Anda di halaman 1dari 29

Savira Happy Kartika

H2A016058

1. Hipertensi renalis

Hipertensi renovaskular paling sering dikenal pada pasien dengan stenosis dari
arteri ginjal utama, tetapi stenosis atau obstruksi cabang arteri ginjal, ekstrinsik
massa yang menekan ginjal, dan lesi parenkim ginjal yang terjadi iskemia juga
dapat menyebabkan hipertensi renovaskular.
Hipertensi renal telah semakin diakui sebagai penyebab penting hipertensi atipikal
klinis dan penyakit ginjal kronis, yang terakhir berdasarkan iskemia ginjal.
Hipertensi renovaskular dapat didefinisikan sebagai peningkatan tekanan diastolik
dan sistolik disertai dengan oklusi arteri renalis. Dari sekitar 1 – 4% hipertensi
disebabkan oleh hipertensi renovaskular, maka sebanyak 5% merupakan
hipertensi yang terjadi pada anak-anak.
Yang termasuk faktor resiko hipertensi renovaskular adalah (i) tekanan darah
diastolik yang lebih dari 95 mm Hg pada pasien yang sudah tidak dapat diatasi
lagi dengan tiga jenis obat hipertensi; (ii) hipertensi akselerasi; (iii) kehilangan
tibatiba dari kontrol hipertensi sebelumnya; (iv) fungsi renal yang rusak akibat
terapi dengan kaptopril; (v) atau bruit abdominal.

Patofisiologi
Oklusi arteri ginjal menyebabkan iskemia, yang memicu pelepasan renin dan
peningkatan sekunder dalam tekanan darah. Hiperreninemia meningkatkan
konversi angiotensin I menjadi angiotensin II, menyebabkan vasokonstriksi berat
dan pelepasan aldosteron. Ketika dua ginjal ada dan berfungsi, aldosterone-
mediated sodium dan retensi air ditangani dengan baik oleh ginjal nonstenotic,
mencegah volume untuk berkontribusi pada angiotensin II-mediated hyertension.
Sebaliknya, ginjal iskemik soliter memiliki sedikit atau tidak ada kapasitas untuk
ekskresi natrium dan air; maka, volume memainkan peran tambahan dalam
hipertensi.

Renin, enzim yang diproduksi, disimpan, dan disekresikan oleh sel-sel granular
terletak di dinding arteriol aferen dan berdekatan dengan glomeruli (yang
Savira Happy Kartika
H2A016058

juxtaglomerular Apparatus). Renin membelah angiotensin I, sepuluh peptida asam


amino, dari substrat renin. Angiotensin I kemudian dimetabolisme di paru-paru
dan tempat lain oleh converting enzyme menjadi angiotensin II, oktapeptida yang
meningkatkan tekanan darah dengan dua mekanisme berbeda:
(1) angiotensin II adalah vasokonstriktor kuat
(2) angiotensin II baik secara langsung dan setelah metabolisme lebih lanjut ke
angiotensin III, menstimulasi sekresi aldosteron oleh korteks adrenal.
Aldosteron, mineralokortikoid yang kuat, meningkatkan reabsorpsi natrium dari
tubulus distal yang mengakibatkan peningkatan volume darah dan tekanan darah.

Diagnosis
Laboratory Test

 Complete blood count (CBC)


 Urinalysis
 Urine culture
 Serum electrolyte levels (sodium, potassium, chloride, and total carbon
dioxide)
 Blood urea nitrogen (BUN) levels
 Serum creatinine levels
 Aktivitas renin plasma

Imaging
Angiography
- Renal arteriography
- Digital Subtraction Angiography
- Carbon dioxide angiography
- Magnetic Resonance Angiography
Doppler Ultrasonography
Renogram (tidak rekomendasi)
Intravenous Pyelography (Kurang baik)
Savira Happy Kartika
H2A016058

Tatalkasana
a) Medikamentosa
- Ace inhibitor (paling effective) : mengurangi iskemia induced rise
angiotensin production, mengurangi aliran darah melewati pembuluh darah
ginjal yang stenosis.
 Captopril : mencegah konversi angiotensin I menjadi angiotensin II
 Enalapril
- Beta blocker
 Propanolol
 Labetalol
- Diuretik : meningkatan diuresis natrium dan air, mengeliminasi volume
 Furosemide
- Calcium channel blockers
 Diltiazem
 Verapamil
b) Angioplasty
Pada umumnya angioplasti perlu dilakukan sebagai prosedur inisial pada
seluruh pasien hipertensi renovaskular bila stenosis mencapai 70% atau
lebih. Pendekatan ini berguna untuk menjaga fungsi ginjal. Tindakan
operasi merupakan pilihan utama bila terdapat lesi ostium predominan, lesi
oklusif total, dan penyakit aorta iliaka yang berat. Bila terdapat stenosis
arteri renalis bilateral derajat tinggi, atau ginjal tunggal, angioplasti
merupakan pilihan pertama, kemudian baru diikuti operasi jika angioplasti
gagal.

Daftar Pustaka
1. HENRY R. BLACK, M.D.,a MORTON G. GLICKMAN, M.D.,b
MARTIN SCHIFF, JR., M.D.,C AND ERIK G. PINGOUD, M.D.b.
Renovascular Hypertension: Pathophysiology, Diagnosis and
Savira Happy Kartika
H2A016058

Treatment. Department of Internal Medicine. Deparment of Diagnostic


Radiology. Deparment of Urology, Yale University School of
Medicine, New Haven Connecticut. 1978
2. Rebecca J Schmidt. Renovascular Hypertension. 1978
https://emedicine.medscape.com/article/245140-medication#1
3. Diana Samara. Penatalaksanaan Hipertensi Sekunder Akibat
Perbedaan Kelainan Anatomi Renovaskuler Pada Usia Muda dan Tua.
Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. 2001

2. Hemodialisis
Hemodialisis merupakan suatu proses yang digunakan pada pasien dalam keadaan
sakit akut dan memerlukan terapi dialisis jangka pendek (beberapa hari hingga
beberapa minggu) atau pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir atau end stage
renal disease (ESRD) yang memerlukan terapi jangka panjang atau permanen.
Tujuan hemodialisis adalah untuk mengeluarkan zat-zat nitrogen yang toksik dari
dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebihan.
Tujuan tersebut diantaranya adalah menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi
ekskresi (membuang sisa-sisa metabolisme dalam tubuh, seperti ureum, kreatinin,
dan sisa metabolisme yang lain), menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan
cairan tubuh yang seharusnya dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat,
meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi ginjal serta
Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain.
Prinsip
Aliran darah pada hemodialisis yang penuh dengan toksin dan limbah nitrogen
dialihkan dari tubuh pasien ke dializer tempat darah tersebut dibersihkan dan
kemudian dikembalikan lagi ke tubuh pasien. Sebagian besar dializer merupakan
lempengan rata atau ginjal serat artificial berongga yang berisi ribuan tubulus
selofan yang halus dan bekerja sebagai membran semipermeabel. Aliran darah
akan melewati tubulus tersebut sementara cairan dialisat bersirkulasi di
sekelilingnya. Pertukaran limbah dari darah ke dalam cairan dialisat akan terjadi
melalui membrane semipermeabel tubulus Tiga prinsip yang mendasari kerja
Savira Happy Kartika
H2A016058

