Anda di halaman 1dari 7

TEORI AKUNTANSI

RMK SAP 2

“PROSES PENETAPAN STANDAR AKUNTANSI”

Oleh :

Anak Agung Dwi Kristiyanthi (1607531158/32)


Destha Della Pragaswari (1607531159/33)

Evelin Budiarti (1607531167/37)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2018
PROSES PENETAPAN STANDAR AKUNTANSI

I. Tujuan dan Manfaat Standar Akuntansi Keuangan

Dalam upaya menciptakan good governance, perbaikan akuntabilitas kinerja


akuntansi pemerintah saat ini akan berdampak sangat baik. Perbaikan akuntabilitas kinerja
instansi pemerintah juga berdampak luas pada bidang ekonomi dan politik. Dalam bidang
ekonomi, perbaikan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah akan mendorong perbaikan
iklim investasi, sedangkan dalam bidang politik perbaikan akuntabilitas kinerja instansi
pemerintah akan mampu memperbaiki tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.
Maraknya praktek fraud seperti korupsi yang terjadi, menyebabkan semakin merendahnya
akuntabilitas kinerja instansi-instansi Pemerintah di Indonesia saat ini. Oleh karena itu,
diperlukan suatu standar baku pelaporan kinerja pemerintah, terutama dalam hal pengelolaan
keuangan negara. Salah satu standar yang diperlukan untuk mengatasi masalah di atas adalah
perlu adanya standar akuntansi keuangan sektor publik.

Tujuan penyusunan pedoman akuntansi adalah yang pertama menyediakan suatu


pedoman akuntansi yang diharapkan dapat diterapkan bagi pencatatan transaksi keuangan
organisasi sektor publik yang berlaku saat ini. Tujuan kedua adalah menyediakan suatu
pedoman akuntansi yang dilengkapi dengan klasifikasi rekening dan prosedur pencatatan
sertajurnal standar yang telah disesuaikan dengan siklus kegiatan organisasi sektor publik,
yang mencangkup penganggaran, perbendaharaan, dan pelaporannya. Standar akuntansi
keuangan sektor publik dibuat dan dikembangakan sesuai dengan standar yang berlaku secara
luas dan internasional, dengan harapan dapat tercapainya informasi keuangan yang konsisten
dan dapat dibandingkan bagi semua negara atupun yuridiksi.

Manfaat Standar Akuntansi Keuangan Sektor Publik (SAKSP) adalah:

1. Meningkatkan kualitas dan realibilitas laporan akuntansi dan keuangan organisasi


sektor publik, khususnya dalam hal ini organisasi pemerintahan.
2. Meningkatkan kinerja keuangan dan perekonomian.
3. Mengusahakan harmonisasi antara persyaratan atas laporan ekonomis dan
keuangan.
4. Mengusahakan harmonisasi antar yurisdiksi dengan menggunakan dasar akuntansi
yang sama.

1
II. Lembaga Penyusun Standar Akuntansi

2.1 Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)

Pada waktu Indonesia merdeka, hanya ada satu orang akuntan pribumi, yaitu Dr.
Abutari sedangkan Prof. Soemardjo lulus pendidikan akuntan di negeri Belanda pada tahun
1956. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) adalah organisasi profesi akuntan yang
jugamerupakan badan yang menyusun standar akuntansi keuangan di Indonesia.
Pengembangan standar akuntansi keuangan sejak berdirinya IAI pada tahun 1957 hingga kini
pengembanganstandar akuntansi ini dilakukan secara terus-menerus, pada tahun 1973
terbentuk PanitiaPenghimpun Bahan-bahan dan Struktur GAAP dan GAAS.

Akuntan-akuntan Indonesia pertama lulusan dalam negeri adalah Basuki Siddharta,


Hendra Darmawan, Tan Tong Djoe, dan Go TIe Siem, mereka lulus pertengahan tahun 1957.
Keempat akuntan ini bersama dengan Prof. Soemardjo mengambil prakarsa mendirikan
perkumpulan akuntan untuk bangsa Indonesia saja. Alasannya, mereka tidak mungkin
menjadi anggota NIVA (Nederlands Institute Van Accountants) dan berpendapat tidak
mungkin kedua lembaga itu akan memikirkan perkembangan dan pembinaan akuntan
Indonesia.

