Anda di halaman 1dari 3

‫ من‬،‫إن الحمد هلل نحمده و نستعينه و نستغفره و نعوذ باهلل من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا‬

ُ‫ وأشهد‬،ُ‫أن ال إلَهَ إال هللاُ َوحْ دَهُ ال ش َِريكَ لَه‬ ْ ُ‫أ َ ْش َهد‬،‫يهده هللا فال مضل له و من يضلله فال هادي له‬
‫اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم والرسول العظيم وعلى آله و‬.‫سولُه‬ ُ ‫ور‬ َ ‫أن ُم َح َّمدًا ع ْبدُه‬ َّ
.‫أما بعد‬.‫أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين‬
. َ‫عتِ ِه لَعَلَّ ُك ْم تُف ِل ُح ْون‬
ْ َ ‫اي بِت َ ْق َوى هللاِ َو‬
َ ‫طا‬ َ َ‫ص ْي ُك ْم َو إِي‬ِ ‫فَيَا ِعبَادَ هللاِ ا ُ ْو‬
‫صلِحْ لَ ُك ْم أ َ ْع َمالَ ُك ْم َويَ ْغ ِف ْر لَ ُك ْم‬
ْ ُ‫سدِيدًا * ي‬ َ ‫َّللاَ َوقُولُوا قَ ْوال‬ َّ ‫يَاأَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا اتَّقُوا‬:‫وقال هللا تعالى‬
‫ع ِظي ًما‬ َ ‫سولَهُ فَقَ ْد فَازَ فَ ْو ًزا‬ َّ ِ‫ذُنُوبَ ُك ْم َو َم ْن ي ُِطع‬
ُ ‫َّللاَ َو َر‬
‫ت االُ ْخ َرا‬ ِ ‫ضا فِى اَيَا‬ ً ‫َوقَا َل ا َ ْي‬
Jamaah Jum’ah yang dirahmati Alloh
Secara fiqhiyyah, thaharah selalu berhubungan dengan wudhu, tayamum, dan mandi. Seorang yang
berhadas besar diwajibkan mandi junub dengan segala ketentuannya yang secara teknis telah diuraikan di dalam
banyak buku-buku fikih (Fiqh al-Thaharah). Demikian pula masalah wudhu dan tayamum, termasuk istinja, sudah
dijelaskan secara panjang lebar bahkan di dalam buku-buku paket anak-anak SD.
Thaharah adalah sesuatu yang amat fundamental di dalam Islam. Tanpa thaharah yang benar, sejumlah
ibadah, khususnya ibadah-ibadah mahdhah, seperti shalat, terancam akan sia-sia. Thaharah biasa diartikan
penyucian diri dari kotoran fisik dan nonfisik. Jika penyucian lebih ditekankan pada fisik disebut nadzafah¸seperti
istilah yang digunakan dalam hadis Al-nadzafah min al-iman (Kebersihan [fisik] merupakan bagian dari iman).Jika
penyucian lebih ditekankan pada nonfisik, disebut tazkiyah, seperti dikenal dengan istilah tazkiyah al-nafs,
sebagaimana digunakan dalam Alquran surah asy-Syams ayat 9, Qad aflaha man zakkaha (Sesungguhnya
beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu).

Kaum muslimin, Jamaah Jum’ah yang dirahmati Alloh.


Saking pentingnya, untuk konsep thaharah ini, Allah SWT lebih menjelaskannya secara detail ketimbang
hal-hal yang bersifat fardhu. Misalnya, konsep shalat dan haji sebagai bagian dari rukun Islam hanya diperintahkan
secara global, seperti dalam surah al-Baqarah ayat 43 Aqim al-shalah (Dirikanlah shalat). Petunjuknya secara detail
hanya ditemukan di dalam hadis Shallu kama raitu muni ushalli (Shalatlah sebagaimana engkau melihat aku
shalat).Sedangkan konsep thaharah, misalnya wudhu, dijelaskan secara mendetail di dalam Alquran sebagaimana
ayat di atas. Dari segi ini wajar jika muncul berbagai pandangan ulama tentang thaharah mulai perdebatan panjang
tentang kualitas dan kuantitas air dan debu sebagai alat penyuci sampai pada objek-objek anggota badan yang
harus dibasuh.
Adalah Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang neurolog dan psikolog tersohor Austria, pernah secara
khusus mendalami konsep thaharah, khususnya wudhu. Ia sangat takjub karena konsep thaharah dalam Islam
amat sesuai dengan konsep neurologi dan psikologi. Air sejuk yang dianggap suci dan menyucikan akan
memberikan efek positif pada kesegaran simpul-simpul saraf dalam tubuh. Air segar dan sejuk lebih sensitif
memberikan rangsangan kepada pusat saraf ketimbang air hangat. Air sejuk akan lebih mudah memberikan
semacam shock therapy dan menembus lapisan saraf ketimbang air hangat. Yang lebih menarik bagi Ehrenfels dan
mungkin inilah yang membuatnya menjadi Muslim dan mengganti nama menjadi Baron Omar Ehrenfels, yaitu
konsep wudhu dalam Islam.
Ia mulai menganalisis ayat wudhu.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat maka basuhlah mukamu dan
tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. (QS
al-Maidah [5]:6).
Menurut Baron Omar Ehrenfels, objek yang didiktekan langsung oleh Allah SWT untuk dibasuh pada saat
mengambil air wudhu, yaitu daerah muka, tangan, dan kaki, ternyata itu simpul-simpul saraf paling sensitif.
Merangsang anggota badan tersebut dengan air sejuk maka akan menimbulkan kesegaran dan kesejukan psikis
yang memudahkan seseorang berada dalam keadaan tenang atau khusyuk dalam bahasa Islam. Sentuhan air segar
juga bisa menurunkan gelombang frekuensi otak dari suasana beta ke alfa, kondisi otak yang lebih memungkinkan
seseorang untuk fokus (khusyuk).