hemodialisis, yaitu difusi, osmosis, ultrafiltrasi. Toksin dan zat limbah di dalam
darah dikeluarkan melalui proses difusi dengan cara bergerak dari darah yang
memiliki konsentrasi tinggi, ke cairan dialisat dengan konsentrasi yang lebih
rendah. Cairan dialisat tersusun dari semua elektrolit yang penting dengan
konsentrasi ekstrasel yang ideal. Kelebihan cairan dikeluarkan dari dalam tubuh
melalui proses osmosis. Pengeluaran air dapat dikendalikan dengan menciptakan
gradien tekanan, dimana air bergerak dari daerah dengan tekanan yang lebih
tinggi (tubuh pasien) ke tekanan yang lebih rendah (cairan dialisat). Gradient ini
dapat ditingkatkan melalui penambahan tekanan negative yang dikenal sebagai
ultrafiltrasi pada mesin dialisis. Tekanan negative diterapkan pada alat ini sebagai
kekuatan penghisap pada membran dan memfasilitasi pengeluaran air.

4. Tumor Urogenital
- Diantara keganasan urogenitalia, karsinoma kelenjar prostat merupakan
keganasan yang angka kejadiannya paling banyak kemudian disusul dengan
keganasan buli-buli. Gejala penting adalah hematuria berulang.
- Stadium
Untuk mengukur derajat penyebaran tumor ditentukan dalam stadium tumor.
Menurut UICC (Union Internationale Contre le Cancere). Tingkat invasi
tumor dinyatakan dalam sistem Tnm atau Tumor Nodul Metastasis.
T – Tingkat pertumbuhan tumor di dalam organ atau tingkat penyebaran
tumor ke organ sekitarnya. T diberi tanda dari T0-T4.
N – Penyebaran Tumor secara limfogen, Terdapatnya penyebaran secara
limfogen ini diniai dari adanya pembesaran lomfonodi yang mengandung sel
sel ganas. N diberi tanda dari N0-N3
M - penyebaran secara hematogen ke organ-organ laiin yang letaknya
berjauhan dari tumor primer M10-M1
1. Tumor Ginjal
Merupakan tumor urogenitalia nomer 3 terbanyak. Klasifikasi:
i) Korteks Ginjal
a) Jinak
Savira Happy Kartika
H2A016058

- Adenoma
- Lioma
- Hamartoma/Angiolipoma
Tumor jinak ginjal yang terdiri atas komponen lemak, pembuluh darah dan
otot polos.
- Onkositoma
b) Ganas
- Adenokarsinoma/Tumor Grawitz/Hipernefroma/Internist Tumor
Tumor ganas parenkim ginjal yang berasal dari tubulus proksimalis ginjal.
Merokok, konsumsi kopi, obat-obatan jenis analgetika dan pemberian
estrogen merupakan faktor resiko. Tumor ini berasal dari tubulus
proksimalis ginja yang mula-mula berada di dalam korteks dan kemudian
menembus kapsul ginjal. Berbagai jenis yakni clear cell, granular cell,
sarkomatoid, papiler dan bentuk campuran.
- Nefroblastoma/Tumor Wilms/ Karsinoma sel embrional
Nefroblastoma adalah tumor ginjal yang banyak menyerang anak usai
kurang dari 10 tahun paling sering dijumai pada anak usia 3,5 tahun. Tumor
berasal dari blastema metanefrik dan terdiri atas blastema, stroma dan epitel.
Setelah melewati kapsula ginjal, tumor akan mengadakan invasi ke orgn di
sekitarnya dan menyebar secara limfogen melalui kelenjar limfe para aorta.
Penyebaran hematogen melalui genra renalis ke vena kava kemudian
mengadakan metastasis ke paru (85%), hepar (10%) dan stadium lanjut ke
ginjal kontralateral.
ii) Sistem saluran
a) Jinak
- Papiloma
b) Ganas
- Tumor Pelvis Renalis
i) Karsinoma sel transisional: Kaliks, ureter, buli-buli dan urethra
proksima, pielum
Savira Happy Kartika
H2A016058

ii) Karsinoma sel skuamosa: karena adanya batu yang menahun pada pelvis
renalis sehingga mengalami metaplasia

2. Tumor Ureter

3. Karsinoma Buli-buli
Keganasan kedua terbanyak pada sistem urogenitalia. Keganasan buli-buli terjadi
karena induksi bahan karsinogen yang banyak terdapat di sekitar kita. Faktor
resiko:
- Pekerjaan: pekerja pekerja di pabrik kimia (terutama pabrik cat),
laboratorium, pabrik korek apai, tekstil, pabrik kulit, pekerja pada
salon/pencukur ranbut sering terpapar oleh bahan karsinogen berupa
senyawa amin aromatik.
- Perokok mengandung amin aromatik dan nitrosamin
- ISK E.coli dan Proteus spp menghasilkan nitrosamin
- Kopi, pemanis buatan dan obat obatan:
Bentuk tumor buli buli berbentuk papiler, tumor non invasif, noduler. Sebagian
besar tumor buli buli adalah karsinoma
- sel transisional
- sel skuamosa: terjadi karena rangsangan kronis karena ISK kronis, batu buli-
buli, kateter menetap, infestasi cacing schistosomiasis dan obat obatan
siklofosfamid.
- adenokarsinoma
1. Primer: terdpat di dasar dan di fundus buli-buli
2. Urachus Persisten: sisa dari duktus urachus yang mengalami degenerasi
maligna
3. Sekunder: metastasis dari organ lain seperti prostat, rektum , ovarium,
lambung, mamma dan endometrium

4. Karsinoma Prostat
Savira Happy Kartika
H2A016058

Karsinoma prostat merupakan keganasan yang terbanyak diatara


keganasan sistem urogenitalia pria. Tunor ini menyerang pasien diatas
usia 50 tahun, diantaranya 30% menyerang pria 70-80 tahun dan 75%
pada usia lebuh dari 8- tahun. Kanker ini jarang menyerang pria berusia
sebelum 45 tahun.
Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab timbulnya
adenokarsinoma prostat adalah
- Predisposisi genetik
- Pengaruh hormonal
- Diet: banyak mengandung lemak, susu berasal dari binatang daging merah
dan hati
- Pengaruh lingkungan
- Infeksi

Jenis karsinoma terbanyak adalah adenokarsinoma 75% perifer, 15-20%


zona sentral dan transisional.
Penyebaran secara limfogen melalui kelenjar limfe pada daerah pelvis
menuju kelenjar limfe retroperitoneal dan penyebaran secara hematogen melalui
vena vertertebralis menuju tulang-tulang pelvis femur sebelah proksimal, vertebra
lumbalis, kosta, paru, hepar dan otak. Metastasis merupakan proses osteoblastik.

