Anda di halaman 1dari 13

TBC (AIRBORNE DISEASE)

D
I
S
U
S
U
N

OLEH :

KELOMPOK 6

1. NILASARI : 0801163120
2. AYNIL PAIDAH HARAHAP : 0801163122
3. FATIMAH MALA HAYATI : 0801163125
4. MUHAMMAD FAHMI : 0801163126
5. NUZULIA BAHRI SIRAIT : 0801163127
6. NURLAILI WISFA : 0801163149

DOSEN PEMBIMBING : IZZAH DIENILLAH SARAGIH, M. Epid

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUMATERA UTARA

MEDAN

T.A 2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan
karunia-Nya,sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang merupakan sebuah
makalah kesehatan terkait tentang TBC (Airborne Disease). Makalah ini disusun oleh
mahasiswa FKM UINSU dengan judul makalah yang ditetapkan, untuk menjadi sumber nilai
dalam mata kuliah epidemiologi penyakit menular. Dalam menyelesaikan makalah ini,
penulis menghaturkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membimbing. Dalam
makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, oleh sebab itu penulis
meminta maaf kepada penilai maupun pembaca. Saran dan kritik yang membangun sangat
diharapkan guna perbaikan dikemudian hari. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh


kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang
paru tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lainnya (Widiastuti, 2012). TB
merupakan penyakit yang sudah sangat lama dikenal oleh manusia. Pada
peninggalan Mesir kuno, ditemukan relief yang menggambarkan orang dengan
gibbus. Kuman Mycobacterium tuberculosis penyebab TB telah ditemukan oleh
Robert Koch pada tahun 1882, lebih dari 100 tahun yang lalu. Walaupun
telah dikenal sekian lama dan telah lama ditemukan obat-obat antituberkulosis
yang poten hingga saat ini TB masih merupakan masalah yang menonjol.

Menurut World Health Organization sejak tahun 2010 hingga Maret 2011, di
Indonesia tercatat 430.000 penderita TB paru dengan korban meninggal sejumlah
61.000. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan kejadian tahun 2009 yang mencapai
528.063 penderita TB paru dengan 91.369 orang meninggal (WHO Tuberculosis
Profile, 2012).

Laporan TB dunia oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 2014,
masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor tiga di dunia
setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539.000 dan jumlah
kematian sekitar 100.000 pertahun. Terdapat 244 penderita kasus TB aktif per
100.000 penduduk. Sekitar 80% pasien TB adalah kelompok usia yang paling
produktif secara ekonomis (15-59 tahun). Laki-laki dua kali lebih sering terkena
dibandingkan dengan perempuan di negara-negara sedang berkembang.Diperkirakan
seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya tiga sampai
empat bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah
tangganya sekitar duapuluh sampai tigapuluh persen. Jika ia meninggal akibat TB,
maka akan kehilangan pendapatannya sekitar lima belas tahun. Selain merugikan
secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial stigma
bahkan dikucilkan oleh masyarakat.
TB dihubungkan secara klasik dengan dengan kondisi kehidupan yang buruk
seperti kepadatan, urbanisasi dan ketiadaan tempat tinggal, pengguna obat-obatan
terlarang dan minuman keras, tingkat sosial ekonomi rendah, pendapatan perbulan
yang rendah, pengangguran, tingkat pendidikan yang rendah, akses kesehatan yang
buruk, nutrisi yang jelek dan status imun yang lemah (seperti pada kasus infeksi
HIV). Faktor yang mempengaruhi kejadian TB Paru meliputi adanya sumber
penularan penyakit yaitu kuman Mycobacterium Tuberculosis, faktor karakteristik
lingkungan (kondisi geografi, demografi dan iklim), faktor kependudukan (sosial
ekonomi, umur, jenis kelamin dan status gizi) serta pelayanan kesehatan baik dari
segi fasilitas ataupun dari segi tenaga kesehatannya (Achmadi, 2008).

