Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

SISTEMATIKA HEWAN VERTEBRATA


IDENTIFIKASI MORFOLOGI DAN KUNCI DETERMINASI KELAS
AMPHIBIA

OLEH

KELOMPOK IV A
GAMA ILHAM (1710423033
SITI AISYAH JAYANTI (1710422011)
YOLANDA AGHNYANINGRUM (1710421013)
GRESIA PUTERI (1710422033)
YOSECA AULIA (1710423025)

ASISTEN PJ : YENI GUSMA YANTI


AQIL FADHULLAH

LABORATORIUM TEACHING IV
JURUSAN BIOLOGI
AKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2018
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah salah satu pusat keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Menurut

Biodiversity Action Plan for Indonesian, 16% dari amphibi dan reptile dunia terdapat di

Indonesia dengan jumlah lebih dari 1100 jenis, sehingga Indonesia menjadi negara yang

mempunyai jumlah amphibi dan reptile terbesar di dunia. Namun jumlah tersebut

diperkirakan masih jauh di bawah keadaan yang sebenarnya (Iskandar, 2004).

Indonesia memiliki dua dari tiga ordo amphibi yang ada di dunia, yaitu

Gymnophiona dan Anura. Ordo Gymnophiona dianggap langka dan sulit diketahui

keberadaannya, sedangkan ordo Anura merupakan yang paling mudah ditemukan di

Indonesia mencapai sekitar 450 jenis atau 11% dari seluruh jenis Anura di dunia. Ordo

Caudata merupakan satu-satunya ordo yang tidak terdapat di Indonesia. Untuk mendukung

pengetahuan tentang klasifikasi dan taksonomi diperlukan adanya identifikasi dari berbagai

parameter morfologi dari bentuk tubuh kelas amphibi (Iskandar, 1998).

Amphibi berasal dari kata amphi yang berarti rangkap dan bios artinya kehidupan

karena amphibi adalah hewan yang hidup pada dua kehidupan yang mula-mula di air dan

dilanjutkan didarat.Amphibi merupakan hewan vertebrata pertama yang hidup di darat

diikuti oleh Reptil, Burung dan Mammalia. Amphibi dikelompokan oleh para ahli kedalam

tiga ordo meliputi Gymnophiona (Caecilians), Caudata (Salamanders) dan Anura (Frogs and

Toads) (Radiopoetro, 1990).

Amphibi adalah vertebrata yang secara tipikal dapat hidup baik dalam air tawar (tak

ada yang di air laut) dan di darat. Sebagian besar mengalami metamorfosis dari berudu

(akuatis dan bernapas dengan insang) ke dewasa (ampfibius dan bernapas dengan paru-

paru). Namun beberapa jenis amfhibi tetap mempunyai insang selama hidupnya (Mukayat,

1989).
Menurut Iskandar (1998) untuk mengkaji tentang keberagaman amphibi terlebih

dahulu harus mempelajari morfologi amphibi untuk dapat membedakan antara satu spesies

dengan yang lainnya. Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk luar suatu

organisme.Bentuk luar dari organisme ini merupakan salah satu ciri yang mudah dilihat dan

diingat dalam mempelajari organisme. Adapun yang dimaksud dengan bentuk luar

organisme ini adalah bentuk tubuh, termasuk di dalamnya warna tubuh yang kelihatan dari

luar.

Beberapa jenis katak, pada sisi tubuhnya memiliki lipatan kulit berkelenjar, mulai

dari belakang mata hingga di atas pangkal paha yang disebut lipatan dorsolateral. Katak atau

kodok mempunyai mata berukuran besar, dengan pupil mata horisontal dan vertikal.

Beberapa jenis katak memiliki pupil mata berbentuk berlian atau segi empat yang khas bagi

masing-masing kelompok. Tubuh katak atau kodok betina biasanya lebih besar daripada

yang jantan. Ukuran katak dan kodok di Indonesia bervariasi dari yang terkecil hanya 10

mm, dengan berat hanya satu atau dua gram sampai jenis yang mencapai 280 mm dengan

berat lebih dari 1500 gram (Iskandar, 1998).