5. Tumor Testis
Merupakan keganasan terbanyak pada pria yang berusia diantara 15-35
tahun. Penyebab tumor testis adalah maldesensus testis, trauma testis,
atrofi atau infeksi testis dan pengaruh hormon.
- Tumor Testis primer (95%) berasal dari sel germinal dan lainnya non
germinal. Tumor testis sel germinal terdiri dari seminoma dan non
seminoma. Tumor non sel germinal adalah sel leydig, sel sertoli, dan
gonadoblastoma.
Savira Happy Kartika
H2A016058

- Penyebaran tumor testis pada mulanya berupa lesi intratestikuler menybear


ke rete testis, epididimis, funikulus spermatikus atau bahkan ke kulit
scrotum
6. Tumor Penis
- Karsinoma sel basal
- Melanoma
- Tumor Mesenkim
- Karsinoma sel skuamosa (paling banyak)

Etiologi karena higiene penis kurang bersih, iritasi smegma mengakibatkan


inflamasi kronis.

7. Kegawat daruratan urologi

1. Urosepsis
Urosepsis adalah infeksi sistemik yang berasal dari fokus infeksi di

traktus urinarius sehingga menyebabkan bakteremia dan syok

septik.Insiden urosepsis 20-30 % dari seluruh kejadian septikemia dan

lebih sering berasal dari komplikasi infeksi di traktus urinarius.Pasien

yang beresiko tinggi urosepsis adalah pasien berusia lanjut, diabetes dan

immunosupresif seperti penerima transplantasi, pasien dengan AIDS,

pasien yang menerima obat-obatan antikanker dan imunosupresan.


Tabel 1. Kelainan struktur dan fungsi traktus urinarius yang
berhubungan dengan sepsis
Obstruksi Kongenital: striktur uretra, fimosis, ureterokel,
policystic kidney disease
Didapat: calkulus, hipertrofi prostat, tumor traktus
urinarius, trauma, kehamilan, radioterapi
Instrumentasi Kateter ureter, stent ureter, nephrostomy tube,
prosedur urologik.
Impaired voiding Neurogenic bladder, sistokel, refluk vesikoureteral
Savira Happy Kartika
H2A016058

Abnormalitas metabolik Nefrokalsinosis, diabetes, azotemia


Imunodefisiensi Pasien dengan obat-obatan imunosupresif,
neutropenia.

Diagnosis

Diagnosis dari urosepsis dibuat berdasarkan dari anamnesa, pemeriksaan

fisik, laboratorium dan rontgenologik. Dari anamnesa, data yang positif adalah

adanya demam, panas badan dan menggigil dengan didahului atau disertai gejala

dan tanda obstruksi aliran urin seperti nyeri pinggang, kolik dan atau benjolan

diperut atau pinggang. Hanya 1/3 pasien yang mengeluh demam dan menggigil

dengan hipotensi. Keluhan febris yang terjadi setelah gejala infeksi saluran

kencing bagian bawah yaitu polakisuria dan disuria juga sangat mencurigakan

terjadinya urosepsis. Demikian pula febris yang menyertai suatu manipulasi

urologik.

Pada pemeriksaan fisik yang ditemukan dapat sangat bervariasi berupa

takipneu, takikardi, dan demam kemerahan dengan gangguan status mental. Pada

keadaan yang dini, keadaan umum penderita masih baik, tekanan darah masih

normal, nadi biasanya meningkat dan temperatur biasanya meningkat antara 38-40

C.

Sepsis yang telah lanjut memberikan gejala atau tanda-tanda berupa

gangguan beberapa fungsi organ tubuh, antara lain gangguan pada fungsi

kardiovaskuler, ginjal, pencernaan, pernapasan dan susunan saraf pusat.5

Tabel 2. Definisi Sepsis5


Keadaan Kriteria
SIRS (Systemic Terdapat paling sedikit dua dari beberapa kriteria
Inflammatory dibawah ini :
Respond Syndrome) 1. suhu tubuh > 38 ° C atau <>
2. Denyut nadi > 90 x/’
3. Frekuensi nafas > 20 x/’ atau PaCO2 <>
4. Leukosit > 12000/mm3 atau <4000/mm3 atau lekosit
Savira Happy Kartika
H2A016058

muda > 10%


MODS (Multiple SIRS dengan disfungsi organ dan hemostasis tidak dapat
Organ Dysfunction dipertahankan tanpa adanya intervensi
Sydrome)
Sepsis SIRS dengan tanda-tanda infeksi
Sepsis Berat Sepsis disertai dengan hipotensi (sistole <>
Syok Septik Sepsis disertai dengan hipotensi dan hipoperfusi
Dikutip dari : concencus Conference Criteria Defining Sepsis dalam Lazaron V
dan Barke RS.Uro Clin of N Am 1999, 26, hal 688

Pemeriksaan status lokalis daerah abdomen sepanjang traktus urinarius

penting untuk menentukan pre eksisting anomalinya dan yang diketemukan sangat

bervariasi tergantung kelainan primernya. Dilakukan palpasi pada daerah

costophrenikus, abdomen bawah, regio pubis, kelenjar limfe inguinal, genital,

serta pemeriksaan transvaginal dan transrektal.5 Pemeriksaan laboratorium yang

mendukung diagnosa urosepsis adalah adanya lekositosis dengan hitung

deferensial ke kiri, lekosituria dan bakteriuria.6

Untuk menegakkan diagnosis urosepsis harus dibuktikan bahwa bakteri

yang berada dalam darah (kultur darah) sama dengan bakteri yang ada dalam

saluran kemih (kultur urin). Kultur urin disertai dengan test kepekaan antibiotika

sangat penting untuk menentukan jenis antibiotika yang diberikan. Pemeriksaan

roentgen yang sederhana yang dapat dikerjakan adalah foto polos abdomen.

Pemeriksaan ini membantu menunjukkan adanya kalsifikasi, perubahan posisi dan

ukuran dari batu saluran kemih yang mungkin merupakan fokus infeksi. Yang

diperhatikan pada hasil foto adalah adanya bayangan radio opak sepanjang traktus

urinarius, kontur ginjal dan bayangan/garis batas muskulus psoas. Pemeriksaan

pyelografi intravena (IVP) dapat memberikan data yang penting dari kaliks,

ureter, dan pelvis yang penting untuk menentukan diagnosis adanya refluk

nefropati dan nekrosis papilar. Bila pemeriksaan IVP tidak dapat dikerjakan
karena kreatinin serum terlalu meningkat, maka pemeriksaan ultrasonografi akan
Savira Happy Kartika
H2A016058