B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini, yaitu:
1. Untuk mengetahui identifikasi penyakit TBC ?
2. Untuk memahami tentang etiologi dan sifat-sifat agen dari TBC?
3. Untuk mengetahui masa inkubasi dan masa penularan penyakit TBC?
4. Untuk dapat mengetahui tentang kejadian Penyakit ( Prevalensi dan Insidensi)
TBC?
5. Untuk dapat memahami reservoir dari penyakit TBC?
6. Untuk dapatmemahami cara penularan TBC?
7. Untuk dapat memahami tentang cara pencegahan, penanggulangan, pengawasan
dan pemberantasan TBC?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Identifikasi

Penyakit TBC adalah penyakit yang menular yang menyerang paru-paru,


penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium Tuberkulosis. Walaupun tidak mudah
diwarnai, jika telah diwarnai bakteri ini tahan terhadap peluntur warna (dekolarisasi)
asam atau alcohol, oleh karena ini dinamakan bakteri tahan asam atau basil tahan
asam ( BTA ).

Penyakit TBC atau yang sering di kenal dengan penyakit infeksi


kronis/menehun dan menular yang di sebabkan oleh bakteri Mycobacterium
Tuberkulosis yang dapat menyerang pada siapa saja, tanpa memandang usia, dan
jenis kelamin dengan gejala yang sangat bervariasi. Namun,sesuai fakta yang ada
bahwa penderita penyakit TBC lebih banyak menyerang pada usia roduktif yang
berkisar 15 tahun sampai dengan 35 tahun.
Identifikasi tuberkulosis paru adalah melalui gejala, tanda dan hasil pemeriksaan
penunjang. Gejalanya pada umumnya adalah batuk-batuk lama >3 minggu, keringat
malam, penurunan berat badan, batuk darah, demam tidak tinggi dan lemah .
Tandanya salah satunya terdapat bunyi napas tambahan pada pemeriksaan dengan
stetoskop. Bila didapatkan kecurigaan ke arah TBC maka dapat dilakukan
pemerikaaan dahak sebanyak 3 kali dan pemeriksaan Rontgen paru. Pemeriksaan
Mantoux biasanya dilakukan pada anak.
B. Etiologi dan Sifat-sifat Agen
1. Etiologi
Penyebab dari penyakit ini adalah bakteri Mycobacterium tuberculois.
Mycobacterium tuberculosis ditemukan oleh Robet Koch pada tahun 1882. Ukuran
dari bakteri ini cukup kecil yaitu 0,5-4 mikron x 0,3-0,6 mikron dan bentuk dari
bakteri ini yaitu batang, tipis, lurus atau agak bengkok, bergranul, tidak mempunyai
selubung tetapi kuman ini mempunyai lapisan luar yang tebal yang terdiri dari lipoid
(terutama asam mikolat). Sifat dari bakteri ini agak istimewa, karena bakteri ini dapat
bertahan terhadap pencucian warna dengan asam dan alkohol sehingga sering disebut
dengan bakteri tahan asam (BTA). Selain itu bakteri ini juga tahan terhadap suasana
kering dan dingin. Bakteri ini dapat bertahan pada kondisi rumah atau lingkungan
yang lembab dan gelap bisa sampai berbulan-bulan namun bakteri ini tidak tahan atau
dapat mati apabila terkena sinar, matahari atau aliran udara (Widoyono,2011).

2. Sifat-sifat Agen
Mycobacterium tuberculosis tidak tahan panas, akan mati pada suhu 6C
selama 15-20 menit. Biakan dapat mati jika terkena sinar matahari langsung selama 2
jam. Dalam dahak dapat bertahan selama 20-30 jam. Basil yang berada dalam
percikan bahan dapat bertahan hidup 8-10 hari. Biakan basil ini pada suhu kamar
dapat bertahan selama6-8 bulan dan dapat disimpan dalam lemari dengan suhu 20C
selama 20 tahun.

C. Masa Inkubasi dan Masa Penularan


1. Masa Inkubasi

Mulai saat masuknya bibit penyakit sampai timbulnya gejala adanya lesi
primer atau reaksi tes tuberculin positif kira-kira memakan waktu 2 – 10 minggu.
Resio menjadi TB paru atau TB ekstrapulmoner progesif setelah infeksi primer
biasanya terjadi pada tahun pertama dan kedua. Infeksi laten dapat berlangsung
seumur hidup. Infeksi HIV dapat meningkatkan resiko terhadap infeksi TB dan
memperpendek masa inkubasi.
2. Masa Penularan

Secara teoritis penderita tetap menularkan penyakit ini sepanjang ditemukan


basil TB di dalam sputum mereka. Penyakit yang tidak diobati atau yang diobati tidak
sempurna pada dahaknya mengandung basil TB selama bertahun – tahun. Tingkat
penularan sangat bergantung pada hal-hal sebagai berikut :

1. Jumlah basil TB yang dikeluarkan.


2. Virulensi dari basil TB.
3. Terpajannya basil TB dengan sinar ultraviolet.
4. Terjadinya aerosolisasi pada saat batuk, bersin, bicara atau pada saat bernyanyi.
5. Tindakan medis dengan resiko tinggi seperti pada waktu otopsi, intubasi atau pada
waktu melakukan bronkoskopi.