Berdasarkan uraian-uraian diatas, maka perlu dilaksanakan praktikum sistematika

hewan amphibi untuk dapat mengidentifikasi bentuk morfologis dan pengelompokan hewan

amphibi tersebut.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari parktikum sistematika hewan vertebrata adalah untuk mengetahui

bentuk-bentuk morfologi, karakter dan sifat-sifat kelas amphibi dan untuk

pengidentifikasian dan pengkalsifikasian amphibi. Praktikum ini juga bertuuan untuk

mampu membuat kunci determinasi kelas amphibi.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Amphibi berasal dari bahasa Yunani yaitu Amphi yang berarti dua dan Bios yang berarti

hidup. Karena itu amphibi diartikan sebagai hewan yang mempunyai dua bentuk kehidupan

yaitu di darat dan di air. Pada umumnya, amphibi mempunyai siklus hidup awal di perairan

dan siklus hidup kedua adalah di daratan. Saat dewasa hewan amphibi masih memerlukan

tempat yang terdapat air atau lembab untuk hidup. Amphibi selalu hidup berasosiasi dengan

air, tetapi hewan ini menghuni habitat yang cukup beragam mulai dari yang hidup di bawah

permukaan air sampai yang hidup di puncak pepohonan. Kebanyakan hewan ini hidup di

kawasan berhutan, karena memerlukan kelembaban untuk melindungi tubuhnya dari

kekeringan (Zug, 1993).

Karakteristik umum dari amphibi adalah memiliki anggota ekstremitas, secara

anatomi, kecuali apoda yang anggota geraknya tereduksi, kulit memiliki dua kelenjar yaitu

kelenjar mukosa dan kelenjar berbintil, pernapasan menggunakan insang, kulit dan paru-

paru, mempunyai sistem pendengaran, jantung terdiri atas tiga ruang, memiliki struktur gigi

(maksila dan mandibula) dan merupakan hewan poikiloterm. Sebagai hewan yang

mengalami metamorfosis fase berudu amphibi hidup di perairan dan bernapas dengan insang

serta bergerak menggunakan ekor. Pada fase dewasa, amphibi hidup di daratan, bernapas

dengan paru-paru dan bergerak menggunakan kaki. Perubahan peralihan kehidupan dari

perairan ke daratan menyebabkan terjadinya modifikasi pada insang bahkan terjadinya

reduksi pada insang termasuk rangka (Duellman, 1986).

Amphibi merupakan kelompok hewan dengan fase daur hidup yang berlangsung di

air dan di darat. Amphibi mempunyai kulit yang selalu basah dan berkelenjar, berjari 4-5

atau lebih sedikit, tidak bersirip. Mata mempunyai kelopak yang dapat digerakkan, mata juga

mempunyai selaput yang menutupi mata pada saat berada dalam air. Pada mulut terdapat

gigi dan lidah yang dapat diulurkan. Pada saat masih kecil (berudu) bernafas dengan insang.
Setelah dewasa bernafas dengan menggunakan paru-paru dan kulit. Suhu tubuh berubah-

ubah sesuai dengan keadaan lingkungan (Liswanto, 1998).

Amphibi terdiri dari tiga ordo yaitu Caudata atau Salamander merupakan satu-satunya

ordo yang tidak terdapat di Asia Tenggara, Sesilia atau Gimnophiona berbentuk seperti

cacing, contohnya ichthyophis sp. yang ketiga adalah Anura yang lazim kita kenal sebagai

katak atau kodok. Anura merupakan kelompok amphibi yang terbesar dan sangat beragam,

terdiri dari lebih 4100 jenis katak atau kodok. Sekitar 450 jenis telah dicatat dari Indonesia,

merupakan taksa individu diluar Amerika Selatan mewakili 11% dari seluruh anura di dunia

(Iskandar, 1998).

Ordo Anura terdiri dari sekitar 4000 spesies yang tersebar di seluruh dunia.

Sebenarnya, keberagaman Anura di dunia melebihi jumlah nama (common name) yang

dapat digunakan untuk membedakan mereka. Karakter pembeda yang terdapat pada Anura

adalah ketidakadaan ekor. Anura berasal dari bahasa Yunani yaitu ”A” yang berarti tidak

atau tanpa dan ”Uro” yang berarti ekor. Anura yang terdapat di Jawa terdiri dari 5 Famili,

yaitu Bufonidae, Microhylidae, Megophryidae, Ranidae, dan Rhacophoridae. Meskipun

pada akhirnya ada 2 famili lain yang juga ditemukan di Indonesia yaitu Bombinatoridae dan

Hylidae (Iskandar, 2004).