Hadirin, Jamaah Jum’ah yang dirahmati Alloh


Dengan wudhu yang memakai niat dan doa maka ada persiapan, perubahan pemusatan menuju rohani.
Sehingga, getaran jiwa akan mengikuti hukum alam. Ia menyayangkan masih banyak Muslim yang menganggap
wudhu hanya penyucian tubuh semata. Subhanallah, ternyata benar semua perintah dan larangan Allah SWT
sesungguhnya tidak untuk diri-Nya, tetapi kembali kepada kemaslahatan manusia sendiri.
Ulama tasawuf menjelaskan hikmah wudlu dengan menjelaskan bahwa daerah-daerah yang dibasuh air
wudlu memang daerah yang paling sering berdosa. Kita tidak tahu apa yang pernah diraba, dipegang, dan
dilakukan tangan kita. Banyak pancaindera tersimpul di bagian muka. Berapa orang yang jadi korban setiap hari
dari mulut kita, berapa kali berbohong, memaki, dan membicarakan aib orang lain. Apa saja yang dimakan dan
diminum. Apa saja yang baru diintip mata ini, apa yang didengar oleh telinga ini, dan apa saja yang baru dicium
hidung ini? Ke mana saja kaki ini gentayangan setiap hari? Tegasnya, anggota badan yang dibasuh dalam wudlu
ialah daerah yang paling riskan untuk melakukan dosa.
Organ tubuh yang menjadi anggota wudlu disebutkan dalam QS al-Maidah [5]:6, adalah wajah, tangan
sampai siku, dan kaki sampai mata kaki. Dalam hadis riwayat Muslim juga dijelaskan bahwa, air wudlu mampu
mengalirkan dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh mata, penciuman, pendengaran, tangan, dan kakinya, sehingga
yang bersangkutan bersih dari dosa. Oleh karena itu, Kalangan ulama melarang mengeringkan air wudlu dengan
kain karena dalam redaksi hadis itu dikatakan bahwa proses pembersihan itu sampai tetesan terakhir dari air wudlu
itu (ma’a akhir qathr al-ma’).
Yang paling penting dari wudlu ialah kekuatan simboliknya, yakni memberikan rasa percaya diri sebagai
orang yang ‘bersih’ dan sewaktu-waktu dapat menjalankan ketaatannya kepada Tuhan, seperti mendirikan shalat,
menyentuh atau membaca mushaf Alquran. Wudlu sendiri akan memproteksi diri untuk menghindari apa yang
secara spiritual merusak citra wudlu. Dosa dan kemaksiatan berkontradiksi dengan wudlu.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Al mudatsir, watsiya baka fathahhir, kalau kit abaca terjemahan
kementerian agama artinya adalah dan bersihkanlah pakaianmu, pakaian yang melekat ditubuh kita, namun dalam
tafsir para ahli tasawuf, pakai di sini berarti tubuh kita yang merupakan pakain dari roh, akal pikiran kita.
Bagaimana caranya, dilanjutkan dalam ayat berikutnya, warrujza fahjur, dan tinggalkanlah segala perbuatan keji.

