah menjadi
Mahkamah Syar’iyah dan Pengadilan Tinggi Agama berubah menjadi Mahkamah
Syar’iyah Propinsi.

Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh,


Peradilan khusus dalam lingkungan Peradilan Agama diatur dalam BAB XVIII
tentang MAHKAMAH SYAR’IYAH Pasal 128 – Pasal 137. Pengadilan yang
melaksanakan kekuasaan kehakiman di lingkungan Peradilan Agama di Propinsi
Nanggroe Aceh Darussalam di adalah:

21
– Mahkamah Syar’iyah (Tingkat Pertama);
– Mahkamah Syar’iyah Aceh (Tingkat Banding);
– Mahkamah Agung (Tingkat Kasasi).

Kewenangan Mahkamah Syar’iyah adalah memeriksa, mengadili dan


memutuskan perkara-perkara:

– ahwal syahsiyah (hukum keluarga);

– muamalah (hukum perdata);

– jinayah (hukum Pidana) yang didasarkan atas syari’at Islam dan akan diatur
dalam Qonun Aceh.

D. Peradilan Militer
Peradilan Militer diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997
tentang Peradilan Militer. Dalam undang-undang ini diatur tentang ketentuan-
ketentuan umum, susunan pengadilan, kekuasaan oditurat, hukum acara Pidana
Militer, hukum acara Tata Usaha Militer, dan ketentuan-ketentuan lain.

Peradilan Militer merupakan peradilan khusus bagi prajurit Angkatan


Bersenjata Republik Indonesia.Prajurit adalah warga negara yang memenuhi
persyaratan yang ditentukan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan dan
diangkat oleh pejabat yang berwenang untuk mengabdikan diri dalam usaha
pembelaan negara dengan menyandang senjata, rela berkorban jiwa raga, dan
berperan serta dalam pembangunan nasional serta tunduk kepada hukum militer.

Pengadilan di lingkungan Peradilan militer sebagai pelaksana kekuasaan


kehakiman di Indonesia meliputi Pengadilan Militer, Pengadilan Militer Tinggi,
Pengadilan Militer Utama, dan Pengadilan Militer Pertempuran.
Pengadilan dalam lingkungan peradilan militer merupakan badan pelaksana
kekuasaan kehakiman di lingkungan Angkatan Bersenjata yang berpuncak pada
Mahkamah Agung sebagai Pengadilan Tertinggi.

Kewenangan Peradilan Militer adalah memeriksa, mengadili, dan memutus


perkara tindak pidana militer sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.Kewenangan Peradilan Militer adalah sebagai berikut.

1. Mengadili tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang pada waktu
melakukan tindak pidana adalah:

a. Prajurit;

b. yang berdasarkan undang-undang dipersamakan dengan Prajurit;

22
c. anggota suatu golongan atau jawatan atau badan atau yang dipersamakan
atau dianggap sebagai Prajurit berdasarkan undang-undang;

d. seseorang yang tidak masuk golongan pada huruf a, huruf b, dan huruf c
tetapi atas keputusan Panglima dengan persetujuan Menteri Kehakiman harus
diadili oleh suatu Pengadilan dalam lingkungan peradilan militer.

2. Memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Angkatan


Bersenjata.

3. Menggabungkan perkara gugatan ganti rugi dalam perkara pidana yang


bersangkutan atas permintaan dari pihak yang dirugikan sebagai akibat yang ditimbulkan
oleh tindak pidana yang menjadi dasar dakwaan, dan sekaligus memutus kedua perkara
tersebut dalam satu putusan.

Pengadilan dalam lingkungan peradilan militer terdiri dari:


a. Pengadilan Militer;
b. Pengadilan Militer Tinggi;
c. Pengadilan Militer Utama; dan
d. Pengadilan Militer Pertempuran.

Tempat kedudukan Pengadilan Militer Utama berada di Ibukota Negara Republik


Indonesia yang daerah hukumnya meliputi seluruh wilayah Negara Republik Indonesia.Untuk
pengadilan lainnya ditetapkan dengan Keputusan Panglima.Apabila perlu Pengadilan Militer dan
Pengadilan Militer Tinggi dapat bersidang di luar tempat kedudukannya.Pengadilan Militer dan
Pengadilan Militer Tinggi dapat bersidang di luar daerah hukumnya atas izin Kepala Pengadilan
Militer Utama.

Pengadilan Militer memeriksa dan memutus pada tingkat pertama perkara pidana yang
terdakwanya adalah:
a. prajurit yang berpangkat Kapten ke bawah;
b. mereka sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 angka 1 huruf b dan huruf c yang Terdakwanya
“termasuk tingkat kepangkatan” Kapten ke bawah; dan
c. mereka yang berdasarkan Pasal 9 angka 1 huruf d harus diadili oleh Pengadilan Militer.