Bufonidae, famili ini sering disebut kodok sejati. Ciri-siri umumnya yaitu kulit kasar

dan berbintil, terdapat kelenjar paratoid di belakang tympanum dan terdapat pematang di

kepala. Mempunyai tipe gelang bahu arciferal. Bufo mempunyai mulut yang lebar akan

tetapi tidak memiliki gigi. Tungkai belakang lebih panjang dari pada tungkai depan dan jari-

jari tidak mempunyai selaput. Famili ini terdiri dari 18 genera dan kurang lebih 300 spesies.

Beberapa contoh famili Bufo yang ada di Indonesia antara lain Bufo asper, Bufo biporcatus,

dan Leptophryne borbonica( Eprilurahman, 2007 ).

Megophryidae, ciri khas yang paling menonjol adalah terdapatnya tanduk di atas

matanya, yang merupakan modifikasi dari kelopak matanya. Umumnya famili ini berukuran

tubuh kecil. Tungkai relatif pendek sehingga pergerakannya lambat dan kurang lincah.
Hidup di hutan dataran tinggi. Pada fase berudu terdapat alat mulut seperti mangkuk untuk

mencari makan di permukaan air. Adapun contoh spesies anggota famili ini adalah

Megophrys montana dan Leptobranchium hasselti (Zug, 1993).

Ranidae, famili ini sering disebut juga katak sejati. Bentuk tubuhnya relatif ramping.

Tungkai relatif panjang dan diantara jari-jarinya terdapat selaput untuk membantu berenang.

Kulitnya halus, licin dan ada beberapa yang berbintil. Pada kepala tidak kelenjar paratoid.

Mulutnya lebar dan terdapat gigi seperti parut di bagian maxillanya. Famili ini terdiri dari

36 genus. Contoh spesiesnya adalah Rana chalconota, Rana hosii, Rana erythraea, Rana

nicobariensis, Fejervarya cancrivora, Fejervarya limnocharis, Limnonectes kuhli,

Occidozyga sumatrana (Eprilurahman, 2007 ).

Microhylidae, famili ini anggotanya berukuran kecil, sekitar 8-100 mm. Kaki relatif

panjang dibandingkan dengan tubuhnya. Terdapat gigi maxilla dan mandibulanya, tapi

beberapa genus tidak mempunyai gigi. Karena famili ini diurnal, maka pupilnya memanjang

secara horizontal. Contoh spesiesnya adalah: Microhyla achatina (Iskandar, 1998).

Rachoporidae, famili ini sering ditemukan di areal sawah. Beberapa jenis

mempunyai kulit yang kasar, tapi kebanyakan halus juga berbintil. Pada maksila terdapat

gigi seperti parut. Terdapat pula gigi palatum. Sacral diapophysis gilig. Berkembang biak

dengan ovipar dan fertilisasi secara eksternal (Eprilurahman, 2007).


III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Sistematika Hewan Vertebrata tentang Amphibi dilaksanakan pada Selasa 23

Oktober 2018 pukul 10.30 WIB di Laboratorium Teaching I, Jurusan Biologi, Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.

3.2 Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan pada praktikum tentang Actinopterygii antara lain bak bak

bedah, penggaris, kamera, data sheet dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan antara

Chalcorana raniceps, Pulcharana picturata, Duttaphrynus melanotictus, Fejervarya

limnocharis, Microhyla sp, polypedates sp.

3.3 Cara Kerja

Katak/kodok diberi perlakuan agar tidak


bergerak saat diamati

Katak/ kodok diletakkan di atas bak bedah


dengan alat ukur

Katak/ kodok difoto dengan kamera

Katak/ kodok diukur dan diamati sesuai


karakter morfometrik

Hasil dicatat di data sheet


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Famili Ranidae

4.1.1 Chalcorana raniceps.

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Amphibia

Ordo : Anura
Gambar 1. Chalcorana raniceps
Famili : Ranidae

Genus : Chalcorana

Spesies : Chalcorana raniceps (Peters, 1871)

Sumber : IUCN, 2004

Berdasarkan praktikum didapatkan data pengamatan pada Chalcorana sp yaitu famili

Ranidae, Lebar Kepala (HW) 11mm, Panjang Total (SVL) 50mm, Panjang Tulang Betis

(TL) 30mm, Jarak antara Mata (IOD) 12mm, Panjang Kepala (HL)21mm, Diameter Mata

(ED) 5mm, Jarak antara Lubang Hidung (IND) 4mm, Jarak Mata antara Lubang Hidung

(EN) 5mm, Panjang Telapak Kaki (FL) 25mm, Diameter Telinga (TD) 3mm, Panjang Paha

(THL) 26mm, Panjang Rahang dari Mata ke Mulut (SL) 10mm, Panjang Telapak Tangan

(HAL) 15mm, Panjang Lengan Bawah (FLL) 27mm, Lebar Kelopak Mata (UEW) 2mm,

Lebar Ujung Jari ke IV (FN4DW) 3mm, berwarna coklat gelap, memiliki bentuk tubuh

ramping, memiliki pupil horizontal, dan tidak mempunyai gigi.