sangat membantu menentukan adanya obstruksi dan juga dapat untuk

membedakan antara hidro dan pyelonefrosis. Selain pemeriksaan tersebut juga

dapat dilakukan pemeriksaan CT scan dan MRI.3,4,7

Penatalaksanaan

Penanganan penderita urosepsis harus cepat dan adekuat. Pada prinsipnya

penanganan terdiri dari:4

1. Penanganan gawat (syok) ; resusitasi ABC

2. Pemberian antibiotika

3. Resusitasi cairan dan elektrolit


4. Tindakan definitif (penyebab urologik)

Pemberian antibiotik sebagai penanganan infeksi ditujukan unuk eradikasi

kuman penyebab infeksi serta menghilangkan sumber infeksi. Pemberian

antibiotik harus cepat dan efektif sehingga antibiotika yang diberikan adalah yang

berspektrum luas dan mencakup semua kuman yang sering menyebabkan

urosepsis yaitu golongan aminoglikosida (gentamisin, tobramisin atau amikasin)

golongan ampicilin yang dikombinasi dengan asam klavulanat atau sulbaktam,


golongan sefalosforin generasi ke III atau golongan florokuinolon. Sefalosforin

generasi ke-3 dianjurkan diberikan 2 gr dengan interval 6-8 jam dan untuk

golongan cefoperazone dan ceftriaxone dengan interval 12 jam. Penelitian oleh

Naber et al membuktikan bahwa pemberian antibiotik injeksi golongan

florokuinolon dan piperacillin/tazobaktam direkomendasikan untuk terapi

urosepsis. Penelitian selanjutnya oleh Concia dan Azzini terhadap levofloksasin

membuktikan bahwa levofloksasin sebagai terapi tambahan memiliki efek pada

ekskresi renal dan tersedia dalam bentuk injeksi intravena dan oral.2,4,6

Resusitasi cairan, elektrolit dan asam basa adalah mengembalikan keadaan

tersebut menjadi normal. Urosepsis adalah penyakit yang cukup berat sehingga
Savira Happy Kartika
H2A016058

biasanya “oral intake” menurun. Keadaan demam/febris juga memerlukan cairan

ekstra. Kebutuhan cairan dan terapinya dapat dipantau dari tekanan darah, tekanan

vena sentral dan produksi urine. Bila penderita dengan hipotensi atau syok (tensi

<>2O dan diberikan larutan kristaloid dengan kecepatan 15-20 ml/menit.4,8

Bila terdapat gangguan elektrolit juga harus dikoreksi. Bila K serum 7

meq/L atau lebih perlu dilakukan hemodialisa. Hemodialisa juga diperlukan bila

terdapat Kreatinin serum > 10 mg%, BUN > 100 mg% atau terdapat edema paru.

Drainase yang segera perlu dikerjakan bila terdapat timbunan nanah misalnya

pyonefrosis atau hidronefrosis berat (derajat IV). Pyonefrosis dan hidronefrosis


yang berat menyebabkan terjadinya iskemia sehingga mengurangi penetrasi

antibiotika. Drainase dapat dikerjakan secara perkutan atau dengan operasi biasa

(lumbotomi). Penderita yang telah melewati masa kritis dari septikemia maka

harus secepatnya dilakukan tindakan definitif untuk kelainan urologi primernya.

2. Retensi Urine
Retensi urin adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengeluarkan urin

yang terkumpul didalam buli-buli sehingga kapasitas maksimal dari buli-buli


terlampaui. Adapun kapasitas maksimal pada dewasa adalah 400-500 cc,

sedangkan anak-anak : (umur + 2) x 30 ml.

Adapun penyebab retensi urine antara lain:

A. Kelemahan detrusor

Cedera/gangguan pada medula spinalis atau kerusakan saraf perifer (misalnya

diabetes melitus), detrusor yang mengalami peregangan/dilatasi yang

berlebihan untuk waktu yang lama.

B. Gangguan koordinasi detrusor-sfingter (dis-sinergi) :

Cedera/gangguan sumsum tulang belakang di daerah cauda equina.


Savira Happy Kartika
H2A016058

C. Hambatan/obstruksi uretra : kelainan kelenjar prostat (BPH, Ca), striktura

uretra, batu uretra, kerusakan uretra (trauma), fimosis, parafimosis, gumpalan

darah di dalam buli-buli (clot retention) dll.

Akibat retensi urin tersebut akan menyebabkan:4,6

- Buli-buli akan mengembang melebihi kapasitas maksimal sehingga tekanan

didalam lumennya dan tegangan dari dindingnya akan meningkat.

- Bila keadaan ini dibiarkan berlanjut, tekanan yang meningkat didalam lumen

akan menghambat aliran urin dari ginjal dan ureter sehingga terjadi

hidroureter dan hidronefrosis dan lambat laun terjadi gagal ginjal.


- Bila tekanan didalam buli-buli meningkat dan melebihi besarnya hambatan

didaerah uretra, urin akan memancar berulang-ulang (dalam jumlah sedikit)

tanpa bisa ditahan oleh penderita, sementara itu buli-buli tetap penuh dengan

urin. Keadaan ini disebut inkontinensia paradoksa atau “overflow

incontinence”

- Tegangan dari dinding buli-buli terus meningkat sampai tercapai batas toleransi

dan setelah batas ini dilewati, otot buli-buli akan mengalami dilatasi sehingga
kapasitas buli-buli melebihi kapasitas maksimumnya, dengan akibat kekuatan

kontraksi otot buli-buli akan menyusut.

- Retensi urine merupakan predileksi untuk terjadinya infeksi saluran kemih (ISK)

dan bila ini terjadi, dapat menimbulkan keadaan gawat darurat yang serius

seperti pielonefritis, urosepsis, khususnya pada penderita usia lanjut.

Gambaran klinis

Pasien mengeluh tertahan kencing atau kencing keluar sedikit-sedikit.

Keadaan ini harus dibedakan dengan inkontinensia paradoksa, yaitu keluarnya

urin secara menetes, tanpa disadari dan tidak mampu ditahan oleh pasien. Selain
Savira Happy Kartika
H2A016058

itu, tampak benjolan kistus pada perut bagian bawah disertai dengan rasa nyeri

yang hebat.

Pemeriksaan pada genitalia eksterna mungkin teraba batu di uretra anterior,

terlihat batu di meatus uretra eksternum, teraba spongiofibrosis di sepanjang

uretra anterior, terlihat fistel atau abses di uretra, fimosis/parafimosis, atau terlihat

darah keluar dari uretra akibat cedera uretra. Pemeriksaan colok dubur setelah

buli-buli dikososngkan ditujukan untuk mencari adanya hiperplasia

prostat/karsinoma prostat, dan pemeriksaan refleks bulbokavernosus untuk

mendeteksi adanya buli-buli neurogenik.4


Pemeriksaan foto polos perut menunjukkan bayangan buli-buli penuh, mungkin

terlihat bayangan batu opak pada uretra atau pada buli-buli. Pada pemeriksaan

uretrografi tampak adanya striktur uretra.4

Penatalaksanaan

Urin yang tertahan lama dalam buli-buli secepatnya harus dikeluarkan karena jika

dibiarkan akan menimbulkan beberapa masalah yaitu, infeksi saluran kemih,

kontraksi otot buli-buli menjadi lemah, dan timbul hidroureter dan hidronefrosis
yang selanjutnya dapat menimbulkan gagal ginjal. Urin dapat dikeluarkan dengan