Pemberian OAT yang efektif mencegah terjadinya penularan dalam beberapa


minggu paling tidak dalam lingkungan rumah tangga. Anak-anak dengan TB primer
biasanya tidak menular.

D. Kejadian Penyakit ( Prevalensi dan Insidensi)


Menurut Global Tuberculosis Report WHO (2016), diperkirakan insidens
tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2015 sebesar 395 kasus/100.000 penduduk dan
angka kematian sebesar 40/100.000 penduduk (penderita HIV dengan tuberkulosis
tidak dihitung) dan 10/100.000 penduduk pada penderita HIV dengan tuberkulosis.
Menurut perhitungan model prediction yang berdasarkan data hasil survei prevalensi
tuberkulosis tahun 2013-2014, estimasi prevalensi tuberkulosis tahun 2015 sebesar
643 per 100.000 penduduk dan estimasi prevalensi tuberkulosis tahun 2016 sebesar
628 per 100.000 penduduk.

E. Reservoir
Pada umumnya manusia adalah sebagai reservoir dari bakteri penyebab
penyakit TB paru. Jarang sekali ditemukan Micobacterium tuberculosis di binatang.
F. Cara Penularan

 Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif.


 Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk
percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000
percikan dahak.
 Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam
waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar
matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama
beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.
 Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan
dahak, makin menular pasien tersebut.

G. Cara Pencegahan, Penanggulangan, Pengawasan dan Pemberantasan TBC


1. Pencegahan Penyakit Tuberkulosis

a. Pencegahan Primer atau pencegahan tingkat pertama

– Mengatasi faktor lingkungan yang berpengaruh pada penularan tuberkulosa


seperti meningkatkan kualitas pemukiman dengan menyediakan ventilasi
pada rumah dan mengusahakan agar sinar matahari dapat masuk ke dalam
rumah

– Meningkatkan daya tahan pejamu seperti meningkatkan status gizi individu,


pemberian imunisasi BCG terutama bagi anak.

– Tidak membiarkan penderita tuberculosis tinggal serumah dengan bukan


penderita karena bisa menyebabkan penularan.

– Meningkatkan pengetahuan individu pejamu (host) tentang tuberkulosa


definisi, penyebab, cara untuk mencegah penyakit tuberculosis paru seperti
imunisasi BCG, dan pengobatan tuberculosis paru.
b. Pencegahan Sekunder atau pencegahan tingkat kedua

– Pemberian obat anti tuberculosis (OAT) pada penderita tuberkulosa paru


sesuai dengan kategori pengobatan seperti isoniazid atau rifampizin.

– Penemuan kasus tuberkulosa paru sedini mungkin dengan melakukan diagnosa


pemeriksaan sputum (dahak) untuk mendeteksi BTA pada orang dewasa.

– Diagnosa dengan tes tuberculin

– Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya

– Melakukan foto thorax

– Libatkan keluarga terdekat sebagai pengawas minum obat anti tuberkulosa

c. Pencegahan tertier atau pencegahan tingkat ketiga

– Lakukan rujukan dalam diagnosis, pengobatan secara sistematis dan


berjenjang.

– Berikan penanganan bagi penderita yang mangkir terhadap pengobatan.