Hari Kamis, 17 Oktober 1957, kelima akuntan tadi mengadakan pertemuan di aula
Universitas Indonesia (UI) dan bersepakat untuk mendirikan perkumpulan akuntan Indonesia.
Karena pertemuan tersebut tidak dihadiri oleh semua akuntan yang ada maka diputuskan
membentuk Panita Persiapan Pendirian Perkumpulan Akuntan Indonesia. Panitia diminta
untuk menghubungi akuntan lainnya untuk menyatakan pendapat mereka. Dalam hal itu Prof.
Soemardjo duduk sebagai ketua, Fo Tie Siem sebagai penulis, Basuki SIddharta sebagai
bendahara sedangkan Hendar Darmawan dan Tan Tong Djoe sebagai komisaris. Surat yang
dikirimkan Panitia kepada 6 akuntan lainnya memperoleh jawaban setuju.

Perkumpulan yang akhirnya diberi nama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) akhirnya
berdiri pada 23 Desember 1957, yaitu pada pertemuan ketiga yang diadakan di aula UI pada
pukul 19.30 WIB. Konsep Anggaran Dasar IAI yang pertama diselesaikan pada 15 Mei 1958
dan naskah finalnya selesai pada 19 Oktober 1958. Menteri Kehakiman mengesahkannya
pada 11 Pebruari 1959. Namun demikian, tanggal pendirian IAI ditetapkan pada 23
Desember 1957. Ketika itu, tujuan IAI adalah:

2
a. Membimbing perkembangan akuntansi serta mempertinggi mutu pendidikan
akuntan.
b. Mempertinggi mutu pekerjaan akuntan.

2.2 Financial Accounting Standards Boardi (FASB)

FASB merupakan organisasi sektor swasta yang bertanggung jawab dalam


pembentukan standar akuntansi di Amerika saat ini. FASB didirikan pada tahun 1973,
menggantikan APB. Anggota FASB berasal dari berbagai latar belakang (audit, akuntansi
korporasi, jasa keuangan, dan akademisi). Penunjukan anggota FASB yang baru, dilakukan
oleh Financial Accounting Foundation (FAF). FAF adalah sebuah badan independen, sama
seperti FASB, yang dibentuk dengan wakil dari profesi akuntansi, komunitas bisnis,
pemerintah, dan akademisi.

Fungsi utama dari FASB adalah mempelajari masalah akuntansi terkini dan
menetapkan standar akuntansi. Standar ini dipublikasikan sebagai Statement of Financial
Accounting Standards (SFAS). FASB juga menerbitkan Statement of Financial Accounting
Concepts (SFAC) yang memberikan kerangka kerja konseptual yang memungkinkan untuk
dikembangkannya standar akuntansi khusus. SFAC diterbitkan pada tahun 1978 sebagai
konsep fundamental yang akan digunakan FASB dalam mengembangkan standar akuntansi
dan pelaporan keuangan di masa depan. Tidak seperti SFAS, SFAC bukan merupakan prinsip
akuntansi yang berlaku umum.

Standar akuntansi keuangan yang diterbitkan oleh FASB dipandang sebagai prinsip-
prinsip akuntansi yang berlaku umum. Dalam menetapkan standar akuntansi keuangan,
FASB harus tanggap terhadap kebutuhan dari seluruh komunitas dan menetapkannya secara
transparan di depan publik. Hal ini dilakukan dengan memberikan kesempatan yang seluas-
luasnya secara adil (tanpa memihak) kepada semua komunitas terkait untuk mengungkapkan
pendapat mereka sebelum standar yang baru diterbitkan dan diberlakukan.

2.3 IASB

Contitution IASB memberikan IASB otoritas untuk menyebarluaskan standard


penyajian laporan keuanagan yang telah diaudit oleh setiap organisasi bisnis dan
mengendalikan penerimaan standard di seluruh dunia. Penyelarasan berbagai perbedaan
antara standar nasional diharapkan dapat meningkatkan keandalan dan tingkat komparatif
laporan keuangan asing untuk dapat meningkatkan ketepatan dalam pengambilan keputusan.