Kekuasaan Pengadilan Militer Tinggi adalah sebagai berikut.


Pada tingkat pertama:

a. memeriksa dan memutus perkara pidana yang terdakwanya adalah:

23
1) Prajurit atau salah satu prajuritnya berpangkat Mayor ke atas;
2) mereka sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 angka 1 huruf b dan huruf c yang
terdakwanya atau salah satu terdakwanya “termasuk tingkat kepangkatan” mayor ke atas;
dan
3) mereka yang berdasarkan Pasal 9 angka 1 huruf d harus diadili oleh Pengadilan Militer
Tinggi;

b. memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Angkatan Bersenjata.

Pada tingkat banding:


memeriksa dan memutus perkara pidana yang telah diputus oleh Pengadilan
Militer dalam daerah hukumnya yang dimintakan banding;
Pada tingkat pertama dan terakhir:
memeriksa dan memutus sengketa kewenangan mengadili antara Pengadilan
Militer dalam daerah hukumnya.
Kekuasaan Pengadilan Militer Utama memeriksa dan memutus pada tingkat
banding perkara pidana dan sengketa Tata Usaha Angkatan Bersenjata yang telah
diputus oleh Pengadilan Militer Tinggi sebagai pengadilan tingkat pertama yang
dimintakan banding.

Pengadilan Militer Utama memutus pada tingkat pertama dan terakhir semua
sengketa tentang wewenang mengadili:
a. antar Pengadilan Militer yang berkedudukan di daerah hukum Pengadilan Militer
Tinggi yang berlainan;
b. antar Pengadilan Militer Tinggi; dan
c. antara Pengadilan Militer Tinggi dan Pengadilan Militer.

Pengadilan Militer Utama memutus pada tingkat pertama dan terakhir perbedaan
perbedaan pendapat antara Perwira Penyerah Perkara dengan Oditur tentang
diselesaikannya suatu perkara di luar Pengadilan atau diselesaikan di Pengadilan di
lingkungan Peradilan Umum atau di Pengadilan di lingkungan Peradilan Militer.

Pengadilan Militer Utama melakukan pengawasan terhadap:


a. penyelenggaraan peradilan di semua lingkungan Pengadilan Militer, Pengadilan Militer
Tinggi, dan Pengadilan Militer Pertempuran di daerah hukumnya masing-masing;
b. tingkah laku dan perbuatan Hakim dalam menjalankan tugasnya.

Pengadilan Militer Utama berwenang untuk meminta keterangan tentang hal-hal


yang bersangkutan dengan teknis peradilan dari Pengadilan Militer, Pengadilan Militer
Tinggi, dan Pengadilan Militer Pertempuran.

Pengadilan Militer Utama memberi petunjuk, teguran, atau peringatan yang


dipandang perlu kepada Pengadilan Militer, Pengadilan Militer Tinggi, dan Pengadilan
Militer Pertempuran.

24
Pengadilan Militer Utama meneruskan perkara yang dimohonkan kasasi,
peninjauan kembali, dan grasi kepada Mahkamah Agung.
Kekuasaan Pengadilan Militer Pertempuran memeriksa dan memutus pada tingkat
pertama dan terakhir perkara pidana yang dilakukan oleh mereka sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 angka 1 di daerah pertempuran.Pengadilan Militer Pertempuran bersifat
mobil mengikuti gerakan pasukan dan berkedudukan serta berdaerah hukum di daerah
pertempuran.

E. Peradilan Tata Usaha Negara


Peradilan Tata Usaha Negara diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009
tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan
Tata Usaha Negara. Dalam undang-undang ini diatur susunan, kekuasaan, hukum acara,
dan kedudukan hakim serta tata kerja administrasi pada Pengadilan Tata Usaha Negara
dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara. Kekuasaan kehakiman di lingkungan
Peradilan Tata Usaha Negara dilaksanakan oleh:
– Pengadilan Tata Usaha Negara;
– Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara.

Pengadilan Tata Usaha Negara merupakan Pengadilan Tingkat Pertama dan


Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara merupakan Pengadilan Tingkat Banding.Peradilan
Tata Usaha Negara sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman berpuncak ke Mahkamah
Agung.

Pengadilan Tata Usaha Negara berkedudukan di di ibukota kabupaten/kota dan


daerah hukumnya meliputi wilayah kabupaten/kota.Pengadilan Tinggi Tata Usaha
Negara berkedudukan di ibukota propinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah
propinsi.Pembentukan Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha
Negara dilaksanakan secara bertahap dengan memperhatikan dan mempertimbangkan
berbagai faktor baik yang bersifat teknis maupun non teknis.

