Anda di halaman 1dari 7

UTS

“MAKRO EKONOMI SYARIAH LANJUTAN”

Disusun Oleh : Ribut Riyanto


Kelas : ES – A Wates Kulon Progo
NIM : 16240014

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI ISLAM YOGYAKARTA


2018
Soal :
1. Jelaskan peran Negara dalam ekonomi makro Islam!
2. Apa tujuan Ekonomi Makro Islam?
3. Bagaimana posisi masalah sosial dalam ekonomi makro Islam?
4. Jelaskan dan uraikan konsep uang dalam ekonomi islam!

Jawab :
1. Peran Negara dalam ekonomi makro Islam.
Pemerintah memegang peranan penting di dalam ekonomi makro
Islam, karena kemajuan suatu negara dapat dilihat dari kesejahteraan
ekonomi rakyatnya. Beberapa peran yang harus dimiliki oleh pemerintah
terkait dengan pengembangan ekonomi kerakyatan. Islam menentukan
fungsi pokok negara dan pemerintah dalam bidang ekonomi, yaitu
menghapuskan kesulitan ekonomi yang dialami rakyat, memberi
kemudahan pada akses pengembangan ekonomi kepada seluruh lapisan
rakyat dan menciptakan kemakmuran.
Dalam kaitan ini, Imam Al-Ghazali menguraikan tanggungjawab
sosial ekonomi negara : ”Tanggungjawab penguasa adalah membantu
rakyat ketika mereka mengahadapi kelangkaan pangan, kelaparan dan
penderitaan, khususnya ketika terjadi kekeringan atau ketika harga tinggi
sampai rakyat mendapat penghasilan kembali, karena dalam keadaan
tersebut sulit bagi mereka memenuhi dua tujuan tersebut. Dalam kondisi
tersebut negara harus memberi makanan kepada rakyatdan memberikan
bantuan keuangan kepada mereka dari kekayaan negara supaya mereka
dapat meningkatkan pendapatan mereka”.
Al-Mawardi dalam kitabnyaal-ahkam al-sulthaniyah menyebut
beberapa tanggungjawab pemerintah dalam bidang ekonomi : menciptakan
lingkungan yang kondusif bagi kegiatan ekonomi, melakukan pemungutan
pendapatan dari sumber-sumber yang tersedia dan menaikkan pendapatan
dengan menetapkan pajak baru bila situasi menuntut demikian,
menggunaan keuangan negara untuk tujuan-tujuan ya ng menjadi kewajiban
Negara.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pemerintah hendaknya
mendukung dan melaksanakan konsep-konsep ekonomi yang dibuat oleh
Allah SWT dan juga ulama islam seperti yang terurai di atas. Dalam
membuat kebijakan public yang berkaitan dengan ekonomi, hendaknya
pemerintah memperhatikan prinsip-prinsip berikut ini :
a. Prinsip Hakikat Kepemilikan pada Allah swt.
Bahwa alam semesta beserta isinya termasuk manusia didalamnya
adalah makhluk (ciptaan) Allah SWT. Oleh karenanya hakikat
kepemilikan bukan pada manusia akan tetapi milikAllah swt,sedangkan
manusia adalah pihak yang diberi amanah untukmengelola, memelihara
dan memanfaatkan alam semesta ini untukkemaslahatan seluruh ummat
manusia. Kepemilikan manusia diakui dalam Islam sebagai bagian hasil
dari jerih payah usahanya secara sah.
b. Prinsip Sumber Pengambilan Keputusan.
Pengambilan keputusan kebijakan wajib bersandar pada Kitabullah dan
Sunnatu Rasulullah saw. Bila permasalahan memerlukan ketegasan
hukum yang secara langsung berkait dengan masalah tersebut tetapi
belum dapat ditemukan dalam Al-Qur’an maupun as-sunnah maka
dipersilakan pada manusia untuk melakukan ijtihad. Buah ijtihad
haruslah tidak bertentangan dengan syari’ah Allah swt.
c. Prinsip Musyawarah.
Kebijakan publik haruslah melalui musyawarah dan
mempertimbangkan keseluruhan aspek dan faktor-faktor yang terkait