Hadirin, Jamaah Jum’ah yang dirahmati Alloh


Di sinilah terdapat korelasi bahwa orang yang sempurna wudhunya akan senantiasa menjauhi perbuatan
dosa dan ketika berwudhu juga merupaka proses pertaubatannya. Sebagaimana doa yang kita panjatkan setelah
berwudhu yakni
Allahummaj’alni minnat tawwabiin, waj’alni minal muthathahhiriin
Ya Allah jadikan lah kami orang yang senantiasa bertaubat, dan senantiasa membersihkan diri baik fisik
maupun non fisik, sehingga orang yang betul wudhu’nya ditandai dengan perbuatan untuk selalu menjauhi
perbuatan maksiat
Dengan kata lain, kekuatan thaharah dapat membersihkan anggota badan, menjernihkan dan menyehatkan
pikiran, serta menyucikan hati. Ini semua bisa terjadi jika kita terus dan terus belajar. Ahli tarekat selalu berdoa
saat membasuh anggota badan tersebut agar diselamatkan dari api neraka dan memberikan tanda cahaya terang
pada hari kebangkitan di akhirat kelak.
Begitu juga sesuai hadits Rosululloh SAW. Yang artinya :
“Barang siapa yang berwudhu dan membaguskan wudhunya, maka akan keluarlah dosa-dosa dari
badannya, sampai-sampai ia akan keluar dari bawah kuku-kukunya.” (HR. Muslim dalam Kitab at-Thaharah)
Tentu masih banyak rahasia yang belum tergali oleh para ahli. Hikmah-hikmah ini semakin menguatkan
bukti bahwa syariat dari Allah subhnanahu wata’ala bukanlah hal yang sia-sia untuk diterapkan, tapi justru
membawa kemaslahatan besar bagi pelakunya dan semakin meningkatkan keimanan seseorang terhadap
kebenaran perintah Allah subhnanhu wata’ala. Rasulullah pernah bersabda, yang artinya:
 “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki
mereka bercahaya, karena bekas wudhu’.” (HR. Al Bukhari no. 136 dan Muslim no. 246)
 "Barangsiapa yang berwudhu, lalu ia menyempurnakan wudhunya, niscaya akan keluar dosa-dosannya dari
tubuhnya, sampai keluar (dosa-dosa) dari bawah kuku-kuku jarinya.” (H.R Muslim no. 245)
 "Barang siapa diantara kalian yg berwudhu kemudian membaguskan wudhunya lalu ia bangkit shalat dua
rakaat yang ia hadapkan hati dan wajahnya (kpd Allah) maka pasti ia akan mendapat syurga dan diampuni
dosa-dosanya.” (H.R Muslim no. 234)
 "Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu) maka Malaikat akan tetap mengikuti, lalu
ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap 'Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, kerana ia tidur
di malam hari dlm keadaan selalu suci.'" (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar)
‫‪Tujuannya adalah supaya manusia jangan membersihkan lahirnya saja, sementara batinnya masih tetap‬‬
‫‪kotor. Hati yang masih tamak, loba, dan rakus, kendati sudah berwudhu, maka wudhunya lima kali sehari semalam‬‬
‫‪itu berarti tidak berbekas dan tidak diterima oleh Allah subhnahu wata’ala, dan shalatnya pun tidak akan mampu‬‬
‫‪menjauhkan dirinya dari perbuatan fakhsya’ (keji) dan mungkar (dibenci). Sehingga wudhu yang kita lakukan setiap‬‬
‫‪kita akan melakukan sholat ataupun diluar sholat mampu merangsang pusat syaraf dalam tubuh manusia. Karena‬‬
‫‪keselarasan air dengan wudhu dan titik-titik syaraf, kondisi tubuh senantiasa akan selalu sehat dan lebih muda.‬‬
‫‪Amin ya Robbal ‘alamiin.‬‬