Kekuasaan dan kewenangan mengadili Pengadilan Tata Usaha Negara adalah


memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara di tingkat pertama
bagi rakyat pencari keadilan.
Sengketa Tata Usaha Negara adalah suatu sengketa yang timbul dalam bidang Tata
Usaha Negara antara orang-orang atau badan hukum perdata dengan badan atau pejabat
Tata Usaha Negara baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya
Keputusan Tata Usaha Negara termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan
perundang-undangan.

Yang termasuk Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis
yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum
Tata Usaha Negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang

25
bersifat kongkret, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seorang
atau badan hukum perdata.
Tidak termasuk Keputusan Tata Usaha Negara menurut undang-undang ini adalah
sebagai berikut.
a. Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan perbuatan hukum perdata.
b. Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan pengaturan yang bersifat umum.
c. Keputusan Tata Usaha Negara yang masih memerlukan persetujuan.
d. Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan berdasarkan ketentuan Kitab Undang-
Undang Hukum Acara Pidana atau peraturan perundang-undangan lain yang bersifat
hukum pidana.
e. Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan atas dasar hasil pemeriksaan Badan
Peradilan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
f. Keputusan Tata Usaha Negara mengenai Tata Usaha Tentara Nasional Indonesia.
g. Keputusan Komisi Pemilihan Umum baik di pusat maupun di daerah mengenai hasil
pemilihan umum.

Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara merupakan Pengadilan Tingkat Banding


yang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara yang diputus oleh
Pengadilan Tata Usaha Negara dan merupakan Pengadilan Tingkat Pertama dan Terakhir
mengenai sengketa kewenangan mengadili antar Pengadilan Tata Usaha Negara di daerah
hukumnya. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara juga berwenang mengadili perkara
pada tingkat pertama terhadap perkara yang telah digunakan upaya administratif.

Pengadilan Tata Usaha Negara tidak berwenang memeriksa, memutus, dan


menyelesaian sengketa Tata Usaha Negara tertentu dalam hal yang disengketakan itu
dikeluarkan:
a. dalam waktu perang, keadaan bahaya, keadaan bencana alam, atau keadaan luar biasa
yang membahayakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
b. dalam keadaan mendesak untuk kepentingan umum berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

4. MAHKAMAH KONSTITUSI

Mahkamah Konstitusi merupakan lembaga negara baru sebagai pelaksana


kekuasaan kehakiman di Indonesia.Wacana pembentukan Mahkamah Konstitusi
sebenarnya sudah ada pada saat pembahasan Undang-Undang Dasar di Badan Penyelidik
Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Prof Moh. Yamin sebagai
salah satu anggota BPUPKI telah mengemukakan pendapat bahwa Mahkamah Agung
perlu diberi kewenangan untuk membanding Undang-undang, namun ide ini ditolak
anggota lain yaitu Prof. R. Soepomo berdasarkan dua alasan, yaitu Undang-Undang
Dasasr yang disusun pada waktu itu tidak menganut Trias Politica dan pada saat itu
jumlah sarjana hukum belum banyak dan belum memiliki pengalaman mengenai hal itu.

26
Pada saat pembahasan perubahan Undang-Undang Dasar 1945 muncul lagi
pendapat pentingnya Mahkamah Konstitusi karena adanya perubahan mendasar dengan
beralihnya supremasi Majelis Permusyawaratan Rakyat kepada supremasi hukum maka
perlu disediakan sebuah mekanisme institusional dan konstitusional serta hadirnya
lembaga negara yang mengatasi kemungkinan sengketa antarlembaga negara yang
mempunyai derajat yang sama serta saling mengimbangi dan saling mengendalikan
(checks and balances). Seiring dengan itu muncul desakan agar tradisi pengujian
peraturan perundang-undangan perlu ditingkatkan tidak hanya sebatas pada peraturan di
bawah Undang-Undang melainkan juga atas Undang-Undang terhadap Undang-Undang
Dasar.Kewenangan pengujian Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar
diberikan kepada sebuah mahkamah tersendiri di luar Mahkamah Agung.

Ide pembentukan Mahkamah Konstitusi mendapat respon positif dan menjadi


salah satu materi perubahan Undang-Undang Dasar, akhirnya pembentukan Mahkamah
Konstitusi menjadi kenyataan dengan disahkannya Pasal 24 ayat (2), Pasal 24C dan Pasal
III Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
menyatakan:

Pasal 24 ayat (2)

Pelaksana kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan


badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan Peradilan Umum,
lingkungan Peradilan Agama, lingkungan Peradilan Militer, lingkungan Peradilan Tata
Usaha Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Kounstitusi.