dengan permasalahan tersebut secara komprehensif dengan segala
akibatnya.
d. Prinsip Maqashid Syariah.
Kebijakan publik haruslah mempertimbangkan maqashid syariah.
e. Prinsip Keadilan dan Kemaslahatan.
Kebijakan publik harus menjamin keadilan dan kemaslahatan bagi
semua.
f. Prinsip Kepemimpinan dan Kepatuhan
Bila kebijakan telah diputuskan dengan musyawarah maka wajib bagi
pemimpin untuk mengeksekusi keputusan itu dan wajib pula bagi yang
dipimpin untuk menunjukkan kepatuhan dalam melaksanakan
kebijakan itu.
g. Prinsip Pertanggungjawaban.
Setiap kebijakan atau tindakan apapun dan sekecil apapun akan diminta
pertanggungjawabannya dihadapan Allah kelak. Dan setiap kewajiban
publikharus pula dipertanggungdakwakan kepada publik karena
menyangkut penggunaan kekuasaan dan wewenang serta penggunaan
aset yangdiamanahkan kepada pengambil kebijakan tersebut.
2. Tujuan Ekonomi Makro Islam.
Secara umum tujuan-tujuan ekonomi makro islam itu dapat digolongkan
sebagai berikut ini:
a. Menyediakan dan menciptakan peluang-peluang yang sama dan luas
bagi semua orang untuk berperan serta dalam kegiatan-kegiatan
ekonomi. Peserta serta individu dalam kegiatan ekonomi merupakan
tanggung jawab keagamaan. Individu diharuskan menyediakan dan
menopang setidaknya kebutuhan hidupnya sendiri dan orang-orang
yang bergantung padanya.
b. Memberantas kemiskinan aboslut dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan
dasar bagi semua individu masyarakat. Kemiskinan bukan hanya
merupakan penyakit ekonomi, tetapi juga mempengaruhi spiritualisme
individu. Islam menomor satukan pemberantasan kemiskinan.
Pendekatan Islam dalam memerangi kemiskinan ialah dengan
merangsang dan membantu setiap orang untuk berpartisipasi aktif
dalam setiap kegiatan-kegiatan ekonomi.
c. Mempertahankan stabilitas ekonomi dan pertumbuhan, dan
meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Islam memandang posisi
ekonomi manusia tidak statis. Dengan ungkapan yang sangat jelas,
Allah telah menjamin bahwa semua makhluk diciptakan untuk
dimanfaatkan oleh manusia. Gagasan tentang peningkatan
kesejahteraan ekonomi manusia rupanya sebuah proposisi religious.
Karena terdapat sintesis antara aspek-aspek material dan spiritual dalam
skema Islam mengenai kegiatan manusia, kemajuan ekonomi yang
diciptakan oleh Islam juga member sumbangan bagi perbaikan spiritual
manusia. Stabilitas ekonomi dalam Islam menunjukan pada pencapaian
stabilitas harga dan tiadanya pengangguran. Kedua tujuan ini, berbeda
dalam wilayah keadilan ekonomi.
3. Posisi masalah sosial dalam ekonomi makro Islam.
Islam menganggap kekayaan sebagai nikmat yang diberikan oleh
Allah, yang harus disyukuri, kemiskinan dianggap sebagai problem bahkan
musibah yang harus dimohon kepada Allah agar kita dijauhkan dari hal
tersebut. Islam telah meletakkan berbagai macam cara untuk mengatasinya.
Kemiskinan dianggap sebagai penyakit yang sangat berbahaya
terhadap aqidah agama dan khususnya kemiskinan yang menyengsarakan,
yang mana disekitarnya terdapat kekayaan yang buruk. Dan lebih
khususnya jika orang miskin tersebut profesinya sebagai buruh yang suka
berfoya-foya mengikuti trend sebagaian orang kaya dan tidak memiliki
prinsip hidup.
Jika seperti itu, maka kemiskinan akan menyebabkan keraguan
terhadap kebijaksanaan undang-undang Tuhan yang ditetapkan di dunia,