cara kateterisasi, sistotomi, atau pungsi suprapubik. Tindakan penyakit primer

penyebab retensi urin dikerjakan setelah keadaan pasien stabil.4

3. Anuria
Anuria adalah tidak adanya produksi urin tetapi dalam praktek klinik

didefinisikan sebagai produksi urin kurang dari 100 mL dalam 24 jam. Anuria

sering dihubungkan dengan obstruksi total dari saluran kemih bagian bawah

dengan diagnosis banding yang terbatas (tabel 3). Secara umum penyebab dari

anuria sendiri bisa bersifat prerenal, intrarenal atau postrenal.9


Savira Happy Kartika
H2A016058

Gambaran klinis

Pada anamnesis pasien mengeluh tidak kencing atau kencing hanya

sedikit, yang kadang kala didahului oleh keluhan obstruksi yang lain yaitu nyeri di

daerah pinggang atau kolik, dan tidak jarang diikuti dengan demam. Jika

didapatkan riwayat adanya kehilangan cairan, asupan cairan yang berkurang, atau

riwayat menderita penyakit jantung, harus diwaspadai adanya faktor penyebab pre

renal. Perlu ditanyakan kemungkinan pemakaian obat-obat nefrotoksik,

pemakaian bahan kontras untuk foto radiologi, setelah menjalani radiasi di daerah

perut sebelah atas, riwayat reaksi tranfusi hemolitik, atau riwayat penyakit ginjal

sebelumnya. Semuanya untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab intrarenal.

Diperiksa keadaan hidrasi pasien dengan mengukur tekanan darah, nadi dan

perfusinya. Lebih baik jika dapat dipasang manometer tekanan vena sentral atau

CVP sehingga dapat diketahui keadaan hidrasi pasien dengan tepat dan mudah.

Pemeriksaan laboratorium sedimen urine menunjukkan lekosituria atau hematuria.

Pemeriksaan darah rutin diketemukan leukositosis, terdapatnya gangguan faal

ginjal, tanda asidosis atau hiperkalemia. Foto polos abdomen ditujukan untuk

mencari adanya batu opak pada saluran kemih, atau bayangan pembesaran ginjal.

Pemeriksaan ultrasonografi abdomen penting karena dapat mengetahui adanya


hidronefrosis atau pionefrosis, dan dengan tuntunan USG dapat dilakukan

pemasangan kateter nefrostomi.

Penatalaksanaan

Jika tidak segera diatasi, maka akan menimbulkan penyulit berupa uremia,

infeksi dan terjadi SIRS yang berakhir dengan kematian. Oleh karena itu sambil
memperbaiki keadaan pasien, secepatnya dilakukan diversi/pengeluaran urine.
Pengeluaran urine dapat dilakukan melalui pemasangan kateter nefrostomi atau
Savira Happy Kartika
H2A016058

mungkin dilakukan pemasangan kateter double J. Pemasangan kateter nefrostomi

dapat dilakukan perkutan yaitu dengan tuntunan ultrasonografi atau dengan

operasi terbuka, yaitu memasang kateter yang diletakkan di kaliks ginjal agar

urine atau nanah yang berada pada sistem pelvikalises ginjal dapat dikeluarkan.

Kadang-kadang pasien membutuhkan bantuan hemodialisa untuk mengatasi

penyulit akibat uremia.4,6,8

4. Kolik Ureter atau Kolik Ginjal


Kolik ureter atau kolik ginjal adalah nyeri pinggang hebat yang datangnya

mendadak, hilang timbul (intermiten) yang terjadi akibat spasme otot polos untuk
melawan suatu hambatan. Keluhan nyeri ini bersifat gawat darurat sehingga harus

didiagnosis dengan cepat dan penatalaksanaan yang tepat. Perasaan nyeri bermula

di daerah pinggang dan dapat menjalar ke seluruh perut, ke daerah inguinal, testis

atau labium disertai dengan atau tanpa keluhan mual, muntah, disuria atau

hematuria. Nyeri ini biasanya disebabkan oleh obstruksi saluran kemih akibat

urolitiasis, bekuan darah, infark renal, pielonefritis akut, nyeri pada kegawatan

abdomen lain seperti divertikulitis, apendisitis, dan ruptur aneurisma aorta


abdominal.4,10

Gambaran klinis

Pasien tampak gelisah, nyeri pinggang, selalu ingin berganti posisi dari

duduk, tidur, kemudian berdiri guna memperoleh posisi yang dianggap tidak

nyeri. Denyut nadi meningkat karena gelisah dan tekanan darah meningkat pada

pasien yang sebelumnya normotensi. Tidak jarang dijumpai adanya pernapasan

cepat dan grunting terutama pada saat puncak nyeri. Jika disertai demam harus

diwaspadai terhadap adanya infeksi yang serius atau urosepsis. Dalam keadaan ini

pasien harus secepatnya dirujuk karena mungkin memerlukan tindakan drainase

urine. Palpasi pada abdomen dan perkusi pada daerah pinggang akan terasa nyeri.
Savira Happy Kartika
H2A016058

Keluhan kolik pada urolitiasis jika batu kecil yang turun ke pertengahan

ureter pada umumnya menyebabkan penjalaran nyeri ke pinggang sebelah lateral

dan seluruh perut. Jika batu turun mendekati buli-buli biasanya disertai dengan

keluhan lain berupa sering kencing dan urgensi.

Laboratorium

Pemeriksaan sedimen urine sering menunjukkan adanya sel-sel darah

merah. Tetapi pada sumbatan total saluran kemih tidak didapatkan sel-sel darah

merah, yaitu kurang lebih terdapat pada 10 % kasus. Ditemukannya piuria perlu

dicurigai kemungkinan adanya infeksi, sedangkan didapatkannya kristal-kristal


pembentuk batu (urat, kalsium oksalat, atau sistin) dapat diperkirakan jenis batu

yang menyumbat saluran kemih.4,8

Pencitraan

Pemeriksaan foto polos perut ditujukan untuk mencari adanya batu opak di

saluran kemih, tetapi hal ini seringkali tidak tampak karena tidak disertai

persiapan pembuatan foto yang baik. Ultrasonografi dapat menilai adanya

sumbatan pada ginjal berupa hidronefrosis. Sekitar 70% kasus kolik renal dapat
didiagnosis dengan cepat menggunakan USG selain untuk menyingkirkan

kegawatan abdomen yang lain. USG memiliki sensitivitas 90% tetapi

spesifisitasnya sekitar 65-84% untuk mendeteksi adanya obstruksi. Setelah

episode kolik berlalu dilanjutkan dengan pemeriksaan foto PIV. Foto PIV atau CT

scan merupakan gold standard untuk menentukan derajat obstruksi, ukuran batu

dan akibat obstruksi terhadap fungsi ekskresi renal.4,10,11

Penatalaksanaan

Serangan kolik harus segera diatasi dengan medikamentosa ataupun

dengan tindakan lain. Obat-obat yang sering dipakai untuk mengatasi serangan

kolik adalah antispasmodik dan analgetik. Namun terapi konservatif dengan


Savira Happy Kartika
H2A016058

analgetik tidak dianjurkan untuk pasien dengan resiko urosepsis, obstruksi lama,

nyeri persisten, atau adanya infeksi.12 Jika pasien mengalami episode kolik yang

sulit ditanggulangi, ditawarkan untuk pemasangan kateter ureter double J (DJ

stent) yaitu suatu kateter yang ditinggalkan mulai dari pelvis renalis, ureter hingga