Pasal 24C
I. Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang
Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya
diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan
memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

II. Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan
Rakyat mengenai dugaan pelanggaran Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut
Undang-Undang Dasar.

III. Mahkamah Konstitusi mempunyai sembilan orang anggota hakim konstitusi yang
ditetapkan oleh Presiden, yang diajukan masing-masing tiga orang oleh Mahkamah
Agung, tiga orang oleh Dewan Perwakilan Rakyat, dan tiga orang oleh Presiden.

27
IV. Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh hakim konstitusi.

V. Hakim konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil,
negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan, serta tidak merangkap
sebagai pejabat negara.

VI. Pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi, hukum acara serta ketentuan
lainnya terhadap Mahkamah Konstitusi diatur dengan undang-undang.

Pasal III Aturan Peralihan


Mahkamah Konstitusi dibentuk selambat-lambatnya pada 17 Agustus 2003 dan sebelum
dibentuk segala kewenangannya diakukan oleh Mahkamah Agung.

Atas perintah Undang-Undang Dasar ini kemudian Pemerintah bersama-sama dengan


Dewan Perwakilan Rakyat membahas pembentukan undang-undang tentang Mahkamah
Konstitusi. Kemudian pada tanggal 13 Agustus 2003 disahkan dan diundangkan Undang-
Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Dengan disahkannya undang-
undang ini maka kekuasaan kehakiman di Indonesia mengalami perubahan sehingga
peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kekuasaan kehakiman harus
disesuaikan yang pada akhirnya disahkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang
Kekuasaan Kehakiman yang terakhir diganti dengan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009
tentang Kekuasaan Kehakiman.

Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi


mengatur tentang kedudukan dan susunan, sekretariat jenderal dan kepaniteraan, kekuasaan,
pengangkatan dan pemberhentian hakim, hukum acara di Mahkamah Konstitusi.
Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu lembaga negara yang melaksanakan kekuasaan
kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan
keadilan.Mahkamah Konstitusi berkedudukan di ibukota negara Republik Indonesia.

Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili:


a. menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
b. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan
oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
c. memutus pembubaran partai politik; dan
d. memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

28
Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa
Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa
pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau
perbuatan tercela, dan/atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil
Presiden sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.

Pengertian pengkhianatan terhadap negara adalah tindak pidana terhadap


keamanan negara sebagaimana diatur dalam undang-undang. Korupsi dan penyuapan
adalah tindak pidana korupsi atau penyuapan sebagaimana diatur dalam undang-undang,
tindak pidana berat lainnya adalah tindak pidana yang diancam pidana penjara 5 (lima)
tahun atau lebih. Perbuatan tercela adalah perbuatan yang dapat merendahkan martabat
presiden dan/atau wakil presiden.Tidak lagi memenuhi syarat presiden dan/atau wakil
presiden adalah syarat sebagaimana ditentukan dalam pasal 6 Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Untuk kepentingan pelaksanaan wewenang, Mahkamah Konstitusi berwenang


memanggil pejabat negara, pejabat pemerintah, atau warga masyarakat untuk
memberikan keterangan.
Mahkamah Konstitusi mempunyai 9 (sembilan) orang anggota Hakim Konstitusi. Hakim
konstitusi diajukan masing-masing 3 (tiga) orang oleh Mahkamah Agung, 3 (tiga) orang
oleh Dewan Perwakilan Rakyat, dan 3 (tiga) orang oleh Presiden yang akan ditetapkan
dengan Keputusan Presiden yang mempunyai masa jabatan 3 (tiga) tahun. Susunan
Mahkamah Konstitusi terdiri atas seorang Ketua merangkap anggota, seorang wakil ketua
merangkap anggota dan 7 (tujuh) orang angota hakim konstitusi.

Putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final, yaitu putusan Mahkamah Konstitusi


memperoleh kekuatan hukum tetap sejak diucapkan dalam sidang pleno yang terbuka
untuk umum dan tidak ada upaya hukum yang dapat ditempuh terhadap putusan tersebut.

29
Penutup

Puji Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas bimbingan dan rahmat-
Nya selama kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan karya tulis ini masih belum sempurna dan masih
banyak kekurangan. Namun berkat bimbingan, Pengarahan dari Ibu Guru, kami dapat
menyelesaikan karya tulis ini.
Oleh karena itu,kami berterimakasih atas dukungan semua pihak yang membantu penyusunan
makalah ini. Walaupun makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Kami meminta maaf dengan
segala kekurangan makalah ini,dan bersyukur karena makalah ini dapat selesai tepat pada
waktunya.
Akhir kata, kami berharap semoga makalah ini dapan memberi manfaat kepada pembaca.

-Penyusun-

30