dan menyebabkan kebimbangan akan keadilan Tuhan dalam membagi rizki-
Nya.
Kemiskinan membahayakan pemikiran manusia, bencana dan
bahaya kemiskina tidak hanya berhenti pada aspek rohani dan moral
manusia, tapi juga meliputi aspek pemikiran manusia, sebab orang miskin
yang tidak memiliki penunjang hidup, baik untuk dirinya, keluarga dan
anak-anaknya, bagaimana bisa berfikir dengan tenang atau lembut, lebih-
lebih dalam hal ini disekitarnya adalah orang yang rumahnya dipenuh
dengan kenikmatan, serta gudangnya bergelimang dengan emas.
Masalah sosial seperti kemiskinan harus segera diselesaikan. Islam
mengajarkan untuk berzakat dan tolong menolong. Dari hasil zakat akan
terciptanya distribusi kekayaan yang lebih merata. Dari hasil tolong
menolong khususnya di bidang permodalan dengan akad bagi hasil, maka
akan tumbuh perusahaan perusahaan baru yang bisa meningkatkan ekonomi
masyarakat. Sehingga diharapkan angka kemiskinan bisa berkurang.
4. Konsep uang dalam ekonomi islam.
Konsep uang dalam ekonomi Islam berbeda dengan konsep uang
dalam ekonomi konvensional. Dalam ekonomi Islam, konsep uang sangat
jelas dan tegas bahwa uang adalah uang, uang bukan capital. Sebaliknya,
konsep uang yang dikemukakan dalam ekonomi konvensional tidak jelas.
Sering kali istilah uang dalam perspektif ekonomi konvensional diartikan
secara bolak-balik, yaitu uang sebagai uang dan uang sebagai capital.
Fngsi uang dalam pandangan Islam, dibagi menjadi dua, yaitu:
Money as flow concept dan Money as public goods. Uang adalah flow
concept dan capital adalah stop concept. Semakin cepat perputaran uang
akan semakin baik. Misalnya, seperti contohpada aliran air masuk dan aliran
air keluar. Sewaktu air mengalir, disebut sebagai uang, sedangkan apabila
air tersebut mengendap, maka disebut sebagai capital. Wadah tempat
mengendapnya adalah private goods, sedangkan air adalah pubic goods.
Uang seperti air, apabila air (uang) dialirkan, maka air (uang) tersebut akan
bersih dan sehat (bagi ekonomi). Apabila air (uang) dibiarkan menggenang
dalam suatu tempat (menimbun uang), maka air tersebut akan keruh/ kotor.
Saving harus diinvestasikan ke sektor riil. Apabila tidak, maka saving bukan
saja tidak mendapat return, tetapi juga dikenakan zakat.
Ciri dari public goods adalah barang tersebut dapat digunakan oleh
masyarakat tanpa menghalangi orang lain untuk menggunakannya. Sebagai
contoh: jalan raya. Jalan raya dapat digunakan oleh siapa saja tanpa
terkecuali, akan tetapi masyarakat yang mempunyai kendaraan berpeluang
lebih besar dalam pemanfaatan jalan raya tersebut dibandingkan dengan
masyarakat yang tidak mempunyai kendaraan. Begitu pula dengan uang.
Sebagai public goods, uang dimanfaatkan lebih banyak oleh masyarakat
yang lebih kaya. Hal ini bukan karena simpanan mereka di bank, tetapi asset
mereka, seperti rumah, mobil, saham, dan lain-lain. Yang digunakan di
sektor produksi, sehingga memberikan peluang yang lebih besar pada orang
tersebut untuk memperoleh lebih banyak uang. Jadi, semakin tinggi tingkat
produksi, akan semakin besar kesempatan uantuk dapat memperoleh
keuntungan dari public goods (uang) tersebut. Oleh karena itu, penimbunan
(hording) dilarang karena menghalangi yang lain untuk menggunakan
public goods tersebut. Jadi, jika dan hanya private goods dimanfaatkan pada
sektor produksi, maka kita akan memperoleh keuntungan.