buli-buli. Pasien yang menunjukkan gejala-gejala gangguan sistem saluran cerna

(muntah-muntah atau ileus) sebaiknya dimasukkan ke rumah sakit agar hidrasi

pasien tetap terjaga. Diuresis pasien harus diperbanyak karena peningkatan

diuresis akan mengurangi frekuensi serangan kolik. Tindakan penyakit primer

penyebab retensi urin dikerjakan setelah keadaan pasien stabil.4,8

5. Hematuria
Hematuria berarti didapatkannya sel darah merah pada urine, pada

umumnya dikategorikan baik gross maupun mikroskopik. Untuk mikroskopik

hematuria dikatakan apabila didapatkan >3 s/d 5 sel darah merah/lapang pandang.

Gross hematuria jika didapatkan darah atau bekuan darah berwarna merah atau

kecoklatan yang dapat berasal dari perdarahan di ureter/ginjal, buli-buli dan

prostat.4,13
Beberapa jenis hematuria berdasarkan penyebab yaitu:

Inisial hematuria: penyebabnya ada pada proksimal urethra atau di leher/dasar

buli-buli.

Total hematuria: penyebabnya ada di buli-buli, ureter atau ginjal.

Idiopatic hematuria adalah hematuria dimana penyebabnya tidak dapat ditentukan.

False/pseudohematuria: adalah diskolorasi dari urine karena pigmen dari pewarna

makanan dan myoglobin.

Hematuria dapat disebabkan oleh faktor renal (infeksi, kongenital anomali,

tumor, trauma, batu), buli (infeksi, batu, tumor, trauma), urethra (penyakit

menular seksual, trauma, benda asing, instrumentasi), prostat (infeksi, BPH,


Savira Happy Kartika
H2A016058

kanker prostat), atau bleeding disorder. Adapun sebanyak ± 20 % dari penderita

tidak diketahui penyebabnya meskipun telah dilakukan pemeriksaan urologi lebih

lanjut.4,6

Diagnosis

Diagnosis pada saat awal adalah dengan memastikan adanya sel darah

merah pada urine. Hal ini penting oleh karena warna darah pada urine bisa

disebabkan oleh: hemoglobinuria, myoglobinuria, pigmen makanan, zat pewarna

makanan, obat-obatan seperti phenothiazine, phenazopyridine, porphyrin,

phenolptalein.4,13
Dari anamnesis dicari penyebab hematuria perlu digali data yang terjadi

pada saat episode hematuri, antara lain : bagaimanakah warna urine yang keluar?,

apakah diikuti dengan keluarnya bekuan-bekuan darah?, dibagian manakah pada

saat miksi urine berwarna merah?, apakah diikuti dengan perasaan sakit?.

Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik tanda vital diperhatikan terutama tekanan darah dan suhu

badan.13 Perlu diperhatikan adanya hipertensi yang mungkin merupakan


manifestasi dari penyakit ginjal. Syok hipovolemik dan anemia mungkin

disebabkan karena banyak darah yang keluar. Palpasi bimanual pada ginjal perlu

diperhatikan adanya pembesaran ginjal akibat tumor, obstruksi, ataupun infeksi

ginjal. Massa pada suprasimfisis mungkin disebabkan karena retensi bekuan darah

pada buli-buli. Colok dubur dapat memberikan informasi adanya pembesaran

prostat benigna maupun karsinoma prostat.4

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan urinalisis dapat mengarahkan kita kepada hematuria yang

disebabkan oleh faktor glomeruler ataupun non glomeruler. Pada pemeriksaan pH

urine yang sangat alkalis menandakan adanya infeksi organisme pemecah urea di
Savira Happy Kartika
H2A016058

dalam saluran kemih, sedangkan pH urine yang sangat asam mungkin

berhubungan dengan batu asam urat. Sitologi urine diperlukan untuk mencari

kemungkinan adanya keganasan sel-sel urotelial. IVP dapat mengungkapkan

adanya batu saluran kemih, kelainan bawaan saluran kemih, tumor-tumor

urotelium, trauma saluran kemih, serta beberapa penyakit infeksi saluran kemih.

Pemeriksaan USG berguna untuk melihat adanya massa yang solid atau kistus,

adanya batu non opak, bekuan darah pada buli-buli/pielum, dan untuk mengetahui

adanya metastasis tumor di hepar. Sistoskopi atau sisto-uretero-renoskopi

dikerjakan jika pemeriksaan penunjang di atas belum dapat menyimpulkan


penyebab hematuria. Tindakan ini biasa dilakukan setelah bekuan darah yang ada

di dalam buli-buli dibersihkan sehingga dapat diketahui asal perdarahan.4

Penatalaksanaan

Jika terdapat gumpalan darah pada buli-buli yang menimbulkan retensi

urine, dicoba dilakukan kateterisasi dan pembilasan buli-buli dengan memakai

cairan garam fisiologis, tetapi jika tindakan ini tidak berhasil, pasien secepatnya

dirujuk untuk menjalani evakuasi bekuan darah transuretra dan sekaligus


menghentikan sumber perdarahan. Jika terjadi eksanguinasi yang menyebabkan

anemia, harus dipikirkan pemberian transfusi darah, demikian juga jika terjadi

infeksi harus diberikan antibiotika. Setelah hematuria dapat ditanggulangi,

tindakan selanjutnya adalah mencari penyebabnya dan selanjutnya menyelesaikan

masalah primer penyebab hematuria.4

6. Akut Skrotum
Akut skrotum adalah keadaan-keadaan dimana didapatkan adanya nyeri

mendadak yang hebat didalam skrotum dan seringkali disertai pembengkakan dari

isi skrotum dan gejala umum lainnya. Keadaan ini memerlukan penanganan yang

cepat dan tepat karena beberapa penyebab dari akut skrotum ini adalah problem
Savira Happy Kartika
H2A016058

vaskular sehingga prognosanya sangat dipengaruhi oleh lamanya gangguan

vaskular tersebut berlangsung. Akut skrotum ini sering terjadi pada remaja,

dewasa muda dan atlet.

Torsio testis terjadi karena testis terputar di dalam skrotum sehingga

terjadi obstruksi aliran darah arteri dan vena testis. Ada 2 puncak insiden torsio

testis, yaitu tahun pertama dan pubertas. Insiden torsio testis pada 24 jam pertama

kelahiran cukup tinggi dan mungkin sebagian besar darinya terjadi intrauterin

sehingga pada saat lahir penderita ini mempunyai massa intraskrotal padat, dan

akhirnya kehilangan testis karena orchidektomi atau atropi. Pada masa pubertas
resiko meningkat karena mereka mempunyai deformitas yang disebut dengan

“bell-clapper”. Bentuk deformitas ini berupa perlekatan testis pada tunica

vaginalis yang tidak kuat sehingga testis menggantung bebas dalam skrotum.

