Anda di halaman 1dari 3

3. Gambarkan model teori simpul dari gambar tersebut di atas.

Apakah Variabel ke 5 dari model yang


saudara gambarkan?

Jika digambarkan dalam teori simpul, Endocrine Disrupting Compound dalam kasus gangguan endokrin
di Ponorogo, dapat kita lihat sebagai berikut:

simpul 1 : bahan kimia toksik yang mencemari mata air sebagai sumber konsumsi dan keperluan
sehari-hari warga;

simpul 2 : air yang dikonsumsi maupun yang digunakan untuk keperluan sehari-hari;

simpul 3 : perilaku penduduk yang tinggal di pinggir mata air, yang mengkonsumsi air tersebut
maupun menggunakan air tersebut untuk kepeluan sehari-hari;

simpul 4 : manifestasi dampak akibat hubungan antara penduduk dengan lingkungan (mata air
yang tercemar) yang akhirnya mengakibatkan anak-anak lahir dengan gangguan cacat lahir dan
munculnya kasus-kasus kretinisme. Kasus ini kemudian disebut dengan kasus Ponorogo seperti dalam
soal; serta

simpul 5 : topografi daerah Ponorogo dan kaitannya dengan sumber mata pencaharian warganya
yang kebanyakan bekerja sebagai petani di daerah pedesaan, serta terdapatnya beberapa gunung yang
telah terbakar puncaknya.

4. Apa parameter simpul 1, simpul 2, simpul 3, serta simpul 4 ?

Umumnya, sumber disruptor endokrin dapat ditemukan pada pestisida, logam, zat aditif atau zat
pencemar makanan lainnya, dan produk perawatan tubuh, yang merupakan hasil kegiatan manusia.
Parameter yang berkaitan dengan sumber penyakit pada EDC diperoleh dengan pengamatan dan
pengukuran pada sumber tersebut, salah satunya adalah pengukuran kadar zat kimia yang memiliki efek
hormon estrogen terhadap makhluk hidup, misalnya bisphenol-A (BPA) dari kaleng makanan,
Dichlorodiphenyl dichloroethylene (DDE) dalam Dichlorodiphenyl trichloroethane (DDT), DEHP dari
plastik makanan, perfluorochemicals dari bahan pakaian, phthalates, triklosan, merkuri, alkylphenol
polyethoxylates dari produk perawatan tubuh, butoxyethanol (EGBE) dan methoxydiglycol (DEGME) dari
kosmetik, dan lain sebagainya.

Zat kimia disruptor endokrin akan terdegradasi dan berperilaku dengan cara berbeda di lingkungan, yang
akan mempengaruhi rute paparan pada manusia dan hewan. Paparan zat kimia tersebut terhadap
makhluk hidup dapat terjadi melalui udara, air, tanah, dan bahan pangan. Zat kimia ini dapat masuk ke
tubuh manusia apabila tertelan atau dikonsumsi, terhirup atau dihirup, atau kontak langsung dengan
kulit di sepanjang membran sel dan kemudian terabsorbsi ke dalam aliran darah. Parameter simpul dua
pada EDC diperoleh dengan pengukuran zat kimia pada komponen lingkungan, misalnya pengukuran
kadar DEHP pada makanan dan minuman kemasan, pengukuran DDT di tanah atau bahan pangan,
pengukuran di lingkungan lainnya menggunakan gas and liquid chromatography, high performance liquid
chromatography (HPLC), mass spectrometry, dan high-resolution mass spectrometry (HRMS).

Masuknya agen penyakit ke dalam tubuh manusia melalui suatu proses yang dikenal sebagai hubungan
interaktif yang dapat diukur dengan jumlah paparan antara manusia dengan komponen lingkungan yang
mengandung potensi bahaya penyakit—dalam hal ini, disruptor endokrin. Masyarakat dengan berbagai
variabel kependudukan, baik yang sehat maupun sakit, secara langsung ataupun tidak langsung, akan
meminum air yang tercemar, menginsumsi makanan yang terkontaminasi, dan menghirup udara yang
tercemar pula. Parameter pada simpul tiga ini diperoleh dengan pengukuran kadar zat kimia pada
spesimen dan kadar hormon dalam tubuh manusia. Umumnya pengukuran ini memakai sampel darah,
urin, jaringan adiposa, bahkan ASI. Salah satu contohnya adalah pengukuran kadar triphenyl phosphate
(TPHP), bahan kimia yang banyak terdapat pada kuteks, dalam darah, pengukuran konsentrasi
polychlorinated biphenyls (PCB) dalam ASI, pengukuran BPA dalam darah, dan lainnya.

Kejadian penyakit merupakan hasil hubungan interaktif antara manusia dan faktor lingkungan. Pada
kasus EDC ini, gangguan kesehatan yang dapat terjadi adalah mikropenis, gangguan pertumbuhan pada
anak—termasuk kognitif, goiter, kanker, peningkatan libido, dan masih banyak lagi. Parameter yang
dipakai pada simpul empat gangguan disruptor endokrin adalah jumlah kejadian penyakit yang
ditimbulkan, seperti prevalensi goiter dan kretin

Referensi

Achmadi, U.F. 2014. Dasar-Dasar Penyakit Berbasis Lingkungan, Edisi Revisi. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.

ALPI. 2011. DEHP, Plasticizer yang Sering Terdapat dalam Bahan Emulsifier. Didapat dari: URL: HYPERLINK
"http://alpindonesia.org/berita/index1.php?view&id=25" http://alpindonesia.org/berita/index1.php?
view&id=25.

Bantarwati,Dias Aji, dkk. 2013. Hubungan Pajanan Pestisida Dengan Kejadian Hipotiroid Pada Wanita
Usia Subur di Daerah Pertanian Hortikultura Desa Gombong Kecamatan Belik Pemalang. Vol. 12 No. 2.
HYPERLINK "http://ejournal.undip.ac.id" http://ejournal.undip.ac.id. diakses 1 oktober 2017

Damstra, T.,Barlow, S., Bergman, A., Kavlock, R., dan Kraak, G.V.D. (editor). 2002. Exposure of Selected
Potential EDCs in Humans and Wildlife. Dalam: Global Assessment of The State-of-The-Science of
Endocrine Disruptors (hal. 89 – 92). Jenewa: WHO.