Berdasarkan literatur, katak ini memiliki jari yang panjang, jari kedua dan ketiga

dengan sempit, panjang jari ketiga sama dengan jarak dari belakang mata untuk lubang

hidung, ujung tiga jari luar dengan cakram lebar, disc jari pertama sekitar setengah lebar disc

jari kedua, bahwa jari ketiga tiga perempat atau lebih diameter tympanum dalam wanita,

semua cakram dengan alur circummarginal ; subarticular tuberkel mencolok ; basis ketiga
dan keempat jari dengan satu atau dua tuberkel supernumerary , dasar jari kedua dengan satu

; panjang jari 3 > 4 > 2 > 1 . Ujung jari kaki diperluas ke cakram yang lebih kecil

dibandingkan dengan jari , tapi dengan circummarginal alur ,anyaman luas , ke pangkal

cakram pada lateralis margin dari tiga jari kaki dan pada margin medial kelima , tepi medial

kaki keempat sepenuhnya berselaput hanya luar tuberkulum subarticular distal ; sempit

dermal ridge di sepanjang tepi medial sendi distal pertama kaki dan sepanjang tepi lateral

sendi distal dari kaki kelima (Inger dan Greenberg, 1963)

4..1.2 Pulcharana picturata

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Amphibi

Ordo : Anura Gambar 2. Hylarana picturata

Famili : Ranidae

Genus : Hylarana

Spesies : Hylarana picturata (Inger and Stuebing, 1997)

Sumber : IUCN, 2004

Berdasarkan praktikum didapatkan data pengamatan pada Pulcharana picturata yaitu famili

Ranidae, Lebar Kepala (HW) 10mm, Panjang Total (SVL) 42mm, Panjang Tulang Betis

(TL) 20mm, Jarak antara Mata (IOD) 7mm, Panjang Kepala (HL) 115mm, Diameter Mata

(ED) 4mm, Jarak antara Lubang Hidung (IND) 6mm, Jarak Mata antara Lubang Hidung

(EN) 4mm, Panjang Telapak Kaki (FL) 21mm, Diameter Telinga (TD) 3mm, Panjang Paha

(THL) 15mm, Panjang Rahang dari Mata ke Mulut (SL) 5mm, Panjang Telapak Tangan

(HAL) 3mm, Panjang Lengan Bawah (FLL) 10mm, Lebar Kelopak Mata (UEW) 4mm,

Lebar Ujung Jari ke IV (FN4DW) 1mm, berwarna hitam, memiliki bentuk tubuh ramping,

memiliki pupil horizontal, dan memiliki gigi maxilla.


Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat diamati bahwa spesies

ini adalah memiliki bentuk yang sangat menarik dengan warna hitam pekat dan dipenuhi

bintik-bintik warna merah keorenan. Spesies ini memiliki mata yang besar, kulitnya licin

dan terdapat garis lateral berwarna oren dipunggungnya. Menurut Inger R. dkk ( 2004),

spesies Hylarana picturata tersebar luas di sepanjang pulang sumatera kalimantan dan

Semenajung Malaya. Sebuah populasi juga di temukan di Pulau Tioman. Secara umum

banyak dari genus ini belum teridentifikasi.