Perlekatan yang tidak kuat ini menyebabkan testis mudah bergerak dan

terputar.4,15

Secara fisiologis otot kremaster berfungsi untuk menggerakkan testis mendekati

dan menjauhi rongga abdomen untuk mempertahankan suhu ideal untuk testis.

Adanya kelainan sistem penyangga testis menyebabkan testis dapat mengalami

torsio jika bergerak secara berlebihan. Beberapa keadaaan yang menyebabkan

pergerakan berlebihan dari testis yaitu adalah perubahan suhu yang mendadak

(saat berenang), ketakutan, latihan yang berlebihan, batuk, celana yang terlalu

ketat, defekasi, atau trauma yang mengenai skrotum. Terputarnya funikulus

spermatikus menyebabkan obstruksi aliran darah testis sehingga testis mengalami

hipoksia, edema testis, dan iskemia. Pada akhirnya testis akan mengalami

nekrosis.4
Savira Happy Kartika
H2A016058

Gambaran Klinis

Gejala utama dari torsio testis adalah nyeri testis yang hebat dan biasanya

mendadak diikuti pembengkakan pada testis. Nyeri ini biasanya terbatas pada

skrotum tetapi bisa juga menjalar sepanjang perjalanan funikulus spermatikus

yakni ke inguinal dan perut bagian bawah. Pada beberapa penderita nyeri terutama

dirasakan di perut bagian bawah ipsilateral bahkan di perut bagian atas atau di

pinggang. Testis yang membengkak letaknya lebih tinggi dan horisontal dengan

funikulus spermatikus yang menebal, kadang-kadang bisa diraba adanya lilitan

funikulus spermatikus. Pada saat permulaan epididimis masih teraba tetapi tidak
pada posisi yang normal. Penderita mengalami mual, muntah dan panas badan.

Torsio testis sering mengalami reposisi spontan, hal ini dapat dibuktikan

dengan banyaknya penderita yang mempunyai riwayat serangan yang sama pada

masa sebelumnya dan sembuh dengan sendirinya. Kesalahan diagnosa yang

seringkali dibuat adalah epididimitis dan merupakan penyebab utama

keterlambatan pengobatan dan rendahnya angka viabilitas testis. Tanda dari Prehn

adalah berkurang atau hilangnya nyeri pada epididimitis apabila testis diangkat,
sedangkan pada torsio testis nyerinya tidak akan berkurang. Akan tetapi banyak

ahli yang berpendapat bahwa tanda dari Prehn ini tidak bisa dijadikan pegangan.4,6

Penatalaksanaan

Evaluasi dan penatalaksanaan harus secepat mungkin karena torsio testis

menyebabkan iskemia dan jarang bertahan lebih dari 12 jam.15 Penatalaksanaan

torsio testis dapat dilakukan dengan:

1. Detorsi Manual

Detorsi manual yaitu mengembalikan posisi testis ke asalnya,yaitu dengan

jalan memutar testis ke arah berlawanan dengan arah torsio. Karena arah

torsio biasanya ke medial maka dianjurkan untuk memutar testis ke arah


Savira Happy Kartika
H2A016058

lateral dahulu. Kemudian jika tidak terjadi perubahan dicoba detorsi ke arah

medial. Hilangnya nyeri setelah detorsi menandakan bahwa detorsi telah

berhasil. Keberhasilan detorsi manual tidak menghilangkan indikasi untuk

melakukan eksplorasi oleh karena reposisi manual testis tidak menjamin bisa

mengembalikan testis ke posisinya yang normal.

2. Operasi

Pembedahan eksplorasi dilakukan dengan tujuan, yaitu memperbaiki viabilitas

testis, reposisi testis kearah yang benar dan fiksasi testis kontralateral untuk

mencegah berulangnya torsio. Jika testis masih viable maka dilakukan


orchidektomi atau orchidopeksi (fiksasi testis) pada tunika dartos dan

dianjurkan orchidopeksi pada testis kontralateral.4,15

Cara orchidopeksi adalah dengan memasang 3 jahitan antara tunika

albuginea dan tunika dartos dengan mempergunakan bahan yang tidak diserap

misalnya sutera. Tamil melaporkan terjadinya torsio testis kontra lateral 5 tahun

setelah orchidopeksi mempergunakan “chromic catgut”. Sedangkan Kuntze

melaporkan 2 kasus torsio pada testis yang telah difiksasi dengan “chromic
catgut”.6,8

8. Kedaruratan Penis

a) Priapismus
Priapismus adalah ereksi berkepanjangan tanpa disertai hasrat seksual dan

sering disertai rasa nyeri. Menurut etiologinya, priapismus dibedakan menjadi

primer (idiopatik) dan sekunder. Priapismus sekunder dapat disebabkan

oleh kelainan pembekuan darah (anemia bulan sabit, leukemi dan emboli lemak),

trauma perineum/genitalia, nerogen (anestesi regional), keganasan, obat-obatan

(alkohol, psikotropik, antihipertensi) dan injeksi intrakavernosa dengan zat


Savira Happy Kartika
H2A016058

vasoaktif yang saat ini mulai banyak dilakukan oleh para dokter sebagai salah satu

cara diagnosis dan terapi impotensia.4

Kegagalan penis untuk melemas kembali ini dapat terjadi karena :

gangguan mekanisme veno-oklusi (“outflow”) sehingga darah tak dapat keluar

dari jaringan erektil, atau akibat peningkatan aliran darah ke jaringan erektil

(“inflow), sehingga dibedakan 2 jenis priapismus yaitu:4

1. “Low-flow” Priapismus (statis=Ischemic) yaitu berupa ereksi berkepanjangan

dan diikuti rasa nyeri.

2. “High-Flow” Priapismus (non-ischemic) yang sering tanpa rasa nyeri dan


prognosanya baik.

\. Ereksi berkepanjangan 4-6 jam harus dicurigai priapismus. Nyeri

biasanya terjadi 6-8 jam. Spycher & Hauri (1986) menyatakan bahwa akibat

kegagalan hemodinamik pada korpora kavernosa pertama-tama akan terjadi edem

jaringan pada interstitiel trabekula, yang kemudian setelah 24 jam terjadi

kerusakan dan nekrosis sel-sel yang luas. > 48 jam terjadi pembekuan darah

dalam kaverne dan destruksi endotel sehingga jaringan-jaringan trabekel


kehilangan daya elastisitasnya.

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,

laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Dari anamnesis dan

pemeriksaan fisik yang teliti diharapkan dapat diketahui penyebab priapismus.