3
Tujuan IASB adalah merumuskan dan menerbitkan standar akuntansi yang dapat dipatuhi
dalam penyajian laporan keuangan dan untuk mengendalikan penerimaan dan ketaatan
standard di seluruh dunia. Anggota IASB setuju untuk mendukung dan bekerja keras untuk
memastikan bahwa laporan keuangan telah telah disusun sesuai dengan standard, auditor
menegakkan standard, dan untuk persuasi kepada pemerintah, bursa, dan lembaga lainnya
untuk mendukung standard ini.
Struktur organisasi IASB terdiri dari:
a. Badan Wali. Badan wali IASB mengangkat anggota dewan, komite interpretasi
pelaporan keuangan internasional dan dewan penasihat standard. Perwalian
bertanggung jawab untuk mengumpulkan dana dan mengawasi serta mengevaluasi
prioritas dan operasi IASB.
b. Dewan IASB. Dewan menetapkan dan memperbaiki standard akuntansi keuangan
dan pelaporan usaha. Tanggungjawabnya meliputi ”memenuhi tanggung jawab untuk
seluruh permasahalan teknis IASB termasuk penyusunan dan penerbitan standard
Akuntansi Internasional,Standard Pelaporan Keuangan Internasional,dan Draf
Standard... serta persetujuan akhir atas interpretasi yang dikeluarkan oleh komite
Interpretasi Pelaporan Keuangan.” dan menyetujui proposal proyek serta metode dan
prosedur untuk mengembangkan standard. Dewan yang ditunjuk oleh Badan Wali
untuk memberikan”kombinasi terbaik yang ada dari keahlian teknik dan latar
belakang pengalaman bisnis internasional dan kondisi pasar yang relevan”. Anggota-
anggota tersebut diangkat untuk masa lima tahun, dan hanya dapat diperpanjang satu
kali.
c. Dewan Penasihat Standard. Dewan penasihat standard ditunjuk oleh perwalian,
yang memiliki latar belakang geografis dan profesional yang berbeda,yang ditunjuk
untuk masa tiga tahun yang dapat diperbaharui”. Dewan Penasihat standard umumnya
bertemu tiga kali setiap tahun. Tanggung jawabnya adalah untuk memberikan nasihat
kepada dewan mengenai agenda dan prioritasnya, untuk memberikan pandangan
mengenai dewan atas ”organisasi dan individual dalam dewan atas proyek penentuan
standard utama” dan untuk memberikan ”nasihat lainnya” kepada dewan dan
perwalian.

III. Tahapan Penetapan Standar Akuntansi

Terdapat 5 pertimbangan dalam proses penetapan kebijakan akuntansi meliputi:

4
1. Berkaitan dengan masalah siapa yang dituju dan bagaimana kedudukan yang
ditujuterhadap organisasi atau badan usaha. Pihak yang dituju adalah investor,
kreditor, dan pemakai lain yang tidak mempunyai akses informasi kecuali dari
informasi laporan keuangan.
2. Berkaitan dengan aspek karakteristik dan keterbatasan informasi yang melandasi
tujuan pelaporan keuangan. Semakin banyak jenis dan kuantitas informasi yang
dianggap bermanfaat makin besar pula kos untuk menyediakan informasi tersebut.
Informasi akan dipertimbangkan untuk masuk ke dalam laporan keuangan apabila
manfaatnya melebihi kos penyediaan.
3. Dimaksudkan untuk menentukan kualifikasi minimal para pemakai sehingga suatu
informasi dapat dipahami oleh pemakai tanpa harus disertai penjelasan rinci.
Kualifikasi minimal ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan penentu kebijakan
akuntansi di jajaran penyusun standar atau badan usaha.
4. Informasi yang dapat dipahami akan dipakai apabila terdapat kebermanfaatan
terhadap keputusan pemakai. Kebermanfaatan memiliki kriteria yang ditentukan
melalui kualitas informasi spesifik keputusan, meliputi : kualitas primer yang terdiri
dari relevance, reliability, verifiability, dan representational faithfulness dan kualitas
sekunder yang terdiri dari comparability, consistency, dan neutrality.
5. Walaupun kualitas di atas terpenuhi, namun diperlukan kriteria penentu untuk
menyaring informasi mana yang harus dilaporkan dalam laporan keuangan dan mana
yang harus dilaporkan dalam laporan yang lain, yaitu materiality.

5
DAFTAR PUSTAKA

https://www.akuntansionline.id/manfaat-standar-akuntansi-keuangan-sektor-publik/ (diakses
tanggal 30 Agustus 2018)

https://dokumen.tips/documents/lembaga-lembaga-penyusun-standar-akuntansi.html (diakses
tanggal 30 Agustus 2018)