4.2 Famili Bufonidae

4.2.1 Duttaphrynus melanotictus

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Amphibia

Ordo : Anura

Famili : Bufonidae
Gambar 3. Duttaphrynus melanotictus
Genus : Duttaprynus

Spesies : Duttaprynus melanostictus

(Schneider, 1799)

Sumber : IUCN, 2004

Berdasarkan praktikum didapatkan data pengamatan pada Duttaphrynus

melanostictus yaitu famili Bufonidae, Lebar Kepala (HW) 13mm, Panjang Total (SVL)

50mm, Panjang Tulang Betis (TL) 12mm, Jarak antara Mata (IOD) 5mm, Panjang Kepala

(HL)15mm, Diameter Mata (ED) 4mm, Jarak antara Lubang Hidung (IND) 19mm, Jarak

Mata antara Lubang Hidung (EN) 4mm, Panjang Telapak Kaki (FL) 19mm, Diameter

Telinga (TD) 4mm, Panjang Paha (THL) 18mm, Panjang Rahang dari Mata ke Mulut (SL)

5mm, Panjang Telapak Tangan (HAL) 13mm, Panjang Lengan Bawah (FLL) 12mm, Lebar
Kelopak Mata (UEW) 4mm, Lebar Ujung Jari ke IV (FN4DW) 3mm, berwarna coklat,

memiliki bentuk tubuh bulat, memiliki pupil horizontal, dan tidak mempunyai gigi.

Menurut Iskandar (2006), spesies ini memiliki bintil-bintil kasar di punggung dengan

ujung kehitaman dan tidak memiliki selaput renang. Warna punggung bervariasi antara

coklat abu-abu gelap, kekuningan, kemerahan, sampai kehitaman. Pada tubuh terdapat garis

supraorbital berwarna hitam, alur-alur supra-orbital dan supratimpanik menyambung, tidak

ada alur parietal. Menurut Mistar (2003)Hewan ini tersebar di daerah Kawasan ekosistem

Leuser, Bukit Lawang, Medan, Belawan, Jawa, Kalimantan dan beberapa daerah lainnya

hewan ini sering dijumpai dengan hunian manusia, tidak terdapat di hutan hujan tropis atau

primer.

4.3 Famili Dicroglossidae

4.3.1 Fejervarya limnocharis

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Amphibi

Ordo : Anura

Famili : Ranidae
Gambar 4. Fejervarya concrivora
Genus : Fejervarya

Spesies : Fejervarya concrivora (Inger and Stuebing, 1997)

Sumber : IUCN, 2004

Berdasarkan praktikum didapatkan data pengamatan pada Fejervarya cancrivora yaitu

famili Ranidae, Lebar Kepala (HW) 10mm, Panjang Total (SVL) 65mm, Panjang Tulang

Betis (TL) 25mm, Jarak antara Mata (IOD) 3mm, Panjang Kepala (HL) 20mm, Diameter

Mata (ED) 5mm, Jarak antara Lubang Hidung (IND) 3mm, Jarak Mata antara Lubang

Hidung (EN) 6mm, Panjang Telapak Kaki (FL) 30mm, Diameter Telinga (TD) 3mm,

Panjang Paha (THL) 26mm, Panjang Rahang dari Mata ke Mulut (SL) 18mm, Panjang
Telapak Tangan (HAL) 13mm, Panjang Lengan Bawah (FLL) 13mm, Lebar Kelopak Mata

(UEW) 5mm, Lebar Ujung Jari ke IV (FN4DW) 25mm, berwarna hijau, memiliki bentuk

tubuh bulat, memiliki pupil horizontal, dan tidak mempunyai gigi.

Menurut Kurniati (2003), spesies jantan dewasa memiliki ukuran tubuh ± 67-69 mm,

sedangkan betina dewasa berukuran ± 51-75 mm. Tubuh pendek gemuk dan berotot.

Tungkai belakang sedikit pendek. Lebih dari setengah jari kaki berselaput renang dengan

ujung yang tidak berselaput. Jari tangan tidak berselaput renang. Ujung jari tangan dan kaki

lancip. Tympanum terlihat jelas Kulit dorsal (punggung) halus dengan lipatan longitudinal

yang tidak teratur; beberapa individu memiliki garis vertebral yang sangat menonjol. Kulit

ventral (perut) halus. Bagian dorsal berwarna coklat pucat atau coklat kehijauan dengan

bintil hitam, bagian bibir terdapat garis vertikal berwarna coklat tua, permukaan dorsal

lengan berwarna coklat tua atau bergaris kehitaman yang lebar. Bagian ventral berwarna

keputihan dan beberapa terdapat bintik-bintik hitam.

Diesmos et al (2006) menyatakan Fejervarya cancrivora memiliki bintil dikepala,

memiliki lipatan kelenjar, mempunyai lipatan dorsaventral yang terputus-putus, permukaan

ventral halus, moncong yang berbentuk oval. Tuberkel Subarticular berbentuk bulat. Jari-

jari kaki yang panjang dan memiliki anyaman dan dermal pinggiran.