– Kadang kadang perlu dilakukan pembedahan dengan mengangkat


sebagianparu-paru untuk membuang nanah atau memperbaiki kelainan
bentuk tulang belakang akibat tulang belakang

2. Penanggulangan penyakit TBC


 Istirahat di ruangan yang mempunyai ventilasi udara baik.
 Makan-makanan yang bergizi serta mengandung vitamin c didalamnya.
 Jangan minum-minuman yang mengandung alkohol.
 Melakukan olahraga secara teratur.
 Melakukan pemeriksaan diri ke dokter, dan jika mengalami gejala-gejala
TBC.
 Minum obat yang sudah diresepkan.
3. Pengawasan Penyakit TBC

– Mengawasi dan memberi dorongan serta memastikan kepada penderita TBC


agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatannya.
– Mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah
ditentukan.
– Memberikan penyuluhan tentang penyakit TBC dan menyarankan anggota
keluarga penderita yang mempunyai gejala sama termasuk setiap anak balita
di keluarga tersebut periksa ke petugas kesehatan.
– Melihat atau mengawasi gejala samping obat, yaitu tanda-tanda atau keluhan
yang timbul setelah minum obat dan mengirimkan penderita ke petugas
kesehatan bila timbul gejala samping obat

4. Pemberantasan Penyakit TBC

Berikut beberapa standar kegiatan pemberantasan penyakit TB paru. Beberapa


kegiatan tersebut antara lain :

– Upaya Penemuan Penderita: Ada dua cara upaya penemuan penderita TB


Paru dalam program pemberantasan, yaitu secara pasif dan aktif. Secara
pasif artinya penjaringan tersangka (suspek) penderita dilaksanakan pada
mereka yang datang ke unit pelayanan kesehatan. Secara aktif yaitu
dilakukan dalam angka meningkatkan cakupan penemuan penderita, melalui
upaya penyuluhan secara aktif kepada masyarakat, baik oleh petugas
kesehatan maupun kader kesehatan. Cara ini disebut ”passive promotive
case finding” (penemuan penderita secara pasif dengan promosi yang aktif).
– Pemeriksaan Bakteriologis: Pemeriksaan dahak secara mikroskopis
merupakan kunci dalam menegakkan diagnosa penyakit tuberkulosis dan
mengevaluasi hasil pengobatan. Untuk diagnosis harus memeriksa 3 (tiga)
spesimen dahak. Ketiga spesimen dikumpulkan dalam 2 (dua) hari
kunjungan berurutan. Dahak yang dikumpulkan adalah dahak sewaktu-pagi-
sewaktu (SPS). Diagnosis selanjutnya dapat dipastikan jika hasil
pemeriksaan sputum adalah minimal dua kali BTA positif dari tiga spesimen
yang diperiksa.
– Pengobatan Tuberkulosis Paru: Tujuan pengobatan adalah menyembuhkan
penderita, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, dan menurunkan
tingkat penularan. Pengobatan dilakukan dalam 2 tahap, yakni tahap intensif
dan tahap lanjutan. Dalam pelaksanaannya penderita harus selalu diawasi
oleh pengawas minum obat (PMO) yang telah ditunjuk oleh petugas
kesehatan atau keluarga pasien.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Penyakit TBC adalah penyakit yang menular yang menyerang paru-paru, penyakit
ini disebabkan oleh Mycobacterium Tuberkulosis.
2. Mycobacterium tuberculosis tidak tahan panas, akan mati pada suhu 6C selama
15-20 menit.
3. Masa Inkubasi dimulai saat masuknya bibit penyakit sampai timbulnya gejala
adanya lesi primer atau reaksi tes tuberculin positif kira-kira memakan waktu 2 –
10 minggu.
4. Secara teoritis penderita tetap menularkan penyakit ini sepanjang ditemukan basil
TB di dalam sputum mereka.
5. Pada umumnya manusia adalah sebagai reservoir dari bakteri penyebab penyakit
TB paru.
6. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam
waktu yang lama.

B. Saran

Adapun saran yang dapat kami berikan adalah dengan kita telah mengetahui
apa itu penyakit Tuberculosis, kita dapat lebih menjaga lagi kesehatan kita yaitu
dengan selalu menjaga lingkungan dan kesehatan diri kita sendiri supaya tetap bersih,
mengingat bahwa penyakit ini adalah penyakit menular yang sangat berbahaya dan
angka kematiannya cukup tinggi.
DAFTAR PUSTAKA

digilib.unila.ac.id/6668/17/BAB%20II.pdf
eprints.ums.ac.id/34035/26/BAB%202%20NEW.pdf
eprints.undip.ac.id/44615/3/2.pdf
library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani12.pdf
staff.ui.ac.id/system/files/users/retno.asti/material/patodiagklas.pdf
digilib.unimus.ac.id/.../jtptunimus-gdl-fitraisnae-6705-2-babii.pdf