Pemeriksaan lokal akan dijumpai batang penis yang tegang tanpa disertai

ketegangan pada glans penis. Adanya pulsasi a.kavernosa dengan bantuan

Doppler Sonografi dan analisa gas darah yang diambil intrakavernosa dapat

membedakan jenis “ischemic” atau “non ischemic”.4

Penatalaksanaani
Savira Happy Kartika
H2A016058

Prinsipnya adalah sesegera mungkin mengeluarkan darah yang ada di

korpora kavernosa karena akan memperberat kerusakan jaringan erektil yang amat

menentukan reversibilitas potensi seksual penderita. Terapi priapismus tidak

spesifik, yaitu:4

1. Konservatif, dilakukan pada priapismus sekunder sambil mengobati penyakit

primernya. Meliputi pemberian hidrasi yang baik, sedativa, enema dengan es

saline, kompres pada skrotum atau penis, masase prostat dan epidural anestesi

2. Aspirasi dan irigasi intrakavernosa, aspirasi darah intrakavernosa saja atau

kemudian disusul irigasi (instilasi) zat adrenergik yang diencerkan, memberi


respon yang sangat baik pada priapismus akibat injeksi vasodilator

intrakavernosal. Cara ini dapat pula dicobakan pada priapismus spontanea non

iskemik atau iskemia derajat ringan dengan hasil yang cukup baik.

3. Jalan pintas (shunting) dari kavernosa, tindakan ini harus segera diperkirakan

terutama pada priapismus veno-oklusive (static) atau yang gagal dengan terapi

medikamentosa/aspirasi. Hal ini untuk mencegah timbulnya sindrom

kompartemen yang akan menekan a.kavernosa yang berakibat iskemi


korporal.

 Pintas Korporo-Granular, melakukan pintas korpora kavernosa dengan

glans penis sehingga aliran darah vena akan keluar dari korpora kavernosa

dan diharapkan aliran darah arterial akan kembali normal.

 Pintas Korporo-Spongiosum, pada priapismus yang terjadi beberapa hari

bagian distal kavernosum sering menjadi fibrotik sehingga tak mungkin

mengalirkan darah dari kavernosum ke spongiosum secara adekuat,

sehingga perlu dilakukan pintas disebelah proksimal.


Savira Happy Kartika
H2A016058

 Pintas Safeno-Kavernosum, dengan anestesi dibuat 2 insisi yaitu diatas v.

Safena dan pada lateral basis penis. V. Safena dibebaskan dari insersinya

kedalam vena femoralis. Dibuat terowongan subkutan antara v. Safena

dengan basis penis. V. Safena ditarik melalui terowongan tersebut

kemudian di anastomosekan dengan jendela yang sudah dibuat pada tunika

albuginea korpus kavernosum dan dijahit jelujur 2 semisirkuler.

Gambar 4. Pintas cavernosal-saphenous proximal (Grayhack shunt)

c) Strangulasi Penis
Strangulasi penis adalah terjeratnya penis oleh benda yang melingkar pada
penis sehingga menimbulkan gangguan hemodinamik disebelah distal jeratan,

berupa bendungan aliran darah vena yang berakibat edem, hipoksemia sampai

nekrose jaringan. Merril membedakan strangulasi penis menjadi dua, yaitu yang

menimpa orang dewasa dan yang menimpa anak-anak/bayi. Pada dewasa biasanya

karena kesengajaan memasukkan benda berongga atau menjerat penisnya pada

saat ereksi. Benda yang dimasukkan bisa cincin karet/logam, pipa, botol atau tali.

Sedang pada anak/bayi dapat disebabkan oleh kelalaian orang tua misalkan
melingkarkan tali pada batang penis anaknya dengan tujuan mencegah enuresis,

atau karena terjerat seutas rambut yang terdapat pada popok bayi, ataupun karena

sengaja anak yang lebih besar bermain-main dengan melingkarkan tali pada

penis.4

Karena strangulasi penis adalah kedaruratan vaskular pada penis maka

pada pemeriksaan fisik harus diperhatikan suhu, warna, sensibilitas, denyut nadi

(dapat dibantu dengan Doppler Sonografi) dan miksi. Kelainan yang ditemukan

tergantung pada lamanya strangulasi, mulai dari edem sampai nekrose penis

bagian distal jeratan.4

Penatalaksanaan
Savira Happy Kartika
H2A016058

Pada prinsipnya benda yang menjerat penis harus segera dikeluarkan...

Bila edem belum terlalu besar, pelepasan dapat dilakukan seperti melepaskan

cincin dari jari tangan. Seutas pita kecil atau nylon dilewatkan dibawah cincin

dengan bantuan klem bengkok yang telah diberi pelicin sampai ke proksimal

cincin. Disebelah distal cincin, pita dililitkan pada penis yang sebelumnya telah

pula diberi pelicin 2-3 cm. Ujung proksimal pita ditarik ke distal dengan sudut 95°

sampai cincin melewati lilitan pita. Prosedur ini diulangi sampai cincin keluar.

Diameter penis yang amat besar dan ketegangan penis yang hebat dapat dikurangi

dengan menusuk glans dan kulit penis hingga cairan edem beserta darah dapat
dikeluarkan dan akan memperkecil diameter penis. Cincin baja dapat pula

dikeluarkan dengan memotongnya dengan gerinda baja berkecepatan tinggi.

Tetapi alat ini belum tentu tersedia dan sering menimbulkan panas yang dapat

merusak jaringan penis, karena itu selama digerinda harus selalu ditetesi air.

Pengambilan jeratan hanya merupakan awal pengobatan strangulasi penis,

perawatan selanjutnya tergantung derajat kerusakannya. Uretrografi perlu

dilakukan bila ada kecurigaan lesi uretra. Kerusakan kulit yang luas memerlukan
debridemen dan tandur kulit.4

d) Parafimosis
Parafimosis adalah prepusium penis yang diretraksi sampai di sulkus

koronarius tidak dapat dikembalikan pada keadaan semula dan timbul jeratan pada

penis dibelakang sulkus koronarius. Menarik (retraksi) prepusium ke proksimal

biasanya dilakukan pada saat bersenggama/masturbasi atau sehabis pemasangan

kateter. Jika prepusium tidak secepatnya dikembalikan ke tempat semula,

menyebabkan gangguan aliran balik vena superfisial sedangkan aliran arteri tetap

berjalan normal. Hal ini menyebabkan edema glans penis dan dirasakan nyeri.
Savira Happy Kartika
H2A016058

Jika dibiarkan bagian penis disebelah distal jeratan makin membengkak yang

akhirnya bisa mengalami nekrosis glans penis.4

Penatalaksanaan

Prepusium diusahakan untuk dikembalikan secara manual dengan teknik

memijat glans selama 3-5 menit diharapkan edema berkurang dan secara

perlahan-lahan prepusium dikembalikan pada tempatnya. Jika usaha ini tidak

berhasil, dilakukan dorsum insisi pada jeratan sehingga prepusium dapat

dikembalikan pada tempatnya. Setelah edema dan proses inflamasi menghilang,

pasien dianjurkan untuk menjalani sirkumsisi.