Habitat Fejervarya cadncrivora adalah dataran rendah hingga ketinggian 1200 dpl.

Banyak ditemukan di sawah. Fejervarya cancrivora juga berhabitat tidak jauh dari sungai,

namun jarang ditemukan di sepanjang sungai. Selain sawah, Fejervarya cancrivora juga

banyak ditemukan di rawa atau bahkan di dalam daerah berair asin, misalnya tambak atau

hutan bakau. Spesies ini dapat mentoleransi salinitas hingga 2,8 %. Spesies ini hidup dengan

baik bersama Fejervarya limnocharis (Iskandar, 1988).


4.4 Famili Microhylidae

4.4.1 Microhyla sp.

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Amphibia

Ordo : Anura

Famili : Microhylidae

Genus : Microhyla Gambar 5. Microhyla sp.


Spesies : Microhyla sp. (Boulenger, 1884)

Sumber : IUCN, 2008

Berdasarkan praktikum didapatkan data pengamatan pada Pulcharana picturata yaitu famili

Ranidae, Lebar Kepala (HW) 10mm, Panjang Total (SVL) 42mm, Panjang Tulang Betis

(TL) 20mm, Jarak antara Mata (IOD) 7mm, Panjang Kepala (HL) 115mm, Diameter Mata

(ED) 4mm, Jarak antara Lubang Hidung (IND) 6mm, Jarak Mata antara Lubang Hidung

(EN) 4mm, Panjang Telapak Kaki (FL) 21mm, Diameter Telinga (TD) 3mm, Panjang Paha

(THL) 15mm, Panjang Rahang dari Mata ke Mulut (SL) 5mm, Panjang Telapak Tangan

(HAL) 3mm, Panjang Lengan Bawah (FLL) 10mm, Lebar Kelopak Mata (UEW) 4mm,

Lebar Ujung Jari ke IV (FN4DW) 1mm, berwarna hitam, memiliki bentuk tubuh ramping,

memiliki pupil horizontal, dan memiliki gigi maxilla.

4.5 Famili Rhacophoridae

4.5.1 Polypedates sp

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Amphibia

Ordo : Anura Gambar 6. Polypedates sp


Famili : Rhacophoridae

Genus : Polypedates

Spesies : Polypedates sp.(Gravenhorst, 1829)

Sumber : IUCN, 2004

Berdasarkan praktikum didapatkan data pengamatan pada Polypedates leucomystax yaitu

famili Rachophoridae, Lebar Kepala (HW) 18mm, Panjang Total (SVL) 55mm, Panjang

Tulang Betis (TL) 30mm, Jarak antara Mata (IOD) 8mm, Panjang Kepala (HL) 16mm,

Diameter Mata (ED) 5mm, Jarak antara Lubang Hidung (IND) 4mm, Jarak Mata antara

Lubang Hidung (EN) 9mm, Panjang Telapak Kaki (FL) 20mm, Diameter Telinga (TD)

5mm, Panjang Paha (THL) 29mm, Panjang Rahang dari Mata ke Mulut (SL) 10mm, Panjang

Telapak Tangan (HAL) 15mm, Panjang Lengan Bawah (FLL) 10mm, Lebar Kelopak Mata

(UEW) 5mm, Lebar Ujung Jari ke IV (FN4DW) 10mm, berwarna coklat gelap, memiliki

bentuk tubuh ramping, memiliki pupil horizontal, dan mempunyai gigi.

Menurut Darmawan (2008), katak ini merupakan katak berukuran sedang, jari

melebar dengan ujung rata. Kulit kepala menyatu dengan tengkorak. Jari tangan setengahnya

berselaput, sedangkan jari kaki hampir sepenuhnya berselaput. Katak ini memiliki tekstur

kulit yang halus tanpa bintil dan lipatan. Bagian bawah berbintil granular yang jelas. Warna

biasanya coklat keabu-abuan, satu warna atau dengan bintik hitam atau dengan garis yang

jelas memanjang dari kepala sampai ujung tubuh. Habitat dari katak ini biasanya hidup di

antara tetumbuhan atau sekitar rawa dan bekas tebangan hutan sekunder.