‫‪Fa’tabiru yaa ulil abshor la’allakum tuflihuun….‬‬

‫الحمد هلل حمد كثيرا كما امر‪ .‬أ َ ْش َهد ُ أ َ ْن الَ إِلَهَ ِإالَّ هللاُ َو ْحدَهُ الَ ش َِري َْك لَهُ َوأ َ ْش َهدُ أ َ َّن‬
‫س ْولُهُ ‪ .‬اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم والرسول العظيم‬ ‫ع ْبدُهُ َو َر ُ‬ ‫ُم َح َّمدًا َ‬
‫وعلى آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين‪.‬أما بعد‪ .‬فَيَا ِعبَادَ هللاِ‬
‫عتِ ِه لَعَلَّ ُك ْم ت ُ ْف ِل ُح ْونَ ‪ .‬قَا َل تَعَالَى‪ :‬يَا أَيُّها َ الَّ ِذيْنَ َءا َمنُوا‬ ‫طا َ‬ ‫اي بِت َ ْق َوى هللاِ َو َ‬ ‫ص ْي ُك ْم َو إِيَ َ‬ ‫ا ُ ْو ِ‬
‫ق هللاَ يَ ْجعَل‬ ‫{و َمن يَت َّ ِ‬ ‫اتَّقُوا هللاَ َح َّق تُقَاتِ ِه َوالَ ت َ ُم ْوت ُ َّن ِإالَّ َوأَنت ُ ْم ُّم ْس ِل ُم ْونَ ‪ .‬قَا َل تَعَالَى‪َ :‬‬
‫لَّهُ َم ْخ َر ًجا}‪.‬‬
‫س ْو ِل ِه فَقَا َل‪ِ { :‬إ َّن هللاَ َو َمالَئِ َكتَهُ‬ ‫علَى َر ُ‬ ‫سالَ ِم َ‬‫صالَ َوةِ َوال َّ‬ ‫ث ُ َّم ا ْعلَ ُم ْوا فَإِ َّن هللاَ أ َ َم َر ُك ْم بِال َّ‬
‫س ِلِّ ُم ْوا ت َ ْس ِل ْي ًما}‪.‬‬‫علَ ْي ِه َو َ‬ ‫صلُّ ْوا َ‬
‫ي‪ ،‬يَا أَيُّها َ الَّ ِذيْنَ َءا َمنُ ْوا َ‬ ‫علَى النَّبِ ِِّ‬‫صلُّ ْونَ َ‬ ‫يُ َ‬
‫علَى آ ِل ِإب َْرا ِهي َْم‪،‬‬ ‫علَى ِإب َْرا ِهي َْم َو َ‬ ‫ْت َ‬ ‫صلَّي َ‬‫علَى آ ِل ُم َح َّم ٍد َك َما َ‬ ‫علَى ُم َح َّم ٍد َو َ‬ ‫ص ِِّل َ‬‫اَللَّ ُه َّم َ‬
‫علَى آ ِل إِب َْرا ِهي َْم‪،‬فى‬ ‫علَى إِب َْرا ِهي َْم َو َ‬ ‫ت َ‬ ‫ار ْك َ‬ ‫علَى آ ِل ُم َح َّم ٍد َك َما بَ َ‬ ‫علَى ُم َح َّم ٍد َو َ‬ ‫ار ْك َ‬ ‫َوبَ ِ‬
‫العالمين ِإنَّ َك َح ِم ْيد ٌ َم ِج ْيد ٌ‬
‫ت‪،‬‬ ‫اء ِم ْن ُه ْم َواْأل َ ْم َوا ِ‬‫ت اْأل َ ْحيَ ِ‬ ‫اَللَّ ُه َّم ا ْغ ِف ْر ِل ْل ُم ْس ِل ِميْنَ َو ْال ُم ْس ِل َماتِ‪َ ،‬و ْال ُمؤْ ِمنِيْنَ َو ْال ُمؤْ ِمنَا ِ‬
‫ْب الدعوات يا قاضيالحجات‪ .‬اَللَّ ُه َّم أ َ ِرنَا ْال َح َّق َحقًّا َو ْ‬
‫ار ُز ْقنَا‬ ‫ْب ُم ِجي ٌ‬ ‫ِإنَّ َك َ‬
‫س ِم ْي ٌع قَ ِري ٌ‬
‫اجتِنَابَهُ‪ .‬اللِّ ُه َّم نورقلوبنا بنورهدايتك كما نوت‬ ‫ار ُز ْقنَا ْ‬ ‫اط َل با َ ِطالً َو ْ‬ ‫عهُ‪َ ،‬وأ َ ِرنَا ْالبَ ِ‬ ‫اتِِّبَا َ‬
‫االرض بنورالشمسك عبداعبد برحمتك ياارحم الرحمين‬
‫اللِّ ُه َّم اجعلنا من التوبين واجعلنا من المتطهرين واجعلنا من عبادك الصالحين‪.‬‬
‫ربنا ال تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا و هب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب‪َ .‬ربَّنَا‬
‫ار‪.‬‬ ‫اب النَّ ِ‬ ‫عذَ َ‬ ‫سنَةً َوقِنَا َ‬ ‫اآلخ َرةِ َح َ‬ ‫سنَةً َوفِي ِ‬ ‫آتِنَا فِي الدُّ ْنيَا َح َ‬
‫ع ِن ْالفَ ْحش ِ‬
‫َآء‬ ‫َآئ ذِي ْالقُ ْربَى َويَ ْن َهى َ‬ ‫ان َوإِيت ِ‬ ‫س ِ‬ ‫ِعبَادَ هللاِ‪ ،‬إِ َّن هللاَ يَأ ْ ُم ُر ُك ْم بِ ْالعَ ْد ِل َواْ ِإل ْح َ‬
‫ع ْوهُ يَ ْست َِجبْ‬ ‫ظ ُك ْم لَعَلَّ ُك ْم تَذَ َّك ُر ْونَ ‪ .‬فَا ْذ ُك ُروا هللاَ ْالعَ ِظي َْم يَ ْذ ُك ْر ُك ْم َوادْ ُ‬ ‫َو ْال ُمن َك ِر َو ْالبَ ْغي ِ يَ ِع ُ‬
‫لَ ُك ْم َولَ ِذ ْك ُر هللاِ أ َ ْكبَ ُر‪.‬‬