Menurut McKay (2006), Polypedates leucomystax merupakan katak pohon yang

berwarna coklat kemerahan. Spesies ini pada jantan memiliki rata-rata 50 mm panjang total

dan perempuan rata-rata 80 mm panjang total. Daerah persebaran Bangladesh, China, India,

Indonesia, Japan, Lao People's Democratic Republic, Malaysia, Myanmar, Philippines,

Singapore, Thailand, Vietnam.


V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang didapatkan yaitu:

1. Pada Duttaphrynus melanostictus memiliki alur supraorbital, kelenjar paratoid,

processus odontoid, dan alur supratymphanum;

2. Pada Fejervarya limnocaris memiliki karakter bentuk kepala yang runcing dan

pendek, tymphanum tampak jelas, dan memiliki sepasang bintil metatarsal;

3. Pada Chalcorana raniceps berwarna coklat gelap, memiliki bentuk tubuh ramping,

memiliki pupil horizontal, dan tidak mempunyai gigi.

4. Pada Hylarana picturata berwarna hitam, memiliki bentuk tubuh ramping, memiliki

pupil horizontal, dan memiliki gigi maxilla.

5. Pada Polypedates sp. memiliki tekstur kulit yang halus tanpa bintil dan lipatan.

Bagian bawah berbintil granular yang jelas. Warna biasanya coklat keabu-abuan, satu

warna atau dengan bintik hitam atau dengan garis yang jelas memanjang dari kepala

sampai ujung tubuh.

5.2 Saran

Saran agar praktikum selanjutnya lebih baik adalah sebaiknya sampel yang diamati terlebih

dahulu dilemahkan agar tidak kesulitan saat pengukuran, perhitungan, dan pengambilan

gambar. Berat badan dapat dijadikan variabel pengukuran selanjutnya


DAFTAR PUSTAKA

Amphibia web. 2011. http://amphibiaweb.org. Diakses pada 30 Oktober 2017.

Bartlett, R. P. 1996. Frogs, Toads and Treefrogs. Barron’s Educational Series Inc.
Hauppauge.
Berns, M. and Uhler, L. 1966. Blue frogs of the genus Rana. Herpetologica, 22(3), 181-183.
Diesmos, A. C., Diesmos, M. L., and Brown, R. (2006). ''Status and distribution of alien
invasive frogs in the Philippines.'' Journal of Environmental Science and
Management, 9(2), 41-53.
Duellman, W. E. and L. Trueb. 1986. Biology of Amphibians. McGraw –Hill Book
Company. New York.

Inger, R. F. dan Greenberg, B. 1963. The Annual Reproductive Pattern of the Frog Hylarana
erythraea in Sarawak. Physiological Zoology Press Corp. Philippine

Iskandar, D.T. 1998. Amphibi Jawa dan Bali, seri Panduan Lapangan. Puslitbag Biologi-
LIPI. Bogor.

Iskandar, D. T. 2004. The Amphibins and Reptiles of Malinau Region, Bulungan Research
Forest, East Kalimantan: Annotated checklist with notes on ecological
preferences of the species and local utilization. Center for International
Forestry Research. Bogor,

Khan, F. Z. 1991. Morphoantomical specialization of the buccopharyngeal region of th


anuran larvae and its bearing on the mode of larvae feeding. Unpublished Ph.D.
dissertion, university of the Punjab. Pakistan.

Kampen van , P.N. 1923. The Amphibin of the Indo-Australia Archipelago. E.J. Brill Ltd.
Leiden.
Kurniati, Hellen. 2003. Amphibins and Reptiles of Gunung Halimun National Park, West
Java, Indonesia (Frogs, Lizards, and Snakes). Research Center for Biology-LIPI.
Bandung.

Liswanto, D. 1998. Survei dan Monitoring Herpetofauna. Yayasan Titian. Jakarta.

Manthey, U dan W. Grossmann. 1997. A Field Guide to the Reptiles of South east Asia.
Bloomsbury. London.

Mukayat, Djarubito. 1989. Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta.

Prakash, S. 1988. Genetic studies on Rana limnocharis. Unpublished Ph.D. dissertation.


North Eastern Hill University. Shillong.

Radiopoetro. 1990. Zoologi. Erlangga. Jakarta.

Yorke, C. 1983. Survival of embryos and larvae of the frog Polypedates leucomystax in
Malaysia. Journal of Herpetology, 17(3), 235-241.

Zug, George R. 1993. Herpetology an Introductory Biology of Ampibians and Reptiles.


Academic Press. London, p : 357 – 358.